Hukum pacaran dalam Islam

Posted on Updated on

Para penentang pacaran islami berlandaskan dalil. Para pendukung pacaran islami pun berdasarkan dalil. Manakah dalil yang lebih kuat antara keduanya?

Pada garis besarnya, sebagaimana tercantum di halaman Kritik, penentang pacaran islami mengemukakan dalil-dalil:

  • Mendekati zina itu terlarang.

  • Menikah itu dianjurkan.

  • Tanazhur pra-nikah itu dianjurkan. (Adapun taaruf pra-nikah tidak ada dalilnya.)

Kuatkah dalil-dalil tersebut? Ya dan tidak. Dalil-dalil tersebut cukup kuat bila dihadapkan dengan pacaran non-islami, tetapi lemah bila dihadapkan dengan pacaran islami. Letak kelemahannya adalah penempatannya yang tidak pada tempatnya.

Mengapa bisa kita katakan bahwa dalil-dalil tersebut tidak pada tempatnya? Sebabnya:

Bagaimana dengan dalil yang dipegang oleh para pendukung pacaran islami? Benarkah ada dalil yang menguatkan keberadaan pacaran islami?

Sebagian besar penentang pacaran islami menyangka, keberadaan pacaran islami tidak didukung dengan dalil sama sekali. Bahkan, mereka mengira, pacaran islami ini merupakan bid’ah yang sesat dan menyesatkan. Padahal, seandainya mereka membaca dengan cermat buku-buku (dan artikel-artikel) pacaran islami, tentu mereka jumpai dalil-dalil yang menguatkan keberadaan pacaran islami. Tiga diantaranya adalah sebagai berikut. (Dua dalil pertama bersifat umum, tidak hanya mengenai pacaran, sedangkan dalil ketiga jelas-jelas mengenai pacaran.)

  1. Mengenai hubungan antar manusia, pernah Rasulullah saw. bersabda: “Segala yang tidak disinggung-Nya itu tergolong dalam hal-hal yang dibolehkan-Nya.” (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, hadits no. 3190) Karena pacaran tidak disinggung dalam Al-Qur’an, kehalalannya tidak mustahil.

  2. Nabi saw. bersabda, “Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.” (HR Muslim) Hadits inilah yang menjadi dasar kaidah ushul fiqih yang menyatakan bahwa pokok hukum dalam urusan muamalah adalah sah (halal), sampai ada dalil (yang qath’i) yang membatalkan dan mengharamkannya. Dengan kata lain, selama tidak ada dalil yang dengan tegas mengharamkannya, maka hukumnya tidak haram. Begitu pula perihal pacaran.

  3. Pada kenyataannya, budaya pacaran (percintaan pra-nikah) sudah ada pada zaman Rasulullah. Adakah dalil dari beliau yang mengharamkannya? Ternyata, beliau sama sekali tidak pernah mewanti-wanti para sahabat untuk tidak pacaran. Beliau tidak pernah mengharamkan pacaran. Bahkan, sewaktu menjumpai fenomena pacaran, beliau tidak sekedar membiarkan fenomena ini. Beliau bersimpati kepada pelakunya dan justru mencela sekelompok sahabat yang memandang rendah pasangan tersebut. Beliau menyindir, “Tidak adakah di antara kalian orang yang penyayang?” (HR Thabrani dalam Majma’ az-Zawâid 6: 209)

Jadi, dalil-dalil para pendukung islamisasi pacaran lebih kuat daripada dalil-dalil para penentang pacaran islami. Mudah-mudahan dengan penjelasan ini, kita tidak lagi membuang-buang energi untuk berdebat mengenai halal-haramnya pacaran. Sudah saatnya kita lebih berkonsentrasi pada bagaimana pacaran secara islami. Wallaahu a’lam.

About these ads

130 thoughts on “Hukum pacaran dalam Islam

    lebih suka di sebut muslimah daripada akhwat said:
    27 Maret 2008 pukul 15:32

    jangan bermain bara api kalau tidak mau terbakar. apapun mananya api itu panas. baik korek, lilin, dll suer, gak percaya???coba ja!!

    Kaezzar said:
    22 April 2008 pukul 10:42

    @atas

    brarti jangan coba2 berenang karena sapa tau tengelam…jangan coba2 maen di jalan raya karena sapa tau ketabrak…jangan coba2 belajar listrik, karena ntar kesetrum…

    mba, segala sesuatu itu ada ilmunya
    jika semua dilakukan dgn dasar yg kuat, insyaAllah hasilnya baik

    kalau suatu saat di dunia ini, pertemanan lawan jenis telah membawa 90% pelakunya terjerumus zina…apakah nanti hukun pertemanan bisa berubah menjadi haram dan “mengharamkan” yg 10% yg sebenarnya malah menjalani pertemanan dgn sesuai aturan???

    silahkan direnungkan :)

    Wassalam

    enchi said:
    23 April 2008 pukul 19:26

    saya mau tanya pak…
    pacaran islami itu gmn sih sebenernya????

    dan apa bgs scr psikologis, qta menyimpan prasaan ‘cinta’ thd lawan jenis qta….

    pak/ yg laennya tlg nasihatin saya…skrg sepertinya saya lg jatuh cinta ama seseorang….

    [...] itu ketika pada satu bulan sebelum debat tersebut berlangsung, saya mengungkap dalil-dalil mengenai halal-haram pacaran. Setelah itu, Anda pun dapat memeriksa sendiri apakah dalil-dalil tersebut saya “tempatkan [...]

    si_bH0L4nK said:
    5 Juni 2008 pukul 07:09

    pacaran Islami itu adalah bid’ah,cz ga pernah dicontohin ame Rosul…

    lagian tu org yang pacaran, kenape ga nikah ajE skalian, ketimbang dekat2 ame berjina.dulu pernah tes pacaran sekali, eh meskipun rajin ngaji tetap aja klo mbonceng mantanku konak juga…pas waktu itu gw mikir, ketimbang terjadi yang aneh aneh yang dilarang ame Tuhan yang sudah baku dalam pacaran entah itu label Islami ato bukan, seperti saling liat, saling pegang tangan, mpe yang ekstrim seperti kissing, necking, petting, dan the last intercourse (jauhkan hamba-Mu sebelum waktunya,wahai Tuhan). jadi saya memutuskan tuk memutuskan dia dan mencari istri ba’da kuliah….Insya Allah.Amin.

    FORZA JOMBLO FANS CLUB!!!
    Forza Inter…

    Tanggapan Admin:
    Komentar si_bHOL4nK itu tampaknya menunjukkan bahwa dia belum membaca artikel di atas. Mohon baca dulu baik-baik sebelum memberi komentar. Tak perlu Anda menulis sesuatu yang sudah dibantah dalam artikel di atas.

    pushing said:
    8 Juni 2008 pukul 06:06

    Bikin bingung……,
    pacaran islami…..,
    sebelum saya curhat mungkin saya ambil akaran pacaran adalah timbulnya rasa cinta.
    entah itu pacaran islami atau pacaran konvensionl, atau pacaran moderen, atau pacaran bla-bla-bla.
    curhat dimulai ….
    (bolehkan di blog ini kalau ngak boleh hapusin aja nga apa-apa)
    Dulu yang nama jatuh cinta hal yang bisa ngak ada luar biasanya, dan dapat saya bendung. karena saya punya prinsip ngak pacaran sebelum siap menikah. rasa suka itu hanya dapat saya berguman, ya sekedar simpatik kepada lawan jenis hal yang sangat wajar. apa lagi nglihat yang indah-indah (bukan yang jorok ya) kan Allah SWT menyenangi keindahan.
    tapi melihat saya dan teman saya ada yang terlibat cinta segitiga. sebut saja si A seorang cowok, si B seorang cewek jilbab, si C seorang cowok pecundang(bisa di bilang saya sendiri).
    si A sangat mencintai si B dengan setulus hati sedangkan si B mencintai si C dengan setulus hati sedangkan si C masih otak anak-anak yang belum dewasa.
    si C ngak habis pikir emang ada perasaan orang yang jatuh cinta sebegitu mendalamnya sehingga di ngak bisa apa-apa lagi sampai-sampai di rajin ibadahnya (effeknya bagus deh untuk si A) hanya untuk meringankan beban perasaanya. hal tersebut juga di rasa kan si B terhadap si C.
    si C dasar otak dungu ikut bermain api ternyata ngak bisa ngedaliin apinya, si A dan si B jadi kecewa dan hancur hati negliat kejadian ini. sadar atas kesalahan kemudian si C ngambil keputusan untuk hijrah dari daerah tersebut (ninalin harta benda, dan kuliahnya) supaya si B tidak kepikiran ke dia dan si A ngak sakit hati bila ngelihat sahbatnya si C udah ngecewainnya. setelah beberapa tahun kemudian. si C yang punya prinsip ngak pacaran tersebut ke karma, cobaan, atau lainnya. si C mulai di jatuhi perasaan yang sama serperti A dan B kepada si D (teman sekerjanya).
    barulah si C sadar ooooo inilah perasaan cinta si A kepada si B dan si B terhadap si C. sungguh berat memang hingga si C sadar ini membuat rusak pekerjaan nya, dan prestasi pekerjaan.
    sebelumnya si C berdiskusi sedikit dengan si D gimana tentang pacaran mempunyai perbedaan.
    si C bertanya tentang bolah kah seseorang pacaran sedang mereka tahu bahwa mereka belum siap untuk mengadakan pernikahan.
    si D : boleh aja itu kan bagian dari pengalaman hidup. Lagian perasaan senang kepada seseorang itu kan datangnya bukan dari kita. ya kita salurkan aja rasa tersebut meski kita belum siap untuk menikah. yang jelas bisa plong. Lagian kita kan ngak tahu siapa jodoh kita, ya siapa tahu dengan pacaran itu lah jodoh kita mungkin di beberapa tahun kedepan sampai kita siap.
    si C: apakah itu ngak suatu wujud kita ngak mempercayai akan 4 yang ditentukan oleh tuhan agar kita ngak takut ngambil keputusan.(rezeki, lahir, Jodoh, kematian)
    si D : (jwb si d terlupakan oleh si C jadi ngak bisa nulis inti nya si D ngak puas dg jawabnya)
    kalau ngak salah jawabnya tentang usaha…
    .
    .
    si C: apakah perlu kita pacaran sebelum nikah
    si D : perlu sekali untuk mengenal satu sama lain dan kecocokan hati.
    si C : kalau gitu gaya pacaran gimana yang anda bayangkan.
    si D : Pacaran Islami (ngak tahu kalau si D udah baca blog ini atau belum)
    si C : Pacaran Islami itu gimana apa bedanya dengan Pacaran yang ngak islami.
    si D : (sedikit bingung ) mmmm ya pacaran ya secara islami. yang ngak nyalahi aturan agama.
    si C : seperti apa ya
    si D : (sedikit kesal) baca alquran dan hadist
    karena si C melihat si D merasa tersudut (maklum sama-sama kurang pengetahuan ke arah tersebut) si C menghentikan pertanyaannya ke si D.
    Adanya perbedaan pendapat antara si C dan si D, maka dengan dungunya si C ngambil keputusan tidak mempercayai perasaannya bahwa si D adalah jodohnya. (walau sampai sekarang masih berkecamuk rasa sayang dan rasa ngak mungkin)
    karena dasar si D memandang pernikahan adalah
    - Cinta dulu ke seseorang dengan perwujudan pacaran baru menikah.
    itu sangat di takutkan oleh si D, belajar dari kasus yang ia alami dengan kedua sahabatnya si A dan si B. Jika ngak jodoh bisa2 ngancurin persahabatan. atau pun persahabatan yang dijalin jadi ngak enak.

    sedang si C memandang pernikahan itu
    - Ikhlas bertanggung jawab atas kedua belah pihak untuk menerima ketentuan-ketentuan rumah tangga secara islam tentunya. jika ikhlas atas nama Allah dan yakin akan di tumbuhi cinta di dalam rumah tangga.

    saya ngak tahu cerpen ini cocok dengan topic. namun itu salah satu C ngak percaya dengan perasaannya sampai sekarang, dari pada ngerusak hubungan dengan D lebih baik coba cari yang lain. Dengan modal 4 Ketentuan tersebut jika memang jodoh dengan dg D allhamdulilah, namun jika tidak dapat sedikit mengobati “penyakit hati” ini.
    karena saya sekarang ngak mikirin pekerjaan aja, hingga cuek dengan wanita (walaupun dg yg saya sukai) sekarang saya lebih “berusaha” mencari dengan sumberdaya yang ada , teman, saudara, agar di cariin jodoh yg mau menerima kekeruangan saya (soalnya yang tahu kan teman dekat dan saudara) yang tepat karena saya ngak mampu cari sendiri. mudah-mudahan cara saya dapat di benarkan oleh Allah. yang penting usaha.
    eeeeeeeee akhirnya baca sampai akhir ya atau negelmpat sampai akhir eeee.
    Maaf saya coba mbaca blog ini tapi makin pusing
    belum dapat keyakinan untuk harus
    NEMBAK CEWEK TERSEBUT DENGAN KATA

    LU MAU JADIAN NGAK SAMA GUE ngak apa kalu kita ngak jodoh yang jelas kita pacaran aja.

    gue sayang sama elo, setiap saat kepikiran terus sama elo tolong deh gue. terima aja walaupun elo ngak ada rasa sama gue. pura-pura aja kan kita tahu jodoh bukan tangan kita.

    TAPI SAYA LEBIH MEMILIH (walau belum dilakukan)
    gue pergi kerumah ortu nya, gue bilang pak buk saya sayang sama anak bapak dan ibu, untuk sekarang saya yakin si D ini milik bapak dan ibu jadi saya mohon doa restu untuk menglihkan tanggun jawab bapak ibu ke saya. dan sekarang anak bapak ibu belum/sudah tahu tentang pembicaraan saya ke bapak ibu. mohon dibantu pak bu.
    apakah cara ini terbaik???? (mohon artikelnya di bikin secara pdf biar bisa di donwold soal ngak konek-konek ke otak, soalnya kebiasaan mbaca dikertas lagian koneksi internet mahal)

    Tanggapan Admin:
    Curhatnya panjang banget, tapi komentar kami pendek saja.
    Kami menghargai ikhwan-akhwat yang begitu berhati-hati dalam menuju pintu nikah, sehingga menafikan pacaran walaupun islami. Namun kami pun (bahkan lebih) menghargai saudara-saudara kita lainnya yang mampu menjalankan pacaran secara islami.

    rizaru said:
    11 Juni 2008 pukul 10:27

    Assalamu’alaikum……..
    saya ingin menanyakan tentang hadits ini

    Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

    dan

    “Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

    yang ingin saya tanyakan apa yang di maksud dengan “semua itu dibenarkan oleh kelamin atau d gagalkan”…?
    apakah yang dimasud disini zina seperti melakukan hubungan suami istri, atau hanya merasakan adanya getaran ketika sedang berbicara (tidak secara langsung dan tidak berdua), apakah hal tersebut termasuk zina hati…?
    seandainya tidak merepotkan, tolong dikirimkan ke email saya…
    syukran katsiran…

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Baiklah, disamping di sini, saya kirim jawaban via email.
    “Zina hati” adalah “berzina di dalam hati”, yaitu mengharap-harap kesempatan untuk berzina. Adanya getaran, bahkan mengekspresikan rasa cinta, bukanlah tergolong “mendekati zina”. Lihat http://muslimromantis.wordpress.com/2008/05/08/mesra-tanpa-zina/

    [...] Dalil yg dipake [utk islamisasi pacaran] mungkin aja shohih, tp tidak shorih (jelas) menyebut pacaran itu boleh [...]

    Lahandi said:
    19 Juni 2008 pukul 22:26

    Satu hal yang saya ambil hikmahnya disini adalah Bapak M Shodiq Mustika sabar menanggapi :)

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Terima kasih atas pengambilan hikmahnya, semoga bisa menambah pahala saya. :)

    deky said:
    14 Juli 2008 pukul 21:12

    numpang tanya ke Bpk Shodiq Mustika…

    kalo misalnya saya pacaran gak ciuman, gak pegangan tangan, ketemuan di rumah atau di mall pokoknya tempat2 yg gak memungkinkan saya melakukan hal2 yg jelas haram dan saya coba terbuka sama pasangan saya tentang kekurangan2 saya dan berprinsip tdk akn terlalu lama pacaran misalnya max 2bln…kira2 itu sdh termsk pacaran yg Islami blom yaa???

    Jawaban M Shodiq Mustika:
    pacaran gak ciuman itu islami
    pacaran gak pegangan tangan itu islami
    ketemuan di tempat2 yg gak memungkinkan melakukan hal2 yg jelas haram itu islami
    terbuka sama pasangan tentang kekurangan2 diri itu islami
    dan berprinsip tdk akn terlalu lama pacaran itu pun islami

      Ibnu Khair said:
      5 Oktober 2009 pukul 02:53

      yakin jika pacaran tidak mendorong org untuk melakukan hal ciuman dan yg lainnya??

      dalam kaidah mahzab imam syafii… hal yg lebih condong mengarahkan kepada yg dilarang Allah maka harus ditinggalkan….!!!

      dalam hal wudhu saja misalnya “imam syafii menyebutkan bahwa : batal wudhu seseorang yang bersentuhan dengan lawan jenis. walaupun tidak ada rasa (didalam hati.red) tp imam syafii begitu hati2… sehingga menetapkan fatwa itu!!!

    deky said:
    19 Juli 2008 pukul 16:47

    sdh dijawab oleh Bang Shodiq Mustika…

    makasih atas jawabannya :)

    NDIEK said:
    26 Juli 2008 pukul 14:36

    ” Wahai jiwa-jiwa yang tenang jangan sekali-kali kamu mencoba menjadi Tuhan dengan mengadili dan menghakimi… , Bahwasannya kamu memang tak punya daya dan upaya, serta kekuatan untuk menentukan kebenaran yang sejati ”

    Apa yang kamu yakini sebagai sebuah kebenaran mungkin bukanlah sebuah kebenaran buat yang lainnya….

    Shine on… lets make harmony for a better future

    [...] Komentar Aduh duh hari gini masih ada yang mengharamkan pacaran yang islami? Ada yang tak mau tahu mana yang lebih kuat antara dalil yang menghalalkan dan yang “mengharamkan” pacaran islami. Kita lihat aja [...]

    Puspita said:
    27 Juli 2008 pukul 06:31

    Assalamu’alaikum.Pak,saya mau bertanya.Alhamdulillah saya adalah siswi anggota Rohis di sekolah saya.Dan pendidikan Rohisnya bagus juga menyenangkan.Yg ingin saya tanyakan adalah,para anggota Rohis memiliki pendapat yg berlainan dalam hal pacaran.Ada yg berpendapat tidak boleh,ada yg berpendapat boleh asalkan masih dalam batasan yg sewajarnya&tidak mengumbar nafsu.Kebetulan saya berpendapat boleh asalkan masih dalam batasan yg sewajarnya&tidak mengumbar nafsu.Mohon penjelasannya,pak.Lalu para siswa/i yg lain banyak yg tidak jadi masuk Rohis karena takut tidak boleh pacaran.Jujur saya bingung juga dgn argument itu yg selalu melekat pada anak Rohis.Saya menjadi bingung apakah saya lebih baik tidak berpacaran saja?Sementara saya sudah berjanji dalam hati pada diri saya sendiri&pada Allah,bila saya pacaran,saya tidak akan mengumbar nafsu&sewajarnya saja tanpa mengikuti cara pacaran yg lainnya.Mungkin niat saya untuk pacaran pun boleh dikatakan keterlaluan.Saya ini penyakitan sedari kecil.Dan semakin lama memang semakin parah.Saya menginginkan kelak yg menjadi pacar saya itu mau melindungi dan menyayangi saya tetapi bukan kasih sayang yg buta,tetapi didasari rasa sayang yg tulus dan dilandasi agama.Lalu pertanyaan yg terakhir(maaf banyak bertanya,saya biasa dikatakan si haus ilmu),saya pernah bertanya kepada teman-teman saya,apa yg pertama kali mereka lihat dari seorang wanita sehingga mereka ingin wanita itu menjadi pacar merekan?Jawaban mereka adalah kecantikan luarnya.Jujur pak,saya agak sedih juga karena saya merasa wajah saya biasa saja&tidak cantik(meskipun Alhamdulillah ada beberapa orang yg mengatakan Allah telah memberikan saya anugrah seperti itu).Maaf apabila pertanyaan saya ini merepotkan bapak.Saya ucapkan terima kasih banyak.Wassalamu’alaikum.

    Tanggapan Admin:

    M Shodiq Mustika akan menjawabnya dalam beberapa hari mendatang dalam bentuk postingan.

    [...] Aduh duh hari gini masih ada yang mengharamkan pacaran yang islami? Ada yang tak mau tahu mana yang lebih kuat antara dalil yang menghalalkan dan yang “mengharamkan” pacaran islami. Kita lihat aja [...]

    faisol said:
    3 September 2008 pukul 14:45

    terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

    Pandangan yang kontroversial « Bukan Zina said:
    23 September 2008 pukul 12:16

    [...] Manakah dalil qath’i yang jelas2 mengharamkan pacaran? Lihat Halal-Haram Pacaran (Dalil Mana Yang Lebih Kuat?) dan Bantahan terhadap Penentang Dalil [...]

    Nina said:
    3 Oktober 2008 pukul 23:18

    Assalamualaykum

    Waah,,, ternyata beneran bukan orang JIL.
    Maaf ya om. Dah nyangkain JIL.

    Menarik-menarik…
    Keren deh om. Tapi kalo’ gw c emang skarang nyobain pacaran islami pun kaya’nya blom bisa deh. soalnya hati gw susah bersihnya. (Maklumlah…)
    Tapi pengen juga lhooo…
    Hehehehe

    Deva said:
    11 April 2009 pukul 10:14

    Oh ya,saya mau tanya gmana caranya ngjaga diri agar tidak masuk kedalam perzinahan yah,,,,,,,,sperti pacaran ????

    patomi said:
    10 Agustus 2009 pukul 15:18

    trus saya masih belum mengerti
    apa ciri-ciri konkret dari pacaran islami??

    patomi said:
    10 Agustus 2009 pukul 15:20

    wah maaf saya tidak bermaksud menjadi orang lain karena itu bukan foto saya. tapi saya sangat membutuhkan jawabannya

    Ibnu Khair said:
    5 Oktober 2009 pukul 02:50

    semua pernyataan bapak sangat bertentangan dengan akal sehat…!!!

    1 coba pacaran seperti apa yg ada pada zaman nabi?????

    2 dalam kaidah fiqih ada yg namanya sama jenis dan fungsi seperti khamr dan alkhohol.. bagai mana pacaran yg seyogyanya mendorong orang untuk berbuat dan berkhalwat???? pak apakah yakin ketika pacaran tdk berkhalwat????

    3. pada tulisan “Ciuman dengan Pacar (PR untuk Penentang Pacaran Islami)” ada sebuah survei tentang org yg pacaran… saya mo tanya bagaimana metode dan pengambilan samplingnya, tahun berapa dilakukannya??? saya rasa itu tidak valid????

    4. pernyataan bapak yg “Karena pacaran tidak disinggung dalam Al-Qur’an, kehalalannya tidak mustahil.” ini yg meragukan saya jk bapak telah lulus S2…. bahasa al quran itu adalah universal.. perlu tafsir dan di imbangi hadist.. apakah yg berkaitan dengan syubhatnya pacaran telah anda tinjau????? pak jika berkaitan dengan agama itu hanya ada dua ” baik dan buruk” tidak ada yg di tengah2… coba riset prilaku seksual remaja yg berpacaran (sebenarnya sih sudah banyak, lihat penelitian di jogja yg ternyata sebanyak 68% pelajar sudah tidak virgin lg, riset thn 2006, klo tidak salah) coba mana yg lebih baik dan mana yg lebih buruk?????

    aji said:
    6 Oktober 2009 pukul 15:40

    assalammu’alaikum..

    maaf sebelumnya kalau komentar saya salah..saya masih awam..

    Pacaran Islami?
    Pacaran Haram?

    kalau saya baca artikelnya intinya sama..
    cuma yang mengganjal pikiran saya kenapa harus diperdebatkan?
    kenapa gak bersatu aja?

    yang saya tangkap maksud dari pak shodiq pacaran islami adalah ingin mengarahkan cara berpacaran yang tidak melanggar aturan..
    menurut saya bagus juga ide pak shodiq..tapi da kelemahannya juga..
    saya cuma bisa memohon jgn bwat kami bingung org2 awam..
    mungkin lebih tegas lebih baik..
    menurut saya nabi saw selalu tegas tidak berteletele..nuwun

    WASS..

      ibnu khair said:
      7 Oktober 2009 pukul 00:45

      bukan hanya bikin bingung … malah seperti halnya “gali lobang tutup lobang” tidak menyelesaikan masalah…. pacaran islami itu ya menikah… apakah bisa pacaran tidak pegang tangan, lalu berbuat yg lainnya??? dalam kajian psiko-analisa “manusia mempunyai insting bawah sadar terhadap seksual” jd meskipun sebenarnya komitmen untuk tidak melakukan itu tetap saja dilanggar???? itu pernyataan seorang ahli psikologi lho…. !!!!! (contoh kasus, semakin banyaknya remaja yg terjun bebas ke dunia seks akibat rayuan kekasihnya).. jadi di timbang dari mudharatnya tampaknya lebih banyak mudharatnya!!!!! jd buat apa di lakukan…..

    ibnu khair said:
    7 Oktober 2009 pukul 00:49

    pak….. dalam penjelasan no 3 saya tidak menemukan dalam keterangan yg seperti bapak katakan dalam hadis tersebut…… jd saya mo tanya kitab rujukan apa yg anda gunakan guna memperbolehkan atau menjadi landasan pacaran islami??????

    dedi said:
    8 Oktober 2009 pukul 09:47

    Assalaamualaikum Wr. Wb.

    Afwan, saya kut brkomentar tntng “pacaran islami”.

    Rasulullah pernah bersabda: “Tidak diperbolehkan seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat, kecuali jika perempuan itu disertai mahramnya”. (HR. al-Bukhari)
    laki-laki dan perempuan yang tidak mempunyai hubungan mahram dilarang berduaan. Dalam konteks ini, kata2 pacaran tidak tercantum, namun banyak sekali faktor-faktor penyebab untuk berkhalwat salah satunya dengan PACARAN. Karena pacaran merupakan salah satu jendela berkhalwat=berzina.

    Saya juga menyalin kutipan antum:

    “Dengan berat hati, saya memutuskan bahwa mulai sekarang, Anda dilarang menyalin isi blog saya. Keputusan ini saya ambil setelah melihat bahwa ternyata, tulisan di blog-blog saya seringkali disalin dan disebarluaskan secara kurang lengkap, sehingga pemahaman pembaca menjadi tidak utuh.

    Memang, mungkin saja tulisan-tulisan tersebut masih bermanfaat bagi pembaca walaupun tidak utuh. Namun, sesuai dengan kaidah dari ushul fiqih bahwa menghindari mudharat itu harus lebih diutamakan daripada mencari manfaat, maka saya ambillah keputusan tersebut. Harap maklum.”

    Dengan rasa khawatir (mungkin), Anda menulis larangan untuk menyalin isi blog Anda atas alasan penyebarluasan secara kurang lengkap sehingga pemahaman pembaca menjadi tidak utuh.

    Pendapat Saya: “APAKAH ANDA TIDAK LEBIH MERASA KHAWATIR BILA PACARAN DIPERBOLEHKAN, BISA MENIMBULKAN PRAKTEK PERZINAHAN? TIDAK PACARAN BERARTI MENGURANGI MADHARAT YANG BANYAK DARIPADA MANFAAT, SEPERTI PERNYATAAN ANDA PADA KUTIPAN LARANGAN MENYALIN BLOG”.

    pernyataan Anda sungguh di luar perkiraan Saya… Kalo pernyataan Saya Sbb:

    “Dengan berat hati, saya memutuskan bahwa mulai sekarang, Anda dilarang (Pacaran). Keputusan ini saya ambil setelah melihat bahwa ternyata, (Pacaran) seringkali diartikan dan disebarluaskan secara kurang halal, sehingga pemahaman (pelaku pacaran) menjadi tidak utuh.

    Memang, mungkin saja (pacaran) tersebut masih bermanfaat bagi pembaca walaupun tidak utuh. Namun, sesuai dengan kaidah dari ushul fiqih bahwa menghindari mudharat itu harus lebih diutamakan daripada mencari manfaat, maka saya ambillah keputusan tersebut. Harap maklum.”

    Bagaimana?

    Syuqran Katsiran atas luang untuk berkomentar ini.
    masih di hari yang fitrah, Mohon maaf atas komentar ini bila kurang berkenan di hati Anda. minal aidzin walfaidzin, Taqobalallahu minna wamingkum.!

    windy said:
    3 Februari 2010 pukul 11:34

    asskum
    saya binggung dengan masalah saya ini, saya sudah terlanjup pacaran sama cowok, dan setelah saya membaca beberapa artikel ini saya sadar bahwa sebemarnya pacaran itu haram.truz bagaimana cara saya bicara sm pcr saya untuk mengakhiri hubungan ini.saya minta nasehatnya, sebelumnya makasih.

    rosidasafitri said:
    5 Maret 2013 pukul 06:16

    Reblogged this on rosida safitri.

    rosidasafitri said:
    5 Maret 2013 pukul 06:53

    Reblogged this on rosida safitri.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s