Adakah puasa islami?

Maksudku, adakah di antara kita yang benar-benar menjalankan puasa secara islami sepenuhnya? Pada hakikatnya, puasa adalah “menahan diri”. Dengan kita berpuasa berulangkali, sekurang-kurangnya sebulan dalam setahun, sudahkah kita menahan diri sepenuhnya? 

Berikut ini kupaparkan tiga kenyataan mengenai puasa kita yang perlu kita renungkan:

  1. Kita sering berpuasa. Akan tetapi, kita jarang menahan diri dari sikap membohongi diri sendiri. Betapa bangganya kita mengaku, “Aku seorang muslim. Aku berpuasa.” Padahal, kita hanya berislam secara lahiriah. Kita hanya berpuasa secara lahiriah. Kita hanya menahan diri dari makan/minum dan dari berhubungan seksual. Kita tidak menahan diri dari dosa-dosa batiniah. Padahal, yang tak terlihat (batiniah) itu lebih penting daripada yang terlihat (lahiriah), bukan?

  2. Kita sering berpuasa. Akan tetapi, kita jarang menahan diri dari sikap mementingkan diri sendiri. Betapa bangganya kita mengoleksi “busana muslim” yang keren, apalagi menjelang hari raya, sementara banyak fakir-miskin yang busananya amat sederhana, usang, “ketinggalan jaman”, dsb. Lihat saja “busana muslim” yang dikenakan di acara-acara islami di televisi selama Ramadhan dan Hari Raya. Kebanyakan busana keren tersebut berharga ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Bandingkan dengan busana umat dari kalangan fakir-miskin yang kebanyakan busananya hanyalah pakaian bekas yang bila dijual cuma akan laku seharga sebungkus nasi tanpa lauk-pauk.

  3. Kita sering berpuasa. Akan tetapi, kita jarang menahan diri dari sikap menganggap diri sendirilah yang tentu benar (sedangkan orang lain pasti salah). Lihatlah blog-blog dan forum-forum diskusi di internet. Begitu pula berbagai majelis taklim di sekitar kita. Orang yang mengkritik, mengecam, dan menghujat orang lain ternyata jauh lebih banyak daripada orang-orang yang meminta (apalagi menerima) masukan dari orang lain atau pun memuji-muji pendapat orang lain. Dengan kata lain, kita cenderung tergolong orang yang sulit menerima kebenaran dari orang lain. 

Nah! Adakah puasa islami? Benarkah kita berpuasa secara islami sepenuhnya? 

Barangkali engkau berkomentar, “Puasa sepenuhnya itu ‘kan idealnya. Kita gak mungkin sempurna dalam berpuasa. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah. Sekalipun demikian, kita harus selalu mengupayakan penyempurnaan puasa kita.” 

Kalau kau berpikiran begitu, baguslah. Aku setuju. Selanjutnya, aku pun berharap pola-pikir seperti itu kita terapkan pula terhadap kasus-kasus lainnya. Kita mau istiqomah dan adil, bukan? Umpamanya:  

  • Salat SMART merupakan gagasan ideal. Kita gak mungkin sempurna dalam bersalat. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah. Sekalipun demikian, kita harus selalu mengupayakan penyempurnaan salat kita.

  • Pacaran islami merupakan gagasan ideal. Kita gak mungkin sempurna dalam percintaan. Kesempurnaan itu hanyalah milik Allah. Sekalipun demikian, kita harus selalu mengupayakan penyempurnaan percintaan pranikah kita.

 Wallahu a’lam.

9 pemikiran pada “Adakah puasa islami?

  1. untuk tips untuk mengelola batiniah,
    “rengkuh ruh puasa”, seraya “mantapkan wujud” dan “arungi makna”puasa

    untuk jelsnya, silakan baca buku Pelatihan Salat SMART, terutama Bagian Keempat

  2. puasa itu mencerdaskan! benarkah? gimana mas shodiq? ternyata, dari hasil penelusuranku mengenai hakikat dan faedah puasa, sungguh mengejutkan. saya pun mendapatkan sebuah kesimpual bahwa puasa pun dapat menggairahkan tujuh kecerdasan manusia. seperti halnya shalat Smart. oleh sebab itu, tak ada salahnya kalo saya mengatakan bahwa puasa pun dapat dijalankan dengan smart. artinya kita pun seharusnya melaksanakan puasa secara smart. hal ini untuk membangkitkan gairah dan simpul-simpul kesuksesan lahit bathin. hasil dari berpuasa smart itulah yang akan kita peroleh pada saat hari idul fitri (baca: hari saya kembali menjadi manusia sesungguhnya, manusia yang suci). ringkasnya, dengan puasa yang smart, Anda ataupun saya dapat meraih kesuksesan fitrah.
    “Ya Allah kembalikanlah diriku pada fitrah dan ruh Mu”

  3. Bagi sebagian besar di antara kita, ibadah puasa Ramadhan sudah biasa kita lakukan.
    Namun..mungkin perlu bertanya dalam hati, puasa Ramadhan tiap tahun terus-menerus dilakukan, tapi koq kualitas diri tetap saja jalan di tempat. Bahkan (mungkin) bagi sebagian di antara kita datangnya bulan suci ini menjadi tambahan masalah (na’udzubillahi !). Sebagai contoh, datangnya bulan Ramadhan menyebabkan pengeluaran maningkat drastis karena belanja konsumtif dan biaya hidup bertambah besar. Kalau meningkatnya pengeluaran dikarenakan infaq dan shadaqah tentunya baik sekali. Atau, barangkali menjadi bulan yang menurunkan kreativitas dan semangat kerja, sehingga bulan Ramadhan identik dengan bulan “bermalas-malasan” sehingga wajar saja para pemilik perusahaan dan pabrik khawatir dengan kehadiran bulan Ramadhan ini.

    Mengapa semua itu terjadi? Itulah beberapa akibat dari kesalahan dalam memahami dan memaknai ibadah puasa Ramadhan. Kalah salah dalam memahami dan mamaknainya, bagaimana mungkin ibadah iniakan dapat mengangkat derajat para pelakunya ke tempat terpuji?

    Allah menganugrahkan kepada kita bulan Ramadhan sebagai tamu agung. Berbahagialah apabila kita menyambut kedatangannya dengan sambutan yang baik dan penuh penghormatan. Mudah-mudahan Allah menggolongkan kita menjadi orang-orang yang dimintakan syafaat (oleh ibadah bulan Ramadhan kita) kepada Allah SWT nanti di Yaumil Akhir.

    Hanya kepada Allah sajalah kita memohon ampunan atas kebodohan kita. Oleh karena itu, mari kita pahami hakikat dan keutamaan ibadah puasa Ramadhan ini sebagai pemotivasi dan penuntun ibadah kita.

    Walallahu bisawab!

  4. penjelasan bunda indah sekali
    hatiku sampai bergetar

    uraian pak shodiq begitu kritis
    sampai aku merasa “malu” puasa

  5. Ada beberapa tanda bagi orang yang berhasil dalam puasanya terutama berkaitan dengan kehidupan di masyarakat. sebagaimana dijelaskan dalam surah An Nisa : 134.

    Pertama : Dia gemar berinfaq.
    Bersedekah atau berinfaq, baik dalam kondisi ketika kecukupan maupun dia sendiri dalam keterbatasan. Puasa melatih orang menjadi dermawan daripada sebelumnya, maka itulah tanda ibadah puasanya berhasil. Menumbuhkan sifat kedermawanan bukan hal yang mudah bagi orang kaya, apalagi bagi orang miskin. Kedermawanan dijadikan indikator keberhasilan puasa karena kecintaan manusia kepada harta amatlah dahsyat. Kualitas kedermawanan tidak ditentukan jumlah harta yang diberikan tetapi pada tingkat kesungguhan dalam mengeluarkannya.

    Kedua : Mampu menahan marah.
    Ibadah puasa sangat tepat dilakukan dalam kondisi masyarakat yang gampang tersulut emosi seperti sekarang ini. Kita berharap kehadiran Ramadhan akan menurunkan suhu kehidupan yang selama ini memanas dan gampang terbakar.

    Ketiga : Memaafkan orang lain, tidak pendendam.
    Memaafkan orang lain membuat hidup kita menjadi sehat dan ringan karena kita tidak memiliki beban apa-apa. Sebaliknya jika kita dendam dan enggan memaafkan, sama dengan kita memelihara penyakit dalam diri kita.

    Keempat : Ketika melakukan perbuatan dosa, segera sadar, minta ampun dan tidak mengulang lagi.

  6. Ping-balik: Benarkah kita sudah cukup menahan diri dalam berpuasa? « Pedoman Puasa

Sampaikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s