Pesan Terakhir untuk Sang ‘Ahli Agama’
Update 10 Nov 2007:
Ketidaklogisan mereka dalam berargumentasi menyebabkan saya tidak bisa berdiskusi dengan mereka. Nggak nyambung! Inilah alasan teknis di balik keputusan saya dalam menyampaikan “pesan terakhir” kepada mereka. (Kami berterima kasih kepada Sdr. Amed yang telah memberitahukan kepada kami siapa itu antosalafy. Pemberitahuannya menjadikan kami bisa lebih ‘memaklumi’ sikapnya.)————Naskah semula:
Pesan terakhir untuk Abdurrahman Sarijan, Antosalafy, dkk:
Sudah kami perhatikan bagaimana sikap kalian (Abdurrahman Sarijan yang didukung Antosalafy dkk) dalam kasus fitnah kalian terhadap kami, M Shodiq Mustika. Ingin rasanya kami menyaksikan sikap ukhuwah dari kalian terhadap kami. Sayang sekali, keinginan kami ini tak terpenuhi.
Yang kami saksikan, kalian tidak saja berkelit dari tanggung jawab atas perbuatan fitnah kalian yang telah lalu. Kini pun kalian tampak berusaha melancarkan fitnah baru dengan modus operandi seperti pada kasus terdahulu.
Di artikel terbaru kalian yang kami baca, di dalamnya kami saksikan begitu banyak kesalahpahaman kalian dalam membaca tulisan kami di situs kami. Untuk introspeksi, kami berpikiran: “Inilah kelemahan kami selaku penulis yang belum mampu menulis kata-kata ’sempurna’ yang takkan disalahpahami pembaca.”
Untuk ekstrospeksi, besarlah hasrat kami untuk menangkis kembali fitnah dari kalian sebagaimana yang telah kami lakukan pada kasus terdahulu. Kami tak ingin kalian menambah dosa melalui fitnah dan fitnah lagi. Bagaimanapun, kami memandang kalian sebagai saudara sesama muslim.
Namun apa hendak di kata. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Sumberdaya kami amatlah terbatas. Tidak semua urusan kami bisa kami tangani dengan sumberdaya yang terbatas ini.
Kami harus mengutamakan perkara yang lebih penting. Insya’Allah kami akan lebih memprioritaskan “orang awam” yang haus ilmu agama daripada “ahli agama” yang menolak perbedaan pendapat.
Semua sahabat kami menyarankan kami untuk bersabar saja dan menyerahkan perkara ini kepada Sang Mahaadil. Dan saran bagus tersebut kami terima.
Jadi, mulai sekarang, segala fitnah (dan ghibah) kalian mengenai kami, kami serahkan kepada Allah SWT. Bila memang perbuatan kalian itu dilandasi niat mulia, semoga Dia mengganjar kalian dengan pahala. Semoga pula Dia memberi hidayah-Nya kepada kalian, sehingga kalian tidak lagi melancarkan fitnah (dan ghibah) mengenai siapa pun. Akan tetapi, seandainya fitnah (dan ghibah) kalian itu dilandasi atau disertai hawa-nafsu kalian, maka sesungguhnya azab-Nya sangatlah dahsyat.
Akhirulkalam, sampai jumpa di Hari Pengadilan kelak, di hadapan Sang Mahaadil di akhirat!
=====================================
Tembusan: kurtubi, agorsiloku, itikkecil, Rien, Donny Reza, 2ndPrince, Aprina, blogkeimanan, telmark, Herianto, dalamhati, Mihael “D.B.” Ellinsworth, Sawali Tuhusetya, anggara, Dimas, Shelling Ford, alief, danalingga, erander, ichsanmufti, Sofwan, Kopral Geddoe, mathematicse, Amed, Agiek, dan semua pembaca lain yang mengetahui kasus fitnah tersebut di atas.






Nah, begini baru mantap pak. Semoga makin bisa berserah diri.
@ danalingga
Aamiin.
Mantap? Hehe… Makasih.
Aku kenal danalingga sangat toleran. Bisa kupahami kenapa kau bilang begitu.
Sebetulnya, aku tak yakin apa mereka mau terima “pesan terakhirku” itu. Tapi gak pa pa lah. Apa pun tanggapan mereka, aku berserah diri sajalah.
Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wamamaati lillaahi rabbil ‘aalamiin
fattul bahri ada yang terjemahan indonesianya pak?
Mudah-mudahan kita selalu mengedepankan kebersamaan di antara kita semua.
Pak Shodiq, saya belajar banyak dari hal ini, terutama melihat bagaimana bapak menyelesaikan kesalahpahaman ini. Terima kasih pak Shodiq untuk pengalaman gratis ini
@ hamba allah
ya, fathul bari ada terjemah indonesianya
@ Dimas
Aamiin.
Kita sama2 belajar.
Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.
oooh ternyata ada terjemahannya. berarti tuduhan blog itu bahwa bagaimana mungkin bapak sudah membaca fathul bahri sedangkan bahasa arab saja tidak lancar, adalah salah.
Sebenarnye ISLAM itu Mudah.
kadang2x manusia nyang diberikan akal suka ngakalin demi suatu tujuan.
Ana terus terang tak pandai dalam Ibadah (masih belajar gitu) tetapi nyang mesti orang tuh tau yaitu kunci ibadahnye…karena banyak orang nyang ibadah tak tau ilmunye..jadi bagaimana Ibadah itu berkualitas?? sedang Ilmu & kuncinye aje nggak tau…
Kuncinye Ibadah tuh : Ikhlas dan Ittiba (mengikuti Rasul).
keduanye mesti kudu berbarengan gitu.(bila tak sesuai dengan keduanye …sikap kite tinggalin aja)
Ilmunye tuh : Mesti ngikutin Al Qur’an & Asssunah dengan pemahaman orang2x sholeh terdahulu gitu…(karena banyak nyang baru tau artinye al qur’an dikit sudah pade belagu menafsirkan dengan hawa nafsunye / akalnye)
Jalan menuju NERAKA-Nya Allah tuh banyak caranye :
1. Kafir
2. Mengakali Al Qur’an & Assunah semau udel-nye
3. Memposisikan Akal diatas Segalanya, sampai2x bila bertentangan dengan Al Qur’an & Assunnah dia selalu memenangkan Akalnye.
4. Menyampaikan hadist2x & mengatasnamakan Rasulullah, padahal Rasulullah tidak pernah mengatakan seperti itu (hadist palsu untuk meng-legalkan tujuannye).
5. dll
Tapi bila menuju SURGA-Nye Allah itu cuma satu & tidak ada jalan lain selain jalannya 3 Generasi Terbaik nyang mendapat jaminan dari Allah akan masuk surga.
KENAPE????
Karena Pemahamannye tentang Agama nyang membuatnya masuk surga….
Lalu bagaimana dengan kite2x nih..nyang zamannye banyak fitnah (faham2x semau udel-nye tanpa bimbingan ulama)…mau ikuti pemahaman SIAPA??…itu terserah ente2x semua..ok
mantap.. Bapak sudah dapat jawabannya sendiri.
Bismillah.
Assalamu’alaikum.
Maaf, seharusnya ketika ada perselisihan dalam masalah agama seperti ini, maka sikap seorang muslim yang shodiq adalah mengembalikan urusan tersebut kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni Alquran dan Hadits shahih berdasarkan pemahaman salafush shaleh. Kami melihat tulisan2 anda di blog yang anda kelola sangat memprihatinkan dan sangat disesalkan. Entah apa tujuan anda. Wallahu a’lam. Banyak yang kontroversial dan menyalahi nash, salah satunya adalah tulisan mengenai HUKUM SAFAR BAGI WANITA. Setiap muslim pasti tahu bahwa kewajiban seorang yang beriman itu adalah taat kepada syariat Allah dan Rasul-Nya, dan tidak boleh memperturutkan hawa nafsunya.
Kemudian, muncullah bantahan dari al fadhil al akh abdurrahman yang berusaha menutup celah penyimpangan terhadap nash yang telah anda lakukan melalui tulisan di blog anda. Kami hanya menginginkan NASIHAT dalam hal ini. Namun, anda telah salah persepsi dan salah paham dalam hal ini. Malah anda buru-buru menulis bahwa kami telah MEMFITNAH anda. Kenapa anda ini?
Kamudian, kekeliruan anda semakin tampak (bagi yang terpedaya) dalam bantahan kedua dari al akh abdurrahman. Beliau telah menguraikan di mana letak (maaf) kelicikan tulisan anda dan kecerobohan anda dalam menukil atau mengambil referensi. Ini sangat fatal akibatnya (jika anda menyadarinya). Di satu sisi tampaklah kefanatikan anda terhadap syaikh YQ dan yang semisalnya meskipun mereka keliru, anda tidak peduli. Namun, di sisi yang lain, anda justru mengeyampingkan dan menutup mata terhadap HADITS-HADITS SHAHIH YANG TELAH MELARANG WANITA MELAKUKAN SAFAR TANPA DITEMANI MAHRAM (silakan merujuk di http://antosalafy.wordpress.com/2007/10/24/membungkam-suara-para-perusak-syariat-tentang-hukum-safar-bagi-wanita/).
Kami menanyakan kevalidan referensi yang anda gunakan dan hadits yang anda sandarkan kepada Imam Al-Bukhari rahimahullah. Anda telah berani mengatakan bahwa Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits yang anda nukil –yg ini sebagai dalil anda untuk membenarkan wanita safar tanpa disertai mahram– maka anda harus berani pula menjelaskan kebenaran dan keotentikan penyandaran hadits tersebut. Anda mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari, namun ternyata setelah dirunut tidak ada di sana (silakan lihat detailnya di http://antosalafy.wordpress.com/2007/11/07/membungkam-suara-para-perusak-syariat-kerancuan-dalam-maraji/)
Bukankah dengan demikian anda bisa terjatuh kepada kedustaan atas nama Imam Bukhari rahimahullah? Yang dengan begitu konskuensinya juga akan berdusta terhadap Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam karena anda telah mengatakan bahwa Nabi berkata demikian, padahal tidak. Wallahu a’lam.
Wallahi, kami tidak ingin berbuat kejelekan dan sikap melampaui batas terhadap agama. Begitu juga kami tidak ingin saudara-saudara kami kaum muslimin terjatuh ke dalam kejelekan dan melampaui batas terhadap agama. Oleh karena itu, kami membantah setiap perkataan anda yang menyalahi kitabullah wa sunnah shahihah sebagai bentuk nasihat untuk mengajak ketaqwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kami hanya mengajak anda untuk sama-sama bersikap GENTLE DAN KESATRIA dengan mengakui kesalahan dan kemudian rujuk atau kembali kepada kebenaran. Hal ini juga berlaku bagi kami, kami akan rujuk kembali kepada kebenaran jika kami salah.
Namun, kami tidak mendapati hal ini. Justru anda bersikeras dalam sikap anda, bahkan kembali menuduh kami telah melakukan fitnah “jilid dua”. Duhai, pak Shodiq -semoga Allah menunjukimu dan kita semua– JIKA ANDA INI SEORANG YANG SHODIQ, tentunya akan menerima kebenaran meski itu pahit dan bertaubat atas kesalahan meskipun enak dan mendapat dukungan mayoritas pengunjung blog. Lihatlah komentar yang ada di blog anda mayoritas salut kepada anda akan “keberanian” dan “kependekaran” anda, namun saya berharap anda sadar bahwa itu semu. Pilih dan Pilahlah mana yang berisi nasihat dan mana yang hanya sanjungan semata, tanpa rasa takut kepada Allah. Wallahul musta’an.
Anda sendiri mengaku bahwa anda tidak mampu mengeluarkan dalil sebagai hujjah atas “kebenaran” yang anda yakini:
“Namun apa hendak di kata. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Sumberdaya kami amatlah terbatas. Tidak semua urusan kami bisa kami tangani dengan sumberdaya yang terbatas ini.”
Ini berarti anda dalam keadaan tidak tahu. Seseorang yang tidak tahu tidak selayaknya merasa tahu, apalagi mengajari, apalagi menuduh “telah memfitnah” kepada orang yang lebih tahu. Bagaimana anda mau mengajari orang tentang agama, sedangkan anda sendiri tidak tahu sama sekali tentang agama. Renugkanlah dengan hati yang besar lagi lapang, Pak Shadiq.
Agama itu bukan untuk gembor-gembor tanpa ada pengamalan Pak Shodiq. Dan anda berkata:
“Di artikel terbaru kalian yang kami baca, di dalamnya kami saksikan begitu banyak kesalahpahaman kalian dalam membaca tulisan kami di situs kami. Untuk introspeksi, kami berpikiran: “Inilah kelemahan kami selaku penulis yang belum mampu menulis kata-kata ’sempurna’ yang takkan disalahpahami pembaca.”
Kami tanya: di mana letak salah paham itu? Bukankah kami jelas menanyakan kebenaran argumen anda beserta keotentikan referensi yang anda pakai, tetapi ternyata anda tidak bisa menjawabnya dengan shodiq. Anehnya, dalam keputus-asaan anda malah membuat oponi yang ingin mengaburkan kebenaran dan tidak mau bersikap ilmiah.
Sungguh, saya melihat anda tidak mau menerima nasihat. Nasihat itu adalah hujjah yang disampaikan atas dasar takut kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengajak kepada rasa taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Wallahul musta’an.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, keluarganya, shahabatnya, dan para pengikutnya yang lurus sampai akhir zaman. Kami bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.
Pak .. gini aja .. anggap saja sanggahan beliau itu menambah wawasan kita2 yang belum paham. Justru tulisan Anto Salafy itu membuat saya jadi tahu tentang pikiran yang lain. Bukankah itu suatu rahmat dari Nya buat orang2 yang baru belajar??
Saya jadi ada pembanding. Bukan soal benar salah pak. Harusnya bapak bangga. Dengan postingan bapak, Anto Salafy menulis sanggahan. Dan itu artinya, tulisan bapak menjadi lebih kaya karena dipandang dari sudut yang berbeda.
Biarlah pembaca yang menilai dan memilih. Yang penting bapak dan anto sudah menjelaskannya. Hanya saja mungkin masalah tata bahasa. Ada yang sopan, ada yang vulgar. Saya pikir, yang kita lihat adalah esensinya. Gimana pak?
Sesama muslim itu basodara kan pak?
ah saya jadi ingin tanya sama yang namanya Fateh yang banyak bikin fitnah itu kira-kira siapa ya
Saya sih gak tahu masalahnya
Tapi saya baca-baca sih ini masalah safar
Saya dalam hal ini sependapat dengan Anda Pak Shodiq
*pokoknya gak mau sependapat sama pokoknya*
@ hamba allah
Alhamdulillah, akalmu begitu tajam sehingga mampu mengenali “sesat-pikir” (fallacy)-nya mereka.
Mengenai kelancaran berbahasa, jangankan bahasa Arab, lha wong bahasa Indonesia saja aku nggak lancar. (Buktinya, sebagian pembaca salah-paham atas tulisanku.)
Mengenai fathul bari, yg kubaca adalah yang terjemah Indonesia (cetak) yang kemudian kubandingkan dengan yang Arabnya (digital text).
Eh, ngapain ngomongin gini ya? Aduh…. aku takut terkena bibit kesombongan. Gimana ya?
@ erander
Betul, Pak Eby. Terima kasih telah Bapak ingatkan. Kita sama2 belajar, dari manapun kebenaran itu datangnya, termasuk dari mereka.
Ya, saya setuju. Karena itu, kita tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat. Yang tidak bisa saya terima adalah fitnah mereka (dan ketidaklogisan mereka dalam berargumentasi).
Fitnah mereka itu tampaknya timbul lantaran penalaran (penyimpulan) mereka yang tidak logis. Untuk contoh, lihat tanggapan saya thd si hamba allah di atas dan http://pacaranislami.wordpress.com/2007/10/11/haruskah-wanita-disertai-muhrim-ketika-bepergian/#comment-1361
Ketidaklogisan mereka dalam berargumentasi menyebabkan saya tidak bisa berdiskusi dengan mereka. Nggak nyambung! Inilah alasan teknis di balik keputusan saya dalam menyampaikan “pesan terakhir” kepada mereka.
@Antosalafy
Kadang, ketika ada yg beda, dibilangnya “mengikuti hawa nafsu…”…”Menuhankan akal…” dll
Ko bisa ya berpikir sejauh itu…kayanya masih bisa berhusnudzan dulu deh….
Kalo bener niatnya emang gitu mungkin g masalah ya, tapi kalo ternyata g, apa itu g diitung jadi fitnah ya…apa g ngeri ya kalo itu sampe kecatet di buku amalan kita….
@Fateh
Nice info…
But basic topiknya lagi muamalah ni…
Kalo masalah muamalah gimana, kira2 punya info2 kaya gini lagi…sapa tau bisa dishare
Wassalam
@ m.shoddiq
orang kayak gitu, jangen ditanggapin serius lah,ambil funya saja
salam kenal!!!
@ Semuanya
Laporan terkini :
Antosalafy, telah mendapat gelar : BADUT WORDPRESS,
setelah melalui seleksi yang begitu ketat dan akhirnya terpilih secara aklamasi karena tidak memiliki saingan sama sekali.
Kami ucapkan Selamat atas terpilihnya Antosalafy sebagai BADUT WORDPRESS tahun 2007
http://retorika.wordpress.com/2007/11/09/antosalafy-badut-wordpress/#comment-126
antosalafy:::
lho, bukannya sudah dikembalikan sama pemilik blog di sini. saya kutipkan lagi tulisannya, deh (ada di paragraf ke dua dari yang terakhir):
see, mas anto?
Judul postingan yang bagus. Bersegeralah mengakhirinya, karena pertentangan di antara mukmin, tentu tidak ada yang menang. Hanya pihak ketiga yang akan memetik hasilnya. Pihak ketiga itu, boleh jadi Pamannya Sang Angkara Murka, Bibinya Hawa Nafsu, Anak-anaknya permusuhan….
Manusia tempatnya salah dan lupa. Jadi mari kita saling memaafkan…..
**mode bangkit dari kubur**halah
Saya awam thd pemahaman agama saya sendiri kang, jadi saya lbh suka membaca postingan pak muhshodiq ketimbang tulisan, maaf, antosalafy yg berat buat saya
pahami.@ RETORIKA
Salam kenal kembali, Ret. (Eh, gimana nih, manggilnya?)
@ Shelling Ford
Makasih, Joe. Sudah kau tunjukkan salah satu contoh kesalahpahamannya.
@ agorsiloku
Betul, Bung. Kalau sesama aktivis dakwah malah sibuk bertengkar, kapan dakwahnya? Ya, kan?
@ Sugeng Rianto
Terima kasih atas pengertiannya.
ass.ikut nimbrung,yah boleh-boleh saja berselisih dan punya pendapat,asal sisi ilmiah itu bisa dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat,karena ini masalah agama,apalagi dalam blog kalo anda punya pendapat baik bisa pengaruh baik dan jelek bisa pengaruhi orang jadi jelek,sekarang,tunjukkan masing2 kevalidan argumen dan kekuatan berpendapat .itu yang baru bisa dikatakan ilmiah.Perlu diingat karena di Dua kitab setelah Alquran,1.FATHUL BARI ini yang benar dan 2.FATHUL JARE (jare bs jawa,katanya) ,jarene wong, jarene kiai,jarene guru besar ,jarene dosen,jarene paranormal,jarene mbahku,buyutku,