Tidak pernahkah kita bunuh diri? Ya dan tidak. Memang, kita tak pernah bunuh diri secara terang-terangan. Kita tak pernah menghabisi nyawa diri sendiri secara seketika. Namun, diam-diam kita sering “bunuh diri”. Kita sering “mengurangi nyawa diri sendiri secara perlahan-lahan”. Begitu diam-diamnya kita melakukan bunuh diri, sehingga diri kita sendiri pun tidak menyadarinya.
Kita diam-diam melakukan bunuh diri apabila kita tidur melebihi kebutuhan. Misalnya, sebetulnya tubuh kita hanya membutuhkan tidur selama 6 jam per hari, tapi kita tidur selama 10 jam per hari. Ini berarti kita “mengurangi” nyawa kita 4 jam per hari. Sebab, selama 4 jam per hari itu, kita mengurangi jatah kita untuk mengisi kehidupan kita. Selama 4 jam per hari itu, kita menjadi “orang mati”. Diam-diam kita melakukan “bunuh diri”.
Kita juga diam-diam melakukan bunuh diri apabila kita merusak badan kita secara perlahan-lahan dengan cara: menjalani kehidupan dengan penuh ketegangan (stres), makan-minum secara sembarangan, merokok, jarang berolahraga, mengabaikan kebersihan diri dan lingkungan, dan sebagainya.
Kita pun diam-diam melakukan bunuh diri apabila kita menghabiskan waktu dengan melamun, mengkhayal, bermalas-malasan, bersantai-santai melebihi kebutuhan, menonton televisi pagi-siang-sore-malam, dan sebagainya.
Belum saatnyakah kita menyadari bahwa selama ini kita telah berkali-kali bunuh diri secara diam-diam (perlahan-lahan)?
Astgahfirullaah…..
Iya juga ya .. ga sadar kita telah sering menganiaya diri kita sendiri. Thanks banget, saya juga merasa diingatkan nih
salam silaturrahmi mas Shodiq
Wah pantesan, ane pernah dikasih tau ame guru ngaji ane di kampung kalo kita diharamin ngezalimin diri sendiri, karena ngezalimin diri sendiri sama ana ngebunuh diri sendiri gitu pan bang?
Kalo kagak salah, ayatnya berbunyi: walaa taqtuluu anfusakum… Dan janganlah kalian membunuh diri kalian sendiri…
Bentuk ama model cara membunuh diri kita itu yang abang sampein di tulisan ini ya… Makasih banget bang…
Salam kenal dari ane, baru brojolon ngeblog hari ini…
saya jadi mulai berhitung, berapa kali sudah saya bunuh diri…
@ nilna
Salam kembali.
Saya senang bisa menjalin ukhuwah dengan mas Nilna.
@ Cabe Rawit
Ya, saya terilhami oleh ayat tersebut.
Salam kenal juga, Ksatria Pasundan!
@ tan andalas
Satu dua tiga empat lima ……………………
Selamat berhitung, andalas de java!
Saya justru kurang tidur pak. Keseringan hanya 5 – 6 jam per hari. Kata para ahli sih, mestinya 8 jam per hari. Ga tahu, berapa jam yang pantes-nya.
Anto”dewo”salafy juga dah bunuh diri tuh (blognya)
Wah… masuk nich postingannya…
Hmmm ( membaca dan merenungi lagi… )
@ erander
Menurutku kebutuhan kita berlainan. Pekerja “berat” membutuhkan tidur yang lebih lama untuk membugarkan tubuh. Tapi bagi kita yang lebih sering duduk di depan komputer, 6 jam mungkin sudah mencukupi.
@ retorika
Mungkin dia lakukan “reinkarnasi”.
@ Gyl
Silakan. Semoga bermanfaat.
Terimakasih karena sudah diingatkan kembali …
Pingback: Kinilah Saatnya Menulis Takdir Yang Kita Inginkan « Manajemen Amal
@erander
nanti bozzz …
ada masa dimana tidur itu begitu nyaman !
tak perlu lagi membuka mata …