Entah karena aku terlampau angkuh, entah aku terlalu malas, tidaklah sering diriku takluk oleh sebuah buku. Apalagi buku obralan yang harganya cuma 10 ribu rupiah. Namun baru-baru ini, terjadilah peristiwa yang langka ini. Aku terbius oleh buku setebal 223 halaman, karya Khaled Abou El Fadl, Musyawarah Buku: Menyusuri keindahan islam dari kitab ke kitab (Jakarta: Serambi, 2002).
Halaman-halaman awal, yang dimulai dengan “Pengantar Penyunting”, sudah menghentak. Diantaranya:
AL-’ILM NUR, ilmu adalah cahaya. Demikian sebuah ungkapan menyatakan. Tapi kini, ungkapan semacam ini sudah tidak memiliki pamor lagi. Orang lebih terpesona pada gemerlap kehidupan dunia, dan dalam konteks ini, orang lebih terpikat kepada stabilitas-pemikiran yang stagnan…. (hlm. 5)
Adapun yang paling menghentak diriku adalah kalimat: “Fakta yang ada adalah bahwa iblis sering bekerja melalui kedok kesalehan.” (hlm. 105)
Siapakah orang-orang yang berkedok kesalehan (atau “sok alim”)? Mereka ialah yang memperlakukan Islam sebagai fashion show, “begitu janggut tipis mereka tumbuh dan mendapatkan stok kostum yang necis”. (hlm. 104) Mereka itu “mengagungkan kebodohan” dengan jalan “mendeklarasikan [bahwa] penggunaan nalar merupakan pola pikir yang keliru dan penyelewengan”. (hlm. 103) Merekalah sahabat iblis yang paling istimewa, sebagaimana diterangkan dalam kalimat-kalimat berikut.
Al-Bayhaqi bertanya dalam bukunya, bila iblis di hari kiamat mau berbicara, apa dan siapa yang akan dia puji? Iblis akhirnya memuji dan berterima kasih kepada setiap muslim yang mengadopsi suatu kepercayaan yang menisbatkan hal-hal yang tidak rasional, zalim, dan buruk, kepada Tuhan. (hlm. 103)
Bagaimana bisa terjadi demikian? Bukankah agama Islam itu penuh dengan nasihat supaya membaca dan menuntut ilmu? Sebabnya, kaum muslim jarang membaca. Kalau pun membaca, yang mereka baca hanyalah “yang menegaskan kebenaran hal yang sudah mereka ketahui”. (hlm. 73)
Contohnya, orang-orang yang “sok alim” itu yakin bahwa kaum wanita wajib menutup seluruh tubuh (kecuali wajah dan telapak tangan). Kemudian yang mereka baca pun teks-teks yang menyatakan demikian, siapapun penulisnya, bahkan walaupun penulisnya bukan ulama ahli fiqih. Sementara itu, mereka enggan membaca (dan menghargai) kata-kata sebagian ulama ahli fiqih yang menyatakan bahwa perempuan yang menjalani kehidupan sosial dan ekonomi yang aktif tidak harus menutup lengan tangan, bawah lutut, dan bahkan segala sesuatu di atas dada. (Lihat hlm. 143-147.)
Itu baru satu contoh. Masih ada banyak contoh lain yang dikemukakan oleh Khaled Abou El Fadl. Semuanya membawa kita ke arah kesadaran bahwa perbedaan pandangan di antara ulama merupakan keindahan Islam, yang diwariskan kepada kita dari masa ke masa.
Wah wah sangat menarik … aku cari deh bukunya. Makasih Mas Shodiq memberi amunisasi tajam dengan contoh pas. Selamat dan trims.
CMIIW, bukankah iblis itu juga terlaknat karena ‘kesesatan’ nalarnya?
ah, sejak dulu saya yakin islam itu fleksibel. apa kalo saya membaca buku ini saya juga bisa disebut sebagai membaca “yang menegaskan kebenaran hal yang sudah saya ketahui”? huehehehe…
*bingung juga*
@ Ersis WA
Selemat berburu buku.
@ Donny Reza
Ya, benar. Kesesatan utama iblis adalah kesombongan. Begitu pula sahabatnya yang sok alim.
@ Joe
(Bukunya gampang dicari di Jogja, terutama tiap kali ada pameran buku. Aku membelinya di stand Yusuf Agency.)
Tergantung tujuanmu membaca. Kalo cuma mau tahu fleksibelnya Islam, tak perlu Joe membacanya. Tapi kalau mau menyusuri indahnya khazanah Islam dari masa ke masa, Joe WAJIB membacanya.
Ping-balik: Fatwa: “Rambut wanita bukan aurat.” « Salafi Liberal
Ping-balik: Sentuhan syetan di wajah orang yang tekun beribadah « Muslim Moderat
Memang benar, saat ini kita memang sedang menyaksikan banyak orang2 sok alim yang malas baca buku bahkan fanatik buta dengan pemimpinnya, tapi malah mengaku sebagai mujahid. Gara2 mereka, Islam malah dianggap identik dengan kekerasan.
Kayaknya menarik, bisa jadi renungan diri ini yang sok sholeh
Ping-balik: Sentuhan syetan di wajah orang yang tekun beribadah « Ikhtiar Islami
Wallahu a’lamu bil Showab