Berkat Sedekah Sepotong Roti
Wahai anakku! Ingatlah kisah si pemilik roti! Ia beribadah di pondoknya selama tujuhpuluh tahun. Namun, hanya sekali keluar dari pondoknya, setan mendatanginya dengan menyerupai bentuk seorang wanita. Kemudian ia tinggal bersama wanita itu selama tujuh hari tujuh malam.
Setelah tersadar, ia keluar dari pondoknya dengan penuh pertaubatan. Kemudian setiap kali melangkahkan kaki [keluar rumah], ia bershalat dan bersujud. Lalu ia singgah di sebuah pasar di malam hari, sedangkan di pasar itu tinggal 12 orang miskin. Ia kelelahan dan merebahkan diri di depan dua orang diantara mereka.
Di daerah itu, tinggallah seorang pendeta dermawan yang selalu membagikan roti bagi setiap orang miskin yang ada di situ. Malam itu, si pendeta datang dan membagikan roti seperti biasanya. (Lantas, karena jumlah orang yang berada di pasar bertambah satu orang, sedangkan orang yang bertaubat itu mendapatkan satu bagian, pastilah ada satu orang lainnya yang tidak kebagian.)
Lalu orang yang tidak kebagian itu bertanya kepada si pendeta, “Mengapa kau tidak memberiku sepotong roti malam ini?”
Jawab si pendeta, “Apa kaukira aku pelit? Tanyailah kawan-kawanmu, apakah ada yang memperoleh dua potong roti!”
Mereka menjawab, “Tidak ada yang mendapat bagian dua potong.”
“Apakah aku tidak memberimu? Demi Allah, aku tidak akan memberimu apa-apa [karena sudah habis terbagi].”
Akhirnya, orang yang bertaubat tadi memberikan roti yang ada di tangannya kepada orang miskin yang tak kebagian. Pagi harinya, orang yang bertaubat itu mati.
Amal ibadahnya selama tujuhpuluh tahun kalah berat terhadap timbangan dosanya yang dilakukan tujuh hari tujuh malam. Adapun pahala yang didapat karena memberikan sepotong roti itu ternyata lebih berat daripada timbangan dosanya yang dilakukan tujuh hari tujuh malam itu.
Wahai anakku! Ingatlah kisah si pemilik roti itu!
***
Demikianlah kisah dan wasiat yang dituturkan oleh Abu Musa al-Asy’ari r.a. menjelang wafatnya. Sumber cerita: Ibnu Jauzi, Shifatush Shafwah, I/560-561.
Dari kisah di atas, sekurang-kurangnya ada satu hikmah yang bisa kita petik: Jangan remehkan amal yang kita pandang kecil, karena mungkin bernilai besar di sisi Allah. Jangan pula terlalu mengandalkan amal yang kita pandang besar, karena barangkali justru bernilai kecil dalam pandangan Allah. Bagaimana menurut Anda?


Saya setuju dengan hikmah tersebut, namun disamping itu ada hikmah lain, kita sebaiknya harus berupaya untuk menolong orang, semasih kita bisa, jangan pikairkan dampak lain, atau besar-kecilnya ihlas aje deh…… memang susah, tetapi harus terus dilatih.
Apa yang membuat pendeta di postingan ini bisa bersumpah demi Allah. Seorang Kristen tidak boleh memakai nama Tuhan dengan sembarangan apalagi bersumpah.
Apa kriteria manusia bisa masuk surga menurut Anda? Dengan mengamalkan roti seperti dalam cerita ini? Apa yang membuat orang ini bisa diterima di kehidupan kekal? Anda pintar sekali mengarang cerita. Anda buat cerita tentang seseorang yang tidak pernah berbuat dosa, at least cuma beberapa kali. Toh juga ga ada yang bisa seperti itu. Manusia bahkan tidak menyadari seberapa jauh dia telah berdosa, meskipun manusia tidak menyadarinya. Manusia akan selalu berdosa, seberapa intens pun dia berbuat baik. Bukan amal baik yang menyelamatkan manusia. Tapi pengakuan akan ketidakberdayaan diri. Jadi maksud Anda penjahat-penjahat tidak akan masuk surga. Anda tidak bisa menebak Allah. Jangan pernah menghakimi orang jahat.
Kalau menurut Anda masuk surga bisa dengan cara dari cerita di atas tersebut, Anda harusnya cuma sholat, makan, dan tidur. Jangan2 kalau anda melakukan kegiatan lain, anda telah berbuat dosa.
@ parel
Anda salah paham. Supaya tidak lagi salah paham, silakan simak Kriteria masuk surga
Lucu Bangetzzzz sich Cerita loh tu bangussssssssssss Bangetzzz