Mau cepat lulus atau mau pintar? (Jasa Orangtua & Guru yang Tak Terlupakan)

Sampai sekarang, masih terngiang pertanyaan almarhumah ibuku padaku, “Apa kamu nggak bisa cepat lulus?” Pertanyaan ini beliau ajukan ketika aku menginjak tahun kelima kuliah. Saat itu, ada beberapa temanku yang sudah diwisuda, sedangkan IP (indeks prestasi) mereka ada di bawahku.

Terhadap pernyataan itu, kuajukan tanggapan berupa pertanyaan retoris, “Ibu mau aku cepat lulus atau mau aku pinter?” Ibuku terdiam. (Mungkin aku mengatakannya secara agak kasar. Maafkan aku, Ibu. Aku tak bermaksud kasar padamu. Saat itu aku hanyalah anak muda yang bersemangat tinggi.)

Lalu kuterangkan bahwa dosen pembimbingku ialah Pak Abu Risman. Sejak mengajukan judul skripsi, aku sudah sengaja memilih beliau sebagai dosen pembimbing. Pihak fakultas segera menyetujui pilihanku. Sebab, sedikit sekali mahasiswa yang skripsinya berada di bawah bimbingan beliau.

Mengapa sedikit? Mungkin karena beliau terkenal “killer”, baik selaku dosen pengajar maupun pembimbing skripsi. Dalam bimbingan beliau, minimal empat semester (dua tahun) bimbingan barulah skripsi mahasiswa bimibingannya bisa beres. Ketika mengajukan judul ke pihak fakuiltas, hampir tak pernah ada mahasiswa yang mengusulkan beliau sebagai dosen pembimbing mereka. Kalau pun pihak fakultas menetapkan beliau sebagai dosen pembimbing mereka, mereka cenderung menghindar dengan jalan mengajukan judul baru supaya mendapat pembimbing baru.

Lantas, mengapa aku pilih beliau? Sebab, tujuanku utamaku berkuliah di IAIN adalah menuntut ilmu, terutama ilmu dakwah, khususnya dakwah melalui media tulis. (Tujuan utamaku lainnya adalah mencari jodoh. Hehe…) Nah, beliaulah yang kunilai paling ahli di bidang metodologi dakwah. Bahkan, dia juga ahli dalam metodologi penelitian dan metodologi pemikiran Islam. Aku merasa beruntung menyusun skripsi di bawah bimbingan beliau.

Setelah dua tahun di bawah bimbingan beliau, selesailah penyusunan skripsiku, tinggal maju sidang. Hanya saja, tampaknya Tuhan berkehendak agar aku tidak segera lulus. Hanya dua atau tiga hari sebelum sidang, Pak Abu Risman jatuh sakit terkena stroke. Sidang skripsiku ditunda dan akhirnya malah dibatalkan. Beliau wafat lantaran stroke itu.

Lantas pihak fakultas menunjuk seorang dosen lain sebagai pengganti. Sayangnya, pemahaman beliau kurang selaras dengan pemahaman Pak Abu Risman. Pembimbingku yang baru ini memintaku merombak seluruh isi skrikpsiku secara total! (Dengan kata lain, aku diminta membuat lagi naskah skripsi dari nol.)

Tema skripsiku adalah metode dakwah “samar-samar” melalui media cetak. Dengan metode begitu, kita mendakwahi pembaca, tetapi para pembaca tidak merasa “didakwahi” (baca: digurui). Menurutku, inilah cara dakwah yang lebih efektif bagi khalayak pada umumnya. Pandanganku ini disetujui oleh Pak Abu Risman. Namun sang dosen pengganti ternyata berpandangan lain. Bagi beliau, pesan dakwah haruslah jelas, tidak boleh samar-samar. Akhirnya, karena aku gagal meyakinkan beliau, aku memilih “mundur”. Aku pakai trik: memulai proses skripsi kembali dari awal (walau tema dan isinya sama). Ke pihak fakultas, kuajukan judul baru, sehingga mendapat dosen pembimbing baru yang dapat menerima pandanganku.

Proses ekstra tersebut memakan waktu sampai tiga semester. Jadilah skripsiku itu kutuntaskan dalam waktu tiga setengah tahun. Ini tentu saja jauh lebih lama daripada teman2ku yang umumnya kurang dari setengahnya.

Lantas, menyesalkah aku dengan studi S1-ku yang “terlalu” lama itu? Di satu sisi, ada sedikit penyesalan karena kurang dapat memenuhi harapan orangtua yang ingin aku cepat lulus. Di sisi lain, lebih banyak kepuasan yang aku peroleh. Berkat pengertian dari orangtua yang tidak lagi menuntut aku cepat lulus (walau mereka tetap mengharap demikian), aku bisa berkonsentrasi menuntut ilmu dakwah dari Pak Abu Risman (dan guru-guruku lainnya). Dengan bekal ilmu tersebut, aku menjadi cukup PD (percaya diri) untuk berkarir selaku penulis buku.

Kini, dalam menyusun buku, aku suka berdoa, “Ya Allah! Meski aku suka royalti dari buku yang kutulis, ridha-Mu lah yang pada dasarnya aku harapkan. Pahala-Mu lah yang aku dambakan. Aku mohon pula, alirkanlah pahala itu kepada keluargaku dan guru-guruku, terutama Pak Abu Risman, sesuai dengan andil mereka masing-masing. Sebab, dengan andil merekalah aku bisa menyusun buku ini. Aamiin.”

7 pemikiran pada “Mau cepat lulus atau mau pintar? (Jasa Orangtua & Guru yang Tak Terlupakan)

  1. Waaah hebat pengalamannya, Pak. Sangat jarang orang yg jujur bila masa studinya terlalu “lama” :D Saya angkat dua jempol ke atas, Pak!

    Kalau saya, meski lulus cepat, tapi setelah lulus masih belum PD klo nulis. :D He he… :D

  2. @ mathematicse

    Makasih atas jempol ke atasnya. :)

    Masak sih Kang Jupri [dalam hati] belum PD nulis? Kulihat di blog, Kang Jupri PD banget. Mampu mengupas segala persoalan dengan sudut pandang Matematika.

  3. Aku pilih ini aja mas … Kini, dalam menyusun buku, aku suka berdoa, “Ya Allah! Meski aku suka royalti dari buku yang kutulis, ridha-Mu lah yang pada dasarnya aku harapkan. Pahala-Mu lah yang aku dambakan. Aku mohon pula, alirkanlah pahala itu kepada keluargaku dan guru-guruku, terutama Pak Abu Risman, sesuai dengan andil mereka masing-masing. Sebab, dengan andil merekalah aku bisa menyusun buku ini. Aamiin.”

  4. wah, turut berduka cita atas wafatnya pak abu risman,s emoga almarhum bisa menghadap dg tenang dan dama ke hadapan-Nya. mungkin ini salah satu ujian lain yang mesti pak shodiq hadapi. memang repot kalau skripsi sdh hampir klar ternyata harus ganti dosen pembimbing. tapi gpp, pak, malah dapat tambahan wawasan baru dari pembimbing yang baru. semoga cepet klar dan lulus dg prestasi yang bagus, pak.

  5. Bapak, seandainya saya disuruh milih, saya maunya cepet lulus dan pinter juga. Hehehe… :) Jaman saya kuliah dulu, saya agak terbentur dengan biaya. Orangtua saya hanya PNS yang bisa dibilang “hanya sejahtera”, gak ada uang lebih². Jadi mau tidak mau, saya berusaha lulus cepat, tapi alhamdulillah IPK saya juga bagus.
    Btw, terimaksih ya bapak, sudah sudi berkunjung ke blog saya… Salam…


    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Sama-sama, Mbak Wahyu.
    Ya, idealnya begitu. Kita sesuaikan diri dengan keadaan.

Sampaikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s