SBY & Partai Demokrat menipu rakyat?

Posted on Updated on

Sudah baca “Parpol Yang Gagal/Sukses Kampanye 2009 menurut Survei“? Kalau sudah, penasaran nggak? Aku sih penasaran ama salah satu hasilnya, yaitu “kesuksesan” kampanye Partai Demokrat (PD). Aku penasaran mengapa PD sesukses itu. Apakah kita para rakyat ini sudah cerdas dalam menyerap informasi secara akurat dari kampanye PD dengan SBY sebagai tokohnya? Ataukah ada banyak diantara kita yang terkecoh oleh “kecerdikan” SBY & PD dalam berkampanye?

Dalam laporan survei tersebut, salah satu kesimpulan dari LSI adalah: “Program-program populer pemerintah sulit dibantah oleh para pemilih umumnya: Penurunan 3 kali BBM, BLT, PNPM Mandiri, KUR, BOS, dan jaminan kesehatan.” Pertanyaan kita: Mengapa program-program populer seperti itu sulit dibantah oleh para pemilih pada umumnya?

Salah satu penyebabnya barangkali adalah bahwa “prestasi” SBY seperti itu terlihat gamblang, sedangkan “kegagalan”-nya kurang terlihat. Dibutuhkan analisis yang mendalam untuk mengenali berbagai “kegagalan” SBY selaku presiden selama ini. Hanya orang-orang tertentu yang mampu mengakses dan mengolah data-data yang menunjukkan kebelumberhasilan SBY selaku presiden. Tidak banyak orang yang mengetahui dan memahami informasi-informasi seperti yang berikut ini.

1) Utang pemerintah SBY membengkak demi membiayai program-program penarik simpati masyarakat. Nusantara News memberitakan:

Menjelang Pemilu, jumlah utang Indonesia memiliki trend naik. Anggaran negara akan naik secara signifikan disertai defisit yang besar. Anggaran besar umumnya untuk program-program menarik simpati masyarakat seperti peningkatan anggaran sosial dan kesehatan menjelang pemilu, BLT, dan sejenisnya.

Meskipun utang luar negeri tidak mengalami kenaikan signifikan, namun utang dalam negeri bertambah signifikan. Selama Indonesia merdeka, baru di pemerintah SBY utang dalam negeri naik 50% dalam jangka waktu 4 tahun (600-an triliun menjadi 900-an triliun)

Siapakah yang akan membayar utang tersebut?? : Generasi Mendatang dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang ketika Pak SBY telah tidak menjabat sebagai Presiden! Hal ini tidak jauh berbeda dengan era Soeharto yang meninggalkan segudang utang luar negeri, namun di era SBY, beliau meninggalkan utang dalam negeri yang fantastis. Dalam waktu 5-10 mendatang, setidak-tidaknya pemerintahan di tahun 2014-2024 akan menganggarkan puluhan triliun dana APBN tiap tahunnya untuk menutup utang + bunga yang dilakukan pemerintah SBY selama 2004-2009 ini.

2) Walau harga BBM diturunkan tiga kali, harga BBM pada tahun 2009 masih jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan 2004, padahal kenaikan harga minyak dunia tidak begitu tinggi. Nusantara News memberitakan:

Data Harga Bahan Bakar Minyak 2004 vs 2009 (Naik)

Harga 2004 2009 Catatan
Minyak Mentah Dunia / barel ~ USD 40 ~ USD 45 Harga hampir sama
Premium Rp 1810 Rp 4500 Naik 249%
Minyak Solar Rp 1890 Rp 4500 Naik 238%
Minyak Tanah Rp 700 Rp 2500 Naik 370%

.
3) Nilai matauang rupiah terhadap US dollar melemah, justruk ketika nilai matauang Malaysia, Singapura, Thailand, dan Philipina menguat. Nusantara News memberitakan:

Dolar terhadap ASEAN 2004 2009 Kondisi
Dolar US / Rupiah Ind 9,078 11,125 Melemah 23%
Dolar US / Ringgit Mal 3.8 3.5 Menguat 8%
Dolar US / Dolar Sing 1.7 1.4 Menguat 14%
Dolar US / Peso Fil. 56.4 47.5 Menguat 16%
Dolar US / Baht Thai 41.1 34.9 Menguat 15%

.
Itulah tiga contoh catatan “kegagalan” pemerintahan SBY. Aku takkan menambah daftar tersebut. Sebab, inti postingan ini bukanlah untuk memaparkan “kegagalan” tersebut. Aku tidak menyatakan bahwa SBY & Partai Demokrat menipu rakyat. Aku hanya merasa khawatir kalau-kalau kita terkecoh oleh “kecerdikan” SBY & Partai Demokrat dalam berkampanye.

Karena itu, aku mengharap kepada masyarakat pada umumnya, dan media massa pada khususnya, supaya juga memperhatikan data-data “kegagalan” pemerintahan SBY, disamping memperhatikan “prestasi”-nya. Setuju, ‘nggak?

About these ads

94 thoughts on “SBY & Partai Demokrat menipu rakyat?

    faradi said:
    1 Juli 2009 pukul 20:30

    Sungguh… makin lama mata saya makin terbuka… Duh…ngeri….
    Syukur sampai sekarang saya tidak ikut partai politik apapun.. ngeri sekali jika`jadi bagian dari penipu bangsa sendiri.
    Mari kita berdoa agar kita diberi pemimpin yang amanah.
    Semoga Allah SWT mengampuni orang yang salah pilih karena ketidaktahuannya dan menghukum orang yang sengaja tetap memilih orang yang tidak amanah. Amin.

    hasyim anthoni said:
    3 Juli 2009 pukul 19:40

    ehm..
    Dilihat dari data yang anda paparkan memang terlihat SBY-JK mempunyai reputasi tidak bagus

    Tapi apakah ada solusi lain yang bisa SBY lakukan untuk menghindari kesalahan itu

    Mohon kalau memang ada solusinya, bisa di jelaskan kesini

    bagoes wahyu panca said:
    17 Juli 2009 pukul 21:56

    sby adalah sosok seorang pemimpin yg sangat berwibawa.cocoklah saat ini menjadi pemimpin bangsa ini lagi.beliau seorang yg rendah hati.tidak tergesah gesah.intelektual,santun,benar aja Allah memberikan yg terbaik untuk bangsa dan rakyatnya indonesia….gimana lawan2nya?hehehehehe tidak legowo dan suka menyindir…pantaslah tidak di jadka pemimpin di bumi indonesia ini……amiiiin

    Irawan Danuningrat said:
    22 Juli 2009 pukul 05:23

    Saya memang bukan siapa-siapa bahkan termasuk orang awam dalam masalah perekonomian nasional, maka dari itu saya sangat sependapat dengan pernyataan bahwa: “…..dibutuhkan analisis yang mendalam untuk mengenali berbagai “kegagalan” SBY selaku presiden selama ini”, karena hanya para politisi dan para pakar/akademisi profesional-lah yg layak menilai gagal tidaknya sebuah kebijakan.

    Namun sejauh yg saya pelajari, ada beberapa hal yg ingin saya komentari dari postingan ini a.l. :

    1. MENINGKATNYA UTANG suatu negara TIDAK IDENTIK dengan KEGAGALAN. Utang umumnya merupakan salah satu opsi yg dapat diambil dalam rangka menjaga atau bahkan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tidak ada satupun negara di dunia yg tidak berhutang. Brazil adalah negara penghutang terbesar di dunia di era tahun 80-an. Dengan hutang tsb Brazil meningkatkan infrastruktur, industri berat dan agrikulturnya sehingga mulai thn 90-an Brazil menjadi negara maju dan kekuatan ekonomi di Amerika latin. (Mengekspor tenaga listrik ke Paraguay, produsen pesawat komersial maupun pesawat militer, tank, kendaraan umum, elektronik, produks pertanian dll. Intinya, HUTANG sama sekali bukan indikator KEGAGALAN.

    2. Adanya perbedaan harga BBM antara BBM saat masih disubsidi dengan BBM yg TIDAK LAGI DISUBSIDI adalah suatu hal yg sangat wajar dan sudah semestinya terjadi sesuai perbedaan harga dasar dan besaran subsidi yg dicabutnya. Maka dari itu, perbedaan tsb tidak/belum tentu merupakan indikator kegagalan.

    3. Penurunan nilai tukar mata uang, juga belum tentu merupakan kegagalan kebijakan pemerintah. Penguatan nilai tukar Baht (Thailand) yg begitu menyolok terhadap Dollar dan mata uang negara lainnya, justru dinilai oleh para pelaku ekonomi Thailand sebagai KEGAGALAN Pemerintah Thai dalam menstabilkan mata uangnya yg mengakibatkan anjloknya ekspor dan daya saing produk-produk Thai di pasar internasional.

    Sekali lagi, saya bukan seorang politisi atau pengamat ekonomi, namun menurut hemat saya, ketiga fakta dan data yg dikemukakan dlm artikel diatas, kurang relevan untuk dikatakan sebagai KEGAGALAN.

    Peningkatan hutang, adakalanya justru merupakan indikator dari semakin tingginya kepercayaan kreditor thdp negara tsb, sekaligus meningkatnya peluang dan potensi ekonomi suatu negara.

      tazlucu said:
      22 November 2009 pukul 13:55

      Ngawur benar deduksi mas irawan, hutang itu seharusnya tidak boleh bertambah. Kalau bertambah berarti ada keasalahan dalam manajemen keuangan. Intinya orang berhutang (seperti mas irawan berhutang) pasti dengan memperkirakan bahwa dengan hutang ini saya dapat menghasilkan barang/jasa yang akan dijual (bukan hutang konsumsi lho). Jadi dengan uang dari hasil penjualan tsb. saya dapat mencicil hutang dan akhirnya dapat melunasi hutang tersebut.
      Kalau terjadi penambahan hutang berarti ada yang salah dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Inilah yang disebut kegagalan.
      Coba tanya diri sendiri: kalau hutang irawan bertambah, apakah ini sinyal irawan gagal mengelola? Kalau tidak apa seharusnya?

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s