Contoh pacaran islami ala orang awam
Keberadaan pacaran islami bukan hanya dalam teori. Prakteknya ada. Pelakunya juga tidak harus orang-orang “khosh” seperti ulama NU atau pun tokoh Muhammadiyah. Orang awam pun dapat menjalankannya. Ini dia contohnya, sebagaimana tergambar dalam curhat seorang pembaca situs ini:
Asslm,
Pacaran Islami? saya tidak yakin benar apakah yg saya lakukan ini bisa dikatakan pacaran islami atau bukan. therefore, saya minta pendapat siapa ja deh (terutama Pak Shodiq, y!)saya tidak pernah bilang,”Maukah kau menjadi pacarku?” Namun, seiring berjalannya waktu, kami pun dekat. Kedekatan kami tidak secara dzahir, tapi kami lebih senang dengan kedekatan ‘hati’. bahkan, dalam sehari-hari kami bisa dikatakan saling jauh (dan tak ada 1 temanpun yang tahu hubungan yang kami jalani-kecuali Ummi&Abinya-&tak ada yang mengira bahwa kami sudah berkomitmen untuk menikah di umur 25). komunikasi kami tidak seperti ‘remaja yang sedang jatuh cinta’ pd umumnya. kami lebih senang berkomunikasi melalui sms dibandingkan mengobrol berduaan secara langsung.Sebab, kami berdua sependapat bahwa,setiap kali kami berdekatan secara dzahir/langsung/duduk berdampingan,maka masalah pun mendekat.Kami berkesimpulan,”Begitulah jika kita berdekatan yang tersekat oleh tembok aturan muhrim(artinya,kami berdua sadar, bahwa berdekatan tiu salah),jadi agar semuanya nyaman,bukan menghancurkan temboknya tapi kami harus berada di sisi yang sama, yakni menjadi muhrim(menikah,red).Entah kenapa, dalam banyak hal kami sepaham (jd,tdk hanya sehati),paham dia tentang pacaran sama dengan paham saya,tidak ada kontak fisik sama sekali,tidak jalan berduaan,tidak ada mengobrol berduaan(meskipun di tempat umum),berdo’a pd-Nya dikala kerinduan memuncak agar kerinduan kami berlabuh dalam ikatan yang suci&seharusnya serta dlm ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
Saya berkomitmen untuk menjadikannya istri,pun dia.Kami berdua sudah melakukan istikharah dan ketika saya bertanya,”Apakah kau yakin mau menerimaku?”dia menjawab,”Jika sdh diikuti campur tangan-Nya, masih bolehkah aku meragukan hati ini..?”
Walaupun merasa ingin mengungkapkan perasaan, kami lebih senang mengatakan,”Ana uhibbuka fillah…” terkadang klmt,”I Love U…”(Jarang km gunakan).Nah,apa yg km lkukn ini tidak melanggar aturan Islam? Benarkah ini yang dinamakan aplikasi dari teori ‘pacaran Islami’?
Syukran…
kata guru mengaji saya, Islam TIDAK mengenal pacaran mas, yang ada itu Taaruf, kenal sebentar dan nikah
Rindu
24 April 2009
@ Rindu
Mungkin guru mengajimu belum memahami atau belum mau menerima keberadaan kaidah ushul fiqih bahwa dalam muamalah (termasuk pacaran), semuanya itu boleh, kecuali ada larangannya secara qath’i. Pada kenyataannya, tidak ada dalil qath’i yang melarang pacaran. Jadi, pernyataan yang benar adalah bahwa TIDAK ADA LARANGAN pacaran dalam Islam, asalkan tidak melanggar larangan (mendekati zina, dsb).
M Shodiq Mustika
24 April 2009
yang dimaksud melanggar larangan itu apa saja sich mas?
dan batasan nya apa saja?
terimakasih:)
rany zahara
27 April 2009
@ rany zahara
Yang jelas, kita dilarang untuk mendekati zina. Untuk batas-batasnya, lihat “Pengertian Zina-Hati dan Mendekati-Zina Lainnya“.
M Shodiq Mustika
27 April 2009
ya banyak batasan2nya misal sms-an mesra…yg memancing nafsu birahi keduanya naik…..serta menimbulkan ….daya rangsangan biologis keduanya ….
ketemu fisik ….jalan bareng misalnya tuh di antara gambaran mendekati zina
dan masih banyak lagi tentunya ;….silahkan ..cari2 sendiri ….
jadi intinya …ketemunya dua insan yg berlainan jenis baik di tempat umum ataupun
di mananpun berada jika dalam keadaan selalu berdua berarti sudah mendekati zina
untuk itu jelas agama melarang.sekedar sharring .
donat aja
3 Mei 2009
memang tidak ada dalilnya, tapi pacaran termasuk hal yang sia2 dilakukan. dan islam mengecam ummatnya yang mengerjakan kesia-siaan. bukankah agenda islam sangat banyak?
daripada membahas pacaran islami, lebih baik kita berfikir untuk mengislamkan saudara2 kita yang sudah islam. karena musuh2 islam diluar sana akan terus menggempur moral kita sampai kita semua berkelakuan seperti orang2 kafir.
jadi, menurut saya mas jangan menghabiskan energi terlalu besar untuk membahas hal yang seperti ini.
moral umat islam telah terdegradasi dan itu kewajiban kita untuk memperbaikinya.
wallahu a’lam!
Yandy
24 Desember 2009
rindu, kita ta’aruf yuk…
terus nikah, mau kah kau menerimaku?…
Alex
26 April 2009
To Rindu:
Gejolak hati ini laksana laut tiada bertepi
Cintaku padamu seumpama kedalamannya
Setiap kali cinta ini kuberikan kepadamu
Maka semakin bertambahlah rasa yang kumiliki
Laut tiada bertepi, cintaku tiada terperi
Kalau engkau bukan untukku
Maka engkau takkan hadir dalam hidupku
Sugiono
26 April 2009
boleh kenalan gak ama kamu yang namanya rindu pake jilbab hitam. kamu kuliah or udah kerja. bls
reza
3 Mei 2009
leh kenalan ga nih!low ga juga ga apa-apa
rahmat
7 Mei 2009
Sebagai seorang ikhwan saya tidak memunafikan ketertarikan terhadap lawan jenis,dan saya tau di islam juga tidak mengenal kata pacaran walaupun ada itu pun ta’aruf…tapi permasalahanya yang saya lihat sendiri Akhwt dan ikhwan berjalan berdua-duaan sperti layaknya suami istri padahal mereka belum terikat dalm suatu hubngan yang resmi….bagaimana ukhti menilainya?
Fadhil
27 Mei 2009
@ Fadhil
Yang dinilai adalah amalnya, bukan istilahnya. (Untuk pranikah, sesungguhnya Islam tidak mengajarkan ta’aruf, tetapi tanazhur.) Berduaan yang dilarang adalah yang tidak terawasi. Bila terawasi, boleh berduaan. Supaya terawasi, tentunya pasangan tersebut perlu menjaga image supaya tidak disangka sebagai suami-istri.
M Shodiq Mustika
27 Mei 2009
Saya setuju apa yang dikatakan rindu, yang ada bukan pacaran tetapi pengenalan. Karena makna dari kedua kata ini sangat jauh perbedaannya. Karena pacaran adalah bahasa pembiasan sehingga tidak jelas maknanya, hampir sama dengan kata jinah, saat ini dikemas menjadi kata selingkuh dan orang tidak tabu untuk membicarakannya.
JS
24 April 2009
@ JS
Kami menghargai perbedaan pendapat, tetapi kami mengharap pendapat-pendapat itu didasarkan pada landasan yang sekuat-kuatnya.
Banyak orang berpendapat berdasarkan prasangka buruk.
Mereka mengira bahwa pacaran itu identik dengan mendekati zina. Tetapi ketika dimintai bukti obyektif, mereka tidak mampu menunjukkannya. Bukti obyektif justru menunjukkan bahwa pacaran tidaklah identik dengan mendekati zina. (Lihat “PR untuk penentang pacaran islami“.)
Mereka menyangka bahwa pacaran mengandung bias/konotasi buruk. Namun bukti obyektif menunjukkan bahwa bagi mayoritas pembaca blogku, pacaran justru berkonotasi baik. (Lihat “Istilah Favorit untuk Aktivitas Persiapan Menikah“.)
M Shodiq Mustika
24 April 2009
gini yaaa… @rindu dan @js…
kalau pacaran tpi pengertian mereka tntang pacaran itu beda sama kita yaaa ngga pa2…
misalnya pacaran menurut mereka itu adalah pacaran yang kalau menurut kita itu cuma teman…
misalnya :
“ah masa kaya gitu pacaran,, itu mah temanan namanya.” githu lo…
Baron
25 April 2009
Rindu, kita ta’aruf yuk, terus nikah…
Mau kan…
Alex
26 April 2009
mas saya lgi ada hati ama cewek yang taat agama.gimana caa ngambil hatinya?apa yg harus saya lakukan?ari itu dah saya kirimin puisi.mohon sarannya ya mas
imamteguh
27 April 2009
@ imamteguh
Silakan ambil pelajaran dari http://shodiq.com/2007/05/08/konsultasi-cara-pdkt-ama-akhwat-aktivis/
M Shodiq Mustika
27 April 2009
[...] (Untuk berkomentar, silakan klik di sini.) [...]
Contoh pacaran islami ala orang awam « Pacaran Islami
28 April 2009
KLO GA PCRN, TRUZ GMANA CR NYARI CLN PENDAMPING HDP QTA?
LEYDIA
28 April 2009
Hidup Rindu……!!!
one
28 April 2009
@ one
Hidup one!
*Masih musim kampanye, ya?*
M Shodiq Mustika
28 April 2009
Wah…saya dulu sering bolos ngaji..jadi kalau memberikan pandangan dari sisi agama mesti berhati-hati.
Lain lagi kalau dari sisi ekonomi, terlalu lama berpacaran menurut saya sangat merugikan… tak terhitung biaya pulsa kita yang keluarkan,ongkos bensin, dan sederet biaya tak terduga lainnya.Untung kalau si Dia jadi nikah sama kita..lha giliran kita mau nglamar …eh malah diduluin orang, si wanita mau lagi…puyeng deh!!!
Saya berusaha menawarkan kombinasi “usulan” Pak Shodiq dan mbak Rindu, pacaran intensifnya setelah resmi”nikah’ saja, tapi sebelumnya perlu kenal-kenal juga. Dengan batasan-batasan yang sudah ditentukan syar’i tentunya (agar tidak dekat-dekat dengan perbuatan zina). Pokoknya…. jangan lama-lama…rugi sampeyan!!!!
mahfudz
28 April 2009
@ mahfudz
0) Jalan tengahnya menarik, patut dipertimbangkan.
1) Aku sependapat bahwa kita perlu berhati-hati dalam berbicara mengenai hukum Islam. Sesuai dengan kaidah dari ushul fiqih, semua muamalah (termasuk pacaran) itu halal, kecuali ada larangannya secara qath’i. Berhubung tidak ada larangan pacaran secara qath’i, aku takkan gegabah mengharamkannya.
2) Makna asli pacaran adalah persiapan nikah. Kalau ada pacaran setelah nikah, maka pacarannya itu palsu.
3) Segala amal baik kita di bidang apa pun, termasuk dalam pacaran yang islami, takkan sia-sia. Bila di dunia ini kita belum mendapat ganjarannya, di akhirat kelaklah kita mendapatkan pahalanya.
M Shodiq Mustika
29 April 2009
mas minta saran yah pada tulisan curhatku di http://muhammadsurya.wordpress.com/2009/04/19/sebuah-konsep-hubungan-pra-nikah/
di sana ku tulis keadaanku sekarang, hasil perenunganku selama kurang lebih sebulan, perasaan suka sama si dia, dan gejolah hati setelah sholat istiharoh. tetapi aku sudah menyatakan pada dia dan kami akhirnya hanya jadi teman untuk sementara ini.
muhammadsurya
1 Mei 2009
assalamu’alikum rindu namaku reza, aku lagi mencari pendamping hidup kira2 kamu mau gak kalo aku melamarmu. kita ta,aruf trus kita menikah.
reza
3 Mei 2009
ass……. salam kenal dari aq.tu sangt bagus bget.
yaya
18 Mei 2009
duh….ihkwa2 yg mo ama rindu,,,,memang kalian dah bener2 siap nich…?
cari istri sholeha di alam maya,,,,,ga takut kecewa…..?
kalau mo cari yg baik dan sholeha,,,,apakah kalian adalah yg terbaik dari yg baik…?
rahma
26 Agustus 2009
bagus bgt! tp apakah sms itu juga hampir sma dg zina klo mangglny pkek nma ya g seharusny?
faizah
5 September 2009
jagalah hati,cuma pesan
erly
22 Desember 2009
jagalah hati,cuma pesan,n tetaplah LILLAH BILLAH
erly
22 Desember 2009
ya..mungkin itu yang dinamakan pacaran dlm islam.Q ingin sprti itu..tpi lihat dlm kenyataan nya saya sulit mempraktekan nya..Tapi saya slalu berharap setiap kali saya menjalin hubungan smoga allah slalu meridhoi…dan insya allah sya slalu ingat pd NYA di kala saya dgn pasangan saya..
novi
23 Desember 2009
Pacaran Islami, menurut saya hanya ada setelah menikah.
lebih baik kita jangan terlalu “pede” denga ridho Allah, Mencintai makhluk karena Allah mengandung arti Allah yang diprioritaskan dalam segala hal. Silakan bandingkan antara kedekatan hati kita dengan “si dia” dengan kedekatan hati kita dengan Allah.
Berapa kali kita shalat khusyu’? berapa kali bayangan dia muncul ketika shalat?
jangan menyibukkan diri dengan sesuatu yang justru akan berdampak kepada ketaqwaan. bukankah dalam islam hanya ada proses ta’aruf bukan pacaran?
kemudian kita mencari-cari alasan sistem jahiliyah yang diakulturasikan ke dalam sistem islam? apakah sistem islam sudah kuno dan tidak relevan lagi?
tidak, islam dan ajarannya murni dan tidak ada keraguan padanya.
semoga kita termasuk hamba2-Nya yang bertaqwa.
Yandy
24 Desember 2009
asalamualaikum…..wr,wb
ana setuju dengan apa yang ente katakan…lanjutkan
fahim
27 Desember 2009