Curhat Istri: Suamiku Kurang Menghargaiku

Posted on Updated on

Saya ucapkan selamat atas situs Anda ini dengan segala informasi dan layanan yang Anda sajikan untuk pengunjung-pengunjung Anda. Saya ingin berkonsultasi kepada Anda terkait dengan hubungan saya dengan suami saya. Saya berusia 38 tahun. Saya menikah dalam usia 19 tahun selepas SMA dan tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, sementara suami saya [kini] berusia 52 tahun dan mengantongi ijazah diploma ahli madya.

Masalah saya, tepatnya perasaan saya akan adanya masalah, baru muncul beberapa tahun terakhir, yaitu ketidakpuasan saya pada setiap keputusannya dan model interaksinya dengan saya dan anak-anak, kekerasan kepalanya dan kesendiriannya dalam mengambil keputusan, serta kritikan terus-menerusnya kepada saya. Dia tidak mempercayai kemampuan saya dalam berpikir atau berhubungan dengan orang lain. Dia mengatakan bahwa saya minim pengalaman dan naif. Katanya lagi, saya tidak tahu cara menyikapi berbagai kasus. Bahkan penampilan saya pun tidak lagi menarik baginya.

Benar bahwa ini bukan masalah baru. Pada awal-awal kehidupan rumah tangga kami, saya selalu menerima semua itu dengan lapang dada. Namun akumulasi masalah yang saya tahan bertahun-tahun akhirnya mulai muncul juga. Saya merasa usia saya sudah 60 tahun, dan saya merasa tidak cakap lagi dalam segala urusan kehidupan. Namun akal saya berbicara: “Tidak! Saya koki yang mahir! Saya ibu telada yang mendidik anak-anak dengan nilai-nilai luhur! Saya adalah istri yang setia!”

Saya mohon saran dan nasihat Anda bagaimana membangun keseimbangan psikologis yang bisa melindungi saya dari instabilitas dan kegugupan. Bagaimana menyeimbangkan antara kecenderungan-kecenderungannya dengan kecenderungan-kecenderungan saya? Dia ingin menampilkan diri sebagai seorang sahabat ideal dan mulia, begitu juga [sebagai] saudara yang menjadi sandaran [bagi] saudara-saudaranya. Saya merasa bahwa semua ini mengorbankan saya. Di sini saya tidak bermaksud mencelanya, tetapi saya ingin berdamai dengan diri saya. Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih banyak./blockquote>

Jawaban Konsultan Ahli: Ustadzah Samar ‘Abduh:

Saudari yang terhormat, saya bisa merasakan tingkat kegundahan dan kesedihan Anda. Anda tidak sendirian. banyak wanita maupun pria yang mengalami masalah mirip Anda dan terantuk kenyataan pahit setelah sekian lama usia perkawinan mereka bahwa mereka tidak dapat melanjutkan kehidupan rumah tangga mereka. Tiba-tiba saja dan tanpa sebab, mereka merasakan bahwa sumber-sumber kontribusi, cinta, dan kesabaran dalam diri mereka telah mengering dan habis.

Di antara mereka ada yang ekstrem mengatasi masalah ini dan mengakihri kehidupan rumahtangganya dengan perceraian tanpa mempedulikan nasib dan masa depan anak-anak mereka, dengan keyakinan kuat bahwa ini adalah solusi. Ada juga yang hidup di atas sehelai rambut yang bisa putus sewaktu-waktu; dan ada pula yang rela menerima kehidupan yang lebih dekat dengan kematian ini.

Sesungguhnya masalah ini memiliki beragam faktor penyebab, bahkan faktor-faktor penyebabnya saling berkelindan dan tumpang tindih. Jadi, masalah Anda dengan suami Anda disebabkan antara lain oleh:

  1. Selisih usia yang relatif besar antara Anda dan suami Anda. Pernikahan Anda dalam usia yang relatif muda (19 tahun) membuat Anda memperlakukannya sebagai orang yang lebih tahu daripada Anda dan lebih berpengalaman dalam hidup, sehingga dalam benak Anda terbentuk persepsi bahwa apa yang diucapkannya semuanya benar, meski mengandung celaan, sementara semua kekeliruan disebabkan oleh Anda lantaran keminiman pengalaman Anda. Hal itu lama-kelamaan membentuk beban dan tekanan tersendiri bagi Anda yang semula Anda duga akan berakhir dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu.
  2. Persepsi dan paradigma salah kaprah yang sayangnya sudah terlanjur menyebar luas bahwa istri musti sabar menghadapi suaminya meskipun dia (sang suami) yang bersalah dan istri pantang mengoreksi suami. Bahkan hal ini dianggap sebagai indikator konsistensi keberagamaan dan kebaikan akhlak si istri. Tidak perlu diragukan lagi bahwa itu merupakan persepsi yang keliru. Terbawa oleh arus kesalahkaprahan paradigma itu, Anda pun menguras seluruh energi Anda untuk bersabar menghadapi suami Anda tanpa berusaha sama sekali utnuk mengoreksinya atau mendebatnya. Dia pun tidak merasa bersalah apa-apa lantaran Anda selama ini tidak mengadu (berunjuk rasa), sehingga tidak mungkin dia menjadi lebih baik. Akan tetapi, jauh di lubuuk hati Anda, Anda ternyata tidak bisa melupakan atau mengampuni apa yang diperbuat suami Anda selama ini hingga akhrinya Anda seperti gunung berapi aktif yang siap meletus.
  3. Standar ganda yang lazim digunakan oleh sebagian besar orang, sebagaimana yang Anda paparkan bahwa suami Anda berakhlaq mulia, teman terideal, dna saudara terindeal, yang dipandang baik dalam berinteraksi dengan manusia di luar lingkup keluarga dan rumahnya, padahal, menurut Anda dia biasa-biasa saja, bahkan sebaliknya. Sebab Anda merasa bahwa semua kebaikan formal yang dilakukannya tidak berpihak pada (atau mengorbankan) Anda dan anak-anak.
  4. Seiring dengan semakin besarnya usia anak-anak dan minimnya tanggung jawab, maka timbunan masalah yang selama ini terpendam pun muncul ke permukaan dan semakin terlihat jelas. Disamping itu, seiring dengan bertambahnya usia Anda dan usia suami Anda, kemampuan Anda untuk bersabar rupanya mulai berkurang. Anda pun merasa bahwa usia terus berlalu, namun tak Anda rasakan sejak awal, padahal seluruh perasaan dan energi Anda sudah terkuras habis dan Anda tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membahagiakan diri Anda Anda atau untuk membuatnya ridha.

Saudari, Anda pintar sekali memilih kata-kata ketika mengatakan, ‘Saya ingin berdamai dengan diri saya,” sebab Anda memang perlu melakukan rekonsiliasi damai dengan diri Anda. Anda bisa memulainya dengan memberikan kepercayaan pada diri Anda, sebab istri seperti Anda yang telah bersabar sepanjang umur dan mendidik anak-anak dengan baik, tentu tidak akan kesulitan menata ulang kertas-kertasnya dan merekonstruksi diri dan rumah tangganya agar bisa hidup dan berjalan dengan cara yang membahagiakannya dan membahagiakan orang-prang di sekitarnya. Lagipula Anda masih relatif muda dan Anda masih mampu melakukan hal yang lebih banyak lagi.

Berikut ini kami sampaikan saran-saran terbaik, untuk Anda:

  1. Mulailah pendekatan baru bersama suami Anda dalam mengelola kehidupan rumahtangga Anda berdua. Jangan bersabar lagi mentolerir kesalahan, namun jangan emosi, karena hal itu bisa menghancurkan rumahtangga Anda. Lakukan diskusi dengan kepala dingin yang berlandaskan cinta dan pengertian. Pendekatan ini pada awalnya mungkin akan mendapat tentangan (penolakan), bahkan cemoohan dari suami Anda, sebab dia terbiasa dengan pendekatan ini selama perkawinan Anda berdua. Akan tetapi, dengan kegigihan dan keinginan kuat untuk menguapkan konflik, maka lama-kelamaan dia pasti meresponsnya.
  2. Jika Anda lihat suami Anda berkelakuan baik dengan orang-orang di luar rumah, maka pujilah kelakuan dan keluhuran budinya, sebab dengan memujinya, Anda berarti tengah mengisi hatinya dan memalingkan pandangannya bahwa dia juga harus seperti itu di rumahnya.
  3. Keluarlah sedikit dari lingkar keluarga untuk bekerja di lingkar aktivitas lainnya yang memberi Anda pengalaman dalam hidup dan menyibukkan diri dengan aktivitas yang beragam, misalnya aktif di yayasan-yayasan sosial, dengan syarat tanpa mengabaikan kewajiban di rumah Anda.
  4. Terakhir, ingin saya bisikkan ke telinga Anda: “Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Sebagaimana suami Anda yang memiliki cela kekurangan, Anda pun tidak diragukan lagi juga memiliki cela kekurangan serupa yang menggerogoti kehidupannya. Akan tetapi, dengan karakter dasarnya, manusia memandang bahwa cela-cela kekurangannya merupakan kekurangan yang bisa ditolerir, sementara kekurangan orang lain tidak bisa ditolerir. Karena itu, sedikit lapang dada dan toleransi menjadi tuntutan tersediri agar Allah berkenan memaafkan kita sebagaimana kita mau memaafkan manusia.”
  5. Mintalah tolong kepada Allah, sebab Anda membutuhkan pertolongan-Nya. Bersabarlah sampai Anda mampu mengubah gaya hidup Anda hingga Anda bisa ridha dengan diri Anda.

——
Sumber: Sahar Muhammad Thal’at, dkk, Curhat Istri untuk Suami (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm. 232-241

About these ads

31 thoughts on “Curhat Istri: Suamiku Kurang Menghargaiku

    Umarhusein said:
    27 Juni 2009 pukul 23:21

    Koq aku jadi pengen lebih nyambung dengan ibu, tolong deh alamat emailmu…

    syukron ya….

      putra said:
      30 Juli 2009 pukul 13:06

      aq bisa bntu amu??????????

    Syaiful Haq said:
    9 Juli 2009 pukul 14:59

    16:53. Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.

    Nukilan dari Surah An Nahl… Ibu, perbanyak sholat malam. Berbakti kepada suami dan mendapat ridhonya juga salah satu jalan masuk surga.

    Renungi saran yang telah ada di atas. Rubah pendekatan, perbanyak zikir, dan mintalah pertolongan Alla SWT dengan sholat.

    fathur said:
    14 Juli 2009 pukul 00:17

    Yang sabar ya bu..,
    byk2 sholat., n mmhn kdp ALLAH SWT.
    saya cm bs bantu do’a..,
    smga rmh tangga ibu baik2 saja.
    Amien….

    desy said:
    1 November 2009 pukul 20:44

    assalamualaikum, ustadz kenapa saya kurang percaya kepada suami saya.semenjak dulu ayah pernah bohong sama ibu.saya nilai semua pria nyakiin wanita.dan pandangan suami terhadap wanita lain tidak pernah tunduk selalu wanita d lihat dan dia suka nonto photo wanita porno

      endiyanti said:
      10 Januari 2010 pukul 14:58

      kebiasaan seperti itu sudah menjamur hal itupun yang terjadi pada diri saya apa hal ini bisa dibiarkan saja untuk dinikmati

    endiyanti said:
    10 Januari 2010 pukul 14:51

    Wanita mana yang tahan menjalani hidup yang terus menerus tertekan tidak dihargai, tidak pernah dipercaya, tidak pernah diperhatikan . Saya ini merasa saya diangap hanya sebagai pembantu yang selalu harus siap melayani kebutuhannya mengurus rumah tanga dan anak2 serta kebutuhan rumah tangga lainnya bahkan akhir ini saya sudah sangat jarang mendapatkan kebutuhan biologis kami berjalan dengan sendiri2 kami satu rumah tapi kami seperti orang asing

    purnama said:
    13 Februari 2010 pukul 11:53

    saya seorang istri yang sudah mempunyai putri saya sangat sedih suami saya selalu menghina saya dan tidak perna merasa puas karna saya tidak canti dan badan saya tidak sempurna seperti wanita lain saya sanget sedih karena suami saya tidak sayang sama saya,dan suami saya minta izin mau nikah lagi saya tidak mau kalau suami saya mau nikah lagi saya harus cerein saya tapi suami saya tidak mau karna dia tidak tega melihat saya selalu menangis dan selalu bertengkar saya bingung harus bagaiman

      Juan reinado said:
      4 Maret 2010 pukul 23:53

      Sebaiknya berikan ke suami jika tindakannya untuk menikah lg salah besar, dan dia akan menyesali hal itu di kemudian hari. coba mbak ajak dia berkomunikasi dengan mengajak suami mbak mengingat masa2 dulu sewaktu masih pacaran atau sewaktu baru menikah, tentu ada hal2 indah yang pernah mbak dan suami mbak alami.Mudah2an bermamfaat.jika tidak berhasi silahkan kirim curhatnya ke : juanreinado@yahoo.com

      emil said:
      5 November 2011 pukul 23:19

      Apa yg ibu alami persis spt yg sy alami bedanya klo ibu minta cerai klo suami poligami tp sy tdk mau bercerai krn sy kasihan sm anak sy yg msih berusia 2 thn meski suami sy ttp mau bercerai krn dy merasa sy penghalang buat dy bahagia dgn prempuan lain padahal sy sdh ijinkan dy poligami asal jgn bcerai meski dihati sy tdk mcintai dy lg krn terlalu sakit atas pbuatan dy slama ini thadap sy .skrg sy btahan krn anak sy krn sy tdk mau jk sy bercerai senanglah wilnya itu dan uang suami sy buat dy smua krn meskipun suami sy sk berlingkuh smua uangnya dikasih ke saya smpai skrg.skrg ini sy hya bth uangnya sj krn dihati sy sdh tdk ada cinta lagi.

        mide said:
        4 April 2012 pukul 20:43

        ya mbak yg sabar j emnk smua laki2 sprti to smua sama ama kisah q smua d ukur dgn materi mungkin dg dia menafkahi q smua bisa bahagia gak bkn ukuran materi yg q cri tp ketenanggan hati rmah tangga 9th melanda kejenuhan suami pemabuk lebh menghargai temn nx emnk dlm segi materi n biologis terpenuhi cmn sampai kpan q sabar menunggu suami plang dengan k adaan raut wajah senym bahagia smua cra ud q tempuh n lbh prah nx q d batasi kluar dgn saudara q sendri

    ningsih said:
    12 April 2010 pukul 21:34

    “APA SAYA KURANG BERUNTUNG DLM KELUARGA BARU?”
    umur saya 26 thn, suami 29 thn, anak 20 bln…sy ibu rumah tangga dl sy pernh kerja dan srh berhnti krn hamil, sy menikah tdak lma hbis lulus sarjana,suami saya pendidikan diploma dan smpe skrg blm lulus s1 nya..tp sdh bkrja.
    saya pengen curhat dengan masalah yng dah saya pendam 2 thn ini..sampe kdng sy sakit kepala klo mslh ini timbul lg stiap ada mslh dng suami..
    suami saya kurang begitu menghargai sy dan keluarga saya,padahal keluarga sy selalu memberikan membantu perekonomian keluarga baru saya yang dah hampir 3 thn saya bina..dari biaya pernikahn,persalinan,uang bulanan,untuk beli kebthan anak sypun jg dan sampai beli mobilpun dah bantu uang 1/2 harga mobil avanza akan tetapi suami g menghargai dan cuek dng keluarga sy…contoh hal kecil setiap maen n qt menginap kerumah ortu saya jarang mau bantu apa yng ortuku kerjakan..bangun siang dan kerjaannya cuma nntn tv dan tidur…sampe bikin sy naik darah..
    sampe skrg hidup kami masih ngontrak walaupun sy dah punya rmh sndiri plus t4 kos2an.
    suami g mau tinggal dirumah pemberian ortu saya karena dilarang ma ortunya(SUAMI)..yg g hbis pikir knpa semua itu g ada artinya…sampe tabungan untuk anak saya dah diisi ma ortu saya mpe 30 jt..
    ortu dari suami saya sedikitpun g kash apa2 dan g pernah bilng terimakasih ma ortuku..dr biya sy hamil,melahirkan,biaya anak saya..dulu cm sekali kasih baju 1 stel dan jarik n sampe cucunya umur 20 bulnpun tak ada kenangan pemberian beliau..padahal dr segi materi ada,tetapi kenapa mereka cuek..malh saya pikir agak smbong membagakan anaknya(SUAMI SAYA)dah sukses padahal apa yg dimilikinya itu tidak jauh dr bantuan ortu saya sendiri..
    dan mertua sy jarang banget hub saya maupun ortu saya, bisa dibilang 1 tahun cuma 2 kali contact sy klo ma ortuku mlh sm skli…
    apa yang harus saya lakukan biar semua ini menjadi baik buat keluarga baru saya kedepannya..
    dulu sampe saya pengen cerai karena dah g tahan lagi perlakuan dari suami sy dan keluarganya..
    dulu juga pernah ortunya pinjam uang ma suami saya tapi suamiku ga ada uang yang di butuhkannya…lalu suami saya menggadaikan rumah saya demi ortunya akan tetapi ortunya g bilang terimaksih n g berkata sepatahpun kpd sy padahal mereka tahu uang itu hasil dari gadai rumah pemberian ortu saya sendiri..
    sampe skrang jujur saya ga suka sama keluarga suami saya karena dari beberapa hal yg bwt saya membencinya.
    tolong kasih saya solusi untuk memecahkan masalah yang saya hadapi sampe skrng ini..apa yang harus aq lakukan untuk bersikap sama mertua saya..
    atas semuanya saya ucapkan terima kasih banyak..jujur saya dah menulis ini saja perasaan saya dah agak mendingan..
    TERIMA KASIH BANYAK

      zila said:
      8 April 2013 pukul 14:45

      mungkin mba ningsih memang perlu mempertimbangkan untuk jujur sama orangtua suami dan itu lebih baik dilakukan dihadapan suami, dalam hal ini mengalah terus juga ngga baik, biar orangtua suami juga tahu sopan santun dan balas budi, bagaimana kalau sampai (maaf) mereka meninggal masih ngga tahu diri? disinilah peran mbak. katakan dengan lugas dan lebih baik saat mereka sedang butuh bantuan mbak dan suami. Jangan takut, ikhlaskan hasilnya. Kalaupun memang itu membuat suami mbak menjauh dan solusinya (maaf) pisah, ya sudah. selesaikan baik2. . daripada dipendam terus. kalau mbak ningsih masih mau hidup dengan suami, sebaiknya berhentilah pakai harta orangtua mbak apapun itu termasuk tabungan. dengan begitu suami mba mungkin akan berpikir lebih keras untuk nafkahi keluarga. kalau mbak sdh siap, katakan pada suami apa yang mbak mau dari dia. suruh dia berterimakasih dan membantu pekerjaan orangtua mbak meski kalian dah ngga bergantung dari harta orangtua. jangan pernah merasa takut, selagi suami masih ada umur wajib diingatkan akan tanggungjawabnya. takutnya kayak pengalaman saudaraku, karena ayahnya bersikap seperti suami mbak, eh ga nyangka anak2nya ada 5 orang kelakuannya sama. ya itu karena ga ada yang tegas.

    Blues Bikers said:
    9 Januari 2011 pukul 00:41

    hai salam kenal semua…
    om admin titip yaa…

    http://bikersblues.wordpress.com/2011/01/08/titip-rindu-buat-ayah/

    makasih

    rara said:
    16 Maret 2011 pukul 09:27

    assalamualaikum ustad , sya rara saya seorang istri yg belum mempunyai anak , usia pernikahan sya dan suami sudah berjalan 4 tahun, sekarang suami sya sangat otoriter dan suka mempermalukan saya di depan orang lain, sangat berdiskusi , perbedaan usia saya dan suami 5 tahun, kami sama2 mempunyai profesi yg sama,, yg saya tanyakan akhir2 ini saya sering tidak puas dgn komitmen suami dan perlakusnny? skrg usia sya 29 tahun, saya seperti sudah bosan dengan pernikahan saya, apa yg terjadi dengan saya, saya sering bingung, dan bahkan malas tuk menangis

    Bella said:
    13 April 2011 pukul 16:22

    Saya bella usia saya 34 th dan suami saya umur 35 saya menikah sudah 5 th sudah di karuniai 2 anak perempuan, Suami saya anak tunggal. yang saya mau tanya suami yg baik itu kayak apa sih? dan apakah suami saya ini benar-benar sayang sama saya sampai akhir nanti? Selama saya hidup berumah tangga saya selalu kecewa ama suami saya dia sering menghina masakan saya, padahal saya berubah 180 derajat dulu nggak bisa masak sekarang lumayan sudah bisa masak. merasa masakan saya dah bisa dirasain malah eh malah sekarang sering beli di warung gimana perasaanku sekarang??? rasanya ingin menjerit2 keluargaku tetanggaku sering muji masakan saya dah enak tapi lum bisa memuaskan hati suami saya? itu yg pertama masalah saya, yg kedua masalah saya tentang masalah sex selama 5 th berumah tangga suami saya belum pernah minta berhub. dengan saya, yg selalu minta saya duluan sedangkan tidur biasa nggak berhub. itu pun enggan nyentuh saya atau meluk saya. apalagi dia punya kelainan yaitu ejakulasi dini baru aja hub nggak lama udah keluar saya belum pernah merasakan kepuasan dlm melakukan hub ini makanya saya berpedoman cukup punya 2 anak saja. saya trauma merasakan sakitnya melahirkan padahal saya paling berhub. cuma sekali atau dua kali dah hamil dihati saya nggak terima. Trus kalau saya ingatkan baru tidur disayang itupun umurnya cuman sehari besok dan seterusnya udah nggak lagi aku sering bertengkar mempermasalahkan hal tersebut eh dia malah mau pulangkan aku ke ibu saya dia ngomong begitu sudah 2 kali. tapi suami saya ini orangnya pendiam pinter sabar dan penyayang sebenarnya. apakah suami saya ini punya kelainan? dan saya sayang banget sama dia saya takut kehilangan suami saya. apa kah nasib rumah tangga saya kelak nggak berumur panjang? minta penjelasannya dari hukum islam karena saya muslim. terimah kasih sebelumnya Wasallam

      arunita said:
      28 Oktober 2013 pukul 11:23

      Sama mba bella,saya jg mengalami hal yg sama.Dan tipe suami saya jg bgtu. :(

    Elsa said:
    28 November 2011 pukul 06:52

    Mau curhat: sy seorang ibu rmh tangga pny 2 orang anak,sy menikah umur 19 thn suami sy 21 thn,pertama z menikah rmh tangga sy bk” aja tp stlh suami sy ojek dia suka mabuk,suka emosi n tdk pernah mngrt sy dia hny pentngkan drny sndr.emang kita berdua tdk pernah cocok dlm rmh tangga sllu brtngkr krn tdk adany saling pengrtn,suami sy jg suka menipu sy,apa yg dia lakukan tdk pernah jujur sm sy,z orangnx tdk suka bnyk bcr klw sdh d mrh sy hny bs mengs.umur sy skrng 23 thn suami 25 thn.z mnt pndpt anda.

    santi sanciven said:
    4 Januari 2012 pukul 10:50

    Mau curhat : saya dewi usia 30 tahun, suami 31 tahun, kita menikah udah 9 tahun, dikaruniai 1 org anak laki2 usia 4 tahun, pertama nikah udah enggak enak, keluarganya maupun dia sendiri, mereka gak perduli sama aq, kalo aq sakit ataupun lagi di berantemin sama suamiku, aq tinggal di kontrakan mertuaku, sampe aq bosen, kalo dulu aq sering berantem sama suamiku aq sering nangis dan sampe terdengar tetangga, tetapi skrg lain, aq malas ngomentarin kalo suamiku marah-marah, walaupun dia sering suruh aku pulang kerumah orangtua, itu aku lakuin bwt anakku, tp lama kelamaan dia semakin belagu, dan sekarang aq udah gak tahan, kalo ada maunya dia rayu aku tapi kalo udah dapet yang dia mau aku langsung dilupain, sampe2 aq kaya’ gedebong pisang kalo dia lagi minta, aq pengen banget pisah sama dia, tp apa dia mau pisah baik-baik dan mau tetep ngasih duit bwt anakku, soalnya kakaknya pernah pisah sama istri pertamanya tapi dia enggak pernah kasih tunjangan sampe2 anaknya meninggal, aku enggak mau anakku kaya’ gitu, duh aku bingung banget skrg, aku benci dirumah ini, aku pengen pergi bawa anakku, tp aku kerja, jadi enggak ada yang pegang, orangtuaku dikampung, apa aku harus ngomong orangtuaku dulu ya…tolong aku donk please, aku harus gimana?

      dira said:
      2 Februari 2012 pukul 09:19

      yang sabar ya mb ,,g kebanyakan laki laki mmg egois.demi ank mb hrs tegar ngadepin smua cobaan.mb hrs mandiri jangan bergantung pada suami cr pekerjaan yang halal tentunya hrs blg ato konsultasi sama orang tua dl mengenai nasib rumah tangga mb unk ke depan nya.bertahan dgn resiko sakit hati ato mencoba hidup mandiri dengan mencari rizki yang halal mohon kepada Yang di atas smg dibr jalan dan kemudahan selamat berjuang jdlah wanita yang tegar

      zila said:
      8 April 2013 pukul 14:55

      mba santi jangan bergantung sama nafkah suami, apa bedanya nafkahin anak sendiri sama nunggu dikasih nafkah suami yang belum tentu nafkahin. ya mending nafkahin sendiri. yakinlah kalaumbak kerja rejeki anak pasti ada. asal mbak jangan bergantung pada mantan suami sepersenpun, yakinlah segala kebutuhan anak allah yang jamin. . tapi sebisa mungkin akrab dgn anak jangan marah2 atau banyak mengingat2 masa lalu. banyak org terlalu perhitungan sama masa lalu sampai kalau diajak ngobrol bawaannya judes terus ke anaknya, padahal masalah mbak dgn suami bukan salah anak mbak. lagian judess ama anak itu bisa bikin anaknya akrab sama orglain yang blm tentu baik, dalam hal ini ya bapak kandungnya sendiri. yang repot adalah mbak kalau sifat buruk bapakna nular ke anak mbak trus bisa2 dia pun benci dengan ibu kandungnya. karena rasa sayang itu dibentuk dari pengalaman, bukan semata karena dia itu anak maka dia akan otomatis sayang n melindungi mbak terutama saat mbak tua nanti. tapi aku percaya kalau mbak berusaha akrab dgn anak mbak itu ga akan terjadi. fokuskan ke pendidikan anak, buat dia bahagia lahir batin. barangkai dgn pernikahan yang selanjutnya, mbak bisa lebih bahagia dibanding sekarang.

    vankz said:
    11 Agustus 2012 pukul 03:57

    kalo seorang istri mnjemin uang tnpa sepengatahuan suaminya, trus akhirnya dia bilang k suaminya, suaminya marah??? c istri harus gmna menghadapinya??

    vika said:
    27 September 2013 pukul 21:18

    mau curhat : saya seorang ibu rumah tangga umur 24 thn dan suami saya umur 29 thn, saya sudah punya 1 anak umur 2thn, akhir2 ini rmh tangga saya selalu berantem masalah anak, dan kenapa seorang suami lebih mementingkan hoby nya d bandingkan kebersamaan keluarga nya.saya sudah mencoba ngomong baik2 keluhan apa yg saya kurang suka ,tp tetap saja suami saya ga bisa berubah.minta sarannya gmna cara nya supaya suami saya bisa berubah dan mementingkan keluarga kecilnya.

    naomi terra said:
    6 Januari 2014 pukul 17:57

    mbak vika…
    masalah mbak sama dgn saya. Suami saya berlayar 9 bulan dan di rumah cm 3 bulan. slama di rumah cm seminggu dia menjadi suami dan ayah anak2, selebihnya….keluyuran. siang maen sama temen sampe maghrib abis maghrib nongkrong lg brng tmn sampe pukul 2 dinihari. kl skt ngeluhnya sama kita…. aku juga bingung gmana ngerubah sikapnya trsbt. slm ini aku sdh baik2in…..maunya diturutin…tp mlah makin jadi…. kadang aku berpikir lebih baik dia gak ada…….hdupku lebh tenang krn aku terbiasa ditinggal.

    cicik said:
    12 Maret 2014 pukul 13:11

    apa humkumnya seorang istri berkata jijik melihat wajah suaminya karena suaminya suka mabuk?

    viona said:
    29 Maret 2014 pukul 10:52

    selama saya hamil suami saya tidak pernah lagi pulang kerumah,bahkan menanyakan keaadaan saya sudah tak pernah lagi,,setiap orang kantor saya nanya “suaminya ada gak pulang kerumah ” saya cuman jawab semenjak hamil sudah tak pernah lagi,,saya udah coba bujuk suami saya untuk pulang,,tapi yang ada saya dimarah-marahi,,saya bingung harus berbuat apa,,sementara saya sangat menyayangi suami saya itu,, terakhir yang membuat hati saya hancur,,saya melihat suami saya udah bersama wanita lain…
    saya hanya bisa menangis melihat suami saya menggandeng wanita lain…
    entah semenjak pernikahan ini saya sangat membenci sebuah pernikahan,,karna saya tidak pernah merasakan kebahagiaan pernikahan itu seperti apa,, yang paling menyedihkan lagi mertua saya juga sama seperti suami saya,,tidak pernah mau tau tentang saya…bahkan suami saya sudah membawa wanita itu kerumah orang tuanya,,orangtuanya senang-senang aja,,, aku benar2 sakit diperlakukan seperti ini oleh suami dan mertua saya itu,,,mereka tak pernah menghargaiku sebagai istri dan menantu.. apa yang harus saya lakukan agar mereka semua berubah dan bisa menerima kehadiran saya dan calon anak saya??? saya ingin sekali suami saya pulang kerumah… semasa pacaran dengan dia,,dia adalah sosok pacar yang slalu menyayangi saya,,eh setelah jadi suami dia benar-benar berubah menjadi sosok yg tak pernah saya kenali :'(

    Puji ♕ (@PujiAgustini1) said:
    18 Juni 2014 pukul 11:02

    assalamualaikum
    bolehkan saya meminta alamat email,
    saya mempunyai masalah dan saya bingung atas masalah yang saya sedang hadapi, saya ingin bercerita dan meminta pendapat atau solusi untuk masalah saya.
    terimakasih

    nur said:
    22 Juni 2014 pukul 00:39

    sy seorg ibu rmah tngga, sy mnikah di usia 18th n suami sy usia 33 thun q memiliki 1anak . sy mnikah udah 2thun, dri awal brumah tangga qt slalu cek cok krna q taaruf dgnnya. suamiku tipe org yg keras sdikit pelit dan kasar klo pas lgi marah q, rumah tanggaki di awal maret 2014 di ambang kehancuran krna q udah gak betah tinggal dgan suamiku yg memiliki karakter seperti itu, tpi alhamdulillah semuanya masih bisa di perbaiki… qt sering beda pndapat dan suamiku orgnya kolot bget meskipun dy S1.. di usiaku yg muda ini jujur q pgen bahagia q pgen bebas ngelakuin apa yg q mau tpi tetep gak kluar dri jalur yg baik q pnya banyak impian dan cita2, tapi suamiku gak pernah bebasin q, apapun yg q mau n q inginkan dy gak pernah nurutin q, q merasa terkekang dan penuh tekanan bahkan kluar rumah pun q gak boleh walaupun itu kluar sma adek kandung sndri n tujuan krumah mamahku.. dan stiap kli q ngelakuin kesalan kecil dy slalu maki2 q… jujur q pengen cerai ma dy. q gak bisa hidup dgan pria pelit, mau bli ini itu gk boleh padahal dy adalah pria yg mapan alhamdulillah dy jga dri kluarga berada, dan q pun jga dri kluargaa berda tpi kluargaku gak pelit kya dy n kluargannya, klo bli brang murah di bawah 50rb bru di bolehin…. slama 2thun nikah ma dy q mau bli tas or sendal gak dikasi sampe akhirnya diblikan ortuku, dy janjiim bliin q sendal tpi pas ke mall waktu giliran mau bayar ke kasir panggil2 q, n malah qyg bayarin.. q bingung ngadepin pria yg kaya gni dan dy slalu possesif ma q pdhal q gak gtu ma dy bahkan q cman pjang mataku di pp instagramku krna tu hasil makeup dy maki2 q wanita gak bner dls, q bner2 muak, q capek q cuman pgen bahagia tpi dy gak pernah bs ngertiin n bahagian q, klo mau bliin q sesuatu mesti ijin sma mamanya ato mertuaku, dan klo q pnya apa2 mesti harus ngomong ma mertuaku sedangkan q sdah rmah sndri……

    Rudy said:
    18 Oktober 2014 pukul 18:03

    Assalamualaikum ki,saya punya masalah dengan istri saya.bagaimana cara mengatasinya agar rumah tangga kami tidak berujun percerain.kami sudah tinggal bersama sudah 10 tahun dan punya anak perempuan satu umur 8 tahun.dulu kami emang kadang bertengkar karena istri saya kadang gak mau nurut dgan saya dan sebaliknya juga saya,bahkan kadang saya pukul istri saya karena emosi dngan klakuan dia.
    saya bekerja di luar negri dan memberi nafkah 10 juta / bln bahkan lebih tapi dia tidak pernah merasa cukup dan malah dia bekerja di cafe atau bar sebagai SPG tampa seijin dari saya.saya larang tapi tetap dia lakukan dari situlah saya marah dan memukul dia.habis itu kami baikan lagi.
    sekarang saya pergi kerja lagi ke luar negri dan saya jamin sama 10 juta bahka lebih tapi dia kembali kerja lagi ke bar tampa sepengetahuan saya,mala sekarang kalau saya telpon kadang gak mau angkat atau marah2 dngan saya.bahkan dia bilang kalau kamu nelpon terus aku gak suka kalau mkamu begutu terus tinggalin aku.
    Trus trang saya masih sangat mencintainya dan saya punya anak sama dia.tapi kadang saya sangat dibikin marah atas kelakuannya itu.dia tidak mau nurut dengan saya.
    mohon selusinya,//
    by Rudy
    thanks

    desi said:
    24 November 2014 pukul 11:44

    Sy ingin curhat

    desi said:
    24 November 2014 pukul 11:44

    Bunda

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s