Hukum Berjabat Tangan Seusai Shalat

Posted on Updated on

aq 5u nanya nich hukumnya berjabat tangan sesudah salat gmn?mkch

Jawaban M Shodiq Mustika:

Bila jabat tangan seusai shalat berjamaah itu diperlakukan sebagai ritual (dalam rangka penyempurnaan ibadah shalat), maka menurutku itu tergolong bid’ah yang terlarang. Namun bila jabat tangan tersebut diperlakukan sebagai muamalah (dalam rangka mempererat tali silaturrahim), maka insya’Allah itu tergolong amal yang berpahala, terutama bila kedua orang yang berjabat tangan itu belum bertemu sebelum shalat.

Untuk lebih memahami persoalan ini, silakan perhatikan dua kutipan berikut ini.

Berjabat Tangan Usai Sholat

http://www.nu.or.id/

24/07/2007

Sudah berlaku di masyarakat kita, setelah selesai sholat berjama’ah, satu sama lain saling bersalaman. Apakah itu ada dasar hukumnya, lantas apa faedahnya?

Bersalaman antar sesama muslim memang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Hal itu dimaksudkan agar persaudaraan semakin kuat, persatuan semakin kokoh. Salah satu bentuknya adalah anjuran untuk bersalaman ketika bertemu. Bahkan jika ada saudara muslim yang datang dari bepergian jauh, misalnya habis melaksanakan ibadah haji, maka disunnahkan juga saling berangkulan (mu’anaqah).

Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah SAW bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah. (HR Ibnu Majah)

Berdasarkan hadits inilah ulama Syafi’iyyah mengatakan bahwa bersalaman setelah sholat hukumnya sunnah. Kalaupun perbuatan itu dikatakan bid’ah (hal baru) karena tidak ada penjelasan mengenai keutamaan bersalaman usai sholat, maka bid’ah yang dimaksud di sini adalah bid’ah mubahah, yang diperbolehkan.

Imam Nawawi menyatakan, bersalaman sangat baik dilakukan. Sempat ditanyakan, bagaimana dengan bersalaman yang dilakukan usai shalat? Menurut Imam Nawawi, salaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut: Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja, dianjurkan saja, namun jika keduanya berlum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya menjadi sunnah, sangat dianjurkan. (Dalam Fatâwî al-Imâm an-Nawâwî)

Bahkan sebagian ulama mengatakan, orang yang sholat itu sama saja dengan orang yang ghaib alias tidak ada di tempat karena bepergian atau lainnya. Setelah sholat, seakan-akan dia baru datang dan bertemu dengan saudaranya. Maka ketika itu dianjurkan untuk berjabat tangan. Keterangan ini diperoleh dari kitab Bughyatul Muytarsyidîn.

Jadi bisa disimpulkan, hukum bersalaman usai shalat adalah mubah atau boleh, bahkan menjadi sunnah jika sebelum shalat kedua orang yang bersalaman belum bertemu.

KH. Muhyiddin Abdusshomad
Ketua PCNU Jember, Jawa Timur

Berjabat Tangan setelah Shalat
http://bincang.net/forum/archive/index.php/t-53235.html

Tidak diketahui ada seorang shahabat dan satu pun ulama’ salaf Rahimahullah ‘Alihim jika seusai shalat, mereka menoleh ke arah kanan dan arah kiri sambil bersalaman dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Seandainya mereka memang melakukan hal itu, pasti kita akan menukil berita tersebut dari mereka sekalipun dengan sanad yang dha’if. Begitu juga dengan para ulama’ yang menyelami lautan ‘ilmu, pasti akan dinukilkan berita itu untuk kita. Jika memang riwayat itu ada, pasti mereka semua akan memunculkan banyak sekali hukum tentang masalah ini. (Tamaam al Kalaam fii Bid’ah al Mushaafahah Ba’d al Salaam hal. 24-25 dan di dalam kitab al Masjiid fii al Islaam hal. 225).

Al Muhaddits Syaikh Muhammad Nashirudiin Al Albani berkata di dalam al Silsilah al Shahihah (I/23) sebagai berikut: “Adapun berjabat tangan selepas shalat maka dianggap sebagai sesuatu bid’ah. Kecuali bagi kedua orang yang sebelumnya sama sekali belum bertemu, maka dianggap sebagai perbuatan sunnah.” Al Kanawi berkata: “Selain itu para ulama’ bermadzhab Hanafi, Syafi’i dan Maliki menganggap berjabat tangan seusai shalat sebagai perbuatan makruh dan sebagai bid’ah. Dikatakan dalam kitab al Multaqath: “Berjabat tangan seusai shalat merupakan sesuatu yang dimakruhkan dalam kondisi apapun. Karena para shabat tidak pernah berjabat tangan setelah shalat. Selain itu berjabat tangan seusai shalat termasuk kebiasaan yang dikerjakan oleh orang-orang Rafidhah (syi’ah –pen.).” Dari kalangan madzhab Syafi’i, al Hafidz Ibn Hajar al Atsqalani berkata: “Berjabat tangan yang dikerjakan orang seusai shalat lima waktu merupakan hal yang dimakruhkan. Karena perbuatan itu tidak memiliki dasar dalam syari’at Islam.” (al Si’aayah fii al Kasyf ‘ammaa fii Syarh al Wiqaayah hal. 264).

Sesuatu yang masih diperselisihkan statusnya antara makruh ataukah sunnah, maka dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh dikerjakan. Karena menolak kemudharatan itu lebih diutamakan ketimbang menarik kemaslahatan.

Padahal berjabat tangan (seusai shalat) disangka oleh orang-orang jaman sekarang sebagai sesuatu yang terpuji. Bahkan mereka akan mencela orang yang mencegah perbuatan tersebut.

Mereka tetap saja melakukan hal itu meskipun diingatkan berkali-kali. Padahal mengerjakan sesuatu yang hukumnya sunah secara kontinu bisa mengakibatkan makruh. Bagaimana jika mengerjakan perbuatan bid’ah dan tidak memiliki dasar dalam syari’at secara kontinu? Jika demikian, maka tidak perlu disangsikan lagi bahwa berjabat tangan seusai shalat hukumnya makruh. Inilah tujuan orang yang memfatwakannya sebagai sebuah perbuatan yang dibenci. Padahal sebenarnya hukum makruh ini telah dinukil dari dari para ulama’ pendahulu.

Syaikh Masyhur bin Hasan Salman berkata: “Yang perlu aku peringatkan bahwa seorang muslim tidak boleh memotong atau menghen-tikan tasbih saudaranya sesama muslim kecuali karena ada sebab syar’i. Pada-hal yang banyak kami saksikan dewasa ini, banyak sekali kaum muslimin yang memutus dzikir-dzikir yang disunahkan dibaca saudaranya setelah shalat dengan cara mengulurkan tangan kepada mereka untuk berjabat tangan. Padahal dengan mengajak mereka berjabat tangan berarti telah memutus hubungan tasbih dan dzikir yang sedang dijalin dengan Allah Ta’aala.

Jika memang seseorang pertama kali berjumpa, maka hendaknya kedua-nya saling berjabat tangan dengan lembut dan penuh kasih. Dengan demi-kian sekarang menjadi jelas mengapa berjabat tangan bisa berubah statusnya menjadi sesuatu yang bid’ah. Berapa banyak orang yang pandai memberikan mau’idzah dan ahli memberikan nasehat, namun dia tetap mengerjakan hal yang melanggar sunah ini. (Tamaam al Kalaam fii Bid’ah al Mushaafahah Ba’d al Salaam hal. 23).

Wallahu A’lam Bishshawab

Rujukan:

1. Quthuf minasy Syamailil Muhammadiyati wal Akhlaqin Nabawiyati wal Adabil Islamiyah (terjemahan) Karya Muhammad bin Jamil Zainu.
2. Al Qawl al Mubiin fii Akhtaa al Mushalliin (terjemahan) Karya Abu ‘Ubaidah Mashur bin Hasan bin Salman.

(kedua-dua penulis tersebut adlh murid kpd Imam Al-Albani Rahimahullah)

About these ads

13 pemikiran pada “Hukum Berjabat Tangan Seusai Shalat

    dira berkata:
    27 Agustus 2009 pukul 07:10

    Kalau saya biasanya salaman dulu dengan orang yang duduk di sebelah, baru kemudian sholat. Nah, setelah sholat kan tdk perlu salaman lagi tuh.. Kecuali kita dalam posisi duduk duluan, ya.. masa kita tolak orang yg ngajak salaman kita? :)

    celotehanakbangsa berkata:
    27 Agustus 2009 pukul 13:59

    Kunjungan seorang kawan seperjuangan..
    Salam Perubahan untuk Juragan..
    Selamat menjalankan ibadah puasa..
    Salam AnakBangsa..
    http://celotehanakbangsa.wordpress.com/2009/08/27/15-pertanyaan-yang-tidak-akan-pernah-ditanyakan-tuhan/

    tatang berkata:
    28 Agustus 2009 pukul 04:56

    “salaman” penting apalagi dengan orang yang baru kenal merupakan suatu penghormatan apalagi di mesjid

    iwan hernawan berkata:
    28 Agustus 2009 pukul 09:14

    kebiasaan saya pas datang ke mesjid salaman dulu, jadi emang bener kalau ngajak salaman sama orang yang sedang berdzikir sama dengan mutusin orang itu sedang bertasbih denga Allah.

    bima berkata:
    28 Agustus 2009 pukul 19:14

    menurut saya sih, kalo uda di anggep amalan yg harus dikerjain setelah solat ya jadi bid’ah karena berarti menambah cara beribadah baru dan masih dihubungkan dengan solat….

    tapi, kalo cuma sekedar pengen salaman n lebih akrab sama yg kita ajak salaman, ya knapa ngga? Toh sesama muslim itu saling menghargai kan??

    Mbak Maya berkata:
    30 Agustus 2009 pukul 07:09

    Jadi intinya pada niatnya ya mas? subhanallah, banyak belajar dari blognya mas. Terima kasih dan wassalam.

    Ponco berkata:
    31 Agustus 2009 pukul 08:25

    2 hal yg sama2 pny dasar yg kuat.. Tp sesuatu itu kta ambil dr segi positifny.. Jikalau lebih bnyk positifny kita ambil.. Benar yg dikatakan ma mbak maya kalo sesuatu tergantung ma niatè.. Q rasa masalah jabat tangan mmng mnunjukn ikatn silaturhmi antara kta.. Jikalau mmng dktakan mmutuzkan dzikir kpd allah mnurut q krng tpat.. Krna dtiap waktu, tempat.. Kita bsa brhubungn dng allah.. Bahkan tiap detak jantung aja kta slalu brhubungn dng allah.. Hny allah yg tau tntng mslh ini.. Yg jelaz kita ikuti aja al quran n’ sunah rosul. Ingt sabda rosul.. ” sungguh kehancuran orang2 sebelum kalian dikarenakan banyaknya pertanyaan diantara mereka” wallahualam..

    Sri wahyuni berkata:
    31 Agustus 2009 pukul 10:17

    Ya..,saya setuju kl smua itu tergantung niat untuk silaturahmi bukan merupakan keharusan.dan lagi menurutku ada baiknya jg untuk menambah keakraban serta menambah per’eratan rasa persaudaraan/persahabtan.

    abu wildan berkata:
    5 September 2009 pukul 13:53

    Bismillah . .

    Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari, sesungguhnya Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda: ”Agama itu adalah nasehat.” Kami bertanya: ”Untuk siapa?” Sabda beliau: ”Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslimin.” (HR Muslim).
    Berangkat dari hal tersebut, ana ingin saling menasehati sesama muslim.
    Terkait situs ini, situs aneh . . .
    Membahas tentang islam, tapi tidak menerapkan syari`at dalam situsnya.
    Banyak gambar makhluk,banyak hal yang sia-sia, de.el.el
    Ketahuilah,
    1.Riwayat Ibnu Abbas:
    Artinya, “Setiap pelukis berada dalam neraka, dijadikan kepadanya setiap apa yang dilukis/digambar bernyawa dan mengadzabnya dalam neraka Jahannam.” (H.R Muslim).
    2.Riwayat Abu Khudzaifah
    Bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat orang yang makan riba, dan orang yang memberi makan dari riba, dan orang yang bertato, dan yang minta ditato, dan pelukis/tukang gambar.” (H.R Bukhori )
    2.Riwayat ‘Aisyah
    Bahwa Rosululloh Shollallohu alaihi wa sallam bersabda, “Seberat-berat manusia yang teradzab pada hari kiamat adalah orang-orang yang ingin menyerupai ciptaan Alloh.” ( H.R Bukhori dan Muslim ).
    3.Riwayat Abu Huroiroh,beliau mendengar Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh Ta’ala berfirman: Dan siapa yang lebih celaka daripada orang yang menciptakan ciptaan seperti ciptaan-Ku, maka hendaklah mereka ciptakan sebutir jagung, biji-bijian dan gandum (pada hari kiamat kelak).” (H.R Bukhori dan Muslim)

    Menjawab dengan mengambil dari situs/blog orang lain, tanpa mengerti itu situs/blog berpemahaman apa, ikhwaniy/surury/hizby/sufiyyah/syi`ah atau lainnya. Situs dengan jawaban gado2.
    Bicara dengan menurutku, menurut kami, menurut . . .
    Yang seharusnya sebagai seorang muslim, bicara menurut Al-qur`an Was Sunnah.
    Dilihat dari latar belakang kontributor,tidak signifikan dengan apa yang dipertanggung jawabkan nanti, yaitu Din-Agama.Sunnguh bicara tanpa ilmu akan menjerumuskan diri sendiri dan orang lain.
    Imam Ibnu Majah meriwayatkan di dalam Sunannya :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

    Abu Bakr bin Abi Syaibah menuturkan kepada kami. Dia berkata; Yazid bin Harun menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abdul Malik bin Qudamah al-Jumahi menuturkan kepada kami dari Ishaq bin Abil Farrat dari al-Maqburi dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

    Ya akhuna, sebelum menasehati orang lain, alangkah baiknya perhatikan kondisi diri.
    Bahkan salah satu pengasuhnya punya cita-cita:

    “Kelak di Hari Akhir, ketika menghadap Tuhan, aku ingin dipanggil dengan sebutan yang seelok-eloknya. Di antaranya: si penulis sejati, si pencinta sejati, dan si pencantik-jiwa yang sejati pula. Mudah-mudahan, nama yang kusandang saat ini, yakni …

    MasyaAllah, sesungguhnya seseorang itu ingin diakhir hidupnya menjadi seorang mukminin, mukhlisin,muttaqin,bukan penulis-in!dipanggil karena ilmunya yang bermanfaat terhadap ummat.

    Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq kepada kita semua. Wallohu a’lam bish showab.

      bima berkata:
      27 September 2009 pukul 14:57

      hai akhi….
      anda mengatakan bahwa situs ini dipenuhi oleh org2 bodoh krn gambar…
      apa antm sndiri sudah berkaca bahwa diri antum sendiri masih banyak kekurangan dan kesalahan?
      apakah antum pikir setiap pendapat yg antum pikirkan adalah benar?

      cobalah antum berfikir….
      dari hadis yg antum cantumkan juga semuanya hanya satu pihak…
      cobalah cari hadis yang kontra dengan hadis2 tsb kmudian antum telaah lagi…
      baru dapat ilmu sedikit sudah sombong, bagaimana jika ilmu antum sudah banyak?

      jika ingin menyampaikan sesuatu maka sampaikanlah baik2…
      bukan dengan kata2 yg seperti itu…

      ana memang bukan org muhammadiyah…
      namun, org2 muhammadiyah juga saudara2 ana…
      saudara antum juga….

      sopanlah sedikit…..
      berkatalah yg baik…

    ABDUL AZIZ berkata:
    16 September 2009 pukul 00:16

    Assalamu’alikum,

    Tulisan yang menarik. Saya punya pengalamann tentang salaman ini.
    Pada waktu shalat jumat, saya cari tempat untuk shalat tahiyatul masjid. Ada yang kosong terus saya isi. Yang di sebelah kiri dan kanan saya lebih dulu shalat. Ketika saya sedang duduk tahiyyat kedua orang ini bersalaman, padahal saya yang di tengah sedang shalat. Mungkin mereka menganggap salaman itu begitu penting, dan dapat mengalahkan shalat tahiyatul masjid.

    Oh ya beberapa waktu yang lalu blog ini sudah saya link.

    Terima kasih.
    Wassalam.

    Sugeng Aribowo berkata:
    25 September 2009 pukul 16:03

    Ass, masyarakat kita banyak yg mengaji tp ga tau apa yg di kaji… hendakx smua masalah ibadah hrslah berlandaskan tuntunan nabi… kalo nabi dan sahabat ga pernah beri contoh kenapa hrs di ikuti… Carilah dalil yg pas/shahih utk sgala hal menyangkut ibadah.

    salmah berkata:
    9 November 2009 pukul 01:54

    akhina semua, memang berjabat tangan antar sesama muslim bila bertemu dianjurkan oleh Nabi saw. Banyak hadits yg shohih dalam hal ini, ana ambil satu saja yg dishohihkan sendiri oleh ulama gol.pengingkar yaitu: “Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin Azib, Rasulullah saw bersabda bahwa dua orang yang bertemu dan bersalaman akan diampuni dosa mereka sebelum berpisah (HR Ibnu Majah).Dishohihkan oleh golongan pengingkar ,Al-Albani,(lht Silsilah Ash-Shahiihah no 526, 2004, 2692 dan Ash-Shahiihah no 525). Hanya sekarang persoalannya kapan dikatakan orang itu baru bertemu. Kalau muslimin yang datang di masjid itu toh kita baru bertemu dgn mereka, apa salahnya kalau kita berjabat tangan dengan sesama muslim yang berada dikanan-kiri kita? Kalau itu haram mana dong dalilnya dari Nabi saw? Yg penting kita tidak mensyariatkan jabatan tangan setelah sholat tsb., jadi kita anggap amalan mubah saja.
    Orang seusai sholat itu boleh mengerjakan apapun saja, ya toh?, umpama berdzikir, bertanya sesuatu pada orang sebelahnya dll. Mengapa kalau orang ingin berjabatan tangan seusai sholat kok dilarang? Padahal jabatan itu toh menunjukkan sifat silator rohmi, dan masih ada dalilnya.
    Imam Nawawi ,dalam Fatâwî al-Imâm an-Nawâwî, menyatakan, bersalaman sangat baik dilakukan. Sempat ditanyakan, bagaimana dengan bersalaman yang dilakukan usai shalat? Menurut Imam Nawawi, salaman usai shalat adalah bid’ah mubahah dengan rincian hukum sebagai berikut: ‘Jika dua orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat maka hukum bersalamannya mubah saja, dianjurkan saja, namun jika keduanya belum bertemu sebelum shalat berjamaah hukum bersalamannya menjadi sunnah, sangat dianjurkan’.
    okey dong, jangan bertengkar hanya masalah jabatan tangan seusai sholat!

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s