Layakkah Indonesia menjadi tempat tinggal orang Islam?
pak shodiq, belakangan ini saya lihat makin marak saja aliran extrimis yang mengatasnamakan agama islam..terlepas dari provokasi oleh pihak manapun dan benar tidaknya berita tersebut, tapi saya sangat prihatin dengan keadaan islam sekarang yang semakin bergolong-golongan untuk menjadi yang paling benar….
Ya, aku juga prihatin. Ada banyak diantara kita yang terlalu bersemangat dalam berislam, sehingga berlebihan dalam melihat ‘kesalahan’ orang lain dan kurang melihat kesalahan diri sendiri. Seperti kata peribahasa: “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”
menindaklanjuti fenomena tersebut saya ingin bertanya kepada bapak bagaimana sejarah pemerintahan islam saat Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin umat manusia dan pada masa keemasan islam sampai runtuhnya apakah alamiah atau ada provokasi umat lain yang ingin menghancurkan islam….selama saya mencari di semua situs rata2 penafsiran tentang islam hanya dari satu sumber…saya ingin lebih mengetahui lebih dalam karena saya tidak ingin taqlid..
Sejauh pengamatanku terhadap sejarah Islam dari zaman Rasulullah saw. hingga sekarang, “provokasi umat lain yang ingin menghancurkan islam” muncul hanya ketika Islam dipandang sebagai ancaman. Namun ketika Islam dipandang sebagai rahmatan lil ‘alamin, umat lain menyambut hangat keberadaan Islam. Oleh karena itu, yang perlu senantiasa kita usahakan adalah menjunjung tinggi citra Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Lalu mengenai konsep negara islam apakah harus se-extrim pemikiran beberapa kelompok saja?
Tentu tidak harus, tetapi hendaknya justru yang paling lembut/ringan. “Tak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan pilihan di antara dua perkara, kecuali beliau pasti memilih yang paling ringan di antara keduanya selama perkara itu bukan suatu dosa. Apabila perkara itu suatu dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya.” (HR. Al-Bukhari no.3560 dan Muslim no.2327)
lalu apakah negara indonesia tidak layak menjadi tempat bagi kaum muslim lagi karena tidak “nyunnah” menurut beberapa pandangan?
Kita tidak bisa menyatakan bahwa Indonesia tidak layak menjadi tempat bagi kaum muslim. Dalam bahasa agama, “tidak nyunnah” itu berarti fasiq. Seandainya Indonesia benar-benar merupakan negeri fasiq, maka dalam hal ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berfatwa:
“Adapun di negeri fasik, yaitu suatu negeri yang kefasikan dilakukan secara terang-terangan dan dipertontonkan, maka kami katakan kepadanya: apabila seseorang merasa khawatir terhadap keselamatan dirinya dari ikut terjerumus dalam kemaksiatan yang banyak dilakukan oleh penduduk negeri tersebut, maka dalam kondisi ini hukum hijrah adalah wajib baginya. Apabila dia tidak khawatir atas hal itu, maka hukum hijrah tidak sampai derajat wajib baginya.
Bahkan bisa saja kami katakan bahwa apabila dengan keberadaannya di sana memberikan maslahat dan upaya perbaikan, maka hukum tinggal di sana baginya adalah wajib karena kebutuhan penduduk negeri tersebut kepadanya dalam rangka menegakkan perbaikan, menggalakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. …”
waduhh…
judulnya serem bangets…
deg-degan pas mau bacanya..
eh setelah dibaca jadi lega..eheheh^^
puchan
28 Agustus 2009
subhanallah topiknya sangat luar biasa,,,,,,,,,,,,,,, yang pastinya indonesia layak untuk islam,,,,eit tapi tungu dulu bukan berarti enggak layak untuk agama lain kan?masalah terlalu berlebihan dalam belajar islam membuat seakan akan”Seperti kata peribahasa: “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” kalau aku pikir tergantung bagaimana kita menanggapinya iyakan? pada intinya semau berawal dari hati kalau hati kita kotor pastinya kita juga berpikir negatif kan tentang orang lain?ya….. kita kembalikan pada masing-masing pribadi///okeeeeeeeeeeeeeeeeeeee
abdul munir
15 September 2009
Indonesia itu layak bagi semua agama, negeri rahmatan lil alamin untuk beribadah,kecuali malaysia negeri munafik pengecut dan penghasil bom bunuh diri.
Jonoyoso
19 September 2009
agama islam sebernya tidak pantas di INDONESIA
.sandi
22 September 2009