Kuburan Massal di Basis PKI

Posted on Updated on

Blitar Selatan adalah basis PKI. Cap itu masih melekat hingga sekarang meski PKI sudah dinyatakan sebagai partai terlarang.

Ketika negara mengejar anggota serta mereka yang dianggap sebagai pendukung PKI pada tahun 1965, ribuan nyawa melayang. Dieksekusi tanpa peradilan. Sebagian dari mereka dikuburkan secara massal di sejumlah desa di Blitar Selatan, Jawa Timur.

Bongkar kuburan
Komnas HAM kini berencana membongkar kuburan-kuburan massal itu sebagai upaya pemulihan hak-hak korban. Tapi tentangan datang dari mereka yang kala itu bertugas sebagai anggota TNI. Lebih jauh laporan Kontributor KBR68H Didi Syahputra.

Berjalan kaki menelusuri jalan setapak berbatu di antara persawahan, selama 20 menit, kita akan tiba di sebuah area seluas 5 meter persegi di Desa Ngrejo, Kecamatan Bakung, Blitar selatan. Di sini ada dua pohon kamboja dan ilalang tinggi menaungi sebuah makam.

Markus Talam dan Sanjoyo, bekas narapidana di Pulau Buru, mengatakan, di makam Bakung inilah pertama kali terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap terlibat PKI.

“Di sini ini saja ada 48, disitu ada 7. Mati itu bukan semuanya ditembak. Ya ada yang dipukul, digorok, disembelih,” ujar Markus Talam.

Sementara Sanjoyo berkata: “Sekitar 25 atau 30 orang itu dalam satu lobang.”

Operasi Trisula
Ini kuburan massal PKI, begitu kata warga Blitar. Kuburan ini adalah buntut dari Operasi Trisula yang digelar tahun 1966 di Blitar Selatan, ketika itu warga yang dicap PKI dikejar dan dibunuh.

Lebih jauh Markus Talam berkata:

“Itu gencar sekali, istilahnya operasi Tumpes Kelor!!!! Jumpa kelihatannya itu orang mencurigakan langsung dibawa, termasuk saya. Tinggal yang di rumah itu cuma perempuan-perempuan. Ada orang yang bertani dibawa, direntengi sampe 10, 7, 4 itu dibunuh. Pembunuhannya ya di tempat-tempat itu aja. Yang dibunuh di sini juga ada, yang dibawa di gunung di luar desa juga ada.”

Markus Talam lolos dari pembunuhan karena kabur saat diangkut tentara dari tempat persembunyiannya di Trenggalek, menuju Markas Kodim di Blitar. Tapi selama ia melarikan diri, giliran anggota keluarganya yang jadi sasaran. Ditangkap, lantas dieksekusi.

“Saya ini nggak kurang dari 30 dik, korban. Keponakan, terus saudara-saudara sepupu, banyak! Orang-orang yang nggak tahu apa-apa itu, petani. Ya mereka itu ditembak di sini saja, yang deket sungai ya dibuang ke sungai, kalo nggak ya ditaruh begitu saja, nggak dikubur. Seperti membunuh tikus. Tikus saja kalau dekat rumah kan dibuang, itu nggak.”

Kuburan massal bagi mereka yang dicap PKI juga bisa ditemukan di Kecamatan Nglegok, Blitar Utara. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari desa pertama.

Kuburan massal
Sanjoyo adalah bekas Kepala Desa Kedawung. Di desa ini, kata dia, ada dua kuburan massal PKI. Sementara di desa lain seperti Selorejo, Penataran, Bangsri dan Karanganyar terdapat tiga hingga lima makam. Total di Kecamatan Nglegok saja, ada puluhan kuburan massal.

“Di kecamatan Nglegok ya yang saya tahu di Selorejo itu ada 1, 2, terus di Karanganyar ada, semua desa itu ada, cuma yang terbesar itu di Nglegoknya itu, karena dulu ditempat itu kan ada Koramil dan Polseknya. Terbesar itu berapa kira-kira? Itu kira-kira 25 sampai 30 orang dalam satu lubang.”

Sanjoyo salah seorang saksi dalam peristiwa pembantaian massal bagi mereka yang dicap PKI. Ketika Operasi Trisula digelar TNI, hampir setiap malam di Desa Tumpakoyot, Kecamatan Bakung, terdengar bunyi rentetan senjata.

Setiap pagi pun ia harus mencari potongan bambu sepanjang dua meter, untuk mendorong puluhan mayat yang bergelimpangan di sungai belakang rumahnya.

“Lha, kalau di Blitar Selatan malah lebih ngeri lagi karena cuma diceburkan di kali aja. Pada waktu peristiwa Gestapu itu airnya nggak putih lagi atau cokelat lagi tapi merah! Itu karena banyak jenazah-jenazah yang dibuang begitu saja.”

Goa Tikus
Bagi warga Blitar, makam massal yang paling terkenal, di antara ratusan yang ada, adalah Goa Tikus di Desa Lorejo. Letaknya di pegunungan kapur Blitar Selatan, yang dikenal sebagai lokasi pembuangan mayat.

Goa Tikus adalah lubang selebar 2,5 meter dengan kedalaman 20 meter. Saya membawa ransel berisi kaleng oksigen, peluit dan senter. Dengan melilitkan tambang plastik setebal lengan orang dewasa, saya turun ke dalam Goa Tikus ini. Di ujung satunya, tambang dipegang oleh Saniko dan Jumani, warga Desa Lorejo.

Sesaat setelah masuk ke dalam goa, saya berhenti. Saya bertumpu pada sebuah batu yang menjorok. Begitu senter dinyalakan, saya melihat puluhan tengkorak manusia menyembul di antara air berlumpur. Tulang belulang juga terserak bercampur serpihan kain.

Begitu peluit dibunyikan, Santiko dan Jumani menarik tubuh saya ke atas.

“Saya baru saja melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan, didalam gua tikus tadi ada tumpukan tulang manusia yang sudah tak utuh lagi setinggi 2 meter. Dan tulang tulang itu bercampur dengan lumpur serpihan kain, sandal karet dan batu. Dari banyaknya tulang yang ada, sepertinya benar yang dikatakan warga, bahwa jenazah yang dibuang di gua Tikus mencapai ratusan orang.”

Peristiwa 1965 memang masih menyisakan beribu tanda tanya. Membongkar makam massal punya nilai penting, tidak hanya bagi mereka yang dikuburkan di dalamnya, tapi penting bagi kebenaran itu sendiri. Namun rupanya ada yang tak setuju makam dibongkar.

Genjer-genjer
Lagu Genjer-genjer lewat alunan suara Bing Slamet terdengar dari rumah kuno bercat putih. Put Mainah duduk di kursi kayu. Matanya terpejam. Kepalanya sesekali bergerak mengikuti irama lagu yang keluar dari alat pemutar kaset kuno ini.

Bu Put, dikenal warga Desa Pakisrejo, Kecamatan Srengat, Blitar, sebagai tokoh Gerwani Jawa Timur. Gerwani adalah organisasi perempuan di bawah Partai Komunis Indonesia, PKI. Posisinya cukup tinggi, ia sempat menjabat sebagai anggota DPRD Blitar. Tahun 1965, ia lari ke Blitar Selatan.

“Ya lari, he….he…. kenapa Bu ?. Ya takut to saya, wong orang orang pada disembelih, rumahnya dibakar harta bendanya diambilin.”

Put Mainah sudah kenyang merasakan penjara 10 tahun karena keputusannya bergabung dengan PKI. Ia tak pernah menyesal menjadi anggota PKI. Satu-satunya penyesalan adalah karena negara tak menghargai keyakinan dan jalan hidup orang lain.

Membongkar kuburan massal, menurut Bu Put, hanya upaya kecil yang bisa dilakukan untuk mengembalikan hak eks tahanan politik PKI sebagai warga negara.

“Keadilan itu harus adalah. Ini kan negara kedaulatan rakyat, demokrasi, jadi mestinya keadilan itu harus ada, di mana negara demokrasi nggak ada keadilan.”

Tentara
Upaya pembongkaran kuburan massal PKI di Blitar bukannya tak pernah dilakukan. Pemkab Blitar beberapa kali melontarkan gagasan ini, tapi selalu ditentang. Penentang utama datang dari kelompok tentara.

Sukirno seorang pensiunan Komandan Kodim di Blitar berpendapat, pembongkaran kuburan massal PKI di Blitar lebih banyak sisi negatifnya.

“Kalau itu dilaksanakan menurut saya justru akan menimbulkan efek yang negatif. Baik korban maupun yang dikorbankan pada tahun 65-66 itu, bahkan mungkin akan mereview pada tahun 48.”

Pemerintah Kabupaten Blitar akhirnya meminta meminta Komnas HAM meneliti keberadaan kuburan massal tersebut. Kuburan dirasa perlu dibongkar, untuk membuktikan adanya pelanggaran HAM berat saat berlangsung Operasi Trisula, kata Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar Bambang Gunawan.

“Peristiwa tahun 65 itu merupakan tidak hanya pelanggaran tidak hanya HAM, tapi lebih dalam pada perikemanusiaan itu. Tidak bisa menghilangkan nyawa orang itu seenaknya sendiri tanpa proses yang jelas. Oleh karena itu saya sangat mendukung upaya upaya itu dan mudah mudahan setelah bukti bukti kongkrit, kebenaran bisa ditegakkan.”

Sulit terwujud
Komnas HAM menilai, keinginan para eks Tapol Napol PKI untuk membongkar kuburan massal di Blitar Selatan, masih sulit terwujud. Jalan masih terlalu panjang dan berliku, karena masih banyak yang benci pada PKI dan keturunannya. Kata Nurkholis, anggota Komnas HAM, yang juga ketua Tim Ad Hoc Kasus 65-66.

“Tidak semua komponen masyarakat dan struktur negara mendukung upaya pengungkapan kembali kasus 65-66. Kelompok front anti komunis juga ada beberapa jenderal purnawirawan mendatangi kami di Komnas, menyatakan bahwa mereka keberatan kalau kasus ini diungkap kembali.”

Apalagi membongkar kuburan massal, kata Nurkholis, tak serta merta membuktikan adanya pelanggaran HAM berat. Tapi paling tidak, pembongkaran makam bisa membuktikan bahwa ribuan orang telah dibunuh tanpa prosedur hukum. Berikut penjelasan Nurkholis.

“Kita akan memanggil saksi, terutama adalah mereka yang disebut saksi korban. Setelah ini mendapat gambaran secara umum, kita akan melangkah kepada pengumpulan bukti, itu bisa mengarah pada pembongkaran atau penggalian tempat-tempat yang diduga dijadikan sebagai kuburan massal pasca peristiwa 65-66. Insya Allah kita lakukan.”

Laporan ini disusun Reporter KBR68H Didik Syahputra.

// <![CDATA[//

dilangsir oleh http://www.ranesi.com

About these ads

95 pemikiran pada “Kuburan Massal di Basis PKI

    ikiakukok berkata:
    4 Oktober 2009 pukul 22:27

    G30S/PKI semakin terlupakan. lihat saja tanggal 30september kemarin. adakah yang ingat?
    fakta2 yang disuguhkan mengenai tragedi masih simpang siur tapi yang jelas g30spki merupakan tragedi bangsa yang sangat menyedihkan……

    rusman berkata:
    5 Oktober 2009 pukul 19:33

    yang masih gak percaya kalo dalang semua itu adalah orba adalah orang goblok, peristiwa G30s yang di jadikan kambing hitam adalah PKI, peristiwa tanjung priok yang di jadikan kambing hitam adalah Islam garis keras, peristiwa mei 98 yang dijadikan kambing hitam adalah tionghoa, emang Soeharto rada gila, go to hell

      azab berkata:
      11 Oktober 2009 pukul 13:40

      Sebenarnya, saya ingin melihat Suharto sebelum dia modar diazab dulu. Misalnya harus mengakui siapa dalang-dalang G30s, atau harus mengakui apa perannya di G30s. Tapi sayang, keinginan ini tidak terwujud.
      Suharto mati jauh lebih mulia daripada bapak bangsa negeri ini, Bung Karno.
      Doa saya untuk para korban ’65.

        aryati berkata:
        16 Maret 2011 pukul 16:59

        Suharto adalah militer yang cinta terhadap bangsanya , tindakan suharto terhadap PKI laknat itu benar sekali, mungkin klo anda hidup di tahun 65 kepala anda yang pertama di lobangi.
        coba pakai otak , bagaimana kalau bangsa ini dipimpin seorang komunis yang tidak percaya terhadap Tuhan. apa jadinya.
        bakal jadi penghuni abadi di neraka rakyat indonesia ini.

          dengkullemes berkata:
          22 September 2013 pukul 17:28

          selain pki apa suharto mu itu atau para antek nya yaitu tentara gk membantai kaum santri dari orang muslim ? Baca tragedi Tanjung priok Brooo atau operasi jaring merah di Aceh !!! Aceh itu muslim fanatik brooo !!! Maka nya pake otak 2x jngn asal jeplak aja kalo ngomong ???

      rajaf berkata:
      29 September 2011 pukul 12:11

      banget broo,,
      suharto gilaaa,,
      hidup PKI

      cawet berkata:
      14 April 2013 pukul 06:39

      Yang GUOBLOGH itu ya kamu !! ΰ∂ǎĥ jelas dalange PKI, dasar goblog..!!

    allie berkata:
    7 Oktober 2009 pukul 12:35

    Kenapa sama sekali tdk mengulas korban2 PKI? Adik Kakek saya dibunuh dan hartanya dirampas oleh anggota2 PKI yg msh tetangga2 sendiri. Mereka jg tdk dpnjara, cm wajib ikut cerdas-cermat P4 tiap tahun sampai tua dan meninggal. Anggota PKI jg melanggar HAM! Itu jg hrs ditekankan!! Jgn berat sebelah!!

      junior berkata:
      11 Oktober 2009 pukul 13:34

      Adek kakek?
      Kalau memang datanya sahih, tulis buku agar bisa dibaca orang. Jangan asal njeplak! Nanti bisa jadi fitnah lho!!!
      Takutnya, adek kakekmu itu sudah pikun, lalu cerita asal orba senang.

        allie berkata:
        12 Oktober 2009 pukul 11:45

        Yg crita itu bapak saya+bude+bulik2 saya. Anda ga baca komentar saya tp sdh asal protes, kasar lagi. Adik kakek sy itu yg Dibunuh krn punya kebo banyak, kebonya dibagi PKI-PKI itu demi slogan samarasa-samarata! Apa hubungannya dg Pikun? (*Sy tak akan menanggapi lagi komentar pembela PKI, bahasa mereka kasar2*)

          Abdul berkata:
          12 September 2012 pukul 18:05

          Kamu g nanggapin karna kamu kehabisan fakta!!!

      jiih berkata:
      25 Oktober 2009 pukul 16:38

      yang harus di cari kalau ada pelanggaran HAM berat adalah, orang2 yang tidak tahu menahu, tapi di PKI kan, kemudian diperlakukan seolah2 dia PKI tulen, klo yg bener PKI mah terserah aja, itung2 balasan di dunia, belum akherat lho bro….

      dengkullemes berkata:
      22 September 2013 pukul 17:37

      Jangan kan sangsi HAM , kepala mereka sdh terbang semua brooo !!! Kalo korban keganasan pki coba sampean itu sendiri !! Tetangga saya pn habis di bantai perampok brooo !! 9 orng hbs , tp tidak di balas dengn aksi pembantaian massal broo

    Donny Eka Permana berkata:
    9 Oktober 2009 pukul 12:26

    Sebenernya di lihat dari banyak sisi… “Siapa” yang salah.?

    cari uang berkata:
    9 Oktober 2009 pukul 17:54

    ya memang masa lalu / sejarah bangsa indonesia sangat kelam, dan berdampak pada masa sekarang, eks pki yg di bunuh memang banyak dan ini tidak akan pernah terungkap, karena memang pki dianggap musuh yg paling kejam bagi pemerintah kita,,,,

    salam

    fikri

      dengkullemes berkata:
      22 September 2013 pukul 17:40

      Jangan lupa brooo , bkn cuma eks pki tp igt jg yg di pki kn ! Kasus itu yg paling menjijik kn dari orba !!

    ari romadhon berkata:
    10 Oktober 2009 pukul 23:35

    Sebetulnya antara TNI dan PKI waktu itu boleh dibilang sama2 mempunyai kekuatan, sama2 mempunyai potensi yg saling mengancam. Kalau kemudian ternyata PKI yg menjadi korban pembantaian massal, itu karena TNI-lah yg menjadi pemenang dalam perebutan kekuasaan. Artinya siapapun yg berkuasa waktu itu akan cenderung melakukan hal yg sama, baik itu TNI maupun PKI, sebab suasana permusuhan sebelumnya sudah sedemikian mendukung. Konflik2 horisontal yg disertai pelanggaran2 HAM sudah sering terjadi yg dilakukan keduanya.
    Korban sebetulnya bukan hanya dari pihak PKI. Korban2 yg diciptakan PKI sebelumnyalah sebetulnya yg menjadi pemicu besarnya korban dari pihak PKI.Kebencian itu sudah ditanamkan lama dari kedua pihak, dan masih terasa sampai kini.
    Jangan hanya karena alasan HAM dan pengungkapan kebenaran yg abstrak kita akan terpaksa berhadapan dengan wajah kebenaran yg baru yg mungkin akan lebih mengerikan.

      Abangan berkata:
      11 Oktober 2009 pukul 13:24

      Emang, sudah ada buktinya kalo PKI sudah melanggar HAM? Lha wong belum-belum udah di ‘tumpas kelor’.

        ari romadhon berkata:
        14 Oktober 2009 pukul 16:51

        Dalam sejarahnya PKI sudah 3 kali mencoba melakukan kudeta di negeri ini. Jadi tidak betul kalau dibilang ‘belum-belum sudah ditumpas kelor’.

          Abangan berkata:
          16 Oktober 2009 pukul 17:09

          Kudeta?
          Peristiwa Madiun adalah sebuah kekeliuran sejarah. Lha, Tan Malaka sekarang jadi pahlawan nasional.

          Dan samapi sekarangpun tidak ada bukti, kalau pasukan G 30 s itu bergerak atas prakarsa dan komando dari orang-orang PKI.
          Bung tahu, Pasukan G 30 s itu terdiri dari 6 pasukan.
          Dua dari kodam Siliwangi, 2 dari kodam Diponegoro, dan 2 dari kodam Brawijaya.
          Mau tahu siapa yang perintahkan 2 pasukan dari kodam Diponegoro itu untuk datang ke Jakarta,
          Adalah Mayjen Suharto yang kemudian jadi presiden.

          Bingung kan?

          dengkullemes berkata:
          22 September 2013 pukul 17:51

          Sdh 3x tp gk ada pelarangan ! Coba kalau di larang ! Gk asal main bantai !!! Bagusan pengedar narkoba di bantai buat sistem orba gk pake pengadilan , kalau curiga libas ! Berani gk brooo

        jiih berkata:
        25 Oktober 2009 pukul 16:45

        jangan menilai peristiwa dari sejarah yang muncul di permukaan karena berita, tapi lihat tindakan keji PKI yang di lakukan di daerah2, seperti yang terjadi eks karesidenan surakarta

          Jiijiih berkata:
          26 Oktober 2009 pukul 15:52

          ya betul, makanya baca, baca, baca! Ok deh, aku mau baca komik Dora Emon. Nggak bikin pusing to. Iya to. Mantep to.

      dengkullemes berkata:
      22 September 2013 pukul 17:45

      Ya gk heran lh kalau tentara yg menang la wong punya senjata !!!

    Bob berkata:
    11 Oktober 2009 pukul 13:29

    Doa saya selalu saya haturkan untuk para korban ’65. Sembah sujud pada para keluarga dan semoga diberi kelapangan dada.
    Demi kemanusiaan, saya kirimkan cinta dan hormat saya pada para korban baik yang hidup atau sudah wafat.
    Semoga kesedihan ada menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.

      Eza berkata:
      14 Oktober 2009 pukul 17:29

      Sembah sujud hanya untuk Allah tuhan semesta alam

        BOB Abdul berkata:
        12 Juli 2011 pukul 13:16

        Eza, jgn khotbah disini!!! Tuh, di gdg DPR, TOLOL!!!

    Suharto berkata:
    12 Oktober 2009 pukul 16:00

    Kapan ya peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di negeri ini dapat terungkap kebenarannya? Ini sangat baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dan demi anak cucu kita nantinya.

    Karno berkata:
    14 Oktober 2009 pukul 10:14

    Wahai generasi muda, bacalah buku-buku dari saksi-saksi sejarah dari yang mengalami sejarah langsung. Kita bisa memetik kebenaran sejarah disana.
    Jangan mau memahami sejarah yang dipelintir dan dipolitisi. Pakailah hati nurani.
    Memang tidak mungkin mencari siapa yang benar dan siapa yang salah…..
    Tapi setidaknya kita bisa belajar, agar dimasa datang tidak ada lagi pelanggaran HAM.

    Doaku untuk yang teraniaya….

    teddy berkata:
    15 Oktober 2009 pukul 02:45

    terkadang benar atau salah, tergantung disisi mana kita berada.
    jika suata saat kita harus saling berhadapan setidaknya saya tahu ada sisi sebelah mana.

    coy berkata:
    15 Oktober 2009 pukul 21:43

    tidak tahu ya siapa yg benar dan yg salah, tapi asal membunuh ya jelas salh, semoga Tuhan mengampuni dosa2 kita semua, amin

    WOng Yogjo berkata:
    18 Oktober 2009 pukul 20:38

    Saya sangat berterimakasih kepada TNI dan seluruh Pimpinan TNI yang ada, Orang Tua saya aktivis pemuda Anshor, Pada saat PKI ngejebluk, Anggota Anshor banyak yang wassalamm, Tapi karena TNI menyelamatkan Orang tua saya dan di bawa ke Jakarta, maka kita semua selamat dan ada hingga sekarang…
    Bravo.untuk TNI..

      Grak Grek berkata:
      26 Oktober 2009 pukul 15:55

      Bravo TNI, Bravo Anshor, Bravo NU, Barvo PKI, Bravo sosialis, Bravo FPI… Apa nasib bumi pertiwi… Jreng jreng.

        WOng Yogjo berkata:
        27 Oktober 2009 pukul 16:35

        Ampunilah dosa orang seperti Grak Grek yang bebal dan tidak sadar sejarah ini….

          grak grek berkata:
          27 Oktober 2009 pukul 16:38

          Ampunilah Wong Yogyo yang telah mendoakan aku untuk diampunkan, amin, amin, amin…

            wong apik berkata:
            10 Juli 2010 pukul 10:17

            untukku agamaku , untukmu yang tdk punya agama.naudzubila mindzalik.

    wongso galik berkata:
    24 Oktober 2009 pukul 13:03

    bravo TNI…Go To Hell PKI…..dimana2 yg namanya komunis adalah the Bad Guy…buktinya sama Tuhan gak di ridhoi hidup di kolong langitnya , makanya sangatlah pantas PKI di tumpas sampai akar2nya bahkan kalo perlu di tumpas ke kentut-kentutnya sekalian (para fans PKI)…Bravo TNI bravo Ops.Trisula Bravo Indonesia Raya

      Jon berkata:
      26 Oktober 2009 pukul 15:49

      Ya Bung, PKI memang bikin pusing, dan slalu keluar malam. PKI itu Perawan Kurang Intim kan????

        Grak Grek berkata:
        26 Oktober 2009 pukul 15:59

        Jon, kamu ini kuper deh, PKI itu orang-orang yang kasar dan suka kekerasan itu. Yang suka di sawah, pelabuhan, atau di gudang-gudang.
        PKI itu kan singkatan Pria Kulit Item…, ya kan Wongso Galik.
        Jadi Presiden USA juga Pria Kulit Item lho.
        Wow kerrreeeeen…..

    Mungil berkata:
    27 Oktober 2009 pukul 16:42

    Talian ni omong apa cih?
    Ada Pki, ada Tni, ada Tomunis…, bingung?!?!
    Atu cu nyak cahu Icu, Cahu!!!
    Coalnya acu lahil ciga caun lalu.
    ta ta….

    provokator berkata:
    5 November 2009 pukul 10:31

    Hai, dimana kamu kaum relijius kakap, militar ass kisser, komunis freaker, korban sosialis, dan pembela rohaniawan. Atau bahkan fans kapitalisme?
    Kenapa kamu ndak ribut-ribut lagi di sini. Mau damai ya? Ahhh kuno!!!
    Dunia jadi sepi. Ndak ada perang lagi, tahu!!!
    Ehhh, itu ada antek Zionis juga mau bergabung. Yeaaaaa…
    I want to see the blood in my hand, he he he…..

      fans provokator berkata:
      5 November 2009 pukul 10:35

      That’s cool, bro.
      Aku juga ingin menyate kaum relijius, menginjak para militer, membakar kamunis, membantai sosialis, menghajar kapitalis dan zionis.
      Kemudian tobat pada rohaniawan…
      Kan bisa masuk surga setelah itu, hehehe….

    wira berkata:
    12 November 2009 pukul 13:42

    PKI……………..
    tindak kriminalitas mereka memangg tidak bisa di maafkan,
    tapi kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka……..
    barang kali ada suatu konspirasi terselubung di balik itu semua..

    bali boy berkata:
    31 Desember 2009 pukul 00:39

    dari pada berpolemik panjang, terlebih lagi mencari siapa yang salah mengapa kita tidak ambil hikmahnya saja. agar bangsa ini dapat memberikan penghargaan kepada kemanusiaan dan menghargai perbedaan.
    Ingat bung, yang jadi musuh kita sekarang adalah kemiskinan, kebodohan, ketidak adilan, korupsi, narkoba.
    rakyat sudah lelah dengan yang begini beginian.

    GRRrrrrr berkata:
    5 April 2010 pukul 19:07

    Kalian generasi Guooblooog!!! Ikiakukok, Allie, Ari Romdhon, Jiih, Wong yogjo, Wongso Galik, dan Wira, Kamu generasi TOLOLLLLL!!!!! Percuma disekolahin. Saya berterima kasih pada yang sadar sejarah dan kemanusiaan, JUPE….

    Cakra berkata:
    13 April 2010 pukul 01:09

    Aku baca komentar2 anda, rata2 siapa yg salah di thn 1965?… Klo berknan aku punya jawabanya..adalah “yg salah adalah Belanda”..pokonya tetep deh yg salah mh Belanda hahaha…

    Kul kutuk kadal kesit berkata:
    20 Juni 2010 pukul 10:42

    PKI dan Tentara setali tiga uang , cuma fans nya sendiri2 ! bye bye sama2 raja tega !

    Dipa Wijaya berkata:
    31 Juli 2010 pukul 16:36

    yang selalu nyalahin PKI adalah orba sejati, makanya negeri ini ga pernah beres karena sisa2 orba masih banyak+tumbuh generasi neo orba (pikirannya).lha wong G 30S aja nyampe sekarang masih belum jelas kok siapa yang salah, tapi kalo korban dari pihak PKI itu udah jelas dan nyata, masih mau berdalih apalagi para orba mania…., bicara tuhan, apa ada agama yang ngijinin umatnya untuk mmbantai manusia seperti hewan?padahal kalo saya ikut pengajian, cerita2 kiai selalu menunjukkkan bahwa nabi muhamad itu terhadap musuhnya pun masih punya toleransi.Kita bicara HAM, bukan ideologi atau agama.

      Anak tentara berkata:
      4 September 2010 pukul 16:09

      Dua jempol buat kamu, Bro! Marilah kita berjuang bersama….

        kolonel Kamto berkata:
        7 September 2010 pukul 15:50

        Terima kasih atas pencerahannya, Dipa.

    umar bin gople alhadad citeureub berkata:
    4 September 2010 pukul 04:21

    buat pki,biar pada mampus pki.mari kita ganyang keturunan pki.bakar rumahnya yang mo ikutan nih tel ane.021-87902688.umar hadad anti pki.buat simpatisan pki nih makan reak gue,hueeekkk cuih.

      Ali Hasan Al-Mukmin berkata:
      4 September 2010 pukul 16:12

      Lu abis berapa botol alkohol tadi malam? Sekalian minum racun aja biar ndak bikin dunia ancur!!!

        Utsman berkata:
        4 September 2010 pukul 16:16

        He eh, siip tuhh!!! Nama sih Umar, tp bhs-nya kayak KADAL!!!

          Zaenal berkata:
          4 September 2010 pukul 16:17

          Ho oh yo. Orang kayak Umar itu biasanya bahlul!!!

            Shodiq berkata:
            4 September 2010 pukul 16:19

            Sabar, sabar!!! Coba aku telepon Umar dan aku ajak duel idup mati. Serahkan ama aku, cepat atau lambat ajal Umar udah di tanganku!!!

      Dipa Wijaya berkata:
      14 September 2010 pukul 19:49

      weh….3x, pantesan indonesia ga maju2, ternyata orang barbar di negeri ini masih bejibun. tapi asik juga bahasanya, tapi isinya kayak orang meracau.eh, tapi boleh dicoba tuh ide nya, coba bantai satu dulu anak PKI trus liat nti yang ngebantai itu diapain, kalo dia di bui trus akhirnya di eksekusi karna hukuman mati mendingan ga usah aja, tapi kalo dibiarin aja ama polisi, silahkan cari massa buat ngelanjutin.

      dengkullemes berkata:
      22 September 2013 pukul 18:00

      Kalau seandai nya ente terlahir sebagai anak seorang pki gimana brooo ? Pasti ente ngomong hidup pki , mana ulama mana pemuda ansor gua libas sekalian , kalo gk senang ini nmr hp ku !! Begitu kn brooo ?

    Jito berkata:
    17 Oktober 2010 pukul 19:41

    tomy soeharto meminta maaf pada anak DN aidit, bagaiaman anda jika sebagai anak aidit

    Tommy Soeharto Minta Maaf di Depan Anak Aidit
    Hari ini Tommy berkumpul bersama anak-anak jenderal Pahlawan Revolusi dan pemimpin PKI.
    Jum’at, 1 Oktober 2010, 17:52 WIB
    Umi Kalsum, Mohammad Adam

    VIVAnews – Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh hari ini, 1 Oktober 2010, menjadi ‘sejarah’ sendiri bagi anak-anak tujuh jenderal Pahlawan Revolusi, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Presiden Soekarno. Yang menarik perhatian, hadir pula bersama mereka putra bungsu penguasa Orde Baru, Hutomo Mandala Putra, yang akrab dipanggil Tommy Soeharto. Mereka berkumpul di Gedung Nusantara III DPR.

    Acara yang dinamai ‘Silaturahmi Nasional’ itu juga dihadiri Ketua MPR Taufiq Kiemas dan Ketua DPR Marzuki Alie. Sambutan dan testimoni disampaikan antara lain oleh putri Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Amelia Yani; Christin Pandjaitan, putri Mayjen Anumerta DI Panjaitan; Sukmawati Soekarnoputri; dan Tommy Soeharto.

    Kesaksian mereka juga didengar langsung oleh Ilham Aidit, putra D.N. Aidit–yang saat peristiwa 1965 meletus menjabat sebagai Ketua Central Committee PKI–dan Svetlana, anak Wakil Ketua CC PKI, Nyoto. Hadir pula anak mantan KSAU Omar Dhani, Feri Omar Nursaparyan. Omar Dhani juga dituding rezim Orde Baru terlibat pemberontakan PKI.

    Dalam sambutannya, Amelia Yani menegaskan tidak akan pernah melupakan peristiwa penculikan dan pembunuhan sang ayah di tengah malam yang terjadi di depan matanya. Amelia mengaku mengalami trauma berkepanjangan.

    Bayangan penculikan dan pembunuhan juga masih membekas di benak Christin Pandjaitan. Malam itu tembakan bertubi-tubi menghujam ke tubuh sang ayah. Christin masih mengingat jelas otak yang ke luar dari batok kepala ayahnya saat itu. Dan ingatan itu tak pernah bisa hilang.

    Makanya ia tidak pernah mau menonton film G-30S/PKI. Film itu wajib tonton di era Orde Baru dan nyaris setiap tahun diputar di televisi untuk memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

    Meski kejadian 45 tahun itu masih membekas, baik Amelia maupun Christin mengaku sudah tidak memiliki dendam lagi. Mereka tidak ingin kesalahan orangtua diturunkan kepada anak-cucu.

    Amelia bahkan menuturkan dia mengerti betul apa yang dirasakan anak-anak pemberontak yang dikucilkan selama berpuluh-puluh tahun. Karena itu dendam telah dikuburnya dalam-dalam.

    Sementara itu, putri presiden pertama RI, Sukmawati Soekarnoputri, menuturkan masa-masa kelam yang dialaminya setelah peristiwa 1965. “Pembunuhan jenderal-jenderal hebat Soekarno, kemudian demisionernya Kabinet Dwikora. Penahanan menteri-menteri tanpa pengadilan,” kata dia.

    Menurutnya, tindakan tersebut adalah reaksi dari pihak-pihak yang tidak menyukai Bung Karno. “Saya bersyukur bisa hadir di sini. Untuk ke depan mari kita optimistis, walau penuh kerusuhan dan kekacauan,” kata Sukmawati.

    Tommy Soeharto

    Setelah Sukmawati, giliran putra penguasa Orde Baru Soeharto. Dalam sambutannya, Tommy Soeharto meminta semua yang hadir merenungkan apa yang selama ini terjadi di Indonesia.

    “Saya tidak bisa menyampaikan unek-unek, atau pun kesan-kesan seperti yang tadi disampaikan. Karena saya sendiri waktu itu masih tidak mengetahui keadaan saya sendiri (ketika itu Tommy baru berumur 3 tahun lebih, red),” katanya.

    Tommy melihat Silaturahmi Nasional sebagai forum yang tepat untuk menengok kembali sejarah bangsa di mana akibat akhirnya harus ditanggung anak-cucu. “Saat G-30S/PKI andaikata terbalik kejadiannya, di mana Politbiro yang berkuasa, mungkin kamilah yang merasakan sengsara saat itu,” kata Tommy.

    Tetapi, dia melanjutkan, Tuhan rupanya berhendak lain. Karena itu, Tommy berharap agar kejadian di masa lalu dijadikan pelajaran berharga ke depan supaya tidak terulang di kemudian hari.

    “Kita tidak bisa mengubah sejarah, tapi kita bisa mengubah masa depan bangsa kita sendiri,” kata Tommy. “Atas nama pribadi saya mengucapkan maaf lahir batin. Semoga Tuhan yang Maha Esa memberikan ridho-Nya bagi kita semua.” (kd)
    sumber
    http://fokus.vivanews.com/news/read/…pan-anak-aidit

      Jito berkata:
      17 Oktober 2010 pukul 19:43

      Ya Allah, semoga arwah yang menjadi korban paska G 30 S bisa tenang di sisiMu…….

        Iqbal Arif berkata:
        17 Oktober 2010 pukul 19:44

        Amin.

          Abdullah Hamid berkata:
          17 Oktober 2010 pukul 19:48

          Amin Ya Allah….

    Johannes Kevin berkata:
    17 Oktober 2010 pukul 19:45

    Puji Tuhan

    Yasin Abdullah berkata:
    17 Oktober 2010 pukul 19:46

    Amin Yaa Allah…..

    aryati berkata:
    16 Maret 2011 pukul 16:52

    Jangan termakan pembelaan PKI dengan berbagai macam alasan, pendapat dan argumen dalam bentuk apapun.. sudah jelas2 PKI itu salah … wajar lah klo dia di bantai . saya setuju dengan adanya tindakan tegas dr TNI , POLRI terhadap PKI dan anak turunya. maju terus TNI ,POLRI ganyang setiap sparatis dan komonis laknat di bumi pertiwi ini.

      dermanto berkata:
      22 Maret 2011 pukul 17:32

      Iya, ayo ganyang. Sesama anak TNI, Polri… kita wajib membela…

        Satrio berkata:
        22 Maret 2011 pukul 17:33

        Lha kalo ikut bela, dapat apa dong?

      dengkullemes berkata:
      22 September 2013 pukul 18:40

      Gini bro ni bkn sok pinter tp ini pendapat orng yg paling bodoh di antara kalian semua ! Jaman sekarang kn banyak partai politik dan itu resmi dan tidak di larang ,nah sama di thn 60an termsk pki tdk di larng ! Ini misal ,ente adalah simpatisan dari salah satu partai bermasalah ,andai lh ente di suruh membunuh karna ada partai lain yg mengancam !! Tiba2 keadaan genting trus partai anda di kutk dn di laknt orng trus anda di tngkp dan di bantai tnp ada peringtn pelarangn lbh dulu karna memng partai anda tdk resmi dn tdk di larang ! Trus anak cucu anda yg gk tau apa2 hrs menanggung akbt nya ,apa pendapat anda ? Tolong di pikir dulu sblm mnjwb !! Maaf saya bkn pki atau keturunan , cma yg merasa iba dgn masalah pembantaian yg tdk di ajar kn oleh agama mana pn !!!

    HARTOno berkata:
    22 Maret 2011 pukul 17:34

    Dapat korupsi dong…. Dasar Dogol luh!!!

    Yunita berkata:
    3 April 2011 pukul 16:29

    owh…rupanya ini yang merusak otak kekasihku..

    Bukan masalah Suharto go to Hell ato apa lah..
    Bukan hak PKI yang dibinasakan. tapi lebih kepada perlawanan ajaran mereka..
    “NO GOD”.apa itu benar?? GOD IS THE ONE!!!!
    Jangan lihat tahun 1960-an,sekarang saja jika ada ajaran menyimpang dari agama harus DITEBAS!!!
    Rasulullah tak segan menebas kepala orang kafir jika mengunjak2 nama ALLAh.

    Saya lebih Rela meninggalkan pacar saya yang seorang komunis.daripada meninggalkan ALLAH di hati saya.
    I LOVE ALLAH.and I LOVE my INDONESIA.
    semoga Negara ini lebih baik kedepan.Bismillah..”Dengan Nama ALLAH.saya harumkan namamu Negeriku di hatiku” ALLAHU Akbar.
    TUHAN ADA.dan saya hidup karena DIA.

      Pacar Yunita berkata:
      12 Juli 2011 pukul 13:11

      Yunita, biar aku ini komunis, ateis, ataupun kapitalis…. tapi aku ini tidak membiarkan manusia makan manusia.
      Tidak kyk kamu, yg bilang hamdallah, sehabis dapat uang korupsi!!!
      Emang cewek cuma kamu….

    Dipa wijaya berkata:
    17 Mei 2011 pukul 18:17

    saya lbih mmilih bela korban2 dari phak yang di”PKI kan” daripada bela tmen/sodara/pacar yang otak nya udah kecampur pndangan2 tolol yang barbar dan primitive.

    Udin nama kampungan berkata:
    18 Juli 2011 pukul 17:42

    Udin : Pak, bisa pinjem pedangnya?
    Bapak : Buat apa, Nak?
    Udin : Buat mbunuh orang, Pak?
    Bapak : Lha kenapa, Nak? Bunuh orang itu dosa lho! Kamu bisa masuk neraka!
    Udin : Aku dikatain suka bela-bela PKI, pak… Padahal Udin cuma omong tentang sejarah kita.
    Bapak : Ooo, begitu…
    Udin : He eh, Pak… sejarah kan tidak boleh ditutup-tutupi ya, pak… terlepas mana yang salah, mana yang benar.
    Bapak : Kamu jadi mbunuh orang itu, pake pedang?
    Udin : Jadi, pak…
    Bapak : Ini, pake GERGAJI MESIN aja, lebih cepet!!!

      Udin Halid berkata:
      21 Juli 2011 pukul 15:43

      Ibu Pertiwi memberi sayembara pada militer, komunis, dan agamais, barang siapa yang bisa memuaskannya di tempat tidur, akan memilikinya, Jiwa dan raga. Masing-masing bersiap mendapat giliran.
      Militer masuk kamar Ibu Pertiwi. Sepuluh detik kemudian, dia keluar dengan wajah puas.
      Ibu Pertiwi : Terlalu kasar dan dominan. Aku tidak puas, malah takut….
      Komunis masuk kamar dengan semangat. Dua menit kemudian keluar dengan napas lega.
      Ibu Pertiwi : Terlalu memaksa dan cepat-cepat. Bahkan tanpa pemanasan sama sekali. Aku belum apa-apa, dia sudah klimak.
      Giliran agamais yang masuk sambil komat-kamit merapalkan doa. Dua jam kemudian Ibu Pertiwi yang keluar dengan kelelahan, dan terpuaskan.
      Ibu Pertiwi : Benar-benar hebat agamais itu! Hanya dia yang bisa membuatku puas. Maka pemenangnya adalah agam…..
      Tiba-tiba agamais muncul dari kamar.
      Agamais : Aku baru selesai berdoa. Kapan giliranku?
      Ibu Pertiwi, Militer, dan Komunis heran.
      Ibu Pertiwi : Lalu siapa yang memuaskan aku di tempat tidur tadi?
      Oportunis keluar dari kamar, dengan gagah.
      Oportunis : Maaf, tadi aku menyela giliran agamais, soalnya dia lamban sih….
      Sejak itu Ibu Pertiwi selalu dimiliki oleh Oportunis, jiwa dan raga.

    Antonio fargas berkata:
    11 Agustus 2011 pukul 23:24

    Kebenaran hanya Allah yg tahu , untuk korban-korban yg tidak bersalah semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan diterima di sisiNYA.

      AnasUdin berkata:
      22 Agustus 2011 pukul 12:02

      Allah itu sesembahan, Gasssss…. Kebenaran itu kita sebagai manusia, yang dikaruniai dengan akal budi (kecuali kalau tidak merasa dikaruniai lho), yang harus mencarinya. Kalau cuma nulis (Kyk kalimatmu) sieh, anak TK juga bisa.

    djarot harjono berkata:
    28 Agustus 2011 pukul 02:09

    sebenarnya menyikapi ini bagi kami yang dari blitar sangat simple aja pertentangan hanya akan menimbulkan luka apalagi bagi saudara-saudara kita yang dulu sanak saudaranya menjadi korban. Pertentangan kita dalam dunia maya adalah se maya paradigma yang terjadi.
    mungkin temen-temen jika lahir pada tahun 70-80an pastinya setiap tgl 30 September dapat dipastikan akan nonton Film 30S PKI memang tidak ada yang mewajibkan tapi karena hak penyiaran hanya TVRI dan ini masih satu-satunya stasiun yang mendapat ijin dari pemerintah maka ea kita sampai bosen sendiri namun bagi yang sudah mampu menelaah tentunya ada kebohongan publik yang terjadi, dan masing-masing pihak akan membawa pembenarannya masing-masing.
    coba kita telaah sejarah yang anda ikuti mulai anda lahir sampai hari ini masih hidup, secara ekonomi indonesia jaman suharto emang enak karena kebutuhan pokok masih murah tapi tidak dalam pandangan politik kita dan tak dapat di tampik jika orde macam suharto masih terjadi sampean-sampean tidak akan mampu berkomentar dalam internet seperi komentar diatas (pake WASANTARANET-GRUP PT POST tahun 90an tarif internet nembus 15-20 rb perjam dibandingkan dengan harga beras yang cuma 1000-1500 per kilo) mungkin ea kita patut beryukur bahwa bangsa ini mulai ada pencerahan ketika suharto lengser atau lebih tepatnya dilengserkan…..
    kembali ke point sejarah bangsa ini dengan gerakan 30 September ada 2 point pembenaran yang ingin saya sampaikan karena dalam prinsip hidup saya semua orang benar dan tidak ada yang salah…….
    1. Namanya aja politik ea tentunya akan membawa konsekuensi dan tentunya sampean – sampean akan mampu menelaah konsekuensinya itu apa……!
    ketika ada pihak yang tersudut tentu dia akan menghalalkan segala cara, seperti yang pernah saya lakukan ketika naik sepeda motor dan tidak bawa SIM dan dihadapkan pada 2 pilihan DAMAI atau SIDANG, meski kalo damai alamat lima hari harus puasa rokok tentu kita akan milih damai tapi tetep rokokan meski ngutang misalnya………
    begitu juga dengan suharto waktu itu lebih kurangnya seperti itu…..
    2. coba searching di mbah google rata-rata kudeta militer di dunia pangkat dalam ketentaraan para pelakunya apa seperti Fidel Castro, Sadam Husein atau suharto pada masa itu apalagi yang di dalangi militer rata rata adalah setingkat LETKOL yang sudah punya pasukan, jadi indonesia menghadapi kudeta atau pelengseran kekuasaan ea pas jamannya suharto jadi letkol RPKAD kalo jendral jelas ga mungkin wong mereka udah cukup secara finasial meski pada jaman krisis sekalipun ea itulah sejarah. sebagai generasi sekarang yang hanya tau berdasar paradigma semata adalah wajar jika pendapat akan bertentangan so semua terserah anda masih akan terus menghujat atau ber empati atas tragedi bangsa ini…….

    generation blue berkata:
    22 November 2011 pukul 10:29

    Ungkap mana yg lebih kejam PKI ato TNI ?

    NYALANG berkata:
    2 Mei 2012 pukul 16:50

    Indonesia…………Pancasila Sila II: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab??????
    Ratusan ribu nyawa bahkan jutaan nyawa melayang wujud dari saktinya Pancasila???

      Abdul berkata:
      12 September 2012 pukul 18:10

      Kamu kyk Suharto aja, bw2 Pancasila…

    sedarsedjarah berkata:
    1 Agustus 2012 pukul 21:56

    pengin tahu siapa yang salah????, sampeyan-sampeyan mati aja dulu, ntar sampeyan tahu semua…

      Abdul berkata:
      12 September 2012 pukul 18:09

      Kamu duluan ya… Ina lillahi…

    sedarsedjarah berkata:
    1 Agustus 2012 pukul 22:04

    Siapa tahu pada waktu didunia sampeyan duga orang PKI, tp di alam penantian dia hidup enak, karena walaupun secara politis dan duniawi dia anggota PKI tetapi tetapi siapa tahu sewaktu ditebas lehernya menuju kematian dia mengucapkan Laailah ha ilalloh….. wallahu alam…hanya Allah yang tahu…
    Begitupun sebaliknya………

    Tun abdul najib berkata:
    4 Agustus 2013 pukul 01:21

    YANG GOBLOK BUKAN PIHAK MANA ATAU DARI GOLONGAN ATAUPUN KELOMPOK APAPUN.

    TETAPI YANG GOBLOK ADALAH ORANG YANG DENGAN BEGITU GOBLOKNYA TELAH MEMBANTAI ORANG2 YANG TAK BERSALAH.

    SIAPAPUN DIA .YANG PASTI MEMBANTAI ORANG TAK BERSALAH ADALAH ORANG YANG SANGAT2 BODOH DAN JAHAT.

    APAPUN ALASANNYA YANG NAMANYA KEKERASAN HARUSLAH DITIADAKAN.

    MARI GUNAKAN HATI NURANI KITA ADALAH MANUSIA BUKAN BINATANG .

    JIKA BINATANG MEREKA MEMBUNUH ITU UNTUK DIMAKAN SEDANGKAN MANUSIA MEMBUNUH UNTUK APA ?

    AYO TEBAK…!

    YANG JELAS UNTUK APA LAGI KALO BUKAN UNTUK MEMENUHI HASRATNYA UNTUK MEMBUNUH,DAN JUGA KEBENCIANYA TERHADAP MANUSIA YANG LAIN.

    DENGAN DEMIKIAN TERNYATA TIDAKAN MANUSIA ITU LEBIH BODOH DARI PADA BINATANG,DAN TINDAKAN PEMBUNUHAN KARENA KEBENCIAN,NAFSU,JABATAN,UANG,KEKAYAAN,KEKUASAAT,PENGARUH,FAHAM FANATIK SEMPIT.IRI,DENGKI, ITU SANGAN TIDAK MASUK AKAL.PADAHAL DENGAN CARA YANG MANUSIAWI AJA BISA KENAPA HARUS AMBIL JALAN KEBINATANGAN MACAM TU.

    KALO BINATANG SIH MASIH BISA DIMAKLUMI YA.TAPI INI MANUSIA KOK GITU .

    KOK MALAH MASIH MEDING BINATANG YA.

    KALO BINATANG ITU MEMANG BODOH DAN GAK PUNYA AKAL PIKIRAN DAN HATI NURANI YANG ADA HANYA NAFSU &NALURI KEBINATANGAN AJA.
    .INI YANG MANUSIA TERNYATA KOK MALAH LEBIH KEJAM DARI PADA BINATANG.

    APA UDAH PADA BOSAN MENJADI MANUSIA DAN PADA MAU BERTRANSFORMASI MENJADI BINATANG YA.?

    TERNYATA BANGSA INDONESIA ITU LEBIH KEJAM DARI PADA BINATANG.

    MULAI DARI JAMAN KEN AROK,DYAH HALAYUDA,GAJAH MADA,JOKO TINGKIR SAMPAI JAMAN SEKARANG SEJARAH BANGSA INDONESIA TETAP AJA KOTOR DAN JAHAT.ATAU JANGAN2 KEKERASAN & HAL2 KOTOR ITU EMANG UDAH JADI BUDAYA ASLI INDONESIA.

    AAHH MUNGKIN AJA KALEEE.

    YAAAAH MAKLUM LAH KALO SEKARANG INI INDONESIA MENJADI MELARAT DAN RAKYATNYA MENDERITA.

    APA JADINYA KALO INDONESIA BERJAYA DAN MENJADI NEGARA SUPER POWER MACAM AMERIKA TU.!

    BISA-BISA INDONESIA AKAN MENJADI LEBIH BRENGSEK DARI AMERIKA CS YANG SEKARANG BERADA DIATAS PUNCAK KEJAYAAN.

    SEMOGA SAJA ORANG INDONESIA SECEPATNYA SADAR AKAN HAL INI.

    BANGSA INDONESIA JIKA SAYA AMATI MEMANG ANEH BIN AJAIB LIHAT SETUMPUK TAHI DIDEPAN MUKAN SENDIRI TAK TAMPAK TAPI SEMUT DISEBERANG LAUTAN SAMUDRA NAN JAUH TERNYATA LIHAT.

    GILA BENEEEER.

    APA EMANG JAMANNYA UDAH GILA KALEEE .?

    O YA AKU INGAT SAMA LAGU JAWA BUNYINYA GINI” JAMANE JAMAN EDAN NEK GAK EDAAN GAK KEDUMAN”

    YAAAA. ! MUNGKIN INI TEPAT UNTUK MENGGAMBARKAN JAMAN SEKARANG .

    AAAAAAAAAAAAAHHH MASA BODOH…! GUA KAGAK MAU TAHU ,LAGIAN KAGAK ADA UNTUNGNYA JUGA BUAT GUA NGURUSIN INI SEMUA.

    YA SEMUANYA TERSERAH PENDAPAT MASING2 ORANG AJA DEH………..!

    KALO KAGAK SALAH KATA ORANG INGGRIS UP TO YOU………………..!

    imagine berkata:
    18 Agustus 2013 pukul 11:18

    begitulah perang. begitulah revolusi. siapapun yg berkuasa, pasti ada pembantaian dan penindasan terhadap yg dikalahkan. berkaca dari itu, bangsa ini telah belajar, jgn ada lg perang saudara. Siapapun pak Harto sbg pemimpin ORBA, terima kasih telah menyelamatkan bangsa ini dr perang saudara saat Reformasi.

    aji saka berkata:
    2 November 2013 pukul 23:31

    suharto dan pki sama sama somplak

    Orang Indonesia berkata:
    11 November 2013 pukul 14:48

    Apapun yang terjadi setelah Tragedi pada Tahun 1965 itu tetap di Indonesia akan terjadi gejolak. Jika PKI kalah, kita sudah tahu hasil akhirnya seperti yang diceritakan dalam sejarah, sekitar 3 juta anggotanya atau simpatisannya menjadi korban.
    Tetapi jika PKI yang menang dan menguasai Indonesia ? Inilah yang menarik untuk dijadikan asumsi.
    Menurut analisis saya, jika PKI menang di Indonesia maka akan terjadi perang yang besar bahkan jauh lebih besar dibandingkan Perang Vietnam. Seperti kita ketahui bersama dari sejarah, pada era tahun itu kita sedang menghadapi konfrontasi dengan Malaysia yang dibantu Inggris, Australia, Selandia Baru, India dan negara2 persemakmuran lainnya. Pada konfrontasi dengan Malaysia dan sekutunya itu kita masih bisa menandinginya.
    PKI selalu menggembor-gemborkan konfrontasi malaysia itu untuk menarik simpati rakyat Indonesia sehingga banyak sukarelawannya siap dikirim ke Malaysia. Andaikan usaha kudeta PKI berhasil menguasai Indonesia pasti konfrontasi dengan Malaysia dan sekutunya akan terus berlanjut.
    Di satu sisi, Amerika Serikat yang sedang berjuang mati-matian menahan komunis di Asia Tenggara sedang mempersiapkan Armada Ke Tujuhnya untuk menggempur Vietnam. Jika komunis (PKI) yang berjaya di Indonesia, bukan mustahil Amerika Serikat tidak jadi menyerbu Vietnam melainkan akan menggempur Indonesia karena Indonesia dianggap lebih punya nilai penting dibandingkan Vietnam. Sehingga jika PKI yang memegang pemerintahan di Indonesia, kita akan berperang melawan Amerika Serikat, Inggris dan sekutu2 lainnya.
    Memang pada masa2 itu kita sedang bersahabat baik dengan negara2 komunis besar seperti China dan Uni Soviet, sehingga jika negara Indonesia diserang Amerika Serikat dan sekutunya pasti mereka tidak tinggal diam, sehingga akan terjadi perang dashyat layaknya Perang Dunia III. Jika itu terjadi maka Indonesia akan kehilangan banyak rakyatnya karena perang negara2 super power ini terjadi di wilayahnya.
    Ini mungkin yang jadi pemikiran Soeharto, daripada terjadi korban yang jauh lebih banyak, mendingan dikorbankan salah satu saja yakni PKI.
    Maka dari itu Amerika Serikat sangat girang sekali dengan kekalahan PKI dan mereka menganggap kekalahan komunis di Indonesia adalah hadiah terbesar bagi mereka walau mereka mengalami kegagalan dalam membendung komunis di Vietnam.
    Jadi bagaimana pun juga sebusuk apapun cara2 yang dilakukan Soeharto dan antek2nya, tetap mereka berjasa menyelamatkan generasi penerus bangsa ini

    kryptina berkata:
    6 Januari 2014 pukul 16:46

    membunuh manusia dg semena mena. seolah olah mrk yg telah menciptakan manusia.

    kryptina berkata:
    6 Januari 2014 pukul 17:04

    menumpas pki blh saja, tp seharus nya jngn semena mena. malahan bnyk org yg gk bersalah yg ikut jd korban.

    Joyo drono . berkata:
    5 Februari 2014 pukul 10:57

    Menurut saya janganlah ribut-ribut mslh yg udah berlalu kita ini lahir di thn 80-an buat apa di ributkan jangan mikirin nasib orang lain mikirin diri sendiri aja lom mampu malah mau mikirin negara klo mau bela nama baik bangsa dan negara indonesia ciptakan suasana harmonis di lingkungan sendiri dulu baru melangkah ke depan selanjutnya manusia hanya menjalani takdir hidup saja tolong jangan mengungkit-ngungkit yang dulu-dulu kita yang lahir di jaman modernisasi sekarang ini buktinya ente-ente tetep cari makan sendiri dan materi sendiri bukan apa untungnya ngurusin mslh gituan gak ada untungnya bro ingat indonesia dah banyak bencana jangan sampai ente-ente pada kena imbasnya yang tahu adalah org yang lahir tahun 1910-2010 paham ente semua sama orang yang udah pada meninggal termasuk embah dan kakek buyut kita paham bro………..Semoga bangsa indonesia ini di masa selanjutnya menjadi negara yang BALDATUN TOYIBATUN WAROBUN GHOFUR Amin…..( KHUBUL WATON MINAL IMAN – CINTA NEGARA INDONESIA SEBAGIAN DARI PADA IMAN ) PESAN ane tolong BAGI GENERASI MUDA JAMAN SEKARANG KLO BERPIKIR YANG MASUK AKAL SAJA GAK ADA UNTUNGNYA MIKIRIN YANG BUKAN LAGI JAMAN DULU . KITA LAHIR DI JAMAN SEKARANG INI YANG KITA LAKUKAN DAN DI PIKIRKAN BAGAIMANANA CARANYA BIAR NEGARA KITA INI AMAN DAN MAJU ( SUBUR LOH JINAWI TOTO TITI TENTREM KERTO RAHARJO ) INGAT KITA ORANG INDONESIA PUNYA FALSAFAH NEGARA ADA 4 TOLONG SEBARKAN KE SELURUH BANGSA INDONESIA INI DARI SABANG SAMPAI MERAUKE OCCE…( 1. PANCASILA 2. UNDANG-UNDANG DASAR 45 3.BHINNEKA TUNGGAL IKA 4.NKRI ) Klo mmg ente orang indonesia jangan banyak omong paham klo mmg berani omong di muka umum jangan di dunia maya alias internet paham ORANG YANG UDAH MERDEKA ADALAH ORANG YANG UDAH MATI SBB TIDAK URUSAN DI ALAM DUNIA INI LAGI PAHAM APA NDAK ENTE SEMUANYA JADI TOLONG jangan pada mikirin ( MONYET ) Lagi yach gak ada untungnya buat pribadi kita sendiri orang sekarang gak pada mikirin begituan yang di pikirin sekarang adalah EKONOMI bukan hal-hal yang gak ada untungnya paham….!!! ( CIRI-CIRI ORANG YANG CINTA KEPADA NEGARANYA SENDIRI ORANG TERSEBUT GAK BAKAL BANYAK OMONG DAN BANYAK KOMENTAR ) Klo pesan saya gak di sebarkan ke seluruh pelosok negeri indonesia ini berarti kalian ini ( PENGHIANAT ) negara Indonesia yang hanya berlindung di bawah sang saka merah putih paham .

    djoko pro berkata:
    16 Februari 2014 pukul 23:17

    …Pakde saya saat 1966 masih berumur 18 tahun, yang tergabung dalam pemuda ansor, saat itu dia dapat tugas menjaga para tahanan orang-orang yg dicap sebagai PKI di Kec. Bendo Magetan, 8 km dari Madiun, saat itu siapa saja asal sdh di setorkan namanya oleh mbah lurah pasti diangkut para pemuda, bahkan termasuk 16 guru desa, padahal daiantarnya gurunya sendiri, inilah akibat dari Jargon Soeharto ” Gayang PKI sampai keakar-akarnya”, pakde menyaksikan sendiri bagaimana tiap malam ada saja sebagian tahan ini digorok dan dibuang ke sungai…, pakde dimasa tuanya merasa beban mengingat peristiwa saat itu, meski hanya sebagai penjaga tahanan…

      Man berkata:
      3 Maret 2014 pukul 10:04

      Pembunuh balas dhukum bunuh.

    Man berkata:
    3 Maret 2014 pukul 10:02

    Pki oh pki

    IRVAN SAMUEL berkata:
    12 Maret 2014 pukul 01:01

    org indo ternyata lbh kejam drpd hitler, penjajah belanda dan jepang.

    IRVAN SAMUEL berkata:
    12 Maret 2014 pukul 01:03

    sebesar apapun kesalahan org, gk blm dibantai dg semena mena. apalagi kalau blm tentu bersalah.

    IRVAN SAMUEL berkata:
    12 Maret 2014 pukul 01:04

    sebesar apapun kesalahan org, gk blh dibantai dg semena mena. apalagi kalau blm tentu bersalah.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s