Manakah Islam yang sebenarnya?

Di sini Islam, di sana Islam, di mana-mana ada Islam. Tapi, manakah pengertian Islam yang benar? Manakah Islam yang sebenarnya?

Ali Sina mengatakan, “Pelajarilah Alquran, [maka] kamu akan tahu Islam yang sebenarnya!” Benarkah begitu?

Tunggu dulu! Perhatikanlah bahwa mempelajari buku apa pun, tidak hanya Al-Qur’an, akan menghasilkan pengertian yang berlainan di antara orang yang berbeda. Bahkan, pengertian yang diperoleh itu bisa berlawanan.

Untuk contoh sederhana, marilah kita saksikan orang-orang yang telah membaca buku karya Ali Sina, Why I Left Islam (*Mengapa Aku Meninggalkan Islam*). Apakah dari buku tersebut, semua pembacanya memperoleh pelajaran yang sama? Tidak! Pembaca yang pernah merasakan “ketidaknyamanan lantaran Islam” akan cenderung memaklumi mengapa Ali Sina meninggalkan Islam. Namun pembaca yang setiap hari merasakan “kenyamanan di dalam Islam” justru cenderung menganggapnya aneh atau tidak masuk akal. Mereka tidak habis pikir mengapa Ali Sina meninggalkan Islam. Jadi, dari membaca buku Ali Sina itu, pengertian yang ditangkap oleh para pembacanya bisa berlainan dan bahkan bertentangan mengenai mengapa Ali Sina meninggalkan Islam.

Begitu pula terhadap Al-Qur’an atau pun kitab-kitab suci agama lainnya. Pelajaran yang diperoleh pembaca dari kitab suci bisa berlainan, bahkan dapat bertentangan, diantara pembaca yang berbeda.

Dari mempelajari Al-Qur’an, orang-orang Syiah mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang mencintai keluarga Nabi melebihi cinta kepada orang lain.

Dari mempelajari Al-Qur’an, kaum Salafi mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang bersikap dan berperilaku seperti para sahabat Nabi yang telah meneladani Nabi.

Dari mempelajari Al-Qur’an, para teroris yang mengatasnamakan Islam mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang memerangi orang-orang kafir di mana pun.

Dari mempelajari Al-Qur’an, Ali Sina dan para pengikutnya mengatakan juga bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang memerangi orang-orang kafir di mana pun dan kapan pun. (Walau tidak sama persis, pengertian Islam menurut Ali Sina dkk itu sangat mirip dengan pengertian Islam menurut para teroris yang mengatasnamakan Islam.)

Dari mempelajari Al-Qur’an, sejumlah muslim liberal mengatakan bahwa orang-orang Islam yang sebenarnya adalah yang pasrah kepada Tuhannya, apa pun agamanya.

Dari mempelajari Al-Qur’an, aku katakan bahwa Tuhan sajalah yang benar-benar tahu siapa sajakah orang-orang Islam yang sebenarnya. Kita sekarang, di dunia, mungkin saja mengklaim “inilah Islam yang sebenarnya”. Namun klaim manusia bisa saja salah. Kelak di akhiratlah baru dapat kita ketahui dengan pasti, mana sajakah Islam yang sebenarnya.

Oleh karena itu, aku kurang tertarik untuk memperdebatkan manakah Islam yang sebenarnya. Aku lebih suka mengatakan: “Inilah agama yang pasti benar [bagiku].

45 thoughts on “Manakah Islam yang sebenarnya?

  1. kykna klw membaca dan menafsirkan sendri sih emang susah..
    pasti banyak perbeda-an pendapat.
    perlu renungan untuk mengetahui makna sebenarna…

  2. Kalau saya Islam yang benar menurutku adalah ketika itu semakin menjadikan aku orang yang berserah diri sesuai dengan arti islam itu sendiri yang berarrti berserah diri kepadaNYA, jika pemahaman itu bisa menjauhkanku dariNYA maka aku tolak ..just my 2cent

    • Islam itun pasti nggak benar krn ajarannya menjiplak dari Bible dan syariat yg di jalankan itu niru org2 Yahudi

  3. subkhanallah.. Maha Suci Allah Dialah yg tahu mana yg haq mana yg batil, Dia pula yg membolak balikkan hati manusia, Ya Allah, tuntunlah aku agar selalu lurus dalam jalanMu, tetapkanlah iman di hatiku.. agar ku selalu taqwa kepadaMu Amin amin ya rabbal ‘alamin..

  4. Menurut saya islam yang benar adalah dimana nilai dan prilakunya dapat membawa rahmat bagi seluruh makhluk lainya,serta dapat menyatukan semua manusia seluruhnya, tidak dalam perpecahan yang terjadi ,hanya Allah menjadi sandaran Hidupnya dan mampu menepis fitnah-fitnah yang terjadi ,sehingga Din hanya mutlak milik Allah SWT

  5. pertanyaannya bagaimana dengan orang yang berKTPkan islam, tapi dalam kesehariannya jauh dari ajaran islam itu sandiri. mereka hanya menumpang kesenangannya di atas islam.

  6. wao……islam yang sebenarnya adalah mengikuti, alquran, sunah, dan nabi muhammad saw.
    sedangkan umatnya ada juga yang taat dan ada yang tidak padahal sudah sama-sama ikut pengajian, bingung sendiri nih…….

  7. … tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat , kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Alloh menciptakan mereka”.

  8. Ketika kita dekat sama TUHAN kita,
    sangat erat, AGAMA bukan lagi penting, tetapi HUBUNGAN PRIBADI KITA dengan TUHAN yg jauh lebih penting..

    AGAMA hanya sebuah entitas….

  9. Islam yang sebenarnya adalah Al Qur’an dan As Sunnah …. orang Islam yang sebenarnya adalah 1 golongan diantara 73 golongan umat Islam yang ada …. dan juga Al Jamaah ( bukan Ahlul Sunnah wal Jamaah )

  10. sing penting sekarang lebih dekat dengan yang maha kuasa dan menjauhi laranganya…sulit untuk mengatakan seperti itu klo pun ulama besar kayakny tdak bisa memvonis seseorang islam atau bukan…..

  11. Pingback: Alasan Murtad Yang Masuk Akal « Mau Murtad?

  12. coba buka al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 97
    97. Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdullah bin Salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat berada di tempat peristirahatannya. Lalu ia menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku.” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah.
    (Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Anas.)

    Keterangan:
    Menurut Syaikhul Islam al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbari: “Berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan (S. 2: 97) oleh Nabi ini, sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas. Dan inilah yang paling kuat. Di samping itu keterangan lain yang syah, bahwa turunnya ayat ini pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa Abdullah bin Salam.”

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa serombongan kaum Yahudi telah datang menghadap Nabi SAW dan mereka berkata: “Hai abal Qasim! Kami akan menanyakan kepada tuan lima perkara. Apabila tuan memberitahukannya, maka tahulah kami bahwa tuan seorang Nabi.” Selanjutnya hadits itu menyebutkan yang isinya antara lain bahwa mereka bertanya: 1. Apa yang diharamkan bani Israil atas dirinya, 2. tentang tanda-tanda kenabian, 3. tentang petir dan suaranya, 4. tentang bagaimana wanita dapat melahirkan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5. siapa sebenarnya yang memberi kabar dari langit. Dan dalam akhir hadits itu dikatakan mereka berkata: “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah SAW: “Jibril.” Mereka berkata: “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan dan siksaan? Itu musuh kami. Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman dan hujan, tentu lebih baik” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut
    (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i dari Bakr bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada suatu hari Umar datang kepada Yahudi, yang ketika itu sedang membaca Taurat. Ia (Umar) kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an. Ketika itu lalulah Nabi SAW di hadapan mereka. Dan berkatalah Umar kepada Yahudi. “Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku ini dengan sungguh-sungguh dan jujur. Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?” Guru mereka menjawab: “Memang benar kami tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah.” Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?” Mereka menjawab: “Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan “Jibril”. Dialah musuh kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan.” Umar bertanya: “Malaikat siapa yang biasa diutus kepada Nabimu?” Mereka menjawab: “Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat.” Umar bertanya: “Bagaimana kedudukan mereka itu di sisi Tuhannya?” Mereka menjawab: “Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” Umar berkata: “Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril. Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail dan Tuhan mereka akan berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepada Mereka. Dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada Mereka.” Kemudian Umar mengejar Nabi SAW untuk menceriterakan hal itu. Tetapi sesampainya pada Nabi, Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun kepadaku?” Umar menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” Kemudian beliau membaca: “Man kaana ‘aduwwal li Jibrila fainnahu nazzalahu ‘ala qalbika ……sampai al-kaafirin.” Ayat tersebut di atas (S. 2: 97, 98). Umar bekata: “Ya Rasulullah! Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceriterakan apa yang kami percakapkan, tetapi rupanya Allah telah mendahului saya.”
    (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, dalam musnadnya dan Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Syu’bi. Sanad ini shahih sampai as-Syu’bi, hanya as-Syu’bi tidak bertemu dengan Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber selain dari as-Syu’bi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari Umar yang kedua-duanya munqathi karena didalam satu sanad, jika gugur nama seorang raqi, lain dari Shahabi, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan, yakni gugurya berselang. ) 3)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan Umar bin Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasululllah) adalah musuh kami.” Maka berkatalah Umar: “Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97, 98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan Umar.
    (Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim yang bersumber dari Abdurrahman bin Laila. Sumber ini saling menguatkan dengan yang lainnya.)

    Keterangan:
    Menurut Ibnu Jarir sebab-sebab yang diceriterakan dalam hadits-hadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (S. 2. 97, 98).

  13. coba pelajari al-qur’an surat 2:97

    97. Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdullah bin Salam mendengar akan tibanya Rasulullah di saat berada di tempat peristirahatannya. Lalu ia menghadap kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Sesungguhnya saya akan bertanya kepada tuan tentang tiga hal, yang tidak akan ada yang mengetahui jawabannya kecuali seorang Nabi. 1. Apa tanda-tanda pertama hari kiamat, 2. Makanan apa yang pertama-tama dimakan oleh ahli syurga, dan 3. Mengapa si anak menyerupai bapaknya atau kadang-kadang menyerupai ibunya?” Jawab Nabi SAW: “Baru saja Jibril memberitahukan hal ini padaku.” Kata Abdullah bin Salam: “Jibril?” Jawab Rasulullah SAW: “Ya.” Kata Abdullah bin Salam: “Dia itu termasuk malaikat yang termasuk musuh kaum Yahudi.” Lalu Nabi membacakan ayat ini (S. 2: 97) sebagai teguran kepada orang-orang yang memusuhi malaikat pesuruh Allah.
    (Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Anas.)

    Keterangan:
    Menurut Syaikhul Islam al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitab Fathulbari: “Berdasarkan susunan kalimatnya, ayat yang dibacakan (S. 2: 97) oleh Nabi ini, sebagai bantahan kepada kaum Yahudi, dan tidak seharusnya turun bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas. Dan inilah yang paling kuat. Di samping itu keterangan lain yang syah, bahwa turunnya ayat ini pada peristiwa lain, dan bukan pada peristiwa Abdullah bin Salam.”

    Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa serombongan kaum Yahudi telah datang menghadap Nabi SAW dan mereka berkata: “Hai abal Qasim! Kami akan menanyakan kepada tuan lima perkara. Apabila tuan memberitahukannya, maka tahulah kami bahwa tuan seorang Nabi.” Selanjutnya hadits itu menyebutkan yang isinya antara lain bahwa mereka bertanya: 1. Apa yang diharamkan bani Israil atas dirinya, 2. tentang tanda-tanda kenabian, 3. tentang petir dan suaranya, 4. tentang bagaimana wanita dapat melahirkan laki-laki dan dapat juga wanita, dan 5. siapa sebenarnya yang memberi kabar dari langit. Dan dalam akhir hadits itu dikatakan mereka berkata: “Siapa sahabat tuan itu?” yang dijawab oleh Rasulullah SAW: “Jibril.” Mereka berkata: “Apakah Jibril yang biasa menurunkan perang, pembunuhan dan siksaan? Itu musuh kami. Jika tuan mengatakan Mikail yang menurunkan rahmat, tanam-tanaman dan hujan, tentu lebih baik” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97) berkenaan dengan peristiwa tersebut
    (Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan Nasa’i dari Bakr bin Syihab, dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada suatu hari Umar datang kepada Yahudi, yang ketika itu sedang membaca Taurat. Ia (Umar) kaget, karena isinya membenarkan apa yang disebut di dalam Al-Qur’an. Ketika itu lalulah Nabi SAW di hadapan mereka. Dan berkatalah Umar kepada Yahudi. “Aku minta agar engkau menjawab pertanyaanku ini dengan sungguh-sungguh dan jujur. Apakah kamu tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah?” Guru mereka menjawab: “Memang benar kami tahu bahwa sesungguhnya beliau itu Rasulullah.” Umar berkata: “Mengapa kamu tidak mau mengikutinya?” Mereka menjawab: “Ketika kami bertanya tentang penyampai kenabiannya, Muhammad mengatakan “Jibril”. Dialah musuh kami yang menurunkan kekerasan, kekejaman, peperangan dan kecelakaan.” Umar bertanya: “Malaikat siapa yang biasa diutus kepada Nabimu?” Mereka menjawab: “Mikail, yang menurunkan hujan dan rahmat.” Umar bertanya: “Bagaimana kedudukan mereka itu di sisi Tuhannya?” Mereka menjawab: “Yang satu di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.” Umar berkata: “Tidak sepantasnya Jibril memusuhi pengikut Mikail, dan tidak patut Mikail berbuat baik kepada musuh Jibril. Sesungguhnya aku percaya bahwa Jibril, Mikail dan Tuhan mereka akan berbuat baik kepada siapa yang berbuat baik kepada Mereka. Dan akan berperang kepada siapa yang mengumumkan perang kepada Mereka.” Kemudian Umar mengejar Nabi SAW untuk menceriterakan hal itu. Tetapi sesampainya pada Nabi, Nabi SAW bersabda: “Apakah engkau ingin aku bacakan ayat yang baru turun kepadaku?” Umar menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” Kemudian beliau membaca: “Man kaana ‘aduwwal li Jibrila fainnahu nazzalahu ‘ala qalbika ……sampai al-kaafirin.” Ayat tersebut di atas (S. 2: 97, 98). Umar bekata: “Ya Rasulullah! Demi Allah, saya tinggalkan kaum Yahudi tadi dan menghadap tuan justru untuk menceriterakan apa yang kami percakapkan, tetapi rupanya Allah telah mendahului saya.”
    (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih, dalam musnadnya dan Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Syu’bi. Sanad ini shahih sampai as-Syu’bi, hanya as-Syu’bi tidak bertemu dengan Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber selain dari as-Syu’bi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan Qatadah yang bersumber dari Umar yang kedua-duanya munqathi karena didalam satu sanad, jika gugur nama seorang raqi, lain dari Shahabi, atau gugur dua orang rawi yang tidak berdekatan, yakni gugurya berselang. ) 3)

    Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang Yahudi berkata ketika bertemu dengan Umar bin Khaththab: “Sesungguhnya Jibril yang disebut-sebut oleh shahabatmu itu (Rasululllah) adalah musuh kami.” Maka berkatalah Umar: “Barangsiapa yang memusuhi Allah, Malaikat-Nya, para Rasul-Nya, Jibril dan Mikail, sesungguhnya Allah memusuhinya.” Maka turunlah ayat ini (S. 2: 97, 98) bersesuaian dengan apa yang diucapkan Umar.
    (Diriwayatkan oleh Ibnu abi Hatim yang bersumber dari Abdurrahman bin Laila. Sumber ini saling menguatkan dengan yang lainnya.)

    Keterangan:
    Menurut Ibnu Jarir sebab-sebab yang diceriterakan dalam hadits-hadits tersebut di atas merupakan sebab-sebab turunnya ayat ini (S. 2. 97, 98).

  14. Pingback: Murtad karena “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”? « Mau Murtad?

  15. Pingback: Inilah PENGGANTI ISLAM sebagai Agama Menurut Al-Qur’an! | Lowongan Cinta ™

  16. Saya ketika kecil hingga remaja belajar agama kristen dan bersekolah di sekolah kristen. namun ketika dewasa, saya juga belajar agama-agama lain dan keyakinan saya terhadap islam justru menguat dan meyakinkan saya bahwa islam-lah agama yang tepat bagi saya karena hanya islam yang mengajarkan bahwa Tuhan itu Esa, tidak agama lain. Bagi saya itu mempermudah keyakinan saya dibanding ketika saya harus percaya bahwa ada banyak tuhan. Adapun pengamalan sebagai orang islam, menurut saya yang bodoh ini adalah daripada saya menghabiskan umur saya hanya untuk mempertanyakan Islam benar atau Islam salah lebih baik saya menghabiskan waktu dengan berbuat amal kebaikan yang disempurnakan dengan ibadah. Ibadah saja tanpa berbuat amal kebaikan adalah percuma dan sia-sia. Memperbanyak berbuat amal kebaikan dalam Islam, itulah yang saya yakini akan membuat saya punya kesempatan menikmati surga.

  17. Pingback: Marilah kita berserah-diri setotal-totalnya kepada Tuhan! | Lowongan Cinta ™

  18. saya ingat ketika bertamu pada salah seorang yang lulus SMA namun pernah menjadi dosen karena kemampuan intelektualnya yang sangat luar biasa. Beliau bilang, “jika kamu ingin tahu bahwa apa yang kamu yakini itu benar menurut Tuhan, maka panjatlah pohon kelapa tertinggi di kampungmu. Selanjutnya terjunlah dengan kepala dibawah. Tidak hanya kebenaran yang akan kamu temukan, tapi kamu mungkin juga akan bertemu dengan Tuhan”

  19. Pingback: Inilah PENGGANTI ISLAM sebagai Agama Menurut Al-Qur’an! « Teliti Sebelum Memilih

  20. Saya tidak akan mempertanyakan, “Manakah Islam yang sebenarnya?” karena Islam hanya satu. Di dalamnya, terdapat perkara pokok yang satu (yang harus sama, tidak boleh berbeda), dan terdapat pula perkara yang memungkinkan berbeda dan bercabang-cabang. Menyikapi perkara dalam Islam yang bercabang-cabang adalah dengan memilih cabang yang paling kuat. Menyikapi cabang-cabang lain yang masih bersumber dari pokok yang sama, adalah dengan menyebutkan kelemahannya sehingga harus ditinggalkan. Wallahu’alam

  21. Pingback: Murtad karena “kembali ke Al-Qur’an dan Al-Hadits”? « Forum OJT/Magang PT ARUN LNG

Sampaikan Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s