Pernah aku dikritik ketika menyebut “Allah” dalam tulisanku. (Mengapa bukan “Allah SWT”?). Pernah pula aku diolok-olok ketika menyebut “Nabi Muhammad” dalam tulisanku. (Mengapa bukan “Muhammad SAW”?)
Tanggapan M Shodiq Mustika:
Haruskah menyebut Allah dengan “Allah SWT”? Haruskah menuliskan “Nabi Muhammad” dengan “Nabi Muhammad SAW”? (Tidak kelirukah menuliskan singkatan “SWT”, “SAW”, “a.s.”, “r.a.”, dan sebagainya?)
Dalam pengamatanku, Al-Qur’an tidak mengharuskan kita untuk menyebut Allah dengan “Allah SWT”. Aku melihat, ada banyak sekali ayat yang menyebut kata “Allah” saja tanpa tambahan “SWT”. Malah, sebuah ayat menyatakan dengan tegas: “Katakanlah, ‘Allah itu satu’.” (QS al-Ikhlash ayat pertama.) Ayat ini TIDAK berbunyi: “Katakanlah, ‘Allah SWT itu satu’.” Tidak ada ayat yang menyebut “Allah SWT”, bukan?
Sungguhpun demikian, aku tidak bermaksud melarang penambahan kata “SWT” atau “subhaanahuu wa ta’aalaa” dalam menyebut “Allah”. Mungkin saja ada kalanya penambahan ini bagus, khususnya untuk mengingatkan kita akan sifat-sifat Allah.
Dalam pengamatanku pula, Al-Qur’an tidak mengharuskan kita untuk menyebut “Nabi Muhammad” dengan “Muhammad SAW”. Aku melihat, ada ayat yang menyebut nama “Muhammad” begitu saja tanpa tambahan “SAW”. (Lihat QS Muhammad ayat kedua.) Sementara itu, tidak ada ayat yang menyebut “Muhammad SAW”, bukan?
Syahadat kita pun, menurut al-Hadits, demikian:
Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
Wa asyhadu anna muhammadar rasuulullaah
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah.
Memang, dalam kaitannya dengan penyebutan nama Nabi Muhammad SAW, ada sejumlah hadits yang sangat menganjurkan kita untuk bershalawat. Namun dalam pengamatanku, yang disebutkan dalam hadits-hadits tersebut adalah anjuran bershalawat ketika nama beliau disebut. Diantaranya:
Riwayat dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah saw [yang] bersabda: “Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]
Sabda Rasulullah saw: “Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]
Aku belum pernah menjumpai adanya anjuran dari Allah atau pun Nabi Muhammad untuk menambahkan kata “SAW” ketika menyebut nama beliau. (Ada perbedaan antara “ketika disebut” dan “ketika menyebut”, bukan?)
Sungguhpun demikian, aku tidak bermaksud melarang penambahan kata “SAW” atau “shallallaahu ‘alayhi wa sallam” dalam menyebut “Nabi Muhammad” atau “Muhammad Rasulullah”. Mungkin saja ada kalanya penambahan ini bagus, khususnya untuk mengingatkan kita untuk mengucapkan shalawat ketika nama beliau disebut.
Dan Allah sajalah Yang Mahatahu.
yang paling parah adalah jika kita sama sekali tidak pernah menyebut “Muhammad” dan “Allah”
Sepengetahuan saya tidak apa2 menyebut nama Allah Dan Muhammad tanpa imbuhan SWT dan SAW ,yang terpenting menyebutan itu berdasarkan nilai keimanan kepadanya ,tanpa terkecuali..
Memang disaat aku sholat Jumat… Khotib menyampaikan anjuran untuk bersholawat ketika dan saat nama Muhammad disebutkan, tetapi apakah tidak boleh melebihkan dalam penulisan SAW dan SWT dibelakang nama Muhammad dan Allah… atau memang ada aturan penulisan yang baku… menurutku ditambah atau tidak… adalah tidak penting, yang paling penting tahu siapa Muhammad dan siapa Allah…!!!
Waktu kecil sih dikasih tau sama guru agama klo mendengar nama rasulallah, kita langsung mengucap sholawat dan salam untuk beliau
Bismillah…
astaghfirullahhal adzimi….!!!
Hati2 whai saudaraku, demi Allah ana hadir di majelis ini bukan untuk menyampaikan fitnah antar antuma yang ada di wall ini, namun tahukah antuma, bahwa sesungguhnya
“Ustadz yang bernama Muhammad Shodiq” ini adalah seorang missinonaris !!!!!!
Jika antum tidak percaya, Insya Allah dengan rendah hati ana ingin mengajak tabayyun bersama2!!!!
Bermula ketika ana dan singgah ke sebuah Perpustakaan Daerah di kota Medan. Seketika itu ana yang sangat gemar membaca buku2 Islami dan kebetulan saat itu ana mendapati sebuah buku yang berjudul :
“Wahai Para Penghujat Pacaran Islami!”
Karya seseorang yang menamai dirinya dengan “Ustadz Muhammad Shodiq” ini………
Astaghfirullahal adzimi!!!!! buku itu sama seperti buku saku sehingga ana sempat membacanya hingga habis…..
Demi Allah!!!
dan keseluruhan isi buku itu adalah tentang hujatan balasan beliau kepada para ulama ahlussunnah wal jamaah kita yang telah menggariskan bahwasanya tidak diperbolehkannya pacaran dengan model apapun dalam konteks pra-nikah
awal mulanya ana juga tidak menyangka, namun seketika ana teringat pesan ustadz kami Amir Abu Jundul yang pernah memberikan nasihat kepada kami:
“Berhati2lah jika hendak membaca dan menghayati buku2 Islami di luar kitabullah dan kitab induk hadits, karena banyak yang telah dipalsukan dan diselewengkan maknanya, lalu ditafsirkan dan dikembangkan secara semena2 oleh beberapa oknum yang ingin mendangkalkan aqidah umat muslim….”
Oleh karena itu ana langsung mencari tahu tentang siapakah oknum yang bernama Muhammad Shodiq ini….
Ana mendapati dari hasil tabayun ana behwasanya ternyata insan yang bernama M. Shodiq ini adalah seorang missionaris dengan beberapa catatan berbahaya yang pernah diblack-listed oleh sebagian besar kalangan ulama ahlussunnah wal jama’ah.
-Latar belakang asli beliau adalah seorang Pendeta khusus Missionaris.
-Pernah menulis beberapa buku yang menghancurkan aqidah umat islam dengan melampirkan beberapa Hadits palsu. salah satunya beliau berani menafsirkan Ayat Al-Qur an Surah Ar-Ruum:21 “Dan di antaran tanda-tanda kekuasaan-nya adalah diciptaka-nya untukmu pasangan hidup dari jenis mu sendiri supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-nya kasih sayang di antara kamu.sesungguhnya yang demikian menjadi tanda-tanda kebesaran-nya bagi orang yang berfikir.” yang mana ditafsirkan sampai ke hujungnya adalah halalnya berpacaran secara Islami walaupun minimaldengan cara tidak saling menyentuh dan boleh saling memberikan salam dan kata2 mesra dalam wacana telekomunikasi (telfon maupun sms), bahkan sampai jalan berduaan dengan yang bukan mukhrim@… [Naudzubillah min dzalik!!!]
-Pernah dklaim negatif karena ternyata kebanyakan buku karya tulis beliau yang mendangkalkan aqidah itu judulnya dicoba2 dibuat degan judul bahasa arab, namun konteks tata bahasanya salah besar, dan bahkan ada yang sama sekali tidak ada dalam kosa kata bahasa arab!!! Apakah seorang ulama bisa sampai sperti ini???
-Sebagian besar buku karya tulis beliau diterbitkan oleh
“Penerbit Bunda Yurida” yang merupakan penerbit buku2 kristenis!!!!!!
-tak hanya itu ia juga telah berhasil meyakinkan sebagian umat Islam dengan dukungannya terhadap partner penyesatnya yang lain yang bernama:
“Aisha Chuang” di antara buku2nya yang berjudul tahajjud cinta….. yang pada hujung2 buku tersebut akan membawa iman kita u/ memohon2 mendapatkan ridha manusia, dan melupakan Allah…sehingga dengan kata lain semua malam2 yang kita lalui dalam tahajjud akan sia2 dikarenakan niat kita hanya u/ makhluk, lalu hujung2@ juga sama, yaitu membolehkan umat muslim u/ bercumbu dan berzina saat pra-nikah….
-Beliau selalu berkata :”Menurut saya…..Menurut saya….”
itulah yang sebenarnya yang selalu diajarkan kepada seluruh pendeta missionaris, bahwa akal umat islam dapat kita belokkan jika kita dapat merangkaikan metode penyusunan perkataan dengan seksama dan akan terlihat seolah2 logis, lalu mereka tanpa sadar dengan sendirinya akan berpindah dari konsep bahwa :” Seharusnya dalam Islam bila kita tidak menemukan kejelasan dalam Al-Qur an maka pagangan kedua umat Muslim adalah Hadits Shahih yang antara Al-Qur an dan hadits tersebut hanya boleh ditafsirkan oleh beberapa ulama yang telah memenuhi kriteria “Ahlul Mujtahid”…. hanya boleh ditafsirkan oleh beberapa ulama yang telah memenuhi kriteria “Ahlul Mujtahid”…. hanya boleh ditafsirkan oleh beberapa ulama yang telah memenuhi kriteria “Ahlul Mujtahid”….
ana sengaja mengulangi perkataan di atas agar kita umat Muslim tidak mudah terkecoh.. Walaupun pintu ijtihad telah terbuka atas suatu perkara namun tidak semua ulama berhak menafsirkannya semena2…apalagi dengan menggunakan akal yang masih duga2an….”Menurut saya….Menurut saya….” kalau begitu menurut semua orang saja sekalian, kan banyak orang yang masih sehat akalnya di luar sana….
Oleh kerena itulah Imam Syafi’i mengingatkan dan menekankan bahwa dalam menafsirkan Al-Qur an, penggunaan akal untuk media penafsiran adalah peringkat yang ketujuh setelah Ijtihad para ulama… Bukan seorang ulama, apalagi sembarangan ulama… Astaghfirullahal adzim….
-Beliau membelokkan makna Dzikir Pengangungan terhadap ALlah SWT. dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. dengan sedikit melemahkan dan menghilangkan title di belakang asma dan nama tersebut… Alasannya adalah kebanyakan Ayat2 Al-Quran mengatakan begitu dan juga syahadat kita…ini adalah salah satu metode pendangkalan aqidah lainnya…. padahal, bilamana Al-Qur an tidak menerangkan secara detail tentang sebuah permasalahan, maka harusnya Haditslah yang menjadi pegangan untuk penafsiran dalam peringkat yang kedua…. sekarang coba antum bertanya, apakah di dalam Al-Qur an ada penjelasan tentang tata cara mengerjakan Shalat? Tentunya tidak wahai saudaraku, Al-Qur an hanya menegeskan masalah perintah untuk mengerjakan shalat, namun tata cara pelaksanaannya ada dalam penuturan hadits Rasulullah SAW. bukan dari “Menurut saya…Menurut saya…”???
Sadarkah kita umat muslim bahwa pada saat rasulullah SAW. hendak memulai khutbah jum’atnya, malaikat jibril as. memohon agar Baginda SAW. mengaminkan tiga doa jibril as. yang salah satu@ adalah bahwa “Diharamkan bagi seorang muslim untuk masuk syurga bila jika disebutkan atau menyebutkan nama Nabi Muhammad SAW. ia tidak bershalawat dengan mengucapkan pula ‘Sallallahu alaihi wassalam(SAW)’.”
Assif jiddan jika ana banyak menuturkan kebenaran, ana yakin pasti di antara perkataan ana ada yang salah, karena rasulullahpun bernah bersabda bahwa orang yang banyak bicaranya itu akan banyak salahnya… ana tidak memungkiri…. biarlah Allah Yang Maha Mengetahui yang akan menilai ana….
Asalkan aqidah umat Islam terselamatkan…. ana Ikhlas dipersalahkan, bila mulai hari ini, semua saudaraku mulai berlomba dan berhati2 dalam mencari kebenaran….
Ana Uhibbukum fillah…..
“^_^”
COGITO ALLAH SUM . . . . . ! ! ! ! !
Di antara tanda sikap ekstrim yang tampak jelas adalah bersangka buruk terhadap orang lain, sehingga suka melontarkan fitnah atau menuduh tanpa bukti yang kuat (Dr. Yusuf Qardhawi, Islam Ekstrem: Analisis dan Pemecahannya (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 42-46).
ati ati..,
ente hrs terus pantau musuh2 Islam yaa akhi dan terus berikan commentar.
kenapa islam punya musuh..kan seharusnya islam itu rohmatan lil’aalamiin
ISLAM punya musuh…………………!! WOOOOOOOOOOOOOOW.
Pantas aja bunuh sana bunuh sini………!!
Nyadar kalo comen woooooi……….
Jangan bikin malu………..
panjang amat tu….
singkat padat itu yg perlu…..ok!!!
@khasim arrijal,; Saya setuju dgn pendapat anda bhw org ini(M.Shodiq) senga ja menampilkan”hujjah”(argument) yg ingin meremehkan ucapan yg lazim thd Allah subhanahu wa ta’ala(SWT) dan Nabi Muhammad SAW. Ucapan “SWT”itu adalah tanda/sikap kita sebagai “hamba”yg cinta dan mengagungkan Tuhan yg menciptakan seluruh alam ini.Tidak salah lagi bhw org punya niat jelek dalam menjalankan MISSI nya,dan ini memang taktik seorang missionaris yang jika dia terpojok,dgn gampangnya dia berkelit bhw dia seorg “Islam”juga. Apa susahnya sih dgn pura2 mengaku Islam? Berapa banyak org yg mengaku Islam tetapi gak pernah puasa dan shalat? Jadi dari cara seseorg berbicara,kita akan segera tau apakah orang tersebut Islam nya benar atau MUNAFIK!!
@khassim_ar_rijal:
Anda bisa membuktikan dengan jelas dan nyata apakah Ustadz Muhammad Shodiq ini merupakan seorang missionaris?
@ Agung F
Buktinya TIDAK akan ada. Bukti sebaliknyalah yang bisa saya tunjukkan. Antara lain:
1) Seandainya saya seorang missionaris, mustahil saya diangkat menjadi dosen tetap di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1997.
2) Aisha Chuang TIDAK pernah menulis buku yang berjudul “Tahajjud Cinta”. (Silakan periksa di internet dan semua toko buku.)
3) Bunda Yurida TIDAK pernah menerbitkan buku-buku kristiani. (Silakan periksa di internet dan semua toko buku.)
4) …….. (tiga bukti di atas sudah cukup kuat untuk menunjukkan kebohongan kata-kata khassim_ar_rijal.)
Betul Pak, banyak di antara kita yang berprasangka dan menuduh orang lain tanpa bisa menunjukkan bukti yang otentik..
Semoga Allah memaafkan para penyebar fitnah..
jika anda sangat mengenal dan mencintai serta ta’dziman kepada Allah SWT serta Nabi Muhammad SAW, maka anda akan menjawab pertanyaan anda sendiri kenapa dituliskan SWT (Subhanahu wa ta’ala) dan SAW (shollallahu ‘alaihi wa sallam), jika anda sangat mencintai Allah SWT dan beliau SAW, anda tidak akan menulis seperti ini, tapi anda akan menulis yang isinya sangat menganjurkan menuliskan SWT dan SAW, bahkan menuliskan dengan lengkap tanpa menyingkat. jika anda seorang yang dalam ilmu tentang Islam, kenapa tidak memunculkan mahabbah dan ta’dziman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW?? saya tidak mengenal anda, tapi dari tulisan anda ternyata: dengan akal anda, anda hanya jadi diri anda sendiri bukan menjadi ummat Muhammad SAW yang mencintai dan ta’dzim kepada Allah SWT dan Muhammad SAW. Al-Quran itu firman Allah SWT, Dia menyebut nama atau memberikan gelar sesuai kehendakNYA, sedangkan kita menyebutkan atau mendengar sebutan nama mereka sudah secara otomatis atas dasar cinta dan ta’dzim kita akan membacakan subhanahu wa ta’ala atau ‘azza wa jalla atau jalla jalaluh untuk Allah SWT, dan shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk Nabi Muhammad SAW. saya tidak perlu mengambil contoh ketika anda sebagai manusia yang pintar dan berakal menyebut nama presiden atau bapak anda sendiri atau bapak atasan anda tentu sebagai penghormatan anda tidak berani secara naluri menyebut namanya tanpa didahului “bapak” atau YTH dll…, jika anda memang ‘ulama dari barisan Islam yang lurus, ajarkan kami untuk mencintai dan ta’dziman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW, bukan malah mendangkalkan.
@ Ummat Muhammad SAW
Ada banyak cara untuk menunjukkan cinta kita kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Ada kalanya kita perlu menyebut “SAW” (atau pun SWT) secara lengkap, ada kalanya perlu menyingkat, dan ada kalanya pula tidak mencantumkannya diperlukan, tergantung pada situasi (atau konteks) yang kita hadapi. Untuk pertimbangan, aku biasanya berpedoman pada Fiqh Prioritas.
Situasi yang sedang kuhadapi ketika menulis artikel “Haruskah menyebut Nabi Muhammad dengan “Muhammad SAW”?” adalah adanya sejumlah orang yang mewajibkan penulisan “SWT” dan “SAW”. Kalau sebatas menganjurkan, tentunya aku sangat mendukungnya. Tapi karena mereka sudah berlebihan, yakni mewajibkan suatu amal yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka aku merasa berkewajiban mengingatkan mereka. (Alhamdulillah, sebagian besar dari mereka bersedia menerima dakwahku ini. Semoga demikian pula Anda.)
@M Shodiq Mustika
Curiga Tingkat Tinggi..
Pemikiran Sendiri, di Simpulan Sendiri, Di kasih bumbu “Pengamatan saya sendiri” seolah2 ada sesuatu yg disamarkan..
Betul Gak Pak??
Tambahan..
kata-kata ini juga salah satu bentuk kecurigaan Q..
M Shodiq Mustika Berkata: “Untuk pertimbangan, aku biasanya berpedoman pada Fiqh Prioritas.”
Menganalisa Permasalahan Islam hnya berdasar pada 1 sumber yg belum tentu sumber itu bisa di percaya kebenarannya..
Sok Polos, tapi dibalik kepolosan ada berjuta maksud..
bukan begitu Pak..
semua itu kan ‘ EDAR’ dari mulut manusia , manusia sekarang lagi banyak penganut AL nggedabrusiah , so nggak usah terlalu di maknai p.sohdiq biar rin aj sampeyan tulis aj sesuai faham sampeyan , saya pribadi cocok e nggak extrim
Assalamu’alaikum wrb
Kalau di lihat dari tiap susunan kalimat tata bahasa dan kata yg anda tulis , anda termasuk orang yg rendah hati, berhati hati dan sangat teliti dengan tulisan anda, Alhamdulillah …. saya setuju denga pendapat anda …. tahukah anda, dada saya bergetar keras manakala saya membaca tulisan ” jika anda memang ‘ulama dari barisan Islam yang lurus, ajarkan kami untuk mencintai dan ta’dziman kepada Allah SWT dan Muhammad SAW, bukan malah mendangkalkan.” ….. Subhanalloh … di situ tersirat betapa ada unsur kerendahan hati anda yg sangat dalam , … yg selama ini belum pernah saya rasakan , apalagi saya miliki …..
Saya berterima kasih kpd anda , lantaran tulisan anda saya jadi ingat ….. siapa saya , dari mana saya , dan akan ke mana saya …….
Sebagai ganti rasa terima kasih saya teriring Do’a : “” Jazakumulloh khoiroti wasa’adatid dunya walakhiroh “”
InsyaAlloh …. amin … amin … yaa robal’alamin …..
Ping-balik: Tidak Menulis SWT dan SAW = mendangkalkan akidah? | M Shodiq Mustika ™
Setuju Pak Shodiq. Duh, lama gak kesini…
Lebih baik dituliskan. Sebab kalau menulis Muhammad saja, takutnya kesaru sama si Muhammad tetangga saya yang waktu kecilnya gak naik kelas terus kerjaannya, hehehe…
Tapi apakah wajib atau kalau tidak malah mendangkalkan aqidah, well. Kita beragama bukan hanya simbol, tapi juga makna. Dan beberapa orang mungkin lebih mementingkan simbol. Warna warni lebih indah.
Eh, tapi ada gak ya catatan penyebutan SWT dan SAW ini dimulai kapan pada masa siapa. Nabi Muhammad apakah dalam hadist setiap menyebut Allah kemudian dilanjutkan dengan SWT?
Welcome back, Bu Guru. Gimana kabar murid-murid baru? Adakah peningkatan ataukah penurunan kualitas generasi kita?
pak M Shodiq Mustika yg terhormat,,
saya mau tanya nich,,,
akal sama wahyu
lebih didahulukan yang mana???
terima kasih…
@ mantan bidah
Hampir semua ulama menyatakan bahwa wahyulah yang perlu lebih didahulukan daripada akal. Namun, bukan ini yang terutama saya pertanyakan. Pertanyaan inti saya: Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)?
eh anjing lo siapa ribut ama gua tai agama di debat kan dasar tolol bego kepala lo botak jidat urusin ibadah lo yg rusak tai lo
hahahaha…… baru dihujat gitu dah marah2, imannya dangkal juga wkwkwkwkwkwkwk
maksud Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)? apa pak shodiq meragukan keaslian dan kemurnian Al-Qur’an atau pak shodiq mau menyamakan keaslian Al-Qur’an dengan kitab lain???
saya setuju sama ustaz.. tapi saya tidak setuju klo ada orang yang membacanya disingkat SWT / SAW sekaligus..
klo saya salah tolong di koreksi..
Semoga kita bisa selalu berdzikir dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Amiinn
Bismillah….
Ada baiknya kita melihat keseharian kita masing2, apakah kita pernah menyebut atau menuliskan nama seorang manusia dengan Yang Terhormat atau Yang Mulia atau Yang Tercinta atau Yang Terkasih ????nah jawabannya apakah kita direpotkan dengan menyebutkan atau menuliskan Allah Subhaanahuu wa ta’aalaa dengan subhaanahuu wa ta’aalaa atau Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alayhi wa sallam dengan shallallaahu ‘alayhi wa sallam ??????Tolong tanyakan diri kita masing2….
Maaf kalo ada kata2 yang salah tolong di koreksi, saya pemula dan hanya ingin belajar lebih jauh tentang agama islam…..
MENGAPA UNTUK SHALAT JUMAT TIDAK ADA ADZAN KE DUA PADAHAL ITU SEMUA TIDAK MENJADI PERBEDAAN DIKALANGAN UMAT ISLAM ITU SENDIRI.LEBIH BAIK SEPRTI ITU BILAMANA MASIH BANYAK PROKONTRA ANTARA UMAT ISLAM KHUSUSNYA.
Jangan suka mempeributkan masalah Adzan , karena Adzan berapa kalipun sebenarnya bagiku no problem , apalagi Adzan itu ada di Masjid kan ? mau satu … monggo, mau dua … monggo , sedang di luar masjid aja ketika anakku baru lahir aku adzanin ….. bahkan ketika masuk hutanpun aku Adzan …… Apakah menurut anda maknah Adzan itu hanya sebatas panggilan Sholat ?
Tentu tidak kan , karena Adzan adalah kalimah Toyyibah , kapanpun anda ucapkan , di manapun anda bisikkan tentu sah sah saja sebatas tidak mengganggu orang lain .
Bpk.Samsul { Arema} yth.
Mengenai azan itu adalah kalimah toyyibah adalah benar, tapi segala sesuatu ada aturannya. Azan adalah panggilan untuk solat, al-Qur’an juga isinya kalimah Toyyibah karena wahyu Allah SWT. Tapi kalau di wc bacanya… kan jadi tidak tepat. Marilah kita sama-2 belajar dan lebih mendalami ajaran Islam.
Tambahan:
Segala sesuatu amalan yang kita jalani hendaknya ada tuntunannya, baik itu al-Qur’an atau pun al Hadist. Karena kalau tidak ada dasar hukumnya berarti pekerjaan sia-sia atau malah ajakan syetan.
Riwayat dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah saw [yang] bersabda: “Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]
Sabda Rasulullah saw: “Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bershalawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]
tolong d jelaskan maksud dari hadist tersebut. .
Allah yang maha mengetahui, semoga kita dibimbing agar selalu berada di jalan-Nya.
isi buku itu adalah tentang hujatan balasan beliau kepada para
yang paling parah adalah jika kita sama sekali tidak pernah menyebut “Muhammad” dan “Allah”
salam kenal buat semuany
ayo semangat jalani hidup
selamat jalani hidup
Allah yang maha mengetahui, semoga kita dibimbing agar selalu berada di jalan-Nya.
makasih dengan artikelnya yang menambah pengetahuan saya mas shodiq
siapapun anda, siapapun kita,, harus adil dalam menyikapi permasalahan. bukan asal lempar “pendapat saya..”, karena agama adalah ajaran yang kita warisi, bukan bikinan kita.. bukan asal merujuk ke “fiqih prioritas..” , yang terkesan seolah-olah asal merujuk saja dan kagak nyambung. memang kitab “fiqih prioritas” membahas masalah iniii???? semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua. aamiiin 700x
namun juga jangan terlalu membabi buta menyatakan , bahwa menulis lafadz “ALLAH” tanpa menuliskan SWT, atau lafadz “MUHAMMAD SAW” tanpa SAW; adalh pendangkalan aqidah.. jangan berlebihan!!!!. Allah tidak suka mereka yang berlebih-lebihan, ghuluw. halakal mutanaththi’uun. telah hancur orang-orang yang berlebih-lebihan mendetail-detailkan masalah. permudahlah dalam berdakwah… janganlah engkau mempersulit.. berilah berita gembira..dan jangan membuat mereka lari meninggalkan dakwahmu.
shalawat kita, disaat mendengar nama beliau disebut, adalah doa kita untuk beliau. agar tetap kita manganggapnya sebagai hamba Allah, dan bukan beliau saw sebagai tempat meminta kita. Allah saja tempat meminta kita. shalawat adalah doa kita sebagai rasa syukur dan balas budi terhadap beliau yang amat peduli akan kita, berat sekali terasa olehnya penderitaan kita, amat sangat menginginkan keselamatan kita, dan menyayangi, menyantuni orang-orang yang beriman. bukankah beliau saw telah habiskan umur, harta dan segalannya untuk keselamatan kita…? maka pantaslah kita ucapkan “shallallahu ‘alaihi wa sallam. wallahu a’alam”.
tidak ada nash pengharaman syurga, terhadap orang yang disebut disisinya nama Nabi Muhammad saw, lantas tiada bershalawat untuk beliau. kata-kata “mahruum” tidak harus diartikan haram dari syurga. mahrum artinya tidak mendapatkan banyak kebaikan.
luculah adanya jika malaikat Jibril as berdoa agar orang yang tiada bershalawat saat mendengar nama Nabi saw disebut itu, tidak masuk syurga. lebih lucu lagi jika seperti itu di aminin oleh Baginda Nabi saw. tolong dicek redksi haditsnya dulu” jangan asal..!! bicara vonis haram syurga kok asal??/ ngawur juga.. tobat semua deeh.. astaghfirullahl ‘adhziim.. wa atuubu ilaih..
SOAL ADZAN KEDUA DALAM SHALAT JUM’AT…
ADZAN SEKALI ATAU DUA KALI TIDAK ADA SALAHNYA. ADZAN SEKALI KARENA ITULAH TELADAN NABI SAW. ADZAN KEDUA TELADAN SHAHABAT BELIAU SAW. UTSMAN BIN AFFAN RA. YANG DEMI MELIHAT KESIBUKAN ORANG-ORANG DI PASAR.. AKHIRNYA MOLOR UNTUK DATANG JUMATAN, MAKA PERLU TAMBAHAN ADZAN AWAL AGAR ORANG SEGERA DATANG. TOH KITA JUGA DIPERINTAHKAN OLEH BELIAU SAW UNTUK MENGIKUTI TELADAN SHAHABAT KHULAAUR ROSYIDIN. JAMAN SEKARANG JUGA BANYAK YANG MOLOR UNTUK DATANG JUMATAN. SILAKAN ADAAN SEKALI ATAU DUA KALI. TIDAKLAH MENGAPA.. JAGANLAH KERUKUNAN KITA. WASSALAMU ‘ALAA MANIT TABA’AL HUDA. WALLAHU A’LAM
EDISI TER EDIT PLUS TAMBAHAN
SOAL ADZAN KEDUA DALAM SHALAT JUM’AT…
ADZAN SEKALI ATAU DUA KALI TIDAK ADA SALAHNYA. ADZAN SEKALI KARENA ITULAH TELADAN NABI SAW.TAMBAHAN ADZAN DI AWAL, ADALAH TELADAN SHAHABAT BELIAU SAW. UTSMAN BIN AFFAN RA. YANG DEMI MELIHAT KESIBUKAN ORANG-ORANG DI PASAR.. AKHIRNYA MOLOR UNTUK DATANG JUMATAN, MAKA PERLU TAMBAHAN ADZAN AWAL AGAR ORANG SEGERA DATANG. TOH KITA JUGA DIPERINTAHKAN OLEH BELIAU SAW UNTUK MENGIKUTI TELADAN SHAHABAT KHULAFAUR ROSYIDIN. JAMAN SEKARANG JUGA BANYAK YANG MOLOR UNTUK DATANG JUMATAN. MAKA UNTUK DAERAH YANG SUKA MOLOR LEBIH BAIK DITAMBAH DI AWALNYA ADZAN UNTUK PEMBERITAHUAN AKAN JUMATAN. ADZAN AWAL DAN BUKAN DENGAN BACAAN ALQURAN.. MAKA INTINYA YA SILAKAN ADZAN SEKALI ATAU DUA KALI. TIDAKLAH MENGAPA.. JAGALAH KERUKUNAN KITA. WASSALAMU ‘ALAA MANIT TABA’AL HUDA. WALLAHU A’LAM
TULISAN “SWT” DAN “SAW”.. SETUJU TIDAK SETUJU ITULAH TULISAN YANG SERING KITA JUMPAI. KITA JANGAN MEMBACANYA “ES WE TE” DAN JANGAN “ES A WE”. TAPI BACALAH DENGAN KEPANJANGANNYA SAJA. “SUBHAANAHU WA TA’ALA, SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM”. WALLAHU A’ALAM. UNTUK TAMBAHAN KONSULTASI CALL OR SMS MY HP. 08123414172 . GRATIS!! MAKSUDNYA, GA PAKE PULSA PREMIUM. NORMAL.
PENULISAN “SWT” ATAU “SUBHAANHU WA TA’ALA” USAI LAFADZ “ALLAH” ADALAH ADAB. BUKAN ATURAN BAKU. BISA SAJA “ALLAH SWT, ATAU ALLAH AZZA WA JALLA, ATAU ALLAH YANG MAHA PENGASIH, ATAU ALLAH YANG MAHA AGUNG.. ALLAH YANG MAHA ESA…” ASAL YANG DISEBUTKAN ADALAH SIFAT DARI SIFAT-SIFAT ALLAH.
SHALAWAT MEMANG DIPERINTAHKAN. TAPI TIDAK UNTUK SETIAP SAAT KEWAJIBANNYA. ADA SAATNYA WAJIB ADA SAATNYA ADAB.
WALLAHU A’ALAM.
Ya silakan semua berpendapat tp alangkah baiknya klo kita berpendapat itu berdasar tidak asal ungkap saja kan kita semua tau bahwa yg menjadi undang2 kita agama islam adalah qur’an dan alhadis oleh karena itu berpegang teguhlah pada tali agama allah SWT. mudah2an kita selalu ada dalam bimbingannya Amiiin
Jika benar anda bukan seorang missionaris, maka tidak penting untuk menulis artikel-artikel yang kontrakdiktif..di zaman Bani Abbasiyah, orang seperti anda sudah di pancung….sayangnya saya tidak bermaksud menyudutkan anda….hanya saja, tulislah artikel2 yang mengarah kepada perubahan akidah….kembali kan umat islam kepada titahnya…trims..salam saya dari aceh…
kentara sekali kedangkalan aqidah “M Shodiq Mustika” dan ia mencoba berupaya mendangkalkan aqidah kaum muslimin
orang bodoh berkomentar tanpa ilmu, kalau tidak tau ilmunya kenapa dilarng memanggil muhammad, maka tanyakan, bukan malah memakai akal itu menyesatkan orang lain
Masalah SWT dan SAW hanyalah persoalan gelar, mirip gelar kesarjanaan misalnya ST (Sarjana Teknik), dr (Dokter), S.sos (Sarjana sosial) atau P.hd (Phylosophy of doctor). Dan tidak selamanya seseorang yang punya gelar harus disertakan nama gelarnya ketika memanggilnya atau ketika menuliskan namanya. Jadi Allah SWT atau Muhammad SAW adalah panggilan resmi kepada “dwi in one” tersebut. Bahkan nantinya anda akan melepaskan gelar tersebut ketika anda benar-benar dekat dengan “diri Muhammad”, ketika anda bersahabat dengan “Diri Allah”. Panggilan nonformal justeru pertanda kedekatan kita kepada seseorang. Saya punya seorang sahabat yang bernama dr. Hasdianto yang justeru marah ketika saya memanggilnya “hei pak dokter”. dia lebih senang ketika saya memanggil nama kecilnya “hei Adding”. Kalau anda telusuri saat-saat ketika “Ahmad” ngambek saat disebut Allah tanpa gelar SWT atau ketika Ia dipanggil tanpa SAW sebenarnya adalah situasi-situasi resmi dimana ketika itu ada orang-orang yang belum mengenal siapa Allah itu atau siapa Muhammad sebenarnya. Ditiadakannya gelar tidak akan menghilangkan identitas. Walaupun anda menghilangkan ST tidak membuat orang yang bersangkutan kehilangan keahliannya di bidang teknologi misalnya. Dengan menyeruNya tanpa SWT tidak akan menghilangkan “Kemahasucian dan Kemahatinggian” Tuhan. Tanpa SAW tidak akan mencopot “Keselamatan dan kemampuan untuk mengajarkan Keselamatan) pada diri Ahmad. Panggillah Dia dengan nama yang membuatmu dekat kepadaNya, sapalah Ahmad dengan sebutan yang membuat anda merasa sehati dengannya. Dan tetap hargailah “Mereka Berdua” saat memperkenalkannya kepada orang-orang yang tidak mengenalnya, ketika berada di situasi yang resmi. Sang Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono bahkan senang dipanggil Pak SBY. Dia bangga dengan nama SBY. Apalah arti sebuah nama kata Shakespare. Yang penting adalah diri Anda, apakah anda berkawan dengan Muhammad, apakah anda bersahabat dengan Allah. Kalau Anda bersahabat dengan Allah bahkan ketika memanggilnya dengan nama “Baco” pun Dia akan tersenyum simpul!.
Yang penting niat dan Imannya…jadi tanyakan pada diri kita masing-masing
Nabi muhamad tidak bisa disama2 kan dengan yang lainya !!! beliaulah satu-satunya orang mulia di dunia ini yang mendapat gelar ” Al amin “, dan Allah adalah sang pencipta jagat raya seisinya dan maha segalanya,,, Gelar-gelar yang deberikan oleh lembaga dimanapun ga ada bandinganya dengan yang dimiliki nabi muhamad apalagi dengan “sifat kemahaan” yang dimiliki Allah.sebaiknya kalo belajar cari pendamping guru yang berilmu jangan cuma asal baca artikel kemudian memutar otak sendiri dan menyimpulkanya, picik sekali…
Promo Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik Indonesia
selamat sob rame ya
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan sampaikanlah salam penghormatan kepadanya.” [QS. Al-Ahzab: 56]
kya nye nyeleneh neh org…ati2 blajar dari internet..org2 kafir bnyak yg berkeliaran yg mengatasnamakan islam….
Bkalan gali lbang kubur sendiri nih org…
Asalamu’alaikum,….
Islam adalah agama yang indah dan tidak punya musuh,..
tapi
Islam yang selalu dimusuhi oleh penganut agam lain,..
karena Islam dianggap sebagai agama yang merusak keyakinan mereka
Mugkin mereka belum tau aja klo sebenarnya islam adalah agama penyempurna dari agama2 alloh sebelumnya.
Mari kita berdo’a semoga mereka yang memusuhi Islam segera menyadari hal tsb.
Wassalamu’alaikum
Bismillahirrahmanirrahiim
Assalamu’alaikumm Wr Wb
Untuk saudara sadiq, belajar lebih banyak Al-Qur’an dan Al-Hadist sebelum menulis artikel,
Bicaralah semasa masih bisa bicara, yang jelas apa yang dibicarakan jangan sampai menghujat Allah SWT dan RasulNya Muhammad SAW, sesungguhnya kata yang keluar dari lisan mu, akan kamu pertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT, dan perlu kamu ingat maut menanti mu dan setelah itu kamu tidak akan pernah bisa bicara lagi
semoga bermanfaat
Wassalam
Aneh.
tergantung kadarnya
Kalau kita mengikuti anjuran nabi sendiri ya memang begitu tidak ada kata sayyidina dan beliau tidak mau di panggil sayyidina. Kalau anda memanggilnya dengan menambahkan sayyidina berarti anda tidak mengikuti sunnah nabi. Wallhahualam -sumber hadist tentang membaca sholawat ketika sholat -