Dalam berdakwah, hampir tak pernah aku mengatakan “Menurut Allah SWT, …” atau pun “Menurut Rasulullah SAW, …” Sebab, aku hanya berusaha jujur. Sejujurnya, aku tidak tahu pasti apa yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Allah dalam firman-Nya dan oleh Rasulullah dalam sabda beliau. (Lihat artikel “Pencari Kebenaran Agama Yang Jujur” dan “Mampukah kita memahami Al-Qur’an (dan kitab lainnya)?“) Oleh karena itu, aku biasanya mengatakan, “Menurut saya, …” Salahkah berdakwah dengan cara jujur begini?
Nggak ada yang salah, pak Shodiq. Hanya saja, alangkah baiknya jika frasa “Menurut saya….” di”upgrade” sedikit menjadi misalnya: “Menurut apa yang saya baca….”, “Menurut apa yang saya pelajari……”. “Menurut apa yang saya tafsirkan…..”, “Menurut apa yang saya interpretasikan….” dan sebagainya agar mengurangi potensi kesalahfahaman, karena ini menurut saya pribadi jikalau hanya “Menurut saya….” berpotensi untuk mengundang kesalahfahaman seolah-olah apa yang didakwahkan pak Shodiq nanti disangkanya murni pemikiran pak Shodiq bukan berdasarkan Al-Quran. However, it is just a suggestion, of course it has always been your privilege to turn it down!
@ Yari NK
Thank you. Semoga kita bisa sering-sering mengamalkan saran mas Yari ini.
ADA saatnya kita mengatakan.. “MENURUT ALLAH” , jika hal yang kita sebutkan itu benar-benar dari ALLAH secara nash. artinya jelas-jelas tersebut dalam Al Quran atau hadits yang shahih dan pemahaman tersebut tidak ada bias. to the point. jika dalam hal-hal yang merupakan pemahaman terhadap al quran ataupun hadits yang mungkin membawa makna bias.., kita merujuk dulu kepada pendapat mereka yang telah mempunyai otoritas besar dalam memahami al Quran atau hadits nabi saw. tidak mudah kita berkata, “menurut saya”! sebaiknya kita merujuk saja. menurut Imam Ibnu Katsir,,, atau menurut Imam Syafii dst. dalam hal-hal tertentu… boleh aja “menurut saya” tapi kita harus sadar bahwa agama ini warisan. bukan karangan. kita tdk boleh mengada-ada dalam hal-hal paten agama ini. wallahu a’alam
gan kita.
sudah tepat, adalah benar jika kita berdakwah HANYA berdasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah…
@ bolehngeblog
Mungkin Anda salah paham.
Masalahnya bukanlah “berdasarkan pada apa saja”, melainkan “apakah yang kita sampaikan sudah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya”. Mungkin saja ada orang yang mengklaim bahwa dia “berdasarkan hanya pada Al-Qur’an dan al-Hadits”, padahal pemahamannya TIDAK sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya.
hati-hati dengan artikel ini bagi umat muslim yang belum paham tentang agama,,, bertanyalah kalian pada ustadz-ustadz yg terpercaya…
kebanyakan ustadz itu cuma lulusan SMP bung. hanya bisa baca ali-ba-ta aja ??
Ya, salah
Bukankah para rasul telah menerangkan maksud dari perkataan Allah?
Kemudian diteruskan para sahabat sampai akhirnya menjadi buku tafsir?
Anda bukan ustad kalau gak pernah baca buku tafsir Ibnu Katsir dan ulama besar lainnya.
Bukankah Imam Bukhari sudah merangkum hadis kemudian para ulama telah menerangkannya dengan gamblang??
Ustad seperti apa anda jika belum pernah membaca fathul bari?
apakah anda hanya menggunakan akal yang lemah untuk menafsirkan perkataan yang maha kuasa?? Memang sebagaian gampang tuk diterjemah alias gampang mendapatkan maksud yang diinginkan, tapi sebgaimana Allah pun mengatakan dalam salah satu ayatnya (kalau tidak salah di surat Al-A’raf)
“dan beberapa ayat mutasyabihat (tidak jelas maknanya), maka dan tidak lah yang mengetahui maksudnya kecuali Allah, dan orang-orang yang berilmu mengatakan ini dari Allah” silahkan liat tafsir mengenai ayat ini di tafsir ibnu katsir
(jangan membuka tafsir misbah!!)
kecuali setelah anda banyak belajar kemudian ditanya tentang sesuatau yang anda tidak ketahui maka diam itu lebih baik, atau seperti perkataan bernada fatwa anda.
komentar anda koq kayak ustadz aja bung???
mana sudah berani menyalahkan org lain lagi!! ckckckck….
hebat juga anda ya…??? hahahahha
hehehe, ya gak papa kan
selama berkata di atas ilmu
soalnya ini yang saya pelajari di pesantren
kalo memang ada yang salah mohon dikoreksi juga
oh iya
ayat diatas itu di surat Al-imron ayat2 awal
klo kita berpegang pada al-Quran dan alhadis insya Allah Aman,… ^_^
bahaya banget nich orang….sudah di tetapkan dan di jelaskan segala ketentuan2 dan urusan2 serta penyelesaiannya di Al-Quran dan As-Sunnah…masih mau ngorek2 lagi pake penyelesaian dan penjabaran jalur yang lain
sip gan sangat bermanfaat
waduh ribet juga nieh yg di bahas soal nya yg kalian bahas ini adalah panduan manusia untuk memfungsikan diri sebagai mana ketetapan Nya.saya ingatin aja kalau kalian pengen memahami nya. satu syarat yg harus nada ta atti.lepas kan pikiran anda dari semua belenggu,aturan saran dan juga pengetahuan yg di buat oleh manusia,kalau anda ingin penjelasan tentang ayat carilah di dalam kataballah
jangan menurut ustad guru atau kiya i,karna alqur an adalah ahsanul haddist
sut udh jngn pd debat ak tkut ahir ny sltrhim umat islam renggang
NB.kalau mau brtanya tntang agma?pd ahli agma…jngn k dokter hewan..ha