Pacaran

Curhat: Cerita Cinta Ironis antara Ariel & Anak Gadisku

Posted on Updated on

Barusan aku jumpai sebuah catatan harian yang bagus banget dari seorang blogger di WordPress.com. Isinya sebuah kisah nyata yang baru saja berlangsung. Cerita cintanya yang terasa ironis, ternyata terkait dengan Ariel Peterpan dan anak gadisnya. Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah cinta tersebut. Syukurlah aku sudah diberi izin untuk copy-paste di sini. Jadi, kita bisa menikmatinya di sini. Asyik, ‘kan?

Baca entri selengkapnya »

Konsultasi: Sudah 6 tahun pacaran masih belum direstui Ibu

Posted on Updated on

konsultasi cinta | pacaran jarak jauh | hubungan pranikah | cinta sejati | restu orangtua | ridha ibu | poligami

Baca entri selengkapnya »

Konsultasi: Ingin Nikah Islami Tapi Keluarga Si Dia Ingin Secara Adat

Posted on Updated on

Ibu Emmy yth., saya gadis (26 tahun), keturunan suku Jawa yang tinggal di kota B, alhamdulillah baru saja diterima sebagai PNS. Keluarga saya sangat menjunjung tinggi nilai agama atau sangat religius. Kini saya tengah menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki, sebut saja I yang juga orang Jawa tulen.
Hubungan kami sudah berjalan selama 2 tahun. Kedua orangtua kami sudah saling tahu dan menyetujuinya. Meski begitu mereka belum pernah bertemu, hanya berkirim salam melalui saya atau I.

Akhir-akhir ini, kami saya dan I tengah merencanakan pernikahan, namun kami menemui masalah yang cukup besar bagi saya. Ketika I mengemukakan niatnya kepada orang tuanya, mereka setuju, tapi dengan syarat memakai tata cara pernikahan adat Jawa lengkap.

Sejujurnya, saya pribadi tidak setuju dengan persyaratan itu. Bayangkan Bu, saya yang pakai jilbab harus melakukan urut-urutan tata cara pernikahan yang saya rasa tidak praktis. Sementara keluarga saya pun menginginkan yang serba ‘simple’ yang penting sesuai dengan syari’at Islam. Seperti pernikahan kakak, yang hanya ijab qabul dan walimahan sederhana.

Orang tua saya kecewa, mendengar jawaban I ketika ditanya masalah kebenaran keinginan keluarganya dan seberapa usahanya untuk mengusahakan untuk memakai acara pernikahan secara islami saja. Sejak itu, orang tua berbalik menjadi tidak suka dengan I dan malah menawari saya pria lain pilihannya. Tentu saja saya menolak. Saat ini saya merasa bingung dan sedih, sebab I terkesan kurang peduli dengan masalah ini. Tampaknya, ia tidak tegas dan tidak berani mengutarakan secara gamblang menyampaikan masalah ini kepada orangtuanya.

Dia merasa masih bergantung pada orang tuanya, sehingga bila melawan mereka bisa sulit baginya untuk mencari nafkah. Karena terlalu bingung, pernah ia mengajak saya untuk kawin lari. Saya tidak mau, saya ingin menikah secara baik-baik. Mohon saran dari ibu, agar saya bisa mendapat jalan keluar yang bisa diterima semua pihak. Terima kasih dan jazakumullah. Amin.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Nona, di kota B

Jawaban Bu Emmy di Suara Muhammadiyah:

Wa’alaikumsalam wr. wb.

Nona yang baik, masa pacaran adalah masa yang tepat untuk saling mengenal masing-masing pribadi. Masalah demi masalah yang datang selama masa itu dapat dijadikan acuan, mengenai bagaimana sebenarnya sosok kepribadian calon pasangan hidup kita. Di saat ia harus membuat keputusan penting, Anda akan tahu bagaimana cara ia memandang suatu permasalahan, seberapa tegas ia mampu mengomunikasikan ide dan gagasannya, dan bisakah ia menyusun skala prioritas dalam hidup. Namun, seringkali perempuan mengabaikannya, karena memang itu semua tak langsung berkaitan dengan ekspresi rasa cinta. Bahkan malah sibuk dengan masalah bagaimana kemampuan pacarnya untuk menyenangkan dirinya dengan perhatian, kata-kata lembut nan romantis dan kesediaan untuk mengantar ke sana ke mari, layaknya sopir saja.

Bila seseorang sudah beranjak dari keinginan pacaran ke tahap perkawinan, sebaiknya sudah fokus pada kriteria suami yang ideal untuk diri Anda. Meski tiap perempuan berbeda, namun ada kriteria dasar yang perlu diperlihatkan dalam bentuk perilaku yang kongkrit. Misalnya, tanggung jawab. Yang diharapkan muncul pada perilaku pacar, yang dapat dijadikan tolok ukur tentang tanggung jawabnya. Perempuan seperti anda, akan meletakkan tanggung jawab bukan sekedar pemenuhan nafkah saja, sebab anda juga bisa cari uang sendiri. Kriteria pertama, suami bisa menerima kenyataan bahwa anda bekerja. Maka ia kelak akan bisa menerima Anda untuk bekerja.

Bicara masalah kawin, memang peran keluarga suami akan mengemuka. Bagaimanapun kita tidak bisa menghilangkan silaturahmi anak dengan orangtuanya. Tapi, bila ia amat tergantung pada orang tuanya, apalagi belum bisa mandiri secara keuangan, maka konsekuensinya ia akan memiliki ketaatan yang tinggi pada bapak-ibunya.

Nah, pada diri Nona yang sudah dibiasakan untuk bertanggung jawab atas apa pun pilihan dalam hidup anda, bila kemudian harus bersatu dengan I, maka akan ada kesenjangan yang perlu dijembatani, bukan? Tentu ini bukan sebagai alasan untuk putus, karena pasangan yang 100% akan sesuai dengan kebutuhan tak akan pernah ada. Setidaknya kesenjangan bisa teratasi dengan adanya toleransi, kerjasama dan saling pengertian yang bersumber pada cinta berdua. Maka, jujurlah menilai, apakah selama 2 tahun berhubungan ia berkembang ke arah kedewasaan dan kemandirian, atau tidak? Makin kita jujur bertanya dan mencari jawaban, akan semakin besar peluang keberhasilan dalam menjalani perkawinan.

Dalam masalah rencana perkawinan Nona, perlu diketahui sebelum I putus asa, apa saja yang sudah dilakukan ketika menyampaikan kepada orangtuanya tentang keinginan keluarga Nona. Bila menurut anda belum maksimal, tidak ada salahnya Nona yang sudah kenal keluarganya, mencoba bicara langsung kepada calon mertua dan menjajagi peluang untuk misalnya tidak memakai adat, atau boleh pakai adat Jawa, tapi minus siraman mengingat Nona ingin tetap pakai jilbab. Bila Nona tahu bagaimana sikap dari calon mertua yang sebenarnya, maka untuk membuat keputusan untuk tetap lanjut atau putus dengan calon akan lebih baik kualitasnya.

Jangan lupa minta petunjuk dari Allah agar diberi pilihan yang terbaik untuk Nona. Saya doakan semoga Nona dan calon punya kesabaran dan keberanian untuk bisa saling menjembatani keinginan keluarga masing-masing. Amin.l

Awas! Penipuan berkedok Ta’aruf

Posted on Updated on

Yth Bapak Muh Shodiq, Saya adalah anggota milis taa’ruf network, saya ingin memberi masukan dan berbagi cerita. Beberapa waktu lalu, saya berkenalan dengan Sdr. HA via milis yang Bapak pimpin, kita melakukan proses ta’aruf pada bulan Juli dan akhirnya memutuskan menikah pada bulan Oktober tanggal 4 2009. Awalnya saya merasa bersyukur dan Alhamdulilah mendapatkan calon suami melalui milis ini, karena saya berharap melalui milis ini saya akan mendapatkan suami yang soleh dan bertanggung jawab. TETAPI tanpa sepengatahuan saya, ternyata suami saya tersebut MENIKAH LAGI dengan calon istri yang berasal dari P pada tanggal 9 Oktober tahun 2009, dan yang membuat saya Hancur serta sakit hati istrinya tersebut pun merupakan anggota milis ini yang bernama L. sungguh saya sangat terpukul Pak. dan merasa di khianati. ternyata istrinya yang di P tersebut pun di bohongi juga karena dia tidak tau ternyata HA telah menikah dengan saya. Satu lagi kebusukan dia Pak, ternyata sebelum menikah dengan saya dan L, HA masih mempunyai istri yang beralamat di C dan masih sah menjadi istrinya.

Untuk informasi Bapak, HA juga aktif mengisi forum-forum keagamaan di milis ini.

Saya berharap dengan kejadian ini, semoga Bapak sebagai Moderator lebih berhati-hati dari ulah lelaki yang tidak bertanggung jawab seperti ini, dan agar tidak ada saya dan L-L lainnya.

Mohon Bapak dapat menjaga kerahasian identitas saya. Demikianlah curahan hati saya, agar semua dapat mengambil hikmah dari kejadian yang menimpa Saya dan L.

Wassalam,
Akhwat

Semoga ukhti dan L tabah dan mendapat berkah dan hikmah dari peristiwa ini. Aamiin.

Ukhti, terima kasih atas masukannya. Menindaklanjuti laporan tersebut, kami gugurkan keanggotaan HA di Ta’aruf Network. Kami pun menghimbau supaya kita semua lebih berhati-hati.

Konsultasi: Ketika sudah letih untuk mengenal lelaki lain

Posted on Updated on

pak ustad,tlglah sy yg lg bingung ini.sy mempunyai pacar kami berhubungan sktr 1th dan dia tlh mengakhiri hub ini dgn alsn tdk bs melpkn mantan pcrnya.awlnya sy berusaha menerima dgn ikhlas sgl keptsnnya,tp dia kdg2 msh menhubngi sy wl hnya sms menanyakn kbr sy.skpnya itu membuat sy semakin sulit utk melupakannya,sy ingin membencinya tp sy tdk bs krn sy sgt menyayanginya.dlm stp do’a2 sy sllu berhrp bs kembali lg bersamanya.krn sy sdh berusaha melupakannya dgn berbagai cara ttp sj sy blm bs.pak ustad apa sy msh bs diberi kesempatan utk bersatu dgnnya lg?sy letih utk mengenal laki2 lain selain dia,skr usia sy sdh 31th dan sy ingin segera menikah.tlglah sy pak,bgm caranya agr dia bs kembali lg dgn sy? sy mohon jawabannya

Demikian pertanyaan dari seorang pengunjung yang bernama yani. Silakan turut membantu mbak yani dengan menyampaikan masukan/saran di bagian kotak komentar di bawah ini.

Diskusi: Pacaran tiap saat sampai lupakan teman?

Posted on Updated on

sekarang saya pacaran bisa dibilang tiap hari kita komunikasi perhatian saya tertuju ma dia ampe ma temen atau sobat sendiri aku lupakan, gmn baiknya sikap saya menghadapi seperti ini.

Demikian pertanyaan dari seorang pengunjung yang bernama rizki. Silakan sampaikan jawaban menurut dirimu di kotak komentar di bawah ini.

Asmara Subuh

Posted on

Bulan ramadhan merupakan danau yang sejuk untuk umat Islam mengambil air ampunan dan menimba banyak pahala dari ibadah-ibadah baik yang diwajibkan Allah SWT maupun yang dianjurkan Rasulullah saw seperti puasa ramadhan, shalat tarawih, tadarus al-Qur’an, bersedekah dan sebagainya.

Sayangnya, diantara waktu-waktu yang penuh berkah dan ampunan Allah, banyak diantara kita malah menghabiskannya dengan kegiatan yang sia-sia dan menjurus pada kemaksiatan. Salah satunya adalah asmara subuh.

Entah siapa yang mempopulerkan kata ini pertama kali, namun yang pasti, asmara subuh identik dengan kegiatan yang lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya. Asmara subuh biasanya dipahami sebagai aktivitas muda-mudi selepas solat subuh di bulan ramadhan dengan berjalan ataupun berkendara keliling kota atau ke tempat-tempat wisata, contohnya pantai.

Kenapa Asmara Subuh dikatakan lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya? Banyak terjadi, muda-mudi yang menghabiskan sisa pagi usai subuh adalah dalam rangka berpacaran. Dengan kondisi yang masih remang-remang dan berdua-duaan, sudah tentu hal tersebut akan menjurus kepada kemaksiatan.

Aktivitas tersebut tentu sangat kontras dengan ibadah puasa yang dijalankan dan tentu puasa yang dijalankan bisa berakhir pada kesia-siaan alias hanya mendapatkan lapar dan haus saja, Apalagi aktivitas yang dijalankan sudah menyerempet pada hal-hal yang membatalkan puasa dan mengundang dosa.

Untuk itu peran orangtua sangat diharapkan untuk mencegah anak-anaknya terjangkit virus asmara subuh usai melaksanakan solat subuh. Orangtua barangkali perlu mengawasi apa yang dilakukan anak usai solat subuh. Jangan sampai alasan solat subuh ke mesjid dimanfaatkan anak untuk menemui kekasihnya dan mengerjakan hal-hal yang dilarang agama.

Bagi remaja, hendaknya ditanamkan niat dalam hatinya untuk benar-benar menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Asmara subuh adalah aktivitas dan budaya buruk yang tidak patut ditiru. Ingatlah bahwa kita sedang berpuasa tidak hanya dari makanan dan minuman tapi juga syahwat.

Jika kita tidak kuat membendung gelombang virus asmara subuh, lakukanlah asmara subuh dengan aktivitas yang berbeda dan positif, misalnya bertadarus al-Quran, mendengarkan ceramah, i’tikaf atau berdiskusi tentang agama. Dan semua itu bisa dilakukan bersama teman-teman atau kekasih, selain bermanfaat untuk diri sendiri, juga telah menghindarkan kita dari dosa.

Wallahua’lam bisshawab…

Memilih Jodoh yang Baik Menentukan Syurga dan Neraka-mu

Posted on Updated on

“…Sesungguhnya wanita budak mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…”
(al-Baqarah[2]:221)

Di situs ini banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan mengenai jodoh dan percintaan. Dilemanya juga sangat menarik dan beragam, aku sendiri sempat beberapa kali mengomentari pertanyaan-pertanyaan itu dan merupakan kebahagiaan tersendiri saat mereka mengatakan bahwa itu sangat membantu. Tapi ada juga sebagian dari mereka yang masih belum menemukan jawabannya. Nah, di dalam tulisan berjudul, “Memilih Jodoh yang Baik Menentukan Syurga dan Neraka-mu” ini aku pengen mengutarakan ide-ide dan pemikiran sederhanaku berdasarkan pemahaman sederhana dari Hadist dan Ayat suci Al-Qur’an.

Ayat di atas menegaskan kepada para Laki-laki untuk memilih istri karena kualitas agamanya, bukan karena kecantikannya ataupun karena kekayaannya. Ayat ini sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan yang menanyakan perihal memilih istri yang bukan muslim. Lalu apakah hal ini berlaku untuk wanita? Jawabannya, sudah barang tentu ya!

Seorang wanita muslim hendaknya memilih suami yang memiliki agama dan kepercayaan yang sama. Kejadian yang kerap terjadi di masyarakat ketika seorang wanita akan dipersunting oleh pria non-muslim, sang wanita selalu berada di pihak yang tertekan dan akhirnya beralih kepercayaan, sayangnya pula tidak sedikit wanita muslim dibutakan oleh al-‘isyq atau cinta buta sehingga dengan mudah berpindah agama.

Ada sebuah cerita berkenaan dengan pentingnya memilih suami seorang muslim. Suatu hari seseorang bertanya kepada Hasan al-Bashri, “Aku mempunya anak perempuan dan dia banyak yang melamarnya, lalu kepada siapakah aku harus menikahkannya?” Hasal al-Bashri menjawab, “Nikahkanlah kepada laki-laki yang takut kepada Allah SWT, karena jika dia mecintainya dia akan memuliakannya dan jika dia membencinya dia tidak akan menzaliminya.” [Khabar Hasan, HR Ibnu Abi Dunya, dikutip dari Majdi Fathi, al mu'asyarah az-Zaujiyah]

Kemudian Hadist Riwayat Ahmad bercerita, Rasulullah saw bersabda, “Lihatlah di mana engkau berada bersamanya, sesungguhnya dia adalah surga dan nerakamu.”

Hadist di atas bercerita bagaimana pentingnya memilih suami yang beragama agar ketika sesuatu terjadi, insya Allah jalan keluarnya adalah berupa kebaikan. Istri yang baik dan shalihah adalah kunci kesuksesan seorang suami memimpin rumah tangganya, dan suami yang bertanggung jawab lagi muslim adalah cahaya pelindung bagi kerajaan rumah sang istri.

Indahnya pacaran setelah SEBELUM menikah (+ foto pacaran islami ala Kalimantan Selatan)

Posted on Updated on

Setiap kali aku mendengar seruan “indahnya pacaran setelah menikah”, “pacaran dalam Islam adalah setelah menikah”, dan sebagainya, aku merasa geli. Kupikir, mereka yang berseru seperti itu belum mengetahui (atau pura-pura tak tahu) bahwa makna asli kata “pacaran” adalah “persiapan nikah”.

8 pasang calon pengantin dari Polres Tapin, Kalimantan Selatan
Foto 8 pasang calon pengantin dari Polres Tapin, Kalimantan Selatan, 17 Februari 2009
Kata “pacaran” berasal dari kata bahasa Kawi (Jawa Kuno) “pacar” yang bermakna “calon pengantin“. Dengan diimbuhi akhiran “-an”, “pacaran” itu berarti “aktivitas calon pengantin”, yaitu “persiapan nikah”.

Dengan demikian, pacaran setelah menikah itu mustahil. Mustahilnya itu seperti mustahilnya pernyataan “indahnya menjadi janin setelah lahir”. Sebab, setelah lahir, kita tidak lagi menjadi janin (calon manusia) yang hidup di rahim. (Seandainya setelah lahir itu kita masih menjadi janin di luar rahim, hiii…. ngeriiii….) Demikian pula antara pacaran dan menikah. Setelah menikah, kita tidak lagi menjadi calon pengantin. Jadi, mustahil pacaran setelah menikah.

Karena itu, kalau mau membicarakan indahnya pacaran, tentunya SEBELUM menikah. Hanya saja, yang indah ini adalah pacaran yang sehat atau yang islami.

penataran pranikah
Foto penataran pranikah bagi 8 pasang calon pengantin, 17 Februari 2009
Lantas, apa saja keindahannya? Banyak deh, sampai tak terhitung. Di antaranya:

  1. menjadi lebih siap untuk menikah, termasuk karena sudah lebih mengenal pasangan dan untuk menghadapi segala risikonya
  2. menjadi lebih menikmati pernikahan, karena “pohon” percintaannya telah tumbuh subur sewaktu pacaran, tinggal memetik buahnya setelah menikah
  3. lebih merasakan nikmatnya cinta dengan lebih lengkap, yaitu bukan hanya setelah menikah, melainkan juga sebelum menikah
  4. menjadi lebih dewasa karena ditempa berbagai pengalaman, baik yang manis maupun yang pahit, sewaktu pacaran
  5. ……… (silakan tambahkan apa saja keindahan pacaran SEBELUM menikah menurut dirimu)

Bagaimana kalau pacarannya tidak sehat atau kurang islami? Tentu saja keindahannya menjadi berkurang drastis atau bahkan menjadi TIDAK ADA sama sekali, seperti karya lukis yang dinodai kotoran.

Nikah dengan dia yang pernah cerai, salahkah?

Posted on Updated on

pak shodiq, senang rasanya bisa menemukan blog bapak, terutama yang membahas hal2 pra nikah.
saya ingin sekali dengar pendapat bapak soal masalah saya ini.
sekarang saya menjalani suatu hubungan serius dan ingin segera menikah dengan seorang duda (inisial D), 1 anak (perempuan, umurnya 5 tahun). dia duda karena cerai pak. saya diceritakan olehnya kenapa dia bercerai. tapi menurut saya, dari cerita dia, dia berhak untuk menceraikan istrinya. tapi saya belum tau bagaimana cerita versi dari istrinya. tapi wallahua’lam, saya percaya dengannya pak.

saya menceritakan kepada orang tua saya, dengan siapa saya menjalin hubungan. mendengar cerita saya, kedua orang tua saya langsung bilang tidak setuju. bagi mereka, laki-laki yang bercerai itu, pasti ada masalah. dan orang tua saya sudah men-cap bahwa laki-laki itu yang salah, yg tidak bisa membimbing mantan istrinya. orang tua saya mengkhawatirkan itu pak, hal itu akan terjadi kembali sama saya. selain itu orang tua saya mengkhawatirkan kehidupan ekonomi saya nantinya, karena pria pilihan saya seorang pengusaha pelebur logam. kalopun saya jadi menikah dengannya, orang tua saya langsung memberi ultimatum, kalo pas akad nikah nanti, ayah saya tidak bersedia menjadi wali. saya sedih sekali pak

saya dan D sudah bertekad ingin menikah, terutama D, dia gak ingin kejadian yang dulu terulang lagi dan dia sudah percaya dengan saya. kami bertekad, ingin menunjukkan hasil kerja keras kami selama ini, kepada orang tua saya, dan meyakinkan mereka kalo saya insyaAllah akan baik-baik saja.

sangat dilema buat saya pak.disatu sisi saya ingin sekali bisa menikah dengannya. karena setelah istikharah, meminta ketetapan hati, subhanallah, hati ini rasanya ringan sekali. tapi sisi lain, ada masalah di orang tua. beliau bersedia wali nya digantikan oleh saudara lain. pak, kalo pun saya tetap menikah dengan D, apakah saya termasuk orang yang tidak berterima kasih? hanya memperturutkan egoisme?
saya hanya ingin menjalankan sunnah Rasul pak, dan kami berdua hanya ingin memiliki keluarga yg sakinah, bahagia dunia akhirat.
apakah bapak setuju dengan pernyataan ini, jika wanita dan laki-laki tetap melangsungkan pernikahan tanpa persetujuan orang tua tidak bisa dikatakan keduanya sudah durhaka malah orang tuanya lah yang sudah tidak mentaati apa yang diperintahkan Allah agar tidak menghalangi-halangi anak-anaknya untuk menikah. Allah berfirman dalam Al Quran yang artinya: “…maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan di antara keduanya dengan cara yang ma’ruf” QS. Al Baqarah: 232.
terima kasih sebelumnya pak Shodiq

Jawaban M Shodiq Mustika:

Benar, pada dasarnya, orangtua/wali tidak berhak menghalang-halangi anaknya untuk menikah. (Lihat “Walau Bukan Siti Nurbaya“.) Namun, itu berlaku bila si anak sudah “dewasa”.

Dalam ceritamu itu, umurmu belum kau sebutkan. Karenanya, aku belum tahu apakah kau sudah bisa menikah dengan wali hakim. Di Indonesia, perempuan yang sudah “dewasa” (dalam arti bisa menikah dengan wali hakim) ialah yang telah berusia 21 tahun. (Begitulah seingatku. Untuk konfirmasi, silakan hubungi KUA terdekat.)

Mengenai ketidaksetujuan orangtuamu, aku kurang sepakat bila kau katakan bahwa beliau menghalang-halangi dirimu untuk menikah. Beliau sudah bersedia walinya digantikan oleh saudara lain. Secara demikian, beliau tidak menghalang-halangi pernikahanmu.

Mengenai tekad kalian untuk menunjukkan kerja keras kalian, bagus itu. Aku mendukung tekad kalian ini. Akan lebih bagus lagi bila kalian mampu menunjukkan bukti-bukti (atau kesaksian orang-orang terpercaya) kepada orangtuamu bahwa perceraian si dia itu bukanlah lantaran kesalahan dia. Untuk itu, kamu bisa mengutus 1-2 orang saudaramu untuk menggali informasi mengenai sebab-musabab perceraian tersebut, termasuk informasi dari mantan istrinya. Dengan adanya bukti-bukti begitu, besar kemungkinan bahwa orangtuamu akan merestui pernikahan kalian.

Demikianlah saranku, wallaau a’lam.