Siapa dimuliakan Tuhan?

Posted on Updated on

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku memuliakan aku’.” (QS al-Fajr [89]: 15)

Benar, Tuhanku. Kuperhatikan, ada dua orang haji dan seorang calon haji ditanya rahasia kesuksesan mereka dalam berburu rezeki. Dua orang menjawab, “Allah menolongku karena aku selalu berusaha bershalat sebaik-baiknya.” Orang ketiga menambahkan, “Makanya, introspeksilah. Kalau selama ini kamu gagal berkali-kali, lihatlah shalatmu. Sudah bener apa belum?”

Mereka lupa bahwa sebagaimana kaum ‘Ad, Fir’aun dan Qarun pun kaya-raya walau kufurnya luar biasa. Mereka pun tak ingat, hampir semua nabi bukanlah orang terkaya di kalangan kaumnya meskipun imannya luar biasa.

“Sekali-kali tidak! Sebenarnya kalian tidak memuliakan anak yatim, kalian tidak saling mendorong memberi makan orang miskin, kalian memakan harta warisan dengan cara mencampur-baurkan (antara yang halal dan yang haram), dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS al-Fajr [89]: 17-20)

Benar, Tuhanku. Aku tidak menganggap tiga orang tersebut Kau muliakan. Sebenarnyalah aku merasa kasihan karena Kau biarkan jiwa mereka selalu gelisah.

Mereka tahu, Engkau telah mengajarkan bahwa harta warisan, yang selama ini mereka kuasai, haruslah dibagikan kepada para ahli warisnya. Namun, mereka menguasainya dan tidak mau membagikannya. “Kalau warisan dijual, kasihan orangtua,” dalih mereka. Lalu mereka campurkan harta haram ini dengan harta halal mereka. Padahal, mereka punya penghasilan tetap yang menjadikan mereka pasti selalu berada jauh di atas garis kemiskinan, sedangkan para ahli waris yang tidak mereka beri bagian itu tergolong miskin dan terlilit hutang!

“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, sampai kalian [seorang demi seorang] masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui [akibat perbuatan kalian terhadap kalian sendiri]. Maka janganlah begitu! Kelak kalian akan mengetahui [akibat perbuatan kalian terhadap kalian sendiri].” (QS at-Takatsur [102]: 1-3)

Benar, Tuhanku. Sebelum mereka masuk kubur pun sudah kulihat akibat perbuatan mereka terhadap diri mereka sendiri. Yang paling tampak gamblang adalah yang tertua. Kini, dia “hidup segan, mati tak mau”.

Sebagian tetangga bertanya-tanya, mengapa Pak X sengsara di hari tua? Bukankah dia menanam kebaikan semata-mata? Aku diam saja. Namun dalam hati aku menjawab: “Memang, dia menanam banyak kebaikan. Akan tetapi, dia mencampurnya dengan kebatilan. Dia menguasai sendiri harta warisan istrinya yang mestinya dibagikan kepada anak-anaknya disamping kepada dia sendiri.”

Di mata masyarakat, menguasai harta peninggalan istri tidaklah tercela. Anaknyalah yang dicap anak durhaka bila meminta bagian dari warisan almarhumah. Tapi hukum-Mu berbeda. Dan Engkau Mahaadil.

One thought on “Siapa dimuliakan Tuhan?

    erander said:
    23 Maret 2007 pukul 09:16

    Subhanallah .. Allah Maha Pengasih dan Maha Penyanyang. Kita sebagai manusia sering kali khilaf dan merasa sudah di jalan yang benar. Semoga kita selalu ditunjukan ke jalan yang benar dan diridhoi-Nya. Amin.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s