Menata pikiran di dalam shalat

Posted on Updated on

Ketenangan pikiran, konon, “merupakan hal yang terpenting untuk memulai berdialog dengan Allah, sehingga kita bisa menerima kehadiran ilham ke dalam jiwa.” Atas dasar itu, banyak orang menanamkan kesan bahwa untuk mencapai kekhusyukan shalat, pikiran kita harus pasif dalam keheningan.

Haruskah demikian? Tunggu dulu! Kita sepakat, tujuan shalat adalah ingat Allah. (Lihat QS Tha Ha [20]: 14) Supaya ingat, kita perlu mengaktifkan pikiran di dalam shalat. Iya, nggak?

Memang sih, bisa saja kita tiba-tiba ingat sesuatu walaupun tidak sedang mengaktifkan pikiran. Namun, ingat itu jauh lebih sering terjadi ketika pikiran diaktifkan. (Karenanya, setiap mengerjakan tes mengenai materi yang pernah kita pelajari, kita memilih mengaktifkan pikiran untuk mengingat-ingat jawaban-jawabannya daripada mempasifkan pikiran, ‘kan?)

Tentu saja, tidak semua pikiran kita yang aktif itu akan menjadikan kita ingat. Ada kalanya, walau sudah mengerahkan pikiran, Anda masih gagal untuk menjadi ingat.

Apakah kegagalan itu terjadi karena otak Anda bebal? Belum tentu! Bisa saja, sebetulnya Anda cerdas, tetapi pikiran Anda kurang tertata. Ketika dibutuhkan, otak kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Persis seperti arsip yang tidak tertata rapi. Ketika membutuhkannya, kita kebingungan mencari-cari.

Lain halnya dengan arsip yang tertata rapi. Ketika memerlukannya, dengan mudah kita menemukannya. Begitu pula dengan pikiran. Dengan pikiran yang tertata, kita lebih bisa menjadi ingat.

Secara demikian, pikiran yang tertata (sistematis) di dalam shalat akan menjadikan kita lebih mampu untuk ingat Allah. Dengan kata lain, sistematisnya pikiran kita di dalam shalat membuat kita lebih mudah mencapai tujuan shalat. (Asyiiik…)

Begitulah salah satu manfaat sistematisnya pikiran. Selain itu, pikiran yang tertata menciptakan rasa khusyuk dalam shalat. (Asyik, asyik, asyiiik…)

Jadi, ayolah kita sistematiskan pikiran kita dalam shalat. Tunggu apa lagi?

Oh ya, Anda mau tahu bagaimana caranya? Ada banyak cara yang bisa kita manfaatkan. Dua di antaranya adalah:
manfaatkan lamunan dalam shalat (Lihat http://salatsmart.wordpress.com/2007/04/07/manfaatkan-lamunan-dalam-shalat/) dan kaitkan pikiran dengan wujud shalat (Lihat http://salatsmart.wordpress.com/2007/04/06/kaitkan-pikiran-dengan-wujud-shalat/)

3 thoughts on “Menata pikiran di dalam shalat

    haerul said:
    12 Desember 2008 pukul 22:23

    Terimakasih artikelnya, semoga bisa menjadi amal di akhirat kelak, amin….

    […] kalo mau praktek disesuaikan dengan kepribadian kita. kayaknya yang cocok dengan saya yach yang arungi makna salat. karena saya orang kuper, susah ngomong, telmi. tapi saya yakin, dengan praktek salat smart ini […]

    […] kalo mau praktek disesuaikan dengan kepribadian kita. kayaknya yang cocok dengan saya yach yang arungi makna salat. karena saya orang kuper, susah ngomong, telmi. tapi saya yakin, dengan praktek salat smart ini […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s