Berduaan dengan pacar, haramkah?

Posted on Updated on

Kita sering mendengar, ada hadits shahih yang menunjukkan bahwa khalwat (berduaan) itu terlarang. Namun, tidak adakah hadits lain yang juga shahih yang menunjukkan bahwa berduaan itu ada kalanya tidak terlarang?

air_tenang_menghanyutkan_3.jpg

Berikut ini kutipan dari http://syifa.wordpress.com/2005/12/10/pacaran-islami-yang-bener-aja/#comment-6 

Anas bin Malik berkata, جاءت امرأة من الأنصار إلى النبي صلى الله عليه وسلم ٿخلا بها ٿقال والله إنكم لأحب الناس إلي

“Datang seorang wanita dari kaum Ansor kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pun berkhalwat dengannya, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Demi Allah kalian (kaum Anshor) adalah orang-orang yang paling aku cintai‿12

Imam Al-Bukhori memberi judul hadits ini dengan perkataannya,باب ما يجوز أن يخلو الرجل بالمرأة عند الناس “Bab : Dibolehkannya seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita jika di hadapan khalayak‿

Ibnu Hajar berkata, “Imam Al-Bukhori menyimpulkan hukum (dalam judul tersebut dengan perkataannya) “dihadapan khalayak‿ dari perkataan Anas bin Malik dari riwayat yang lain13 “Maka Nabipun berkhalwat dengannya di sebagian jalan atau sebagian السكك (sukak)‿. Dan السكك, adalah jalan digunakan untuk berjalan yang biasanya selalu dilewati manusia‿

Ibnu Hajar berkata, “Yaitu ia tidak berkhalwat dengan wanita tersebut hingga keduanya tertutup dari pandangan khalayak (tersembunyi dan tidak kelihatan-pen), namun maksudnya dibolehkan khalwat jika (mereka berdua kelihatan oleh khalayak) namun suara mereka berdua tidak terdengar oleh khalayak karena ia berbicara dengannya perlahan-lahan, contohnya karena suatu perkara yang wanita tersebut malu jika ia menyebutkan perkara tersebut di hadapan khalayak‿

Ibnu Hajar menjelaskan bahwasanya ada khalwat yang diharamkan dan ada khalwat yang diperbolehkan,

1.Khalwat yang diperbolehkan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersama wanita tersebut, yaitu memojok dengan suara yang tidak di dengar oleh khalayak namun tidak tertutup dari pandangan mereka.

Hal ini juga sebagaimana penjelasan Al-Muhallab, “Anas tidak memaksudkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga tidak kelihatan oleh orang-orang sekitar Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tatkala itu, namun Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam berkhalwat dengan wanita tersebut hingga orang-orang disekitarnya tidak mendengar keluhan wang wanita dan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut. Oleh karena itu Anas mendengar akhir dari pembicaraan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan wanita tersebut lalu iapun menukilnya (meriwayatkannya) dan ia tidak meriwayatkan pembicaraan yang berlangsung antara Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dan wanita itu karena ia tidak mendengarnya‿14

2.Khalwat yang diharamkan adalah khalwat (bersendiriannya) antara lelaki dan wanita sehingga tertutup dari pandangan manusia.15

Syaikh Sholeh Alu Syaikh berkata:
((والخلوة المحرمة هي ما كانت مع إغلاق لدار أو حجرة أو سيارة ونحو ذلك أو مع استتار عن الأعين، ٿهذه خلوة محرمة وكذا ضبطها الٿقهاء))

“Dan khalwat yang diharamkan adalah jika disertai dengan menutup (mengunci) rumah atau kamar atau mobil atau yang semisalnya atau tertutup dari pandangan manusia (khalayak). Inilah khalwat yang terlarang, dan demikianlah para ahli fikh mendefinisikannya.‿

Jadi khalwat yang diharamkan ada dua bentuk sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh. Dan bukanlah merupkan kelaziman bahwa ruangan yang tertutup melazimkan juga tertutupnya dari pandangan khalayak.

Senada dengan itu, di artikel Gaul Akrab Sesuai Sunnah Nabi kami terangkan bahwa bila terawasi, Nabi pun berduaan. Akan tetapi, meskipun dibolehkan, berduaan itu BUKAN aktivitas yang mesti kita utamakan dalam pacaran islami. Mengapa? Insya ‘Allah saya akan menjelaskannya di artikel mendatang.

——

Keterangan: Gambar di atas diambil dari Air Tenang Menghanyutkan.

23 thoughts on “Berduaan dengan pacar, haramkah?

    Tradisi Berduaan dan Bermesraan « Pacaran Islami said:
    17 April 2007 pukul 09:50

    […] mengapa berduaan bukanlah aktivitas utama dalam pacaran islami, sebagaimana yang kujanjikan di postingan terdahulu. Kedua, yang mencarikan solusi bagaimana bermesraan dalam pacaran […]

    papabonbon said:
    17 April 2007 pukul 12:56

    wah, kudu ada gambar yg rame rame bareng temen temen juga nih ..😀

    camagenta said:
    18 April 2007 pukul 16:00

    Ah… tapi menurut saya, kita kudu ati-ati dalam hal ini. Saya takutnya nanti mreka menggunakan tameng “asal di keramaian”… gak papa to. Wah ini gawat ini. Kalo saya ndukungnya, pun mo ktemu harus ada yang nemenin. Dalam arti dia itu tahu apa yang bakal dilakukan kedua orang muda-mudi. Kek babysister kali😀, biar gak macem-macem.

    […] Contohnya, mereka gembar-gemborkan hadits yang menyatakan terlarangnya berduaan dengan nonmuhrim, tetapi mereka mengabaikan keberadaan hadits lain yang menyatakan bahwa ada kalanya berduaan itu justru merupakan sunnah Nabi. (Lihat artikel “Berduaan dengan Pacar, Haramkah?“). […]

    wirawax said:
    4 Mei 2007 pukul 13:51

    hadits itu benar adanya. ulama-ulama yang mengomentarinya juga kredibel dan kapabel. memang banyak yg belum tahu tentang hadits ini. menurut saya, ini perlu disampaikan, dengan tetap menyampaikan tentang berbahayanya khalwat yang haram.
    banyak masalah yang sering dianggap X ternyata Y. seperti pada sebagian saudara-saudara kita yang menganggap hijab muslimah harus hitam/gelap, tidak bercorak, dll, padahal istri nabi pernah ada yang mengenakan hijab yang tidak gelap dll, dll.
    jadi, hendaknya kita adil dalam mengungkap suatu permasalahan.

    […] by M Shodiq Mustika in 4 – Rengkuh ruh. trackback Pada artikel terdahulu, telah kutegaskan bahwa berduaan bukanlah aktivitas utama dalam pacaran islami. Sebabnya, antara lain: berduaan bukanlah tanda cinta sejati. Lantas, apa aktivitas terpenting […]

    arie said:
    7 Agustus 2007 pukul 10:34

    dalam hadist tersebut yang menjadi contoh adalah Nabi Muhammad SAW yang jelas2 mempunyai tingkat keimanan yang tinggi selain itu pula mempunyai kemampuan untuk menahan nafsunya.

    tingkatan iman kita sangatlah jauh bila dibandingkan dengan Nabi. oleh kerenanya sebaiknya kita tetap menggunakan hadist yang menyebutkan bahwa ‘jika kita berduaan maka yg ke-3 adalah syetan’.

    sebelum anda mengomentari komentar saya, coba renungkanlah di dalam diri anda. apakah tingkatan iman anda setara dengan Nabi ? apa saja kah yang anda lakukan pada saat berduaan? apakah anda yakin/pasti tidak melakukan perbuatan yg melanggar (sentuhan,senggolan) ? perlu diingat dalil ‘Jangan mendekati Zina!’, dosa besar (zina) umunya dimulai dari meremehkannya dosa2 yang kecil (berduaan,sentuhan,etc).

    terima kasih.

    abusalamah said:
    10 Agustus 2007 pukul 17:17

    Lagian hadits diatas tidak menunjukkan dibolehkannya pacaran “islami” ala akhi M Shodiq Mustika.
    Bisakah memaparkan dalil shahih mengenai bolehnya pacaran “islami” ?

    pak slamet said:
    12 Agustus 2007 pukul 23:34

    abusalamah … coba kamu liat gaul gaya Rasul

    abusalamah said:
    22 Agustus 2007 pukul 10:24

    Pak Slamet…
    Cobalah memahami dgn lebih jernih..
    Kebolehan berbicara dengan lawan jenis untuk suatu keperluan tidak bisa dijadikan alasan pembenaran bolehnya “pacaran Islami”.

    Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata: “Ada dua pendapat dalam masalah hukum wanita memandang tanpa dengan syahwat dan pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah haram, dengan dasar dalil pada surat An-Nūr ayat 31 dan dalil yang paling kuat dalam masalah ini adalah hadits Ummu Salamah. Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha- berkata:
    “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan Maimunah ada di sisinya, maka datanglah Ibnu Ummi Maktūm dan pada saat itu kami telah diperintah untuk berhijab, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam- bersabda: “Berhijablah kalian darinya!” maka kami berkata: “Bukankah Ibnu Ummi Maktūm adalah orang yang
    buta? Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Apakah kalian berdua buta?” Bukankah kalian dapat melihatnya?” (HR. Abu Dawud no. 4112, At-Tirmidzi no. 2778, An-Nasaì dalam Al-Kubra no. 9241, Ahmad 6/296 dan Al-Baihaqi: 7/91.
    Al-Imam An-Nawawi menghasankan hadits ini. Dan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddīn Al-Albani mendho’ifkan hadits ini di dalam kitabnya Al-Irwa’ no. 1806, karena di dalam sanadnya ada seorang rawi yang majhūl yang bernama Nabhan maula Ummu Salamah).

    Adapun dalil orang-orang yang membolehkan wanita memandang kepada selain mahram dengan tanpa syahwat adalah hadits Àisyah –radhiyallahu ‘anha- ia berkata: “Aku melihat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- di pintu kamarku dan orang-orang Habasya bermain dalam masjid Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau menghijabiku dengan rida’nya supaya aku dapat melihat permainan mereka.” Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata: “Adapun hadits yang menceritakan tentang Àisyah
    –radhiyallahu ‘anha- melihat orang-orang Habasyah bermain dalam masjid ada beberapa kemungkinan, diantaranya pada saat itu Àisyah –radhiyallahu ‘anha- masih belum baliqh.” (Syarh Shahih Muslim: 6/262).

    Al-Hafidz Ibnu Hajar ¬–rahimahullah- berkata: “Dalam hadits Àisyah –radhiyallahu ‘anha- tersebut kemungkinannya pada saat itu Àisyah –radhiyallahu ‘anha- hanya melihat
    permainan mereka bukan melihat wajah dan badannya mereka dan apabila Àisyah –radhiyallahu ‘anha- sampai melihat mereka maka hal itu terjadi secara tiba-tiba dan tentunya Àisyah –radhiyallahu ‘anha- akan memalingkan pandangannya
    setelah itu.” (Al-Fath: 2/5).

    Adapun jika pandangan itu tiba-tiba kemudian memalingkan pandangan dan tanpa maksud tertentu maka tidak apa-apa, sebagaimana hadits Jarīr bin Abdillah, beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang memandang secara tiba-tiba, maka memberi perintah: “Palingkan pandanganmu!” (HR. Muslim)
    Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata: “Pandangan kepada selain mahram secara tiba-tiba tanpa maksud tertentu pada pandangan pertama maka tidak ada dosa.
    Adapun selain itu, apabila meneruskan pandangannya maka hal itu sudah terhitung sebagai dosa.” (Syarh Shahih Muslim: 4/197).

    M Shodiq Mustika responded:
    22 Agustus 2007 pukul 20:36

    @ abusalamah

    Hadits di atas memang tidak dimaksudkan utk menunjukkan dibolehkannya pacaran secara islami. Jika akhi meminta dalilnya, maka perlu akhi pahami salah satu kaidah ushul fiqih:

    Dalam hablum minan nas (hubungan dg sesama manusia), semuanya boleh, kecuali ada nash qath’i yg melarangnya.

    Jadi, mestinya, pertanyaan kita: adakah nash qath’i yg melarang pacaran secara islami?

    […] kalau engkau berduaan dengan pacarmu (atau pun lawan-jenis non-muhrim lainnya), pastikanlah bahwa kalian berada dalam keadaan terawasi […]

    hamba allah said:
    22 Oktober 2007 pukul 09:57

    dikutip dari blog ‘gaul gaya rasul’:
    “Kalo kita mo ketemu lawan-jenis secara berulang dan dalam waktu lama, kita ikuti arah yang ditunjukkan Abu Syuqqah, yaitu “untuk bekerja-sama dan bertukar pikiran atau hal-hal lain yang betul-betul bermanfaat.”

    -berarti pacaran yg makan2, ke mall, itu tidak boleh menurut bapak?

    M Shodiq Mustika responded:
    28 Oktober 2007 pukul 01:05

    @ hamba allah

    Kalau bukan “untuk bekerja-sama dan bertukar pikiran atau hal-hal lain yang betul-betul bermanfaat,” kami tidak menganjurkannya sama sekali. Daripada melakukan kegiatan yang cenderung konsumtif, pilihlah aktifitas yang cenderung produktif.

    hamba allah said:
    28 Oktober 2007 pukul 18:42

    saya ingin bertanya mengenai hadits “jika berduaan, maka yg ketiga adalah setan”. apakah menjadi tidak berlaku juga dengan adanya hadits yang membolehkan berduaan?

    terima kasih. wassalam.

    M Shodiq Mustika responded:
    29 Oktober 2007 pukul 02:26

    Hadits2 yg kelihatannya “bertentangan” itu sama-sama berlaku.

    Kondisi “bila terawasi” akan meredam pengaruh syetan, bukan?

    hamba allah said:
    29 Oktober 2007 pukul 07:39

    meredam bukan berarti mengenyahkan setan, bukan? berarti hadits tersebut masih berlaku sepenuhnya?

    M Shodiq Mustika responded:
    29 Oktober 2007 pukul 11:55

    Aku belum mengerti apa yang dimaksud dengan bahwa hadits tsb “berlaku sepenuhnya”.

    Yang jelas, bila kita mendapati hadits2 yg tampaknya bertentangan, padahal sama2 shahih, maka yg yg perlu kita prioritaskan adalah “penggabungan”. (JIka tidak mungkin digabungkan, barulah kita selidiki mana yg lebih kuat.)

    Jadi, sewaktu berduaan (bahkan juga sewaktu sendirian), syetan selalu berusaha menjerumuskan kita. Namun dengan kondisi “bila terawasi”, maka gangguan itu menjadi diminimalkan.

    hamba Allah di mukabumi said:
    29 Oktober 2007 pukul 16:43

    coba antum pelajari dengan lebih cemat dulu, semoga Allah membuka pikiran antum tentang berkhalwat. telaah lagi, saya mungkin belum punya cukup ilmu untuk menjabarkan hadist, tapi yang saya pahami adalah jika kita berduaan dengan lawan jenis maka yang ketiganya adalah syaitan.

    hamba Allah di desa said:
    29 Oktober 2007 pukul 16:46

    terawasi oleh siapa? diminimalkan seperti apa??? belajar yang bener dulu… ayo belajar dan mencoba untuk paham terlebih dahulu baru bicara….!!!!

    hamba allah said:
    29 Oktober 2007 pukul 17:15

    pak shodiq, hamba allah yang di atas bukan saya. tetapi orang lain. mohon untuk hamba allah yg di atas agar memakai nama lain.

    M Shodiq Mustika responded:
    30 Oktober 2007 pukul 03:03

    @ hamba Allah di mukabumi

    Benar, ketika berduaan, maka yg ketiganya adalah syaitan. Makanya, perlu “terawasi”.

    @ hamba Allah di desa

    Oke. Ayo kita belajar dan terus belajar.

    Terawasi oleh siapa? Oleh orang yang menaruh perhatian (pada kita yang berduaan) dan cenderung mencegah kita berbuat zina, yang “kecil” sekalipun.

    Diminimalkan seperti apa? Rasul menganjurkan kita untuk menggunakan “tangan” (kekuatan) bila melihat kemunkaran. (Bila tidak mampu, gunakan lisan!) Dengan begitulah kemunkaran diminimalkan.

    Bayu Adi said:
    6 Juli 2008 pukul 21:26

    assalamu’alaikum wr. wb.

    ada baiknya bila kita menggunakan dalil dengan bijak. katakanlah ada sebuah dalil yang keshohihannya tidak terbantahkan, namun bila penggunaannya tidak tepat hanya akan menghasilkan distorsi saja bukan?

    memang (mungkin) tidak ada nash qath’i yang melarang pacaran islami, lantas adakah nash qath’i yang memperbolehkannya?

    sebagai orang muslim yang cerdas tentu kita harus bisa membaca dalil2/nash2 yang lebih berupa indikasi/tanda2 ke arah sesuatu.

    jangan sampai penggunaan nash2 qath’i hanya sebagai dalil untuk menjadi pembenaran atas tindakan ‘buta’ kita.

    wassalamu’alaikum wr. wb.
    salam KHP

    ——————————————-

    dan kebenaran sejati hanya milik Allah, kita hanya bisa membaca tanda2nya untuk kita tafsirkan dan yakini

    http://komunitashitamputih.wordpress.com

    Tanggapan M Shodiq Mustika:

    wa’alaykum salam wa rahmatullah wa barakatuh

    Sudah beberapa kali saya membahas persoalan dalil qath’i. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/?s=qath%27i
    Telah saya ungkapkan:

    Menurut ushul fiqih, kebolehan muamalah (termasuk pacaran) TIDAK membutuhkan dalil. Yang membutuhkan dalil adalah pelarangannya. Kaidahnya, semua muamalah itu halal, kecuali ada dalil qath’i yang melarangnya. … Seharusnya, pihak pengharamlah yang menyebutkan dalil yang secara qath’i (shahih dan sharih) melarangnya….

    Jadi, daripada berprasangka buruk bahwa kami menyalahgunakan dalil “untuk menjadi pembenaran atas tindakan ‘buta’ kita”, lebih baik pihak pengharam pacaran itu mengemukakan dalilnya yang qath’i.

    wassalam

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s