Islamisasi pacaran yang berkualitas tinggi

Posted on Updated on

Hari Minggu enaknya jalan-jalan. Udah lama aku nggak jalan-jalan di Google.co.id. Udah lama aku nggak ngikuti perkembangan “pacaran islami” di mesin pencari itu. Karena baru saja kudirikan rumah Pacaran Islami di WordPress, jadilah ku jalan-jalan cari “pacaran islami”-nya WordPress. Maka kutelusuri Google, kuketik: “pacaran islami” wordpress di kotak penelusuran.

Mulanya aku agak kecewa kenapa situs pacaranislami.wordpress.com belum nongol di situ. Namun aku agak terhibur karena yang muncul di tempat pertama adalah situs ini: muhshodiq.wordpress.com. Malah, di antara 138 entri yang muncul dalam penelusuran ini, rupanya namaku sering muncul. (Ehm ehm…. )

Tapi bukan itu pusat perhatianku. Niatku semula ‘
kan ngikuti perkembangan “pacaran islami” di Google. Ya gitu deh, kembali ke niat.

Antara Kualitas dan Kuantitas

Dari jalan-jalan itu, kutarik hipotesis bahwa dalam segi “kuantitas”, pihak penentang pacaran islami itu lebih unggul. Maksudnya, mereka lebih banyak menayangkan tulisan yang memojokkan pacaran islami. (Hallo para pendukung pacaran islami! Ayo lebih sering dong mengkampanyekan islamisasi pacaran! Tak usah takut celaan para pencela! Lebih takutlah kepada Allah!)

Adapun dalam segi “kualitas”, pihak pendukung pacaran islamilah yang lebih unggul. Mereka terlihat mampu mempertahankan pandangan secara lebih elegan. (Hallo para penentang islamisasi pacaran! Adakanlah penelitian ilmiah untuk membuktikan apakah islamisasi hubungan percintaan pranikah itu memang mustahil dilaksanakan ataukah tidak! Tak perlu mengobral penafsiran dan penakwilan dalil karena hanya akan menghasilkan debat kusir. Dengan cara ilmiahlah kalian bisa menjadi lebih berkualitas di mata para pendukung pacaran islami.)

Artikel Berkualitas

Dari jalan-jalan itu pula, kutemui empat artikel yang kunilai berkualitas tinggi. Satu dari penentang pacaran islami; tiga dari pendukung islamisasi pacaran.

Sebuah artikel berkualitas dari seorang penentang pacaran islami berisi usul istilah alternatif pengganti “pacaran islami”, yaitu istilah “jodohan”. Alasannya: “batasan ‘pacaran’ tidak pernah jelas dan karena “pacaran” sebagaimana yang dilakukan banyak orang jelas-jelas tidak Islami. … Dengan berjodohan, kedua belah pihak menyatakan keinginannya untuk saling menikah jika keadaannya sudah memungkinkan.” (Lihat Alternatif Pacaran: Jodohan? « Singularity on the Plane)

Usul tersebut menarik karena mengajukan istilah dari bahasa Indonesia sendiri, sesuatu yang memang dikehendaki oleh para pendukung pacaran Islami. (Hallo para pendukung islamisasi pacaran! Pertimbangkan dong penggantian istilah “pacaran islami” menjadi “jodohan”! Apakah istilah “jodohan” akan lebih efektif daripada “pacaran islami” untuk islamisasi hubungan percintaan pranikah?)

Solusi yang diusulkan tersebut jelas lebih kreatif, kalau bukan lebih berkualitas, daripada usulan lain pada umumnya yang mengajukan istilah Arab, yaitu taaruf, yang sulit diterima oleh para pendukung pacaran islami. Lihat artikelku terdahulu, Taaruf, Sebuah Istilah yang Asal Keren? « M Shodiq Mustika.

Lihat pula dialog antara seorang penentang pacaran islami dan joesatch sebagai tanggapan terhadap artikel berkualitas kedua yang kujumpai dalam jalan-jalan ini, yaitu Pacaran = Anjing « The Satrianto Show!:

… klo Bang Joe jg beranggapan bahwa gak pegang-pegangan tangan, gak pernah ketemu, gak pernah tefon-telfonan mesra, gak pernah berdua-duaan sama saja dengan ta’aruf, maka saya ingin bertanya kepada Abang yang baek ini, Kenapa gak ta’aruf aja sekalian.. kenapa gak ta’aruf aja..

Lho, justru point tulisanku
kan disitu? Piye tho?
Ngene yo le… Sekarang apa bedanya aku menggunakan istilah ta’aruf atau pacaran? Kamu sendiri yang bilang lho kalo pacaran sama dengan ta’aruf. Yang mereka lakukan di atas menurut bahasaku adalah pacaran, sedangkan menurut bahasamu adalah ta’aruf. Selain bahasa, adakah perbedaan yang lain? Kamu sendiri
kan yang akhirnya menciptakan perbedaan itu? Hehehehe…
Aku ini orang
Indonesia. Masih bisa sedikit menghargai apa yang diucapkan para pendahuluku waktu tanggal 28-10-1928.
Di Indonesia, apa yang kamu sebutkan di atas sudah jamak dikenal sebagai pacaran. Orang-orang, baik yang muslim maupun yang bukan, semuanya bisa mengerti istilah pacaran. Lalu kenapa aku harus memaksakan diri untuk menggunakan istilah yang ketimur-tengahan kalo di
Indonesia sendiri ternyata ada istilah yang merupakan padanannya (terlepas dari perilaku oknum2nya)? Belum tentu semua orang di Indonesia bisa bahasa Arab,
kan?

Hallo, Joe! Kita semua tahu arti kata “jodoh”, ‘
kan? Gimana kalo istilah “pacaran”-mu dengan “pacar”-mu (dan mantan “pacar-pacar”-mu) diganti menjadi “jodohan”-mu dengan “jodoh”-mu (dan mantan “jodoh-jodoh”-mu)? Keberatan, nggak?

SMART

Selanjutnya, artikel berkualitas ketiga kudapati di Pacaran, boleh ngga? trus yg gimana sich? « .: SpEciaL TrAsh :.) Di situ diusulkan istilah “pacaran SMART”. Artinya: Spesifik, Measurable, Achievable, Reasonable, Time. Walau kepanjangan dari akronim SMART tersebut berbeda dengan konsep pacaran SMART yang kukembangkan berdasarkan konsep Pelatihan Salat SMART, semangat kami sama: islamisasi hubungan percintaan pra-nikah secara “smart” (cerdas dan alim).

Akhirnya, kutemui “artikel” (atau tepatnya “komentar”) berkualitas mengenai apa yang dimaksud dengan khalwat (berduaan), mana khalwat terlarang, dan mana pula khalwat yang dibolehkan. Karena bagus untuk referensi, aku copy-paste aja tulisan tsb ke http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/15/berduaan-dengan-pacar-haramkah/

Besar kemungkinan, artikel yang berkualitas mengenai islamisasi pacaran di WordPress ini lebih dari empat. Namun, “napasku udah ngos-ngosan” seusai jalan-jalan melintasi empat artikel tersebut. Itu dulu ajalah yang kusampaikan.

Itulah “oleh-olehku” kali ini untuk para pembaca. Sekarang, ganti kalian dong yang ngasih oleh-oleh untukku!

36 thoughts on “Islamisasi pacaran yang berkualitas tinggi

    joesatch said:
    16 April 2007 pukul 08:27

    saya sih nggak keberatan, kang – entah itu istilahnya jodohan atau ta’aruf sekalipun.

    cuma ketika saya nulis postingan saya itu, saya cuma pengen sedikit “mengejek” orang-orang penentang-pacaran-islami yang terlalu paranoid dengan sebuah istilah.

    generalisasi sebuah istilah yang pada dasarnya “netral” menjadi sesuatu yang haram-hukumnya-dalam-Islam hanya karena perilaku negatif sebagian pelakunya, itu yang menjadi uneg-uneg saya pada waktu itu🙂

    M Shodiq Mustika responded:
    16 April 2007 pukul 09:08

    Ooo tujuannya gitu….
    Kulihat, kayaknya postingan joe itu sudah berhasil “membuka” mata orang yang tadinya “agak terpejam”.
    Selamat deh!

    Rien said:
    16 April 2007 pukul 11:57

    karena jaman sekarang, para ikhwan dan akhwat juga banyak terjerembab kedalam hubungan HTS loh pak, byk yg bilang, kan ini juga ta’aruf, ga jelas apa dia jodohku, tp kita sendang saling memaham, dengan saling interaksi…lha gimana dong???

    erander said:
    16 April 2007 pukul 15:45

    Pacaran itu sebenarnya piye toh? kan penjajagan. Nah, ini yang sering disalahpahami. Karena merasa sedang pacaran dan boleh saling menjajagi maka proses “gerilya” lebih sering dilakukan dari pada curhat.

    Bukankah ketika menikah nanti, perbedaan visi dan misi yang akan menentukan lancar atau tidaknya suatu perkawinan. Jadi sejogjanya ketika pacaran, mengedepankan tentang visi dan misi. Bukan hanya phisik saja.

    Karena kalau hanya phisik saja, maka kita cenderung untuk menyentuh, untuk meraba dan untuk menikmati. Tapi kalau jiwa, maka yang kita sentuh adalah hatinya.

    Nah, ketika sudah menikah .. kesepahaman visi dan misi tadi diwujudkan dengan persatuan phisik atau badaniah. Jadi jangan dibalik. Sudah bersatu phisik tapi jiwanya belum. Makanya, banyak yang bubar jalan tapi phisik sudah ternoda hik hik.

    M Shodiq Mustika responded:
    16 April 2007 pukul 18:45

    @Rien
    Ungkapan “… ga jelas apa dia jodohku …” itu pertanda negative thinking, kurang islami. Yang lebih islami adalah yang positive thinking, misal: “… mungkin dialah jodohku …”. (Saya yakin yang lebih islami adalah yang positive thinking setelah meneliti sifat-sifat shalat. Lihat Pelatihan Salat SMART.)

    @erander
    Ya, unsur jiwa (batiniah) mestinya lebih diutamakan. Di akhir artikel http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/15/berduaan-dengan-pacar-haramkah/ pun saya nyatakan, berduaan bukanlah aktivitas utama dalam pacaran islami. Terima kasih atas masukannya.

    donny said:
    17 April 2007 pukul 22:47

    Selama definisi pacaran-nya sendiri tidak pernah disepakati, saya kira tidak akan pernah ada titik temunya. Sejujurnya, setelah baca-baca tulisan2 tentang pacaran islami, membuat definisi pacaran itu jadi blur.

    Penentang pacaran Islami, tentunya masih berfikir bahwa yang dimaksud pacaran adalah pacaran orang ‘kebanyakan’. Dengan definisi seperti itu, tidak mungkin bisa diembel-embeli Islami. Sedangkan untuk yang pendukung, punya definisi sendiri, yaitu penjajagan untuk menikah. Dalam hal ini pun penentang pacaran Islami tentu masih mempertanyakan, apa saja sih yang dilakukan ketika penjajagan itu? Bukan tidak mungkin kan pada saat penjajagan tergelincir seperti orang kebanyakan?

    Saya sih tetep…kalau memang niat menikah adalah ibadah, kenapa juga harus milih2 dan penjajagan segala? Langsung aja lamar!! Kakek-nenek kita aja dulu gak pernah pacaran, awet2 aja…lha orang2 sekarang yang pacarannya tahunan, malah pada cerai.

    M Shodiq Mustika responded:
    18 April 2007 pukul 00:00

    1. Perbedaan definisi tidak bermasalah selama kita menyadarinya dan menghargai definisi orang lain. (Bandingkan dengan perkembangan ilmu-ilmu non-eksakta yang berkembang pesat justru lantaran perbedaan definisi.) Masalah timbul bila ada pihak yang menolak definisi pihak| lain.

    2. Syetan menggelincirkan manusia melalui banyak jalan, baik di dalam penjajagan maupun di luar penjajagan. Namun selama kita mengikuti petunjuk Allah, maka keselamatan kita terjamin.

    3. Mengapa tidak langsung lamar? Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/04/11/12-alasan-mengapa-bercinta-sebelum-menikah/

    joesatch said:
    22 April 2007 pukul 22:56

    saya sendiri kurang merasa bijak dengan tindakan “langsung aja lamar”. selain belum tentu yang kita lamar bakal mau, terlalu riskan untuk menyandarkan sisa hidup kita kepada seseorang yang belum kita kenal betul.

    ya kalo nanti setelah menikah memang cocok. kalo nggak cocok, gimana? apa mau diceraikan begitu aja? lalu lamar gadis lain lagi, lalu nggak cocok lagi, lalu cerai lagi? begitu terus bolak-balik? ckckckck…pernikahan itu menurut saya bukan suatu ajang coba-coba: kalo enak terusin, kalo nggak enak tinggal minggat!😛

    pacaran, atau ta’aruf, atau penjajagan itulah yang saya anggap penting buat meminimalisir kecelakaan-kecelakaan spt di atas itu tadi.

    Kaezzar said:
    23 April 2007 pukul 15:29

    >Saya sih tetep…kalau memang niat menikah adalah >ibadah, kenapa juga harus milih2 dan penjajagan >segala? Langsung aja lamar!! Kakek-nenek kita aja >dulu gak pernah pacaran, awet2 aja…lha orang2 >sekarang yang pacarannya tahunan, malah pada >cerai.

    maaf kalo terkesan sok tau atau menggurui, cuma mo kasi opini :p

    waduh mas, apa iya kalo besok ujian kita g boleh belajar dulu? emang sih belajar berhari2 ga jamin kita dapet nilai bagus, tapi apa iya gara2 itu kita jadi ngerasa g perlu belajar?

    bukannya Allah ngasih kita akal untuk berpikir? so kita bisa ngelakuin prediksi, estimasi, atau antisipasi?

    kenapa banyak org yg pacaran itu cerai?
    IMO, ini banyak faktornya kali mas hehe
    apa iya mereka gagal karena mereka “pacaran” dan bukannya “taaruf”? koz ternyata yg sukses dalam RT setelah pacaran pun banyak ko…

    apa kalo 2 org yg tyt tidak dewasa dalam pemikiran n sikap, namun keinginan mereka untuk menikah sudah begitu kuat, lalu mereka ta’aruf, akan menjamin mereka hidup langgeng?

    contohnya mungkin gini…

    kadang banyak dari kita yang ingin menikah ternyata baru sebatas “ingin” saja. jujur pada diri sendiri itu bukan hal yg gampang…berapa banyak org yg mengatakan siap dan mampu menikah tapi ternyata sikap n kelakuan sehari2nya masih jauh dari siap? bukannya suudzan, tapi sekali lagi peribahasa lama berlaku…

    –tindakan akan bebicara lebih jujur dibandingkan kata2–

    bahkan sepanjang pengetahuan saya, dari sebuah buku, dahulu Rasul belum berani menikah “hanya” karena dia belum mampu memberikan mahar yg pantas. sampai sebegitu hati2nya Rasul bertindak. Bahkan yg saya sedihkan, banyak dari orang2 masih berani berkata “rezeki Insya Allah
    akan dicukupin, yg penting niatnya Lillahi Ta’ala”

    padahal di Hadits sudah jelas, syarat menikah itu adalah MAMPU ,bukan sekedar INGIN…
    bahkan Rasul yg sudah digaransi doanya pun tetap berpikir logis ke depannya
    btw, sori rada jauh nyimpang dulu…hehehe

    so, kalo udah begini, mau “pacaran” atau “ta’aruf” pun kemungkinan berhasil dalam RT akan mengecil…

    lalu, apa mereka bercerai karena pacaran? tidak ta’aruf? atau karena kedewasaan berpikir dan ketidakmampuan mereka?

    mas agus said:
    26 April 2007 pukul 17:05

    walah nggak rampung-rampung kalo urusan pacaran dalam Islam nih…kayak urusan polygami aja.
    Pacaran yang islami itu yang gimana toh??? Apa iya anak SMP dan SMA bisa berpacaran secara Islami?? Apa iya mereka berpikiran jauh suatu saat akan menikah???

    M Shodiq Mustika responded:
    26 April 2007 pukul 17:47

    Mas Agus, urusan pacaran dalam Islam nggak rampung-rampung nggak apa-apa, ‘kan? Bukankah persoalan ini berada di ranah ijtihad yang selalu membuka peluang untuk perbaruan?

    Mengenai bagaimana pacaran islami, silakan lihat http://pacaranislami.wordpress.com/

    Mengenai anak SMP dan SMA, lihat http://gaulgayarasul.wordpress.com/2006/12/26/9-gaul-sistematis-dengan-jiwa-bersih/

    papabonbon said:
    5 Mei 2007 pukul 14:48

    pusing ….😛

    Ciuman dengan Pacar « Pacaran Islami said:
    3 September 2007 pukul 02:51

    […] karena itu, aku jadi tertarik mengajukan PR (lagi) kepada para penentang pacaran […]

    fHeBiE_cUtE said:
    27 September 2007 pukul 10:56

    tp kan dlm islam pcran dlm bentuk apapun tteup d larang..gini az..ne kan dr ustad mushodik,,kyx pr pndukungx jg bxk,,klo qt2 ikut mnjalankan apa yang tidak mengharamkan apa yg tdk d haramkan oleh 4JJI & rasulx..(pacaran islami geto’ mkzdx)…klo terxta nantix di akhirat qt2 malah dosa..ustad mw g tanggung jwb???ustad yg nanggung dosax??muup loe stad…sabar ya..innalaha wa’ ashobirin…kan??

    observer said:
    27 September 2007 pukul 12:16

    fHeBiE_cUtE,
    ijtihad itu kalo hasilnya benar berpahala dua, kalo hasilnya salah, berpahala satu, tidak berdosa.

    Jazariyah said:
    3 Oktober 2007 pukul 06:04

    ya aku setuju pendapat febi, tapi apa kita sudah memenuhi syarat-syarat ijtihad yang telah disepakai oleh jumhur ulama ushul fiqih ? atau Ijtihad macam apa dan menurut siapa yang boleh kita lakukan !? Bukankah mereka para ahli ushul fiqih dari zaman imamuna syafi’i hingga saiki patut dibuat sebagai acuan tentang definisi ijtihad?, kalo tidak lantas siapa?
    Bukannya saya mempertanyakan ijtihadnya mas shodiq dan mba aisyah chuang, tapi mohon koreksii diri…. dan menilai diri sendiri, boleh jadi yang kita anggap selam ini sebagai sebauh ijtihad adalah bentuk dari karangan dan penafsiran serat ra’yu dari seorang yang lugu dan ambigu…

    maaf beribu maaf, tapi bukan kah kita disuruh saling mengingatkan?

    Kalo mas shodiq sudah merasa mampu berijtihad sesuai definisi ushul fiqh, saya ucapkan selamat, boleh jadi saya adalah orang pertama yang akan mendukung pemikirannya tentang pacaran islami…. menyebarkannya dengan bangga dan merasa enteng dan tidak berdosa…

    jazariyah

    M Shodiq Mustika responded:
    5 Oktober 2007 pukul 17:56

    Pada garis besarnya, ijtihad ada dua macam.

    1) yang menetapkan hukum sesuatu; pada jenis yang pertama inilah dibutuhkan penguasaan “ilmu agama”; contohnya: penetapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah” oleh Abu Syuqqah, seorang ulama Ikhwanul Muslimin.

    2) yang menerapkan hukum yang telah ditetapkan; pada jenis yang kedua ini, semua orang yang berilmu bisa berijtihad sesuai dengan ilmu masing-masing.
    Pada jenis ijtihad yang kedua inilah kita mengembangkan islamisasi pacaran berdasarkan ijtihad Abu Syuqqah yang menetapkan “bolehnya bercinta sebelum khitbah”.

    Dalam pengertian orang “awam”, hanya pengertian pertamalah yang diakui sebagai “ijtihad”. Karena itu, kami tidak mengklaim berijtihad, melainkan mengikuti ijtihadnya Abu Syuqqah.

    subhan said:
    9 Oktober 2007 pukul 09:20

    ada perbedaan pendaan pendapat akan hukum dari pacaran itu sendiri?aq cuman orang awam yang gak ngerti akan arti pacaranm itu sendiri.kalo bisa penjelasannya tolong dikirim ke_email aq. thanks be4

    emailq…… http://www.Cube_kimugm@yahoo.co.id kalo ada juga yang mau join ama aq silahkan aq siap terbuka untuk berdiskusi

    Akhina Ifa said:
    15 Juli 2008 pukul 19:19

    1) yang menetapkan hukum sesuatu; pada jenis yang pertama inilah dibutuhkan penguasaan “ilmu agama”; contohnya: penetapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah” oleh Abu Syuqqah, seorang ulama Ikhwanul Muslimin.

    Dalam pengertian orang “awam”, hanya pengertian pertamalah yang diakui sebagai “ijtihad”. Karena itu, kami tidak mengklaim berijtihad, melainkan mengikuti ijtihadnya Abu Syuqqah.

    Namun, bercinta itu bukan lantaran untuk pacaran khan, melainkan dibolehkannya pacaran disini ditujukan untuk menjelaskan bahwa cinta itu fitrah? Ada bantahan?

    Tanggapan Admin:
    Siapa pun yang berakal sehat dan tidak buta huruf pasti dapat membaca sendiri bahwa kata-kata yang tertulis di buku tersebut adalah penetapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah”, bukan sekadar bahwa cinta itu fitrah. Dan “bercinta sebelum khitbah” itulah yang kami maksudkan sebagai pacaran islami ala Abu Syuqqah.

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 12:34

    Jgn percaya!!!
    Sang penulis mencoba menipu dari retorikanya
    Banyak hadist dan ayat alquran sepertinya di salah artikan tafsirannya
    Mau bukti…
    Lihat saja kenaifan dari cara berfikir retorikanya.

    Knp demikian. Karena bagisaya sang penulis adalah PENGECUT

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 12:35

    Tanggapan Admin:
    Siapa pun yang berakal sehat dan tidak buta huruf pasti dapat membaca sendiri bahwa kata-kata yang tertulis di buku tersebut adalah penetapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah”, bukan sekadar bahwa cinta itu fitrah. Dan “bercinta sebelum khitbah” itulah yang kami maksudkan sebagai pacaran islami ala Abu Syuqqah.

    Jawab:
    Retoris???? Betul2x pengecut!!!

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 12:38

    Tanggapan Admin:
    Siapa pun yang berakal sehat dan tidak buta huruf pasti dapat membaca sendiri bahwa kata-kata yang tertulis di buku tersebut adalah penetapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah”, bukan sekadar bahwa cinta itu fitrah. Dan “bercinta sebelum khitbah” itulah yang kami maksudkan sebagai pacaran islami ala Abu Syuqqah.

    TIDAK ADA SATUPUN AYAT YANG MENJELASKAN TENTANG PERTALIAN DILUAR NIKAH SEPERTI PACARAN.
    YANG SAYA TAHU PACARAN ADALAH ADAT ISTIADAT NON ISLAM.

    “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5114), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8327), Ibnu Manshur dalam As-Sunan (2370). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 12:57

    Pendusta.. pantas banyak pembaja bilang anda pembohong

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 15:09

    Tanggapan Admin:
    Siapa pun yang berakal sehat dan tidak buta huruf pasti dapat membaca sendiri bahwa kata-kata yang tertulis di buku tersebut adalah penetapan “bolehnya bercinta sebelum khitbah”, bukan sekadar bahwa cinta itu fitrah. Dan “bercinta sebelum khitbah” itulah yang kami maksudkan sebagai pacaran islami ala Abu Syuqqah.

    TIDAK ADA SATUPUN AYAT YANG MENJELASKAN TENTANG PERTALIAN DILUAR NIKAH SEPERTI PACARAN.
    YANG SAYA TAHU PACARAN ADALAH ADAT ISTIADAT NON ISLAM.

    “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut” (HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5114), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8327), Ibnu Manshur dalam As-Sunan (2370). Di-hasan-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (4347)

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 15:10

    WOIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII
    PEMBOHONGGGGGGGGGGGGGGGG
    MANA TULISAN2x kami yang terposting disini
    HAHAHAHAHA

    PENEGCUTTTTTTTTT
    PENGECUT

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 15:34

    PEMBOHONG

    Akhina Ifa said:
    16 Juli 2008 pukul 16:21

    Anda minta alsan??
    Insya ALloh saya kasih

    Lihat nih http://myquran.org/forum/index.php/topic,41290.0.html

    Akhina Ifa said:
    17 Juli 2008 pukul 13:57

    mungkinkah org yang berhadapan dengan Godaan terbesarnya akan tidak tergoda…???

    Hanya org yang nyeleneh tuh yang bisa bilang tidak tergoda..
    Dan klo kejadian diluar fikiran alasannya adalah telah melakukan sesuatu yang haram sehingga hal itu tidak islami..
    hahaha.. pantas klo saya bilang bahwa org itu pendusta dan penjebak

    hei org2x yang tidak menuhankan nafsunya, Percayalah Hanya ALloh lah yang akan Memberikan ketenteraman kepada kalian, dan janganlah kalian mau tertipu oleh syaitan.

    Akhina Ifa said:
    17 Juli 2008 pukul 16:03

    PENDUSTA!!!

    […] “syarat” ijtihad, saya sudah beberapa kali mengemukakannya. Antara lain dalam sebuah komentar di Manajemen Amal dan sebuah komentar di Pacaran […]

    wahyu said:
    14 Oktober 2008 pukul 11:01

    pembangunan opini shodiq mustika memang hebat. dia narsis-nya minta ampun. menantang orang lain “adu kepala” pula. masya Allah. tanpa tuntunan dalil-dalil syar’i yang memadai.
    menyuruh orang untuk tidak debat kusir justeru dengan debat kusir itu sendiri. logika-nya ngawur sejak awal sampai akhir hampir di setiap blognya.

    M Shodiq Mustika responded:
    14 Oktober 2008 pukul 14:17

    @ wahyu & Akhina Ifa
    Main tuduh itu gampang. Tapi kalau tanpa bukti, itu sama saja dengan fitnah.

    Lex dePraxis said:
    13 November 2008 pukul 19:28

    Salah seorang sahabat kami baru saja menulis sesuatu tentang Taaruf dan Pacaran, silakan di cek.

    AZIZ said:
    19 Desember 2008 pukul 04:20

    WAH… kamu “PINTER” YA…, AKU PENGEN SEPERTI KAMU dikit.

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Aamiin. Terima kasih atas pujianmu.

    adikha said:
    19 Desember 2008 pukul 13:57

    kalau dikasih pilihan begini gimana?

    balikan sama mantan yang islami banget……gak mau dipegang tangannya…salamanya aja jauhan…but sekarang dia dah punya prinsip buat gak pacaran lagi…….karna katanya mau taaruf aja…….tapi katanya dia masih sayang walau gak sebesar sayang nya ke Allah SWT.

    apa trus ngejalani pacaran ma yang baru……gampang dipegang (tanda kutip loh).salaman aja ampe ditempelin dipipi….pokoknya beda……wajar kalau laki-laki sayang cewek kaya gini……dan gua juga gak rela ninggalinnya

    tapi dosanya itu gimana………??????????

    M Shodiq Mustika responded:
    19 Desember 2008 pukul 17:21

    @ adikha
    Setialah dengan pacarmu yang sekarang. Islamisasi adalah proses untuk menjadi islami atau lebih islami. Kalau sekarang masih kurang islami, tingkatkanlah kadar islaminya, kurangilah kadar jahiliyahnya. Takut dosa? Istighfar dan bertaubatlah! (Kunjungi blog Tanazhur PraNikah.)

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s