Berduaan = Cinta Sejati?

Posted on Updated on

Pasangan yang baru jadian konon so cool banget. Manja, bergandengan tangan, berangkulan, dan berboncengan sampai berdempetan. Setiap ada kesempatan, mereka berduaan terus. Ketika berada di antara orang-orang lain pun, mereka memperlihatkan bahwa mereka “tak terpisahkan”. Lengket kayak perangko. Persis di film-film India, Korea, dan sinetron-sinetron remaja kita yang having fun abis!

Perilaku berduaan semacam itu di muka umum seolah-olah mengumumkan bahwa mereka telah menemukan cinta sejati. Namun, benarkah berduaan seperti itu pertanda cinta sejati?

Marilah kita belajar dari seorang psikiater, Dr. M. Scott Peck. Dalam bukunya, *Tiada Mawar Tanpa Duri* (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 64-65), ia menuturkan:

Tuan F dan istrinya saling mengakui bahwa mereka keduanya sudah kehilangan cinta. Mereka masih tetap berpikir, “Walaupun kita sudah saling kehilangan cinta, kalau kita berusaha dengan sedikit kemauan saja seolah-oleh kita saling jatuh cinta, barangkali kita akan bisa mendapatkan cinta romantis kembali.”

Pasangan tersebut memuja kebersamaan [berduaan]. Ketika mereka mengikuti beberapa terapi kelompok, (di mana saya dan istri saya dan beberapa teman mengadakan penyuluhan perkawinan yang paling serius), keduanya duduk bersama, bicara satu sama lain, membela kesalahan masing-masing, dan mencoba menjadi pasangan yang paling utuh. Mereka yakin kesatuan yang demikian merupakan tanda kelanggengan yang relatif perkawinan mereka dan merupakan prasyarat untuk memperbaiki perkawinan tersebut.

Cepat atau lambat, tetapi biasanya secepatnya, kami harus memberitahu kepada beberapa pasangan bahwa mereka terlalu berbaur (tidak ada jarak), pasangan terlalu erat satu sama lain. Mereka perlu membuat jarak psikologis antara keduanya sebelum mereka sendiri berusaha memperbaiki kekurangan mereka.

Sebenarnya kadang-kadang perlu sekali memisahkan pasangan tersebut secara fisik, dengan cara mengatur duduk mereka secara berjauhan dalam pertemuan kelompok itu. Selalu ada gunanya meminta mereka untuk menahan diri untuk tidak berbicara satu sama lain atau membela [pasangan] di depan kelompok. Kami terpaksa harus berulang-ulang mengatakan “Biarkan Merry bicara, John” dan “Tidak usah dibantu, Merry. John bisa membela diri karena alasannya cukup kuat.”

Akhirnya, bila mereka terus mengikuti terapi, semuanya akan menyadari bahwa satu-satunya dasar membangun suatu perkawinan yang dewasa dan cinta sejati dapat bersemi kembali ialah dengan menerima sungguh-sungguh diri mereka sendiri dan kepribadian orang lain [yaitu sang kekasih], serta mengakui keterpisahan di antara keduanya. [Lihat “Fungsi Istri” di muhshodiq.wordpress.com]

Jadi, berduaan itu bukanlah pertanda cinta sejati. Jika selalu berusaha berduaan, maka itu justru pertanda sakit jiwa!

Dalam perkawinan, sebagaimana diungkap tadi, prinsip tersebut berlaku. Apalagi dalam pacaran! Karenanya, meskipun diperbolehkan bila terawasi, berduaan itu bukanlah aktivitas utama pacaran islami. Berduaan itu mestinya secukupnya saja, bukan pada setiap ada kesempatan.

10 thoughts on “Berduaan = Cinta Sejati?

    Anak kita mirip siapa? « M Shodiq Mustika said:
    22 April 2007 pukul 10:42

    […] Atas pertanyaan begitu, kuperoleh jawaban dari buku M Scott Peck, Tiada Mawar Tanpa Duri (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 113, 115-116: Pencinta sejati selalu melihat orang yang dicintainya sebagai pribadi yang mempunyai identitas tersendiri. Dia akan tetap menghargai dan mendorong keterpisahan identitas dan individualitas unik orang yang dicintainya…. [Lihat “Berduaan = Cinta Sejati?“] […]

    hafiz said:
    23 April 2007 pukul 15:21

    “mengakui keterpisahan di antara keduanya”.. ini tepatnya seperti apa yah, mas..

    *maksudnya, mengakui bahwa masing-masing memiliki kepribadian dan kebutuhan tersendiri yang perlu dihargai; karenanya, berduaan setiap saat tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan; masing-masing perlu pula berinteraksi dengan orang lain, bahkan terkadang perlu menyendiri

    fertobhades said:
    26 April 2007 pukul 22:14

    cinta seperti itu masih dalam tahap passion, dan belum ada intimacy dan commitment.

    tapi coba kalau mereka berdua (yang pacaran seperti itu) dikurung berdua di suatu ruangan selama beberapa waktu, bisa-bisa jadi eneg satu sama lain🙂

    asdar said:
    28 April 2007 pukul 13:31

    cinta sejati antara sesama mahluk emang tidak akan pernah kita dapat di dunia ini. yang namanya cinta sejati selalu dan selamanya, nah cinta sejati yang kita milki hanya untuk sang pencipta saja. janganlah terlalu dalam mencintai sesuatu karena itu akan memenjarakan hidupmu,cintailah pasangan sesuai kadarnya jangan berlebiha

    wirawax said:
    14 Mei 2007 pukul 05:49

    hm, mungkin ini juga hikmahnya poligami ya…
    gak selalu berdua (dengan istri yg sama)
    istri yg pas gak dapat giliran bisa menikmati kesendiriannya, suami bisa mengisi berduaan istri yang pas dapat giliran
    islam memang sudah tahu hal ini, jadi disyariatkanlah poligami

    dan ditentanglah ia oleh sebagian orang

    lurist rezza said:
    22 September 2007 pukul 13:16

    apakahsetiap insan itu mempunyai cintai?dan bagaimana kalau cinta itu mengalami erosi cinta dalam artian ada masalah apkah kita harus untuk bertahan dalam erosi itu?dan andaikan tidak mampu mengatasimsalah tersebut msih adkah harapan diri ini yang begitu sangat mengharapkan? sory aku punya cerita ne…….aku cinta banget ama cowok aku tyuz dia aku kira juga cinta ama aku tapi aku gak percaya sepenuh nya gitu ama dia,,,,meskipun aku to uda jadian ama dia dan sementara jarak antara aku dan dia itu sangat berjauhan,,,,di suatu saat ada masalah dikit,,,,,dia cuekin ku sebab ada pihak lain yang ikut cmpur dalam hubungan dan aku tidak menepis semua itu soaal nya pihak lain tersebut itu adlah guru aku?tyuz aku haruz gimna dan langkah aku to kedepan harus gimn?akankah aku hruz diem saja sementara ortu slalu nanyain tentang hubungan aku ama dia?aku to bingung harus gimna?langkah yang terbaik buat aku to apa gitu?mhon dengan sangat ok bozzzzzzzzz?|ne aku “PEMUJA RAHASIA”

    M Shodiq Mustika responded:
    22 September 2007 pukul 17:14

    Dik Lurist yang baik, aku memahami kegundahanmu. Aku senang kau tidak terbawa emosi, tapi berusaha mencari jalan terbaik. Bagus itu.

    Salah satu jalan terbaik untuk mengatasi konflikmu dengan si dia adalah menjadikan seseorang yang adil (dan dia segani) untuk menengahi konflik tersebut. Insya’Allah lebih efektif.

    Arahkan Pacaran Menuju Pernikahan « Pacaran Islami said:
    8 Oktober 2007 pukul 05:40

    […] Cinta bukannya tak hidup, ia bukan obralan janji hasrat abadi. Ia bukan nafsu untuk berdua setiap detik, ia tidak membangunkanmu di malam hari untuk membayangkan kekasihmu menciumi setiap jengkal tubuhmu […]

    syech mahmood al-cemood said:
    18 Oktober 2007 pukul 21:15

    saya belum pernah pacaran sama sekali seumur hidup dan saya tidak tahu bagaimana rasanya berpacaran, baik itu berpacaran secara islami atau pun bukan. Di antara bermilyar-milyar wanita cantik di dunia ini, adakah seorang saja yang mau menjadi pacar saya dunia akhirat ? yakni pacar yang diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya. berpacaran sejati; nikah yang syah. me marriage come here…

    Anak kita mirip siapa? « Gaul Yuk! said:
    3 Februari 2008 pukul 06:42

    […] Atas pertanyaan begitu, kuperoleh jawaban dari buku M Scott Peck, Tiada Mawar Tanpa Duri (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 113, 115-116: Pencinta sejati selalu melihat orang yang dicintainya sebagai pribadi yang mempunyai identitas tersendiri. Dia akan tetap menghargai dan mendorong keterpisahan identitas dan individualitas unik orang yang dicintainya…. [Lihat “Berduaan = Cinta Sejati?“] […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s