Gaya Pacaran Yang Paling Efektif

Posted on

Efektifkah gaya pacaran Anda? Apakah kebersamaan Anda dengan si dia menjadikan hubungan kalian semakin harmonis? Apakah kedekatan kalian menjadikan kalian masing-masing berkembang ke arah yang lebih baik dan lebih baik lagi? Apabila Anda peduli terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti itu, maka artikel ini layak kalian simak secermat-cermatnya.

Banyak pasangan berpacaran dengan gaya “yang penting happy”: berjalan-jalan berdua, makan berdua, nonton film berdua, belanja berdua… pokoknya bersenang-senang berdua, seolah-olah sudah berada di surga. Begitu asyiknya mereka bersenang-senang, sampai-sampai mereka tak sempat mempertimbangkan, apakah gaya pacaran kayak gitu efektif. Tahu-tahu, ketika status mereka telah beranjak menjadi suami-istri, terperanjatlah mereka mendapati bahwa sang pasangan ternyata tak seasyik dulu lagi! Jadi, gaya pacaran mereka kurang efektif, bukan?

Sebagian pasangan lainnya berpacaran dengan gaya “malu-malu merpati”: berjalan sendiri-sendiri, makan sendiri-sendiri, baca buku sendiri-sendiri… pokoknya tak pernah bersama-sama, seolah-olah ada api neraka yang memisahkan keberadaan mereka. Begitu asyiknya mereka masing-masing menyendiri, sampai-sampai mereka tak sempat mempertimbangkan kembali, begitukah gaya pacaran yang islami. Tahu-tahu, ketika status mereka telah beranjak menjadi suami-istri, terperanjatlah mereka mendapati bahwa sang pasangan ternyata bagaikan makhluk asing dari luar angkasa! Dengan demikian, gaya pacaran mereka patut dipertanyakan.

Kalau begitu, gaya pacaran (islami) yang bagaimanakah yang efektif dalam mengharmoniskan hubungan (dan mengembangkan berbagai kebaikan lainnya)?

Setelah sekian lama menimbang-nimbang, sampailah saya pada jawaban: gaya pacaran yang paling efektif adalah menyimak (mendengarkan secara aktif/produktif).

Dengan menyimak, Anda dapat menaruh-perhatian (tanazhur) pada si dia selengkap-lengkapnya. Dengan lengkapnya perhatian dari Anda kepada si dia, maka dia merasa keberadaannya Anda hargai sepenuhnya. Dengan merasa dihargai, dia pun bisa menghargai kelebihan Anda seraya memaklumi kekurangsempurnaan Anda. (Asyik, nggak?) Walhasil, harmonislah hubungan kalian.

Masalahnya, kita mungkin belum terampil mendengarkan secara aktif/produktif. Kita lebih lihai merayu si dia dengan berbagai ekspresi cinta yang romantis daripada menyimak seluk-beluk si dia sedalam-dalamnya. Untungnya, kemampuan menyimak ini bisa kita pelajari dan kita kembangkan.

Anda berminat menjadi “pendengar yang baik” (yang aktif/produktif)? Sampai jumpa di postingan berikutnya!

Iklan

18 thoughts on “Gaya Pacaran Yang Paling Efektif

    hendra said:
    23 Juni 2007 pukul 17:31

    bagus bangeeet….

    btyop said:
    27 Juni 2007 pukul 22:16

    sedang berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, terimakasih ^_^

    darell said:
    5 Agustus 2007 pukul 09:58

    bagus…

    itu memang pilihanku sejak awal kumemilih dirinya…

    pacarku adalah sahabar perjuanganku…

    wah… jadi kangen…. (hush!)

    darell said:
    5 Agustus 2007 pukul 10:05

    pacarku… = sahabat perjuanganku….

    resti restuati said:
    3 Oktober 2007 pukul 09:47

    pacar=……….apaan tuch??????????????????????????????????????????????woooooow!!!!!

    fyanz said:
    3 Oktober 2007 pukul 22:16

    Pacar???
    Dalam artian apa?
    Konteks yg di maknai remaja skarang?

    Jawaban Admin:
    Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/about/

    fafito said:
    11 November 2007 pukul 11:06

    pacar??????????????????????????????? aku ndiri za ga tau……………………. apa pacara itu harus ada???????????? pacartak berarti apa-apabagi saya namun sahabat adalah teman baik ku………………………..

    willy k said:
    25 Januari 2008 pukul 09:20

    doain aja ya…ane dapat jodoh yang muslimah seperti yang aku inginkan..hingga bisa menuntunku dalam kebenaran selalu…amin…
    sehingga bisa melalui hubungan pra nikah yang aman…nyaman dan tidak melanggar norma-norma dan aturan agama…
    amin ya robbal ‘alamin..
    wass

    mon said:
    31 Maret 2008 pukul 10:46

    pacaran bikin bingung,mau ta’aruf ma siapa?tapi yang pasti aq slalu berdoa mendapatkan jodoh yang terbaik untuk ku yang Allah berikan,tapi menunggu aja kan ga bakalan dateng jd aq juga usaha untuk dapet yang Allah siapkan untuk aq

    uswatun hasanah said:
    9 Juni 2008 pukul 14:34

    menurut saya g ada pacaran yang islami,,,,,pacaran ya tetap aja hukumnya dosa,,,,,kalau ana pribadi menaggapi pacaran tidak semudah menanggapi atau memahami sinetron atau novel yang pernah kita baca dan kita saksikan…….””””intinya No…..pacaran dalam islam,,,,,,tetapi kalau rasa suka merupakan bukti kemuliaan yang ALLAH berikan kepada kita bukan berarti dengan pacaran…….tetapi bagaimana kita memaknai dan memahami hal tersebut menjadi hal positif……

    semoga ALLAH memberikan yang terbaik buat saya…””saya yakin dan sangat percaya bahwa suatu hari nanti pasti datang seorang lelaki yang akan mendampingi hidup saya sampai akhirat””””’sekarang saya mau menjalani hidup ini dengan sewajarnya……..”’doain aja agar iman dan nikmat islam di diri saya masih kuat ”””sehinnga kata2 pacaran tidak akan pernah ada dalam hidup saya””””””””wass

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Tidakkah sebaiknya ukhti berdoa memohon dijauhkan dari yang haram, tanpa peduli akan istilahnya? Tidakkah ukhti tahu bahwa yang dicatat oleh malaikat pencatat amal adalah amal kita dan bukan istilahnya?

    feisal rahmady said:
    29 Agustus 2008 pukul 13:45

    Bagaimana kalo pacaran hanya sebuah status? dan ketika status hilang,,kedua insan masih saling menyayangi dan mencintai apakah itu dikatakan haram?

    pada dasarnya qta manusia tidak bs mengatakan hal ini itu haram atau halal tanpa penelitian lebih lanjut..misalnya : Hadist si anu mengatakan “A” harus ditelaah lagi hadist itu berasal dari mana? dari siapa? dan mengapa? kalo ternyata hadistnya merupakan olahan dari 20 org sblm si pembuat hadist,,maka ke20 org tersebut harus ditinjau.. Itulah kenapa manusia tidak boleh sembarangan bilang haram dan halal..

    Sampe pusing tujuh keliling ga satupun saya baca “pacaran itu haram” dlm al Quran.. tetapi qta harus sadar diri,,bahwa ketika qta mencintai sesorang tidaklah harus qta melampiaskan rasa cinta itu dengan berzina,,, definisi Zina? baca sendiri alQuran.. Intinya pacaran itu harus sehat dalam arti tidaklah melanggar norma2 yg ada dalam alQuran..

    lala said:
    25 Februari 2009 pukul 14:58

    pacaran secara islami itu gmn? orang yang taat beragama islam j sering melakukan apa yang sebenarnya g boleh dilakukan dan tau kalau itu dosa.
    karena pacaran zaman sekarang sering dilakukan dengan budaya barat karena kalau g begitu katanya tidak sayang.

    Panglima said:
    30 Maret 2009 pukul 10:17

    Asslm,
    Pacaran Islami? saya tidak yakin benar apakah yg saya lakukan ini bisa dikatakan pacaran islami atau bukan. therefore, saya minta pendapat siapa ja deh (terutama Bapak, y!)

    saya tidak pernah bilang,”Maukah kau menjadi pacarku?” Namun, seiring berjalannya waktu, kami pun dekat. Kedekatan kami tidak secara dzahir, tapi kami lebih senang dengan kedekatan ‘hati’. bahkan, dalam sehari-hari kami bisa dikatakan saling jauh (dan tak ada 1 temanpun yang tahu hubungan yang kami jalani-kecuali Ummi&Abinya-&tak ada yang mengira bahwa kami sudah berkomitmen untuk menikah di umur 25). komunikasi kami tidak seperti ‘remaja yang sedang jatuh cinta’ pd umumnya. kami lebih senang berkomunikasi melalui sms dibandingkan mengobrol berduaan secara langsung.Sebab, kami berdua sependapat bahwa,setiap kali kami berdekatan secara dzahir/langsung/duduk berdampingan,maka masalah pun mendekat.Kami berkesimpulan,”Begitulah jika kita berdekatan yang tersekat oleh tembok aturan muhrim(artinya,kami berdua sadar, bahwa berdekatan tiu salah),jadi agar semuanya nyaman,bukan menghancurkan temboknya tapi kami harus berada di sisi yang sama, yakni menjadi muhrim(menikah,red).Entah kenapa, dalam banyak hal kami sepaham (jd,tdk hanya sehati),paham dia tentang pacaran sama dengan paham saya,tidak ada kontak fisik sama sekali,tidak jalan berduaan,tidak ada mengobrol berduaan(meskipun di tempat umum),berdo’a pd-Nya dikala kerinduan memuncak agar kerinduan kami berlabuh dalam ikatan yang suci&seharusnya serta dlm ridha Allah subhanahu wa ta’ala.
    Saya berkomitmen untuk menjadikannya istri,pun dia.Kami berdua sudah melakukan istikharah dan ketika saya bertanya,”Apakah kau yakin mau menerimaku?”dia menjawab,”Jika sdh diikuti campur tangan-Nya, masih bolehkah aku meragukan hati ini..?”
    Walaupun merasa ingin mengungkapkan perasaan, kami lebih senang mengatakan,”Ana uhibbuka fillah…” terkadang klmt,”I Love U…”(Jarang km gunakan).

    Nah,apa yg km lkukn ini tidak melanggar aturan Islam? Benarkah ini yang dinamakan aplikasi dari teori ‘pacaran Islami’?
    Syukran…

    […] Muhammadiyah. Orang awam pun dapat menjalankannya. Ini dia contohnya, sebagaimana tergambar dalam curhat seorang pembaca situs ini: Asslm, Pacaran Islami? saya tidak yakin benar apakah yg saya lakukan ini bisa dikatakan pacaran […]

    hidayat said:
    19 September 2010 pukul 06:55

    saya ragu tentang pacaran islami…
    karena ragu, lebih baik saya tinggalkan…

    Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Siapa saja yang menjaga diri dari syubhat maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Siapa saja yang jatuh ke dalam syubhat maka ia hampir terjatuh pada yang haram, seperti penggembala yang menggembala di sekitar hima (daerah terlarang); hampir-hampir ia (terjatuh) menggembala di dalamnya. Ingatlah, setiap raja memiliki hima. Ingatlah, hima Allah adalah apa-apa yang Dia haramkan, dan ingatlah di dalam tubuh ada sekerat daging, jika ia baik, seluruh tubuhpun baik dan jika ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ingatlah itu adalah kalbu (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasai, Ibn Majah, Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, al-Baihaqi).

    hidayat said:
    19 September 2010 pukul 07:26

    coba renungkan kembali apakah yang bapak utarakan tentang pacaran islami sudah benar…
    kaji lagi islam lebih mendalam…usahakan terus untuk menyempurnakan shalat…hadirkan rasa khusyuk dalam shalat…

    mungkin maksud bapak baik, tapi coba pikirkan kembali dampak bagi orang yang hanya mencari pembenaran untuk melampiaskan hawa nafsu…

    ingat, kita ini calon mayat dan di akhirat, kita akan dimintai pertanggungjawaban…
    ingatlah nasehat Umar bin Khattab : “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal-amal kalian sebelum neraca timbangan berada dihadapan kalian”….

    Semoga Allah melembutkan hati kita…

    maulidinah awaliyah said:
    22 Januari 2012 pukul 11:26

    assalamualaikum
    jawaban dari konsultasi saya kok blum ada
    sdah lama saya menuggu
    wassalam

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s