Lima Cara Menanggapi Ocehan Anak

Posted on

Cara mendengarkan ocehan anak-anak itu berbeda-beda, tergantung dari usia anak-anak tersebut. Sekarang coba kita lihat anak yang berusia enam tahun dan masih duduk di kelas satu sekolah dasar. Kalau diberi kesempatan, anak seusia ini hampir tak tidak akan pernah berhenti bericara. Bagaimana orangtua harus menghadapi omongan yang tidak pernah berhenti ini?

Paling tidak, ada lima cara menanggapi ocehan anak. Mana yang paling tepat? Silakan simak pandangan M. Scott Peck, Tiada Mawar Tanpa Duri (Jakarta: Erlangga, 1990), hlm. 86-88:

Mungkin cara yang paling mudah ialah melarangnya. Percaya atau tidak, banyak keluarga yang melarang anak-anak berbicara. Dalam keluarga sedemikian, hukum “anak-anak harus diperhatikan, bukan untuk didengarkan” berlaku 24 jam per hari. Anak-anak sedemikian bisa dilihat tidak pernah berinteraksi, diam-diam memandangi orang dewasa dari pojok ruangan, memandang dengan membisu.

Cara yang kedua ialah mengizinkan berceloteh, tetapi sama sekali tidak mendengarkannya, sehingga anak tersebut sebenarnya tidak berinteraksi dengan orangtua. Dia semata-mata berbicara sendiri.

Cara yang ketiga ialah pura-pura mendengarkannya, tetapi kita juga terus dengan kesibukan kita, seskali memperhatikannya sambil berkata “o ya ya..” atau “o ya, bagus ya” untuk menimpali monolog si anak.

Cara keempat ialah mendengarkan dengan selektif. Ini lebih tajam daripada pura-pura mendengarkan. Di sini, orangtua akan memasang telinga bila si anak kedengarannya mengatakan sesuatu yang penting. Masalahnya, kemampuan pikiran manusia untuk menyaring secara selektif tidak begitu efisien. Akibatnya, mungkin banyak omongan yang tak penting didengarkan dan omongan yang sebenarnya penting terlewatkan.

Cara yang kelima ialah sungguh-sungguh mendengarkan si anak, memberikan perhatian kita sepenuhnya, menimbang setiap kata dan memahami setiap kalimat yang diucapkannya.

Kelima cara menanggapi pembicaraan si anak seperti yang disajikan di atas telah disusun berdasarkan urutan usaha yang kian meningkat. Dan cara kelima ialah cara yang menuntut energi paling banyak dari orangtua dibandingkan dengan empat cara lainnya. Para pembaca mungkin mengira bahwa saya akan menyarankan kepada para orangtua agar selalu mengikuti cara yang kelima, yaitu selalu mendengarkan anak-anak mereka dengan sungguh-sungguh. Tidak, sama sekali!

Pertama-tama, anak yang berusia enam tahun akan cenderung omong banyak. Jadi, kalau orangtua selalu memperhatikannya, orangtua tidak akan mempunyai waktu lagi untuk urusan lainnya.

Kedua, energi yang dikeluarkan untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh itu besar sekali, sehingga orangtua akan lelah sendiri kalau selalu mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Akhirnya, mendengarkan dengan sungguh-sungguh memang sangat membosankan karena omongan seorang anak enam tahunan biasanya membosankan.

Oleh karena itu, yang dituntut sebenarnya ialah keseimbangan antara kelima cara tersebut di atas.

Kadang-kadang perlu menyuruh si anak untuk tutup mulut, misalnya bila omongan mereka justru merusak suasana yang membutuhkan perhatian dan ketenangan. atau bila omongannya memotong pembicaraan orang lain secara tidak sopan, atau omongannya menunjukkan sikap mendominasi orang lain secara berlebihan.

Kerapkali, anak berusia enam tahunan semata-mata berbicara karena senang berceloteh.

Tetapi ada saatnya, anak-anak tersebut tidak puas dengan hanya ngomong sendiri; mereka ingin berinteraksi dengan orangtua, namun toh mereka masih bisa dilayani dengan pura-pura mendengarkan. Di saat-saat seperti ini, yang mereka inginkan dari interaksi ini bukanlah komunikasi, tetapi mereka ingin dekat. Dan dalam hal ini, pura-pura mendengarkan sudah cukup memuaskan keinginan mereka untuk ‘dekat’.

Anak-anak sendiri kerap ingin berkomunikasi sesekali dan sesewaktu saja, dan mereka akan dapat memahami bila orangtua mendengarkan mereka secara selektif karena mereka sendiri pun berkomunikasi secara selektif. Mereka memahami hal ini sebagai ‘aturan main’ dalam komunikasi.

Jadi, sebenarnya anak enam tahunan membutuhkan sedikit waktu saja (dari seluruh waktunya ngomong) untuk benar-benar diperhatikan dan didengarkan.

Salah satu tugas orangtua yang paling rumit ialah mengusahakan keseimbangan antara kapan perlu mendengarkan dan kapan tidak, dan bagaimana memberi tanggapan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Iklan

8 thoughts on “Lima Cara Menanggapi Ocehan Anak

    donny said:
    7 Juni 2007 pukul 16:32

    walah…belum kebayang nih aplikasiinnya 😀

    arul said:
    8 Juni 2007 pukul 00:32

    moga bisa diterapkan pas dah punya anak… amien 🙂

    M Shodiq Mustika responded:
    9 Juni 2007 pukul 07:22

    makanya jangan dibayangin tapi diaplikasiin, tapi kalo udah nikah ya…..

    erander said:
    9 Juni 2007 pukul 13:23

    Menurut saya, tergantung sikon dan lingkungan. Karena setiap manusia adalah unique, jadi kudu lihat2 dulu.

    Iwana Nashaya said:
    9 Juni 2007 pukul 23:00

    kalau saya……….. akan menganggap anak sebagai teman. 🙂 so, yah.. nyantai saja ngobrolnya kayak teman sendiri gitu.. jadi saya nggak akan merasa sok bisa, sok menggurui, sok bijaksana, de-el-el. jadi ‘ngobrol’nya bener-bener alami… sama-sama ‘belajar’. kalau saya tahu ya saya kasih tahu, kalau nggak tahu ya saya bilang terus terang, kalau lagi bosen ndenerin ocehannya ya saya suruh diam.. yaah.. nyantai saja lah.. 😛 tapi.. saya belum punya anak sih.. nggak tahu lah nanti.. hihihihihhi..

    M Shodiq Mustika responded:
    12 Juni 2007 pukul 07:05

    @erander
    thanks atas tambahannya.

    @Iwana Nashaya
    moga segera merit & cepet punya anak deh, Amin…

    …..punya anak yang banyaaaaaaak, pinter-pinter, solih+solihah… (kayak Syifa dan Adam) Amiin.. Amiin.. Allaahumma Amiin… 🙂

    Pinter-pinter? Amin.
    Solih+solihah? Amin.
    Pengin punya anak banyak? Hmmm… Ntar dulu deh.
    Kalo penginnya punya anak yg kayak Syifa & Adam, dua saja cukup. (Kampanye KB, hihi …)

    klikharry said:
    17 Juni 2007 pukul 14:08

    trima kasih mas, buat tipsnya
    insya allah akan segera di terapkan
    he.he.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s