Kritik Tajam Yang Tidak Lukai Hati

Posted on

Jika Anda ingin mengatakan “bagaimanakah seharusnya” seseorang bersikap atau berperilaku, gunakan strategi-strategi psikologis untuk menyatakan kritik Anda tanpa melukai hatinya. Apa yang Anda katakan, bagaimana Anda mengatakannya, di mana Anda mengatakannya, dan kapan Anda mengatakannya, semuanya sangat menentukan bagaimana kritik Anda dia rasakan.

Strategi terpenting adalah pilih waktu yang paling tepat, yaitu ketika waktunya “jauh” dari peristiwa yang Anda kritik. Contohnya, Anda hendak mengkritik adik Anda yang bangun kesiangan setiap hari. Kritiklah dia pada sore hari. Bila Anda mengkritiknya pada beberapa detik seusai dia bangun atau pada beberapa menit sebelum dia berangkat tidur di malam hari, maka hatinya akan terluka.

Strategi lain yang juga sangat penting adalah pilih tempat yang paling tepat, yaitu di tempat yang “jauh” dari peristiwa yang Anda kritik. Contohnya, Anda hendak mengkritik adik Anda yang bangun kesiangan setiap hari. Kritiklah dia ketika kalian berada di luar rumah, misalnya di tempat rekreasi atau tempat-tempat refreshing lainnya. Kalau Anda mengkritiknya di kamar tidurnya, hatinya akan terluka.

Selain dua strategi tersebut, berikut ini beberapa strategi penting lain yang bisa Anda manfaatkan untuk mengkritik tanpa melukai hati:

  • Ciptakan kesan bahwa Anda menaruh perhatian pada dirinya dan terhadap hubungan Anda dengannya. Hindari kesan bahwa persoalan yang Anda bicarakan itu mengenai betapa terganggunya diri Anda, atau pun hal-hal lain yang bersangkutan dengan kepentingan Anda sendiri. Contohnya, daripada mengatakan kepada adik Anda bahwa Anda merasa sebal melihat orang yang bangun kesiangan, ucapkanlah: “Dik, pagi hari serasa kurang cerah tanpa dirimu. Bisa nggak, ya, kita sering-sering bershalat subuh berjamaah, berjalan-jalan bersama menghirup udara segar dan menyambut hangatnya matahari terbit?”
  • Sampaikan kritik secara sembunyi-sembunyi. Biarlah hanya orang yang Anda kritik itu sajalah yang tahu kritikan Anda kepadanya. Bila Anda mengkritik dia di depan orang lain, maka terlukalah hatinya.
  • Awalilah kritik Anda dengan pujian. Contoh: “Dik, aku turut merasa senang dan bangga ngeliat Adik disukai banyak cowok. Kelak setelah kau lulus SMA, kian mekarlah dirimu. Saat itu, akan semakin banyak cowok keren yang suka padamu. Saat itulah kau bisa lebih selektif dalam memilih kandidat terbaik untuk kau jadikan pacar. Alangkah eloknya bila sebelum itu, kau tak usah pacaran dulu. Oke?”
  • Kritiklah perbuatannya, bukan orangnya. Contohnya, hindari kata-kata seperti: “Kau masih anak sekolah, belum cukup dewasa untuk pacaran. …” Gunakan kata-kata seperti: “Kau sudah cukup dewasa, Dik. Tentu kau bisa mengerti bahwa remaja pada masa SMA ini belum waktunya untuk punya pacar.”
  • Posisikan diri Anda sebagai sepihak dengannya, bukan berhadapan dengannya. Contohnya, jauhi ungkapan seperti “Aku benci padamu karena kau sudah berani pacaran sebelum lulus SMA.” Gunakan ungkapan seperti “… Nah, sekarang kita sepakat, memastikan cerahnya masa depan itu lebih penting daripada menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.”
  • Tawarkan solusi yang lebih menguntungkan. Contohnya: “Memang nggak ringan menahan diri dari hasrat bercinta-cintaan dengan seseorang yang spesial. Namun kemampuan menahan diri ini membuat kita makin dewasa dan makin kuat menghadapi aneka tantangan kehidupan, Bahkan kelak, kau pun akan dicintai secara lebih dewasa oleh orang yang lebih spesial. Yang kumaksud dengan orang yang lebih spesial ini bisa jadi orang lain, tapi bisa pula si dia yang ketika itu kedewasaannya telah semakin matang.”
  • Bersikap rendah hatilah kepadanya dan jangan takabur. Contohnya: “Kalau aku berada dalam posisi seperti dirimu, mungkin aku juga akan melakukan kesalahan serupa.” Jangan pakai kata-kata seperti “Kalau aku sih takkan pernah berbuat bodoh seperti yang kau lakukan itu.”

Demikianlah strategi-strategi psikologis untuk menyatakan kritik tanpa melukai hati. Kecuali strategi terakhir (yang kuungkap berdasar masukan dari manajer pribadiku), semua strategi tersebut kususun berdasarkan pembacaan terhadap buku David J Lieberman, Get Anyone to Do Anything, Bab 36.

14 respons untuk ‘Kritik Tajam Yang Tidak Lukai Hati

    rivafauziah said:
    16 Juli 2007 pukul 17:22

    strategi Kritik Secara psikologis sangat bagus buat di contoh. Pada dasarnya manusia tidak lepas dari kesalahan dan kealfaan. Kitapun sering kali melakukan kesalahan2 yang tanpa kita sadari.
    Kesalahan akan menjadi benar dan masuk akal jika diuraikan dengan jelas, dan dari sudut mana kita memandang sebuah kesalahan.
    Tapi biasanya Kritikan bisa jadi memojok-kan dan memfonis kalau tidak dengan hati2 dan ujung2nya bukan menyelesaikan masalah tapi malah menambah permasalahan baru dan benban yang baru pula..

      fendi nurdianto said:
      26 Juni 2009 pukul 22:17

      ia saya setuju neng, namun terkadang dengan strategi kritik orng yg kita kritik kagak ngerti2 bahkan pura2 egak tahu. apa perlu strategi lain lg atau jurus baru…

    kakilangit said:
    16 Juli 2007 pukul 18:24

    yang paling pentig satu lagi cak, kita tidak dalam posisi sedang melakukan hal yang membuat kita meng kritik orang lain. kan gak keren kita bilang baek2 kalo adek kita jangan bangun siang tapi kita juga bangun siang 😀

    *kayaknya semua juga udah tahu :p *

    superkecil said:
    16 Juli 2007 pukul 20:37

    tips bagus ne…
    perlu dicoba

    erander said:
    17 Juli 2007 pukul 15:27

    Jadi ingat surah An Nahl (16) ayat 125 : Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan penuh hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk So, memang sudah seharusnya kita harus memberikan kritik juga dengan cara yang baik. Saya setuju dengan tulisan Wak Shodiq.

    mataharicinta said:
    17 Juli 2007 pukul 20:31

    yuhuu pak…..
    tipsnya oke nih
    dikulik ya…

    Bindrang said:
    17 Juli 2007 pukul 21:18

    Tips yang bagus, moga aja saya bisa melakukannya. salam kenal ya.

    Iwana Lagi lah yau... said:
    18 Juli 2007 pukul 12:34

    “Kalau aku sih takkan pernah berbuat bodoh seperti yang kau lakukan itu.” — ehem! ehem! Pletak..!! Dighzeng!!!

    M Shodiq Mustika responded:
    19 Juli 2007 pukul 06:58

    @rivafauziah
    Ya, kita perlu berhati-hati. Memang, kritik itu risikonya besar, apalagi bila kita tujukan kepada orang yang kita cintai.

    @kakilangit
    Ya iyalah. Tapi bila kakilangit mau mengkritikku yang kadang bangun kesiangan (karena malamnya kerja lembur), bolehlah kakilangit mengkritikku walaupun kakilangit mungkin juga pernah bangun kesiangan. 😀

    @superkecil, mataharicinta, Bindrang
    Oke, oke, oke. Mudah2an aku juga terdorong untuk lebih berhati-hati dalam melancarkan kritik.

    @erander
    Itulah ayat favoritku selaku “penulis yang tidak membodohi pembaca”. Makasih atas dukungannya.

    @Iwana
    I see. Allah SWT memberi kita hidayah melalui berbagai jalan, termasuk melalui kritik, baik yang tajam maupun yang lembut. Berbahagialah orang-orang yang bersedia menerima petunjuk-Nya.

    Rusdin S. Rauf said:
    19 Juli 2007 pukul 14:25

    terngiang-ngiang akan masa-masa kecilku. ibuku selalu memberikan kritik yang indah nan mempesona. bahkan, terkadang aku menyadari kritikan dari ibuku itu setelah remaja. Aku baru paham, ternyata, yang ibunda ungkapkan semasa aku SMP adalah kritikan untuk diriku. aku baru menyadari saat ini, saat aku mengalami masa-masa remaja.
    Mas Shodiq, thanks, tulisan mas shodiq membuatku kembali membuka lembaran-lembaran dua tahun silam.

    mathematicse said:
    23 Juli 2007 pukul 00:46

    Wah tips bagus nih…

    Iwan Darmawansyah said:
    23 Juli 2007 pukul 06:32

    Keikhlasan menyampaikan kritikan menimbulkan sikap empati terhadap orang lain, sehingga dengan sendirinya kritikan disampaikan secara positif.

    M Shodiq Mustika responded:
    25 Juli 2007 pukul 12:33

    @ Rusdin S. Rauf
    makasih kembali
    ceritain dong lembaran2 silam itu!

    @ mathematicse
    aamiiin…. smoga bermanfaat

    @ Iwan Darmawansyah
    betul, dengan ikhlas segalanya terasa lapang

    […] Dale Carnegie, kritik, psikologi by M Shodiq Mustika Dua tahun lalu, aku sudah memposting “Kritik Tajam Yang Tidak Lukai Hati” Kini saatnya aku memposting bagaimana supaya kita tidak merasa sakit oleh kritikan yang […]

Tinggalkan Balasan ke Sikap Jitu Supaya Kritikan Tidak Menyakiti Anda « M Shodiq Mustika Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s