Apakah ini masih bisa disebut cinta?

Posted on Updated on

Apa yang kau butuhkan dariku?” tanya seorang gadis Jakarta padaku, beberapa pekan yang lalu. (Yang kumaksud dengan Jakarta dalam tulisan ini adalah kawasan Jabodetabek, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi.)

 

Pengembangan dirimu,” jawab diriku, seorang pria Solo, ayah dua orang anak. “Mekarlah di mana pun kau berdarah.”

 

“Apa yang kau butuhkan dariku?” tanyaku padanya.

 

Kasih sayang,” jawabnya. “Mungkin aku merindukan sosok seorang ayah atau seorang kakak.”

 

Pekan demi pekan berlalu. Si dia merasa tidak mampu memenuhi kebutuhanku. Rupanya, dia memahami ‘pengembangan diri’ sebagai ‘menuju masa depan yang pasti’. (Adakah masa depan yang pasti?) Aku sendiri memandang ‘pengembangan diri’ sebagai ‘menuju kepribadian seutuhnya’.

 

Sementara itu, dia juga merasa aku tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Agaknya, dia memahami ‘kasih sayang’ sebagai ‘cinta yang instan’. (“Kalau bisa cepat, mengapa harus lambat?” ujarnya.) Aku sendiri memandang ‘kasih sayang’ yang dia butuhkan dariku itu sebagai ‘cinta sejati’.

 

Perbedaan pandangan kami mengenai definisi ‘pengembangan diri’ dan ‘kasih sayang’ itu kemudian mengakibatkan menghilangnya dia dari kehidupanku sehari-hari. Dia pun akhirnya berpamitan secara tertulis sebagai berikut.

 

Solo, 22 Juli 2007

 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Dear ka muh shodiq mustika

 

Ka Muh, De yakin walaupun secara lahiriah kita tak pernah saling bicara lagi. Namun, secara batiniah kita saling bicara tentang segala rasa yang sedang berkecamuk di dalam hati kita masing-masing. Betapa pun sakit hati ini ku rasa karena perilakumu ataupun sikapmu yang tak mampu ku fahami. cinta-kasihku karena cinta-kasih dari Illahi juga tentunya akan selalu memaafkanmu. Karena aku bukan seorang pendendam, aku selalu bertawakal pada Allah atas luka hatiku oleh seseorang. Karena aku pun senantiasa mengharap ampunan dari Allah, karena bukankah Allah Maha pengampun. Bukankah Semua manusia akan mempertanggungjawabkan sendiri segala perbuatannya. Jadi, meski terlukanya aku karenamu tak kan kujadikan ini dendam. Aku merasa lebih lapang dengan merelakan terhadap apa yang sudah terjadi dan mengambil pelajaran darinya.

 

Begitu juga diriku ini, seorang manusia yang tak luput dari dosa. Yang pernah mengukir sejarah dosa padamu. Yang pernah melukai hatimu karena perilakuku. Yang keliru atas sikapmu. Yang tak mampu fahami maksud baikmu. Yang tergambar Seperti lirik lagu [Tangga, “Terbaik Untukmu”] berikut:

 

Maafkanlah bila ku slalu

Membuatmu marah dan benci padaku

Kulakukan itu semua

Untuk buatmu bahagia

 

Mungkin ku cuma tak bisa fahami

Bagaimana cara tunjukan maksudku

Aku cuma ingin buatmu bahagia.

 

Oleh karena itu, maafkanlah diriku ini ka Muh atas segala salahku padamu. Baik yang ku sengaja ataupun yang tak ku sengaja.

 

Tak lupa aku pun ucapkan terima kasih banyak atas segala kesempatan dan kebaikan yang telah diberikan ka Muh dan keluarga kepadaku. Aku tak kan lupakan kebaikan kalian semua. Semoga Allah yang kan membalas semuanya.

 

Akhirnya, De pamit pulang [ke ‘Jakarta’] untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan ridha Allah tentunya. Doakanku ya, agar aku mampu meraihnya dengan cara yang mampu ku fahami. Karena dengan kefahaman sendiri atas segala sesuatu, membuat diri lebih termotivasi dalam meraih ridha Illahi.

 

insyaAllah kita akan berjumpa kembali dalam suasana yang damai dan penuh kebahagiaan.

 

Wassalamualakum Warohmatullahi Wabarakatuh

 

Suhartini

 

 

Terus terang, aku tidak yakin apakah “kita akan berjumpa kembali dalam suasana yang damai dan penuh kebahagiaan”. Aku pun tak yakin apakah aku masih perlu berkata-kata lagi.

 

Kalau pun masih perlu berkata-kata, aku kini merasa tak mampu, selain bertanya-tanya, “Apakah ini masih bisa disebut cinta?” Mungkin ada baiknya aku bisikkan penggalan lirik lagu “Ruang Rindu”-nya Letto, “Kau datang dan pergi, oh begitu saja.

 

Oh, tidak! Lebih baik aku kumandangkan kata-kata Seno Gumira Ajidarma, Affair: Obrolan tentang Jakarta, hlm. 146-149:

 

Masih Adakah “Cinta Sejati” di Jakarta?

 

… jika segala sesuatu hanya bisa membahagiakan kalau dikerjakan dengan penuh cinta, apakah cinta pun masih bisa membahagiakan dalam dunia yang telah dikuasai sikap hidup serba instant? Barangkali, semoga hanya barangkali, cinta pun telah menjadi instant.

 

Bagaimanakah kiranya cinta yang instant itu? Barangkali saya boleh merumuskannya sebagai cinta tanpa proses. Itulah cinta yang hanya berarti kebahagiaan tanpa penderitaan, ekstase tanpa luka, rindu tanpa dendam, pacaran tanpa pertengkaran, hanya senang, senang, dan senang. Mungkinkah? Barangkali tidak, tapi saya melihat betapa Homo Jakartensis memperjuangkannya: agar cinta hadir secara instant. Cinta boleh ajaib sedikit, tapi jangan sampai bikin orang menangis. Cinta jangan datang berkelebat dari langit ketika tidak diharapkan, tapi hanya ada ketika dibutuhkan aja.

 

… Homo Jakartensis telah semangkin siap menangkap denyar-denyar cinta dari langit, untuk mengemasnya sebagai praktek cinta instant di mana cinta menjadi pertemuan sesaat yang seolah-olah bukan bagian dari sebuah proses. Cinta seolah-olah tanpa awal dan tanpa akhir yang bukan berarti abadi, melainkan terkemas secara instant. Cinta macam ini maunya hanya membawa suka tanpa duka, cinta seperti sudah dipatok, terbatas, berada dalam suka: cinta sebatas minum kopi.

 

Kemudian minum kopi ini bisa berkembang ke kamar motel, namun prinsipnya tidak berubah, karena inilah cinta instant, cinta yang diinginkan hadir tanpa konsekuensi. Apakah itu bernama konsekuensi mencari nafkah, apakah itu berarti kesetiaan, apakah itu berarti pengorbanan, pokoknya cinta yang semakin kurang repotnya semakin indahlah kiranya. Betul-betul cinta instant: habis manis sepah dibuang. Pertanyaannya: apakah ini masih bisa disebut cinta?

 

… mereka yang tidak pernah memahami cinta instant ini bisa terjebak dalam penderitaan yang sia-sia, karena menghayatinya sebagai hubungan romantik yang konvensional. Saya tidak sedang bicara tentang cinta di luar nikah, karena hal ini juga bisa berlangsung di dalam kehidupan rumah tangga yang seolah-olah bahagia. Cinta yang dihayati selama 25 tahun bisa saja hanya merupakan hubungan dari kontrak ke kontrak yang membawa kepentingan di dalamnya, seperti hubungan kita dengan kopi instant. Dalam hal ini Jakarta adalah sebuah kota yang dingin dan tidak peduli.

 

 

Akhirnya, sekali lagi aku bertanya-tanya, “Apakah ini masih bisa disebut cinta?

14 respons untuk ‘Apakah ini masih bisa disebut cinta?

    kurtubi said:
    24 Juli 2007 pukul 14:25

    waaah.. b agus nih buat dibikin cerpen … so romantis, so cute so

    thanks….
    tertarik bikin cerpennya? silakan kontak via japri
    mungkin juga bisa jadi novel. sebab, di samping yang diceritakan di atas, masih ada banyak “konflik” dan “kejutan” lainnya

    Maya Mona Mustika said:
    24 Juli 2007 pukul 23:44

    Supaya lebih memahami “romantis”-nya kisah ini, saya rasa pembaca perlu memahami ciri khas sifat romantis.

    Samperin saja https://muhshodiq.wordpress.com/2007/02/07/ciri-khas-sifat-romantis/

    k'baca said:
    25 Juli 2007 pukul 09:47

    belajar romantika itu lewat film Bollywood, ada tangis dalam tawa – ada canda kala resah! bukan begitu ustadz?
    rate: \bigstar \bigstar

    ahmad sahidin said:
    25 Juli 2007 pukul 10:57

    wow…..cukup pelik, greget, dan liar juga…

    M Shodiq Mustika responded:
    25 Juli 2007 pukul 12:28

    @ Maya Mona
    Oooo, sudah paham, ya?

    @ k’baca
    Wah, aku gak tau . Film Bollywood terakhir yg kutonton: Kuch Kuch Hota Hai. Ada banyak pelajaran romantika yang bisa kita petik dari situ.

    @ ahmad sahidin
    pelik, greget? hehehe… pengamatan yg tajam!
    liar? masak iya sih? yg mana? kok aku gak merasa, ya?

    may said:
    25 Juli 2007 pukul 15:11

    1st, makasih dah mampir ke blogku, pak.
    2nd, just my opinion: system pendidikan kita fokus ke IQ, lemot di Eq, keteteran di SQ. Media sadar atau ga sadar melakukan distorsi kebenaran (walau aq percaya ga ada kebenaran absolut dalam ruang cerebrum manusia). Lingkungan melindungi atas nama tenggang rasa.
    3rd, sory aga skeptis pak, 3 taon lagi keadaan bakal lebih parah

    k'baca said:
    25 Juli 2007 pukul 20:33

    Wah, aku gak tau . Film Bollywood terakhir yg kutonton: Kuch Kuch Hota Hai. Ada banyak pelajaran romantika yang bisa kita petik dari situ.

    ::Lah, aku itu nonton yg itu ampe berkali2! Romantis!

    Ini Iwana, Pak... said:
    25 Juli 2007 pukul 21:08

    kalau menurutku sih.. bisa juga itu disebut CINTA SEJATI.
    Bukankah CINTA SEJATI hanya untuk dan karena ALLAH semata?
    dan semua butuh proses… 🙂
    diperlukan kesabaran, pengorbanan, keikhlasan… dan sebagainya.. dan sebagainya…
    WAKTU NANTI YANG AKAN MEMBUKTIKAN.

    yang penting.. DAMAI saja lah.. meski ada luka yang perih.. 🙂

    DAMAI itu indah.. seindah senyumku.. 😉 hallah-hallaaah…

    SMS Cinta Sejati « M Shodiq Mustika said:
    26 Juli 2007 pukul 01:22

    […] Titianku ← Apakah ini masih bisa disebut cinta? […]

    M Shodiq Mustika responded:
    26 Juli 2007 pukul 01:49

    @ may
    1st, sama-sama
    2nd, just my autocritic: sikapku yang kuceritakan di atas itu tampak terlalu “fokus ke IQ, lemot di Eq, keteteran di SQ”
    3rd, seperti kata Iwana, “WAKTU NANTI YANG AKAN MEMBUKTIKAN”

    @ Iwana
    Betul. 🙂 Yang penting saat ini: belajar lagi, antara lain melalui SMS Cinta Sejati

    julfan said:
    26 Juli 2007 pukul 14:43

    masih ada pak

    Ersis Warmansyah Abbas said:
    26 Agustus 2007 pukul 22:24

    Ya … cinta adalah manusia … mencintai atau dicintai adalah pilihan manusia … manusia yang tidak punya cinta …. mungkin manusia yang telah hilang …

    FiRda said:
    14 September 2007 pukul 13:15

    sepertinya memang seperti iTu cinta jman skrng, maunya instan dan hasilnya pu akn instan, sehingga cara menyelesaikan jg instant…………sungguh menyedihkan…….

    alifaiq said:
    14 Desember 2007 pukul 11:03

    teringat penggalan kata “cinta, penderitaan yang tiada akhir”

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s