Haramkah “jalan menuju zina”?

Posted on

Salah satu kaidah ushul fiqih yang diandalkan oleh saudara-saudara kita yang menentang “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” adalah: “Maa da’aa ilal haram, fahuwa haram”. Artinya, apa [pun] yang menjadi jalan menuju sesuatu yang haram, maka dia haram. Dalam konteks ini, “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” dipandang sebagai “jalan menuju zina”. Karena itu, hukumnya haram, katanya.

Namun, penggunaan (secara mutlak) kaidah tersebut ditolak oleh Abu Syuqqah (dan sebagian ulama lainnya). Dengan tegas, Abu Syuqqah menyatakan: “Sarana yang Mengarah pada Sesuatu yang Terlarang, Tidak Harus Selalu Terlarang Juga” (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 248) Alasannya, antara lain: “tidak selalu terlarangnya sesuatu yang mengarah pada perbuatan terlarang dapat dipahami dari sabda Rasulullah saw kepada Umar dalam masalah berciuman ketika puasa ….” (hlm. 249)

Al-Khattabi berkata, “… Berkumur-kumur dengan air adalah sarana untuk sampainya air tersebut ke dalam tenggorokan dan kemudian terus ke dalam perut. Dengan demikian, batallah puasa. Hal ini sama dengan mencium yang merupakan sarana atau jalan menuju hubungan intim [seksual] yang dapat membatalkan puasa.” (hlm. 248)

Umar bin Khattab berkata, “Aku merasa gembira sekali, lalu aku mencium istriku, sementara aku berpuasa. Hal itu aku katakan kepada Rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, hari ini aku melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji. Aku mencium istriku sedangkan aku sedang berpuasa.’ Beliau menjawab, ‘Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dengan air, sedangkan kamu sedang berpuasa?’ Aku menjawab, ‘Kalau itu tidak apa-apa.’ Beliau bersabda: ‘Begitu pula dengan hal [ciuman] itu.’” (Shahih Sunan Abu Daud, hadits no. 2089)

Di halaman lain pada buku yang sama (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 239), Abu Syuqqah mengutip sebuah buku ushul fiqih karya al-Qarafi, Al-Furuq, yang menerangkan:

Para ahli membagi celah yang dapat menimbulkan kekejian itu dalam tiga macam. Pertama, seluruh ulama sepakat untuk menutup celah ini dan melarangnya dengan tegas, seperti menggali sumur di jalan umum sebab akan mencelakakan kaum muslimin. Kedua, para ulama sepakat untuk tidak melarangnya, celah ini dibiarkan saja terbuka, dan sarananya tidak perlu disingkirkan, seperti [tiadanya] larangan menanam anggur karena khawatir akan dijadikan minuman keras atau [tiadanya] larangan bertetangga dengan orang lain karena khawatir terjadi perzinaan. Ketiga, para ahli berbeda pendapat, apakah celah tersebut perlu ditutup atau tidak, seperti … memandang kaum wanita, apakah perbuatan itu haram [atau “terlarang”] karena dapat menggiring seseorang kepada perbuatan zina atau[kah] tidak [“terlarang”].

“Pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” tergolong dalam jenis celah ketiga yang mengenainya para ahli berbeda pendapat. Sebagaimana “memandang lawan-jenis”, “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” pun “dapat menggiring pelakunya kepada perbuatan zina”. Untuk berjaga-jaga atau mencegah perbuatan zina ini, sebagian ulama melarangnya. Namun, larangan ini bukanlah haram, melainkan makruh. Abu Syuqqah menegaskan, “jelaslah bahwa larangan yang dilatarbelakangi upaya pencegahan dan untuk berjaga-jaga, atau dengan kata lain untuk saddudzdzari’ah, [itu] hanya dianggap makruh, bukan haram.” (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 251)

Lantas, apakah “pacaran islami” alias “tanazhur pranikah” itu makruh? Tunggu dulu! Meminjam fatwa Ibnu Taimiyah, Abu Syuqqah (hlm. 252) berargumen:

… apakah hal itu masih dianggap makruh jika dilakukan untuk sesuatu yang sunnah [misalnya: nikah]? Di sini terdapat keragu-raguan karena kekejian makruh bertentangan dengan kemaslahatan sunnah. Pada praktiknya, kadang-kadang makruh yang lebih kuat dan kadang-kadang pula [justru] sunnah [yang lebih kuat]. Dalam hal ini, yang diperhatikan adalah mana yang lebih kuat antara kemaslahatan dengan kemudharatan [sehingga lenyaplah syubhat atau keragu-raguan itu].

Ada kalanya, kemaslahatan “tanazhur pranikah” (dalam konteks “menuju siap nikah”) lebih kuat daripada kemudharatannya (dalam konteks “jalan menuju zina”). Oleh sebab itu, bisa kita pahami mengapa Abu Syuqqah tidak menetapkan terlarangnya “tanazhur pranikah” (atau pun “bercinta sebelum khitbah”), baik dalam bentuk haram maupun makruh. Beliau justru kadang-kadang menganjurkannya. (Lihat Kebebasan Wanita, Jilid 5, hlm. 53-62 dan 71-80.)

Iklan

38 thoughts on “Haramkah “jalan menuju zina”?

    kaezzar said:
    6 Oktober 2007 pukul 06:07

    Assalamualaikum wr wb

    >>>>>
    Umar bin Khattab berkata, “Aku merasa gembira sekali, lalu aku mencium istriku, sementara aku berpuasa. Hal itu aku katakan kepada Rasulullah saw., ‘Wahai Rasulullah, hari ini aku melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji. Aku mencium istriku sedangkan aku sedang berpuasa.’ Beliau menjawab, ‘Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dengan air, sedangkan kamu sedang berpuasa?’ Aku menjawab, ‘Kalau itu tidak apa-apa.’ Beliau bersabda: ‘Begitu pula dengan hal [ciuman] itu.’” (Shahih Sunan Abu Daud, hadits no. 2089)
    >>>>>

    Analogi yang sempurna…
    Entah ini mau disebut ilmu apa
    Tapi saya suka sekali cara dgn berpikir Rasul…n_n

    Wassalam

    aRuL said:
    7 Oktober 2007 pukul 00:45

    haram™ jelas-jelas mendekati zina koq…

    gundul said:
    7 Oktober 2007 pukul 14:24

    Iya ..
    bener tuch…
    Khan yang pacaran itu bukan suami istri..bukan mahrom…
    Pake pegangan tangan & jalan2 ke pabrik berduaan lagi.. (katanya Islami)
    Padahal menyentuh Ajnabiyah yg bukan mahrom kan haram jikalau bukan karena kondisi darurat….
    Nggak ada tuch alasan biarpun tanpa syahwat…

    guwe said:
    7 Oktober 2007 pukul 14:31

    Pacaran kan belum nikah…….
    Jelas banget mendekati zina nya..
    Sudah adanya pegangan tangan & berduaan dgn non muhrim…ini melanggar syari’at…
    Sangat berbeda dengan keadaan yg dialami Umar bin Khattab
    Dalam hal ini..kaidah yg mengharamkan wasilah menuju Zina lebih tepat digunakan.
    Lagi-lagi… sebuah pengambilan dalil yg tidak tepat…
    Masa’ sih sudah sejauh ini ngga ada dalil yg qath’ui soal pacaran “islami” ini….?

    Shelling Ford said:
    7 Oktober 2007 pukul 16:46

    yg menjadi jalan sesuatu yg haram berarti haram juga ya?
    sebaliknya, yang menjadi jalan sesuatu yg halal berarti halal juga ya?
    kalo gitu menurut saya pacaran itu halal. lha wong pacaran buat saya adalah jalan untuk menyempurnakan salah satu sunnah nabi, kok. apa iya nikah itu haram?

    kan tergantung, pacarannya sebagai jalan menuju zina atau menuju nikah 😛

    @ guwe
    sapa yang nyuruh ente pacarannya pake pegangan tangan sambil berduaan. kalo itu mah entenya aja yg kegatelan 😉

    @ gundul
    liat settingannya, donk. itu kan pas bulan puasa. bulan puasa, biar kata udah nikah, udah suami-istri, hubungan badan di siang hari ya tetep aja ga boleh. wong bulan puasa itu yg halal aja jadi haram 😀
    zina haram? sama. bercinta dengan pasangan resmi siang2 pas bulan puasa juga haram, mas ndul

    @ aRuL
    yah, buat yg memang tiap pacaran dijadiin sarana awal buat berzina ya jelas aja haram 😉 tapi gimana kalo yg nawaitunya buat membangun pernikahan?

    aRuL said:
    7 Oktober 2007 pukul 21:33

    @ joe :: yang saya titik beratkan disini adalah kalimat -haramkah “jalan menuju zina”-, wong jelas2 menuju zina yah haram™

    ikhsan said:
    8 Oktober 2007 pukul 04:11

    lihatlah pak shodiq memakai tanda kutip pada kalimat “jalan menuju zina”.

    M Shodiq Mustika responded:
    8 Oktober 2007 pukul 06:35

    @Sheliing Ford
    Jawabanmu sudah mewakili diriku. Makasih, Joe.

    @aRuL
    jalan menuju zina” TIDAK sama dengan “menuju zina”

    danalingga said:
    8 Oktober 2007 pukul 13:09

    Pak mungkin harus di benahi kalimatnya, sebab jalan itu bisa menuju zina bisa juga tidak.

    aRuL said:
    8 Oktober 2007 pukul 15:02

    sudah jelas2 jalan menuju zina koq pak….

    gundul said:
    8 Oktober 2007 pukul 16:03

    @ShellingFord
    Tampaknya kau belum membaca artikel2 nya pak shodiq mustika bung.. Disitu ada aktivitas jalan2 ke pabrik & bergandengan bila “perlu” …?? Kalau kau menuduh aku kegatelan, ketahuilah aku adalah penentang pacaran itu sendiri..jangan sembarangan melontarkan tuduhan padaku….

    Karena settingannya bulan puasa..baik puasa ataupun nggak pacaran tetap saja aktifitas yg melanggar nilai-nilai syari’at.. Kalo diluar Ramadhan saja udah haram, apalagi dibulan Ramadhan…

    Kalau kaw benar2 bernawaitu membangun pernikahan… jalanilah dgn jalan yg diridhoi Allah dan Rasul-Nya… Jangan malah pacaran… berarpa banyak orang yg berniat baik namun tidak menempuh jalan yg benar….

    M Shodiq Mustika responded:
    9 Oktober 2007 pukul 03:01

    @danalingga
    Benar, “jalan” atau “celah” atau “sarana” itu “bisa menuju zina bisa juga tidak”.
    Begitulah bahasa dalam ushul fiqih, yang terkadang sulit dipahami oleh orang awam. Itu sebabnya, saya katakan bahwa buku Kebebasan Wanita itu “tergolong bacaan ‘berat’ yang tidak semua orang mampu memahaminya”. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/cinta-pra-khitbah/

    @aRuL
    Apakah kau menolak penegasan Abu Syuqqah bahwa “Sarana yang Mengarah pada Sesuatu yang Terlarang, Tidak Harus Selalu Terlarang Juga” (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 248) seperti yang kuungkap di artikel ini? Apa argumentasimu?

    M Shodiq Mustika responded:
    9 Oktober 2007 pukul 03:16

    @gundul
    ShellingFord sudah membaca artikel2 yang kau maksud itu.
    Kaulah yang salah paham, mengira aktivitas2 tsb haram, padahal tidak haram.

    Aktivitas jalan2 ke pabrik “bersama pacar dan beberapa rekan lain” tidak haram. Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/15/shahihnya-hadits-yang-membolehkan-berduaan/

    Aktivitas bergandengan tangan tidak selalu haram. Lihat https://muhshodiq.wordpress.com/2007/09/23/haramkah-menyentuh-lawan-jenis-non-muhrim/

    ikhsan said:
    9 Oktober 2007 pukul 03:51

    berarti aktivitas jalan2 harus didampingi rekan lain? bukannya katanya gapapa asal terawasi?

    M Shodiq Mustika responded:
    9 Oktober 2007 pukul 04:25

    Ikhsan yang cermat dalam membaca,
    kata-kata “bersama pacar dan beberapa rekan lain” itulah yang kutulis pada artikel yang dimaksud. Sayangnya, si gundul dan sang blogger “misterius” tidak menyebutkannya, sehingga mereka (dan para pembaca lain yang terpengaruh oleh mereka) menjadi salah paham.
    Kata-kata “dan beberapa rekan lain” itu merupakan contoh keadaan “bila terawasi”.

    ikhsan said:
    9 Oktober 2007 pukul 10:26

    apakah maksud dari rekan lain itu adalah teman2? bagaimana apabila jalan2 berdua namun terawasi oleh pengunjung lain yang tidak mengenal kita?

    Az-Zaitun said:
    9 Oktober 2007 pukul 11:29

    saya mau pergi kedanau, tapi di’dekat’ danau itu juga ada rumah pelacuran, dan jalan menuju kesana (yang lebih bagus) cuma satu. ya saya jalan aja, tapi tujuan saya bukan ke tempat pelacuran, melainkan kedanau….

    Shelling Ford said:
    9 Oktober 2007 pukul 20:46

    @ gundul:::
    keliatannya malah anda yg belum membaca kalimat saya dengan baik? 😛 ya kan? konteks bulan puasa dan khalifah umar itu, misalnya.

    oh ya, terus menurut anda bagaimana cara mengenal calon istri saya dengan baik kalo bukan dengan (sesuatu yang SAYA istilahkan sebagai) pacaran? wah, buat saya menikah itu bukan ajang coba2. saya nggak mau menikahi wanita yang ternyata menurut saya nggak tepat buat saya 😀

    jadi, bagaimana saya harus mendekati (atau sebut sajalah “mengajukan proposal sebagai suami”) dan mengenali wanita menurut anda? sebutkan contoh konkritnya aja ya, mas :mrgreen:

    M Shodiq Mustika responded:
    10 Oktober 2007 pukul 05:18

    @ikhsan
    Terawasi itu bisa oleh siapa pun. Yang penting adalah yang cendrung mencegah terjadinya zina.

    @Az-Zaitun
    Danau surgawi? Perumpamaan yang bagus.

    @ShellingFord
    Dalam pengamatanku, orang yang tak mau “bercinta sebelum khitbah” biasanya menerima jodoh “apa adanya”. Biarpun hati kecilnya berkata bahwa istrinya nggak tepat baginya, dia “bersabar” seraya menganggap istrinya sebagai “jodoh yang ditakdirkan Tuhan”. Tidak begitukah pengamatanmu?

    Shelling Ford said:
    10 Oktober 2007 pukul 13:05

    sepertinya sih begitu, pak shodiq 🙂

    uwais mozilla said:
    24 Oktober 2007 pukul 18:30

    pak shodiq,komenan mu kepada shellingford amat gampang,kamu tidak bisa terpikir bahwa seblum khitbah itu,seseorang itu diijinkan melihat bakal pasangannya dahulu kah?

    ahmad ali said:
    24 Oktober 2007 pukul 18:55

    pak shodiq pernah tak mendengar hadits yg mengatakan bahawa kalau laki2 dan wanita berdua2an maka yg ketiganya adalah syaitan?
    sedangkan berdua2an bersama ipar tak boleh,apatah lagi dgn org yg tak ada hubungan.hati2 dgn kata2,peribahasa melayu-terlajak perahu boleh diundur,terlajak kata binasa,terlajak menulis semua org baca.

    uwais mozilla said:
    24 Oktober 2007 pukul 19:11

    shellingford,kamu kelihatan seperti nya anak murid pakshodiq,kalian saling pakat berpakatan menegakkan benang yg basah ya

    “oh ya, terus menurut anda bagaimana cara mengenal calon istri saya dengan baik kalo bukan dengan (sesuatu yang SAYA istilahkan sebagai) pacaran? wah, buat saya menikah itu bukan ajang coba2. saya nggak mau menikahi wanita yang ternyata menurut saya nggak tepat buat saya”…..

    bahkan nabi juga menyarankan supaya melihat dahulu pasangan yg bakal dikahwini sblm berkahwin,bukan dgn PACARAN!……ternyata penguasaan bahasa kamu kurang enak,pulang belajar di psantren lagi!

    “la taqrabuz zina”…itu jelas bagi saya,kamu(pak shodiq) cuma memetik kata2 yg dasarnya kurang jelas…kalian amat menyedihkan,pikiran kalian tenyata dikaburi pemikiran liberal dan sekuralis…

    danalingga said:
    24 Oktober 2007 pukul 19:17

    @uwais mozilla

    bahkan nabi juga menyarankan supaya melihat dahulu pasangan yg bakal dikahwini sblm berkahwin,bukan dgn PACARAN!……ternyata penguasaan bahasa kamu kurang enak,pulang belajar di psantren lagi!

    Boleh lebih di jelaskan lagi apa yang di maksud dengan yang saya tebalkan dari komen anda itu?

    Apakah melihat itu sekedar melihat fisiknya? Ataukah melihat sifatnya (yang saya yakin tidak bisa dalam sekali lihat) ?

    kaezzar said:
    24 Oktober 2007 pukul 22:30

    CMIIW
    Kalo g salah si asbabul wurudnya dulu gara2 ada pemuda tapi takut2 gitu ngeliat calonnya…ngumpet2 gitu…
    Terus Rasul bersabda ttg bolehnya melihat si calon…untuk lebih meyakinkan si pemuda terhadap si calon tersebut

    A mo merit sama B
    A “takut” ngeliat B
    si A disuruh ngeliat B

    Dan ini g ada hubungannya sama pacaran koz inti haditsnya, kalo mau ngeliat “si target” itu boleh…that’s it !

    Wassalam

    Trus kalo dihubungin ma pacaran ya jadi g nyambung

    kaezzar said:
    24 Oktober 2007 pukul 22:34

    @Ahmad Ali

    Maka dari itu dihindarilah berdua2an…
    Tentunya anda tau dong makna imbuhan ber – an pada kata berdua2an…

    A berdua2an dengan B
    A berdua dengan B
    Apa maknanya sama???

    Silahkan ditilik maknanya….

    Wassalam

    hamba allah said:
    25 Oktober 2007 pukul 04:57

    kalo ber-dua2an itu di tempat sepi kan ya? sedangkan kalo berdua itu bisa saja di keramaian, alias terawasi. ngomong2, pak shodiq kok menghilang??

    kaezzar said:
    25 Oktober 2007 pukul 12:46

    kalo yg saya yakini si begitu…
    mungkin masih mudik kali :p

    Wassalam

    Rahmat Majid R said:
    27 Oktober 2007 pukul 11:55

    sejauh qta memahami apa yang qta cari, sejauh itu pula harapan, maksud saya pahamilah apa yang kamu inginkan

    M Shodiq Mustika responded:
    28 Oktober 2007 pukul 01:11

    @ danalingga & kaezzar

    Terima kasih. Tanggapan kalian telah mewakili tanggapanku. Aku merasa senang. 🙂

    @ Rahmat Majid

    Setuju… kita perlu memahami apa yang kita inginkan.

    Mawar Berduri said:
    5 November 2007 pukul 19:10

    assalamualaikum..

    Bagi saya.. PACARAN bukannya satu cara untuk kita mengetahui dengan lebih lanjut lagi mengenai bakal isteri atau bakal suami kita itu… tetapi sebaliknya dgn PACARAN.. ramai manusia menggunakan status ini untuk melakukan maksiat..

    kondisinya begini : slalu aja org guna title : “ini pacarku.. apa salahnya klu aku bpegangan tgn”, ” kitorng ni couple, tak salahkan kalau dating?”..Kata-kata begini mmg slalu sngt org gunakan dgn alasan untuk bersama dgn org yg berlainan jantina…SEDANGKAN PADA HAKIKATNYA PERBUATAN ITU HARAM.. JELASNYA, MEMEGANG SEORANG WANITA YANG BUKAN MUHRIM BAGI SEORG LAKI2 adalah lebih HINA dari memegang babi….

    Saya bersetuju skali dgn pendapat Ahmad Ali bahawa bahawa kalau laki2 dan wanita berdua2an maka yg ketiganya adalah syaitan? Walaupun ada yg berpendpt bahawa stkt berjumpa bg psgn couple itu boleh, tetapi sejauh mana iman seseorg dpt handle nafsu ? tidak semua manusia yang berjaya buat begitu…

    pernah tak kamu semua mendengar kisah mengenai palestin.. tempat terbinanya baitul maqdis yang pernah menjadi kiblat umat islam satu masa dahulu.. Sebenarnya, israel sudah lama mmpunyai agenda untuk menguasai Palestin.. Dahulunya, tak kira tua atau muda, rakyatnya taat beragama… perisik Israel datang bertanyakan kepada kaum muda palestin, ” apa yang kamu buat?”, aku bermujahadah kepada Allah jawab mereka..
    Tetapi, sampai satu ketika ternampak seorang pemuda palestin yang dudk tersengguk-sengguk menangis di satu sudut. Datanglah perisik Israel, “kenapa kamu menangis wahai pemuda?”.. ” aku menangis kerana cintaku pergi”.

    INILAH KELEMAHANNYA… apa guna pacaran?? Pacaran membuatkan org2 dpt mengenalpasti kelemahan kita.. apa guna kita membuang masa memikirkan pasal jodoh, sedangkan kita tahu Jodoh dan pertemuan di tangan Allah.. Tak salah kalau kita gunakan masa yang ada, fikirkan strategi bantu diri sendiri, bantu keluarga, bantu bangsa and agama ke jalan lain..

    Sedarlah, byk lagi benda yang patut kita bantu. Ramai sedara2 seislam kita menjadi mangsa peperangan kaum Yahudi dan Israel.. Tapi kita disini memikirkan psl PACARAN??? aduhs… MALU kepada diri sendiri..

    Kaezzar.. teguran saya buat awak.. jaga bahasa…bagi sy pendapat Ahmad ali reasonable… itu pendapat seseorang.. Jgn sampai berbahasa kasar begitu..

    wassalam

    Mawar Berduri said:
    5 November 2007 pukul 19:18

    kalian semua bolehla bace artikel ini..

    semoga mendapat rahmat dan hidayah dari Allah swt..

    http://www.zaharuddin.net/index.php?option=com_content&task=view&id=546&Itemid=72

    M Shodiq Mustika responded:
    5 November 2007 pukul 21:48

    @ Mawar Berduri

    Sudahkah Anda membaca artikel-artikel di blog ini?

    kaezzar said:
    5 November 2007 pukul 22:12

    @Mawar Berduri

    >>>Kaezzar.. teguran saya buat awak.. jaga bahasa…bagi sy pendapat Ahmad ali reasonable… itu pendapat seseorang.. Jgn sampai berbahasa kasar begitu..>>>

    Kasar??
    Ajakan untuk meneliti makna bahasa dikatakan kasar??
    Jujur saya ngga habis pikir, bagian yg mana dari kata2 saya yg dianggap kasar ya…ataw anda boleh tanya langsung ke teman2 di sini baik yg pro ataw kontra, kira2 tulisan bagian mana yg dianggap begitu…

    Ataw jangan2 karena anda menggunakan bahasa melayu
    Jadinya ada kata2 yg sama tapi berbeda artinya antara indonesia dan melayu…

    Mohon diklarifikasi…

    Wassalam

    […] b. Jika dikhawatirkan akan menimbulkan ekses-ekses negatif, maka upaya sadduddz-dzari’ah (pencegahan) itu paling maksimal hanya bisa menghasilkan hukum makruh, bukan haram. (Untuk penjelasan lebih rinci, lihat artikel “Haramkah ‘jalan menuju zina?’“) […]

    kai said:
    29 Mei 2009 pukul 14:03

    hm…kadang waktu saya baca artikel nya bung shodiq ada benar nya,, n ada beberapa juga yang saya rasa tidak berkenan,,

    kalo secara sepintas bagi anak-anak muda jaman sekarang yang cenderung kecintaan pada agama nya kurang kuat mungkin lebih baik dijelaskan dari awal bagaimana seharusnya “pacaran” secara islami,,
    sepanjang pengetahuan saya nafsu itu sangat besar cobaan nya,,
    dan kalo ga salah inget nabi pernah bilang setelah para sahabat mengalami perang yang terbesar bahwa ada perang yang lebih besar lagi dari perang tersebut yaitu ” perang melawan hawa nafsu”,, darisini saya simpulkan bahwa para sahabat saja yang notabene iman nya kuat di ingatkan nabi seperti itu,, apalagi saat ini dimana pelacuran dibiarkan dan berbagai macam hiburan yang memicu perzinahan dibiarkan,, jadi mungkin artikel bung shodiq untuk level mereka yang menengah ke atas kadar keagamaan nya,, jika dibaca oleh mereka yang levelnya nol-pemula nanti mereka bisa salah mengartikan,,

    masalah pacaran islami mungkin seperti ini :
    1. tidak pernah bergandengan tangan atau lebih dari itu
    2.tidak pernah berduaan tanpa ada muhrim dari pihak wanita maupun pria (lebih baik lagi jika salah satu ortu ada) dengan begitu bisa menekan terjadinya perzinahan
    3.tidak pernah keluar tanpa salah satu muhrim juga n ketika keluar untuk jalan-jalan bisa berangkat sendiri-sendiri

    bagaimana pun menyentuh anggota tubuh wanita yang bukan muhrim kita sangat besar potensi nya menimbulkan keinginan yang tidak-tidak,,

    mohon maaf sekiranya jika ada kata-kata yang tidak berkenan

    manusia biasa said:
    26 Juni 2009 pukul 09:20

    assmkum..

    manusia biasa ni tertarik mlihat apa yg dibicarakan di blog ini, tntang pacaran

    sya sbagai manusia biasa yg bsa dblang punya kajian ilmu agama dangkal sekali

    tetapi tertarik pingin coba bergabung mudah2an sya bisa dapat ilm lebih

    klo menurut sya
    sya emang pernah pcran dan juga sering putus cinta juga (hehehhee) tapi bagi sya dari semua perjalan cinta itu sya msih bisa mencoba buat ngambil hikmah, ya mungkin dgn cara putus bisa mendapatkan lebih baik (hehehhe, agar dapat menghibur diri maksudnya), tapi jga mbuat sya bsa lebih mengerti ternyata wanita itu bagaimana (klo ga salah nabi muhammad mengajarkan kita untuk menghargai wanita) ya klo mnurut sya yg manusia biasa ini, belajar dari buku ataupun dngerin kata2 orang bahwa wanita itu begini ataupun begitu tetep aja bagi sya wanita adalah mahkluk yg special yg susah dimengerti dan ditebak (hahahahha, mangkanya sering putus kali yagh??)

    satu tapi yg ini bener2 dikoreksi ni klo sya salah abis na dlu masih kecil banget dikasi tau tentang ini,
    katanya klo kita berniat jahat malaikat itu gak mencatat itu sebagi dosa tapi klo sampai melakukannya baru dicatat perbuatan dosanya, tapi klo punya niat baik malaikat langsung nyatet tuh pahalanya plus pahala dari perbuat baiknya juga,

    klo menurut sya jadinya mungkin pacaran boleh aja tapi mesti taw batas2nya, yg saya tau emang zina itu berdosa tapi rasa cinta itu datang dengn sendirinya, apa mempunyai rasa cinta itu juga dosa, walaupn selain dari sifat atau karakter seseorang yg membuat sya jatuh cinta tapi dari bentuk fisik juga (heheh ga memunafikan yang ini)

    jadi klo secra manusia biasa na sya berfikir klo punya niat pacaran buat nyari istri kyanya tuh pahala bakalan dicatet tp saat menjalani pacaran berbuat sesuatu yg berdosa pasti jga dcatat tuh dosa, ya emang sya akui yg namanya mencegah lebih baik daripada mengobati (hehehe),

    mungkin analogi sya sebagai manusia biasa ini melihat bro aa-zaitun dengan analoginya danau ntu menarik banget, walaupun mungkin jalannya banyak mo kedanau ga harus lewati t4 pelacuran tapi tiba2 mo pergi hujan turun sangat lebat, nah sekarang gmana cara pergi ksana nya?mungkin jawaban na antara pergi ama ngga trus klo pergi pasti mikirin dunk gmana mo perginya

    diana said:
    14 Juli 2012 pukul 10:29

    yang haram tetap haram..sesuai sabda rasul jangankan melakukan mendekati aja nga boleh..jadi tanpa alasan apa pun haram tetap haram,kembalikan pada aturan agama kita yaitu islam.apabila pacaran berpegangan tangan yang bukan muhrim itu adlah haram.tanpa terkecuali….

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s