Bolehnya Jabat Tangan Pria-Wanita

Posted on Updated on

Di saat lebaran, di kalangan kita ada tradisi jabat tangan, termasuk antara pria-wanita yang bukan muhrim. Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Marilah kita simak petuah dari Abdul Halim Abu Syuqqah, Kebebasan Wanita, Jilid 2, hlm. 120-122:

Dalam hal ini, kita dapat membandingkan antara menghindarnya Rasulullah saw. dari berjabatan tangan dengan kaum wanita sewaktu melakukan bai’at dengan beberapa peristiwa ketika Rasulullah saw. menyentuh beberapa orang wanita.

Pada kondisi pertama, Rasulullah saw. menghindar dari berjabatan tangan yang merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk menyentuh yang mempunyai arti tertentu. Hal seperti itu sering terjadi pada diri Rasulullah saw. mengingat banyaknya kaum kaum laki-laki dan wanita yang ingin bertemu dengan beliau juga mengingat beragamnya acara untuk melakukan jabatan tangan, mulai menyampaikan ucapan selamat dalam bentuknya yang paling sempurna, sampai pada mohon doa dan mengharapkan keberkahan dengan cara menyentuh tangannya yang mulia untuk berbai’at masuk Islam. Jika Rasulullah saw. menghindari berjabatan tangan pada kondisi ini, … tidak harus berarti bahwa Rasulullah saw. menghindar dari semua bentuk kondisi [sentuhan dengan wanita] karena bisa jadi ada tujuan lain sehingga menyentuh wanita mewujudkan beberapa keperluan yang sifatnya jarang pada satu sisi, atau dengan wanita-wanita yang dengan mereka itu dijamin aman dari fitnah pada sisi lain.

Artinya, bahwa Rasulullah saw. tidak merasa aman dari fitnah pada kondisi yang pertama [yaitu sewaktu bai’at] bersama dengan wanita umum selain juga tidak ada alasan yang penting untuk berjabatan tangan. Sementara beliau mendapat alasan yang patut pada kondisi kedua, di samping banyaknya Rasulullah saw. berbaur dengan Ummu Haram dan saudaranya Ummu Sulaim (wanita pertama adalah bibi pesuruh Nabi saw., Anas, sementara wanita kedua adalah ibu Anas sendiri). Demikianlah Rasulullah saw. merasa aman dari fitnah bersama Ummu Haram, Ummu Sulaim, dan sejumlah wanita lainnya. Ditambahkan lagi bahwa menghindarnya Rasulullah saw. berjabatan tangan dengan kaum wanita ketika melakukan bai’at tidak berarti bahwa jabatan tangan dengan kaum wanita diharamkan secara mutlak. Selain itu, dalil-dalil yang ada pun menunjukkan kekhususan, sebab Rasulullah saw. mengatakan “aku tidak mau berjabatan tangan dengan kaum wanita” menggunakan dhamir mufrad.

Hafizh Haitsami dalam bab “Dalil-dalil Mengenai Kekhususan bagi Rasulullah saw.” mengemukakan dua hadits berikut: “Dari Abdullah bin Umar dikatakan bahwa Rasulullah saw. tidak mau berjabatan tangan dengan kaum wanita pada waktu bai’at.” (HR Ahmad) “Dari Asma binti Yazid dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan kaum wanita.'” (HR Ahmad) (Majma az-Zawa’id, Kitab: Tanda-tanda kenabian, jilid 8, hlm. 266.)

… Hal itu dapat kita artikan bahwa berjabatan tangan secara umum tidak disenangi oleh Rasulullah saw. sebagai penutup jalan (saddudz-dzara’i) guna dijadikan ajaran dan syariat bagi umatnya. Hal ini dikuatkan lagi oleh pendapat para ahli ushul fiqih yang mengatakan bahwa saddudz-dzara’i menunjukkan yang terbaik, bukan mewajibkan.

Menurut penulis, kita akan menjadi golongan orang-orang yang baik dalam mengikuti jejak Rasulullah saw, jika kita menghindarkan jabatan tangan dan menyentuh wanita pada kondisi-kondisi umum. Artinya, kita baru menyentuh wanita (berjabatan tangan) jika benar-benar [yakin] aman dari fitnah serta ada alasan yang patut, umpamanya apabila berjabatan tangan itu merupakan sarana untuk mempererat hubungan dan berbagi perasaan yang tulus antara sesama orang mukmin, seperti jabatan tangan antara karib kerabat dan teman-teman dekat pada acara-acara tertentu, khususnya seperti mengucapkan selamat bagi seseorang yang baru datang dari perjalanan jauh; berjabatan tangan untuk menghormati dan mendorong orang berbuat baik [misalnya sewaktu lebaran untuk bermaaf-maafan atau pun berkenalan]; atau untuk menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka-cita karena sesuatu musibah.

Iklan

44 thoughts on “Bolehnya Jabat Tangan Pria-Wanita

    M Shodiq Mustika responded:
    10 Oktober 2007 pukul 06:02

    Ada bantahan “menarik” di http://abusalma.wordpress.com/2007/02/03/jabat-tangan-dengan-ajnabiyah-adalah-haram/
    Di situ bisa kita jumpai uraian yang “bersemangat”. Kurasa, kita perlu berkepala dingin saat membacanya.

    Diantara kata-kata di situ yang bisa kita persoalkan adalah:

    Sesungguhnya, masalah yang sedang kita perbincangkan ini bukanlah masalah ijtihadiyah yang tidak boleh salah satu golongan mengingkari golongan lainnya apabila telah jelas kelemahan dalil salah satu golongan. … … al-Haq itu hanyalah satu dan tidak mungkin bisa dikatakan pendapat yang menyatakan haram sama kuat dengan pendapat yang menyatakan halal.

    Masalahnya, dalil yang dipandang lemah oleh satu pihak justru dipandang kuat oleh pihak lain.

    Dasar pijakan kita adalah dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bukan dari takwil, qiyas fasid ataupun ijtihad dari pemahaman yang lemah.

    Masalahnya, kedua pihak sama-sama berijtihad dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dasar pijakan.

    Mungkin pertanyaan kita: mengapa hasil ijtihad bisa berlainan padahal dasar pijakannya sama? Insya’Allah kami akan mengungkapkannya pada postingan mendatang.

    observer said:
    10 Oktober 2007 pukul 07:10

    Saya tambahkan, salah satu pernyataan abusalma lainnya di artikel tsb yang juga bisa kita persoalkan:

    sesuatu yang menghantarkan kepada keharaman adalah haram, dan telah jelas bahwa jabat tangan dengan wanita ajnabiyah sangat memungkinkan untuk memunculkan keharaman dan menghantarkan kepada zina.

    Lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/10/06/haramkah-jalan-menuju-zina/

    Di situ ditegaskan, “Sarana yang Mengarah pada Sesuatu yang Terlarang, Tidak Harus Selalu Terlarang Juga” (Kebebasan Wanita, Jilid 3, hlm. 248)

    xwoman said:
    10 Oktober 2007 pukul 10:59

    Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H

    Taqabalallahu minna wa minkum, shiamanaa wa shiamakum…

    Mohon maaf lahir dan bathin yaaa… 🙂

    anangyb said:
    11 Oktober 2007 pukul 08:32

    Okey lah… debat ini belum akan berakhir.. yang penting: selamat merayakan idul fitri ya…!

    Agam said:
    12 Oktober 2007 pukul 07:00

    OK kalo anda menyangkal hadis itu. Tapi bagaimana dengan hadis ini :
    `Dari Ma`qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda: Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.`(HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Agam said:
    12 Oktober 2007 pukul 07:07

    4 mazhab menolaknya. Anda ikut mazhab apa?

    1. Mazhab Hanafi

    – Haram menyentuh wajah dan dua telapak tangan perempuan bukan mahram, sekalipun aman dari syahwat.

    – Berjabat tangan dengan perempuan tua yang sudah tidak bersyahwat lagi; At-Thahawi berkata tidak mengapa. Manakala Syamsudin Ahmad bin Qaudar berkata tidak halal sekalipun aman dari syahwat.

    2. Mazhab Maliki

    – Haram berjabat tangan dengan perempuan bukan mahram. Ini dinyatakan oleh al-Imam al-Baaji, al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi dan As-Shawi.

    – Hukum berjabat tangan dengan perempuan tua, menurut Syeikh Abul Barakat Ahmad bin Muhamad bin Ahmad ad-Durdair ia tidak dibenarkan.

    3. Mazhab Syafi’i

    – An-Nawawi di dalam beberapa karyanya, as-Syaribini dan lain-lain ulama as-Syafi’I menyatakan haram berjabat tangan dengan perempuan bukan mahram.

    – Dibenarkan menyentuh perempuan bukan mahram ketika dalam keadaan darurat, seperti ketika berubat, pembedahan, mencabut gigi dan sebagainya, seandainya ketika itu tidak ada perempuan yang boleh melakukannya.

    4. Mazhab Hanbali

    – Imam Ahmad ketika ditanya tentang masalah berjabat tangan dengan perempuan bukan mahram, beliau menjawab: “Aku membencinya.”

    – Berjabat tangan dengan perempuan tua; Imam Ishaq bin Mansur al-Marwazi menukil dari imam Ahmad, ia tidak dibenarkan. Sementara Ibnu Muflih menyatakan; pemilik an-Nazham mengatakan makruh dan dengan anak kecil dibolehkan dengan tujuan menyemai budi pekerti.

    ibnualwi said:
    18 Oktober 2007 pukul 07:27

    Subhanallah.
    Masya Allah.
    Bapak memang hebat pak M Sodiq Mustika.
    selalu menanggapi setiap perbedaan dengan kepala dingin.
    saya banyak belajar banyak dalam hal ini.
    tapi yang saya benci adalah
    ketika seorang ulama membingungkan umat.
    1001 ulama melarang menyentuh yang bukan muhrim,
    tapi Bapak?
    atau saya yang salah, apa iya ternyata 1001 ulama membolehkan, tapi 4 imam diatas melarang?
    ah, saya cuma orang awam.
    bapak mungkin orang pintarnya.
    tapi kesimpulan yang saya ambil dari sekian banyak tulisan bapak tentang wanita adalah…
    bapak terlalu bermain di air keruh.
    mudharatnya lebih besar dari maslahatnya.
    kenapa?
    karena persentase pria bisa manahan nafsu nya terhadap wanita, bisa dibilang sangat kecil sekali.
    http://fireman0410syah.multiply.com/journal/item/12/Aduhai…..aduh_CAntiknya…

    ikhsan said:
    20 Oktober 2007 pukul 19:47

    gimana nih pak? ditunggu jawaban terhadap pernyataan agam dan ibnualwi di atas.

    M Shodiq Mustika responded:
    27 Oktober 2007 pukul 00:33

    @ xwoman

    Aamiin. Kalau ada kesalahanmu kepadaku, semuanya telah kumaafkan. Semoga kau pun memaafkan segala kesalahanku padamu.

    @ anangyb

    Terima kasih. Bagaimana kalau istilah “debat” itu kita ganti menjadi “diskusi” atau “mujadalah” saja?

    @ Agam

    Saya tidak menyangkal bahwa sebagian ulama dari madzhab-madzhab itu mengharamkan jabat tangan dengan lawan-jenis non-muhrim. Namun, seperti Muhammadiyah, saya tidak fanatik pada madzhab tertentu.

    Mengenai hadits “ditusuknya kepala dengan jarum besi”, lihat artikel “Haramkah menyentuh lawan-jenis non-muhrim?” dan tambahan komentar di bawah ini!

    M Shodiq Mustika responded:
    27 Oktober 2007 pukul 00:33

    Kutipan dari Yusuf Qaradhawi, Fiqih Wanita (Bandung: Jabal, 2007), hlm. 123, 125-126:

    Sebagian ulama sekarang ada yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita dengan mengambil dalil riwayat Thabrani dan Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda:

    Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.

    Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:

    1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitssami yang mengatakan, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih.”

    Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya atau terdapat cacat yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun ulama terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.

    2. Ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath’i yang tidak ada kesamaran padanya, seperti Al-Qur’anul Karim serta hadits-hadits mutawatir dan masyhur. Adapun jika ketetapan atau kesahihannya sendiri masih ada kesamaran, maka hal itu tidak lain hanyalah menunjukkan hukum makruh, seperti hadits-hadits ahad yang sahih. Maka bagaimana lagi dengan hadits yang diragukan kesahihannya?

    3. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas [alias tidak qath’i]. Kalimat “menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya” itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. … [Lihat artikel “Haramkah menyentuh lawan-jenis non-muhrim?“.]

    Barangsiapa menganggap bahwa lafal au laamastum an-nisa [menyentuh wanita] mencakup sentuhan biasa meskipun tidak dengan bersyahwat, maka ia telah menyimpang dari bahasa Al-Qur’an, bahkan menyimpang dari bahasa manusia [orang Arab] sebagaimana yang sudah dikenal. Sebab, jika disebutkan lafal al-mass (menyentuh) yang diiringi dengan [penyebutan lafal] laki-laki dan perempuan, maka tahulah dia [si orang Arab] bahwa yang dimaksud ialah menyentuh dengan bersyahwat, sebagaimana bila disebutkan lafal al-wath’u (yang asal artinya “menginjak”) yang diikuti dengan kata-kata laki-laki dan perempuan, maka tahulah ia bahwa yang dimaksud ialah al-wath’u dengan kemaluan (yakni bersetubuh), bukan menginjak dengan kaki.

      muin said:
      18 September 2009 pukul 10:19

      assalamu 1alaikum….

      ana ingin menanggapi pernyataan yang anda sampaikan..
      dalam Al-Qur`an surat An-nur ayat 30 dan 31.

      dalm memandang saja dilarang, apalagi menyentuhnya.
      yang diperbolehkan berjabat tangan adalah seperti yang tercantum pada surat An-Nur ayat 31.
      mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada kita semua.
      Allahu `alam.

    M Shodiq Mustika responded:
    27 Oktober 2007 pukul 00:43

    @ ikhsan

    Terima kasih atas perhatian dan saranmu.
    Kalau tanggapanku memang dibutuhkan, baiklah aku paparkan.

    @ ibnualwi

    Terima kasih atas pujian dan kritikannya.

    Katamu:

    memang hebat pak M Shodiq Mustika.
    selalu menanggapi setiap perbedaan dengan kepala dingin

    Pertanyaanku:
    Perlukah Menyatukan Pendapat Umat Islam dalam Masalah Syariah?

    Kau bilang:

    tapi yang saya benci adalah
    ketika seorang ulama membingungkan umat.

    Pertanyaanku:
    Siapakah ulama yang kau benci karena kau menganggapnya membingungkan umat?
    Apakah Yusuf Qardhawi dan Abu Syuqqah kau benci karena mereka membolehkan jabat tangan dengan lawan-jenis non-muhrim (dalam kondisi tertentu), padahal sebagian ulama dari empat madzhab melarangnya?
    Apa yang kau maksud dengan “membingungkan umat”?
    Apakah kalau hasil ijtihad seorang ulama (misalnya: Yusuf Qardhawi) ternyata berbeda dengan hasil ijtihad kebanyakan ulama lainnya, maka itu berarti bahwa beliau membingungkan umat?

    Kritikanmu:

    bapak terlalu bermain di air keruh.

    Pertanyaanku:
    Apakah penjelasan Abu Syuqqah dan Yusuf Qardhawi yang aku paparkan itu kurang gamblang bagimu?
    Bagian manakah yang keruh?
    Maukah kau menjernihkannya?

    Alasanmu:

    mudharatnya lebih besar dari maslahatnya.
    kenapa?
    karena persentase pria bisa manahan nafsu nya terhadap wanita, bisa dibilang sangat kecil sekali.

    Pertanyaanku:
    Manakah bukti obyektif yang menunjukkan bahwa “mudharatnya lebih besar dari maslahatnya”?
    Manakah bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa “persentase pria bisa manahan nafsu nya terhadap wanita, bisa dibilang sangat kecil sekali”?
    Belumkah kau menyimak hasil penelitian-penelitian ilmiah yang sedikit-banyak relevan dengan persoalan ini?

    Agam said:
    27 Oktober 2007 pukul 16:05

    ““Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”
    HR. Al Baihaqi tersebut dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no.226.
    Saya lebih memilih berhati2 dalam masalah ini.
    Ulama yang menghalalkan setahu saya hanya Yusuf Qaradhawi. Maka saya lebih memilih mengikuti pendapat 4 Imam Madzhab.
    Semoga anda bisa berhati2 dalam berpendapat. Kesampingkan hawa nafsu anda.
    Yg lainnya aku jawab kapan2 kalo ada waktu.

    afif said:
    28 Oktober 2007 pukul 06:00

    assalamu’alaykum.
    menanggapi diskusi diatas,…

    pak…!jangan meninggikan akal semata….akal itu lemah pak,….kembali kepada alqur’an dan sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat itu lebih selamat, bukan dengan pemahaman masing-masing individual atau kelompok,…
    banyak ulama yang mengharomkan hal tersebut begitu juga 4 imam mazhab,….lha bapak ini mau mendirikan mazhab baru ya pak…yaitu mazhab ke-5: mazhab tanpa mazhab,….mau membingungkan umat ya pak!!
    nanti bapak malah bertentangan dengan ucapan bapak sendiri….

    “mengambil dalil umum tentang suatu hal lebih selamat pak”

    ditunggu ralat dari perkataan bapak!

    wassalam

    M Shodiq Mustika responded:
    28 Oktober 2007 pukul 06:41

    @ Agam

    Ya, kami sepakat bahwa kita perlu mengesampingkan hawa nafsu kita.

    Silakan Anda berhati-hati dengan tidak berjabat-tangan dengan non-mahram.

    Kami pun berhati-hati dalam masalah pengharaman. Sebab, mengharamkan yang tidak haram itu dosanya besar. Sedangkan “pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath’i yang tidak ada kesamaran padanya” .

    Andaikata kita terima pernyataan Al-Albani bahwa hadits tsb sahih, maka Qaradhawi mendapati petunjuknya tidak jelas alias tidak qath’i.

    Ulama yang membolehkan jabat-tangan dengan non-mahrom itu tidak hanya Qaradhawi seorang. Di antaranya: Abdul Halim Abu Syuqqah.

    @ Afif

    Yang lebih selamat bukanlah yang mengambil dalil umum, melainkan yang lebih berhati-hati.

    Siapapun (kecuali Nabi yang maksum), termasuk saya dan Anda, harus siap meralat perkataan jika memang terbukti keliru.

    Ya, akal itu lemah. Yang kuat adalah Allah.
    Laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.

    Karena itu, kami pun sepakat untuk tidak meninggikan akal semata. Namun, kami tidak sepakat apabila Anda meminta kita untuk mengenyahkan akal.
    Lihat https://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/27/perlukah-logika-untuk-memahami-syariat-islam/

    Manakah bukti obyektif bahwa Muhammadiyah membingungkan umat lantaran tidak fanatik pada empat madzhab utama?

    Benarkah bahwa madzhab dalam Islam itu dibatasi empat saja? Mana dalilnya?
    Lihat https://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/11/perlukah-menyatukan-pendapat-umat-islam-dalam-masalah-syariah/

    wassalam

    guwe said:
    28 Oktober 2007 pukul 13:36

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam
    bersabda : “Sungguh jika salah seorang dari kalian ditusuk kepalanya dengan jarum besi adalah lebih baik daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (Shahih, Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Haitsami)

    Takwilan yang menyatakan bahwa kata massa di dalam lafazh hadits di atas bermakna jima’ (bersetubuh) adalah bathil dari sisi bahasa dan dari sisi mafhum. Karena memalingkan makna dari hakikatnya adalah harus dengan
    qorinah (indikasi) yang dapat memalingkan makna zhahir kepada makna selainnya. Memang benar, bahwa kata massa memiliki makna jima’ dalam beberapa ayat dan hadits, tentunya hal ini jika disertai qorinah yang kuat akan
    penakwilan lafazh ini kepada makna jima’. Berikut ini penjelasannya :

    Allah Ta’ala berfirman :
    Yang artinya : “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kalian, jika kalian menceraikan isteri-isteri kalian sebelum kalian tamassuhunna (mencampuri/jima’ dengan mereka) dan sebelum kalian menentukan maharnya.” (al-Baqoroh : 263).

    “Jika kamu menceraikan isteri-isteri kalian sebelum kalian tamassuhunna (mencampuri mereka) padahal kalian sesungguhnya telah menentukan
    maharnya…” (al-Baqoroh : 237).
    “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian menikahi wanita-wanita mukminah kemudian kalian ceraikan mereka sebelum kalian tamassuhunna (mencampuri mereka) maka sekali-kali tidak wajib atas mereka iddah…” (al-
    Ahzaab : 49).

    Ayat-ayat di atas memiliki qorinah yang dapat memalingkan makna massa kepada jima’ yaitu adanya penjelasan yang berkaitan tentang muamalah dengan isteri seperti pembayaran mahar, tholaq, iddah dan semisalnya. Hal
    ini juga didukung dengan pemalingan makna pada selain kata massa seperti pada kata lamasa dan ifdlo seperti dalam firman Allah : “Bagaimana kamu akan ambil kembali, padahal sebagian kamu telah afdloo (bercampur) dengan
    selainnya (sebagai suami isteri).” (an-Nisa’ : 21).
    Oleh karena itulah para mufassirin dan fuqoha’ menyatakan bahwa kata-kata massa dan semisalnya di sini yang memang memiliki qorinah untuk dipalingkan dari makna hakikinya adalah suatu keniscayaan, juga dalam ayat
    20 Surat Maryam yang artinya :

    “Maryam berkata: ‘Bagaimana aku bisa mempunyai anak laki-laki sedangkan tidak pernah seorang manusiapun yang yamsasnii (menggauliku) dan aku bukan (pula) seorang pezina.” Jika kita perhatikan, maka akan tampak dengan jelas qarinah-nya yang menyatakan hasil dari massasa yakni lahirnya seorang anak laki-laki. Apakah mungkin menyentuh dalam arti sebenarnya dapat menghasilkan seorang anak laki-laki?!!

    Oleh karena itu pemalingan makna dalam konteks yang didukung oleh qorinah semacam ini adalah suatu keniscayaan. Adapun hadits : “Apabila kemaluan menyentuh kemaluan (bersetubuh), maka wajiblah mandi”, maka makna dari qorinah yang tersirat adalah bermakna
    jima’. Sebab jima’ sendiri dalam kitab-kitab fikih bermakna ‘masuknya (tenggelamnya) kepala penis hingga hilang ke dalam farji wanita”. Jika hanya terjadi pergesekan belaka, maka belum bisa dikatakan jima’ yang mewajibkan
    mandi (jika tidak keluar mani) ataupun hukum had bagi penzina diberlakukan.

    Bahkan al-Massu juga bisa bermakna junun (gila) dan kesurupan seperti di dalam firman Allah yang artinya : “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan
    lantaran peyakit gila…” (al-Baqoroh : 275).

    Oleh karena itu, memalingkan makna massa atau selainnya ke luar dari makna hakikinya tanpa ada qorinah pendukung pemalingan maknanya adalah suatu kebodohan terhadap bahasa, seperti dalam hadits nabi di atas yang menyatakan “Sungguh jika salah seorang dari kalian ditusuk kepalanya dengan jarum besi adalah lebih baik daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.”
    Sebab lafazh di atas adalah sama dan saling menguatkan dengan lafazh riwayat hadits berikut ini : Ma’mar berkata : mengabarkan kepadaku Ibnu Thawus dari bapaknya, beliau berkata :

    “Tidaklah tangan (nabi) menyentuh wanita melainkan wanita yang dimilikinya.” Dan diriwayatkan dari Aisyah di
    dalam ash-Shahih, beliau berkata : “Tangan nabi tidak pernah menyentuh tangan wanita.” Dan beliau (nabi) bersabda : “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita, sesungguhnya ucapanku terhadap
    seorang wanita seperti ucapanku kepada seratus wanita,”[Ahkamul Qur’an karya Abu Bakr Muhammad bin Abdillah Ibnul Arobi,]

    Sebab kata massa sendiri bermakna : lamasahu wa afdloo ilaihi biyadihi[al-Mu’tamad, karya Abu Abdirrahman Muhammad Abdillah Qosim, hal. 650.]

    menyentuh dengan tangan. Memalingkannya dari makna hakikatnya memerlukan qorinah yang mendukung pemalingan lafazh tersebut dari makna hakikatnya, yang mana jika tidak dipalingkan maknanya maka maknanya akan menjadi ghoyru mustaqim (tidak lurus/tepat). Jika sekiranya ayat-ayat di al-Baqoroh dan al-Ahzab serta Maryam di atas tidak dipalingkan maknanya menjadi jima’, niscaya akan ‘pincang’ pemahaman yang timbul dari ayat
    tersebut dan menimbulkan kerancuan di dalam hukum tholaq, iddah, mahar dan semacamnya.

    Namun, memalingkan makna hadits tentang “lebih baik ditusuk jarum besi daripada menyentuh wanita” kepada makna jima’ akan menimbulkan kepincangan pemahaman dan pengkhususan hanya kepada jima’ saja. Pemalingan makna ini tidak tepat karena tidak ditopang oleh adanya qorinah (indikasi) yang dapat memalingkannya. Penakwilan semacam ini adalah penakwilan yang berangkat dari hawa nafsu dan fanatik terhadap pendapat yang emperbolehkan jabat tangan. Jika sekiranya penakwilan di atas benar, maka adakah pendahulu (salaf) anda dari para ulama hadits yang menafsirkan makna hadits ini sebagaimana penafsiran anda wahai saudara?!!

    Saya melihat M. Shodiq Mustika lebih mengedepankan logika dan falsafah mantiq nya ketimbang mau rujuk kembali pada dalil2 shohih dari para Ulama.. Hendaknya M Shodiq Mustika tidak bersikeras mencari2 pembenaran semata untuk mengusung ide nya dan mengesampingkan dalil2 yang shahih.

    Agam said:
    28 Oktober 2007 pukul 16:15

    https://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/10/bolehnya-jabat-tangan-pria-wanita/#comment-1841

    Sebab, mengharamkan yang tidak haram itu dosanya besar.

    Penghalalan suatu yang haram, bukankah itu juga suatu dosa besar?

    M Shodiq Mustika responded:
    29 Oktober 2007 pukul 02:45

    @ guwe

    Kami melihat, kata-kata Anda mengarah ke debat-kusir. Kami rasa, cukuplah kita berdiskusi sampai di sini saja.

    @ agam

    Betul, penghalalan yang haram pun juga suatu dosa besar. Karena itu, seandainya ada dalil yang secara qath’i mengharamkan jabat-tangan tsb, tentu kita tidak berani menghalalkannya.

    Guwe said:
    31 Oktober 2007 pukul 16:36

    Mengapa ketika saya berusaha memberikan peringatan, maka saya dikatakan berdebat kusir? Seharusnya peringatan itu berharga bagi orang2 beriman …

    Apakah dalil2 pengharaman jabat tangan non-mahram itu tidak qath’i?

    “Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath- Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226)

    Hadits diatas sudah cukup sebagai dalil qath’i…

    Berkata Syaikh Al Albani rahimahullah: “Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya, termasuk masalah berjabat tangan, karena jabat tangan itu termasuk
    menyentuh.” [Ash Shohihah 1/448]

    Dan Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassalam tidak pernah berjabat tangan dengan wanita, meskipun dalam keadaan-keadaan penting seperti membai’at dan
    lain-lain.

    Dari Umaimah bintih Ruqoiqoh radhiyallahu ‘anha: Bersabda Rasulullahi Shallallahu ‘alaihi wassallam: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah
    2874, ahmad 6/357, dll]

    Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “DEMI ALLAH, tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun
    dalam keadaan membai’at. Beliau tidak memba’iat mereka kecuali dengan mangatakan: “Saya ba’iat kalian.” [HR Bukhori: 4891]

    Lihat juga fatwa ‘ulama tentang hal ini:

    http://nadiyyah.wordpress.com/2007/05/04/perihal-berjabat-tangan-fatwa-ulama/

    Bagaimana nazhar/tanazhur yg syar’i? Lihat di:

    http://suryadhie.wordpress.com/2007/09/08/

    Tidak mengapa walau antum mau mengakhiri diskusi dengan ana.. sesungguhnya ana telah menyampaikan…

    M Shodiq Mustika responded:
    1 November 2007 pukul 00:49

    @ Guwe

    Di atas sudah kami ungkapkan penjelasan Yusuf Qardhawi bahwa hadits “ditusuk dengan jarum dari besi” itu tidak qath’i, sekurang-kurangnya tidak qath’i dari segi dalalahnya. (Antum tahu perbedaan antara qath’i dan shahih, ‘kan?)

    https://muhshodiq.wordpress.com/2007/10/10/bolehnya-jabat-tangan-pria-wanita/#comment-1832

    Abu Ahmad Heriyanto said:
    1 November 2007 pukul 12:44

    Apa maksudnya tidak qath’i dari segi dalalah? apa bedanya shahih dan qath’i?? Apakah anda tidak menerima hadits : “Demi Allah, sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum dari besi, maka itu lebih baik dari menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath- Thabarani dan Al-Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 226) disebabkan karena hadits tersebut tidak qath’i?? walaupun hadits tersebut shahih?? Jadi menurut anda, kita baru bisa menerima suatu hadits jika hadits tersebut shahih dan qath’i?? Pendapat siapakah ini? Imam Bukhari? Imam Muslim? Imam Tirmidzi? Imam Nasai? Imam Ibnu Majah? Imam Ali ibnu Madini? Imam Syafi’i? Imam Ahmad??

    M Shodiq Mustika responded:
    2 November 2007 pukul 05:48

    @ Abu Ahmad Heriyanto

    Di atas tadi telah kami kutipkan kata-kata Yusuf Qardhawi:

    Ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath’i yang tidak ada kesamaran padanya.

    Qath’iy al-wurud (atau qath’i tsubut): Nash yang memiliki kepastian dalam aspek penerimaannya karena proses penyampaiannya meyakinkan dan tidak mungkin ada keterputusan atau kebohongan pada penyampaiannya. (Dengan demikian, hadits shahih itu qath’iy al-wurud.)

    Qath’iy al-dalalah:
    Nash yang memiliki makna pasti karena dikemukakan dalam bentuk lafadz bermakna tunggal dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna lain.

    Zhanniy al-wurud (atau qath’i tsubut): Nash yang tidak memiliki kepastian dalam aspek penerimaannya karena proses penyampaiannya kurang meyakinkan dan karena ada kemungkinan keterputusan, kedustaan, kelupaan diantara para penyampainya.

    Zhanniy al-dalalah:
    Nash yang memiliki makna tidak pasti karena dikemukakan dalam bentuk lafadz bermakna ganda dan tidak dapat ditafsirkan dengan makna lain.

    Lafadz al-mass (“menyentuh”) yang tercantum dalam hadits tsb tergolong lafadz yang bermakna ganda.

    Untuk bukti bahwa lafadz al-mass tergolong lafadz yang bermakna ganda, Yusuf Qardhawi mengemukakan antara lain:

    Ibnu Abbas berkata, “Lafal al-lams, al-mulaasamah, dan al-mass dalam Al-Qur’an dipakai sebagai kiasan untuk jima’ (hubungan seksual).” …

    Kalau kita perhatikan riwayat yang sahih dari Rasulullah saw., niscaya kita jumpai sesuatu yang menunjukkan bahwa semata-mata bersentuhan tangan antara laki-laki dengan perempuan tanpa disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah tidaklah terlarang, bahkan pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., sedangkan pada dasarnya perbuatan Nabi saw. itu adalah tasyri’ dan untuk diteladani.

    Untuk contoh teladan Nabi itu, lihat artikel http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/23/sentuhan-sebagai-ekspresi-cinta-menurut-sunnah-nabi/
    dan komentar di
    http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/23/sentuhan-sebagai-ekspresi-cinta-menurut-sunnah-nabi/#comment-1096

    ikhsan said:
    2 November 2007 pukul 21:10

    di buku “halal dan haram dalam islam”, ternyata qardhawi menggunakan hadits tersebut. berikut kutipannya:

    Jangan sampai terjadi persentuhan dan percampuran antara laki-laki dan perempuan lain, demi menjaga fitnah dan menolak syubhat. Lebih-lebih pertunjukan ini tidak dapat dilakukan, kecuali di tempat yang gelap. Sedang hadis Nabi mengatakan:

    “Sungguh kepala salah seorang di antara kamu ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik baginya daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (Riwayat Baihaqi, Thabarani; dan rawi-rawinya adalah rawi-rawi Bukhari)

    sumber: http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/index.html

    jadi, apakah qardhawi berubah pendirian atau bagaimana?

    M Shodiq Mustika responded:
    3 November 2007 pukul 02:08

    @ ikhsan

    Qardhawi tidak berubah pendirian. Perhatikanlah bahwa pelarangannya itu dia kemukakan untuk kondisi “di tempat yang gelap”. Bukankah di tempat begitu, kita tidak lagi “terawasi”?

    Hadits tsb memang dapat dijadikan dalil, asalkan bukan untuk mengharamkan semua bentuk persentuhan dengan lawan-jenis.

    Guwe said:
    3 November 2007 pukul 17:15

    Mengapa antum merasa dalil ini tidak qath’i..? Padahal sudah sebegitu gamblang dan jelas dalil2 yg mengharamkannya…?

    Syaikh Al Albani rahimahullah sendiri mengomentari hadits tersebut dalam Ash Shohihah 1/448 : “Dalam hadits ini terdapat ancaman keras terhadap orang-orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya, termasuk masalah berjabat tangan, karena jabat tangan itu termasuk menyentuh.”

    Ana sudah jelaskan sebelumnya bahwa memalingkan makna al-mass tanpa adanya qarinah (indikasi) yg bisa memalingkan maknanya adalah tidak tepat..

    Sudah cukup qath’i dilalah pernyataan dari Rasulullah: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR Malik 2/982, Nasa’i 7/149, Tirmidzi 1597, Ibnu Majah
    2874, ahmad 6/357, dll]

    pendapat yang selamat adalah pendapat yang menyatakan keharaman berjabat tangan, karena pendapat ini adalah pendapat yang paling selamat dari kontradikitif dan dari segala keburukan. Hal ini pun telah disepakati oleh empat madzhab jumhur ‘ulama yang tidak membenarkan jabat tangan non mahrom…

    M Shodiq Mustika responded:
    3 November 2007 pukul 18:01

    @ Guwe

    Bacalah secara lebih cermat!

    Mengapa antum merasa dalil ini tidak qath’i..?

    Di atas sudah kami ungkapkan dasar yang digunakan Yuquf Qardhawi, antara lain:

    Ibnu Abbas berkata, “Lafal al-lams, al-mulaasamah, dan al-mass dalam Al-Qur’an dipakai sebagai kiasan untuk jima’ (hubungan seksual).” …

    Jadi, jelaslah bahwa kata “menyentuh” di hadits tsb tergolong zhanny al-dalalah.

    memalingkan makna al-mass tanpa adanya qarinah (indikasi) yg bisa memalingkan maknanya adalah tidak tepat..

    Di atas sudah kami ungkapkan penjelasan Qardhawi bahwa “Kalau kita perhatikan riwayat yang sahih dari Rasulullah saw., niscaya kita jumpai sesuatu yang menunjukkan bahwa semata-mata bersentuhan tangan antara laki-laki dengan perempuan tanpa disertai syahwat dan tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah tidaklah terlarang, bahkan pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., …”

    Untuk contoh teladan Nabi itu, lihat artikel http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/23/sentuhan-sebagai-ekspresi-cinta-menurut-sunnah-nabi/
    dan komentar di
    http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/23/sentuhan-sebagai-ekspresi-cinta-menurut-sunnah-nabi/#comment-1096

    Sudah cukup qath’i dilalah pernyataan dari Rasulullah: “Sesungguhnya saya tidak berjabat tangan dengan wanita.”

    Hadits tersebut tidak secara qath’i menunjukkan bahwa Rasulullah pernah mengharamkan muslim lain berjabat tangan dengan wanita. Yang ditunjukkan di hadits tersebut hanyalah diri beliau sendiri: “Sesungguhnya saya ….”

    Jadi, hadits tsb tidak cukup kuat untuk mengharamkan jabat-tangan itu.

    pendapat yang selamat adalah pendapat yang menyatakan keharaman berjabat tangan, …

    Di atas sudah kami ungkapkan:

    Yang lebih selamat … [adalah] yang lebih berhati-hati.

    Silakan Anda berhati-hati dengan tidak berjabat-tangan dengan non-mahram.

    Kami pun berhati-hati dalam masalah pengharaman. Sebab, mengharamkan yang tidak haram itu dosanya besar. Sedangkan “pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath’i yang tidak ada kesamaran padanya” .

    ==================

    Mengingat kami tak suka debat-kusir, diskusi kami dengan Guwe dalam persoalan ini ditutup sampai di sini saja. Komentar Guwe berikutnya di postingan ini akan kami hapus bila masih mempersoalkan yang itu-itu melulu.

    Ihdinash shiraathal mustaqiim.
    Aamiin.

    […] salam, Vie. Memang, menyentuh tangan itu tidak selalu haram. Lihat artikel “Bolehnya Jabat Tangan Pria-Wanita“. Berduaan pun tidak selalu haram. Lihat artikel mengenai bolehnya berduaan “bila […]

    […] Sebagian ulama mengharamkan persentuhan kulit antarnonmuhrim. Sebagian lainnya menghalalkannya dengan syarat: tidak membangkitkan nafsu birahi. (Lihat artikel Bolehnya Jabat Tangan Pria-Wanita.) […]

    Umar faruqi said:
    19 April 2009 pukul 10:28

    Saya mau tanya dalil-dalil Naqli baik dari Al-Qur’an, al-Sunnahdan kitab-kitab salafi.

      M Shodiq Mustika responded:
      19 April 2009 pukul 10:39

      @ Umar faruqi
      Silakan telusuri rujukannya melalui link (berwarna pink) yang telah disertakan di postingan di atas dan diskusi di bawahnya.

      m. khoirin said:
      3 Mei 2011 pukul 00:01

      Allaahummahdi qaumii fainnahum laa ya’lamuun….

    yuni said:
    30 Juni 2009 pukul 19:59

    asskum,
    pak sy seorang gadis yang baru berumur 16 tahun.sy telah jatuh cinta sama seseorang tetapi kakak sy melarang sy untuk pacaran apakah yang harus sy lakukan apakah sy boleh pacaran.

      M Shodiq Mustika responded:
      1 Juli 2009 pukul 05:40

      @ yuni
      pacaran adalah persiapan nikah; umurmu masih 16, tentunya masih lama nikahnya ‘kan? jadi, tak usah pacaran dulu

    Rangga said:
    5 September 2009 pukul 12:46

    Saya lihat pa mustika selalu mengandalkan akal…
    coba kita perhatikan nash-nash al Qur’an yang melarang untuk menyentuh tangan wanita dnegan sengaja…surat annuur yang memerintahkan untuk “ghoddul bashor” jika melihat saja tidak boleh bagaimana dengan menyentuh..pak dalam ushul fikih ini namanya dalil mafhum muwafaqah…dan kalau kita lihat asbabun nuzul ayat-ayat ini dan semisalnya niscaya kita akan mendapati, larangan itu terjadi ketika terjadi persentuhan kulit antara sahabat dan shohabiyah…akhirnya Allah membuat aturan untuk yang bagus seperti: tidak boleh memandang, kecuali ada keperluan, berbicara dengan lawan jenis dari balik hijab, atau larangan untuk mendekati zina. ingat pak. menyentuh pasti kesetrum aliran lawan jenis dan itu salah jalan menuju zina…jadi dari pada anda berdebat dengan hadist yang anda tidak mengetahui cara berhujjah baik dari asbabul wurud atau nasikh mansukhnya serta thoriqul jama’nya mending anda dengan hati yang ingin mencari kebenaran meneliti dalil al Qur’an yang berbicara tentang adab bergaul dnegan lawanb jenis serta asbabun nuzul dan praktek para sahabat. Kita perlu sadari para sahabat adalah murid rasulullah saw, tentunya mereka sangat paham maksud dari ayat dan hadist daripada kita

      Mia said:
      5 September 2009 pukul 12:56

      Rangga betul…mari kita kembali kepada pemahaman para salafush sholeh..

        imam said:
        18 Maret 2010 pukul 08:51

        tepat sekali akhi….akal

    Nur Rodiah Pamungkas said:
    29 Desember 2009 pukul 16:28

    kadang itu jadi masalah tapi kita kembalikan lagi segalanya berawal dari niat jadi selama itu tidak bertentangan dengan islam boleh2 saja misal sebagai bukti penghormatan kita terhadap guru atau orang yang dituakan,,,
    tapi jaga hati z hehe,,,

    imam said:
    18 Maret 2010 pukul 08:50

    ndak setuju akhi

    uswatun hasanahb said:
    14 September 2010 pukul 19:03

    INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN
    takutlah akan azab ALLOH !!!!

    uswatun hasanahb said:
    14 September 2010 pukul 19:05

    INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN
    takutlah akan azab ALLOH !!!!
    sami’na wa atho’na
    yang haram sudah jelas!!

    Binawan said:
    19 September 2010 pukul 08:13

    @Nur Rodiah Pamungkas
    ana tdk setuju,,antum brkta menggunakan logika,,
    kembaliknlh permasalahan Islam pd ahlix yaitu salafus shalih,,
    jadi jangan seenaknya saja dlm menggapi mslh Agama Islam,,,klo antum bgitu mending buat agama sendiri saja yg sesuai dengan logika antum..
    yg haram tetaplh haram hingga dtngx hari kiamat……!!!

    kalau boleh menyentuh wanita yang bukan mahram asal tidak ada nafsu,,,
    bagaimana kalau mencium tanpa nafsu? bukanah mencium itu juga salah satu makna menyentuh.

    ana sependapat dengan *guwe

    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya sering kali berkunjung kepada keluarga dan kerabat dekat saya, setelah perpisahan selama terkadang enam bulan dan terkadang satu tahun penuh. Sampai di rumah, para wanita baik kecil ataupun dewasa telah menyambut saya. Mereka mencium saya dengan malu-malu dan sebenarnya dapat dikatakan ini adalah adat yang sudah tersebar (mendarah daging) sekali bagi kami, dan tidak ada maksud apa-apa karena hal tersebut menurut mereka bukanlah suatu perbuatan haram. Tetapi saya yang alhamdulillah memperoleh sedikit pendidikan yang Islami, merasa bingung dalam masalah ini. Bagaimana saya bisa menolak ciuman mereka. Perlu diketahui kalau saya tidak menjabat tangan mereka, sungguh mereka akan marah besar kepada saya dan akan berkata : Dia tidak menghormati kita, tidak memuliakan kita dan tidak mencintai kita (cinta yang mengikat antara anggota keluarga bukan yang mengikat antara pemuda dan pemudi). Apakah saya melakukan maksiat apabila saya mencium mereka, perlu dipahami bahwa saya tidak mempunyai niat buruk dalam hal tersebut ?

    Jawaban
    Seorang muslim tidak diperbolehkan menjabat tangan atau mencium selain istrinya dan mahramnya, bahkan hal tersebut termasuk sesuatu yang diharamkan dan sebab-sebab terjadinya fitnah serta timbulnya perzinaan dan telah diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda.

    Artinya : Sesungguhnya saya tidak menjabat tangan wanita

    Aisyah berkata :
    Tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan perempuan (bukan mahramnya) sama sekali. Ketika baiat, mereka hanya mabaiatnya dengan perkataan

    Saya tidak membenarkan perbuatan berjabat tangan dengan wanita selain mahramnya dan menciumnya baik mereka adalah putri-putri paman dari bapak atau putri-putri paman dari ibu atau dari kabilah lainnya, semua itu diharamkan dengan ijma kaum muslimin, dan termasuk sarana yang paling besar untuk terjadinya perzinahan yang diharamkan.

    Maka wajib atas setiap orang muslim untuk berhati-hati dari perbuatan tersebut dan menjelaskan kepada semua kerabat dan selain mereka yang terbiasa dengan hal tersebut, bahwa hal tersebut adalah perbuatan yang diharamkan meskipun biasa dilakukan oleh manusia.

    Setiap laki-laki muslim dan wanita muslimah tidak diperbolehkan untuk mengerjakannya meskipun keluarga dekat atau penduduk negaranya terbiasa melakukannya. Bahkan ia wajib menolak hal tersebut dan mengingatkan masyarakat dari hal tersebut. Dan cukup dengan mengucapakan salam tanpa berjabat tangan dan berciuman.

    [Kitab Fatawa Da`wah, Syaikh Bin Baz, hal. 186]
    Bagaimana kalau dengan wanita tua?
    Beliau menjawab:”Seorang laki-laki dilarang mutlak berjabat tangan dengan waanita yang bukan mahramnya,baik yang masih muda maupun tua,baik yang menjabat tanganya itu seorang pemuda maupun kakek tua,karena tindakan tersebut menimbulkan fitnah bagi keduanya.Mmaka jelaslah bagi kita bahwa berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom adalah perbuatan dosa,karena perbuatan ini bisa menjerumuskan pelakunya kepada fitnah yang lebih besar lagi.Kita memohon kepada Allah Swt agar kita semua dihindarkan dari godaan setan yang terkutuk.Wallohu A`lam.

    [Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami`ah Lil Maratil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerbit Darul Haq]

    Binawan said:
    19 September 2010 pukul 08:26

    kenapa antum lebih memilih pendapat seorang, padahal banyak ulama2 sepakat bahwasannya hal itu dharamkan secara pasti.

    jika kita berfikir ulang,,
    masalah itu menjadi masalah syubhat
    maka kita patut menjauhi

    http://ensiklopediamuslim.blogspot.com/2010/02/syubhat.html

    umar said:
    21 Agustus 2011 pukul 14:15

    assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
    sedikit berbagi
    Pembahasan hukum berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram memerlukan kajian yang kritis dan mendalam sebelum menyimpulkan, karena terdapat cukup banyak dalil-dalil syara yang digunakan untuk membahas permasalahan ini. Akibatnya para ulama yang membahas masalah ini berbeda pendapat tentang hukumnya. Ada yang mengharamkannya dan ada pula yang mengatakan bahwa hukumnya mubah (boleh).
    1. Dalil-Dalil, Serta Argumentasi Yang Digunakan Oleh Masing-Masing Pendapat
    Dalil-dalil yang dikemukakan oleh pendapat yang mengharamkannya adalah sebagai berikut:
    Pertama, beberapa riwayat dari ‘Aisyah r.a. yaitu:
    Telah berkata ‘Aisyah:
    “Tidak pernah sekali-kali Rasulullah Saw menyentuh tangan seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. Bukhari dan Muslim].
    Telah berkata ‘Aisyah:
    “Tidak! Demi Allah, tidak pernah sekali-kali tangan Rasulullah Saw menyentuh tangan wanita (asing), hanya ia ambil bai’at mereka dengan perkataan.” [HR. Bukhari dan Muslim].
    Menurut mereka Hadits-hadits di atas dan serupa dengannya merupakan dalil yang nyata bahwa Rasulullah Saw tidak berjabat tangan dengan wanita bukan mahram (asing). Karena itu maka hukum berjabat tangan antara lawan jenis yang bukan mahram adalah haram.
    Kedua, hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:
    “Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. ath-Thabrani].
    Atau hadits yang berbunyi:
    “Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.”
    Ketiga, juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw yakni:
    “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i].
    Sedangkan pendapat yang membolehkan dasarnya adalah riwayat yang menunjukkan bahwa tangan Rasulullah Saw bersentuhan (memegang) tangan wanita.
    Pertama, diriwayatkan dari ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. yang berkata:
    “Kami telah membai’at Rasulullah Saw, lalu Beliau membacakan kepadaku ‘Janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu’, dan melarang kami melakukan ‘nihayah’ (histeris menangis mayat), karena itulah seorang wanita dari kami menggenggam (melepaskan) tangannya (dari berjabat tangan) lalu wanita itu berkata: ‘Seseorang (perempuan) telah membuatku bahagia dan aku ingin (terlebih dahulu) membalas jasanya’ dan ternyata Rasulullah Saw tidak berkata apa-apa. Lalu wanita itu pergi kemudian kembali lagi.” [HR. Bukhari].
    Hadits ini menunjukkan bahwasanya kaum wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan. Kata qa ba dha dalam hadits ini memiliki arti menggenggam/melepaskan tangan. Seperti disebutkan di dalam kamus yang berarti menggenggam sesuatu, atau melepaskan (tanganya dari memegang sesuatu) (A.W. Munawwir, Kamus al-Munawwir, hal. 1167). Hadits ini jelas-jelas secara manthuq (tersurat) artinya ‘menarik kembali tangannya’ menunjukkan bahwa para wanita telah berbai’at dengan berjabat tangan, sebab tangan salah seorang wanita itu digenggamnya/dilepaskannya setelah ia mengulurkannya hendak berbai’at. Selain itu dari segi mafhum (tersirat) juga dipahami bahwa para wanita yang lain pada saat itu tidak menarik (menggenggam) tangannya, artinya tetap melakukan bai’at dengan tangan terhadap Rasulullah Saw. Jadi hadits ini menunjukkan secara jelas —baik dari segi manthuq (tersurat) maupun mafhum (tersirat)— bahwa Rasulullah Saw telah berjabat tangan dengan wanita pada saat bai’at (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzhâm Ijtima’i fi al-Islâm, hal. 57-58, 71-72). Penjelasan ini juga sekaligus membantah yang mengatakan: “Yang dimaksud dengan genggaman tangan dalam hadits tersebut adalah ‘penerimaan yang terlambat’.” Seperti yang dikemukakan golongan yang mengharamkan jabat tangan (Muhammad Ismail, Berjabat Tangan Dengan Perempuan, hal. 34). Sebab kata ‘genggam tangan’ dalam hadits tersebut tidak memiliki arti selain ‘berjabat tangan’. Dan tidak bisa dipahami/diterima dari segi bahasa kalau diartikan ‘penerimaan yang terlambat’. Kata qa ba dha juga sering ditemukan dalam hadits-hadits lain yang artinya menggenggam dengan tangan, misalnya, diriwayatkan oleh Abu Bakar r.a. dari Ibnu Juraij yang menceritakan, Bahwa ‘Aisyah r.a. berkata, “Suatu ketika datanglah anak perempuan saudaraku seibu dari Ayah Abdullah bin Thufail dengan berhias. Ia mengunjungiku, tapi tiba-tiba Rasulullah Saw masuk seraya membuang mukanya. Maka aku katakan kepada beliau ‘Wahai Rasul, ia adalah anak perempuan saudaraku dan masih perawan tanggung’.” Beliau kemudian bersabda:
    “Apabila seorang wanita telah sampai usia baligh maka tidak boleh ia menampakkan anggota badanya kecuali wajahnya dan selain ini —digenggamnya pergelangan tangannya sendiri— dan dibiarkannya genggaman antara telapak tangan yang satu dengan genggaman terhadap telapak tangan yang lainnya.” [HR. ath-Thabari dari ‘Aisyah r.a.].
    Hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. ini yang dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Namun demikian kebolehan tersebut dengan syarat tidak disertai syahwat. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram.
    Kedua, diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang berkata:
    “Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata, ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang laki-laki atau tangan seorang wanita.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab: ‘Ini tangan seorang wanita.’ Nabi bersabda, ‘Kalau engkau seorang wanita, mestinya kau robah warna kukumu (dengan pacar)’.” [HR. Abu Dawud].
    Ketiga, dalil lain yang membuktikan bahwa hukum mushafahah adalah mubah adalah dari firman Allah SWT:
    “…atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 43).
    Ayat ini merupakan perintah bagi seorang laki-laki untuk mengambil air wudlu kembali jika ia menyentuh wanita. Wanita yang ditunjuk oleh ayat itu bersifat umum, mencakup seluruh wanita, baik mahram maupun bukan. Dengan kata lain, bersentuhan tangan dengan wanita bisa menyebabkan batalnya wudlu, namun bukan perbuatan yang diharamkan. Sebab, ayat tersebut sebatas menjelaskan batalnya wudlu karena menyentuh wanita, bukan pengharaman menyentuh wanita. Oleh karena itu, menyentuh tangan wanita —tanpa diiringi dengan syahwat— bukanlah sesuatu yang diharamkan, alias mubah.
    Walhasil berdasarkan mafhum isyarah dalam ayat tersebut di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa hukum mushafahah adalah mubah.
    Keempat, Adanya riwayat-riwayat lain yang membolehkan mushafahah adalah sebagai berikut.
    Imam ar-Razi dalam at-Tafsir al-Kabîr, juz 8, hal. 137 menuturkan sebuah riwayat bahwa ‘Umar ra telah berjabat tangan dengan para wanita dalam bai’at, sebagai pengganti dari Rasulullah Saw.
    Diriwayatkan oleh Imam ath-Thabarani bahwa Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan para wanita sebagai pengganti dari Rasulullah Saw.
    Imam al-Qurthubi di dalam al-Jâmi’ al-Ahkâm al-Qurân, juz 18, hal. 71, juga mengetengahkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw mengambil bai’at dari kalangan wanita. Diantara tangan Rasulullah Saw dan tangan wanita-wanita itu ada sebuah kain. Kemudian Rasulullah Saw mengambil sumpah wanita-wanita tersebut. Dituturkan pula bahwa setelah Rasulullah Saw selesai membaiat kaum laki-laki Rasulullah Saw duduk di shofa bersama dengan Umar bin Khaththab yang tempatnya lebih rendah. Lalu, Rasulullah Saw membai’at para wanita itu dengan bertabirkan sebuah kain, sedangkan Umar bin Khaththab berjabat tangan dengan wanita-wanita itu.
    Riwayat-riwayat ini merupakan dalil kebolehan mushafahah. Sebab, ada taqrir dari Rasulullah Saw terhadap perbuatan Umar bin Khaththab. Taqrir dari Rasulullah Saw merupakan hujjah yang sangat kuat atas bolehnya melakukan mushafahah. Seandainya mushafahah dengan wanita asing (ajnabiyyah) adalah perbuatan haram, tentunya Rasulullah Saw tidak akan mewakilkan kepada Umar bin Khaththab, dan beliau Saw pasti akan melarangnya.
    2. Sikap Kita Dalam Menghadapi Perbedaan Tersebut
    Dalam menghadpi perbedaan tersebut dan pendapat mana yang harus kita ikuti untuk kita amalkan, maka kita harus mengkaji terlebih dahulu pendapat manakah yang lebih kuat dalam hal ini. Untuk itu kita perlu mengkaji manakah dalil yang lebih kuat dari nash-nash yang seolah-olah bertentangan yang digunakan oleh kedua pendapat di atas. Kalau kita perhatikan hadit-hadits yang digunakan oleh kedua pendapat adalah hadits-hadits shahih yang harus diterima kebenarannya. Dalam mensikapi hadits-hadits yang dzahirnya seola-olah bertentangan, menurut ilmu hadits dan ushul fiqh harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
    1. Thariqatul jam’i, yakni menggabungkan dan mengkompromikan dalil-dalil yang ada. Apabila langkah ini tidak bisa dilakukan baru menempuh.
    2. Nasikh dan Mansukh, apabila tidak bisa dilakukan, ditempuh.
    3. Tarjih, yakni dengan cara meneliti dan membandingkan mana dalil yang lebih kuat. Dalam hal ini harus dilakukan secara cermat dan teliti serta harus memperhatikan kaidah-kaidah tarjih yang telah digariskan oleh para ulama. Kalau langkah ini sulit dilakukan karena sama-sama kuat atau masih kabur baru menempuh langkah terakhir.
    4. Tawaqquf, yaitu menghentikan kajian dalam menggali hukumnya. Namun terus berusaha sampai Allah SWT membukakan persoalan tersebut untuk diketahui (Dr. Mahmud Thahan, Taisir Musthalah Hadits, hal. 58).
    3. Pendapat Yang Rajih (Kuat)
    Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukumnya mubah. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
    1. Hadits yang sering digunakan oleh golongan yang berpendapat haramnya berjabat tangan dengan bukan mahram adalah hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. Sedangkan golongan yang mengatakan mubah adalah berdasarkan riwayat ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. Untuk mentarjihnya kita perlu memperhatikan kaidah tarjih dalam ilmu hadits yang telah dijelaskan para ulama bahwa:
    “Rawi yang mengetahui secara langsung kedudukannya lebih kuat dari pada Rawi yang mengetahui tidak secara langsung.”
    Dari hadits-hadits diatas, maka hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. lebih kuat, sebab beliau melihat dan mengetahui secara langsung perbuatan Rasulullah Saw yang berjabat tangan dengan wanita bukan mahram pada saat berbai’at. Bahkan ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. sendiri berjabat tangan dengan Rasulullah Saw seperti apa yang tersirat dari hadits yang diriwayatkannya. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah r.a. isinya merupakan pendapat beliau yang menggambarkan bobot keilmuan beliau. Bahwa selama beliau (‘Aisyah r.a.) bergaul dengan Rasulullah Saw, beliau tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Jadi secara tidak langsung ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah Saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita bukan mahram.
    2. Memang benar ‘Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan wanita bukan mahram. Tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bahwa Rasulullah Saw mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram. Sebab apa yang dikatakan ‘Aisyah hanya menjelaskan tentang ketiadaan perbuatan Rasul —dalam hal ini berjabat tangan— yang diketahui ‘Aisyah, dan tidak menunjukkan larangan berjabat tangan dengan bukan mahram. Perlu diketahui bahwa kehidupan Rasulullah sehari-hari tidak selamanya didampingi ‘Aisyah r.a., bahkan kehidupan Rasulullah Saw bersama ‘Aisyah r.a. lebih sedikit dibandingkan dengan kehidupan Rasulullah Saw di luar rumah (berdakwah tanpa disertai ‘Aisyah r.a.). Sehingga kalau ‘Aisyah r.a. tidak pernah melihat Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram, tidak bisa langsung disimpulkan haram berjabat tangan dengan bukan mahram. Sebab pada keadaan lain ada yang melihat dan mengetahui (‘Ummu ‘Athiyyah r.a.) Rasulullah Saw berjabat tangan dengan wanita bukan mahram. Oleh krena itu hadits riwayat ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. lebih rajih (kuat) untuk dijadikan dalil dan dapat diambil serta menentukan bolehnya berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.
    3. Hadits-hadits yang menunjukkan larangan ‘menyentuh wanita’ serta hadits-hadits lain yang maknanya serupa. Misalnya hadits shahih yang berbunyi:
    “Ditikam seseorang dari kalian dikepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” [HR. ath-Thabarani].
    Atau hadits yang berbunyi:
    “Lebih baik memegang bara api yang panas dari pada menyentuh wanita yang bukan mahram.”
    Menurut golongan yang membolehkan berjabat tangan, menjelaskan bahwa kata massa yang artinya ‘menyentuh’ dalam hadits tersebut adalah lafadz musytarak (memiliki makna ganda) yakni bisa berarti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Selain itu pengertian ‘menyentuh’ juga sering digunakan kata lamasa yang juga memiliki makna ganda, yakni bisa berarti ‘menyentuh dengan tangan’ atau ‘bersetubuh’. Ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah dalam menjelaskan menyentuh dengan tangan sering menggunakan kata lamasa. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah SWT:
    “…atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 43).
    Juga firman Allah SWT:
    “… atau kamu telah menyentuh wanita…” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 6).
    “Dan kalau kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri…” (Qs. al-An’âm [6]: 7).
    Arti kata lamasa menurut bahasa Arab sendiri adalah ‘menyentuh dengan tangan’. Di dalam Kamus al-Muhith, karangan Fairuz Abadi, juz II, hal. 249, arti lamasa adalah al jassu bil yadi (menyentuh dengan tangan).
    Dalam kedua ayat pertama, kalimatnya berbentuk umum untuk seluruh kaum wanita, yaitu bersentuhan dengan wanita membatalkan wudhu dan hal ini menunjukkan bahwa hukumnya terbatas pada batalnya wudhu karena menyentuh wanita (Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nidzhâm Ijtima’i fi al-Islâm, hal. 58). Sedangkan dalam ayat ketiga memperjelas bahwa yang dimaksud menyentuh adalah memegang dengan tangan.
    Didalam hadits-hadits pun terdapat kata lamasa yang artinya menyentuh dengan tangan. Diriwayatkan:
    Telah berkata Ibnu ‘Abbas:
    “Tatkala Ma’iz bin Malik datang kepada Nabi Saw (mengaku berzina), bersabdalah Rasulullah Saw: ‘Barangkali engkau hanya mencium atau menyentuh atau melihat saja?’ Jawab dia, ‘Tidak! Ya Rasulullah.’ Berkata (Ibnu ‘Abbas), ‘Maka sesudah itu beliau memerintahkan agar dia itu dirajam’.” [HR. al-Ismailiy]. (Lihat A. Hassan, Soal-Jawab, hal. 53 – 55).
    Juga diriwayatkan:
    “Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah Saw melarang jual-beli dengan cara mulamasah dan munabadzah.” [HR. Bukhari dan Muslim].
    Jual beli secara mulamasah yaitu: Jika seorang pembeli berkata, apabila engkau menyentuh kainku dan aku menyentuh kainmu, maka terjadilah jual-beli. (Lihat kitab hadits Lu’lu wal Marjan, juz II, hal. 150).
    4. Kata massa merupakan lafadz musytarak, sehingga dalam sebuah ayat dan beberapa riwayat berarti ‘menyentuh dengan tangan’. Yakni di dalam firman Allah SWT:
    “Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan.” (Qs. al-Wâqi’ah [56]: 78).
    Juga dalam riwayat:
    “Dan dari Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm dari ayahnya, dari datuknya, bahwa Nabi Saw pernah mengirim surat kepada penduduk Yaman, yang (di dalamnya): ‘Tidak boleh menyentuh al-Qur’an melainkan orang yang suci’.” [HR. al-Atsram dan ad-Daraquthni]. Hadits yang serupa juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam al-Muwaththa.
    Tetapi, hadits-hadits yang diggunakan sebagai dalil oleh golongan yang mengharamkan ‘menyentuh wanita’ menggunakan kata massa yang lebih tepat diartikan ‘bersetubuh’ bukan ‘menyentuh dengan tangan’. Kata-kata massa dengan arti ‘bersetubuh’ lebih banyak ditemukan dalam ayat-ayat al-Qur’an. Misalnya firman Allah SWT:
    “Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu bercampur dengan mereka…” (Qs. al-Baqarah [2]: 236).
    “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu sentuh (setubuh) mereka, padahal…” (Qs. al-Baqarah [2]: 237).
    Juga firmanNya:
    “Maryam berkata: ‘Bagaimana aku bisa mempunyai anak laki-laki sedangkan tidak pernah seorang manusiapun yang menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina’.” (Qs. Maryam [19]: 20).
    “…kemudian kamu ceraikan mereka sebelum sentuh (setubuh) mereka…” (Qs. al-Ahzab [33]: 49).
    Dan masih banyak ayat lain yang menggunakan kata massa untuk makna ‘bersetubuh’ bukan arti menyentuh secara bahasa.
    Juga di dalam beberapa hadits menunjukkan bahwa kata massa memiliki arti ‘bersetubuh’. Rasulullah Saw bersabda:
    “Apabila kemaluan menyentuh kemaluan (bersetubuh), maka wajiblah mandi.” [HR. Muslim].
    5. Walaupun kata massa dapat diartikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ tetapi dalam hadits-hadits yang digunakan oleh golongan yang mengharamkan jabat tangan dengan wanita bukan mahram, ini lebih tepat jika diartikan dengan ‘bersetubuh’. Sebab jika di artikan dengan ‘menyentuh dengan tangan’ maka pengertian ini bertentangan dengan hadits shahih yang diriwayatkan ‘Ummu ‘Athiyyah r.a. dimana tangan Rasulullah Saw yang mulia telah menyentuh (berjabat tangan) dengan wanita yang bukan mahram. Juga riwayat lain yang menjelaskan dimana Rasulullah Saw pernah memegang tangan wanita seperti diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang berkata:
    “Seorang wanita mengisyaratkan sebuah buku dari belakang tabir dengan tangannya kepada Nabi Saw. Beliau lalu memegang tangan itu seraya berkata, ‘Aku tidak tahu ini tangan seorang laki-laki atau tangan seorang wanita.’ Dari belakang tabir wanita itu menjawab. ‘Ini tangan seorang wanita.’ Nabi bersabda, ‘Kalau engkau seorang wanita, mestinya kau robah warna kukumu (dengan pacar)’.” [HR. Abu Dawud].
    Selain itu Rasulullah Saw pernah berjabat tangan di dalam air, dalam benjana pada saat membai’at wanita, pernah juga Rasulullah Saw berjabat tangan dengan alas kain. Juga diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah menyuruh Umar bin Khaththab r.a untuk mewakili beliau dalam bai’at dan bai’at ini dilakukan dengan berjabat tangan. Kalau memang berjabat tangan (menyentuh) dengan wanita diharamkan, tentunya Rasulullah Saw tidak akan melaksanakannya baik secara langsung maupun dengan perantara apapun. Juga tidak mungkin Rasulullah Saw memerintahkan Umar bin Khaththab r.a. melakukan jabat tangan (menyentuh) dengan wanita yang bukan mahram, sebab hal tersebut adalah perbuatan yang haram. Akan tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.
    Juga kalau memang berjabat tangan (bersentuhan) anatar lawan jenis yang bukan mahram itu diharamkan, tentunya Daulah Khilafah Islamiyyah (negara Khilafah) tidak akan membiarkan kondisi-kondisi atau keadaan yang sangat memungkinkan terjadi persentuhan. Bahkan Daulah akan memberikan sanksi/hukuman bagi yang melakukannya. Ternyata tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan bahwa Daulah pernah melakukannya. Dan bahkan Daulah tidak pernah memisahkan antara jama’ah haji pria dan wanita, juga antara pria dan wanita di pasar walaupun kondisi tersebut akan menyebabkan terjadinya bersentuhannya pria dan wanita yang bukan mahram.
    Jadi dapat kita simpulkan bahwa dimaksud dengan kata ‘menyentuh’ pada hadits-hadits yang digunakan oleh pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita bukan mahram adalah ‘bersetubuh’ bukan menyentuh secara bahasa (berjabat tangan).
    6. Pendapat yang mengharamkan berjabat tangan antara pria dan wanita bukan mahram juga di dasarkan pada sabda Rasulullah Saw:
    “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” [HR. Malik, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i].
    Hadits di atas serta hadits-hadits lain yang serupa sering dijadikan dalil untuk mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram.
    Pendapat ini adalah lemah, karena ada sebuah kaidah ushul fiqh yang mengatakan:
    Inna ‘adam fi’l al-rasûl lisyain laisa dalîl syar’iyan (Sebenarnya perbuatan yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah Saw bukanlah dalil syara’).
    Sedangkan yang bisa dijadikan dalil syara’ adalah perbuatan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.
    Oleh karena itu, perkataan Rasulullah Saw, “Sesungguhnya aku tidak berjabat tangan dengan wanita.” Tidak bisa dijadikan dalil untuk mengharamkan berjabat tangan (mushafahah). Akan tetapi, hadits itu harus dipahami bahwa Rasulullah Saw ada kalanya menjauhi dan tidak pernah mengerjakan sama sekali perbuatan-perbuatan yang berhukum mubah. Misalnya, Rasulullah Saw selalu menjauhi dan tidak pernah menyimpan dirham dan dinar di rumahnya. Rasulullah Saw juga menjauhi untuk memakan daging biawak. Padahal, perbuatan-perbuatan semacam ini bukanlah perbuatan yang dilarang bagi kaum muslim. Artinya, meskipun Rasulullah Saw tidak pernah mengerjakan perbuatan tersebut, akan tetapi beliau Saw tidak melarang umatnya untuk melakukan perbuatan tersebut.
    Demikian juga dengan kasus mushafahah. Meskipun Rasulullah Saw tidak pernah melakukan mushafahah, bukan berarti mushafahah itu dilarang bagi kaum muslim. Sebagaimana bahwa menyimpan dirham dan dinar bukanlah perkara terlarang, meskipun Rasulullah Saw tidak pernah mengerjakannya. Walhasil, apa yang tidak dikerjakan oleh Rasulullah Saw tidak mesti dipahami bahwa perbuatan itu berhukum haram.
    7. Adapun kritik yang dikemukakan oleh Ibnu al-‘Arabi terhadap keshahihan riwayat-riwayat ‘Umar bin Khaththab bisa ditangkis dari kenyataan bahwa hadits-hadits yang bertutur tentang mushafahahnya ‘Umar bin Khaththab dicantumkan di dalam kitab Fâth al-Bârî karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, juz 8, hal. 636, dan beliau tidak berkomentar terhadap riwayat ini. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar telah mengakui keshahihan riwayat ini. Al-Hafidz sendiri adalah seorang muhadits yang sangat termasyhur dan kitabnya Fâth al-Bârî, diakui sebagai kitab syarah terbaik dan karya ilmiah yang dijadikan rujukan para ‘ulama fiqh dan hadits. Atas dasar itu, riwayat-riwayat yang menuturkan mushafahahnya Umar bin Khaththab dengan kaum wanita bisa digunakan hujjah secara pasti.
    8. Kelompok yang mengharamkan berjabat tangan mengatakan bahwa riwayat Ummu ‘Athiyah ini adalah mursal, yang berarti dha’if. Hal ini telah dijelaskan oleh Imam an-Nawawi (Syarh Shahih Muslim, jld. 1, hal. 30) dan juga al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani (Fâth al-Bârî, jld. 8, hal. 636). Ibnu Hajar mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah adalah merupakan hujjah (bantahan) terhadap apa-apa yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Athiyah mengenai Rasulullah memanjangkan tangannya untuk berjabat tangan dengan para wanita.
    Memang sebagian ulama memasukkan hadits mursal ke dalam hadits yang mardud (tertolak). Ulama-ulama yang berpendapat seperti ini adalah Imam Syafi’i dan beberapa ulama lainnya. Akan tetapi, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Imam Malik menjadikan hadits mursal sebagai hujjah.
    Hadits Ummu ‘Athiyyah adalah hadits marfu’ (sambung) hingga Nabi Saw. Perawi hadits tersebut adalah Musaddad, yang menurut Imam Ibnu Hanbal ia adalah shaduq (orang yang sangat terpercaya). Menurut Yahya bin Mu’în, ia adalah tsiqat tsiqat (lebih dari sekedar terpercaya).
    Perawi berikutnya adalah Abdu al-Wârits. Menurut an-Nasâ’i ia adalah tsiqat (terpercaya); menurut Abu Zur’ah ar-Razi, ia adalah tsiqat. Menurut Abu Hatim ar-Razi ia adalah shaduq.
    Sedangkan Ayyub, nama lengkapnya adalah Ayyub bin Tamimah Kisâniy, seorang tabi’in kecil (al-shughra min at-tâbi’în). Menurut an-Nasâ’i dan Yahya bin Mu’în, ia adalah tsiqat (terpercaya).
    Perawi selanjutnya adalah Hafshah binti Sîrîn, namanya kunyahnya adalah Ummu Hudzail. Seorang tabi’in tengah (al-wasthiy min at-tâbi’în). Ibnu Hibban mencantumkannya di dalam al-Tsiqat. Menurut Yahya bin Mu’în ia adalah tsiqat hujjah (terpercaya yang menjadi hujjah). Ia adalah salah seorang murid dan perawi dari Ummu ‘Athiyyah (shahabiyyah).
    Sedangkan, Ummu ‘Athiyyah adalah seorang shahabat wanita.
    8.1. Berhujjah Dengan Hadits Mursal
    Hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’iy namun tidak menyebutkan shahabatnya. Dengan kata lain, hadits mursal adalah perkataan seorang tabi’iy (baik tabi’iy besar maupun kecil), maupun perkataan shahabat kecil yang menuturkan apa yang dikatakan atau dikerjakan oleh Rasulullah Saw tanpa menerangkan dari shahabat mana berita tersebut didapatkannya. Misalnya, seorang tabi’iy atau shahabat kecil berkata, “Rasulullah Saw bersabda demikian…”, atau “Rasulullah Saw mengerjakan demikian”, atau “Seorang shahabat mengerjakan di hadapan Rasulullah Saw begini…”
    Sebagian ‘ulama menjadikan hadits mursal sebagai hujjah. Ulama yang berpendapat bahwa hadits mursal bisa dijadikan sebagai hujjah adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad. Sedangkan Imam Syafi’i dan ulama-ulama yang lain menolak berhujjah dengan hadits mursal. Akan tetapi, Imam Syafi’i tidak menolak secara muthlak hadits mursal. Imam Syafi’i berpendapat, bahwa hadits mursal bisa dijadikan sebagai hujjah asalkan memenuhi syarat: (1) hadits mursal dari Ibnu al-Musayyab. Sebab, pada umumnya ia tidak meriwayatkan hadits kecuali dari Abu Hurairah ra. (2) Hadits mursal yang dikuatkan oleh hadits musnad, baik dha’if maupun shahih. (3) Hadits mursal yang dikuatkan oleh qiyas; (4) hadits mursal yang dikuatkan oleh hadits mursal yang lain (Manhaj Dzawi an-Nadzar, hal. 48-53; Nudzat an-Nadzar, hal. 27). Jika kita mengikuti pendapat Imam Syafi’i ini, maka hadits Ummu ‘Athiyyah layak digunakan sebagai hujjah, sebab banyak hadits-hadits shahih yang senada dengan hadits Ummu ‘Athiyyah.
    Kami menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa hadits mursal bisa digunakan sebagai hujjah. Sebab, perawi yang dihilangkan adalah para shahabat yang seluruh ulama telah sepakat bahwa seluruh shahabat adalah adil. Benar, status hadits yang perawinya tidak diketahui, maka ketsiqahannya tidak diketahui alias majhul. Padahal, riwayat yang bisa digunakan hujjah adalah riwayat yang perawinya tsiqah dan yakin, alias tidak majhul. Tidak ada hujjah bagi perawi yang majhul. Ini adalah alasan mereka yang menolak hadits mursal sebagai hujjah.
    Sesungguhnya, bila diteliti secara mendalam, maka alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang yang menolak berhujjah dengan hadits mursal adalah lemah. Sebab, perawi yang dibuang (majhul) adalah shahabat. Meskipun jatidiri shahabat tersebut tidak diketahui, akan tetapi selama orang tersebut diketahui dan dikenal sebagai seorang shahabat maka haditsnya bisa diterima dipakai sebagai hujjah. Kita semua telah memahami, bahwa seluruh shahabat adalah adil. Oleh karena itu, ‘illat yang digunakan untuk menolak hadits mursal, sesungguhnya tidak ada di dalam hadits mursal. Sebab, ketidakjelasan jati diri shahabat tidak menafikan keadilan dan ketsiqahannya. Ini menunjukkan, bahwa hadits mursal tetap bisa digunakan sebagai hujjah. Dihilangkannya seorang shahabat dari rangkaian sanad tidaklah menurunkan derajat hadits tersebut, selama diketahui bahwa ia adalah shahabat. Sebab, seluruh shahabat adalah adil, dan tidak perlu lagi diteliti ketsiqahannya.
    Seandainya kita mengikuti komentar al-Hafidz Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi, mengenai kemursalan hadits Ummu ‘Athiyyah, hadits itu tetap bisa digunakan sebagai hujjah. Sebab, pendapat terkuat menyatakan, bahwa hadits mursal memang absah digunakan sebagai hujjah. Selain itu, banyak riwayat yang menyatakan, bahwa Rasulullah Saw dan ‘Umar bin Khaththab pernah berjabat tangan dengan wanita (Imam al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkâm al-Qur’an; Qs. al-Mumtahanah [60]: 12).
    4. Khatimah
    Dari tarjih kedua pendapat diatas menunjukkan bahwa pendapat yang mengharamkan berjabat tangan dengan bukan mahram adalah lemah jika dibandingkan dengan pendapat yang membolehkannya. Karena hukumnya mubah maka dibolehkan bagi kaum muslimin untuk berjabat tangan dengan bukan mahram baik secara langsung ataupun dengan pembatas, juga dibolehkan untuk tidak berjabat tangan.
    Pendapat yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mensyaratkan harus tanpa syahwat. Kalau ada syahwat maka hukumnya haram. Karena itu para ulama yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram mengingatkan karena antara syahwat dan tidak itu sangat samar, maka haruslah kita berhati-hati pada saat berjabat tangan. Terutama sekali kalau yang berjabat tangan adalah pria dan wanita muda yang sebaya, sebab sangat mungkin menimbulkan syahwat atau menimbulkan fitnah. Kalau tidak khawatir timbul fitnah maka tidak apa-apa berjabat tangan dengan bukan mahram. Misalnya dengan orang-orang yang sudah tua atau dengan anak-anak kecil.
    Golongan yang membolehkan berjabat tangan dengan bukan mahram, bukanlah karena mereka senang berjabat tangan dengan bukan mahram. Tetapi karena mereka tidak berani untuk mengharamkan sesuatu yang secara jelas Allah SWT telah membolehkannya lewat perbuatan RasulNya. Sebab termasuk dosa besar kalau ada orang yang berani mengharamkan sesuatu yang dihalalkan oleh Allah SWT atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan oleh Allah SWT. Sebab Rasulullah Saw bersabda:
    “Sesungguhnya orang yang mengharamkan sesuatu yang halal sama dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang haram.” [HR. as-Sihab].
    Perlu diingat bahwa sesuatu yang mubah tidak harus selalu dilakukan. Sebab kalau itu tidak berguna dan dapat menimbulkan fitnah lebih baik dihindarkan.
    Bagi mereka yang mengikuti pendapat yang mengharamkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan, maka haramlah hukumnya bagi mereka untuk berjabat tangan dan atau menyentuh dengan tangannya siapapun yang bukan mahramnya, baik bukan mahramnya tersebut anak kecil, remaja, dewasa ataupun orang yang sudah tua sekalipun. Sebab mereka semua adalah bukan mahram, yang haram untuk berjabat tangan dan bersentuhan dengannya. Sedangkan bagi mereka yang mengikuti pendapat yang membolehkan setelah sampai penjelasan yang meyakinkan, maka mubahlah hukumnya bagi mereka. Allah SWT akan meminta pertanggung-jawaban atas perbuatannya berdasarkan pendapat yang terkuat yang telah ia ikuti. Walaupun berbeda pendapat kaum muslimin tetap bersaudara. Tidak boleh hanya karena perbedaan pendapat yang masih dibolehkan tersebut, sesama muslim saling menfitnah dan menjelek-jelekan orang yang berbeda dengan mereka. Yang jelas kita wajib mengikuti pendapat yang terkuat tanpa dicampuri adanya perasaan suka atau tidak suku. Wallahu a’lam bi ash-showab.

    Ari said:
    6 Agustus 2015 pukul 06:29

    Sesungguhnya Anda Akan Mempertanggung jawabkannya Besok Di Hadapan Allah SWT.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s