Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran

Posted on

Pada artikel terdahulu, telah kita jumpai sebab-sebab “obyektif” mengapa para sahabat Nabi dan juga para ulama berlainan-pendapat meskipun sama-sama berpijak pada Al-Quran dan Sunah. Pada postingan kali ini, kami sampaikan sebab-sebab “subyektif”-nya. Kami mengutipnya dari buku Dr. Muhammad Abu Al-Fatah Al-Bayanuni, Islam Warna-Warni (Jakarta: Hikmah (Kelompok Mizan), 2003), hlm. 28-31:

Para ulama mempunyai gaya [pengungkapan] yang berbeda dalam menjelaskan sebab-sebab perbedan pendapat. Di antaranya ada yang menjelaskannya secara garis besar dan ada pula yang terperinci.

Dari penjelasan-penjelasan para ulama tersebut, kami melihat bahwa semua sebab tersebut merujuk pada empat hal sebagai berikut:

1. Tsubut [Layak] atau Tidaknya Sebuah Dalil

… [Dalil] terkadang dianggap layak dijadikan dasar dalam menggali hukum, tetapi oleh mujtahid lain dianggap tidak layak.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menilai layak atau tidaknya sebuah dalil dijadikan dasar dalam menggali hukum [itu] disebabkan oleh perbedaan mereka dalam menilai tsiqah [terpercaya] atau tidaknya perawi [yang meriwayatkan] sebuah hadis. Juga dipengaruhi oleh penilaian tentang syadz atau tidaknya matan [isi] dan sanad [jalur periwayatan] sebuah hadis dibandingkan dengan matan dan sanad hadis-hadis lainnya, dan sebab-sebab lain yang berhubungan dengan masalah ini.

2. Perbedaan Pendapat dalam Memahami Dalil

… Perbedaan ini dipengaruhi oleh dua hal. Pertama, merujuk pada dalil itu sendiri. Sebuah dalil terkadang lafalnya bersifat musytarak (mengandung berbagai macam makna), atau mujmal (makna global atau tidak terperinci). Terkadang pula mengandung makna hakiki, pada saat lain makna majazi [kiasan] dan lain-lain seperti yang terdapat dalam cabang ilmu lughah, yakni ilmu bayan.

Kedua, merujuk pada kemampuan mujtahid itu sendiri. Sebuah fakta yang tidak terbantahkan adalah kemampuan para mujtahid tidaklah sama dalam menangkap makna yang ditunjukkan oleh sebuah lafal.

3. Perbedaan dalam Menyikapi Dalil yang Bertentangan

… Dalam menyikapi pertentangan antara dalil-dalil itu, para ulama berbeda pendapat dalam mengambil solusi, baik dalam mendamaikan keduanya atau mendahulukan satu dalil daripada dalil lain. Satu hal yang mesti diperhatikan di sini adalah pemahaman dan gaya berpikir seorang mujtahid mempunyai pengaruh besar dalam masalah ini.

Selain itu, solusi yang dipiliih oleh seorang mujtahid dalam menyikapi dalil-dalil yang bertentangan bukanlah hujjah bagi mujtahid lain dan seorang mujtahid tidak berkewajiban untuk mengikuti pendapat mujtahid lain.

4. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama Mengenai Kaidah-kaidah Ushul dan sebagian Dasar dalam Menggali Hukum

[Contoh:] sebagian ulama dalam berijtihad ada yang menganggap bahwa perbuatan dan fatwa sahabat [Nabi] sebagai hujjah, sementara mujtahid lain tidak. Ada juga yang menjadikan praktik masyarakat Madinah sebagai hujjah kuat yang mengalahkan dalil-dalil syar’i, sementara ulama lain tidak demikian.

Sebagian ulama lebih mendahulukan perbuatan seorang sahabat [Nabi], jika perbuatan tersebut bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh dirinya sendiri. Ulama lain mengatakan, jika ada perbuatan seorang perawi dari kalangan sahabat bertentnagan dengan hadis yang diriwayatkannya, maka yang harus dijadikan sebagai dasar hukum adalah hadisnya.

Hasil ijtihad seorang mujtahid dipengaruhi oleh metode dan gaya ijtihadnya dan dasar-dasar yang dijadikan sebagai pegangan dalam menggali hukum syar’i.

Oleh karena itu, ruang perbedaan pendapat antara satu mujtahid dengan mujtahid lain terasa sempit, jika kedua mujtahid tersebut mempunyai metode yang hampir sama dalam menggali hukum. Sebaliknya, tampak luas jika metode keduanya berbeda.

Iklan

21 thoughts on “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran

    Donnyreza said:
    30 Oktober 2007 pukul 01:46

    Pertanyaannya, mungkin nggak sih untuk disatukan? sulit ya? harapannya sih bisa tetap saling menghargai saja…dan harapannya kalau selama ini kurang ‘benar’, mbok ya ngalah sama yang ‘benar’ gitu…:D

      Mbah Kabul said:
      6 Maret 2014 pukul 17:30

      – Yang salah hanya satu : “Yang Menyalahkan!”
      – Yang benar hanya satu: “Yang Tidak Ragu-ragu”

    M Shodiq Mustika responded:
    30 Oktober 2007 pukul 02:03

    “Idealnya” ya bersatu-pendapat, tapi kita mesti “realistis” juga, bukan?

    Shelling Ford said:
    1 November 2007 pukul 22:00

    hahaha, orang2 yang hobi saling menghujat itu kayaknya perlu baca artikel ini deh, pak.

    tapi bisa2 artikel ini nantinya malah dihujat juga, hehehe!

    […] Kami harus mengutamakan perkara yang lebih penting. Insya’Allah kami akan lebih memprioritaskan “orang awam” yang haus ilmu agama daripada “ahli agama” yang menolak perbedaan pendapat.   […]

    […] Kami harus mengutamakan perkara yang lebih penting. Insya’Allah kami akan lebih memprioritaskan “orang awam” yang haus ilmu agama daripada “ahli agama” yang menolak perbedaan pendapat. […]

    […] “Rambut wanita bukan aurat,” fatwanya Ditulis pada 16 Agustus 2008 oleh M Shodiq Mustika Dalil-dalil yang sah mengenai aurat wanita atau pun pria tidak semuanya qath’i (tegas) dalam segi dalalah (indikasi). Dengan demikian, masalah aurat itu terbuka untuk ijtihad. Dalam ijtihad, wajar saja jika terdapat perbedaan-perbedaan meskipun sama-sama berlandaskan Al-Qur’an dan hadits shahih. […]

    vizentica.blogr.com - stories - 8219260 said:
    1 November 2008 pukul 14:09

    […] itu cenderung tetap ada meskipun kita sudah berlandaskan Al-Qur’an dan hadits shahih . Ini karena keterbatasan akal kita untuk memahaminya . Sungguhpun demikian, persoalan ini dapat […]

    […] Ijtihad bukanlah untuk mengubah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah secara qath’i. Di paragraf pertama di artikel itu sudah saya ungkapkan: Dalil-dalil yang sah mengenai aurat wanita atau pun pria tidak semuanya qath’i (tegas) dalam segi dalalah (indikasi). Dengan demikian, masalah aurat itu terbuka untuk ijtihad. Dalam ijtihad, wajar saja jika terdapat perbedaan-perbedaan meskipun sama-sama berlandaskan Al-Qur’an dan hadits shahih. […]

    […] Bahwa hasil ijtihad mereka tidak sama dengan hasil ijtihad ulama di negeri-negeri lain, itu wajar saja. Ijtihad memang memungkinkan perbedaan pandangan. (Lihat postingan “Mengapa Ulama Berlainan Pendapat“.) […]

    […] Bahwa hasil ijtihad mereka tidak sama dengan hasil ijtihad ulama di negeri-negeri lain, itu wajar saja. Ijtihad memang memungkinkan perbedaan pandangan. (Lihat postingan “Mengapa Ulama Berlainan Pendapat“.) […]

    teserah said:
    27 Januari 2009 pukul 12:20

    kebanyakan omong

    shalimow said:
    27 Januari 2009 pukul 21:58

    kalo prinsip2 ushul fiqih posisinya dimana bos???

      M Shodiq Mustika responded:
      28 Januari 2009 pukul 00:30

      @ shalimow
      Kaidah dari ushul fiqih ada banyak. Bisa saja dalam suatu ijtihad terhadap suatu persoalan, ulama A mengutamakan kaidah P, tetapi ulama B mengutamakan kaidah Q. Ini pun memunculkan perbedaan.

    masni rustam said:
    16 Februari 2009 pukul 08:55

    Yang terang Allah menegaskan agar setiap kelompok manusia memilih pemimpin, bahkan orang yang melakukan perjalanan saja disuruh menunjuk seorang diantaranya menjad pemimpin. Shalat berdua saja harus salah satunya menjadi imam. Demikian tegasnya Islam dalam pentingnya memilih pemimpin. Apatah lagi seatu negara maka memilih pemimpin itu hukumnya wajib. Memang tepatnya wajib kifayah, Namun kita tahu wajib kifayah / fardhu kifayah dapat tunai dengan dilakukan oleh satu orang, namun bagi yang melakukan wajib kifayah nilainya teramat besar, seyogianya kita berebut untuk dapat melakukan hal yang sama. Demikian juga halnya dengan memilih pemimpin. Sesungguhnya kewajiban hamba memiliki tekad untuk memilih yang terbaik hasilnya Allah yang akan memberikan pertolongan yang berlipatganda untuk mewujudkan pemimpin yang baik. Sekalipun yang menjadi harapan kita tidak menang dengan cara-Nya Allah akan menolong kita yang sudah memilih yang terbaik sesuai petunjuk-Nya. Semoga Allah memberi kita hidayah dan taufiqnya untuk memilih yang benar.

      mujadeed said:
      5 Juli 2009 pukul 18:15

      Assalamu’alaikum

      Sekedar menyampaikan…

      SURAT TERBUKA KEPADA ULAMA SERUMPUN MELAYU

      Bismilla-hir rohma-nir rohi-m

      SURAT TERBUKA

      Taushiyah Khusus

      kepada Fadlilatul Ulama

      Serumpun Melayu

      Mengawali pernyataan ini, saya hanya bisa mengungkapkan bahwa tiada kata yang indah dapat saya tuliskan di sini melainkan hanya permohonan kepada Allah semoga ridla Allah berlimpah kepada para Fadlilatul Ulama, mengingat bahwa hanya kepada para Ulama maka Allah telah mengkhususkan melalui firman-Nya dalam Surah Fathir, 35 : 28, yaitu :

      “Dan dari antara manusia dan binatang yang melata dan binatang ternak berbeda-beda warnanya. Seperti demikian itulah, adapun sebenarnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hambaNya adalah Al Ulama. Sesungguhnya Allah itu Yang Perkasa Yang Pengampun”

      Dengan berpangkal dari firman Allah masalah keberadaan Al Ulama, betapa Allah memberikan suatu julukan khusus terhadap hamba-hamba-Nya yang mau mentadabburi Al Quran untuk menepati perintah-Nya sebagaimana dituangkan-Nya melalui firman penting, baik yang secara langsung ( QS An Nisa, 4 : 82 ; QS Muhammad, 47 : 31 ) dan ataupun secara tidak langsung ( QS Az Zumar, 39 : 18 ). Tatkala ada yang menanyakan kepada Rasulullah saw tentang; Apa itu Al Ulama? Rasulullah saw menjawab dengan halus tetapi tegas, yaitu bahwa Ulama itu adalah hamba Allah yang dari hal ilmu dalam amaliyah mempunyai titik temu secara jelas.
      Fadlilatul Ulama,

      Bila memandang kembali kepada sejarah para Utusan Allah, dari semenjak Nuh as sampai Muhammad saw, dalam melaksanakan perintah untuk menegakkan Kebenaran Tauhid yaitu Tathbiqusy Syariah penuh keharusan. Perjalanan mereka tidak luput dari berbagai pertolongan yang Allah telah berikan kepada mereka dan janji kemenangan dalam menghadapi berbagai kendala dan rintangan yang dilakukan oleh kaum Kafirin. Secara nyata bahwa inilah yang disebut cobaan dan ujian untuk dijadikan sebagai ukuran ketegaran iman bagi para Muttabiur Rasul, Sebagaimana difirmankan-Nya di dalam Al Quran surah Muhammad, 47 : 31 :

      selengkapnya: http://www.al-ulama.net/home-mainmenu-1/tafseer/38-surat-terbuka

      Wassalamu’alaikum

    […] Adapun dalam masalah-masalah cabang (bukan pokok), Islam itu terbagi menjadi golongan-golongan yang sangat banyak, sampai tak terhitung. Perbedaan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal beliau, di zaman shahabat Nabi, perbedaan ini bertambah banyak. Begitu pula selanjutnya, perbedaan dalam masalah-masalah cabang ini semakin banyak. (Lihat “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran“.) […]

    […] Adapun dalam masalah-masalah cabang (bukan pokok), Islam itu terbagi menjadi golongan-golongan yang sangat banyak, sampai tak terhitung. Perbedaan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal beliau, di zaman shahabat Nabi, perbedaan ini bertambah banyak. Begitu pula selanjutnya, perbedaan dalam masalah-masalah cabang ini semakin banyak. (Lihat “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran“.) […]

    pak aming said:
    7 Juli 2009 pukul 10:34

    tapi ingat, bahwa perbedaan itu bukan rahmat….

    […] Dalil-dalil yang sah mengenai aurat wanita atau pun pria tidak semuanya qath’i (tegas) dalam segi dalalah (indikasi). Dengan demikian, masalah aurat itu terbuka untuk ijtihad. Dalam ijtihad, wajar saja jika terdapat perbedaan-perbedaan meskipun sama-sama berlandaskan Al-Qur’an dan hadits shahih. […]

    […] Adapun dalam masalah-masalah cabang (bukan pokok), Islam itu terbagi menjadi golongan-golongan yang sangat banyak, sampai tak terhitung. Perbedaan ini sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Sepeninggal beliau, di zaman shahabat Nabi, perbedaan ini bertambah banyak. Begitu pula selanjutnya, perbedaan dalam masalah-masalah cabang ini semakin banyak. (Lihat “Mengapa Ulama Berlainan-Pendapat Walau Sama-sama Berpijak pada Al-Quran“.) […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s