Perlukah logika untuk memahami Syariat Islam?

Posted on Updated on

Apakah ilmu mantiq (logika) dibutuhkan untuk memahami teks Al-Qur’an, Al-Hadits, dan teks-teks keagamaan? Mengapa?

Secara garis besarnya, kita jumpai empat macam jawaban ulama terhadap pertanyaan di atas:

1) Ada ulama yang antipati, menentang, atau menolak secara mutlak keberadaan ilmu mantiq untuk memahami teks-teks Islam.

Keberadaan ulama yang berpandangan demikian diterangkan oleh Umar M. Noor sebagai berikut.

Sejak awal kehadirannya di dunia Islam, mantik menyalakan perdebatan sengit di kalangan para ulama, terutama ahli kalam. Mereka sangat anti kepada mantik dan melarang manusia untuk mempelajarinya. Ibn Khaldun berkata bahwa antipati ini lahir karena persinggungan prinsip ilmu kalam dengan mantik yang melahirkan pilihan: terima mantik maka tinggalkan kalam atau terima kalam maka tinggalkan mantik. Padahal, ilmu kalam adalah ilmu dasar yang bertugas menetapkan akidah islamiah menyangkut keesaan Allah dan kebaharuan alam semesta. Bahkan Al Qadhi Abu Bakar Al Baqillani menyatakan bahwa prinsip-prinsip ilmu kalam adalah bagian dari akidah. Menyerangnya sama dengan berusaha menghancurkan sendi-sendi akidah islamiah.

Singkatnya, menurut mereka, logika atau ilmu mantiq itu bukan hanya tidak dibutuhkan, melainkan juga haram (tidak boleh) digunakan untuk memahami teks-teks Islam.

2) Ada ulama yang simpati, menyambut, atau menerima secara bulat-bulat keberadaan ilmu mantiq untuk memahami teks-teks Islam.

Keberadaan ulama yang berpandangan demikian diterangkan oleh Umar M. Noor sebagai berikut.

Seperti Al Farabi dan Ibn Sina, Al Ghazali berpendapat bahwa mantik adalah aturan-aturan berpikir yang berfungsi meluruskan akal dalam menarik kesimpulan dan membebaskannya dari campuran prasangka dan imajinasi. Tugas utama mantik dengan demikian adalah menjaga akal dari kesalahan berpikir. Mantik bagi akal sepadan dengan posisi nahwu bagi bahasa Arab dan ilmu ‘Arud bagi ritme puisi (syair). Meminjam analogi Al Farabi, mantik bagi akal ibarat neraca dan takaran yang berfungsi mengukur bobot benda yang tak bisa diketahui ukurannya dengan tepat jika hanya menggunakan indera. Atau ibarat penggaris untuk mengukur panjang dan lebar sesuatu yang indera manusia sering keliru dalam memastikannya.

Al Ghazali bahkan menegaskan bahwa mantik merupakan mukaddimah (organon) seluruh ilmu –-bukan hanya pengantar filsafat. Maka barangsiapa yang tidak menguasai mantik, seluruh pengetahuannya rusak dan diragukan.

Singkatnya, menurut mereka, logika atau ilmu mantiq itu bukan hanya dibutuhkan, melainkan juga wajib (harus) digunakan untuk memahami teks-teks Islam.

3) Ada ulama yang tidak bersimpati, tetapi tidak secara mutlak menolak keberadaan ilmu mantiq untuk memahami teks-teks Islam.

Keberadaan ulama yang berpandangan demikian diungkapkan oleh Umar M. Noor sebagai berikut.

Abu Amr Ibn Shalah … mengatakan bahwa setiap orang yang otaknya cerdas otomatis berpikirnya logis tanpa harus belajar mantik.

Lebih lanjut, Umar M. Noor menerangkan:

Ketika sekilas saya mengamati buku “Kubra Al Yaqiniat Al Kauniah: Wujud ul-Khaliq wa Wazifat ul-Makhluq” karya Dr Said Ramadhan Al Buthi, saya menemukan sedikit peninggalan Ibn Taymiah di dalamnya. Dalam pengantar cetakan ketiga-nya, Dr Said menulis, “Apakah dalam menguraikan pembahasan akidah islamiah dalam buku ini kami berpedoman kepada filsafat Yunani dan logika formal (mantik shuri)?…Kami tidak menggunakannya sama sekali. Kami hanya menyajikan kepada pembaca dalil-dalil dan bukti-bukti yang diakui akurasinya sepanjang sejarah meski diungkapkan dengan bahasa yang berbeda-beda.”

Selanjutnya, setelah menyebutkan kekurangan dan kelebihan mantik, Dr Buthi berkata, “Kami tidak berkata bahwa filsafat Yunani dan logika Aristoteles semuanya salah. Tidak ada alasan sama sekali untuk menutup mata dan pikiran darinya. Di dalamnya [ada] banyak hal yang bermanfaat, namun [ada] banyak pula yang menyulut kritikan dari para ulama dan filosof muslim. Orang yang selalu hendak membangun pemikirannya dengan dasar-dasar ilmiah harus mampu memilih yang baik dari orang lain, daripada menolaknya sama sekali.” Ini pendirian Ibn Taymiah yang mengakui adanya hal-hal positif dalam mantik, karena itu ia tidak membantah demonstrasi [logika] yang didukung premis-premis meyakinkan, meski negatifnya lebih banyak daripada positifnya.

Kemudian, di pembukaan (tamhid) yang membandingkan metode ilmiah pemikir muslim dan pemikir Barat, Dr Buthi menyebutkan bahwa analisa rasional yang digunakan kaum muslimin dalam membahas sesuatu yang tidak diberitakan oleh Al Qur’an dan hadis mutawatir adalah dilalah iltizam dan qiyas ‘illat. Dan keduanya benar-benar metode alternatif yang ditawarkan Ibn Taymiah. Wallahu A’lam.

Singkatnya, menurut mereka, logika atau ilmu mantiq itu kurang dibutuhkan walaupun boleh (tidak haram) digunakan untuk memahami teks-teks Islam.

4) Ada ulama yang tidak antipati, tetapi tidak secara bulat-bulat menerima keberadaan ilmu mantiq untuk memahami teks-teks Islam.

Keberadaan ulama yang berpandangan demikian diungkapkan oleh Umar M. Noor sebagai berikut.

Pada masa penerjemahan literatur asing atas perintah Khalifah Al Makmun (w. 218 H), buku-buku [dari Yunani] ini menarik perhatian banyak cendikiawan muslim pada saat itu hingga beberapa dekade setelahnya. Abu Nashr Al Farabi, Abu Ali Ibn Sina dan Ibn Rusyd menulis berbagai komentar dan penjelasan tentang cabang ilmu ini. Kemudian datang generasi selanjutnya yang menyempurnakan ilmu ini dengan memandangnya sebagai ilmu tersendiri, bukan hanya ilmu alat (organon), dengan menambah yang kurang dan membuang yang tidak perlu. Orang pertama yang melakukan ini adalah Imam Fajruddin bin Al Khatib lalu Afdhaluddin Khawanji. Proyek mereka sungguh sukses sehingga berhasil menenggelamkan karya tokoh-tokoh sebelumnya dan mengalahkan metode mereka.

Di Indonesia, salah seorang ulama terkemuka yang tidak secara bulat-bulat menerima keberadaan ilmu mantiq untuk memahami teks-teks Islam ialah Kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

… naskah pidato terakhir Kyai yang berjudul Tali Pengikat Hidup menarik untuk dicermati karena menunjukkan secara eksplisit konsen Kyai terhadap pencerahan akal suci melalui filsafat dan logika. Sedikitnya ada tiga kalimat kunci yang menggambarkan tingginya minat Kyai dalam pencerahan akal, yaitu: (1) pengetahuan tertinggi adalah pengetahuan tentang kesatuan hidup yang dapat dicapai dengan sikap kritis dan terbuka dengan mempergunakan akal sehat dan istiqomah terhadap kebenaran akali dengan didasari hati yang suci; (2) akal adalah kebutuhan dasar hidup manusia; (3) ilmu mantiq atau logika adalah pendidikan tertinggi bagi akal manusia yang hanya akan dicapai hanya jika manusia menyerah kepada petunjuk Allah swt.

Pandangan beliau itu dikembangkan lebih lanjut oleh ulama-ulama Muhammadiyah. Munas Tarjih di Jakarta, 5-7 Juli 2000, menghasilkan Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam yang menggunakan tiga jenis pendekatan: bayani, burhani (yang di dalamnya terkandung ilmu mantiq), dan ‘irfani. Bahwa Muhammadiyah tidak secara bulat-bulat menerima keberadaan ilmu mantiq (atau pun “alat bantu” lain) untuk memahami teks-teks Islam, kita bisa mengetahui dengan menyimak bagaimana Muhammadiyah memadukan ketiga pendekatan tersebut:

Hubungan yang baik antara ketiganya adalah hubungan yang bersifat spiral, dalam arti bahwa masing-masing pendekatan keilmuan yang digunakan dalam pemikiran keislaman, sadar dan memahami keterbatasan, kekurangan dan kelemahan yang melekat pada diri masing-masing dan sekaligus bersedia memperbaiki kekurangan yang melekat pada dirinya. Dengan begitu, kekakuan, kekeliruan, ketidaktepatan, kesalahan, yang melekat pada masing-masing metodologi dapat dikurangi dan diperbaiki, setelah memperoleh masukan dari pendekatan bayani, burhani maupun ‘irfani. Corak hubungan yang bersifat spiral, tidak menunjukkan adanya finalitas dan eksklusivitas, lantaran finalitas –untuk kasus-kasus tertentu– hanya mengantarkan seseorang dan kelompok muslim pada jalan buntu (dead lock) yang cenderung menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar sesama muslim. Lebih-lebih lagi, finalitas tidak memberikan kesempatan munculnya new possibilities (kemungkinan-kemungkinan baru) yang barangkali lebih kondusif untuk menjawab persoalan-persoalan keislaman kontemporer.

Jadi, logika atau ilmu mantiq itu sangat dibutuhkan sebagai “alat bantu” untuk memahami teks-teks Islam, supaya kita terjaga dari kesalahan-berpikir atau sesat-pikir (fallacy) dan terjaga dari debat-kusir atau jalan buntu (dead lock) yang cenderung menyebabkan ketidakharmonisan hubungan antar sesama muslim.

————–

Referensi:

Umar M. Noor, “Menimbang Mantik: Antara Al Ghazali dan Ibn Taymiah”

Mohamad Ali dan Marpuji Ali, “Filsafat Pendidikan Muhammadiyah

MT-PPI PP Muhammadiyah, “Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam

Iklan

27 thoughts on “Perlukah logika untuk memahami Syariat Islam?

    benbego said:
    27 Oktober 2007 pukul 15:43

    Bener Pak Shodiq. Ilmu Mantiq bisa dijadikan salah satu pilihan untuk menjembatani silang pendapat pada berbagai hukum salah satunya bidang Fiqh. Namun tak hanya itu, perlu dilakukan penelitan lebih lanjut sejauh mana keputusan bisa diambil.

    […] Oktober 28th, 2007 Agak sedikit terkejut juga ketika berkunjung ke rumah sahabat yang memposting : Perlukah Logika Untuk Memahami Syarit Islam?. Meskipun selintas saya pernah baca pertentangan antara Al Ghazali dengan Ibn Tamiyah, namun saya […]

    kurtubi said:
    28 Oktober 2007 pukul 12:08

    Bagaimana tidak butuh logika yaa, padahal memahami ayat saja dibuthkan kemampuan bahasa bukan isyarat. Kemampuan ini terus diasah didialogkan dan diperdebatkan. Bukan pada esensi wahyunya tetapi makna dibalik itu.

    Namanya bahasa yaa logika juga. Untuk orang-ornag Arab saja yang bahasanya sama, tdak sedikit yang memahami wahyu Quran yang tinggi sastranya…

    Buktinya para imam mazhab benar telahmenghasilakan konkluasi yang bisa disederhankan dan dimengerti oleh para pengikut umat Muhammad saw berikutnya.

    kayanya OOT nih komentarku, maaf lahir batin mas… nice posting …

    almirza said:
    28 Oktober 2007 pukul 17:03

    Yang jelas butuh Akal
    Ilmu Mantiq adalah salah satu cara
    Ya memang ada saja yang pikirannya baik atau cerdas tanpa belajar ilmu Mantiq

    […] Adam pun mengulurkan tangannya kepada akal dan memeluknya seraya berkata […]

    fateh said:
    8 November 2007 pukul 14:43

    Sejauh mana bisa dipertanggung jawabkan Ilmu Mantiq (logika) ???

    Akal siapa or menurut siapa ?

    kalo nyang berbicara itu Para sahabat Nabi nyang termasuk generasi terbaik dan sebaik-baiknya umat & mendapat jaminan dari Allah…itu sih oke punya & bisa dipertanggung jawabkan.

    Kalo nyang bicare ustad nyang dia tuh bergurunye entah dimane or manhaj-nye ndak jelas…gimane bisa dipertanggung jawabkan…& jelas ini merupakan salah satu pemecah kaum muslimin…karena akan menampilkan Islam Warna-warni..ini bahaya loh..mas.

    BIla nyang bicara itu Ulama2x nyang sudah diakui dunia tentang ke-ilmuannya..ini bisa dijadikan reference & Ulama merupakan pewaris nabi loh.. seperti Syeik Utsaimin, Syeik Al bany, Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan,dll

    ISLAM itu sudah Sempurna 100%..Allah nyang ngejamin…tak perlu ditambah or dikurangi

      Muhammad Habibie Amrullah said:
      7 Desember 2011 pukul 14:04

      Wah ternyata menurut mas/mbak Fateh ini logika itu relatif ya? ketika sahabat nabi berlogika bahwa “menolong orang” itu baik, mungkin saja ustad yang mas/mbak maksud “menolong orang” itu jelek, yakni ada kemungkinan logika ustad itu dengan logika para sahabat berbeda? begitu? Kalo gitu mah kita gak usah mikir aja semua wong logika kita mungkin aja gak sependapat dengan sahabat, kalo yang jadi andalan cuma logika sahabat.. buat apa kita punya akal? Agama itu gk bisa dipisah dari akal, meski kadang akal gak mampu memahami agama secara total.

    manusiasuper said:
    8 November 2007 pukul 18:51

    @ Fateh

    BIla nyang bicara itu Ulama2x nyang sudah diakui dunia tentang ke-ilmuannya..ini bisa dijadikan reference & Ulama merupakan pewaris nabi loh.. seperti Syeik Utsaimin, Syeik Al bany, Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan,dll

    Saya kok malah ga kenal mereka ya? Kurang ilmu neh saya…
    Atau malah mereka yang kurang terkenal? Tau lah, saya lebih cenderung ke opsi yang pertama saja..

    Mengenai logika, penggunaan akal, atau ilmu mantiq ini, saya lebih cenderung pada kesimpulan; tidak mungkin Allah memberikan otak luar biasa ini jika malah melarang manusia untuk menggunakannya.

    Sama seperti Allah menciptakan tangan, lidah, mata bahkan alat kelamin, rasanya tidak mungkin kita dilarang menggunakannya kan?

    Mungkin jalan tengahnya seperti ini, sama seperti alat kelamin, kita boleh menggunakannya, namun dengan ketentuan yang jelas. Ada aturan yang diberikan, misalnya kalo mau PIPIS harus di tempat tertutup, harus dicuci, ga boleh sambil beribadah vertikal, dan semacamnya.

    Atau jika mau berhubungan badan, harus dengan predikat suami istri, sudah disahkan dalam hukum Tuhan, di tempat tertutup, dan persyaratan lainnya.

    Sama MUNGKIN dengan akal, gunakan saja, dengan niatan meningkatkan kehambaan kita pada Allah.

    Bagaimana bos??

    (pertanyaannya adalah, kenapa pake contoh alat kelamin seh?? :mrgreen: )

      syafi'i said:
      4 April 2009 pukul 21:29

      Syeik Utsaimin, Syeik Al bany, Asy-Syaikh Sholeh Al-Fauzan,dll adalah ulama’-ulama’ besar di Saudi sana. ga ada yang penduduk saudi yang ga tahu mereka… mereka adalah ulama’-ulama’ yang di ambil fatwanya. dan Kerajaan Saudi pun mendukung hal itu..

      satu hal yang penting, menyamakan akal dengan alat kelamin adalah salah satu di antara beribu-ribu kesalahan ilmu mantiq

      Al Imam Asy Syafi’i pun membenci ilmu kalam/mantiq. beliau berkata:
      “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya.”

      Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi’i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”

      Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.

      dan hal ini tertulis dalam kitab-kitab beliau (Al Imam Asy Syafi’i) sendiri

      ————
      Tanggapan Admin:
      Masalah penolakan sebagian ulama terhadap ilmu mantiq sudah dipaparkan dalam artikel di atas. Silakan simak kembali dengan lebih cermat.

    M Shodiq Mustika responded:
    8 November 2007 pukul 19:09

    @ fateh

    Logika itu alat seperti matematika, ada rumus2nya. Tentu kita bisa mempertanggungjawabkan bahwa jika 2a + 3 = 11, maka a = 4, bukan?

    @ manusiasuper

    Perumpamaanmu (walo agak gimana, gitu) bisa kuterima.

    Terus, 3 nama ulama yg mereka sebut itu amat populer di kalangan orang-orang salafi. Kau bukan “salafi”, ya? (Tuh, ketahuan ‘kan?) 🙂

    manusiasuper said:
    8 November 2007 pukul 19:19

    Maaf kalo rada ngaco pak, he..

    Perumpamaan itu saya niatkan agar lebih mudah aja nangkap maksut saya saja..

    Salafy? Sumaph, saya baru kenal ada yang beraliran salafy itu, setelah yang namanya tidak bisa diebutkan itu melakukan pembunuhan karakter di blog saya :mrgreen:

    Selama ini seh, saya Islam, itu saja…

    Saya pikir itu pun cukup kan pak?

    edo said:
    19 November 2007 pukul 10:24

    salam kenal mas shodiq. dapet link nya dari blog mas erander 🙂
    pertama, saya bukan ahli soal ini. masih belajar 🙂
    semoga saya masih diijinkan berpendapat.

    personally, buat saya sederhana. buat apa Tuhan memberikan kita alat berfikir jika kita tidak boleh menggunakannya?. saya fikir sejak jaman Ibrahim, Ibrahim juga menggunakan pikirannya dalam “mencari Tuhan”. Tidak akan ada istilah ijtihad kl alat pikir tidak boleh digunakan.

    saya sendiri termasuk orang yang “suka mempertanyakan Tuhan”, tapi semakin meyakini keberadaannya karena aktifitas mempertanyakan itu sendiri. Karena ada area dimana saya akhirnya mentok. Justru dititik itulah saya meyakini kebesaran-Nya. Titik dimana saya tidak lagi bertanya dan tidak mempertanyakan-Nya :). Dan titik ini tercapai justru karena saya sering mempertanyakan-Nya 🙂

    maaf kalo ngawur ya mas 🙂

    M Shodiq Mustika responded:
    21 November 2007 pukul 06:05

    @ edo

    Salam kenal kembali.

    Makasih atas tambahan penjelasannya. Bener, nggak ngawur!

    kelayapan said:
    24 November 2007 pukul 23:31

    ilmu itu bisa kita dapat dengan salah satu cara yaitu KASAB / IKTISAB, yg jelas2 membutuhkan kpd teori dan pemikiran, dan kadang2 juga kesalahan terjadi kesalahan di dalam KASAB tersebut, karena dlm teori dan pemikiran itu tidak selamanya benar,bagaimana hal itu bisa terjadi?karena memang akal seseorang dengan orang lain itu jelas2 berbeda, bahkan kadang2 orang tersebut bertentangan dengan dirinya sendiri, dari situlah kita membutuhkan Qanun untuk menjaga dari kesalahan tersebut,sehingga kita bisa memperoleh metodologi yg bermanfa’at dalam KASAB tersebut, apa qanun tersebut? yaitu mantik

    Amed said:
    1 Maret 2008 pukul 20:26

    Permisi, kalau ada waktu dan sudi berkunjung, saya punya postingan dan beberapa pertanyaan yang butuh feedback & jawaban terkait sejarah Islam. Semoga bisa dibantu menjawabkannya. Terima kasih…

    damar said:
    26 April 2008 pukul 10:22

    I don’t know

    nawu said:
    30 April 2008 pukul 17:33

    salam..guane duk kecek indon blake ning, payoh ambe nak paham.. acu tera guna bahasa melayu gok.. persoalan ni bagus ni..

    Raddin said:
    9 Mei 2008 pukul 11:05

    Setuju….

    Tetapi tentu harus sesuai dengan syariatnya supaya nanti dapat dipertanggungjawabkan.
    Mengenai logika, bukankah dalam Al-qur’an manusia disuruh berpikir… bahkan banyak yang memerintahkan agar manusia “jika kamu orang-orang yang berpikir”… jadi, sudah seharusnya kita menggunakan logika apalagi manusia diberi akal….
    Tapi tentu saja landasi dengan iman yang kuat dan syariat yang benar….

    makasih…. maaf jika salah…. atau sok tau…..

    raden brama said:
    9 Juni 2008 pukul 12:32

    saya tertarik ilmu logika dalam memahami islam, sebenarnya islam adalah agama yang paling sempurna dari agama sebelumnya, logika saja dengan agama lain yang menggambarkan tuhannya, dan dalam islam yang bahwa allah adalah segala galanya tanpa digambarkan, sebenarnya mohammad sebagai nabi adalah menggambarkan cara cara logika manusia berpikir sebagai manusia, dan karena beliau adalah nabi, yakni sosok manusia yang di idolakan allah kita harusnya sadar bahwa logika manusia tidak seberapa dibandingkan logika allah, maka saya berkesimpulan tetep memahami dasar logika alqur – an, dan hanya orang orang yang disayangi allah yang diberi kemampuan berpikir untuk memahami al quran, dan saya sangat bangga dengan logika mohammad yang belum tersentuh pikiran manapun……….. trimakasih

    yona said:
    16 Juni 2008 pukul 23:28

    sumpah bagus, aku demen koh

    sheila Ilhamiyah said:
    19 Maret 2009 pukul 00:50

    Bagi saya semuanya sudah menuju kepada kebenaran namun belum benar, hanya mendekati kebenaran saja. Kiranya jangan hal ini yang kita kaji, karena ada hal lain yang lebih penting lagi kita untuk mengkajinya. Tentunya untuk memahami hal ini harus memakai akal (logika), yaitu bagaimana caranya kemiskinan, penderitaan, kebobrokan akhlaq di negara kita Indonesia ini bisa tertuntaskan (dirubah menjadi lebih Islam yang sesungguhnya) sekalipun itu hanyalah sebuah pengurangan saja dengan artian tidak 100% baik. Saya kira kita tidak perlu agama yang dijadikan object observasi pemikiran kita, karena agama ini adalah Syariat Allah dan yang menjadi instrumennya adalah Nabi Mohammad sebagai bukti kebijaksanaan Allah untuk seluruh kepentingan dan kesejahteraan seluruh makhluk–NYA. Agama tidak butuh pada kita, tapi kita yang butuh pada agama. Pahamilah hal ini dengan logis, rasional dan objektive.

    ibnusomowiyono said:
    25 Agustus 2009 pukul 17:16

    Teori Minimalis mendifinisikan logika sebagai pengambilan kesimpulan dari argumentasi. Kogika dibutuhkan oleh otak untuk mengambil keputusan sebagaimana cpu membutuhkan program aplikasi untuk mengeksikusi masukan, untuk diujutkan dalam suatu tindakan/ perbuatan.
    Menurut Teori Paralogika ada 1.Logika Semu yang terdiri dari a.Logika keyakinan yang tak mengkaitkan antara argumentasi dengan keputusan, semua atas dasar yakin saja tak usah dicari alasannya. b.Logika fikiran: mengeliminir argument yang dapat mempersulit pengambilan keputusan. Contohnya A=B, B=C, maka A=C. Bola bulat,kelereng bulat maka bola=kelereng, sebab tak boleh dimasukkan unsur ukuran, bahan pembuatnya yang dapat menyebabkan bola tak sama dengan kelereng. Logika fikir disusun secara sistematis, dinyatakan dalam rumus dan formula yang harus diikuti sesuai tahapan tertentu. 2. Logika nyata: disamping persamaan untuk mengambil kesimpulan juga dibutuhkan perbedaan dalam hal ukuran dan jumlahnya (kwantitas), bahan dan sifat-sifatnya (kwalitas) , kemungkinan-kemungkian lain, motivasi pengambilan keputusan, kondisi dan situasi pengambilasn keputusan dll hingga sangat komplek.
    Untuk “membatasi” lingkup permasalahan maka masing-masing disiplin ilmu memiliki logika khusus: Logika hukum berbeda dengan logika kedokteran, logika berdagang, logika berpolitik dll, hingga mungkin terjadi saling berbenturan. Faktor yang sangat berpengaruh dalam berlogika nyata adalah motivasi pengambilan keputusan, sebagaimana program aplikasi harus sesuai dengan kebutuhannya dan tak boleh terjadi konflik antara dua program yang mampir sama, hingga menjadi error. Dua program aplikasi yang jelas berbeda umumnya tak menimbulkan masalah.

    abi said:
    28 Juli 2010 pukul 18:31

    Hehehe, kiblatnye pada ke ulama saudi ye ?
    apa boleh kerajaan dalam Islam ?
    bagaimana kedudukan Ulama kalau tunduk pade raje?
    Ualam saudi biasanya mencaci maki madzhab lain selain Wahabi !
    karena dia corong kerajaan. Sebaiknye kembali ke Al-Qur’an dan Hadith, serta ulama yang tidak terkontaminasi jaman sekarang ini.

    mashon said:
    28 Juli 2010 pukul 22:40

    nice post aku suka banget artikel2nya….

    aku lebih setuju dengan ulama yang mengatakan membolehkan ilmu mantiq untuk memahami al-Qur’an dan hadist2….
    bagaimana bisa kita fahami klau tdak berdsarkan logika….

    hasanuddin said:
    21 September 2010 pukul 11:16

    Maaf saya awam,
    tapi bagi saya bagaimana mungkin Al-Quran yang diturunkan oleh yang Maha Mulia, pencipta alam dengan hukum kausalitanya (sebab akibat) yang begitu sempurna, pencipta manusia dengan anugerah kelebihan akalnya ….. tapi akal itu (logika/mantik) tidak digunakan dengan optimal

    Salahkah Berfilsafat? | Everyone can see. said:
    7 Desember 2010 pukul 23:16

    […] berpikir tentang hakikat hidup ini. Kita kupas sedikit tentang dunia filsafat yang berkendaraan logika. Akankah filsafat yang penuh dengan logika itu mengantar kita menjadi sebenar-benar manusia sesuai […]

    asalamualaikum « banialafsih said:
    8 Desember 2010 pukul 09:23

    […] on 27 Oktober 2007 by Bani Al […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s