Ketika Manusia Dikalahkan oleh Sapi dan Kerbau

Posted on Updated on

Hari ini, saat kubaca koran, hatiku terasa pedih bagai diiris-iris. Benakku bertanya-tanya, apakah aku masih manusia? Yang tidak peduli ketika manusia lainnya tak berdaya dikalahkan oleh sapi dan kerbau?

Mataku nanar menatap huruf demi huruf:

LUMAJANG—Lazimnya, bajak ditarik oleh sapi atau kerbau. Tapi, di Desa Papringan, Kecamatan Klakah, bajak ditarik oleh manusia. Hal tersebut dilakukan karena terpaksa. “Masyarakat yang tidak punya hewan untuk menarik bajak terpaksa menggunakan tenaga manusia. Kalau nggak begitu, kami nggak tanam, Mas,” ujar Rudi, 25, warga Papringan.

Napas Rudi masih ngos-ngosan. Dia baru saja menarik bajak. Peluh bercucuran dari tubuhnya. “Itu adalah jalan terakhir,” tambahnya.

Astaghfirullaah….

Masih akan nyamankah aku setiap naik taksi, sementara Rudi “naik bajak” setiap hari?

Masih akan santaikah aku setiap melesat di jalur Solo-Jakarta dengan Argo Lawu atau Argo Dwipangga, sementara Rudi tertatih-tatih “menjadi sapi/kerbau” di lahan penghidupannya?

Memang, bajak yang dipakai Rudi tidak sebesar bajak yang ditarik sapi atau kerbau. Batangnya lebih kecil. Mata bajaknya pun lebih mungil. Kira-kira, sepertiga mata bajak ukuran normal. Karena mata bajak yang kecil itu, tanah yang berhasil dibongkar pun tak terlalu dalam. Yakni, tak sampai 10 cm.

Astaghfirullaah….

Masih akan tegakah aku terbang dengan Lion Air, berdandan rapi bagai Gatotkaca atau Superman? Padahal, Rudi berpeluh lumpur, lebih kumuh daripada sapi/kerbau?

Sebenarnya, apa kelebihanku bila dibandingkan dengan sapi/kerbau yang sama-sama tak peduli ketika bajak ditarik oleh manusia?

———-

Sumber Kutipan: Jawa Pos, 28 Oktober 2007

Iklan

9 thoughts on “Ketika Manusia Dikalahkan oleh Sapi dan Kerbau

    kurt said:
    29 Oktober 2007 pukul 15:26

    Menurutku itu namanya sayang binatang, dengan alasan tidak punya kerbau. Bukankah dulu membajak sebleumkerbau dikerjakan dengna cara memacul? nah memacul itu kemudian diganti oleh kebo dan kini diganti oleh mesin….

    Herianto said:
    29 Oktober 2007 pukul 16:03

    Kesulitan mencari penghidupan sepertinya sudah berada diambang batas klimaksnya, sementara untuk sebagian yg lain justru [merasa] berada di puncak nikmatnya.
    Kita pasti akan menyaksikan, karena kefakiran adalah salah satu yg mengantarkan manusia pada kekufuran.
    Kekufuran berjama’ah.. 😐

    ichsanmufti said:
    29 Oktober 2007 pukul 17:35

    Melihat “ke bawah” selalu membuat kita menjadi lebih bersyukur. Tinggal bagaimana kita mengaplikasikan syukur itu dalam kehidupan nyata.

    Sawali Tuhusetya said:
    29 Oktober 2007 pukul 18:32

    Weleh-weleh, agaknya binatang, termasuk sapi dan kerbau pun, kini semakin langka. Tenaga binatang yang perkasa tapi dungu itu terpaksa diganti tenaga manusia. Wolak-waliking zaman kali, Pak, ya? Ironis sekali.

    erander said:
    29 Oktober 2007 pukul 21:51

    Jadi ingat rigsaw .. “delman” yang ditarik manusia. Bagaimana dengan becak .. yang menggunakan tenaga manusia??

    M Shodiq Mustika responded:
    30 Oktober 2007 pukul 02:14

    @ kurt

    Jadi, itu namanya sayang mesin juga?

    @ Herianto

    Ya, kefakiran mendekatkan kita pada kekafiran. Di lingkunganku, yang paling getol pergi ke paranormal justru yg fakir.

    @ ichsanmufti

    Ya, aplikasi syukur sering terlupakan. Ucapan alhamdulillah saja belum memadai, ‘kan?

    @ Sawali Tuhusetya

    Ya, ironis sekali. Tak lama lagi mungkin akan kita saksikan bahwa para hewan penghuni kebun binatang akan digantikan oleh manusia-manusia yang berbaju hewan. 😦

    @ erander

    Mengayuh becak lebih ringan drpd menarik bajak, bukan? Tentunya sapi/kerbau takkan kepayahan bila ditugaskan mengayuh becak. 😀

    blek blog said:
    30 Oktober 2007 pukul 18:01

    oh duniiiiaaaaaa…..

    btw tulisannya bagus banget pak, boleh saya link?

    sat1 said:
    21 Februari 2009 pukul 11:48

    apa yang dipikirkan sama manusia tidaklah sama . . . . . .
    itu menandakan klo dunia ini sudah tua karena hal – jhal aneh yang ngak masuk diakal sehat kita sudah sering terjadi

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s