Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan

Posted on Updated on

Prolog

Januari 2007 adalah bulan “bersejarah” buatku. Di bulan ini, untuk pertama kalinya dalam hidupku, seorang wanita menawarkan diri untuk aku jadikan istri. Amboi! Lelaki mana yang tak melambung jiwanya, seolah terbang ke surga, saat seorang perempuan menyerahkan diri kepadanya?

Demikian pula diriku. Bagiku, tawaran itu sungguh melambungkan jiwaku. Apalagi, aku sudah menikah dan telah dikaruniai dua orang anak. Tak kusangka, masih ada wanita yang mau “melirik” diriku ketika sudah berstatus kawin.

Wanita tersebut—seorang sahabat di internet sejak tahun lalu dan hingga kini belum pernah bertatap muka denganku—telah mengetahui statusku itu. Entah apa pertimbangannya, dia mau menjadi istri kedua bagi diriku.

Dia seorang gadis muda, baru lulus SMA, salehah, cantik, dan cerdas pula. Dia berhasrat menempuh kuliah di perguruan tinggi. Dia bercita-cita memburu ilmu setinggi-tingginya. Namun, keterbatasan dana menghalangi jalannya.

Agaknya, satu-satunya jalan di matanya untuk memenuhi hasrat dan menggapai cita-citanya itu adalah menjadi istri kedua (atau ketiga/keempat) seseorang seperti diriku. Kelihatannya, meskipun aku belum pernah menghadiahi dia apa-apa selain beberapa buku karanganku, dia menyangka aku seorang penulis yang sudah sukses besar dan berlimpah harta. Padahal, bagaimana kenyataannya?

Hembusan Angin Kehidupan

Di mata famili dan tetangga, puncak kesuksesanku terwujud pada 10 tahun yang lalu, tahun 1997. Aku, yang sedang berkuliah S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM), baru saja diterima menjadi dosen-tetap Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Aku pun telah berhasil merintis usaha wiraswasta yang tampak mentereng untuk ukuran para famili dan tetanggaku. Lalu pada akhir tahun, aku menikah dengan seorang gadis salah seorang “mantan primadona” IAIN Jogja.

Mungkin di mata orang-orang ketika itu, hidupku sudah sempurna. Aku telah menancapkan bendera kejayaan di puncak kesuksesan. Namun, angin kehidupan ada kalanya berhembus ke arah yang tak diharap-harap dan dengan kekuatan yang tak diangan-angan.

Setahun berikutnya, tahun 1998, sebuah badai kehidupan menghantam diriku. Wujudnya berupa sakitnya istriku secara mendadak.

istri-penulis-romantis.jpg

Sakitnya parah. Setiap malam, dia tak dapat tidur lantaran penyakitnya itu. Setiap hari, dia mengerang-erang walau terdengar lirih. Kalau pun erangannya tak tertangkap oleh telingaku, mataku menatap bahasa tubuhnya. Tampak gamblang betapa tegangnya jaringan sel-sel kulit di sekujur tubuhnya. Dari raut wajahnya hingga telapak kakinya, semuanya kewalahan menahan rasa sakit. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dia senantiasa terlihat begitu.

Melihat keadaan begitu, hatiku menangis. Mataku berkaca-kaca. Duhai primadonaku, batinku menjerit pilu, apakah air mataku dapat melepaskan dirimu dari jeratan penyakit ini? (Setiap mengenang keadaannya itu, termasuk ketika mengetik kalimat-kalimat ini, mataku masih selalu berkaca-kaca.)

Hantaman Badai-badai Kehidupan

Dari dokter ke dokter, kubawa istriku untuk peroleh resep obat. Dari apotik ke apotik, kubeli obat-obatan guna kesembuhan istriku. Berapapun biayanya tidak aku perhitungkan. Namun, walau saham pada bisnis wiraswastaku telah kulepaskan seluruhnya dan kemudian hartaku habis satu demi satu, dia belum sembuh juga.

Hari demi hari dan malam demi malam pun berlalu. Waktu dan energiku tersita banyak untuk merawat dan mengupayakan kesembuhan istriku. Akibatnya, tugasku selaku dosen menjadi sering terbengkalai. Lantas, aku meminta keringanan tugas kepada pimpinan Universitas, tetapi tidak dikabulkan.

Ditolaknya permintaanku itu membuatku terhenyak di persimpangan jalan. Aku bingung. Bagaimana caranya supaya aku dapat menjalankan tugas kantor dengan sebaik-baiknya dan sekaligus merawat istriku di rumah dengan sebaik-baiknya pula?

Di tengah-tengah dua masalah tersebut, muncul lagi dua masalah baru. Kali ini berkaitan dengan keluarga. Pihak keluarga istriku, yang melihat mundurnya kemampuan perekonomianku, mendesakku untuk “bekerja lebih keras” dan tidak “memanjakan” istriku. Sementara itu, dari pihak familiku terdengar tuntutan agar aku “menceraikan” istriku supaya karirku tidak terhambat. Akibatnya, berlipat-gandalah kegalauanku. (Mungkin bagi orang yang tinggal di Jakarta atau kota metropolitan lainnya, desakan atau tuntutan keluarga bukanlah masalah besar. Namun bagiku yang hidup di “pedalaman” Jawa, persoalan ini tergolong “badai kehidupan”.)

Pada menjelang pertengahan 1999, di tengah-tengah kegalauan itu, problemku bertambah lagi. Istriku hamil. Suatu kehamilan yang berisiko tinggi mengingat keadaan fisiknya. Akibatnya, kian rumitlah masalahku. (Ketika dia belum mengandung, waktu dan energiku telah tersita banyak untuk memberi perhatian yang dia butuhkan. Apalagi sewaktu dia sedang berbadan dua, dalam kondisi berisiko tinggi pula!)

Itulah titik kritisku. Kurasa, keadaan yang kuhadapi telah mencapai puncaknya. Benar-benar genting. Kalau aku terus membiarkannya begitu saja, pasti akan tenggelamlah kami oleh hantaman badai-badai kehidupan tersebut. Aku harus mencari jalan keluar.

Pilih Satu di Antara Tiga Jalan

Pada titik kritis itu, aku merasa tak mampu lagi menggunakan akalku untuk meredam hantaman badai-badai kehidupan. Maka menyerahlah aku kepada Sang Maha Pemurah. Melalui shalat-shalat istikharah, aku mohon Dia memberiku jalan keluar.

Saat mengucap ihdinash shiraathal mustaqiim (tunjukilah kami jalan orang-orang yang lurus), aku merasa seolah-olah mendapat jawaban dari-Nya: “Bukankah Aku telah memberimu petunjuk melalui Al-Qur’an?”

Iya, deh. Aku cari petunjuk di Al-Qur’an. Aku cari orang lurus yang pernah menghadapi kasus yang “mirip” denganku.

Cari… cari… cari…. Akhirnya, ketemulah orang yang kucari. Dialah Nabi Sulaiman a.s.. Aku merasa, ada satu kemiripan antara kasus beliau dan kasusku. Beliau pernah dihadapkan pada pilihan: (A) jalan tahta, (B) jalan harta, dan (C) jalan ilmu. Begitu pula aku pada titik kritis ini.

Seandainya kupenuhi desakan keluarga istriku, yakni “bekerja lebih keras” dan tidak “memanjakan” istriku, maka di situ kulihat “jalan tahta”. Aku akan mendapat tempat terhormat di lingkunganku. Mungkin pula akan ada “bonus” berupa kaya harta. Namun, aku ragu-ragu apakah jalan ini akan membuatku berilmu.

Apabila kupenuhi tuntutan familiku, yaitu menjauhi apa pun yang menghambat karirku, maka di pelupuk mataku terbayang kekayaan harta-benda yang jauh lebih banyak daripada yang pernah kumiliki. Setelah kaya-raya, barangkali juga bakal ada “bonus” berupa penghormatan dari orang-orang. Namun, aku tidak yakin pula apakah jalan ini akan membawaku ke gudang ilmu.

Padahal, sebagaimana Nabi Sulaiman a.s., aku memutuskan untuk memilih jalan ilmu. Ya, aku hendak menempuh jalan ini meskipun mungkin akan mengecewakan familiku dan keluarga istriku.

Masalahnya kini, manakah jalan ilmu untuk diriku? Karir selaku dosenkah?

Seandainya aku tidak sedang berada di titik kritis sebagaimana yang kuungkap tadi, maka menjadi dosen dapat kujadikan jalan ilmu. Bahkan, potensinya besar lantaran banyaknya akses keilmuan, seperti seminar dan perpustakaan. Hanya saja, apa gunanya banyak akses bila aku kurang bisa memanfaatkannya? Buat apa buku-buku menumpuk di perpustakaan jika aku tak sempat mengunjunginya? Dengan menjadi dosen, mana mungkin aku bisa bertugas dengan sebaik-baiknya jika aku masih “memanjakan” istriku?

Dengan pertimbangan-pertimbangan semacam itu, aku memutuskan untuk memilih “cuti panjang di luar tanggungan Universitas”. Artinya, secara de jure (di atas kertas) aku berstatus dosen UMY, tetapi secara de facto (pada kenyataannya) aku mengundurkan diri.

Bersamaan dengan keputusan itu, aku memilih satu jalan ilmu lainnya yang dalam pandanganku, di situ aku bisa bekerja secara optimal dan sekaligus dapat merawat istriku (dan kemudian membantu dia mengasuh anak-anak). Yang paling tepat agaknya adalah bekerja di rumah dan merintis karir untuk menjadi penulis buku. Inilah jalan ilmuku. (Menurut istriku, jalan yang kupilih ini romantis. Benar nggak sih?)

Epilog

Sebelum anak pertama kami lahir, telah kami siapkan nama “Syifa” (obat) sebagai doa supaya dia menjadi obat bagi ibunya (dan bagi orang-orang lain). Alhamdulillah, begitu Syifa lahir, doa kami terkabul. Keadaan istriku tiba-tiba membaik. Kendati hingga kini belum sepenuhnya pulih, terkadang kambuh, bisa dikatakan dia sudah sehat.

Setelah kesehatan istriku membaik, (1) bagaimana sikap keluarganya dan keluargaku? (2) Tidak ada lagikah badai-badai kehidupan yang menghantam kami? (3) Lancarkah karir kepenulisanku? (4) Apakah sekarang aku sudah mampu membiayai “seseorang” (umpamanya: istri kedua) untuk berkuliah setinggi-tingginya?

Empat pertanyaan tersebut akan aku usahakan jawabannya di artikel “Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi”. Artikel lanjutan ini mungkin kuselesaikan pekan depan. Mungkin pula bulan depan atau bahkan tahun depan. Pokoknya, aku dengar dulu suara tanggapan pembaca. Kalau banyak pembaca menghendaki aku segera menuliskannya, aku akan memprioritaskannya.

Iklan

5 thoughts on “Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan

    Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi « Muslim Romantis said:
    29 Januari 2008 pukul 01:45

    […] Seperti Robert Frost, aku juga mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ketika ribuan orang mendambakan profesi mapan selaku dosen-tetap universitas kenamaan, aku justru melepaskannya “hanya” untuk merintis karir menjadi penulis buku. Ketika milyaran orang berdesak-desakan di jalan tahta dan/atau jalan harta, aku malah meluncurkan diri di jalan ilmu nan sepi. (Untuk penjelasan mengenai mengapa kupilih jalan yang sunyi ini, lihat Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan.) […]

    […] saya dihantui oleh pikiran: bagaimana saya mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak? (Lihat kisah Penulis Romantis #1 dan Penulis Romantis […]

    erna said:
    22 Oktober 2008 pukul 16:00

    buat penulis romantis..

    kalo kamu takun di hantui bisa atau nggak nya ngasih kebutuhan hidup mereka alias anak istri2 mu.. jangan poligami dunk
    kecuali kamu udah yakin mampu untuk menghidupi mereka … baru kamu punya istri 10 pun terserahhh

    Casrudi said:
    22 Mei 2009 pukul 00:32

    Akhirnya, ketemulah orang yang kucari. Dialah Nabi Sulaiman a.s.. Aku merasa, ada satu kemiripan antara kasus beliau dan kasusku. Beliau pernah dihadapkan pada pilihan: (A) jalan tahta, (B) jalan harta, dan (C) jalan ilmu.

    Jadi solusi yang paling baik adalah mengikuti cara nabi ya Pak?… TFS

    […] sendiri pernah mengalami pengalaman sepahit dirimu ini. (Lihat “Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan” dan “Penulis Romantis (2): Jalan […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s