Masih adakah cinta sejati di Jakarta?

Posted on Updated on

… jika segala sesuatu hanya bisa membahagiakan kalau dikerjakan dengan penuh cinta, apakah cinta pun masih bisa membahagiakan dalam dunia yang telah dikuasai sikap hidup serba instant? Barangkali, semoga hanya barangkali, cinta pun telah menjadi instant.

Bagaimanakah kiranya cinta yang instant itu? Barangkali saya boleh merumuskannya sebagai cinta tanpa proses. Itulah cinta yang hanya berarti kebahagiaan tanpa penderitaan, ekstase tanpa luka, rindu tanpa dendam, pacaran tanpa pertengkaran, hanya senang, senang, dan senang. Mungkinkah? Barangkali tidak, tapi saya melihat betapa Homo Jakartensis memperjuangkannya: agar cinta hadir secara instant. Cinta boleh ajaib sedikit, tapi jangan sampai bikin orang menangis. Cinta jangan datang berkelebat dari langit ketika tidak diharapkan, tapi hanya ada ketika dibutuhkan aja.

… Homo Jakartensis telah semangkin siap menangkap denyar-denyar cinta dari langit, untuk mengemasnya sebagai praktek cinta instant di mana cinta menjadi pertemuan sesaat yang seolah-olah bukan bagian dari sebuah proses. Cinta seolah-olah tanpa awal dan tanpa akhir yang bukan berarti abadi, melainkan terkemas secara instant. Cinta macam ini maunya hanya membawa suka tanpa duka, cinta seperti sudah dipatok, terbatas, berada dalam suka: cinta sebatas minum kopi.

Kemudian minum kopi ini bisa berkembang ke kamar motel, namun prinsipnya tidak berubah, karena inilah cinta instant, cinta yang diinginkan hadir tanpa konsekuensi. Apakah itu bernama konsekuensi mencari nafkah, apakah itu berarti kesetiaan, apakah itu berarti pengorbanan, pokoknya cinta yang semakin kurang repotnya semakin indahlah kiranya. Betul-betul cinta instant: habis manis sepah dibuang. Pertanyaannya: apakah ini masih bisa disebut cinta?

… mereka yang tidak pernah memahami cinta instant ini bisa terjebak dalam penderitaan yang sia-sia, karena menghayatinya sebagai hubungan romantik yang konvensional. Saya tidak sedang bicara tentang cinta di luar nikah, karena hal ini juga bisa berlangsung di dalam kehidupan rumah tangga yang seolah-olah bahagia. Cinta yang dihayati selama 25 tahun bisa saja hanya merupakan hubungan dari kontrak ke kontrak yang membawa kepentingan di dalamnya, seperti hubungan kita dengan kopi instant. Dalam hal ini Jakarta adalah sebuah kota yang dingin dan tidak peduli.

====================
Kutipan dari Seno Gumira Ajidarma, Affair: Obrolan tentang Jakarta, hlm. 146-149.

4 thoughts on “Masih adakah cinta sejati di Jakarta?

    Ari said:
    3 Februari 2008 pukul 22:28

    Orang kuto? wah ragu saya…. tapi bagaimana jika jodoh saya dari kuto?

    Semoga tidak terjerumus di dunia instant..

    Semoga ia adalah bunga yang tumbuh diantara keringnya tanah spiritual, terhindar dari tajam menusuknya ilalang materialisme, atau bunga kertas yang tak sengaja terbuang karena tak memiliki kehormatan… AMIN YA ROBBI..

      ayyulia said:
      4 Mei 2009 pukul 11:44

      dgn mslh itu qt hrs serahkn sm yang kuasa.ok

    samson said:
    17 Juli 2008 pukul 15:18

    aku tidak mengerti akan cinta tolong kasih tau aku untuk mencintai lebih baik terutama kepada sesama manusia yang namanya wanita, dan aku juga minta dia ajari bagaimana cara menolak wanita yang mencintaiku karena nafsu sahwat. karena aku juga menginginkanNYA tapi aku takut akan kehidupan akhirat yang aku percayai, akan adanya hari kemudian.
    tolong aku dengan memberi jawaban melalui
    samson_wijaya@yahoo.com
    tolong yach

    una uni said:
    21 Oktober 2009 pukul 14:50

    ??????????????????????????????????????????????????????????????????

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s