Tuhan Menghendaki Anda Bahagia

Posted on Updated on

Ya, di samping menghendaki Anda kaya, Tuhan pun menghendaki Anda bahagia. Hanya saja, sementara kekayaan bisa diraih melalui kerja keras, kebahagiaan tidaklah demikian. Gede Prama mencontohkan:

Saya memiliki sahabat yang sering mengaku kelelahan. Padahal sudah berada di kursi tertinggi, dikagumi banyak orang, dan hartanya pun melimpah. Sahabat lain, ada lagi yang bolak-balik masuk rumah sakit. Belum lagi ditambah dengan keluarganya yang diisi banyak sekali perkelahian. Padahal ia hidup dalam kolam kehidupan materi yang berlimpah. (Gede Prama, Kaya Raya Selamanya, hlm. 12)

Begitulah. Kerja keras, walau sudah menghasilkan kekayaan, itu ternyata tidak selalu menghasilkan kebahagiaan. Mengapa demikian?

Sebab, kita mungkin terlalu disibukkan oleh upaya meningkatkan karier. Bahkan, yang lebih disayangkan, kita cenderung menjadikan pekerjaan dan karier sebagai “balas dendam” kepada kehidupan. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan kita merasa tak punya peran bermakna dalam kehidupan. Akibatnya, kita sering mengabaikan rasa “keterpanggilan” itu. Walhasil, kebahagiaan pun menjadi jauh dari hidup kita.

Apabila kita seorang pekerja atau pegawai dan ingin memiliki peran bermakna dalam kehidupan, cara yang paling efektif adalah dengan memandang pekerjaan sebagai “tugas suci”. Maksudnya, kerja itu bukanlah sekadar usaha mencari nafkah atau mengumpulkan uang. Kerja merupakan “aktivitas yang diperintahkan oleh Tuhan”. (Jansen Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional, hlm. 89)

Mengapa kesucianlah cara yang paling efektif untuk menjadi bermakna dalam kehidupan? Sebab, tanpa kesucian, suatu pekerjaan atau jabatan pada akhirnya akan membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat. Kesucianlah prasyarat utama hidup sehat, baik pada tataran jasmaniah maupun rohaniah.

Pada tataran jasmaniah, suci berarti bebas hama atau bebas penyakit. Jadi, kalau ada yang menolak kesucian, sebenarnya dia menginginkan penyakit. Pada tataran rohaniah, menolak kesucian berarti mengundang berbagai penyakit psikologis-spiritual yang akan membuat kehidupan tidak mungkin berlangsung dengan baik.

Jadi, mengingkari dan menolak “tugas suci” dari pekerjaan kita sama halnya dengan membiarkan hidup kita diisi oleh berbagai penyakit dan gangguan psikologis-spiritual.

Oleh karena itu, “Sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari siksa yang pedih? Kamu beriman kepada Allah dan rasulNya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Q.S. 61: 10-11)

Dengan begitulah Allah menghendaki kita bahagia. Jadi, kalau kita memang mau bahagia, ayolah kita memelihara iman kita dan meningkatkan perjuangan hidup dengan segenap harta dan jiwa kita, sesuai dengan aturan yang telah digariskanNya!

Iklan

2 thoughts on “Tuhan Menghendaki Anda Bahagia

    Ratna said:
    18 Januari 2008 pukul 18:00

    Tak ada suatu kebahagiaan yang didapat tanpa jerih payah dan keikhlasan. Kalaupun ada, itu bukan kebahagiaan sejati. Hanyalah kesenangan sesaat yang cepat terlupakan.

    hadi arr said:
    18 Januari 2008 pukul 19:56

    Tawaran bisnis yang paling baik dan penuh kepastian yang pernah saya dengar.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s