Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir?

Posted on Updated on

Untunglah saya telah mengajak Pak Eby (erander) menulis buku AYO UBAH TAKDIR bersama saya. Alhamdulillah, beliau sudah menunjukkan diri sebagai “sparring partner” yang tangguh sejak pekan pertama. Tak tanggung-tanggung, ketika saya ajak merombak kerangka karangan, beliau memprotes judul yang saya tawarkan: AYO UBAH TAKDIR. Sebagai gantinya, beliau sarankan: AYO PILIH TAKDIR (atau KUJEMPUT TAKDIRKU).

Protes tersebut membawa saya pada pertanyaan: sebaiknya mengubah ataukah memilih takdir? Saya pikir, pertanyaan ini sangat menarik. Karena itu, tanggapan saya terhadap protes tersebut saya posting di sini supaya mendapat masukan dari para pembaca.

… takdir itu sendiri sudah ‘tercetak’ buat masing2 manusia, baik takdir baik maupun buruk.

Karena manusia mempunyai kehendak bebas, maka pilihan ada pada manusia itu sendiri. Jadi sebenarnya bukan mengubah takdir tapi memilih takdir dan seperti yang pernah saya tulis di blog saya .. bahasa memilih takdir itu menjadi KU JEMPUT TAKDIR KU .. artinya kita tidak mengubah tapi memilih.

Makanya .. ketika pak Shodiq menawarkan saya ikut nulis AYO UBAH TAKDIR, saya masih bingung. Karena takdir itu tidak bisa diubah .. itu menurut pemahaman saya. Yang bisa saya lakukan hanya memilih. Karena takdir sudah diprogram oleh Sang Pencipta Manusia.

Kita hanya perlu memilih takdir. Seperti software, apakah kita mau menggunakan Word Processor atau Excel .. sama2 bisa buat nulis tapi fungsi nya beda2. Gitu deh. Jadi koq, saya lebih sreg memilih dengan memilih takdir atau menjemput takdir.

Kira2 gitu pak .. mohon maaf, kalo cara berpikir saya aneh dan keliru. Karena sudah ada buku tentang MENGUBAH TAKDIR .. dan saya takut kualat pak kalau saya mengubah MADE IN ALLAH.

Cara pikir Pak Eby itu tidak aneh. Belum lama ini, saya juga menjumpai pemikiran semacam itu dalam artikel Pak Agor, “Yuk Kita Ubah Takdir?“, dan artikel Pak Ari, “Mengubah Takdir? (jilid 2)“. Malah, selama belasan tahun sejak remaja hingga berusia hampir 30 tahun, saya juga berpandangan begitu.

Namun pandangan saya agak berubah ketika saya menjadi dosen di FAI UMY (Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Ketika itu, dalam rangka diskusi antardosen sefakultas, saya membaca kembali sebuah buku karya Buya Hamka yang pernah saya baca semasa SMA. Judulnya, Tasauf Modern. Kali ini, terperanjatlah saya sewaktu menyimak Bab II, sub-bab “Keterangan I’tikad yang Tiga”. Di situ, Buya menyatakan bahwa TAKDIR BISA DIUBAH. (Pikir saya saat itu, “Buku ini sudah kubaca tiga atau empat kali. Mengapa baru sekarang kusadari adanya informasi ini?”)

Istilah yang beliau pakai untuk menyebut “takdir” di situ adalah “kadar” dan “nasib”. Tepatnya, Buya Hamka menyatakan:

… Luh Mahfuz itu adalah ‘Ummul Kitab’, ibu dari kitab dan nasib, yang memegang dan mengaturnya adalah Tuhan sendiri, isinya menurut kehendak Tuhan, bukan menurut kehendak kita. Tuhan bisa merubah, juga bisa menghapuskan dan bisa menetapkan, bahkan juga menambah, bukan tetap begitu saja:

DihapuskanNya mana yang dikehendakiNya, dan ditetapkanNya mana yang dikehendakiNya, sebab di tanganNyalah terpegang Ibu Kitab itu.” ([QS] ar-Ra’ad [13]: 39)

Kita [pada dasarnya] tak kuasa mengubah kadar, [tetapi] Tuhan berkuasa. Kita wajib bekerja dan berikhtiar, supaya diubah nasib kita oleh Tuhan, diubahNya isi ‘Ummul Kitab’ itu menurut kehendakNya, yang tidak dapat dihalangi orang lain sedikitpun. [Mengapa kita wajib berikhtiar?] Sebab, Dia tidak akan merubah untung nasib yang menimpa kita, sebelum kita rubah lebih dahulu:

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubah nasibnya sendiri.

Nasib bisa berubah, asal diikhtiarkan merubahnya lebih dahulu. Kehinaan ummat yang sekarang bukan didatangkan Allah dengan tiba-tiba, tetapi ummat itulah yang memilih kehinaan. Kemuliaan yang tercapai oleh pemeluk agama lain, setelah mereka ikhtiarkan pula lebih dahulu; mendatangkan kemuliaan kepada orang yang pemalas walaupun bagus pengajaran agamanya, atau mendatangkan kehinaan kepada orang yang berusaha [yakni berikhtiar] walaupun pelajaran agamanya kurang bagus, alamat tidak ada keadilan.

Allah Maha Kuasa, kuasa Dia memberikan kemuliaan kepada si goblok, kuasa pula memberikan kemiskinan kepada ummat yang giat bekerja. Tetapi kalau Tuhan melakukan kekuasaan demikian, tandanya Dia tidak adil. Padahal di antara Kekuasaan dengan Keadilan, tidak dapat dipisahkan.

Jadi, walau tidak secara mutlak mampu mengubah takdir, kita bisa mengubah takdir kita di bawah Kekuasaan dan KeadilanNya.

Seperti Pak Eby yang bingung ketika saya ajak AYO UBAH TAKDIR, saya pun ketika itu bingung mendapati bahwa ternyata Buya Hamka menyarankan kita untuk mengubah takdir. Letak kebingungan saya, kedua pihak yang berbeda pandangan mengenai bisa tidaknya takdir diubah ini sama-sama kuat. Hujjah mereka sama-sama tak terbantahkan.

Belakangan, alhamdulillah, kebingungan saya teratasi setelah membaca (dan kemudian menerjemahkan) buku Stephen Palmquist, The Tree of Philosophy (Pohon Filsafat). Di situ, berdasarkan penelitiannya terhadap filsafat Immanuel Kant, Palmquist menerangkan bahwa kebenaran itu bagai permata yang mempunyai banyak sisi/perspektif. Intinya, sudut pandang atau perspektif yang berbeda bisa menghasilkan “kebenaran” yang berbeda walau sama-sama benar. (Lihat Pohon Filsafat, Pekan III, Kuliah 8, Gambar III.7.)

Dari situ, saya pahami bahwa sebenarnya takdir itu tidak bisa kita ubah bila ditinjau dari perspektif transendental, tetapi takdir itu bisa kita ubah bila ditinjau dari perspektif empiris. (Harun Yahya dan Agus Mustofa yang dirujuk oleh Pak Ari dan Pak Eby, begitu pula Pak Agor, cenderung menggunakan perspektif transendental. Sedangkan Hamka yang saya rujuk di sini, begitu pula Dik Donny Reza dalam seri Takdir-nya dan Sdr. Quantum dalam komentarnya terhadap artikel
“Yuk Kita Ubah Takdir?”, cenderung memakai perspektif empiris.)

Menurut saya, perspektif transendental lebih cocok untuk pembahasan di bidang filsafat teoritis, ilmu kalam, ilmu tasauf klasik, dan sebagainya. Sedangkan perspektif empiris lebih efektif untuk pembahasan di bidang filsafat praktis, ilmu fiqih, ilmu tasauf modern, dan sebagainya.

Saya sendiri, dalam menyusun buku AYO UBAH TAKDIR (dengan sub-judul: “mengapa dan bagaimana beralih dari takdir buruk ke takdir baik”), ingin lebih banyak berkecimpung di bidang ilmu tasauf modern. Karena itulah saya lebih suka judul AYO UBAH TAKDIR daripada AYO PILIH TAKDIR. (Di buku Tasauf Modern pun, seperti yang tercermin dalam kutipan di atas, Hamka jauh lebih sering mengunakan istilah “merubah nasib” daripada “memilih nasib”. Ini menunjukkan, beliau lebih suka istilah “ubah nasib” daripada “pilih nasib”.)

Demikianlah tanggapan saya terhadap protes dari Pak Eby mengenai judul AYO UBAH TAKDIR. Silakan memberi masukan!

Iklan

27 thoughts on “Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir?

    erander said:
    23 Januari 2008 pukul 10:10

    Setelah menulis komentar saya kemarin, saya ditelp oleh bos saya untuk segera ke Banjarmasin. Selama menjalani proses kesana, saya sempatkan membaca kembali buku Mengubah Takdir karangan pak Agus Mustopa. Untuk memeriksa, apakah pemahaman saya tentang mengubah takdir sudah lurus atau bengkok.

    Memang .. seperti yang dijelaskan oleh Pak Shodiq dan Pak Agus, kata yang tepat memang mengubah. Mungkin karena menggunakan bahasa ‘translate’ dari Al Qur’an .. mungkin karena keterbatasan saya soal bahasa arab.

    Hanya saja, dalam bahasa ibu saya, mengubah adalah mengganti yang sudah ada .. kira2 gitu pak. Misalnya : rumah saya yang tadinya menghadap ke Timur saya ubah menjadi menghadap ke Barat. Mungkin contoh saya terlalu naif.

    Dan setelah saya memahami kembali proses takdir dibuku pak Agus, jelas sekali bahwa takdir itu berubah2 terus sejalan dengan waktu sampai takdir terakhir terjadi yaitu kematian.

    Jadi takdir dapat berubah dari detik ke detik. Seperti yang sedang saya alami saat ini. Berubah2 .. rencana berangkat malam, gagal. Akhirnya pagi dengan harapan bisa langsung connect ke Banjarmasin ternyata gagal juga karena delay.

    Dan sekarang saya terdampar di Juanda. Ketika masuk lounge, kata mbak nya ga ada wifi di lounge tersebut. Tapi saya iseng, coba buka laptop .. eh, ada signal .. dikit. Saya coba dan berhasil.

    Semua itu saya lakukan pilihan. Saya tidak mengubahnya. Ketika saya memilih tidak membeli tiket malam hari. Ketika saya memilih tiket lewat calo. Ketika saya memilih menunda berangkat menjadi lebih siang. Ketika saya memilih iseng2 coba laptop.

    Saya sadar .. karena saya memilih .. saya tidak mengubah. Karena apa yang saya kerjakan .. Allah yang tentukan takdir saya yaitu saya tidak dapat pesawat yang connect karena Allah turunkan hujan pagi hari. Padahal tadi malam langit cerah. Ketika pesawat berangkat, cuaca jadi cerah juga.

    Kemudian Tuhan takdirkan saya bisa online di lounge padahal jelas2 mbak nya bilang ga ada .. yang ada cuma di cafe di luar lounge. Begitulah pak.

    Apapun saya ayoo aja pak .. mau pakai judul apa saja. Saya cuma berpikir beda. Agar produk yang akan dijual tidak sama atau mencoba untuk memberikan tawaran cara berpikir yang berbeda.

    Kalo semua buku dibuat sama .. saya pikir orang akan cukup membeli buku satu saja. Mohon maaf atas kelancangan saya untuk berpendapat. Saya orang baru didunia tulis menulis. Semoga bapak mau memaafkan saya.

    Saya setuju koq pak kalo memang lebih suka dengan mengubah. Ayo saja.

    Ratna said:
    24 Januari 2008 pukul 01:54

    Menurut persepsi saya, antara mengubah dan memilih jelas jauh berbeda.

    Kalau mengubah, sepertinya takdir sudah dijalani (mungkin bahasa tepatnya nasib)… tapi kita ingin menggantinya. Seperti, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya.”

    Kalau memilih, takdir belum didapat…sehingga dengan segala akal/ daya upaya kita usahakan agar kita dapat takdir terbaik.
    Takdir adalah rahasia Allah…tapi kita diberi petunjuk lewat AlQur’an dan diberi akal untuk memahami tanda-tandaNya. Kita diberi keleluasaan untuk memilih takdir kita.

    Mohon maaf atas segala kekurangan pendapat saya.

    M Shodiq Mustika responded:
    24 Januari 2008 pukul 06:04

    @ ratna

    Mbak Ratna tidak salah. Hanya saja, dalam pandangan orang awam pada umumnya, takdir itu sama dengan nasib.

    @ erander

    Saya memaklumi pandangan Pak Eby.

    Saya sudah sedikit-banyak memahami pandangan Harun Yahya (karena sudah menerjemahkan tiga bukunya). Namun saya belum begitu memahami pandangan Agus Mustofa. Saya senang Pak Eby bisa membantu saya memahaminya.

    Mengenai judul, pada akhirnya penerbitlah yang menentukan. Kita hanya mengusulkan.

    Mengenai isi, saya selalu berusaha menampilkan sudut pandang yang baru dalam buku saya. Selama ini belum ada satu pun pembaca yang ajukan komplain bahwa buku saya sama dengan buku lain.

    bsw said:
    24 Januari 2008 pukul 10:55

    Numpang lewat…
    Mengenai takdir, saya suka dengan pandangan orang ttg hidup ini spt permainan video game-nya anak2 muda jaman sekarang. karakter yg ingin dipilih terserah kita, jalan permainan juga terserah kita, tentu saja konsekuensinya tergantung kepada apa yg kita pilih tadi.
    Yg menarik, permainan itu terbukti ada “programmer”-nya, dialah yang membuat semau kemungkinan & semua konsekuensinya itu.
    Tentu saja ini hanya penyederhanaan masalah, tapi yang terpenting adalah bersyukurlah karena kita sudah diberi pilihan.
    Benerapa orang bahkan hanya punya pilihan yang sedikit……..(jadi teringat anak2 miskin di negeri miskin spt yg sering diliat di TV itu)

    daeng limpo said:
    24 Januari 2008 pukul 11:03

    sebaiknya mengabaikan takdir, maaf maksud saya takdir nama teman saya.

    Ram-Ram Muhammad said:
    24 Januari 2008 pukul 12:33

    Assalaamu ‘alaikum warahmatullah.
    Wah, sepertinya akan sangat menarik bukunya. saya mau sok tahu sedikit… :mrgreen:
    Takdir adalah ketetapan atau hukum Allah yang sudah terjadi. Sedangkan Qadha adalah ketetapan atau hukum Allah yang mencakup apa yang belum dan sudah terjadi.

    ketika seseorang ditetapkan oleh Allah meninggal pada hari atau jam sekian, dan orang yang dimaksud belum meninggal, ini dinamakan qadha. namun manakala orang tersebut meninggal, itulah yang dinamakan takdir.

    Jika merujuk kepada definisi takdir dalam term akidah, maka muncul pertanyaan: apakah kita dapat merubah sesuatu yang sudah terjadi?

    Qadha dan Qadar adalah milik Allah, sedangkan manusia hanya -dianggap- diberikan kebebasan dalam hal iraadah (kehendak) dalam menjalankan hukum-hukum yang telah ditetapkan, orang biasa menyebutnya sebagai hukum alam. Artinya, kita manusia memiliki kebebasan dalam berkehendak memilih hukum-hukum Allah yang sudah ada. Namun manusia tidak memiliki kemampuan dalam kehendak merubah qadha dan qadar.

    Oleh karenanya, perlu penajaman terlebih dahulu mengenai apa yang dimaksud Tadir dalam buku ini.

    *halah*

    erander said:
    24 Januari 2008 pukul 21:24

    Sepakat pak .. soal judul biarlah penerbit yang memilihnya. Bukankah mereka lebih ahli dari kita?? ..

    Jadi .. biarlah saya berangkat dari tema memilih takdir dan bapak dengan tema mengubah takdir. Mudah2an nanti ada titik temu-nya. Kalau tidak ada, mudah2an kita mendapatkan pencerahan dari perbedaan tersebut.

    Setelah pulang dari Banjarmasin, saya akan selesaikan tugas saya. Mudah2an dalam waktu singkat .. sudah kelar.

    Donny Reza said:
    26 Januari 2008 pukul 03:47

    Saya sih nggak ngerti apakah pake perspektif empiris atau transenden, tulisan-tulisan tentang takdir saya hanya berdasarkan pengamatan dan perenungan saja, barangkali karena itu disebut empiris?

    mastiyok said:
    26 Januari 2008 pukul 07:31

    Memilih, karena kita memang diberi hak untuk memilih (hidup adalah pilihan). Mengubah, hasil akhir tetap OTORITAS Allah. Tapi kita diberi jalan (biasanya sesuai sunatullah) yang memungkinkan adanya perubahan lewat memilih. Meskipun memilih untuk tidak berubah juga suatu pilihan.

    sinyoegie said:
    26 Januari 2008 pukul 10:19

    Dear

    Sekedar berbagi bacaan, semoga menambah wawasan:
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=420
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=421
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=422
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=423
    http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=966
    Nah…Sinyo cuma usul nech untuk judul mungkin lebih tepat:
    Pilihanku, Takdirku 😉

    Salam
    Sinyo menyonyo

    abdulsomad said:
    30 Januari 2008 pukul 13:27

    assalamualaikum
    Manusia diberi kesempatan oleh ALLAH swt untuk mengubah takdirnay dengan Amal Amal baik
    contohnya dengan sholat.
    Para Sahabat Nabi dulu bisa membelah gunung dengan sholat 2 rokaat, bisa berjalan diatas air, bis amembuat penggilingan gandum berputar sendiri menghasilkan gandum.

    Penyegaran « wak AbduLSomad said:
    30 Januari 2008 pukul 16:51

    […] mau berkunjung lagi kesini …. bu Dokter Gadis Palembang Neng Chika Islam Feminis Retorika Pak Musoddiq Kopral Geddoe Mas gantenK ToB BIL Neng Grace Pak Erander Itik […]

    agorsiloku said:
    23 Februari 2008 pukul 06:49

    Saya tidak paham juga transedental atau empiris, namun bisa juga itu sebagai pendekatan pola pikir. Namun, karena saya lebih merasa pas kalau takdir itu sebagai ketentuan Allah yang tidak bisa berubah, maka tidak ada sesuatu apapun usaha manusia yang bisa mengubah takdir. Alasannya, karena setiap usaha apapun yang dilakukan oleh manusia berada pada lingkup takdir itu sendiri. Yang bisa dilakukan adalah memilih jalannya takdir yang paling mungkin (mengubah jalan nasib). Jadi, agor memahami nasib adalah “mengambil” satu pilihan takdir.
    Memilih takdir lebih mudah dipahami, tapi mengubah takdir tidak. Mengapa tidak !?. Ya karena kita tidak bisa melihat perubahan takdir. Tidak bisa melihat, merasa, menimbang perubahan ketentuan Allah sedang terjadi.
    Kejadian, Nabi Ibrahim tahan terhadap api (api menjadi dingin bagi beliau), adalah contoh bahwa kita hanya bisa melihat akibatnya, bukan pada sebabnya. Kalaupun ada uraian sebab akibat (penjelasan sains), itu tidak lebih dari sekedar menduga perubahan takdir yang terjadi…
    😀

    […] masuk dalam arena-arena perdebatan dan diskusi panjang dari masa ke masa dan sangat boleh jadi, memberikan kontribusi dalam berpikir sosial keagamaan masyarakat ketika menyikapi sesuatu. Tuhan model Ghazali adalah Tuhan serba kuasa dan keserbamahakuasaannya meliputi segala sesuatu. […]

    […] oleh Allah itu bisa diubah? Ya dan tidak. Takdir itu tidak bisa diubah oleh manusia, tetapi dapat diubah oleh Allah. Allah SWT […]

    rahmat w said:
    12 Maret 2008 pukul 17:15

    Takdir adalah kombinasi kadar dan petunjuk (QS. Al A’laa). Kadar hanyalah sebuah potensi yang ditetapkan azali, petunjuk adalah kesadaran persepsi dalam menentukan pilihan yang perspektif untuk aktualisasi diri. Tidak ada alat ukur yang bisa digunakan dalam membahas “mengubah takdir”, karena pada satu waktu hanya terjadi satu kejadian, hingga tidak bisa di bandingkan, atau dengan kata lain sang waktu hanya berjalan satu kali berurutan (continuitas) dengan parameter2 yang unik/ spesific yang tidak kita jumpai sama persis di waktu yang lain. Begitu pula dengan “memilih takdir” . Proses memilih berarti ada lebih dari satu pilihan, padahal pilihan itu sendiri, secara integral (universal) sebenarnya hanya satu dan sudah ditentukan. Yang banyak hanyalah logika kita dalam sebab akibat, Jika pilih ini maka begini. dst-nya. Bagi saya yang penting keSadaran memilih langkah-langkah parsial dalam menyikapi potensi.

    M Shodiq Mustika responded:
    13 Maret 2008 pukul 11:01

    ya, saya memaklumi pandangan mas rahmat w

    kita tak perlu memperdebatkan apakah takdir bisa diubah/dipilih

    yg lebih penting, bagaimana mengubah/memilih takdir

    […] takdir didunia ini, selalu ada pilihan takdir baik dan buruk. Ada SEO hitam (black hat), dan SEO putih […]

    […] Dalam filsafat perspektival, sudut pandang pertama itu kita kenal sebagai perspektif empiris. Sedangkan yang kedua sebagai perspektif transendental. (Lihat Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir?) […]

    M Shodiq Mustika responded:
    20 Desember 2008 pukul 21:37

    Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam: “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)

    […] Dalam filsafat perspektival, sudut pandang pertama itu kita kenal sebagai perspektif empiris. Sedangkan yang kedua sebagai perspektif transendental. (Lihat Sebaiknya Mengubah ataukah Memilih Takdir?) […]

    JS said:
    29 April 2009 pukul 10:32

    Manusia ini Tidak Berdaya dan Tidak berupaya.
    Manusia ini hanya dapat memohon, manusia tidak dapat mengubah atau memilih takdir. Yang dapat mengubah atau memilih takdir setiap manusia hanya Allah.

    faizal said:
    12 Agustus 2009 pukul 15:59

    Islam mengajarkan masa lalu, kisah nabi2 terdahulu,,tetapi juga Islam mengajarkan masa yang jauh akan datang dan semuanya pasti terjadi,,seperti tanda2 kiamat, kisah syafaat nabi Muhammad di hari bangkit,,,semuanya sudah ditakdirkan dalam kitab lauh Mahfuzh,,,
    artinya Islam mengajarkan kepasrahan kepada takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah,,, maka Tuhan mana yang bisa mengubah ketetapan Allah,,,mungkin sebentar lagi imam mahdi dan nabi Isa as akan datang,,,bahkan pasti akan datang! dan pasti dajjal pun akan datang,,,dan umat islam pasti akan saling berperang,,,sehingga kedua umat Islam tersebut masuk neraka,,,itulah ketetapan Allah ,,inilah jalan yang lurus,,,wahai manusia bersyukurlah dan ingat lah terus kpd Allah,,,sesungguhnya ingat kepada Allah pun sudah di tetapkan/ditakdirkan,,wasalam

    RIDWAN said:
    23 Oktober 2010 pukul 15:25

    ada 2 orang yang berbeda,
    si A lahir dikeluarga yg harmonis, kaya, taat

    beragama, karena ganteng si A selalu jadi idola

    para gadis, kemana-mana selalu dihormati orang

    karena dia santun dan berasal dari keluarga

    terpandang. sehingga si A hidup dari lahir sudah

    bahagia.
    si B lahir dari keluarga berantakan, miskin dan

    cacat, mukanya buruk dan kemana-mana selalu diusir

    orang. si B juga taat beragama.

    kalau si A dari lahir hidup bahagia dan mati pasti

    sorga, sebab dari bayi dibimbing dg ajaran agama.
    kalau si B dari lahir hidup melarat dan mati masuk

    neraka,
    sebab si B sering mencuri untuk bisa makan.

    mengapa si A dan si B hidupnya sangat berbeda ????

    mungkin takdir itu bisa dibilang ADIL jika si A

    bisa dibilang hidup diatas roda, si B dibawah roda

    setelah pertengahan umur si A dibawah dan si B

    diatas.

    ADILKAH TAKDIR ITU ????

    ada orang mati-matian berusaha tapi tetap gagal,

    sedangkan ada juga orang usaha sedikit tapi

    berhasil.

    dalam mencari Tuhan, sebaiknya kita membaca semua

    konsep agama.

    yanto ahmad said:
    23 Oktober 2010 pukul 15:26

    semuanya sudah ditentukan oleh takdir, seseorang tidak bisa lepas dari takdir kecuali kehendak Allah,
    ada 3 takdir yang ada didunia ini, yaitu:
    1. Takdir hidup sangat melarat
    contoh : lahir dikeluarga miskin dan melarat, cacat dan penuh cobaan.
    2. Takdir hidup sedang – sedang saja.
    contoh : lahir dari keluarga bisa saja, hidup biasa saja, tampang pas-pasan.
    3. Takdir Hidup bahagia
    contoh : lahir dari keluarga kaya raya, harmonis, ganteng dihormati.
    seperti : anaknya bill gates.

    setiap orang sudah diberikan takdir masing masing dari Allah, dan membedakan cobaan masing-masing orang.
    contoh cobaan anak dari nomer 1 :
    – selalu berdoa agar bisa makan besok.
    – akan sulit mencari wanita apalagi wanita cantik.

    contoh cobaan anak dari nomer 3 :
    – Lamborgini yang dipesan tidak sesuai warnanya.
    – Resah setiap saat sebab dikejar-kejar oleh para model, wanita cantik dan artis, sebab selain ganteng kaya lagi.

    lalu mengapa ada perbedaan, yang jelas anak nomer 1 pasti lebih besar dosanya dari pada anaknya Bill gates, sudah nikmat hidup di dunia mati masuk sorga lagi…

    arsy said:
    4 Maret 2011 pukul 12:26

    tidak mungkin kita bisa memilih takdir… ketika seorang pedagang kaki lima di bandung ditakdirkan menerima rezeki dari pembelian kita, akan kah kita bisa merubah tujuan wisata kita ke jogja? mungkinkah rezeki orang lain terpengaruhi akibat kita memilih takdir kita sendiri???? ikhlas lah menerima takdir apa pun, tapi ingat kita tidak pernah tau takdir apa yang digariskan untuk kita

    Deni Setiawan said:
    1 September 2011 pukul 22:22

    Takdir: Rezeki, Jodoh dan Kematian
    Saudaraku, saya ingin ikut memperkaya pemahaman tentang takdir, Takdir yang telah ditetapkan Allah utk masing masing kita dan telah di tuliskan di kitab lauh al mahfuz saya coba pahami dengan analogi sebuah pohon, dimana takdir kita seperti sebuah pohon kehidupan. kadar rizki ditiap cabangnya telah ditentukan….setiap cabang pohon layaknya seperti pilihan yang hadir dalam perjalanan hidup kita. Pada awalnya di pangkal pohon paling bawah dimana belum ada cabang orang tua kita lah yang memilihkannya untuk kita. setelah muncul cabang pertama … saat itulah kita dihadapkan pilihan hidup. ujung setiap ranting bisa dipakai untuk menganalogikan kematian.
    Sekian banyak cabang dan ranting yang telah ditakdirkan/dirancang untuk masing-masing kita…namun hanya satu jalur yang pastinya kita lalui….. hakekatnya setiap percabangan baik dari cabang pohon atau ranting adalah pilihan hidup yang menentukan seberapa besar rizki yg menyertai dan menjadi apa setiap kita, sederhananya segala sesuatunya telah Allah sediakan untuk kita namun disisakan satu yg diberikan kesetiap manusia hak prerogatifnya yakni “PILIHAN/MEMILIH”. atau bisa saya katakan 99 nama Allah itu adalah layaknya sekian banyak potensi yang di berikan kepada manusia namun satu yg disisakan dan manusia sendiri yang menentukan yakni “PILIHAN”. Al Quran dan Sunnah dapat di analogikan sebagai petunjuk, cabang mana yang baik kita lalui karena di Quran dan Sunnah ada yg memmaparkan ciri ciri jalan yang tidak boleh atau tidak baik untuk kita lalui sekaligus juga sebagai petuunjuk sepanjang melalui setiap cabang dan ranting yang kita lalui…..Rizki telah disiapkan untuk setiap ranting yang ditetapkan dalam pohon kehidupan kita…. jadi seberapa besar/banyak rizki yang kita terima merupakan konsekuensi dari pilihan jalan hidup yang kita lalui….Apakah takdir bisa diubah ?? pohon takdirnya menurut saya sudah di tetapkan namun setiap kita bisa memperbaiki setiap waktu pilihan hidup kita (seakan akan mengubah takdir tapi saya lebih cenderung mengatakannya mengubah nasib 🙂 ). Setiap ujung ranting adalah kematian….sehingga secara sederhana dapat dikatakan kita sendiri yang memilih cara kematian kita/pilihan kita mengantar kekematian kita sendiri, tambahan catatan semuanya berjalan diatas sunnahtullah….(sunnatullah = aturan main = hukum alam = sebab-akibat)QS 48. Al Fath 23. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu. mulai dari pangkal pohon sampai ujung ranting terjauh atau terdekat merupakan satu perjalanan hidup kita dan ranting atau cabang lain yang tidak kita lalui …. tetap menjadi rahasia Ilahi. Jadi panjang atau pendeknya umur kita pun dipengaruhi oleh pilihan perjalanan hidup kita… dimana masa depan tetap rahasia… jadi esensinya bukan panjang atau pendeknya tapi kesabaran mengumpulkan bekal perjalanan nanti dan syukur terhadap setiap rizki yang kita dapatkan itu esensinya dan jangan lupa Akhir lebih baik dari Awal. 🙂

    Namun sepertinya tidak semua pohon kehidupan orang selalu seperti pohon mangga misalnya yang lebat banyak cabang dan ranting, boleh jadi seperti pohon kelapa seperti komentar saudara kita terdahulu menanggapi tulisan ini. Sehingga boleh jadi seseorang miskiiiiiiiiin sepanjang hidupnya dan baru berubah saat menjelang akhir hidupnya seperti pohon kelapa.

    Jadi Esensinya bukan tentang apa yg kita dapatkan sepanjang perjalanan namun Sabar dan Syukur yang menjadi ukurannya.

    Jodoh, Rizki ….. menurut saya keduanya sama sama harus diupayakan…keduanya merupakan penyerta dari pilihan hidup yang kita ambil. Keduanya mensyaratkan kecocokan wadah terhadap isi yang kita harapkan/kita mintakan dalam do’a do’a kita.

    Jika wadahnya siap/jika kita cukup siap mempersiapkan diri kita maka rizki dan jodoh yang sesuai dengan wadah yang kita siapkanlah yang akan diberikan kepada kita. jadi seperti juga Doa yang boleh jadi doa/permintaan kita dibayar tunai olah Allah, hal itu karena wadah yang kita siapkan sudah cocok untuk hal yang kita permohonkan, namun boleh jadi ditunda…karena wadahnya belum siap, atau permintaan kita diganti oleh sesuatu yang lebih baik… karena memang yang itulah yang cocok dengan wadah yang kita miliki. (berlaku utk Rizki dan Jodoh karena hakekatnya menurut saya jodoh adalah bagian dari rizki)

    Sekedar tambahan untuk Hal Jodoh, dikenal istilah Kufu/ Setara konsepnya relatif sama dengan pemahaman dengan konsep wadah dan isi, artinya….. yang namanya jodoh adalah ketika keadaan dua orang manusia (laki laki dan perempuan kufu atau setara) dan bukan jodohnya ketika sudah tidak setara lagi (mohon tidak dipahami dengan terlalu sempit) sederhananya seorang pelacur tidak akan ketemu kecuali dengan yg serupa dengan itu….. perceraian terjadi ketika ke kufuan sudah tidak adalah lagi, sehingga pernikahan atau jodoh pun hakekatnya adalah hal yang harus terus menerus di upayakan ketika pengetahuan/pemahaman istri terasa tertinggal maka menjadi tugas suami menariknya sehingga bisa berdampingan lagi berjalannya…. tidak tertinggal ….. ketertinggalan salah satunya cenderung kepada perceraian….hal ini mengapa perceraian merupakan hal yang dibolehkan namun dibenci Allah yaitu itu…. sebab perceraian adalah kondisi ketidak kufuan, sehingga dapat berbahaya bagi salah satu yang baiknya, sedangkan ketidak kufuan boleh jadi karena kurang kuatnya keinginan/upaya untuk mendidik salah satunya itu sebabnya dibenci :).

    di Al baqoroh disebutkan “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” artinya bahwa apapun yang ada dihadapan kita, hakekatnya bisa/sanggup kita hadapi dan selesaikan karena……….. yang tidak bisa kita hadapi yaaaaaaa tidak akan diberikan kepada kita gitu kan ? 🙂 …….. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” (maaf klu rada salah) esesnsinya…. itu seperti yang saya sudah jelaskan diatas tentang cabang dan ranting pohon dan pilihan hidup.

    Berikutnya, Apakah kematian manusia sudah ditetapkan Allah? jawabanya “Ya” tapi kematian dengan cara yang mana dan kematian kita yang kapan ?

    Naaaaaah….. Rasulullah bilang klu ribuan sebab kematian mengelilingi kita …. ya kan klu saya analogikan lagi dengan ujung pucuk ranting pohon itu adalah kematian bisa ada pucuk ranting yang dekat dengan pangkal batang pohon atau ada yang paling jauh dari pangkal pohon….. naaaah itu juga menjadi hasil dari pilihan hidup kita :)….
    Setiap Pucuk pucuk ranting itu sudah ditentukan Allah untuk kita dan hanya satu pucuk ranting yang akan kita temui di akhir perjalanan hidup kita di dunia ini…. melalui sebab-sebabnya.

    Demikian yang bisa saya share untuk melengkapi pemahaman yang sudah disampaikan saudara-saudara yang lainnya.

    Berikut adalah kisah senada dengan paparan saya di atas : Ketika di Syam (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi wabah, Umar ibn Al-Khaththab yang ketika itu bermaksud berkunjung ke sana membatalkan rencana beliau, dan ketika itu tampil seorang bertanya:

    “Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?”

    Umar r.a. menjawab,

    “Saya lari/menghindar dan takdir Tuhan kepada takdir-Nya
    yang lain.”

    Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, beliau pindah ke tempat lain. Beberapa orang di sekelilingnya bertanya seperti pertanyaan di atas. Jawaban Ali ibn Thalib, sama intinya dengan jawaban Khalifah Umar r.a. Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpanya itu juga adalah takdir, tetapi bila ia menghindar dan luput dari marabahaya maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan telah menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih?
    Kemampuan ini pun antara lain merupakan ketetapan atau takdir yang dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak dapat luput dari takdir, yang baik maupun buruk. Tidak bijaksana jika hanya yang merugikan saja yang disebut takdir, karena yang positif pun takdir. Yang demikian
    merupakan sikap ‘tidak menyucikan Allah, serta bertentangan dengan petunjuk Nabi Saw.,’ “… dan kamu harus percaya kepada takdir-Nya yang baik maupun yang buruk.” Dengan demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak menghalangi manusia untuk berusaha menentukan masa depannyasendiri, sambil memohon bantuan Ilahi.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s