Sendal bermakna

Posted on Updated on

Semerbak harum aroma lemon menusuk hidungku, menggelitik bulu-bulu halusku dan memanjakan mataku ketika ku tiba di sebuah mushola yang terletak di sudut lantai perkantoran yang tampak mewah. Permadani yang begitu indah tersusun rapi, bersih, di kanan kiri dinding terpampang kaligrafi bertuliskan Alloh dan Muhammad saw serta potongan ayat ayat Al Quran. Selain itu terpasang pula kain pembatas antara jemaah  laki laki dan wanita dengan menggunakan kain yang bagus.

Di samping pintu mushola, tersusun rapi sendal dan kelom yang dipergunakan baik untuk suatu hajat maupun untuk wudhu karena letak mushola dengan toilet agak jauh. Dipilihnya warna hijau sebagai warna dinding karena katanya warna hijau adalah warna yang disenangi oleh Rosululloh saw semakin menambah suasana khidmat untuk berlama lama tafakur mengagungkan Ilahi Robbi.

Tak terasa air mata meleleh keluar mengalir deras dari tempatnya, berliku liku mengikuti lekukan wajahku hingga sampai ke dagu ketika teringat kondisi mushola di kampungku. Apek, lembab, bau, karpet yang sudah berlubang yang seharusnya sudah diganti namun karena kendala dana akhirnya tetap dipergunakan untuk sholat dimana ketika sujud para jemaah banyak yang bersin bersin.

Sebagai satu satunya tempat sholat yang dekat dengan pasar dimana ibuku berdagang serabi, mau gak mau saya tetap sholat disana. Mau ke masjid harus berjalan kaki sekitar 700 meter, gak tega meninggalkan ibuku sendirian berdagang dan ketika giliran ibuku yang sudah renta mau sholat saya anjurkan pula untuk sholat di mushola juga karena kasihan terlalu jauh seandainya ibuku memilih sholat di masjid.

Air yang malu malu keluar dari keran sungguh menguji kesabaran dari para jemaah yang sedang wudhu. Sandal yang berjejer rapi menampilkan keanekaragaman, tak ada yang sepasang sempurna, semua beda bentuk dan warna. Sering aku merasa malu terhadap Alloh mengapa keanekaramagaman terjadi pada sendal yang seharusnya sepasang itu sama warna dengan bentuk kiri dan kanan yang saling mengisi.

Kubuang sandal aneka warna itu ke tempat sampah dan kuganti dengan yang sempurna namun entah mengapa beberapa hari kemudian keanekaragaman terjadi kembali. Setelah kuperhatikan ternyata banyak yang menggunakan sandal itu untuk pergi ke masjid saat jum’atan lalu entah bagaimana cara kembalinya ke mushola yang jelas tidak utuh, tertukar atau bahkan ada yang tidak kembali.

Kejadian itu sering terjadi sehingga kadang ibuku memarahiku karena sering uang yang seharusnya kutabung untuk pendidikanku yang tidak seberapa itu dibelikan sandal. Ku maklum karena ibuku yang sudah renta tidak mau melihat anaknya bernasib sama dengannya.

“Beli sendal melulu” gerutu Ema.

“Ini kan uang Adi, Ma” ujarku.

“Ema tahu kamu ingin beramal tapi kamu juga harus memikirkan dirimu dan masa depanmu. Biarkan orang-orang kaya yang beli sendal itu”.

“Tapi ma, kan cuma lima ribu sepasangnya lagian ini kan untuk sholat menghadap Alloh”

“Yang Ema inginkan adalah kalau mau beramal harus ke tepat sasaran”

“Maksud Ema?”

“Sudah berapa kali kamu beli sendal mengganti yang hilang atau tertukar?”

“Lupa ma, Adi gak pernah ngitung”

‘Memang kalau beramal jangan dihitung tapi kamu harus lihat kebiasaan disini. Setiap kamu beli yang baru gak lama lalu tertukar atau hilang. Jangan sampai ada yang lihat kesempatan dibalik amalanmu. Ema memperhatikan apa yang kamu kerjakan, di”

Ku selalu merenungi kata-kata ema itu. Kuakui perkataan ema ada benarnya, kenapa aku selalu mementingkan kepentingan orang lain sementara yang lain tidak mementingkan kepentingan mereka sendiri. Aku tidak boleh su’uzhon atas amal yang telah kuperbuat dan dimanfaatkan oleh orang lain. Setelah beberapa hari kumemikirkan hal ini akhirnya kuputuskan untuk tidak membeli sendal jika ada yang hilang ataupun tertukar dana ema tidak tahu akan hal ini.

Burung-burung bernyanyi merdu diiringi tiupan angin yang beiringian membuktikan adanya kekuasaan Alloh atas semesta alam ini. Alunan lagu band matta dengan judul lagu Ketahuan yang kudengar dari radio membuat kakiku tak mau diam. Saat mendegarkan lagu sayup-sayup kudengar suara gemuruh dan tak lama kemudian terdengar orang-orang berteriak.

“Longsor, longsor”

“Longsor dimana Pak ?”

Di Ciujung, jang”

Segera kuberlari menuju tempat kejadian dan tampak pemandangan yang mengerikan disamping hijaunya lembah yang asri yang selama ini kukunjungi menikmati ciptaan Alloh. Tanah longsor menghancurkan jembatan dan rumah disekitarnya.

Sudah banyak orang yang datang hendak menolong korban longsor. Beberpa mayat sudah berhasil diangkat dan ada juga yang berhasil diselamatkan. Isak tangis keluarga korban baik yang selamat maupun yang meninggal membuatku berpikir kapan kematian datang menjemputku. Sudah siapkah aku menghadap Alloh dengan amal yang seadanya ini.

Korban yang meninggal segera dimandikan dan disholatkan dan akan dikuburkan di pemakaman umum di desaku tak jauh dari mesjid. Banyak yang mengantar karena korban mencapai 10 orang dan diantaranya adalah anak pamanku. Rata-tara mereka masih anak-anak atau remaja karena memang mereka senang bermain di lembah hijau tersebut.

Tangis ibu dan bibiku tak terbendung. Ibuku mengatakan kepadaku “Kamu harus menghadap Alloh dengan amalan yang banyak dan dosa yang sedikit”.

Di masjid diadalan tahlilan selepas sholat Isya. Penuh sesak jemaah memadati masjid. Isak tangis mewarnai tahlilan tersebut. Sungguh mengharukan suasana saat itu.

Di malam terakhir selepas tahlilan tampak beberapa jemaah sedang mencari sendal. Hingga semua jemaah sudah pulang tingallah 5 Bapak bapak yang masih mencari sendal di halaman sedangkan sendal di halaman sudah tidak ada lagi satupun. Empat diantaranya pulang tanpa alas kaki sedangkan yang seorang lagi berdiam dulu di masjid. Entah apa yang akan dilakukan. Saat itu salah seorang anak menghampiri Bapak-bapak tersebut. Tampak anak kecil itu membawa bungkusan plastik mendekatinya.

“Pakai sendal ini aja Pak jika Bapak kehilangan sendal”

“Kok kamu tahu kalau Bapak kehilangan sendal?”

“Disini sering kejadian kehilangan. Oleh karena itu DKM memberikan pengumuan agar menyimpan barang, sandal di tempat penitipan barang yang telah disediakan dan ini murni dari saya”

“Mengapa kamu menyediakan sendal?”

“Karena menurut saya inilah salah satu amalan kecil saya yang bisa saya lakukan agar saya mendapatkan ridho Alloh”

“Semoga Alloh besertamu dan meridhoimu”

“aaaamiiin”

Sontak dari percakapan singkat itu teringat akan niatku yang sudah kujalankan beberapa hari yaitu menghentikan megngantikan sendal yang hilang. Ternyata ada yang melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan. Aku malu pada-Mu ya Alloh padahal anak itu berapalah penghasilannya sebagai penjaga penitipan barang. Subhanalloh. Terima kasih ya Alloh Engkau telah menegurku dengan cara seperti ini. Aku pun kembali ke rumah.

“Ayo Mas, Kita jalan jalan lagi. Lihat-lihat pemandangan sekitar perkantoran in.” ujar temanku sambil menepuk bahuku menyadarkan lamunanku.

“Mas kenapa wajahmu memerah dan keluar air mata ?”

“Sepatuku hilaang”

Iklan

One thought on “Sendal bermakna

    M Shodiq Mustika said:
    7 Februari 2008 pukul 22:54

    Wah, ceritanya menarik sekali. Sungguh dramatis. Tak kusangka sebelumnya bahwa ternyata akhi Aries mampu menulis seindah itu. Salut!

    Keep on writing, my brother.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s