Dan Semutpun Berdoa

Posted on Updated on

Tembakan sinar ultra violet di siang hari membekas di tubuhku, memaksaku untuk duduk di bawah pohon yang terletak di sisi sungai yang mengalir mengikuti lekukan lekukan perbukitan. Kulit ariku menangis, merintih kepanasan. Saat kurasakan perihnya kulit ariku, angin dari perbukitan menghembuskan nafasnya sehingga membuat kulit ariku berteriak gembira, terasa sejuk menembus pori poriku. Kuberdiri  dan menghirup nafas panjang, memberi makan paru paruku lalu kubuang air kotorku kemudian kududuk kembali.

Banjir keringat yang menyelimuti tubuhku membuatku terpaksa membuka baju. Kunikmati hembusan angin yang membelaiku, mengelusku.

Kubuka botol air dan kutuang ke mulutku. Berlarianlah air tersebut berlomba lomba menuju kerongkongan dan pencernaan sehingga membuatku lepas dahaga.Kunikmati istirahatku ini hingga tak terasa kutertidur.

“Ini dia orang yang mengencingi koloni kita.” ujar semut penjaga
“Gigit dia !” perintah ratu semut
Serentak ribuan tentara semut menggigit orang yang ditunjuk sang ratu hingga orang tersebut dikerubuti oleh ribuan semut merah yang datangnya dari segala penjuru. Orang tersebut berteriak ketakutan, menjerit, lari pontang panting dengan seluruh tubuh membengkak merah sehingga tidak dikenali wajahnya lagi dan akhirnya diapun jatuh terjerembab dan kepalanya mengenai sebatang kayu.

“Agghh” kuterbangun dan mengelus elus kepalaku ketika tersadar ternyata sebuah ranting mengenai jatuh tepat dikepalaku. Setelah kesadaranku pulih, kusadari bahwa kubermimpi dikerubuti semut namun  ketika kulihat tanganku ternyata semut merah memang benar benar menggitgit tanganku hingga memmbengkakkan tanganku namun hanya beberapa ekor yang menggigit tanganku, lalu ku meludah ke kiri dan beristighfar. Astaghfirulloh, kubaca ayat kursi lalu kubersujud mohon ampunan atas kesalahanku. Aku pulang ke rumah dan segera ku obati luka memarku.

Sore hari saat kusantai bersama adikku, cuaca berubah menjadi gelap, kulihat dari jendela nampak awan saling beradu memperlihatkan ketebalan dan keangkeran satu sama lain, hitam legam, gelap gulita. Tak lama kemudian, awanpun memborbardir bumi dengan airnya diiringi dengan tembakan tembakan petir yang mengeluarkan suara dentuman keras yang menggetarkan hati dan memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.Dan salah satu tembakan petir tersebut mengenai pohon di seberang jalan beberapa ratus meter dari rumahku dan pohon tersebut terbakar lalu tumbang.

Ketika aku masih SD Pak Guru melarang kami untuk berada di sekitar pohon karena kata Pak Guru terdapat ion positif dan negatif dan itu dapat mengakibatkan kematian seseorang. Dan kini setelah besar baru kulihat kenyataan atas perkataan guruku tersebut walau tak ada nyawa yang melayang.

Kumatikan TV khawatir rusak lagi karena pernah terjadi saat keadaan yang sama. Saat kusimpan remote di lantai,  tanganku tak sengaja menyentuh gundukan pasir di lantai. Loncat dari kursi langsung kulihat ke lantai dan ternyata semut semut sedang bahu membahu mengeluarkan pasir ke lantai dan berusaha keluar dari balik ubin. Kupikir mungkin mereka kebanjiran dan ketika kulihat keluar ternyata memang banjir.

Hingga akhirnya kutahu saat itu musim hujan telah tiba sehingga kemungkinan gak bisa keluar kemana mana. Musim hujan berpengaruh atas pertanian di desaku karena tempatku memang gersang sehingga perkebunan lah yang cocok untuk mencari nafkah warga desaku.

Bertepatan dengan selesainya musim hujan, liburan sekolahpun dimulai. Ku pergi menemui kakek dan nenekku di Cianjur. Betapa senangnya kakek dan nenekkku melihat cucu satu satunya. Memang aku ini dimanja oleh kedua orang tuaku dan juga oleh kakek dan nenekku.

Karena liburan kali ini kupergi hanya sendiri, kakekpun menjemputku di terminal Cianjur. Sebelum ke rumah, kami jalan jalan menelusuri kota Cianjur. Kebelet pengen pipis kucari wc umum tapi tak ketemu satupun akhirnya kucari semak semak dan lepaslah hajatku,  legalah perasanku.

“Jangan kencing sembarangan!!”
“Kenapa kek?”
“Karena Rosul melarang perbuatan itu karena bisa jadi disana ada sarang semut”
(Astaghfirulloh, aku pernah melakukan hal yang sama dan ku bermimpi buruk , kata hatiku).

Akhirnya aku dan kakekku tiba di rumahnya. Rumah yang mungil karena diisi hanya berdua, asri dan terawat rapi.  Pepohonan yang rindang dan banyak tanaman obat obatan serta ditumbuhi pepohonan yang bisa dipergunakan untuk masak atau sayuran.

Walau sama sama tinggal diperbukitan tapi sungguh beda tempat tinggalku dengan tempat tinggal kakek. Gersang, sedikit sekali pohon pohonan, yang ada perkebunan dan sungaipun mengalir sedikit lain halnya ditempat kakek.  Mata air yang jernih bagaikan cermin serta tak habis untuk dipergunakan jika pepohnan masih banyak, pohon pohon yang rindang dan yang membuatku terpana saat kudengar nyanyian daun daun pohon yang ditiup angin. Subhanalloh.

Sebagai seoang ustadz, tiap malam jum’at kakek memberikan ceramah di masjid. Ketika akan wudhu kulihat kakekku mengeluarkan beberapa semut dari bak mandi.
“Kenapa melakukan hal itu kek ?”
“Karena mereka juga punya hak untuk hidup dan juga menyelamatkan mereka biar tidak tenggelam dan kita harus berkasih sayang selain ke manusia juga ke alam sekitar kita baik ke hewan maupun ke lingkungan”

Selesai wudhu kami segera ke masjid,  saat menginjak lantai masjid,  kakek menasihatiku untuk berjalan hati hati.

“Kalau berjalan sebaiknya melihat ke bawah”
“Kenapa harus lihat ke bawah Kek?”
“Karena banyak semut yang berjalan di lantai masjid ini. Jadi kamu nggak menginjak semut hingga mati dan jika itu dilakukan itu dosa yang tanpa disengaja”
“Kan gak berdosa kalau gak sengaja Kek”
“Tetap saja berdosa walau gak disengaja.  Justru itu kamu harus hati hati agar kamu tidak melakukan dosa yang tidak disengaja karena kamu bisa melakukan hal itu hanya dengan berjalan dengan melihat ke bawah”

Selepas sholat Isya, kakek membahas tentang surat An Naml yang berarti semut.

“Semut diambil sebagai nama surat karena didalam surat tersebut ada kisah ketika Nabi Sulaiman dan bala tentaranya sedang berjalan menuju suatu tempat, maka raja dari koloni semut itu memerintahkan agar rakyatnya segera berlindng di tempatnya supaya tentara Nabi Sulaiman tidak menginjak mereka karena semut adalah makhluk kecil yang sekilas tidak terlihat dan perkataan ini didengar oleh Nabi Sulaiman dan beliaupun tersenyum lalu bersyukur atas mukjizat yang diberikan oleh Alloh tersebut yaitu dapat mendengar suara binatang. Dan semut juga sebagai suatu perumpamaan bahwa semut adalah salah satu binatang yang disiplin, kerja sama yang baik walau mereka tidak dapat melihat dan kelebihan kelebihan lainnya dibandingkan dengan binatang yang lain.”

Doa semut dapat dikabulkan oleh Alloh :
“Nabi Sulaiman dan rombongannya tiba di suatu padang untuk melakukan sholat istisqo ( minta hujan), ketika itu beliau mendengar seekor semut dan terlihat sambil terlentang seraya berdoa : Ya Alloh jika Egkau tidak segera menurunkan hujan maka kami akan binasa. Dan Nabi Sulaimanpun berkata : Sebaiknya kita pulang kembali ke negeri kita karena ada hamba Alloh yang sedang berdoa dan pasti dikabulkan oleh Alloh.”

Iklan

3 thoughts on “Dan Semutpun Berdoa

    erander said:
    11 Februari 2008 pukul 07:58

    Subhanallah .. hal-hal kecil begini sering kali kita abaikan dan kita lupakan ya pak. Karena kita merasa besar dan kuat dibandingkan semut. Begitulah manusia. Terima kasih pak sudah mengingatkan.

    olangbiaca said:
    11 Februari 2008 pukul 11:36

    Ass…ya benar, thanks atas pencerahannya. abis dari tempat mas donny reza..singgah disini. salam persahabatan mas.

    indra1082 said:
    12 Februari 2008 pukul 06:43

    Semoga kita selalu menjadi umat yang senantiasa bersyukur dan berdoa…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s