Berkah Menyeberangkan Orang

Posted on Updated on

Hitam legam kulitnya. Lipatan keriput di wajahnya menunjukkan pada dunia asam garam kehidupan yang telah dilaluinya.

Rangkaian tulang bagaikan angklung mang Ujo terukir di dadanya. Tak ada lagi air yang keluar dari kulit arinya, kering kerontang.  Kokoh jari jemarinya menghiasi tangannya.

Sorot  mata elangnya menatap tajam orang-orang yang lalu lalang didepannya. Tak peduli fatamorgana yang menggelayuti teriknya siang itu.

Lelaki itu tetap berjalan meyusuri jalan sambil membawa peralatan pengangkut pasir dan pacul yang dipanggul di bahu kanan. Berharap ada karunia dan rejeki dari Tuhan di hari itu. Kakinya terus menuntun kemana dia pergi. 

Tiba di sebuah pos keamanan, lelaki tua itu berhenti sejenak untuk memanjakan sejenak urat-urat nadinya yang seharian berteriak mengerang kesakitan. Dengan rasa sedih uap keringat keluar dari rongga pori pori lelaki itu. Meninggalkan lelaki yang bergelut dengan nasib sebagai kuli angkut pasir. Entah bagaimana kehidupan dia berikutnya. Tak ada yang tahu.

Tertegun dia sejenak, lalu tersungging senyuman, melihat mobil bak terbuka yang mengangkut pasir. Diapun segera bangkit mengikuti mobil tersebut.

Mobil itu berhenti dan diapun segera menuju rumah dimana mobil itu berhenti. Pemilik rumah keluar menemui supir tersebut. Lelaki itu segera menawarkan jasanya namun ternyata pemilik rumah sudah menyediakan kuli angkut.

Dengan langkah berat, pelan tapi pasti lelaki itupun meninggalkan rumah tersebut. Dan diapun berguman dalam hati “Ya Alloh aku sudah berusaha namun sampai saat ini aku belum mendapatkan rejeki yang kucari. Semoga Engkau memberiku kekuatan dan kesabaran dalam menjalanai hidup ini”

Lelaki itupun berjalan menyusuri jalan yang ramai dengan kendaraan dan manusia yang lalu lalang. Ketika baru beberapa blok berjalan tampak truk pengangkut pasir memasuki sebuah komplek perumahan menengah ke atas.

Diapun bergegas mengikuti truk tersebut namun sebelum sampai ke kompleks tersebut, seorang anak kecil yang sedang berdiri di pinggir jalan sambil memegang sebuah boneka memanggilnya.

“Kek, bisa minta tolong menyeberangin Ade gak ?”

Lelaki tua itupun berhenti sejenak, membisu, mata hitamnya bergerak bergantian melihat ke anak itu dan truk pengangkut pasir.

Akhirnya lelaki tua itupun memilih membantu menyeberangkan anak kecil itu. Sampai di seberang jalan sang anak berterima kasih dan mendoakan agar lelaki itu diberi balasan oleh Tuhan.

Segera lelaki tua itu mengejar truk yang sudah memasuki komplek. Saat memasuki komplek diapun kebingungan mencari dimana truk itu berhenti. Setelah melakukan pencarian akhirnya truk itupun ketemu juga. Namun apa hendak dikata ternyata dia terlambat karena sudah ada dua kuli pengangkut pasir yang sudah disewa oleh pemilik rumah.

“Bodoh,  bodoh, bodoh benar aku ini. Mengapa tadi aku menyeberangkan anak kecil dulu padahal kalau langsung kesini aku dapat rejeki. Bodoh, bodoh, bodoh….”

Tak hentinya lelaki itu mengumpat diri sendiri sambil berjalan menjauhi rumah tersebut. Sambil menendang apa saja yang menghalangi di jalan baik itu kayu, batu maupun benda benda lainya. Begitu kesalnya dia hingga akhirnya diapun menendang sebuah botol bekas minuman ringan dan

‘Prang…”

terdengar suara kaca pecah. Sontak tersadar lelaki itupun mengambil langkah seribu tak tentu arah dan dia meninggalkan peralatan penghidupannya.

Nafas yang tersengal sengal dan keringatpun menbanjiri sekujur tubuhnya. Lelaki itupun duduk di dekat sebuah pohon rindang sehingga terlindung dari sengatan matahari.

“Mengapa nasibku jadi begini. Gara gara nolong anak kecil rejeki di depan mata lepas. Coba aku tadi gak nolong anak itu. Aduh, nasib..nasib.. apes banget hari ini. Udah gak dapat rejeki, mecahin kaca. Untung gak ketangkap”

Akhirnya lelaki tua itupun tertidur. Saat terbangun diapun tersadar belum sholat zhuhur. Lalu dia mencari mushola dan kemudian sholat. Diapun berdoa mengadu kejadian yang menimpanya hari itu kepada Tuhannya.

Selesai sholat sambil menahan lapar diapun berjalan kembali dan berharap ada rejeki Tuhan di hari itu. Dia berjalan hingga tiba di sebuah perempatan yang sibuk dengan kendaraan yang lalu lalang.

“Pak bisa minta tolong nyebrangin saya ?’

(sejenak lelaki itu terdiam mengingat kejadian yang dialami sebelumnya)

“Bisa Bu, mari saya bawa barang barang Ibu!”

“Terima kasih”

Dan merekapun menyeberang bersama. Setelah sampai di seberang si ibu menawarkan lelaki itu untuk bertamu ke rumahnya yang tak jauh dari perempatan. Dan si lelaki itupun bersedia karena sungkan untuk menolak tawaran seoarng ibu ibu juga berharap ada rejeki saat bertamu.

Sampai di rumah ibu ibu tersebut, lelaki itupun tertegun karena rumah ibu ini ternyata sungguh asri. Halaman sebelah kanan nampak taman dan air mancur sedangkan sebelah kirinya banyak pot yang bertanamkan buah buahan yang di bonsai. Dengan cat berwarna hijau semakin menambah sejuknya mata memandang. Tumbuhan yang dibiarkan berkembang di pagar namun dirawat menambah hijaunya rumah mungil nan asri itu.

“Silakan duduk, saya ke dalam dulu.”

“Terima kasih”

Tak berapa lama kemudian tuan rumah keluar dengan membawa makanan dan minuman. Tuan rumah pun mempersilakan lelaki itu untuk menyantap hidangan yang disuguhkan. Sambil menyantappun mereka mengobrol tentang kehidupan dan lelaki itu menceritakan kejadian yang dialaminya hari itu.

“Jadi begitu ceritanya.  Maaf sebelumnya Pak,  boleh saya memberi saran ?

“Silakan”

“Alangkah baiknya jika Bapak tidak menyumpahi diri sendiri karena Alloh tidak akan menciptakan suatu kejadian dengan sia sia”

“Terima kasih atas sarannya, tadipun saya sudah memohon ampunan karena Alloh. Saya begitu emosi”

“Gini Pak, gimana kalau Bapak bekerja sebagai tukang kebun di rumah anak saya kebetulan dia sedang mencari tukang kebun. Inipun kalau Bapak bekenan,”

“Saya bersedia Bu. Terima kasih sebelunmnya”. Sesaat kemudian

“Nenek !” seru anak kecil

“Pak Tua” serunya lagi

“Kok disini ?” tanya lelaki itu ke anak tersebut

“Ini rumah nenekku. Mamah, ini Pak Tua yang Ade ceritain tadi yang nolongin Ade menyeberang.”

“Terima kasih Pak, tadi sudah menyeberangkan anak saya”

“Kembali Bu”

“Nah Pak kebetulan sekali, ini dia anak saya yang sedang mencari tukang kebun. Anna, mamah ngasih usul kalau Bapak ini. Hmm siapa namanya Pak ?”

“Amir”

“Nah, Pak Amir ini biar jadi tukang kebun kamu aja.

“Iya mah”

“Terima kasih Bu atas kebaikanya. Semoga Alloh membalas keluarga besar Ibu”

“aamiin”

Iklan

3 thoughts on “Berkah Menyeberangkan Orang

    Kaezzar said:
    15 Maret 2008 pukul 18:12

    Banyak hal yg g bisa dipahami manusia, tapi “sayangnya” Allah tau itu semua ….. ^_^

    Wassalam

    Aa. Dika said:
    30 Maret 2008 pukul 09:20

    Saat orang mulai putus asa terhadap prasangka baik pada Allah saat itu pula dia terputus dari berkah Allah.

    Juninto said:
    11 April 2009 pukul 03:07

    Nama Saya jun, saat ini saya sedang kuliah smester 4 di sebuah PTS di depok, dan saat ini saya sedang masa-masa sulit, untuk bisa bertahan dijakarta. saat ini saya butuh pekerjaan apa aja lah yang penting halal, san saya sangat senang kalo saja pekerjaan itu adalah bekerja sebagai tukang kebun, dan pekerjaan itu bisa dikerjakan hari sabtu dan minggu. karena untuk hari biasa saya harus kuliah. kira-kira ada yang bisa bantu saya, jika ada yang bisa bantu bisa hubungi saya di 081211623824, ato kirim email ke : jun_algifari@yahoo.co.id

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s