Bicarakan Takdir Sesuai dengan Sunnah Nabi

Posted on

Banyak pertanyaan, sedikit jawaban. Banyak kritik, sedikit apresiasi. Banyak perdebatan, sedikit kesepahaman. Demikian kesimpulan kami ketika berselancar di internet, menelusuri tulisan-tulisan mengenai takdir.

Satu pertanyaan kita: Begitukah yang dikehendaki oleh teladan kita, Nabi Muhammad saw.?

Satu jawaban kami: tidak. Di artikel Qadla’ dan Qadar Allah (1), kita peroleh informasi dari Syaikh Muhammad Shalih al-`Utsaimin:

Sudah sejak dahulu masalah qadha’ dan qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar menemui shahabatnya, ketika itu mereka sedang berselisih tentang masalah Qadha’ dan Qadar (takdir) maka beliau melarangnya dan memperingatkan bahwa kehancuran umat-umat terdahulu tiada lain karena perdebatan seperti ini.

Membaca peringatan tersebut, bergetarlah dada kami. Wajah kami terasa tertampar. Nastaghfirullâh… selama ini kami belum menghiraukan peringatan tersebut.

Selama beberapa bulan ini, kami telah menghimpun ratusan artikel mengenai takdir. Semuanya telah kami baca. Di dalamnya, kami jumpai banyak kalimat yang dapat kami persoalkan. Begitu besar semangat kami dalam mempersoalkannya, sehingga kami optimis dapat secepat-cepatnya menyusun beberapa buku sekaligus untuk membantah kalimat-kalimat yang tidak kami setujui itu.

Akan tetapi, sewaktu hendak menuntaskan naskah-awal satu buku tersebut, tiba-tiba kesadaran kami tersentak oleh peringatan Nabi: “…kehancuran umat-umat terdahulu tiada lain karena perdebatan seperti ini.” Bukankah “membantah kalimat-kalimat yang tidak kami setujui” itu berarti mengundang perdebatan baru? Bukankah mengundang perdebatan mengenai takdir ini akan menghancurkan umat?

Ah, kami tidak mau menghancurkan umat. Lebih baik kami menghancurkan naskah-awal yang hampir tuntas itu. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran, dan sebagainya, ini semua tak mengapa. Kerugian ini sangat kecil bila dibandingkan dengan risiko dosa apabila kami menghancurkan umat. Sekarang, kita mesti kembali ke sunnah Nabi: tidak mendebat pandangan orang lain ketika membicarakan takdir.

Kalau tidak mendebat, tidak menyalahkan, tidak mengecam, tidak mengkritik, tidak “mengoreksi”, lantas bagaimana?

Lebih baik kami berusaha menghargai, memahami, dan memaklumi berbagai pandangan orang lain yang berbeda itu. Caranya, mulai sekarang kami menggunakan sudut pandang yang relevan ketika menjumpai pendapat-pendapat yang selama ini tidak kami setujui. Inilah cara pandang yang hendak kami terapkan dalam menyusun tulisan-tulisan mengenai takdir.

Bagaimana? Anda mendukung keputusan kami ini, bukan?

Iklan

5 thoughts on “Bicarakan Takdir Sesuai dengan Sunnah Nabi

    erander said:
    17 April 2008 pukul 14:04

    Ah, kami tidak mau menghancurkan umat. Lebih baik kami menghancurkan naskah-awal yang hampir tuntas itu. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi pikiran, dan sebagainya, ini semua tak mengapa.

    Pak .. hati saya gerimis, jiwa saya terguncang, badan saya menggigil membaca artikel bapak. Bukannya apa-apa, karena apa yang bapak tulis adalah apa yang saya rasakan sejak pertama kali saya mau memulai.

    Karena saya tidak ingin tulisan saya nantinya akan menghancurkan umat. Saya lebih baik mengalah. Saya lebih baik membiarkan artikel saya dianggap hangus. Dari pada terjadi perdebatan tak berkesudahan.

    Terima kasih atas pencerahan ini. Karena saya menulis semata-mata karena mengharap ridho Nya. Bukan soal untung rugi. Yang ada adalah kesabaran. Kesabaran untuk mendengar pendapat orang lain. Kesabaran untuk menulis yang benar-benar membimbing kepada kebaikan.

    Bukankah Allah mencintai orang-orang sabar pak?? .. dan baru kemarin saya membeli buku tentang otak kanan pak. Itu bisa jadi tambahan referensi tentang takdir. Dan semalam, saya nonton di National Geographic Channel .. juga tentang takdir.

    Entah mengapa .. selama tiga bulan ini, banyak sekali bahan-bahan — dari Allah — yang saya jumpai. Membuat saya berhenti sejenak untuk membaca ‘tanda-tanda’ Nya. Semoga bapak bisa memahami dan memakluminya.

    Saya masih tetap semangat koq pak untuk terus menulis. Baik yang ada di otak, di hati, di komputer, di draft blog dan dikertas. Jika tiba masanya, semua jadi lebih indah. Dan saya memilih sabar. 🙂

    Donny Reza said:
    17 April 2008 pukul 14:28

    Wah, mbahas takdir emang rumit-rumit simple. Tadinya saya menunggu hasilnya, tapi kalau misalkan dikhawatirkan banyak mudharatnya, i support u, tapi penasaran juga sih 😀

    wejick said:
    17 April 2008 pukul 19:12

    Memang lebih baik kita tetap berusaha dan berdoa karena takdir kita tergantung juga dari setiap usaha kita. Tak perlu diperdebatkan hanya perlu diyakini adanya dan ambil hikmah dari keberadaanya!

    agorsiloku said:
    19 April 2008 pukul 09:26

    Jangan mengundang perdebatan baru… rugi deh kalau dari semua proses berpikir kita, hanya melahirkan atau berkontribusi bagi kehancuran ummat. Namun, mengajak pada jalur yang diharapkan, semakin matang menyikapi tentu menjadi harapan kita bersama. Bukankah sejarah telah menjelaskan bahwa banyak bertumbuh paham mengenai takdir dan bagaimana kemudian masyarakat menyikapi pemahaman yang terjadi (baik yang dianggap keliru dan yang benar). Nah kemudian, apakah yang kemudian dianggap keliru itu dan telah terjadi, tidak perlulah kita ikut berkontribusi meluruskannya (bila memang pikiran kita yang lurus/lebih benar) dan kita biarkan saja kekeliruan itu terjadi dan semakin terjadi hanya karena ada petunjuk (sunnah nabi) untuk tidak mempermasalahkannya (baca : memahaminya) pada spirit usaha dan keberagamaan.
    Karena takdir juga dijelaskan begitu gamblang di AQ, maka apakah kita harus menyembunyikan pengetahuan kita (benar atau salah thd pengetahuan itu). Tentulah AQ menjelaskan, dan kita diajarkan untuk menyikapinyanya dan memahaminya….
    Salam selalu untuk Mas Shodiq yang penuh inspirasi….

    haniifa said:
    6 Mei 2008 pukul 10:13

    “Lebih baik kami berusaha menghargai, memahami, dan memaklumi berbagai pandangan orang lain yang berbeda itu.”
    Setuju mas, mengingatkan saya bahwa perbedaan itu “Anugrah”…

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s