Nabi Muhammad bukan untuk dibandingkan, tapi….

Posted on Updated on

Pekan lalu, seraya memperlihatkan kisah cinta Nabi Muhammad saw yang relevan, saya mengungkapkan secara terbuka bahwa “Nabi Muhammad pun pernah menjalin cinta yang kemudian terputus“. Lalu seorang sahabat (bernama nugon) melancarkan kritik yang cukup tajam di sana dan di sana.

Di sana, sahabat saya itu menyampaikan:

Pertama, harus ada klarifikasi riwayat sejarah, hadits dan kekuatannya, apalagi ini menyangkut pribadi Nabi tercinta, Habibinaa Nabiyyinaa Muhammad saw. Apalagi bila kita mencantumkan novel..bukan sejarah..bukan hadits. ini mestinya lebih hati-hati.

Kedua, tidak semua prilaku Nabi yg terekam dlm hadits, tarikh (tdk utk novel ya)…dapat menjadi pijakan utk amal ibadah. Ada yg khususiyah utk Nabi belaka, seperti puasa wishol, wajibnya siwak, wajibnya qiyamul-lail, menikah dgn istri lebih dari 4, janda (istri yg ditinggalkannya) tdk boleh dinikahi, dsb. Apalagi perbuatan sebelum diangkat sebagai Nabi, jelas tdk bisa dijadikan pijakan utk pembenaran suatu amal.

Ketiga, yg terpenting, perlu kita menjaga adab thd Nabi Muhammad saw. Berbicara hal yg akan mengundang polemik terkait pribadi Nabi Muhammad saw, dihindarkan, dan ini merupakan adab serta barometer moral kita sebagai muslim. Ini prilaku shohabat rodhiyalloohu ‘anhum, harus diteladani.

Maaf Mas Shodiq, utk pertama kalinya ane keberatan dan protes berat atas artikel ini, tdk ada celah utk udzur memaklumi dan memahami, dan tdk kuat secara Syari’ah.

Selain dalilnya belum dirinci dgn jelas derajat kekuatannya, dan apakah mansukh atau tdk…juga cara penyampaiannya menurut ane mengundang polemik, ini tdk boleh dilakukan bila terkait dgn pribadi Nabi Muhammad saw. Apalagi referensinya novel.

Maaf, ini rasanya seperti bukan gaya penulisan Mas Shodiq yg biasa Mas Shodiq lakukan, kendati ada nuansa khusus, namun tetap obyektif dan menjaga batasan agam.

Juga bukan gaya penulisan idola kita, alm. Buya Hamka (semoga Allah mengampuninya dan merahmatinya).

Astaghfirullooh lii wa lakum.

Kemudian, mungkin setelah sahabat saya itu membaca satu artikel lainnya di sana, dia menyampaikan tambahan:

Mas Shodiq, pertanyaan yg menjurus, atau provokatif, seperti yg diajukan penanya ttg novel, dan sejenisnya, tdk usah diladeni, atau diladeni dgn bijak, dan bila ingin dipublikasikan, yah disunting dulu.

Maaf ane agak sensi, karena menurut ane ini mengundang polemik, dan sudah terkait langsung ke pribadi Nabi Muhammad saw.

Sahabat saja malu membicarakan dan membandingkan tangan Nabi Muhamamd saw (bisa dibaca dlm buku-buku Aqidah dari komunitas Ikhwanul Muslimin, terutama pd buku Aqidah Salaf dan Khalaf karya Syeikh Yusuf Al-Qaradhowi), apalagi kalau terkait topik ini, kita harus lebih hati-hati dan menjaga adab.

Itu saja kritikan ane, sudah lebih dari cukup…Sisanya, kembalilah ke jalur dan misi penulisan semula. Ditunggu jawaban…dan yg paling penting realisasinya.

Astaghfirullooh lii wa lakum.

Terhadap masukan tersebut, tanggapan saya adalah sebagai berikut.

0) Mas Nugon yang saya cintai karena Allah… Terima kasih atas kritikannya. Doakan mudah-mudahan kami lebih santun lagi dalam menulis.

1) Mohon bedakan antara kutipan dan kata-kata saya sendiri. Kisah di awal artikel tersebut dikemukakan oleh seorang pembaca novel “Muhammad Sang Pembebas: Sebuah Roman Sejarah” karya Abd al Rahman Asy-Syarqawi (Penerbit Mitra Pusaka, Jogjakarta). Di bagian bawahnyalah kami terangkan tanggapan kami terhadap kisah tersebut. Kami mengambilnya dari sebuah kitab siroh yang terkemuka, yaitu Tarikh al-Tabari. (Apakah merujuk ke kitab ini menunjukkan ketidakhati-hatian kami?)

Jadi, referensi kami adalah kitab tarikh tersebut, bukan novelnya. Justru dengan tanggapan itulah kami bermaksud mengalihkan perhatian si penanya (dan para pembaca) agar beralih dari novel (yang fiktif) ke tarikh (yang ilimiah). Apabila maksud ini tidak ditangkap, mungkin itu terjadi karena kebodohan kami dalam merangkai kata, yang jauh dari kesantunan seorang Buya Hamka, apalagi Nabi junjungan kita Muhammad saw.

2) Kami setuju, tidak semua prilaku Nabi yg terekam dlm hadits, tarikh dapat menjadi pijakan utk amal kita. Ada yang khusus bagi beliau. Namun kaidah ushul fiqih menetapkan bahwa penetapan pengkhususan itu harus disertai dengan dalil yang secara qath’i menunjukkan pengkhususan itu.

Untuk aktivitas pranikah Nabi Muhammad saw, walaupun terjadi sebelum beliau menjadi rasul, kami tidak pernah menjumpai dalil yang secara qath’i menunjukkan pengkhususan itu. Apabila mas nugon atau saudara kita lainnya mengetahui adanya dalil pengkhususan itu (yang qath’i), mohon beritahu kami supaya kami dapat meralat artikel di atas.

3) Mohon nasihati kami, batasan agama yang manakah yang kami langgar di artikel ini? Artikel ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan seorang pembaca. Dalam menjawabnya, haruskah kita sembunyikan sunnah Nabi?

Kami tidak bermaksud membandingkan sunnah tersebut dengan tradisi kita. Yang kami kehendaki adalah menjadikan sunnah beliau itu sebagai teladan kita.

4) Terima kasih atas kritik dan sarannya. Mungkin kami memang “sok ilmiah” dengan mengutip kata-kata si penanya apa adanya tanpa menyuntingnya. Mungkin juga itu karena kami terlalu terpaku pada ikhtiar efisiensi waktu.

Di lain kesempatan, saya akan lebih berhati-hati, insya’Allah. Jika masih kurang hati-hati, silakan tegur saya lagi!

Demi waktu,
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
(QS al’Ashr [103]: 1-3)

Wallaahu a’lam.

Iklan

3 respons untuk ‘Nabi Muhammad bukan untuk dibandingkan, tapi….

    Nugroho Laison said:
    15 Juli 2008 pukul 10:41

    Terima kasih banyak atas tanggapan dari Mas Shodiq.

    Ane setuju banyak hal dari tanggapan tsb.

    Namun perlu ane tegaskan bahwa walaupun yang Mas katakan benar, tetapi jangan lupakan bahwa orang lebih sering memperhatikan alur dan gaya penulisan ketimbang konten atau inti pesan yg disampaikan.

    Dan sejujurnya, nuansa `kurang pas` itu yg ane dan banyak rekan pembaca lain tangkap, walau konten nya bagus.

    Jadi Mas Shodiq menangkap dgn baik maksud ane, sesuai tag blog ini, “Nabi Muhammd bukan untuk dibandingkan”, walau ada tapi nya =)

    Kemudian terkait tarikh dari Thabari, bukan hanya tarikhnya saja, bahkan juga haditsnya…buku-buku terkait dari Imam Thabari merupakan kompilasi ilmiah berbagai referensi yg mempunyai berbagai macam kedudukan, baik yg shohih sampai yg dhoif (atau lebih?), mutawatir sampai ahad, dsb. Mengutipnya, harus dijelaskan detail riwayat kekuatannya dan rujukan pembanding, termasuk dari Imam Thabari sendiri. Karena 1 topik saja, bisa ada beragam dokumentasi hadits dan tarikh di kitab-kitab yg sama dari karya Imam Thabari.

    Juga karena referensi dari Thabari sering dieksploitasi dan dimanipulasi demi tendensi kepentingan aliran tertentu, seperti Syi’ah, JIL, Mu’tazilah, bahkan juga Orientalisme utk Kristenisasi.

    Ini sering ane alami terutama utk dipakai oleh para evangelisme dlm mengkristenkan orang awam dgn rujukan dan `tambal-sulam’ atau ‘guntingan’ dari buku-buku Imam Thabari. Dan artikel atau buku ini beberapa kali ane dapatkan dan baca dari Mama ane yg masih kristiani, yg ingin anaknya `selamat` menurut versinya (Semoga Allah memberi Hidayah kpd Mama ane dan saudara-saudara/keluarga ane yg masih non-muslim utk kembali kpd Islam, Aamiin).

    Jadi mohon dimaklumi oleh Mas Shodiq dan rekan pembaca lainnya.

    Last, soal khususiyah, memang ane tdk memaksudkan apakah kebiasaan hidup Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi Nabi itu tdk boleh jadi dalil atau tdk, apakah khusus utk Nabi atau tdk…. ane hanya memberi pesan secara global, bahwa intinya berhati-hati dlm menjadikan tradisi/kebiasaan hidup Nabi Muhammad saw menjadi dalil atas pendapat/opini/pemikiran kita. Itu saja.

    Mohon maaf pula bila kata-kata pd pesan ini atau kritikan yg lalu terlalu keras, kurang santun, dan kurang bijak…belum mengikuti teladan Nabi Muhammad saw dlm memberi nasehat dan teguran.

    Semoga dimaklumi dan dipahami inti maksudnya.

    Yg benar dari Allah semata, yg salah dari pribdi ane belaka.
    Allah swt dan Rasulullah saw terlepas dari segala kesalahan, kekhilafan, dan kebodohan ane.

    Astaghfirulooh lii wa lakum.
    Wassalam,

    Nugon

    Sawali Tuhusetya said:
    17 Juli 2008 pukul 10:56

    wah, diskusi tentang persoalan teks fiksi dan agama agaknya akan terus menarik, pak shodiq. sebatas sebagai diskusi dan share, masukan dan kritik sepedas apapun masih bisa ditolerir kok, pak. yang repot kalau berdiskusi lebih mengedepakan sikap “asal benar”. semangat, pak!

    Tanggapan M Shodiq Mustika:
    Terima kasih, Pak. Dorongannya menyegarkan. Pak Sawali benar-benar sangat cocok jadi pendidik. 🙂

    v2love said:
    5 Mei 2009 pukul 14:53

    Alhamdulilah,rasanya pintu keheningan jiwa ana terbuka setelah membaca tulisan diatas,kalo ana sih cuman mau berkata “sallu a’lannaby” mudah mudahan kita selalu ingat dan mengidolakan junjungan kita,kekasih kita,imam kita nabi besar MUHAMMAD S.A.W.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s