Kunci Sukses 4: Kesan Pembaca

Posted on Updated on

Kesan di hati atau di benak pembaca mungkin bisa sangat samar, bisa pula sangat gamblang. Tapi yang pasti, kesan-kesan itulah yang akan mempengaruhi pembaca. Pengaruhnya menjadikan pembaca merasa terinspirasi, terhibur, berdebar-debar, dsb. Dengan kesan begitulah pembaca ingin melanjutkan pembacaan. Ini jugalah yang akan mendorong pembaca untuk berbagi kesan positif kepada orang lain. Misalnya, “Buku ini bagus banget. Kamu wajib baca, tuh!”

Nah, penyebarluasan kesan positif “dari mulut ke mulut” seperti itu sangat efektif, bahkan paling efektif dalam mendongkrak penjualan buku. Enak, ‘kan? Yang lebih enak lagi, promosi yang amat efektif tersebut gratis, tanpa modal sedikit pun. Kita selaku penulis sama sekali tidak perlu mengerahkan dana, bahkan juga waktu dan tenaga. Inilah sebabnya kunci sukses yang keempat ini sebetulnya layak ditempatkan di nomor satu sebagai salah satu dari 7 kunci sukses menulis buku best-seller.

Supaya tumbuh kesan positif di hati dan benak pembaca, karya tulis kita hendaknya memenuhi enam daya sebagai berikut: [1]. Daya pikat, [2]. Daya rangsang, [3]. Daya tanya, [4]. Daya libat, [5]. Daya kejut. [6]. Daya guna.

Mau tahu caranya? Baiklah. Berikut ini saya kutipkan penjelasan dari Ciu Cahyono pada pertemuan Proses Penulisan Puisi dan Cerpen untuk SMP-SMU di Perpusda Blora, 2-3 Agustus 2006 . (Meskipun yang penjelasannya mengenai karya fiksi, sebenarnya itu berlaku pula bagi nonfiksi.)

[1]. Daya pikat.

Pertama kali yang dibaca pembaca adalah judul. Dalam sebuah karangan fiksi, judul memiliki kekuatan tersendiri. Untuk itu, pengarang mesti pandai dan jeli membuat judul. Judul haruslah relevan (sesuai dengan isi fiksi), provokatif, mudah diingat, dan mengajak orang mengira-ira seberapa bagus isi fiksi.

Contoh: Kening Seorang Pelacur. Ini adalah pilihan judul yang menarik, jika dibanding dengan Kening, meskipun judul Kening relevan pula dengan isi fiksinya. Pilihan judul yang pertama akan membuat pembaca bertanya “ada apa dengan kening seorang pelacur?” atau “apakah kening pelacur dalam cerita ini beda dengan kening pelacur lainnya?” atau “apa beda kening seorang pelacur dengan kening seorang pelajar?”. Sementara pilihan judul yang kedua kurang memberi kesempatan pada pembaca untuk menebak-nebak.

[2]. Daya rangsang.

Pengarang harus pandai mengkondisikan pembaca untuk tetap membaca. Ini mesti dilakukan pengarang sejak paragraf pertama, bahkan sejak kalimat awal. Daya ini erat sekali dengan imajinasi yang terbentuk dalam kepala pembaca setelah judul dan bagian pertama karangan fiksi dibaca.

Ada banyak cara pengarang merangsang imajinasi pembaca di bagian pertama karangan fiksi. Misalnya, dengan melukiskan dulu seting tempat cerita yang unik.

Contoh: Pintu rumah tua yang diapit dua jendela itu seperti susunan hidung dan mata. Hidung dan mata milik seorang lelaki tua yang menyeramkan. Dinding di sekitar pintu dan jendela tampak mengelupas, ada sayatan-sayatan tegas di sana. Seperti keriput di wajah pemilik rumah. Jika malam tiba, dan lampu menerobos korden jendela, dua jendela itu seperti tengah memelototi siapapun yang lewat di depan rumah…

Selain itu, pengarang bisa pula menggabungkan daya rangsang ini dengan penggunaan plot. Itu artinya, di bagian pertama karangan fiksi, pengarang tiba-tiba menempatkan sebuah kejadian, atau akhir kejadian yang heboh.

Contoh: “Kau membunuh pengemis itu?!”

[3]. Daya tanya.

Daya ini bisa diusahakan atau diletakkan oleh pengarang di bagian mana saja dari karangan fiksi, agar pembaca ingin terus membaca dan mencari jawaban dari teka-teki cerita. Cerita-cerita detektif seringkali menggunakan daya ini di hampir semua bagian cerita, dari awal hingga menjelang akhir cerita.

[4]. Daya libat.

Daya ini digunakan pengarang untuk membuat pembaca hanyut ke dalam cerita; seolah-olah pembaca menjadi tokoh cerita dan terlibat dalam kejadian-kejadian yang dialami tokoh cerita. Daya ini digunakan pengarang untuk membuat pembaca dalam kondisi: ber-simpati, ber-antipati, ataupun ber-empati.

[5]. Daya kejut.

Pengarang menggunakan daya ini agar pembaca memberi kesan-kesan tertentu yang lebih nyata. Misalnya, dengan menguasai daya kejut, pengarang bisa membelokkan jalan cerita dengan logis. Daya kejut ini bisa berdampak macam-macam kepada pembaca. Ada pembaca yang merasa tersentak, merasa tebakannya keliru, karena jalan cerita dalam karangan fiksi yang dibaca ternyata beda dengan jalan cerita yang dibayangkan. Jadi, tak aneh bila ada pembaca yang setelah membaca karangan fiksi berteriak: “Walah, ternyata begini!”, atau “Malahan dia yang membunuh?!”.

Daya ini pun bisa menimbulkan respon pembaca yang nyata dalam artian fisik. Misalkan pada cerita-cerita horor. Seringkali cerita horor membuat bulu kuduk pembaca berdiri, merasa tercekam, dst.

[6]. Daya guna.

Karangan fiksi bisa menjadi sebuah ajakan, bisa membuat pembaca memiliki pemahaman baru yang lebih baik tentang sesuatu. Dan bisa pula menjadi obat, karena banyak orang yang putus-asa menjadi ‘bangkit’ kembali setelah membaca karangan fiksi. Ini suatu misal.

Bagaimanapun, pengarang harus menyadari kegunaan dari karangan yang ditulisnya, bagi pembaca. Daya guna ini muncul bersamaan dengan munculnya ide atau gagasan cerita dalam kepala pengarang.

Sebagai contoh mudahnya, jika menulis kisah tentang penderitaan para pengungsi korban bencana alam, pengarang hendaknya tak hanya mengarang fiksi yang membuat pembaca menangis dan sedih. Lebih dari itu, dengan karangannya, pengarang hendaknya bisa menggerakkan hati pembaca untuk turut meringankan penderitaan pengungsi.

Oh ya, untuk artikel terkait, lihat Cara Menyulap Cerita Biasa Menjadi Kisah Dramatis.

Demikianlah. Semoga sukses menulis.

Iklan

One thought on “Kunci Sukses 4: Kesan Pembaca

    sitijenang said:
    14 Agustus 2008 pukul 20:39

    kalo nulis artikel pendek sih sudah terbiasa. tapi, kalo sampek menjadi buku… lha itu kayaknya belom kebayang. mungkin suatu saat saya coba aja, sapa tau lama-lama jadi juga. :mrgreen:

    salam jumpa lagi, pak. sayang nih kok sekarang di sini sepi.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s