Curhat: Pilih pacaran atau taaruf?

Posted on Updated on

Pilih langsung pacaran, takut mendekati zina. Pilih taaruf saja, takut tidak ada komitmen yang jelas. Begitulah “dilema” yang dulu ada dalam pikiran “dewi ashuro”, seorang pembaca blog ini. Belakangan, dengan berpandangan secara luas, ia mampu mengatasi “dilema” itu.

Dengan pandangan yang luas pula, ia memperhatikan bahwa hubungan antara pria dan wanita itu bukan melulu mengenai hal-hal seksual, melainkan juga….

Ah, tidak perlulah sekarang saya berpanjang lebar menanggapinya. Toh belum lama ini, di blog ini pula, saya pernah membicarakan efektivitas pacaran dan taaruf.

Tujuan saya kali ini terutama adalah mendengar suara “umat” dan mengajak Anda untuk juga mendengarkannya. Untuk itu, langsung saja marilah kita perhatikan kata-kata Dewi Ashuro yang saya kutipkan di bawah ini.

wah, beruntung sekali saya, saat sedang iseng googling menemukan blog yang seru seperti ini.. hehe..

perbincangan seperti ini memang kerap jd issue yang seru dan banyak dibicarakan, terutama saat saya kuliah dulu.

dengan teman saya, kita tertarik untuk membandingkan antara pacaran dan taaruf, yang akhirnya membuat kami mengambil konklusi yang kalo dipikir2 sekarang dekat dengan kesetujuan atas pacaran islami.

hasil perbincangan sore kami sambil ngemil ini adalah sbb (sekedar sharing..);

keuntungan dari pacaran adalah adanya komitmen. sedangkan kerugian dari taaruf adalah tidak adanya komitmen yang jelas.

berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman, komitmen membuat kita belajar untuk menjadi setia, belajar untuk bersabar. saat kita memutuskan untuk pacaran, berarti kita belajar untuk mengenali seseorang, mengetahui kebaikan dan kekurangannya, berusaha bersama untuk saling bertoleransi, dan melengkapi.

hal ini tidak dapat diberikan oleh taaruf. ada beberapa pengalaman teman perempuan yang berkisah tentang kekecewaannya pada orang yang sedang taaruf dengannya, tiba2 pergi tanpa pesan, tiba2 terdengar sedang taaruf dengan perempuan. tidak ada kepastian. dengan mudahnya bisa berpaling bila ternyata memang tidak cocok. tidak ada pembelajaran tentang menekan ego.

keuntungan dari taaruf, menghindari adanya kontak fisik. dengan hukum taaruf, seseorang dapat mengenal seseorang dengan tetap bersikap hormat. tidak melewati batas2 berlebihan dan menghindari adanya kekhilafan. betul sekali apa yang sudah dibahas oleh rekan2 sebelumnya, yang namanya manusianya pasti ada hawa nafsu.

dengan berpacaran, ada beberapa pengalaman (baik pribadi maupun beberapa orang) yang tidak bisa menahan diri dalam melakukan kontak fisik. akhirnya yang timbul bisa jadi jahat. jahat sama diri sendiri, dan jahat sama orang lain, karena membiarkan diri bergelimang dosa karena zina.

mungkin disini ada yang komentar, pacaran juga ga selalu memberikan komitmen, (bahkan nikah pun ga selalu menjamin komitmen), dan taarufnya bisa saja kelepasan kontak fisik. yah, memang begitu ilmu tentang manusia, tidak ada yang pasti. tidak seperti ilmu alam.

naaah, dari sini, kita menyimpulkan kita butuh nih komitmennya, tapi kita juga butuh hindari zinanya.

lalu sekarang ada konsep pacaran islami. kalo saya pribadi sih, daripada ada pihak yang tersinggung, biasanya menggunakan istilah pacaran yang tau batas. pacaran yang positif.

saya berusaha melihat sudut pandang lain dari pacaran. seperti yang ditentang dalam pacaran, adalah kontak fisik yang berlebihan batas, zina. kesannya hal yang sangat mendominasi manusia itu adalah hawa nafsu, kebutuhan biologis. padahal selain itu manusia juga punya pikiran (kognisi), dan perasaan (afeksi). rasa2nya kok, apa yang disampaikan aga timpang.

hindari pacaran hindari zina, ayo menikah, menikah untuk menghindari zina. kesannya orang itu yang ada di otaknya zina saja. saya sendiri melihat dan memilih pacaran, menikah, atau menjalin hubungan dengan lawan jenis itu lebih dari sekedar untuk berzina/menghindari zina. masih banyak faktor lain kok.

saya mau belajar berbagi, mengasihi, tertawa, berargumen, merencanakan masa depan, shoulder to cry on, menerima, memberi, menghargai, menghormati dll dsb. saya mau mencintai.

dan karena saya mau mencintai, saya berusaha tidak merusak cinta itu dengan perbuatan yang akhirnya akan menyakiti diri saya, dan orang lain (entah zina, entah selingkuh, entah menipu)

ini pendapat saya, saya tidak pakai hadist atau pun penelitian. toh menurut saya, cinta itu urusannya lebih banyak dengan hati. hehe..

love & peace,

dewi ashuro

11 thoughts on “Curhat: Pilih pacaran atau taaruf?

    Rommy said:
    20 Agustus 2008 pukul 09:22

    tiada hal yang lebih memuliakan antara hubungan lelaki dan perempuan kecuali dengan taaruf, lebih bisa menjaga kehormatan……….taaruf bukan berarti ga gaul……………….

    an1k03a said:
    20 Agustus 2008 pukul 13:31

    Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca. Anda bisa lebih mempromosikan artikel Anda di infoGue.com dan jadikan artikel Anda Topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://www.infogue.com
    http://18-thn.infogue.com/curhat_pilih_pacaran_atau_taaruf_

    bijakfajar said:
    21 Agustus 2008 pukul 08:50

    b’arti yang salah bukan ta’arufnya…
    tapi oknum yang menyelewengkan ta’aruf tsb…

    lischantik said:
    24 Agustus 2008 pukul 08:32

    pacaran & taaruf masing2 memiliki sisi negatif & positif. Trserah masing2 individu mau pilih jalan yg mana. Lilis salut bgt tuk penulis coz apa yg di ulasnya bener2 sesuai realita yg ada🙂

    rahma said:
    28 Agustus 2008 pukul 11:33

    assalamulaikum
    allah sudah sangat jelas melarang kita untuk pacaran,
    masalah ta’aruf memang jelas, yaitu menghindari fitnah…..
    jadi tergantung2 ukhti2 menanggapi mana yang baik dan mana yg tidak baik.
    jangan lah terperangkap oleh kenikmatan duniawi. jadi jagalah akhlak kita, sebagai muslim yang baik.
    wassalamulaikum

    herman syah said:
    13 Maret 2009 pukul 21:13

    di balik semua itu yang terbaik adalah menghalalkan hubungan itu sendiri
    yaitu menikah……….

    M Shodiq Mustika responded:
    14 Maret 2009 pukul 23:17

    @ all
    Di artikel di atas sudah kusampaikan: “Tujuan saya kali ini terutama adalah mendengar suara “umat” dan mengajak Anda untuk juga mendengarkannya.

    triyono said:
    20 Maret 2009 pukul 23:01

    dengan membaca ini, insya allah kita akan lebih mengerti apa itu pacaran dan apa itu taaruf

    foodnature said:
    25 April 2009 pukul 15:22

    tapi boleh saya rasa pacaran adalah ta’aruf juga karna dari segi bahasa ta’aruf adalah saling mengenal. masa pacaran tidak saling mengenal. Mohon petunjuk..

      M Shodiq Mustika responded:
      25 April 2009 pukul 16:43

      @ foodnature
      Makna asli kata “pacaran” adalah persiapan nikah. Kalau mau siap nikah sesuai dengan “kriteria siap menikah“, tentu saja dibutuhkan saling mengenal lebih dulu.

    awam said:
    7 Juli 2009 pukul 05:21

    Quote M shodiq Mustika:
    makna asli kata “pacaran” adalah persiapan nikah. Kalau mau siap nikah sesuai dengan “kriteria siap menikah“, tentu saja dibutuhkan saling mengenal lebih dulu.
    ——————————————————————————
    sensi sama halaqah yaa ust???
    tad, sori neh, pacaran menurut ust tuh beda kaleeee sm org2 awam kayak saya!cape deh,,

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s