Ramadhan tiba, pacaran yuk!

Posted on Updated on

Tadinya, sesuai “antrian” pengunjung yang berkonsultasi di blog ini, hari ini aku akan memposting artikel mengenai cara supaya tidak kecanduan masturbasi. Tapi kemudian aku ingat, sudah dua kali berturut-turut kubahas persoalan seksual, yaitu Ciuman dalam Pacaran dan Masih perawankah bila jari tangan masuk ke vagina. Jika saat ini aku memposting tulisan tentang persoalan seksual lagi, maka mungkin itu sudah berlebihan. Sebab, seperti yang dikatakan oleh flanker (seorang pengunjung blog ini), unsur terpenting dalam pacaran yang sehat (atau islami) bukanlah hubungan lahiriah, melainkan batiniah. Oleh karena itu, postingan mengenai cara supaya tidak kecanduan masturbasi itu kutunda dulu saja. Kupikir, sekarang sebaiknya kita bicara mengenai hubungan antara pacaran dan bulan Ramadhan.

Setahun yang lalu, aku sudah membahas persoalan ini dalam empat artikel. Sekarang, di sini aku hendak merangkum artikel-artikel tersebut.

Di artikel pertama kusebutkan bahwa Ramadhan merupakan saat terbaik untuk pacaran. Seorang pembaca (bernama Yeni Setiawan) menyambutnya dengan kata-kata:

benar sekali judul tulisan ini. di bulan ramadan, dulu pas pacaran kami malah bisa saling menjaga satu sama lain.. seandainya setiap bulan adalah ramadhan..

Mengapa di bulan Ramadhan, kita lebih bisa “saling menjaga satu sama lain”? Sebab, semua setan dibelenggu di bulan ini. Rasulullah saw. bersabda: Ketika tiba [bulan] Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah semua syetan. (HR Bukhari & Muslim, dari Abu Hurairah r.a.)

Selain itu, puasa merupakan tameng terhadap berbagai nafsu. Rasulullah saw. bersabda: Dan siapa pun belum mampu [menikah], hendaklah ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu merupakan perisai baginya. (HR Bukhari & Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud r.a.) Dengan perisai itulah kita menjadi lebih mampu mengendalikan berbagai nafsu kita, termasuk birahi. Jadi, jelaslah bahwa Ramadhan merupakan peluang emas untuk pacaran secara islami.

Untuk memanfaatkan peluang emas ini, silakan simak Panduan Pacaran di Bulan Ramadhan.

Lantas, apakah sebaiknya kita memenuhi bulan Ramadhan untuk pacaran saja tanpa menggiatkan ibadah formal seperti shalat? TIDAK. Dari pernyataan bahwa “saat terbaik untuk pacaran adalah di bulan Ramadhan” TIDAK dapat disimpulkan bahwa “Ramadhan adalah saat untuk pacaran saja (sedangkan aktivitas lainnya dikesampingkan).” Bandingkan dengan pernyataan bahwa “saat terbaik untuk reuni adalah di bulan Syawal”. Dari pernyataan ini, tentu TIDAK dapat kita simpulkan bahwa “Syawal adalah saat untuk reuni saja (sedangkan aktivitas lainnya dikesampingkan).”

Oleh karena itu, disamping sibuk bercinta secara islami, kita mestinya juga sibuk mengerjakan amal-amal islami lainnya. Inilah yang harus kita perbuat supaya amal puasa kita tidak menjadi sia-sia lantaran pacaran.

Benarlah kesimpulan Feisal Rahmady dalam menanggapi artikel Panduan Pacaran di bulan Ramadhan:

“Pacaran” itu cm status..yg ada di hati kita,,kalo pacaran sehat itu ya berbuat sebaik2nya terhadap org yg qta sayang.. dimana qta harus menjaga diri untuk tidak merusak kesucian, harga diri, harkat dan martabat org lain,,(sikap toleransi lah..)

Intinya, hendaknya kita memperlakukan pacaran itu sebagai aktivitas “beribadah” supaya kita lebih dekat kepada Sang Maha Penyayang. Untuk itu, di dalam pacaran, terutama di bulan Ramadhan, hendaklah kita lakukan aktivitas yang membuat Dia semakin cinta kepada kita, bukan yang menjadikan Dia murka!

4 thoughts on “Ramadhan tiba, pacaran yuk!

    an1k03a said:
    2 September 2008 pukul 10:33

    Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca. Anda bisa lebih mempromosikan artikel Anda di infoGue.com dan jadikan artikel Anda Topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://18-thn.infogue.com/ramadhan_tiba_pacaran_yuk_

    doel said:
    14 Oktober 2008 pukul 17:05

    http://pacaranislamikenapa.wordpress.com/2008/09/08/yang-menang-dan-yang-gagal/

    menulis
    Andakah Yang Bisa Menahan Hawa Nafsu?

    Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    ‘Menarik’ sekali membaca seluruh tulisan2 SPPI, apalagi terkait dengan komentar SPPI dan para pendukung pacaran islami yang berhujung kepada sebuah kesimpulan yang “dahsyat”. Sebelum saya nyatakan kesimpulannya seperti apa, ada baiknya kita lihat komentar2 mereka.

    adit berkata “saya normal kok, tapi alhamdulillah bisa jaga syahwat. saya yakin juga banyak yang seperti saya.”

    SPPI berkata “Bagi kita sudah jelas, kepada yang cenderung tidak kuat menahan nafsu syahwat, kita berseru: jangan pacaran! Sungguhpun demikian, kita perlu menghargai saudara-saudara kita yang mampu menjaga diri ketika pacaran (termasuk Adit, Az-Zaitun, dan teman-temanku dulu di UGM, IKIP Yogya (skarang UNY), dan IAIN (skarang UIN) Jogja)”

    Kaezzar berkata “Waduh, maaf mas…
    Masa iya karena mas dulu g kuku nahan nafsu, terus semua org jadi dijustifikasi ngga bakal mampu juga….lha piye iki tho?”

    Kira2 3 komentar diatas sudah cukup untuk menunjukkan siapa mereka(baca: SPPI dan para pendukung pacaran islami secara sadar). Mereka adalah orang-orang normal, yang punya syahwat dan mengaku bisa ‘menjaganya’, sehingga untuk itu mereka “MENGKLAIM” bahwa hanya orang2 seperti mereka lah yang boleh melakukan pacaran islami tadi dan meminta semua orang menghargai tindakan mereka. Bagi orang-orang yang cenderung tidak kuat ‘menahan’ nafsu kepada orang2 tersebut, mereka berkata “jangan pacaran!”.

    Ini yang saya sebut sebagai kesimpulan yang “dahsyat”. Jadi teringat sebuah ayat, Allah SWT berfirman, “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati” (QS Al Mu’min :19) , terhadap ayat ini Ibnu Abbas RA berkata “Yaitu seorang laki2 yang masuk ke sebuah penghuni rumah (bertamu) yang didalamnya terdapat seorang wanita cantik, atau wanita itu sedang melewatinya. Jika mereka(wanita tadi dan penghuni rumah –ed), dia (laki2 itu) pun menoleh kepada wanita itu dan jika mereka mengawasi, dia pun menahan pandangannya. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui hatinya yang berkeinginan seandainya dia berhasil melihat auratnya” (HR Ibnu Abi Hatim).*

    Rasanya tidak perlu pacaran, terkadang dengan ’sengaja’ kita melepaskan pandangan ke arah wanita yang kita ’sukai’ kecantikannya, kemolekan tubuhnya, dan lain-lain. Dan rasanya tidak terlalu sulit menemukan ‘pemandangan’(baca: aurat2 yang diumbar) seperti itu, didalam rumah pun ada melalui TV, Film, Internet dan lain sebagainya. Padahal pandangan mata adalah stimulus utama yang mendorong setiap manusia untuk melakukan zina berikutnya(zina mata -> zina lisan -> zina tangan->zina kaki-> zina hati->dan zina farji/kemaluan). Maha benar Allah SWT dengan firmanNya, dan maha benar sabda Rasulullah SAW. Untuk itu rasulullah SAW bersabda “Setiap anak adam telah ditulis baginya bagian dari zina. Ia pasti melakukannya tanpa bisa dihindari, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara, zina telinga adalah mendengar, zina tangan adalah menggunakannya, zina kaki adalah melangkah, jiwa berharap dan berhasrat, dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakannya”(HR Bukhari dan Muslim).

    Dan karena itu juga Al Quran sebagai landasan utama sumber hukum dalam Islam, ketika berbicara tentang perintah agar menjauhi zina, maka selalu diawali dengan menjaga pandangan (QS Annur:30 – 31, QS Al Mu’min :19). Karena berawal dari pandangan mata lah perbuatan zina itu terjadi, dan itu bersesuaian dengan sabda rasulullah SAW diatas. Hanya saja sebagian orang mengira bahwa ketika nuraninya tidak terusik dengan pemandangan2 bertabur aurat, maka hal itu dianggap sebagai sebuah pengendalian atas hawa nafsunya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah, “sense of nurani” mereka untuk mengenali maksiat mata itu telah menjadi lemah, karena seringnya mereka menggunakan mata untuk melihat hal2 yang haram. Begitu juga yang terjadi ketika bersentuhan dengan lawan jenis, setiap laki2 dan wanita yang normal, pada saat pertama kali bersentuhan dengan lawan jenis pasti akan merasakan sesuatu yang mengalir didalam darah, itulah yang dinamakan dengan syahwat. Tetapi ketika kita sering mempraktekkan hal ‘itu’, “sense of nurani” kita untuk mengenali bahwa hal itu adalah syahwat yang berpotensi kepada zina besar pun melemah, dan kita akhirnya tidak ‘merasakan’ apa-apa lagi, celakanya hal ini kita anggap sebagai sebuah ‘keberhasilan’ atas pengendalian hawa nafsu kita, na’udzubillah.

    Perkara merasa diri sudah bisa menjaga hawa nafsu itu, biarlah Allah SWT yang menjadi Saksi yang Maha Adil terhadap hal itu, tetapi perkara mendekati zina adalah perkara yang tidak mungkin bisa dihindari oleh setiap anak adam. Yang pasti bagi mereka yang tidak berpacaran, potensi ke arah itu semakin sempit, dan bagi mereka yang berpacaran, potensi ke arah itu semakin terbuka, itulah keyakinan yang pasti berdasarkan dalil2 yang kuat. Sebagai penutup mari kita berdoa, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS Al Imran :8) Aamiin, wallahu’alam wastaghfirullah li walakum

    wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    *Terjemahan tafsir Ibnu Katsir

    santi said:
    14 Oktober 2008 pukul 17:08

    AMIT-AMIT DEH! DENGAN ORANG2 KAYAK GINI! masak IYA SIH Ramadhan dipake buat pacaran lalu “saling menjaga” hebat..!! hebat!! BUKANNYA IBADAH, TADARRUS! EH, MALAH MENGKAMPANYEKAN “SAATNYA PACARAN”. KURANG AJAR!!!!

    PASTI PENDUKUNGNYA DARI KALANGAN ABG SEPERTIKU BANYAK TUH!!
    orang gila apa ya? kok bisa-bisanya keluar tulisan2 ANEH BIN AJAIB KAYAK GINI? ASTAGHFIRULLAH….

    wury said:
    16 Desember 2009 pukul 12:39

    Ass.wr.wb. Saudara pembuat blog ini, terima kasih sudah mau mempopulerkan nama saya dan yayasan PENDIDIKAN milik ALLAH ini…. mungkin saya pernah berbuat salah atau karyawan di sekolah ini kepada anda baik secara langsung maupun tidak…. saya atas nama pribadi dan karyawan saya MINTA MAAF….. semoga anda puas. Semoga Allah membukakan pintu cahaya kebaikan pada anda, saya memaafkan anda dan mendoakan semoga anda diampuni Allah, selalu mendapatkan petunjuk, berkah, rahmat dan rejeki yang banyak, selalu disayang Tuhan…. Amin.

    Wass. wr. wb. Ibu Hjh. Wury. S.pd.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s