Bolehnya Jabat Tangan Pria-Wanita

Posted on Updated on

halal bihalal Balmon Yogya 2005

Di saat lebaran, di Indonesia ada tradisi jabat tangan, termasuk antara pria-wanita yang bukan muhrim (bahkan sampai cium tangan). Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Marilah kita simak petuah/fatwa dari Abdul Halim Abu Syuqqah dan Syaikh Yusuf Qardhawi.

Abu Syuqqah menyatakan dalam Kebebasan Wanita, Jilid 2, hlm. 120-122:

Dalam hal ini, kita dapat membandingkan antara menghindarnya Rasulullah saw. dari berjabatan tangan dengan kaum wanita sewaktu melakukan bai’at dengan beberapa peristiwa ketika Rasulullah saw. menyentuh beberapa orang wanita.

Pada kondisi pertama, Rasulullah saw. menghindar dari berjabatan tangan yang merupakan salah satu bentuk dari bentuk-bentuk menyentuh yang mempunyai arti tertentu. Hal seperti itu sering terjadi pada diri Rasulullah saw. mengingat banyaknya kaum kaum laki-laki dan wanita yang ingin bertemu dengan beliau juga mengingat beragamnya acara untuk melakukan jabatan tangan, mulai menyampaikan ucapan selamat dalam bentuknya yang paling sempurna, sampai pada mohon doa dan mengharapkan keberkahan dengan cara menyentuh tangannya yang mulia untuk berbai’at masuk Islam. Jika Rasulullah saw. menghindari berjabatan tangan pada kondisi ini, … tidak harus berarti bahwa Rasulullah saw. menghindar dari semua bentuk kondisi [sentuhan dengan wanita] karena bisa jadi ada tujuan lain sehingga menyentuh wanita mewujudkan beberapa keperluan yang sifatnya jarang pada satu sisi, atau dengan wanita-wanita yang dengan mereka itu dijamin aman dari fitnah pada sisi lain.

Artinya, bahwa Rasulullah saw. tidak merasa aman dari fitnah pada kondisi yang pertama [yaitu sewaktu bai’at] bersama dengan wanita umum selain juga tidak ada alasan yang penting untuk berjabatan tangan. Sementara beliau mendapat alasan yang patut pada kondisi kedua, di samping banyaknya Rasulullah saw. berbaur dengan Ummu Haram dan saudaranya Ummu Sulaim (wanita pertama adalah bibi pesuruh Nabi saw., Anas, sementara wanita kedua adalah ibu Anas sendiri). Demikianlah Rasulullah saw. merasa aman dari fitnah bersama Ummu Haram, Ummu Sulaim, dan sejumlah wanita lainnya. Ditambahkan lagi bahwa menghindarnya Rasulullah saw. berjabatan tangan dengan kaum wanita ketika melakukan bai’at tidak berarti bahwa jabatan tangan dengan kaum wanita diharamkan secara mutlak. Selain itu, dalil-dalil yang ada pun menunjukkan kekhususan, sebab Rasulullah saw. mengatakan “aku tidak mau berjabatan tangan dengan kaum wanita” menggunakan dhamir mufrad.

Hafizh Haitsami dalam bab “Dalil-dalil Mengenai Kekhususan bagi Rasulullah saw.” mengemukakan dua hadits berikut: “Dari Abdullah bin Umar dikatakan bahwa Rasulullah saw. tidak mau berjabatan tangan dengan kaum wanita pada waktu bai’at.” (HR Ahmad) “Dari Asma binti Yazid dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan kaum wanita.'” (HR Ahmad) (Majma az-Zawa’id, Kitab: Tanda-tanda kenabian, jilid 8, hlm. 266.)

… Hal itu dapat kita artikan bahwa berjabatan tangan secara umum tidak disenangi oleh Rasulullah saw. sebagai penutup jalan (saddudz-dzara’i) guna dijadikan ajaran dan syariat bagi umatnya. Hal ini dikuatkan lagi oleh pendapat para ahli ushul fiqih yang mengatakan bahwa saddudz-dzara’i menunjukkan yang terbaik, bukan mewajibkan.

Menurut penulis, kita akan menjadi golongan orang-orang yang baik dalam mengikuti jejak Rasulullah saw, jika kita menghindarkan jabatan tangan dan menyentuh wanita pada kondisi-kondisi umum. Artinya, kita baru menyentuh wanita (berjabatan tangan) jika benar-benar [yakin] aman dari fitnah serta ada alasan yang patut, umpamanya apabila berjabatan tangan itu merupakan sarana untuk mempererat hubungan dan berbagi perasaan yang tulus antara sesama orang mukmin, seperti jabatan tangan antara karib kerabat dan teman-teman dekat pada acara-acara tertentu, khususnya seperti mengucapkan selamat bagi seseorang yang baru datang dari perjalanan jauh; berjabatan tangan untuk menghormati dan mendorong orang berbuat baik [misalnya sewaktu lebaran untuk bermaaf-maafan atau pun berkenalan]; atau untuk menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka-cita karena sesuatu musibah.

Sementara itu, Yusuf Qaradhawi menyatakan dalam Fiqih Wanita (Bandung: Jabal, 2007), hlm. 123, 125-126:

Sebagian ulama sekarang ada yang mengharamkan berjabat tangan dengan wanita dengan mengambil dalil riwayat Thabrani dan Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi saw., beliau bersabda:

Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:

1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih.”

Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya atau terdapat cacat yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun ulama terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.

2. Ulama Hanafiyah dan sebagian ulama Malikiyah mengatakan bahwa pengharaman itu tidak dapat ditetapkan kecuali dengan dalil qath’i yang tidak ada kesamaran padanya, seperti Al-Qur’anul Karim serta hadits-hadits mutawatir dan masyhur. Adapun jika ketetapan atau kesahihannya sendiri masih ada kesamaran, maka hal itu tidak lain hanyalah menunjukkan hukum makruh, seperti hadits-hadits ahad yang sahih. Maka bagaimana lagi dengan hadits yang diragukan kesahihannya?

3. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas [alias tidak qath’i]. Kalimat “menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya” itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. … [Lihat artikel “Haramkah menyentuh lawan-jenis non-muhrim?“.]

Barangsiapa menganggap bahwa lafal au laamastum an-nisa [menyentuh wanita] mencakup sentuhan biasa meskipun tidak dengan bersyahwat, maka ia telah menyimpang dari bahasa Al-Qur’an, bahkan menyimpang dari bahasa manusia [orang Arab] sebagaimana yang sudah dikenal. Sebab, jika disebutkan lafal al-mass (menyentuh) yang diiringi dengan [penyebutan lafal] laki-laki dan perempuan, maka tahulah dia [si orang Arab] bahwa yang dimaksud ialah menyentuh dengan bersyahwat, sebagaimana bila disebutkan lafal al-wath’u (yang asal artinya “menginjak”) yang diikuti dengan kata-kata laki-laki dan perempuan, maka tahulah ia bahwa yang dimaksud ialah al-wath’u dengan kemaluan (yakni bersetubuh), bukan menginjak dengan kaki.

19 thoughts on “Bolehnya Jabat Tangan Pria-Wanita

    Alfaqiir Ilallah said:
    29 September 2008 pukul 20:37

    Bismillah… semoga Allah membalas setimpal apa yang anta tulis disini… semoga Allah memberi hidayah anta bisa kembali kepada Al Haq (Alqur’an dan Asunnah) bukan mengikuti hawa nafsu dan syahwat… apalagi pesanan orang banyak dalam rangka memperbanyak pengikut…

    M Shodiq Mustika responded:
    29 September 2008 pukul 23:43

    @ Alfaqir Ilallah
    Siapakah Anda? Mengapa Anda bersangka buruk kepada Abu Syuqqah dan Yusuf Qardhawi (ulama Ikhwanul Muslimin)? Bukankah Anda sendiri sudah menyatakan, “terlalu banyak hakim jalanan disini… begitulah ilmu sejengkal..baru dapat ilmu sejengkal.. semua orang dinasehati, diberi hujjah… awas lho.. orang yang berdakwah itu termasuk yg paling duluan dihisab”?

    dir88gun said:
    23 Oktober 2008 pukul 11:04

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    – Apakah Anda ingin mengetahui penyebab hancurnya sistem kapitalis?
    – Apakah Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang situasi dan kondisi masyarakat saat ini secara global?
    – Apakah Anda ingin mengetahui tentang sistem apakah yang bisa memecahkan berbagai persoalan dalam situasi dan kondisi saat ini?

    Apabila Anda menjawab “ya!”, maka hadirilah undangan…

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    Liqo’ Syawal Umat Islam 1429 H
    Bersama Hizbut Tahrir Indonesia

    dengan tema,
    – “Saatnya Kapitalisme Hancur dan Khilafah Tegak”

    yang Insya Allah akan dilaksanakan pada,
    – hari____: Ahad
    – tanggal_: 26 Oktober 2008
    – pukul___: 08.30-11.00
    – tempat__: Masjid Al-Akbar, Surabaya

    yang diselenggarakan oleh,
    – HTI DPD Jawa Timur

    contact Person
    – Anwar Jabir (081 13465967)

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    …yang Insya Allah akan mampu menjawab pertanyaan Anda mengenai ketiga hal di atas.

    Terima kasih atas perhatian yang telah Anda berikan.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Dady Doa said:
    28 Desember 2008 pukul 07:08

    saya setuju dengan fatwa qardhawi,,namun anda harus ingat bahwa beliau mengatakan sebuah point penting: untuk menghindari adanya fitnah dan hal2 yang tidak baik, lebih baik jangan menyentuh….
    wallahu’alam

      M Shodiq Mustika responded:
      28 Desember 2008 pukul 08:25

      @ Dady Doa
      Hal “lebih baik” itu sudah saya ingat dan tidak saya lupakan. Di atas sudah saya kemukakan:

      Menurut penulis, kita akan menjadi golongan orang-orang yang baik dalam mengikuti jejak Rasulullah saw, jika kita menghindarkan jabatan tangan dan menyentuh wanita pada kondisi-kondisi umum. Artinya, kita baru menyentuh wanita (berjabatan tangan) jika benar-benar [yakin] aman dari fitnah serta ada alasan yang patut, umpamanya …

      Apakah bagian tersebut tidak terbaca oleh Anda?

    winu aji said:
    22 Mei 2009 pukul 10:26

    Aku pernah membaca dalam sebuah hadist yang di sahihkan oleh Syaik Albani tp saya lupa sanadnya InssyAlloh besok tak carikan…yang pada intinya sebagai berikut ” Lebih baik seorang laki-laki kepalanya ditusuk dengan besi panas dari pada dia menyentuh seorang wanita yang bukan muhrimnya ” bagai mana menurut anda…ini adalah kalimat yang keras menurut saya tentang dilarangnya bersentuhan antara pria dan wanita…adakah ulama yang lebih mengetahui agama ini dari pada Rassulullah ???

      M Shodiq Mustika responded:
      22 Mei 2009 pukul 10:46

      @ winu aji
      Kedudukan hadits tersebut telah diulas oleh Yusuf Qardhawi dalam postingan di atas. Apakah antum belum membacanya?

    salim said:
    23 Juni 2009 pukul 00:46

    bang anda aliran apa islam nya
    saya penasaran bang

    pak mur said:
    12 September 2009 pukul 21:44

    Penulis, M Shodiq Mustika, mengatakan, “Kedudukan hadits tersebut telah diulas oleh Yusuf Qardhawi dalam postingan di atas. Apakah antum belum membacanya? ”
    Lha wong Yusuf Qardhawi bukan ahli hadits kok mengupas hadits, ya keliru… Hadits shohih dibilang ga jelas… itulah jadinya…
    Lebih baik mengikuti Syaikh Al Albani yang mana beliau adalah ahli hadits abad ini daripada Syaikh Yusuf Qardawi yang bukan ahli hadits tapi mengupas hadits.
    Piis…ah…

      zelyindahan said:
      14 September 2009 pukul 00:38

      @ pak mur

      1) Syaikh al-Albani memang sangat dikenal sebagai ahli hadits, tetapi apakah beliau itu juga dikenal sebagai ahli ushul fiqih?
      Ketika hadits dijadikan landasan untuk mengharamkan/menghalalkan sesuatu, apakah kita hanya membutuhkan ilmu hadits tanpa ilmu ushul fiqih?

      2) Harap baca kembali kata-kata Yusuf Qardhawi dengan lebih cermat. Perhatikanlah bahwa Yusuf Qardhawi memperhatikan pandangan imam-imam hadits. Beliau menyebutkan, “imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami ….”
      Kemudian beliau juga menambahkan, “Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka ….”

    wirosablenx said:
    13 September 2009 pukul 04:12

    semakin saya baca semakin saya tambah bingung. saya mungkin termasuk golongan awam,jadi bingung yang bener yang mana.
    tapi saya juga jadi belajar, harus hati2 menerima pemikiran seseorang jika tidak ingin terjerumus ke hal2 yang nampak benar padahal jelas2 salah besar.

    santri nakal said:
    21 Desember 2009 pukul 14:52

    Albani kok diblg syekh??? waduuuh

    sau said:
    22 Desember 2009 pukul 12:22

    jadi, intinya, berjabat tangan untuk berkenalan dengan kolega atau mengucapkan selamat, tidak masalah kan?
    Yang jadi masalah kalau jabat tangannya pakai syahwat, begitu?

    terima kasih!

    hamba Allah said:
    1 Januari 2010 pukul 07:45

    wahai saudara-“ku seiman sadarilah bahwasanya syahwat itu sesuatu yang menyelinap dalam qalbu setiap manusia.bahkan ada diantara manusia yang tidak sadar bahkan memungkiri bahwa yang ia rasakan saat itu adalah termasuk kategori syahwat atau nafsu birahi karena hati mereka sudah terlalu mengikuti keinginannya sendiri sampai menjadikan mereka lengah bahkan gak mau menyadari ketergelincirannya dalam hal memahami syahwat dan itu adalah salah satu ciri dan dampak bagi orang-” yang mendahulukan akal daripada dalil naqli.pesan untuk saudaraku seiman : lebih baik menghindari dan mengambil resiko lebih kecil daripada terperosok kedalam kelengahan yang menyerang qalbu sehingga dikhawatirkan hati kitalah yang akan jadi hitam karena selalu mendahuluka ego atau nafsu kita daripada qlquran dan alhadits.semoga kita semua diberkahi disetiap langkah hidup dan pandangan hidup kita.dikasih petunjuk untuk melakukan kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucu kita .amin ya Rabballlamin…hamba Allah.

    Aku Apa Adanya said:
    23 November 2010 pukul 10:31

    Ni yang nulis artikel masih waras kan….?
    saya tidak mendapati ada dalil di atikel ini entah itu dari Al-Quran atau hadits….yang membolehkan jabat tangan pria dan wanita yg bukan mahrom yg ada malah melarangx….nah ni gimana ni bro shodiq……ada g dalil dari Al-Quran dan hadits yg membolehkan…………….?

    ni tulisan klo di baca juga orang bakalan menyanggah….ya walaupun saya buka aktifis dakwah tapi klo baca tulisan ini…..ngeri kayakx cuman cari sensasi aja….

      Nova Kurniawan said:
      16 Agustus 2011 pukul 08:50

      Buat aku apa adanya:
      Dalam ushul fiqh masalah muamalah, semua muamalah (termasuk jabat tangan) itu pada dasarnya mubah, kecuali ada yang melarangnya…
      makanya kalo dalil yang melarangnya diragukan, ya kembali ke ushul fiqh muamalahnya, yaitu mubah…

      Buat Pak Mur:
      Ente kayaknya mesti baca buku dengan judul “Bagaimana memahami hadits Nabi” yang bahasa arabnya kaifa nata’amalu, karangan Yusuf Qardlawy, di situ dibahas kekurangan yang ada kalo kita mutlak cuma ngikutin ahli hadits atau ahli fiqh tanpa melihat kedua pandangan

    Munifiy El Fauziy said:
    19 Agustus 2011 pukul 19:11

    perbedaan itu indah, manusia cuma mengira maksud Tuhan, fiqih itu pasti khilafiyah…yang gak boleh adalah merasa paling benar, syetan akan tepuk tangan melihat umat yang terpecah.
    bukankah perkara sholat yang paling dasar dan esensial saja rosul sudah memberi keluasan pada kita?
    “sholluu kama ROAITUMUUNII ushollii” kata “ROAITUMUUNI” / “kamu melihat aku sholat” menunjukkan prediksi rosul akan perbedaan…..
    bukankah orang melihat bisa dari depan, dari belakang, dari samping kanan, samping kiri, dari atas, dan dari bawah….yang tentu efeknya perbedaan.
    tetaplah Alloh yang akan menjadi jurinya……
    piiiisssss dah ……..yakinlah gak akan ada titik temunya…..
    sory brow……

    Jack said:
    6 Oktober 2011 pukul 16:54

    Pak M ini seolah memberi solusi,tapi pada kenyataannya anda malah memperparah kondisi,saya yang masih awam saja bisa merasakan ketidakberesan anda,apalagi yang sudah paham.

    amirulmukminin said:
    6 Desember 2011 pukul 08:16

    perbedaan ummat adalah perpecahan bukanlah rohmat.mengenai jabat tangan……PERHATIKAN.kalao hal tersebut banyak pertentangan dan ini menunjukkan syubhat, maka hindarilah dan jauhilah,,karena Syaithon akan masuk darinya,mari kita cari kebenaran jangan mencari pembenaran terhadap apa yang sudah kita pahami, karena niat lillahi ta’ala dan kebenaran akan mengantarkan kita kepada pemahaman yang sempurna.Innallaha ma’ana. saat kita berjabat tangan dengan lawan jenis…perhatikan gejolak hati antum???SEMOGA ALLAH SWT mengampuni dosa kita.amin.aku BERTOBAT DARI PERBUATAN MAKSIAT.

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s