Diskusi: Istilah Pacaran Islami

Posted on Updated on

Maaf, Pak. Tolong perhatikan masalah istilah dan definisi, serta penggunaan bahasa yang Anda kemukakan. Jika Anda menggunakan istilah “pacaran”, dengan segala definisi yang Anda kemukakan, sedangkan Anda yang Da’i membenarkan pacaran itu, maka orang2 “abangan” yang Anda katakan itu akan menjadikan statement Anda sebagai referensi pembenaran pacaran sebagai sebuah aktivitas. Mari kita pandang definisi pacaran yang memang berlaku di masyarakat umum. Karena, sah atau tidak sah, mau atau tidak mau, itulah definisi pacaran yang dipercaya dan diketahui oleh khalayak.

Jadi, dengan segala hormat dan kerendahan hati, saya rasa, tidak tepat juga jika Bapak membuat sebuah istilah pacaran baru yang Islami serta dikaitkan dengan istilah apapun yang Bapak buat. Karena itu hanya akan membuat parsialisasi persepsi mereka yang membaca, termasuk saya. Padahal saya sudah mencoba membuka setiap penjelasan yang Bapak tawarkan kepada komentator2 kontra yang ada di atas, tapi saya tidak mendapatkan sebuah titik terang. Karena pada dasarnya, dalam berfilsafat, hal yang utama adalah makna, definisi, dan kaitan antara ide yang ada. Dan secara definisi, bahkan jika menyesuaikan dengan definisi yang Anda tawarkan berdasarkan KBBI, pacaran tidak sama dengan pencurahan kasih sayang tadi.

Menurut saya, semoga Allah mengampuni jika saya salah, Bapak terlalu menyambung-nyambungkan istilah pacaran dan terlalu mengislami-islamikan pacaran ini secara definisi. Walaupun, dengan apresiasi yang menggunung, saya tahu bahwa Bapak melakukan hal ini dengan tujuan yang mulia, jika memang untuk mendakwahkan dan mengubah platform berfikir orang kebanyakan. Jadi, mungkin bisa dipertimbangkan untuk mengubah gaya pemaparan Bapak, karna ini untuk menghindari pemahaman parsial oleh pembaca yang “abangan”, karna akan sangat berbahaya jika ada pembaca yang melakukan pacaran-non-Islami, sebut saja demikian, dengan menggunakan tulisan-tulisan Bapak yang mereka tangkap secara parsial sebagai landasan pembenaran.

Sesungguhnya kita tahu bahwa manusia hanya mencoba berfikir sesuai dengan kapasitas intelektualnya, maka semoga Allah, sang pemilik segala intelektualitas tanpa batas, sang mahatahu atas apapun yang bahkan tersembunyi, mengampuni saya jika terdapat kesalahan dan kekurangajaran pada komentar ini. Semoga Allah menjauhi kita, saya, Anda, dan semua pembaca, dari segala macam prasangka..

Demikianlah suara manis dari gibranhuzaifah. Adapun tanggapanku, M Shodiq Mustika, adalah sebagai berikut.

Kata-katamu indah sekali. Aku jadi ingin bertanya kepada dirimu.

1) Aku setuju bahwa hendaknya kita memandang “definisi pacaran yang memang berlaku di masyarakat umum”. Karena itulah aku sampaikan “PR untuk penentang pacaran islami”. Lihat artikel “Ciuman dengan Pacar“. Di artikel tersebut kusajikan data dari hasil penelitian ilmiah mengenai perilaku pacaran para remaja. Apa kau punya data lain (yang ilmiah) mengenai “definisi pacaran yang memang berlaku di masyarakat umum”?

2) Menurut data yang tersedia, para pembaca blog ini pada umumnya lebih menyukai istilah “pacaran islami” daripada istilah-istilah lainnya. Inilah faktanya. (Lihat artikel “Istilah favorit untuk persiapan menikah“.) Apakah kau punya data obyektif mengenai efek buruk istilah ini?

3) Kalau kita buang istilah “pacaran islami” (yang mereka sukai), haruskah kita biarkan mereka lari ke model pacaran jahiliyah?
(Lihat artikel “Jangan Biarkan Mereka Lari ke Model Pacaran Jahiliyah“!)

Mudah-mudahan tiga pertanyaan itu tidak terlalu banyak. Di sini aku ingin menambahkan diskusi serupa (yakni mengenai penggunaan istilah pacaran islami) antara aku dan seorang pembaca yang menyebut dirinya: Kaezzar.

Kaezzar berkata:

Mungkin yg ini juga perlu di-update pak
Emang rentan banyak salah tangkap
Mungkin bisa diliat dari beberapa komen yg masuk
Mungkin bisa diganti dgn berkenalan or saling mnegenal sebelum menikah or tanazhur
Karena makna kata pacaran itu sendiri, akan berbeda di tiap benak org2…
Apalagi ini blog umum, banyak org datang, mungkin cuma liat sekilas, jadi rentan salah tangkap…
Just my 2 cent

Tanggapanku:

Pertimbangan saya:
Siapakah yang salah paham terhadap judul di atas?

Kalau yang salah paham itu orang-orang seperti Dsyifa [yang beraliran “keras”], maka itu bukan persoalan besar bagi saya. Paling2 mereka menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap artikel saya di atas, namun ini justru merupakan tulisan pembanding yang berharga bagi para pembaca lainnya. Pembaca yang berakal sehat dan mau terbuka untuk menerima hidayah Ilahi tentu akan mendapat pemahaman yang benar.

Yang saya khawatirkan adalah apabila sebagian saudara2 kita melakukan pacaran secara sembarangan dengan alasan “Nabi Muhammad pun pernah pacaran”. Namun, kekhawatiran ini sudah saya antisipasi dengan penambahan keterangan: “tetapi secara islami“. Keterangan ini sudah sangat jelas.

Perhatikanlah bahwa artikel tersebut muncul sebagai jawaban atas pertanyaan: “Apakah Siti Khadijah pernah pacaran dengan Nabi Muhammad SAW sebelum menikah?” Kalau memang beliau pernah pacaran (tetapi secara islami), mengapa kita harus menyembunyikan sunnah beliau ini?

Pertimbangan saya berikutnya: manakah yang lebih besar mudharatnya: kesalahpahaman pada orang2 tertentu (seperti Dsyifa) tersebut ataukah ketidaktahuan para pembaca (bila dalam artikel ini istilah “pacaran islami” diganti dengan “tanazhur”) bahwa mestinya kita mengikuti model pacaran ala Rasulullah yang sangat jauh dari zina dan kemungkaran lainnya.

Dengan memperhatikan pula bahwa model-model pacaran jahiliyah telah tersebar luas melalui media massa, maka kemudharatan yang kedua itu lebih besar. Sampai saat ini, istilah “tanazhur” belum cukup kuat untuk menandingi istilah “pacaran”.

Pertimbangan saya selanjutnya: manakah yang lebih besar manfaatnya: mengganti istilah “pacaran islami” dengan “tanazhur” di artikel di atas ataukah membiarkannya apa adanya?

Seperti hasil polling yang belum lama ini saya adakan, istilah “pacaran islami” masih lebih populer daripada istilah “tanazhur” [atau pun istilah-istilah lainnya]. Tentunya, penggunaan istilah “pacaran islami” akan lebih efektif, bukan?

Dengan berbagai pertimbangan itu dan beberapa pertimbangan lainnya, yakinlah saya bahwa sampai saat ini, penggunaan istilah “pacaran islami” pada artikel di atas masih lebih tepat daripada istilah lain.

Kemudian Kaezzar menulis:

Sebenernya ketidaksetujuan saya terhadap “penggandengan” kata tersebut adalah untuk meredam konflik yg muncul
Karena g sedikit saya lihat, para penentang lebih emosional dlm mengungkapkan pendapat ketimbang melihat dan mencerna dulu
Walopun boleh dikatakan itu adalah suatu sikap yg kurang tepat dari individu tersebut, namun kalo bisa dihindari, saya pikir kenapa ngga
Misalnya, kalo judulnya diganti dgn percintaan pra nikah, saya pikir esensi yg disampaikan tetap dapat tersampaikan, namun akan meminimalisir konflik
Tapi, apapun itu…saya pikir Pak Shodiq sudah mempertimbangkannya masak2
Keep writing yoo🙂

Akhirnya, aku pun menyampaikan tambahan:

Ya, aku mengerti niat baikmu untuk menghindari konflik dengan saudara sesama muslim. Memang, menghindari mudharat itu lebih kita utamakan daripada mencari manfaat. Aku mempertimbangkan bahwa peniadaan istilah “pacaran islami”, “pacaran ala Nabi Muhammad”, dsb, akan menghasilkan mudharat lain yang lebih berbahaya. Lihat “Jangan Biarkan Mereka Lari ke Model Pacaran Jahiliyah“!

One thought on “Diskusi: Istilah Pacaran Islami

    gibranhuzaifah said:
    31 Oktober 2008 pukul 15:07

    Assalamu’alaikum, saya gibranhuzaifah, Pak.

    Saya telah memberikan komentar atas tanggapan Bapak, tapi karena sangat panjang, saya mempostingnya di blog saya, harap ditanggapi lagi di link ini: http://gibranhuzaifah.wordpress.com/2008/10/31/cuma-komentar/

    Hitung2 silaturahim..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s