Menaruh perhatian tanpa memaksakan kehendak

Posted on Updated on

Asslamuallaikum.. pa ustadz, saya seorang gadis yang saat ini sedang mempunyai masalah tentang cinta. Saya mencintai seseorang laki-laki, dan hubungan kami sudah lebih dari 1 th. hubungan kami slalu da masalah, dan saya slalu berusaha untuk mempertahankan hubungan ini. Pacar saya merasa saya sudah memaksakan dan membuat dia tertekan. padahal saya tidak mempunyai niat seperti itu, saya hanya ingin menjadi seorang istri yang shaleh kelak untuk dia. Tapi sepertinya saya sudah salah langkah selama ini karena saya sering memaksa dia..dan saya pun merasa ini sudah bukanlah diri saya lagi.. tapi cinta itu tetap melekat dalam hati saya.
Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya ingin meyakinkan dia, bahwa saya bukanlah seorang yang jahat, saya ingin mengabdi kpdnya dg menjadi istri yang shaleh. Cara tepat seperti apa yang harus saya lakukan, agar dia mau memahami niat saya ini??
Terimakasih sebelumnya..
Wassalamuallaikum..

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Wa’alaykumussalam..

Adanya konflik dalam hubungan pacaran yang sudah berlangsung agak lama itu wajar. Tentu ini bukan berarti kita tak perlu mengupayakan solusinya.

Untuk mengupayakan solusinya, yang utama adalah mencari akar permasalahannya. Dari kata-katamu di atas, kurasa akar persoalannya adalah kurangnya pemahaman di kedua pihak bahwa sifat masing-masing berlainan.

Kita perlu memahami bahwa setiap individu itu memiliki latar belakang, watak, dan pembawaan yang berlainan. Dalam kasusmu, mungkin yang paling menonjol adalah pembawaan dirimu sebagai wanita dan pembawaan dirinya sebagai pria.

Pada umumnya, perempuan cenderung pada kebersamaan, sedangkan laki-laki pada kemandirian. Bila pria terlalu condong pada kemandirian, maka wanita akan menganggapnya kurang perhatian. Sedangkan kalau cewek terlampau condong pada kebersamaan, maka cowok akan menyangkanya memaksakan kehendak. Atas dasar-dasar ini, solusinya adalah sebaga berikut.

Di satu sisi, hargailah kemandirian dia (sebagai pria). Berikanlah dia ruang gerak yang lebih lapang. Biarkanlah dia mengambil sikap sendiri dalam hal-hal yang tidak berpengaruh besar terhadap hubungan kalian. Tak usah meributkan hal-hal “kecil” seperti potongan rambutnya, warna bajunya, cara dia mengisi waktu luang, dan lain-lain.

Di sisi lain, mintalah dia untuk menghargai kehendakmu akan kebersamaan kalian. Mintalah secara halus untuk dilibatkan dalam hal-hal yang mungkin berpengaruh besar terhadap hubungan kalian. “Cara halus” ini adalah meminta dia mengungkapkan pandangannya mengenai hal-hal yang menurut dirimu akan berpengaruh besar terhadap hubungan kalian. Lalu jadilah pendengar yang baik.

Untuk menjadi pendengar yang baik, lihat artikel “10 Kiat Menjadi Pendengar Yang Baik“. Untuk keterangan yang lebih lengkap, silakan simak buku Taaruf Forever.

Demikian saranku. Semoga dengan kehendak Allah, kau dapat mengatasi kasus ini dengan sebaik-baiknya.

Wassalaam..

6 thoughts on “Menaruh perhatian tanpa memaksakan kehendak

    Abdul Aziz said:
    15 November 2008 pukul 19:40

    Ustadz Shodiq..
    Ana Mahasiswa dr Aceh..Boleh ga ana mnta no ponsel Ustaz..ana mau curhat,tp secara pribadi..
    No hape Ana 085277777945
    boleh dkirim ke Hape Ana..
    Ana ge da problem,tp blom da org tpt bwt curhat..jd boleh lah ana curhat ma Ustaz,yg ana pikir lebih mgerti tentang “Virus Merah Jambu”..

    M Shodiq Mustika responded:
    16 November 2008 pukul 03:29

    @ Abdul Aziz

    Kalau mau konsultasi secara pribadi, silakan melalui eMail: muhshodiq[at]yahoo[dot]com

    […] Bagi wanita pada umumnya, kebersamaan atau jalinan hubungan sangatlah penting. Banyak wanita mendambakan keromantisan dalam hubungan cinta. Namun bagi pria pada umumnya, kemandirian lebih penting daripada kebersamaan. Karena itu, “kurang seriusnya” dia dalam berhubungan cinta denganmu dapat dimaklumi. Mengenai perbedaan pria-wanita semacam itu, simaklah postingan “Menaruh perhatian tanpa memaksakan kehendak“. […]

    Jess Tarigan said:
    19 Mei 2009 pukul 14:15

    Assalamu’alikum pak Ustadz…
    saya gadis berumur 19th,saya punya 2 pilihan cowo.dua-duanya ngajakin saya menikah.saya bingung harus bagaimana saya menghadapi dua-duanya.trimakasih

    Sri Lestari Ramdhani said:
    8 Oktober 2009 pukul 16:18

    Assalamu’alaikum Pa Ustadz..
    Pa,Tary mo curhat..
    Tary seorang Mahasiswa Keperawatan semester 1.
    Tary tuh suka ma seorang pria yg belum tentu suka sama Tary.Kita sering smsan.Dia begitu baik buat Tary.Dia seorang yg agamis..Tary suka sama dia..
    Tetapi salahnya Tary,dulu waktu sebelum Tary suka sama dia,Tary sempet nyomblangin dia sama seorang wanita..Sekarang pun mereka belum pacaran cuma baru deket saja..
    Salahnya Tary lg sekarang,Tary malah jadi cinta sama dia..Tary mesti gimana Pak?
    Bantu Tary ya Pak…
    Wasalam..

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s