Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!

Posted on Updated on

pak ustad… artikel anda memang sangat bagus… pertimbangan anda dalam bidang fikih memang luar biasa… namun dalam masalah aurat ini mungkin bapak juga harus berhati-hati dalam mengambil keputusan…

yaa,,kita semua memaklumi bahwa kita tinggal di dunia yang sudah terbolak balik… tapi,bukan berarti kita boleh menghalalkan aurat yang sudah ditentukan dalam al-qur’an maupun as-sunnah… memang ulama banyak sekali perbedaan pndapat… smnjak saya mendalami ilmu fikih saya juga merasakan hal tersebut…

tapi, saya sangat menghimbau kpd bapak… janganlah sampai menghalalkan apa yang sudah menjadi ktentuan Allah… karena bisa menimbulkan fitnah di antara umat islam sendiri…. ni, coba bapak baca comment yang diatas… ada yang mengatakan bahwa pake bikini aja…

ini bbahaya pak… kalo bapak sampai menuturkan hal yang membuat kaum muslimin jadi salah paham… jadi saya menghimbau, mungkin kali ini bapak harus memperbaiki artikel ini… saya khawatir pak ada yang mempunyai fikiran jelek dan akhirnya merubah ajaran islam yang sudah tetap…

jujur saya memang kagum dengan ilmu fikih yang bapak dalami, semoga bapak selalu diberi petunjuk oleh Allah… tapi kali ini saya mengkritik nih… gapapa yaa…^u^ tolong diperbaiki ya pak…

Tanggapan M Shodiq Mustika:


Terima kasih atas nasihat dan kritiknya. Saya senang diberi nasihat dan kritik yang membangun. Sebab, dengan itulah saya bisa memperbaiki diri, termasuk memperbaiki tulisan saya.

Kalau memang saya jumpai kekeliruan dalam tulisan saya, tentulah saya takkan segan-segan melakukan koreksi. Beberapa kali saya telah melakukannya. Hanya saja dalam masalah aurat ini, belum saya jumpai kekeliruan di dalamnya.

Mungkin saja ada pernyataan saya di dalamnya yang keliru menurut Anda, tetapi tidak keliru menurut sejumlah ulama. Haruskah kita mengikuti pemahaman Anda yang tidak sejalan dengan sejumlah ulama itu?

Allah Sang Mahabenar lebih tahu siapakah yang lebih berhati-hati antara yang mewajibkan dan yang mensunnahkan (tidak mewajibkan) penutupan rambut wanita. Seperti sikap Pak Quraish Shihab, saya menghormati kedua macam pandangan tersebut.

Ijtihad bukanlah untuk mengubah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah secara qath’i. Di paragraf pertama di artikel itu sudah saya ungkapkan:

Dalil-dalil yang sah mengenai aurat wanita atau pun pria tidak semuanya qath’i (tegas) dalam segi dalalah (indikasi). Dengan demikian, masalah aurat itu terbuka untuk ijtihad. Dalam ijtihad, wajar saja jika terdapat perbedaan-perbedaan meskipun sama-sama berlandaskan Al-Qur’an dan hadits shahih.

Selama kita tidak bisa menghadirkan dalil yang qath’i, baik dalam segi sumber maupun indikasi, kita harus menerima terbukanya ijtihad. Secara demikian, kita pun harus menghargai perbedaan pendapat yang timbul lantaran terbukanya ijtihad itu. Meskipun sama-sama berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang shahih, para ulama dapat berlainan pendapat dalam berijtihad. (Lihat artikel Mengapa Ulama Berlainan Pendapat.)

Saya memahami kekhawatiran Anda. Namun saya pun khawatir kalau-kalau kita berlebihan dalam beragama. Saya tidak mau ikut-ikutan orang yang mengklaim bahwa masalah aurat ini sudah ditentukan oleh Allah secara “tegas” (qath’i), padahal pada kenyataannya tidak qath’i.

Saya kurang tertarik memperdebatkan dalil-dalil yang tidak qath’i. Kalau mau pembahasan yang relatif lengkap terhadap dalil-dalil mengenai aurat wanita, silakan baca buku M Quraish Shihab yang berjudul Jilbab.

Wallaahu a’lam.

Iklan

23 thoughts on “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!

    Bima said:
    15 Desember 2008 pukul 16:03

    iya sih jika dipikir memang benar…
    kita memang hidup dalam keadaan yang sangat relatif…
    saya juga memahami betapa besarnya hal tersebut…

    namun, saya juga masih melihat dalil Al-Qur’an yang memerintah kepada wanita untuk menutup dari kepala hingga dada…
    saya lupa surat apa ayat berapa itu…

    saya mengerti perbedaan pendapat tersebut…
    saya juga tidak bersikap keras kepada muslimah2 yang memang belum siap mengenakan jilbab…
    namun, bukankah kita sebagai muslim yang baik juga memberikan ajakan yang baik kepada muslimah…??

    kata nabi kan AGAMA ADALAH NASIHAT…
    berarti bukankah kita hendaknya memberikan ajakan ynag lebih baik kepada para muslimah…?
    alangkah sayangnya jika kita juga membiarkan para muslimah menampakkan bagian2 yang bisa berbahaya dan menimbulkan fitnah…

    memang dalam kenyataannya, ada beberapa orang yang tidak “nafsu” dengan bagian2 tersebut…
    tapi meskipun memang menurut beberapa ulama bagian2 itu boleh2 saja ditampakkan, bukankah kita ambil jalan yang lebih aman daripada itu??

    kalo semua muslimah mempunyai pemahaman bahwa bagian2 yang seperti itu boleh ditampakkan, maka sayang sekali jika budaya islam dalam menutup bagian2 tersebut hilang…

    saya sih masih beranggapan bahwa hal ini memang sesuatu yang harus ditekankan juga masalah jilbab…
    memang, saya tidak bersikap keras trhadap muslimah2 yang belum mengenakan jilbab…karena tante saya juga masih banyak yang belum memakai jilbab…
    tapi, jika memang bisa diraih jalan yang lebih baik, knepa tidak???
    seperti contohnya talak…
    talak memang boleh, tapi bukankah jika hal itu dihindari???
    wallahu ‘alam….
    balas ya pak…^^

      M Shodiq Mustika responded:
      18 Desember 2008 pukul 15:39

      @ Bima

      1) Ayatnya, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan perempuan-perempuan beriman, agar mereka mengenakan jilbab…..” (QS al-Ahzab [33]: 59) Namun, hendaklah kita memahami ayat seutuhnya, bukan sepotong-sepotong. Kita perlu memperhatikan bahwa potongan ayat tersebut masih ada lanjutannya: “… supaya mereka lebih mudah dikenal [sebagai wanita baik-baik] dan tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.” Lanjutan itulah yang mengisyaratkan terbukanya peluang ijtihad dalam hal ini.

      2) Untuk menilai mana yang “lebih aman” antara berjilbab dan tidak berjilbab, hendaknya kita menilainya dari berbagai segi, bukan hanya satu segi saja. Mungkin saja dari seksual jilbab itu “lebih aman”, tapi bagaimana dengan segi sosial, kultural, ekonomik, politik, psikologis, dll? Lebih aman bagi si A pun belum tentu lebih aman bagi si B. Bahkan, walaupun orangnya sama, “aman” di ruang R pada waktu W belum tentu aman pula di ruang X pada waktu Y.

      3) Benarkah penggunaan jilbab itu harus ditekankan? Atas dasar apa?

      Menurut kaidah fiqih, maksud/tujuan harus lebih diprioritaskan daripada penampilan luar. Untuk lebih jelasnya, silakan simak kitab Yusuf al-Qardhawi, Fiqh Prioritas, pasal “Prioritas Maksud dan Tujuan atas Penampilan Luar.” Di situ, beliau antara lain menyatakan:

      Kekeliruan yang sering kali dilakukan oleh orang-orang yang menggeluti ilmu agama ini ialah bahwasanya mereka hanya mengambang di permukaan dan tidak turun menyelam ke dasarnya, karena mereka tidak memiliki keahlian dalam berenang dan menyelam ke dasarnya, untuk mengambil mutiara dan batu mulianya. Mereka hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari rahasia dan tujuan yang sebenarnya. …

      Dalam perkara jilbab, maksud/tujuan perintah pemakaian jilbab adalah “supaya mereka lebih mudah dikenal [sebagai wanita baik-baik] dan tidak diganggu”. (QS al-Ahzab [33]: 59) Jadi, yang perlu lebih kita prioritaskan adalah upaya mengangkat citra muslimah dan melindungi mereka dari berbagai gangguan.

      4) Fatwa “hukum jilbab itu sunnah” bukanlah berarti sekadar “membolehkan terbukanya rambut kepala” atau apalagi menyuruh pelepasan jilbab. Yang dimaksud adalah menganjurkan penggunaan jilbab. (Arti hukum sunnah: berpahala kalau diamalkan, tidak berdosa kalau tidak diamalkan.)

      5) Ajakan yang terbaik bukanlah berdasarkan perasaan atau pikiran kita. Kalau Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak mewajibkan suatu amal, tidak selayaknya kita mewajibkan amal tersebut hanya karena kita menganggapnya baik. “… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. …” (al-A’raf: 54)

    milham said:
    5 Januari 2009 pukul 06:52

    ngawur….
    Saya kecewa ternyata pak Shadiq makin mengarah ke islam liberal (apa memang dari awal liberla ya?)
    :kecewa
    kecewa banget pak

      M Shodiq Mustika responded:
      5 Januari 2009 pukul 08:37

      @ milham
      Menuding-nuding tanpa bukti, tidakkah sama saja dengan fitnah?
      Sikap Muhammadiyah terhadap liberalisme sudah pernah aku ungkapkan, diantaranya di halaman Muslim Moderat.
      Dalam hal ini, aku mengikuti sikap Muhammadiyah.

        morishige said:
        13 Juli 2009 pukul 06:43

        saya ingat dulu guru agama pernah memaparkan Al Ahzab 59:
        “Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mukmin. Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih muda untuk di kenal karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah maha pengampun dan penyayang.”

        “Hendaklah” itu mungkin bisa ditafsirkan orang sebagai “sekadar” anjuran. tapi, ya, biasa lah pak. Alquran kan bahasanya nyastra banget ya. tidak terkesan bener-bener strict.

        coba saya paparkan lagi soal “Hendaklah” ini. saya sebenarnya tidak terlalu peduli mau dikasih pahala apa sama Allah SWT, tapi sepertinya “hendaklah” ini adalah masalah “pilihan mau masuk surga atau mau masuk neraka?” Allah seolah-olah berkata seperti ini: terserah kau mau mengingatkan apa tidak. toh Aku sudah menyediakan surga bagi orang2 yang taat thdp perintahKu, dan menyediakan neraka bagi pelanggar perintahKu.

        nah, btw menurut bapak aurat perempuan itu yang mana saja sih?
        just curious..

          M Shodiq Mustika responded:
          13 Juli 2009 pukul 10:36

          @ morishige
          Silakan simak buku M Quraish Shihab, Jilbab.

          morishige said:
          13 Juli 2009 pukul 11:36

          boleh ngga kalo saya pengen tau jawaban dari bapak?

            M Shodiq Mustika responded:
            13 Juli 2009 pukul 18:43

            @ morishige
            Aku menghargai berbagai pendapat yang berbeda itu, dan tidak terpaku pada satu pendapat saja. Selama metode ijtihadnya sah, apa pun hasilnya takkan kutentang.

    Berjilbab = shalihah? « M Shodiq Mustika said:
    29 Mei 2009 pukul 11:29

    […] Mengenai hukum jilbab itu, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mewajibkannya. Namun, ada pula yang tidak mewajibkannya (tetapi mensunnahkannya). (Lihat “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!“) […]

    KETIKA JILBAB BERPOLITIK « Muslim12's Blog said:
    11 Juni 2009 pukul 16:18

    […] Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat! […]

    morishige said:
    12 Juli 2009 pukul 05:03

    maksudnya khawatir berlebihan dalam beragama itu apa ya, pak? perkara menutup aurat itu berlebihankah dalam beragama?

    ilmu agama saya memang masik cekak, tapi dari kecil saya diajarkan bahwa ada pengertian tegas tentang aurat. dan kalau ngga salah auratnya wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

    Saya tidak mau ikut-ikutan orang yang mengklaim bahwa masalah aurat ini sudah ditentukan oleh Allah secara “tegas” (qath’i), padahal pada kenyataannya tidak qath’i.

    kalau misalnya begitu, berarti anda tidak sekadar mempertanyakan perihal aurat ini, malah cenderung menganggap aurat itu tidak ada… karena gak ditentuin secara tegas oleh Allah.
    saya akui ini mungkin sebuah logical fallacy dalam berpendapat, tapi gak keren aja pak kalo anda menggunakan “ilmu” anda yang tinggi untuk membingungkan umat. muslim kebanyakan di indonesia memang sering kagum sama orang-orang yang punya istilah arab yang banyak.

      M Shodiq Mustika responded:
      12 Juli 2009 pukul 10:50

      @ morishige
      Tergolong yang berlebihan diantaranya adalah mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan oleh Allah dan RasulNya. Untuk mendalami masalah aurat wanita, silakan baca buku Dr M Quraish Shihab berjudul Jilbab.

    mylove7 said:
    12 Juli 2009 pukul 12:50

    setuju, kebanyakan orang mengambil air se-ember di laut, lalu sudah cerita panjang lebar tentang isinya laut begini dan begitu, dan para penyelam yg sudah bosan nyebur kelaut malah kalem-kalem aja…
    😀

    great post pak

    fujisulistio said:
    21 Juli 2009 pukul 21:19

    say setuju dgn saudara milham, bapak terkesan seperti islam moderat…

    tidak ada sikap orang Muhammadiyah speriitu, sebab saya+kluarga saya merupakan keluarga muhammadiyah…

      M Shodiq Mustika responded:
      21 Juli 2009 pukul 22:35

      @ fujisulistio
      1) Kalau kau orang Muhammadiyah, tidak kenalkah kau dengan keluarga Dr. M. Amien Rais? Jangan-jangan kau belum tahu bahwa istri dan putri beliau tidak berjilbab.
      2) Muhammadiyah memang berpaham moderat, sehingga bersama-sama NU dan sejumlah anasir lain mendirikan Center For Moderate Muslim Indonesia. Lihat http://www.cmm.or.id/

        Irawan Danuningrat said:
        28 November 2009 pukul 08:40

        Assalamu’alaikum wr.wb.

        Pak Shodiq yth, menurut hemat saya mungkin sebaiknya kita tidak merujuk dan menjadikan kekerabatan berikut sikap/perilaku seseorang yg tidak didukung legal aspect dan tidak eligible untuk dijadikan (panutan) sebagai dasar hukum sebuah sikap/ijtihad.
        Jika hubungan kekerabatan dijadikan rujukan, bagaimana kalau para istri sekarang mengikuti perilaku istri Nabi Luth? Anak-anak mengikuti perilaku anak nabi Nuh? orang-orang tua mengikuti sikap Paman Rasulullah SAW?….. bukankah Nabi adalah Nabi dan Istri, anak, paman Nabi adalah keluarga dekat Nabi yg lebih “masuk akal” untuk dicontoh?

        Salam

    JS said:
    1 Agustus 2009 pukul 12:04

    Memang sangat sulit sekali untuk menyatukan pendapat mengenai Alquran sehingga lain kelompok lain pendapatnya dan hal ini terbukti semenjak Rasulullah Muhammad SAW wafat, karena tidak ada lagi yang dapat menjelaskan secara rinci dari setiap ayat. Dan sekarang ini sepertinya masing masing menentukan sendiri makna dari ayat ayat tersebut.
    Saya bukanlah orang yang paham sekali mengenai agama, tetapi saya pernah diberitahu orang tua saya bahwa saat ini cara manusia mempertuhankan Dia (saya lebih suka mengatakan Dia dari pada Allah sebab kalau saya mengatakan Dia rasanya lebih dekat) sudah jauh melenceng dari yang diinginkanNya. Dan apabila ada sesuatu yang mengganjal didalam hatimu mengenai apa saja tanyakan langsung kepada Dia (Allah).
    Pernah saya bertanya kepada Allah bunyi pertanyaannya adalah : Ya Allah kemarin saya sholat Jum’at di mesjid A dan sekarang saya solat Jum’at di mesjid B surat dan ayat sama yang di bacakan oleh iman tetapi mengapa penjelasan dan keterangan bisa berbeda ?.
    Saya mendapat jawaban seperti ini : Alquran tidak ada keraguan atasNya, petunjuk bagi yang berTaqwa dan berIman. Maksudnya mengapa Allah menurunkan Alquran melalui Rasulullah Muhammad SAW karena Beliau adalah orang yang Ber Iman dan BerTaqwa sehingga orang yang mampu untuk menerangkan dan menjelaskan dari setiap ayat ayat yang diturunkan. Sekarang timbul pertanyaan apakah sudah berIMan dan berTaqwa sehingga orang orang sekarang ini merasa mampu untuk menerangkan dan menjelaskan Alquran.

    Abu Musthofa said:
    21 September 2009 pukul 23:23

    Asm wr. wb
    Ustadz yang terhormat, bagaimana tanggapan anda tentang QS. An-nur 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

    Ustadz, saya sangat mengharapkan ustadz membaca ta’awudz dan basmalah sebelum menjawab dan berdo’a agar jawaban yang akan ustadz berikan benar2 datang dari Allah..(mohon jawaban dari ustadz bukan dari buku keluarga shihab)

    Jazkmlh khair..
    Wass
    Abu Musthofa

    Siti said:
    14 November 2009 pukul 14:32

    Assalamulaikum wr. wb. Bismillah…kLo boleh saya berkomentar;
    saya pernah membaca bahwa Rasulullah Salallahualaihiwasalam pernah menangis bahwa ketika beliau Isra’ MIraj Beliau melihat macam-macam siksaan yg ditujukan untuk kaum wanita

    Ketika itu Ali bin Abi Thalib datang menemui Rasulullah dan bertanya: Apa yang
    membuatmu menangis?”
    Beliau bersabda, “Wahai Ali, ketika
    naik ke langit pada malam Mikraj, aku menyaksikan kaum wanita dari umatku
    mengalami siksa pedih. Disebabkan siksa pedih itulah aku menangis dan meratap.”
    Sayyidah Fatimah al-Zahra bertanya,
    “Apa yang ayah saksikan sehingga menimbulkan pengaruh seperti ini?!
    dan Rasulullah bersabda:
    1.
    Aku melihat
    seorang wanita digantung dengan rambutnya, sementara otaknya mendidih.
    2.
    Aku menyaksikan
    seorang wanita digantung dengan lidahnya dan air mendidih neraka jahanam
    dituangkan ke dalam mulutnya.
    3.
    Aku melihat
    seorang wanita yang di gantung dengan kedua payudaranya.
    4.
    Aku melihat
    seorang wanita yang tangan dan kakinya terikat, lalu dikerubuti oleh ular-ular
    dan kalajengking.
    5.
    Aku melihat
    seorang wanita yang menyayat daging tubuhnya sendiri, kemudian di paksa untuk
    memakannya, dan api menyembur dari lidahnya.
    6.
    Aku
    menyaksikanseorang wanita yang tuli, buta, dan bisu; ditempatkan dalam peti api
    neraka dan otaknya keluar dari kepala, serta sekujur tubuhnya terjangkiti kusta
    dan lepra.
    7.
    Aku melihat
    seorang wanit di gantung dengan ke dua kakiny di atas api menyala.
    8.
    Aku menyaksikan
    seorang wanita yang bagian depan dan belakang tubuhnya di potong-potong dengan
    gunting terbuat dari api neraka.
    9.
    Aku melihat
    seorang wanita yang tangan dan kakinya terbakar, sementara dia memakan ususnya.
    10.
    Aku menyaksikan
    seorang wanita yang kepalanya seperti kepala babi dan tubuhnya seperti tubuh
    keledai, serta di siksa dengan berbagai jenis siksaan.
    11.
    Aku melihat
    seorang wanita berwajah anjing dan api keluar dari bagian belakang tubuhnya,
    dan para malaikat menusuk kepala dan tubuhnya dengan besi terbuat dari api
    neraka.
    Sayyidah Fthimah
    al-Zahra berkata, “Wahai kekasih dan cahaya mataku! Wahai ayah tercinta,
    jelaskan padaku tentang apa yang telah dilakukan para wanita ini? Apa yang
    menyebabkan mereka menderita siksaan seperti itu dan apa jalan hidup mereka
    sehingga Allah yang Mahatinggi menyiksa mereka dengan siksa pedih?”
    Sang
    pemimpin Islam, Nabi Muhammad saw bersabda:
    1.
    Adapun wanita
    yang digantung dengan rambutnya adalah wanita yang tidak menutup rambutnya dari pandangan pria bukan muhrim.(Tidak menutup Aurat/Tidak berjilbab)
    2.
    Wanita
    digantung dengan lidahnya dan air mendidih neraka jahanam dituangkan ke dalam
    mulutnya adalah seorang istri yang menyakiti suaminya dengan lisan(ucapan)nya
    3.
    Wanita yang
    digantung dengan kedua payudaranya adalah seorang istri yang menolak tidur
    seranjang dengan suaminya.
    4.
    Wanita yang
    tangan dan kakinya terikat, lalu dikerubuti ular-ular dan kalajengking adalah
    seorang istri yang keluar rumah tanpa izin suaminya.
    5.
    Wanita yang
    menyayat daging tubuhnya, kemudian dipaksa untuk memakannya, dan api menyembur
    dari lidahnya adalah wanita yang menampakkan perhiasan dan memamerkan keindahan
    tubuhnya di hadapan pria asing.
    6.
    Wanita yang
    tuli, buta, danbisu; ditempatkan dalam peti api neraka dan otaknya keluar dari
    kepala, sertasekujur tubuhnya terjangkiti kusta dan lepra adalah seorang istri
    yang melahirkan anak dari hasil perbuatan zina dan mengkhianati suaminya
    (selingkuh-penerj.).
    7.
    Wanita yang
    digantung dengan kedua kakinya di atas api menyala-nyala adalah wanita yang
    tidak menjaga kesuciaan dan kebersihan. Di saat janabah dan bersih dari
    menstruasi tidak mandi wajib, serta enggan mengerjakan shalat.
    8.
    Wanita yang
    bagian depan dan belakang tubuhnya dipotong-potong dengan gunting terbuat dari
    api neraka adalah wanita yang menawarkan dirinya kepada para pria dengan cara
    yang bertentangan dengan syariat (pelacur-penerj.)
    9.
    Wanita yang
    tangan dan kakinya terbakar, sementara dia memakan ususnya sendiri adalah
    wanita yang menjadi mucikari.
    10.
    Wanita yang
    kepalanya seperti kepala babi dan tubuhnya seperti tubuh keledai, serta disiksa
    dengan berbagai jenis siksaan adalah wanita yang gemar mengadu-domba dan
    berkata dusta.
    11.
    Adapun wanita
    berwajah anjing dan api keluar dari bagian belakang tubuhnya, dan malaikat
    menusuk kepala dan tubuhnya dengan besi terbuat dari api neraka adalah wanits
    penysnyi (yaituwanita yang membangkitkan birahi kaum pria dengan kelembutan
    suaranya).”

    Dari cerita diatas, dapat kita menyimpulkan bahwa berjilbab(menutup aurat) itu wajib,bagi perempuan

    Dengan tidak ada maksud menggurui,, salah n silap mhon dimaafkan,,trims.

      M Shodiq Mustika responded:
      15 November 2009 pukul 05:29

      @ Siti
      Terima kasih atas masukannya.
      Para ulama berijtihad menetapkan hukum berdasarkan banyak dalil. Kita tidak bisa menghukumi masalah aurat ini hanya berdasarkan satu dalil saja.

    Irawan Danuningrat said:
    28 November 2009 pukul 08:06

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Mhn perkenan ikut posting pendapat ttg jilbab dan aurat nih pak Shodiq.
    Terimakasih.

    JILBAB dan AURAT

    Firman Allah swt:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

    Hai Nabi ! katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. [al-Ahzab: QS 33:59].

    وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آ بَاءِ بُعُ ولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِ نَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. [al-Nuur: QS 24:31].

    MAKNA JILBAB

    Dalam pemahaman Masyarakat Indonesia

    Di Indonesia, kata “jilbab” umumnya dipahami sebagai perangkat tutup kepala atribut wanita muslim yang memiliki design spesifik untuk menutupi rambut, telinga, leher, tengkuk dan badan disekitarnya yang diyakini menjadi bagian dari aurat wanita, tanpa terikat pada model busana yang dikenakan olehnya. Maka dari itu, seorang wanita tetap kategorikan “berjilbab” meski ia mengenakan busana kombinasi kaus/kemeja lengan panjang dan celana jeans, stelan jas formal, seragam militer, pakaian training, stelan kebaya atau berbagai model busana muslimah, apabila ia kenakan tutup kepala dengan design spesifik tersebut.

    Paradigma “jilbab” yang dipahami dan diterima oleh mayoritas masyarakat Indonesia tersebut, boleh jadi sangat berbeda dengan makna sesungguhnya dari kata “jilbab” dalam bahasa Arab, yang bahkan dimaknai secara berbeda-beda pula oleh komunitas Arab, ahli bahasa maupun oleh para Ulamanya. Adanya silang pendapat tentang batasan dan paradigma “jilbab” ini, tentu berdampak pada sulitnya mencari kesepahaman tentang hukum “berjilbab”.

    Terlepas dari semua silang pendapat tentang makna kata atau paradigma al jilbab (jama’ = al jalaabiib) yang tersurat dalam QS 33:59, untunglah para ulama Salaf dan Khalaf telah sejak lama sepakat bahwa kepala – termasuk rambut, telinga, leher, pundak, tengkuk, bahu wanita dan seputarnya – adalah aurat, yang haram dipertontonkan kepada orang-orang yang bukan mahramnya. Selaras dengan hal tersebut, mayoritas ulama juga sepakat bahwa para wanita boleh membuka wajahnya saat mereka sholat, tidak boleh membuka selain muka dan kedua telapak tangannya, dan harus mengenakan kerudung yang menutupi kepalanya, sehingga jika kepala seorang wanita terbuka ketika sholat, maka ia wajib mengulangi sholatnya.

    Makna Jilbab menurut etimologi Arab

    Dalam bahasa Arab dikenal beberapa nama dan sebutan yang merujuk pakaian perempuan yang berkaitan erat dengan aspek sosial, kultural, regional, dialek, bentuk, peruntukan dan historisnya, a.l. burqu, abayah, tarhah, burnus, jellabah, hayik, milayah, gallabiyah, disdaysa, gargush, qina, mungub, listma, yashmik, habarah, dan izar. Sebutan yang secara spesifik mengacu pada penutup muka saja a.l. qina, niqab, listmah, dan burqu, sementara tutup kepala yang kadang-kadang juga digunakan untuk menutup sebagian muka disebut khimar, sitara, abayah, dan immah.

    Guna memahami maksud kata al jilbab (jamak = al jalaabiib) yang tersurat dalam QS 33:59 tsb, mari kita cermati makna kata tersebut dalam Bahasa Arab dengan memperhatikan bagaimana bangsa Arab memaknai dan memahami kata jilbab dalam ayat tersebut, melalui kamus-kamus mu’tabar yang sengaja disusun oleh para ulama lawas dalam rangka melestarikan makna lafadz-lafadz Al Qur’an dari kerusakan akibat pergeseran dan dinamika perkembangan bahasa.

    Dalam kamus Al Muhith disebutkan bahwa “jilbab” adalah pakaian lebar dan longgar untuk wanita yang dapat menutup pakaian sehari-hari (tsaub) ketika hendak keluar rumah. Ummu Atiya ra: ”Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, baik para gadis yang sedang haid maupun yang sudah menikah. Mereka yang sedang haid tidak mengikuti shalat melainkan hanya mendengarkan kebaikan serta nasihat-nasihat kepada kaum Muslimin. Maka Ummu Athiyah berkata: Ya Rasulullah, ada seseorang yang tidak memiliki jilbab maka Rasulullah SAW bersabda: ”Hendaklah saudaranya meminjamkan kepadanya”. (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Turmudzi dan Nasa’i).

    Di dalam kamus Al Muhiith, Fairuz Abaadiy mengatakan:

    القَمِيصُ: ثَوبٌ واسِعٌ للمرأة دون المِلحَفَة أو ما يُغَطّى به ثِيابَها من فوقُ كالملحفة أو هو الخمار

    (Jilbab adalah) gamis (al qomiish) pakaian yang luas, tapi selain selubung/ selimut (al mihafah), atau sesuatu yang dipakai olehnya untuk menyelimuti pakaiannya mulai dari atas seperti selubung/selimut (al mihafah). Atau, dia adalah al khimar (penutup kepala).

    Di dalam Kamus Lisanul ‘Arob, Ibnu Mandzur mengatakan:

    والجلباب: القميص. والجلباب: ثوب واسع أوسع من الخمار دون الرداء تُغطّى به المرأةُ رأسها و صدرها .و قيل هو: ثَوبٌ واسِعٌ تلبسه المرأة دون المِلحَفَة . و قيل هو ما يطِّى به المرأة الثياب من فوق … و قيل هو الملحفة … . قال إبن السِّكِّيت: قالت العامرية: الجلبال هو الخمار …قال إبن العربي: الجلباب: الإزار … وقيل: جلباب المرأة ملَاءَتُها الّتي تَشتَمِلُ بها.

    “Dan al-jilbab = al-qomish (baju panjang). Dan al jilbab = pakaian luas, lebih luas dari khimar (penutup kepala), selain ar ridaa (mantel), yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepala dan dadanya. Dikatakan pula bahwa al jilbab adalah pakaian luas yang digunakan oleh wanita, selain milhafah (selimut/ selubung badan). Dikatakan juga bahwa dia adalah apa yang digunakan oleh wanita untuk menyelimuti pakaian rumahnya mulai dari atas. Dikatakan juga bahwa dia adalah milhafah (selubung/selimut)

    Ibnus Sikkiit berkata bahwa Al Amiriyah telah berkata:
    al jilbab adalah al khimar (penutup kepala).

    Ibnul ‘Arobi berkata:
    al jilbab adalah al izaar (selubung/seperti jubah).
    Dikatakan juga bahwa jilbab adalah selubung (al-mula’ah) yang digunakan wanita untuk menyelimuti dirinya”.

    Di dalam Kamus Ash Shihaah, secara ringkas Al Jauhariy mengatakan:

    الجِلباب: المِلحفة.
    “Al jilbab adalah al milhafah (selubung/selimut)”.

    Berdasarkan kamus Arab-Indonesia (Al Munawwir) dan kamus Arab-Inggris (Al Mawridh dan Mu’jam Lughotil Fuqohaa) terjemahan sinonim al-jilbab tersebut adalah:

    Al Qomiish
    Menurut Al Munawwir, al qomish adalah : gamis, kemeja, baju.
    Menurut Al Mawridh, al qomiish adalah shirt (baju).

    Al Milhafah
    Menurut Al Munawwir, al milhafah adalah: selimut, mantel. Sedangkan dalam Mu’jam Lughoh al fuqohaa (Arab-Inggris) al milhafah adalah: cloak, yang berarti: jubah, mantel atau jas panjang (pakaian yang menyelubungi), yaitu pakaian yang digunakan oleh wanita untuk menutupi pakaian rumahnya, seperti halnya jilbab.

    Al Mulaa’ah
    Menurut Al Munawwir, al mulaa’ah adalah: baju wanita yang panjang.
    Menurut Al Mauridh, al mulaa’ah adalah: wrap, veil (selubung).
    Dalam Mu’jam Lughotil Fuqohaa dikatakan bahwa al mula’ah adalah wrap (selubung), yakni “pakaian yang terdiri dari satu potong kain, yang memiliki dua lengan yang seimbang, yang dipakai di atas pakaian keseharian (ats tsaub)”.

    Al Izaar
    Menurut Kamus Al Munawwir adalah : kain penutup badan, atau sinonim dengan al milhafah : selimut, pakaian sejenis jubah.
    Menurut Al Mauridh adalah : wraparound (pakaian yang digunakan untuk menyelubungi). Sementara menurut Mu’jam Lughotil Fuqohaa, al izaar adalah: veil (selubung), dan diterangkan bahwa al izar adalah pakaian yang meliputi seluruh badan bagian bawah.

    Al Khimaar
    Dalam Kamus Al Munawwir dikatakan bahwa al khimar adalah: kerudung: maa tughoththiy al mar’atu ar ra’sahaa (yang digunakan oleh wanita untuk menutupi kepalanya). Sedangkan menurut Mu’jam Lughoh Al Fuqohaa’, al khimar adalah : veil (penutup), yaitu yang digunakan oleh wanita untuk menutup kepala dan sebagian wajahnya.

    Mencermati hal-hal di atas, bisa dikatakan bahwa al qomiish, al milhafah, al mulaa’ah dan al izaar adalah sinonim, yang berarti : pakaian luas, semacam jubah, yang terjulur dari atas ke bawah. Sedangkan al khimar adalah penutup kepala, tidak semakna dengan lafadz-lafadz lain.

    Dengan ini, pemahaman tentang makna jilbab itu terbagi menjadi empat pendapat yang semuanya memiliki hujjah dalam bahasa yakni :

    1. Jilbab adalah khimar yaitu kerudung penutup kepala.
    2. Jilbab adalah kain yang lebih luas dari khimar, tapi bukan milhafah, maka dia adalah kain lebar yang menutupi kepala, leher dan dada.
    3. Jilbab adalah al-milhafah, al-mula’ah, atau al-qomish, yaitu sepotong pakaian panjang yang menjuntai ke bawah, seperti jubah yang digunakan untuk menutupi pakaian rumah wanita (ats tsaub).
    4. Jilbab adalah kain yang menutupi pakaian rumah wanita dari atas kepala sampai bawah, menutupi al khimar dan ats-tsaub, sebagaimana terdapat juga di dalam Lisanul ‘Arob.

    Masyarakat Indonesia tampaknya cenderung memaknai kata “jilbab” mengikuti kelompok 1 dan 2 yaitu kerudung penutup kepala, atau sesuatu yg lebih dari sekedar kerudung, sedangkan masyarakat Arab umumnya meyakini no. 3 yakni baju terusan panjang yang longgar, yang digunakan wanita untuk menutupi pakaian rumahnya (ats tsaub). Hal itu jelas terlihat dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun dalam praktek kehidupan sosial mereka sebagaimana juga diyakini oleh penulis Mu’jam Lughoh Al Fuqohaa’ ketika ia mendefinisikan kata al jilbab, al milhafah, al mula’ah dan al izaar terkait Surat Al Ahzab ayat 59.

    Adapun al khimar atau kerudung penutup kepala, juga diyakini merupakan atribut wajib wanita muslimah untuk digunakan saat keluar rumah atau saat berhadapan dengan non muhrim, yang dikenakan dengan cara menjulurkannya hingga menutupi dada sebagaimana dikemukakan dalam Surat An Nuur ayat 31.

    Sebelum turunnya QS 33:59, kaum wanita jahiliyah memakai khimar (kerudung) berlawanan dengan ajaran Islam. Mereka lipat kerudungnya ke belakang/ punggung dan membiarkan bagian depannya menganga lebar sehingga telinga dan dada mereka nampak (lihat Asy Syaukani dalam Faidlul Qodir dan Imam Al Qurtubi dalam Jaami’u lil Ahkam juz 12: 230).

    Dengan demikian jelaslah apa yang dimaksud dengan khimar dan jilbab. Khimar/kerudung adalah kain yang terhampar dapat menutupi bagian kepala (termasuk telinga selain wajah) sampai menutupi dada dan tidak menampakkan warna kulit. Sedangkan jilbab adalah baju kurung atau jubah yang tidak terputus dari atas hingga bawah.

    DEFINISI AURAT

    Menurut pengertian bahasa Arab, aurat adalah “al-nuqshaan wa al-syai’al-mustaqabbih” (kekurangan dan sesuatu yang mendatangkan celaan). Disebut aurat karena mengikuti pecahan katanya “awara” yang bermakna qabiih (tercela), yakni aurat manusia dan segala sesuatu yang bisa menimbulkan rasa malu. Dalam kamus Lisaan al-‘Arab disebutkan, “Kullu ‘aib wa khalal fisyai’fahuwa ‘aurat (setiap aib dan cacat cela pada sesuatu disebut dengan aurat) wa syai` mu’wirun au ‘awirun: laa haafidza lahu (sesuatu itu tidak memiliki penjaga/penahan).”

    Dalam kamus ‘Mukhtaar al-Shihaah, Imam al-Razi, menyatakan:
    “Al-aurat: sau`atu al-insaan wa kullu maa yustahyaa minhu (aurat adalah aurat manusia dan semua hal yang menyebabkan malu.”

    Dalam ‘Syarah Sunan Ibnu Majah disebutkan bahwa aurat adalah “kullu maayastahyii minhu wa yasuu`u shahibahu in yura minhu (setiap yang menyebabkan malu, dan membawa aib bagi pemiliknya jika terlihat)”.

    Di dalam kitab ‘Faidl al-Qadiiir’ disebutkan, “al-‘aurat: mayastahyiyminhu idza dzahara (aurat adalah apa-apa yang menyebabkan rasa malu jika terlihat)”.

    Imam Syarbini dalam kitab ‘Mughni al-Muhtaaj’, berkata:
    “Secara literal, aurat bermakna al-nuqshaan (kekurangan) wa al-syai`u al-mustaqbihu (sesuatu yang menyebabkan celaan). Disebut seperti itu, karena ia akan menyebabkan celaan jika terlihat.

    Dalam kitab al-Mubaddi’ dinyatakan; kata “al-aurat” secara literal bermakna “al-nuqshaan wa al-syai`al-mustaqbih” (kekurangan dan sesuatu yang menyebabkan celaan). Disebut aurat, sebab, jika ditampakkan akan tercela.

    Imam Syaukani, di dalam kitab ‘Fath al-Qadiir’, menyatakan: “Makna asal dari aurat adalah al-khalal (aib, cela, cacat), setelah itu makna aurat lebih lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan aib yang terjadi pada sesuatu yang seharusnya dijaga dan ditutup.

    BATASAN AURAT MENURUT BERBAGAI MADZHAB

    Batasan Aurat Menurut Madzhab Syafi’i.

    Di dalam kitab ‘al-Muhadzdzab’ Imam al-Syiraazi berkata: “Aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan pusat dan lututnya sendiri bukan termasuk aurat, meski sebagian madzhab kami berpendapat bahwa pusat dan lutut termasuk aurat. Yang benar adalah, keduanya bukanlah aurat. Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’idal-Khuduriy, bahwasanya Nabi saw bersabda: “Aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan aurat wanita adalah seluruh badannya, kecuali muka dan kedua telapak tangan”.

    Muhammad bin Ahmad al-Syasyi, dalam kitab Haliyat al-‘Ulama berkata: “Aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan lutut dan pusat bukanlah termasuk aurat”. Pendapat semacam ini dipegang oleh Imam Malik dalam sebuah riwayat dari Ahmad. “Sebagian golongan dari kami berpendapat, bahwa pusat dan lutut termasuk aurat, sedangkan aurat wanita adalah seluruh badan, kecuali muka dan kedua telapak tangan”.

    Al-Haitsami, dalam kitab ‘Manhaj al-Qawiim’ berkata: “Aurat laki-laki, baik masih kecil maupun sudah dewasa, budak non mukatab maupun mukatab, serta anak budak, adalah antara pusat dan lutut, sedangkan aurat wanita merdeka, masih kecil maupun dewasa, baik ketika sholat, berhadapan dengan laki-laki asing (non mahram), adalah seluruh badan kecuali muka dan kedua telapak tangan”.

    Dalam kitab ‘Al-Umm’ dinyatakan: “Aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan keduanya (pusat dan lutut) bukanlah termasuk aurat, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh badannya kecuali muka dan kedua telapak tangan”.

    Al-Dimyathi, dalam kitab “I’aanat al-Thaalibiin” menyatakan: “Setiap laki-laki merdeka maupun budak, wajib menutup antara pusat dan lututnya berdasarkan hadits: “Aurat seorang Mukmin adalah antara pusat dan lututnya”, sedangkan aurat wanita adalah seluruh badan kecuali muka dan telapak tangan.

    Imam Syarbini dalam kitab ‘Al-Iqnaa’ menyatakan: “Aurat laki-laki antara pusat dan lututnya berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi bahwasanya Nabi saw bersabda: “Jika salah seorang diantara kamu menikahi budak perempuannya hendaknya, budaknya itu tidak melihat auratnya. Adapun auratnya adalah antara pusat dan lutut”, sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.

    Di dalam kitab ‘Mughni al-Muhtaaj’, Imam Syarbini menyatakan:
    “Aurat laki-laki, baik budak, kafir, anak kecil, maupun yang sudah dewasa, adalah antara pusat dan lutut, sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuh selain wajah dan kedua telapak tangan”.
    Batasan Aurat Menurut Madzhab Hanbali.

    Di dalam kitab al-Mubadda’, Abu Ishaq menyatakan: “Aurat laki-laki dan budak perempuan adalah antara pusat dan lutut. Hanya saja, jika warna kulitnya yang putih dan merah masih kelihatan, maka ia tidak disebut menutup aurat. Namun, jika warna kulitnya tertutup, walaupun bentuk tubuhnya masih kelihatan, maka sholatnya sah. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh, hingga kukunya. Ibnu Hubairah menyatakan bahwa inilah pendapat yang masyhur. Al-Qadliy berkata, ini adalah pendapat Imam Ahmad; berdasarkan sabda Rasulullah, “Seluruh badan wanita adalah aurat” [HR. Turmudziy, hasan shahih]

    Dalam madzhab ini tidak ada perselisihan bolehnya wanita membuka wajahnya di dalam sholat, seperti yang telah disebutkan di dalam kitab al-Mughniy dan lain-lainnya.

    Di dalam kitab al-Mughni, Ibnu Qudamah menyatakan, bahwa “Sesungguhnya, apa yang ada di bawah pusat hingga lutut adalah aurat. Dengan ungkapan lain, apa yang ada diantara pusat dan lutut adalah aurat. Ketentuan ini berlaku untuk laki-laki merdeka maupun budak. Sebab, nash telah mencakup untuk keduanya, sedangkan pusat dan lutut bukanlah termasuk aurat seperti yang dituturkan oleh Imam Ahmad. Pendapat semacam ini juga dipegang oleh Imam Syafi’i dan Malik. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat, bahwa lutut termasuk aurat.

    Abu Hanifah berpendapat, bahwa kedua mata kaki bukanlah termasuk aurat.
    Imam Malik, Auza’iy, dan Syafi’i berpendirian: seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Selain keduanya (muka dan telapak tangan) wajib untuk ditutup ketika hendak mengerjakan sholat”.

    Di dalam kitab ‘al-Furuu’, karya salah seorang ulama Hanbaliy, dituturkan sebagai berikut: “Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali muka, dan kedua telapaktangan – ini dipilih oleh mayoritas ulama….sedangkan aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut”.

    Batasan Aurat Menurut Madzhab Maliki.

    Dalam kitab ‘Kifayaat al-Thaalib’, Abu al-Hasan al-Malikiy menyatakan: “Aurat laki-laki adalah mulai dari pusat hingga lutut, dan keduanya (pusat dan lutut) termasuk aurat. Sedangkan aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak tangan”.

    Dalam ‘Hasyiyah Dasuqiy,’ dinyatakan: “Walhasil, aurat haram untuk dilihat meskipun tidak dinikmati. Ini jika aurat tersebut tidak tertutup. Adapun jika aurat tersebut tertutup, maka boleh melihatnya. Ini berbeda dengan menyentuh di atas kain penutup; hal ini (menyentuh aurat yang tertutup) tidak boleh jika kain itu bersambung (melekat) dengan auratnya, namun jika kain itu terpisah dari auratnya. Selain aurat, yakni antara pusat dan lutut, maka tidak wajib bagi laki-laki untuk menutupnya sedangkan aurat wanita muslimah adalah selain wajah dan kedua telapak tangan.

    Dalam kitab ‘Syarah al-Zarqaaniy’, disebutkan: “Yang demikian itu diperbolehkan. Sebab, aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan;

    Muhammad bin Yusuf, dalam kitab’ al-Taaj wa al-Ikliil’, berkata: “Adapun aurat laki-laki, menurut mayoritas ulama kami, adalah antara pusat dan dua lutut, sedangkan aurat budak perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan dan tempat kerudung (kepala)…Untuk seorangwanita, boleh ia menampakkan kepada wanita lain sebagaimana ia boleh menampakkannya kepada laki-laki –menurut Ibnu Rusyd, tidak ada perbedaanpendapat dalam hal ini-, wajah dan kedua telapak tangan..”

    Batasan Aurat Menurut Madzhab Hanafi.

    Abu al-Husain, dalam kitab ‘al-Hidayah Syarh al-Bidaayah’ mengatakan: “Adapun aurat laki-laki adalah antara pusat dan lututnya ada pula yang meriwayatkan bahwa selain pusat hingga mencapai lututnya. Dengan demikian, pusar bukanlah termasuk aurat.

    Berbeda dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Syafi’i ra, lutut termasuk aurat. Sedangkan seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali muka dan kedua telapak tangan.

    Dalam kitab ‘Badaai’ al-Shanaai’ ‘disebutkan: “Oleh karena itu, menurut madzhab kami, lutut termasuk aurat, sedangkan pusat tidak termasuk aurat. Ini berbeda dengan pendapat Imam Syafi’i. Yang benar adalah pendapat kami, berdasarkan sabda Rasulullah saw, “Apa yang ada di bawah pusat dan lutut adalah aurat.” Ini menunjukkan bahwa lutut termasuk aurat.

    Perdebatan tentang Aurat Laki-laki

    Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan aurat laki-laki. Ada sebagian ulama berpendapat, bahwa aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan pusat dan lutut bukan termasuk aurat. Imam Qurthubiy di dalam tafsir Qurthubiy menyatakan; para ulama berbeda pendapat mengenai bagian tubuh mana yang termasuk aurat. Ibnu Abi Da`b berpendapat, bahwa aurat laki-laki hanyalah kemaluan dan dubur, bukan yang lainnya. Ini adalah pendapat Dawud, Ahlu Dzahir, Ibnu Abi ‘Aliyah, danAl-Thabariy. Sedangkan Imam Malik berpendirian bahwa pusar tidak termasuk aurat, dan beliau memakruhkan laki-laki yang membuka pahanya di hadapan isterinya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa lutut termasuk aurat; dan ini adalah pendapat ‘Atha’. Adapun Imam Syafi’i berpendapat, bahwa pusat dan kedua lutut tidak termasuk aurat, dan ini adalah riwayat yang shahih (benar). Namun, Abu Hamid al-Turmudziy meriwayatkan, bahwa Imam Syafi’i mempunyai dua pendapat mengenai pusat. Sedangkan ulama lain berpendapat, bahwa aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, dan keduanya (pusat dan lutut) termasuk auratSebagian yang lain berpendapat, bahwa pusat, paha, dan lutut bukan termasuk aurat.

    Abu Da’biy berkata: “Aurat laki-laki adalah kemaluan dan dubur”. Pendapat semacam ini dipegang oleh Dawud, Ahlu Dzahir, Abu’Aliyyah,Thabariy, Ibnu Jarir, dan al-Ishthahariy. Inilah beberapa pendapat ulama mengenai bagian-bagian tubuh laki-laki yang termasuk aurat.

    Apakah Paha Termasuk Aurat Laki-Laki ?

    Apakah paha termasuk aurat? Ada dua pendapat dalam masalah ini. Mayoritas ulama berpendirian, bahwa paha termasuk aurat laki-laki. Ulama lain berpendapat, paha bukan termasuk aurat. Pendapat terkuat dan terpilih adalah, paha termasuk aurat laki-laki.

    Hadits yang menyiratkan paha bukan aurat berbentuk ‘fi’liy (perbuatan)’, sedangkan hadits-hadits yang menyatakan paha aurat, berbentuk ‘qauliy’ (perkataan). Oleh karena itu, mengamalkan hadits yang menetapkan paha adalah aurat, lebih utama dibandingkan hadits yang menetapkan paha bukan aurat. Adapun hadits-hadits yang menunjukkan, bahwa paha termasuk aurat adalah sebagai berikut:

    Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits di dalam ‘Tarikh-nya, bahwasanya Muhammad bin Jahsiy berkata: “Rasulullah saw melewati Ma’mar yang saat itu kedua pahanya sedang terbuka. Beliau bersabda, “Hai Ma’mar tutuplah kedua pahamu. Sebab, paha itu adalah aurat.”‘[HR. Imam Ahmad, dan Bukhari di dalam kitab ‘Tarikh-nya’].

    Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, dan Imam Hakim dalam kitab ‘al-Mustadrak’ . Dari Ibnu ‘Abbas ra dituturkan, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Paha adalah aurat”.[HR. Turmudziy].

    Imam Ahmad juga mengetengahkan riwayat yang sama dengan redaksi sebagai berikut: “Rasulullah saw tengah melintas di depan seorang laki-laki yang pahanya terbuka; beliau pun bersabda, “Tutuplah pahamu, sesungguhnya paha seorang laki-laki termasuk auratnya”. [HR. Imam Ahmad]

    Dari Jarhad, ia berkata: “Rasulullah saw tengah lewat, sedangkan saat itu saya sedang memakai kain dan paha saya terbuka. Beliau pun bersabda, “Tutuplah pahamu, karena paha itu adalah aurat.”‘[HR. Imam Ahmad, Malik, Abu Dawud dan Turmudziy].

    Imam Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Ali ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Janganlah engkau membuka pahamu, dan janganlah engkau melihat paha orang hidup maupun orang mati”. [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]

    Hadits-hadits ini menunjukkan, bahwa paha termasuk aurat laki-laki, sehingga wajib ditutup. Pendapat yang lebih kuat dan layak dipegang adalah pendapat yang menyatakan bahwa paha termasuk aurat.

    Alasannya, Pertama, hadits-hadits yang diketengahkan pihak pertama, seluruhnya tidak menunjukkan adanya khithab untuk seluruh kaum Muslim, melainkan hanya bertutur tentang perilaku atau perbuatan pribadi Nabi saw pada konteks dan kejadian tertentu. Dengan kata lain, hadits-hadits tersebut tidak menunjukkan adanya kewajiban untuk ’ta’asiy’ (mengikuti) kepada perbuatan Nabi saw. Yang layak diikuti adalah dalil-dalil yang mengandung ‘hukum kulliy’, bukan ‘hukum juz’iy’.

    Kedua, hadits yang diketengahkan kelompok kedua lebih jelas khithabnya kepada seluruh kaum Muslim. Lebih-lebih lagi hadits ini datang dalam bentuk ucapan (‘qauliy’), sehingga lebih kuat dibandingkan hadits-hadits perbuatan (‘fi’liy’).

    Ketiga, hadits-hadits yang menyatakan paha bukanlah aurat juga akan bertentangan dengan hadits-hadits lain yang menyatakan, bahwa aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut. ”Aurat laki-laki adalah antara pusat hingga lututnya”. [HR. Imam Daruquthniy, dan Baihaqiy], dan masih banyak lagi. Hadits ini menunjukkan bahwa paha termasuk aurat. Sebab, paha terletak antara pusat dan lutut.

    Apakah Pusat dan Lutut Pria Termasuk Aurat ?

    Para ulama juga berbeda pendapat mengenai status pusat dan lutut, apakah keduanya termasuk aurat atau bukan. Sebagian ulama berpendapat, bahwa pusat dan lutut bukan termasuk aurat. Mereka berargumentasi dengan hadits yang tercantum di dalam Sunan Abu Dawud, dan Daruquthniy, bahwasanya Nabi saw bersabda: “Jika salah seorang diantara kalian menikahkan budak laki-lakinya, atau pembantu laki-lakinya, janganlah melihat apa yang ada di bawah pusat dan diatas lutut”.[HR. Abu Dawud dan Daruquthniy]

    Sebagian yang lain berpendapat, bahwa pusat tidak termasuk aurat, sedangkan lutut termasuk aurat. Mereka berdalil dengan hadits: “Aurat laki-laki adalah apa yang ada di bawah pusatnya, hingga lututnya”.

    Hadits ini dijadikan hujjah oleh al-Mahdi di dalam kitab ‘al-Bahr’. Sebagian ulama lain berpendirian, bahwa pusat termasuk aurat, sedangkan lutut tidak termasuk aurat. Sebagian yang lain berpendapat, pusat dan lutut bukan termasuk aurat. Mereka berhujjah dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari dari Abu Darda’, bahwasanya ia berkata: “Saya sedang duduk di samping Nabi saw, kemudian datanglah Abu Bakar dengan menyingsingkan kainnya, hingga saya melihat kedua lututnya. Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya, shahabatmu sedang marah.” Setelah itu, Abu Bakar pun memberi salam”. [HR. Bukhari]

    Nabi saw mendiamkan Abu Bakar yang telah menyingkapkan lututnya. Ini menunjukkan bahwa lutut bukan termasuk aurat. Pendapat yang terkuat adalah pendapat jumhur para ulama yang menyatakan bahwa aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut (‘maa baina al-sartah waal-rukbah’), dan keduanya bukan termasuk aurat.

    Aurat Wanita : Seluruh Tubuh Selain Muka dan Kedua Telapak Tangan

    Jumhur ‘ulama bersepakat; aurat wanita meliputi seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah firman Allah swt dalam surah an-Nuur: 31.

    Menurut Imam Thabariy, makna yang lebih tepat untuk “perhiasan yang biasa tampak” adalah ‘muka’ dan ‘telapak tangan’. Keduanya bukanlah aurat, dan boleh ditampakkan di kehidupan umum. Sedangkan selain muka dan telapak tangan adalah aurat, dan tidak boleh ditampakkan kepada laki-laki asing, kecuali suami dan mahram.

    Penafsiran semacam ini didasarkan pada sebuah riwayat shahih; Aisyah ra telah menceritakan, bahwa Asma binti Abu Bakar masuk ke ruangan wanita dengan berpakaian tipis, maka Rasulullah saw. Pun berpaling seraya berkata: “Wahai Asma’ sesungguhnya perempuan itu jika telah baligh tidak pantas menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, sambil menunjuk telapak tangan dan wajahnya”. [HR. Muslim]

    Imam Qurthubiy menyatakan, bahwa ayat di atas merupakan perintah dari Allah swt kepada wanita Mukminat agar tidak menampakkan perhiasannya kepada para laki-laki penglihat, kecuali hal-hal yang dikecualikan bagi para laki-laki penglihat.

    Selanjutnya, Allah swt mengecualikan perhiasan-perhiasan yang boleh dilihat oleh laki-laki penglihat, pada frase selanjutnya. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat mengenai batasan perhiasan yang boleh ditampakkan oleh wanita.

    Ibnu Mas’ud mengatakan, bahwa maksud frase “illama dzahara minha” adalah “dzaahir al-ziinah” (perhiasan dzahir), yakni baju. Sedangkan menurut Ibnu Jabir adalah baju dan wajah. Sa’id bin Jabiir, ‘Atha’ dan Auza’iy berpendapat; muka, kedua telapak tangan, dan baju. Menurut Imam al-Nasafiy, yang dimaksud dengan “al-ziinah” (perhiasan) adalah semua yang digunakan oleh wanita untuk berhias, misalnya, cincin, kalung, gelang, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan “al-ziinah” (perhiasan) di sini adalah “mawaadli’ al-ziinah” (tempat menaruh perhiasan). Artinya, maksud dari ayat di atas adalah “janganlah kalian menampakkan anggota tubuh yang biasa digunakan untuk menaruh perhiasan, kecuali yang biasa tampak; yakni muka, kedua telapak tangan, dan dua mata kaki”.

    Syarat-syarat Menutup Aurat

    Menutup aurat harus dilakukan hingga warna kulitnya tertutup. Seseorang tidak bisa dikatakan melakukan “satru al-‘aurat” (menutup aurat) jika auratnya sekedar ditutup dengan kain atau sesuatu yang tipis hingga warna kulitnya masih tampak kehilatan.

    Dalil yang menunjukkan ketentuan ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ra bahwasanya Asma’ binti Abubakar telah masuk ke ruangan Nabi saw dengan berpakaian tipis/transparan, lalu Rasulullah saw. berpaling seraya bersabda: “Wahai Asma sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haidl) tidak pantas baginya untuk menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini”. Dalam hadits ini, Rasulullah saw. menganggap bahwa Asma’ belum menutup auratnya, meskipun Asma telah menutup auratnya dengan kain transparan. Oleh karena itu lalu Nabi saw berpaling seraya memerintahkannya menutupi auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

    Dalil lain yang menunjukkan masalah ini adalah hadits riwayat Usamah. Bahwasanya ia ditanyai oleh Nabi saw tentang kain tipis. Usamah menjawab, bahwasanya ia telah mengenakannya terhadap isterinya, maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Suruhlah isterimu melilitkan di bagian dalam kain tipis, karena sesungguhnya aku khawatir kalau-kalau nampak lekuk tubuhnya”.

    Qabtiyah dalam lafadz di atas adalah sehelai kain tipis. Oleh karena itu tatkala Rasulullah saw. mengetahui bahwa¬sanya Usamah mengenakan kepada isterinya kain tipis, beliau memerintahkan agar kain itu dikenakan pada bagian dalam kain supaya tidak kelihatan warna kulitnya. Beliau bersabda,’”Suruhlah ister¬imu melilitkan di bagian dalamnya kain tipis”. Kedua hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas, bahwasanya aurat harus ditutup dengan sesuatu, hingga warna kulitnya tidak tampak.

    Kesimpulan :

    1. Syariat Islam telah mewajibkan laki-laki dan wanita dewasa untuk menutup seluruh anggota badan yang termasuk kategori aurat. Seorang wanita diharamkan menampakkan auratnya di hadapan umum, di hadapan laki-laki non-mahram, atau saat melaksanakan ibadah yang mensyaratkan adanya “satru al-‘aurat” (menutup aurat) dengan apapun yang memenuhi syarat sebagai penutup aurat, meski nama, sebutan, istilah, bentuk, warna dan design-nya boleh saja berbeda-beda mengikuti bahasa dan selera masing-masing.

    2. Aurat laki-laki adalah antara pusat dan lutut, sedangkan keduanya tidak termasuk aurat.

    3. Aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.

    4. Seseorang baru disebut telah menutup aurat, jika warna kulit tubuhnya tidak lagi tampak dari luar. Dengan kata lain, penutup yang digunakan untuk menutup aurat tidak boleh transparan hingga warna kulitnya masih tampak; akan tetapi harus mampu menutup warna kulit.

    Wallahu ‘alam bishowab.

    […] artikel “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!“, seseorang berkomentar, “iya sih jika dipikir memang benar… kita memang hidup dalam […]

    […] memegang pendapat bahwa jilbab itu tidak wajib, maka janganlah memaksakan kehendakmu. (Lihat “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!“.) Hargailah pandangannya yang berbeda […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s