Benarkah penggunaan jilbab harus ditekankan?

Posted on Updated on

Terhadap artikel “Hargailah perbedaan pendapat masalah aurat!“, seseorang berkomentar, “iya sih jika dipikir memang benar… kita memang hidup dalam keadaan yang sangat relatif… saya juga memahami betapa besarnya hal tersebut… namun, saya juga masih melihat dalil Al-Qur’an yang memerintah kepada wanita untuk menutup dari kepala hingga dada… saya lupa surat apa ayat berapa itu…”

Selanjutnya, ia menulis:

saya mengerti perbedaan pendapat tersebut… saya juga tidak bersikap keras kepada muslimah2 yang memang belum siap mengenakan jilbab… namun, bukankah kita sebagai muslim yang baik juga memberikan ajakan yang baik kepada muslimah…??

kata nabi kan AGAMA ADALAH NASIHAT… berarti bukankah kita hendaknya memberikan ajakan ynag lebih baik kepada para muslimah…? alangkah sayangnya jika kita juga membiarkan para muslimah menampakkan bagian2 yang bisa berbahaya dan menimbulkan fitnah…

memang dalam kenyataannya, ada beberapa orang yang tidak “nafsu” dengan bagian2 tersebut… tapi meskipun memang menurut beberapa ulama bagian2 itu boleh2 saja ditampakkan, bukankah kita ambil jalan yang lebih aman daripada itu??

kalo semua muslimah mempunyai pemahaman bahwa bagian2 yang seperti itu boleh ditampakkan, maka sayang sekali jika budaya islam dalam menutup bagian2 tersebut hilang…

saya sih masih beranggapan bahwa hal ini memang sesuatu yang harus ditekankan juga masalah jilbab… memang, saya tidak bersikap keras trhadap muslimah2 yang belum mengenakan jilbab…karena tante saya juga masih banyak yang belum memakai jilbab… tapi, jika memang bisa diraih jalan yang lebih baik, knepa tidak??? seperti contohnya talak…
talak memang boleh, tapi bukankah jika hal itu dihindari???
wallahu ‘alam….

Tanggapan M Shodiq Mustika:

1) Ayatnya, “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan perempuan-perempuan beriman, agar mereka mengenakan jilbab…..” (QS al-Ahzab [33]: 59) Namun, hendaklah kita memahami ayat seutuhnya, bukan sepotong-sepotong. Kita perlu memperhatikan bahwa potongan ayat tersebut masih ada lanjutannya: “… supaya mereka lebih mudah dikenal [sebagai wanita baik-baik] dan tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.” Lanjutan itulah yang mengisyaratkan terbukanya peluang ijtihad dalam hal ini.

2) Untuk menilai mana yang “lebih aman” antara berjilbab dan tidak berjilbab, hendaknya kita menilainya dari berbagai segi, bukan hanya satu segi saja. Mungkin saja dari segi seksual, jilbab itu “lebih aman”; tapi bagaimana dengan segi sosial, kultural, ekonomik, politik, psikologis, dll? Lebih aman bagi si A pun belum tentu lebih aman bagi si B. Bahkan, walaupun orangnya sama, “aman” di ruang R pada waktu W belum tentu aman pula di ruang X pada waktu Y.

3) Benarkah penggunaan jilbab itu harus ditekankan? Atas dasar apa?

Menurut kaidah fiqih, maksud/tujuan harus lebih diprioritaskan daripada penampilan luar. Untuk lebih jelasnya, silakan simak kitab Yusuf al-Qardhawi, Fiqh Prioritas, pasal “Prioritas Maksud dan Tujuan atas Penampilan Luar.” Di situ, beliau antara lain menyatakan:

Kekeliruan yang sering kali dilakukan oleh orang-orang yang menggeluti ilmu agama ini ialah bahwasanya mereka hanya mengambang di permukaan dan tidak turun menyelam ke dasarnya, karena mereka tidak memiliki keahlian dalam berenang dan menyelam ke dasarnya, untuk mengambil mutiara dan batu mulianya. Mereka hanya disibukkan dengan hal-hal yang ada di permukaan, sehingga tidak sempat mencari rahasia dan tujuan yang sebenarnya. …

Dalam perkara jilbab, maksud/tujuan perintah pemakaian jilbab adalah “supaya mereka lebih mudah dikenal [sebagai wanita baik-baik] dan tidak diganggu”. (QS al-Ahzab [33]: 59) Jadi, yang perlu lebih kita prioritaskan adalah upaya mengangkat citra muslimah dan melindungi mereka dari berbagai gangguan.

4) Fatwa “hukum jilbab itu sunnah” bukanlah berarti sekadar “membolehkan terbukanya rambut kepala” atau apalagi menyuruh pelepasan jilbab. Yang dimaksud adalah menganjurkan penggunaan jilbab. (Arti hukum sunnah: berpahala kalau diamalkan, tidak berdosa kalau tidak diamalkan.)

5) Ajakan yang terbaik bukanlah berdasarkan perasaan atau pikiran kita. Kalau Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak mewajibkan suatu amal, tidak selayaknya kita mewajibkan amal tersebut hanya karena kita menganggapnya baik. “… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. …” (al-A’raf: 54)

Wallaahu a’lam.

22 thoughts on “Benarkah penggunaan jilbab harus ditekankan?

    hidayanti said:
    1 Maret 2009 pukul 19:20

    makin bingung,jadi sebenarnya jilbab itu sunnah? bukannya wajib ya? nah bukannya kita di wajibakan untuk menutup aurot ketika kita sudah baligh?

      M Shodiq Mustika responded:
      1 Maret 2009 pukul 19:50

      @ hidayanti
      Semua ulama sepakat, menutup aurat itu wajib. Namun mereka tidak sepakat mengenai batas-batas aurat. Sebagian mewajibkan jilbab, sebagian lainnya menghukumi sunnah saja.

    Irawan Danuningrat said:
    2 Maret 2009 pukul 12:12

    Assalamu’alaykum wr.wb.

    Sesunguhnya saya heran mendengar masih saja ada kaum muslimin yg mempersoalkan batasan AURAT dan status hukum penggunaan JILBAB. Agama nasrani (kristen, katholik dsb) yg mewajibkan biarawati (wanita-wanita yg mendedikasikan hidupnya kepada tuhannya) menutup auratnya sampai hanya menyisakan wajah dan telapak tangannya saja yg terbuka, tidak pernah dipermasalahkan oleh siapapun, apalagi oleh para pemeluk agamanya.

    Dalam agama Islam memang ada istilah “wajib” dalam kapasitas hukum sebagaimana “halal”, “haram”, “sunat”, “mubah” dsb, dan paradigma “WAJIB” dalam tataran yg lebih luas.

    Setiap mahluk dan muslimin khususnya, WAJIB hormat (ruku) dan taat/berserah diri (sujud) kepada Sang Khalik (Allah SWT). Pengertian “wajib” disini memiliki arti luas melampaui istilah “wajib” selaku batasan hukum (halal-haram-sunat tsb) yang juga tak luput dari konsekwensi reward and punishment (berdosa manakala diabaikan dan berpahala manakala ditunaikan). Coba perhatikan ketika Allah memerintahkan (bukan me-WAJIB-kan) Malaikat dan Iblis untuk sujud kpd Adam ataupun ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail, apa sanksi yg dijatuhan ketika mahluk-Nya mengabaikan perintah tersebut dan apa reward yg dianugrahkan manakala perintah tsb dipatuhi!

    Mengenai “saran” atau “anjuran” TUHAN Yang Maha Tahu, menurut hemat saya pada hakekatnya identik dengan “perintah” yang wajib dipatuhi oleh segenap mahluk-NYA. Apapun isi PERINTAH Allah tsb wajib dipatuhi oleh mahluk-Nya. Senada dengan hal tsb, kewajiban untuk hormat (ruku) dan taat (sujud) kepada Sang Khalik membawa konsekwensi bhw kitapun wajib hormati dan patuhi sabda/titah/perintah Allah tsb baik yang bernada INSTRUKSI, SARAN maupun ANJURAN. Pengabaian yg secara sengaja thdp titah-Nya wajar diasumsikan sbg AROGANSI, ketidak pedulian, atau “sok lebih pintar” si mahluk thd Khaliknya.

    Dalam kehidupan sehari-hari kita sangat pahami bahwa mengabaikan saran & anjuran atasan dpt dipandang sebagai kurang menghargai, melecehkan atau mengabaikan kepedulian atasan, pemikirannya, bahkan juga thdp eksistensinya. Maka dari itu seorang staf biasanya akan sangat memperhatikan dan jarang berani mengabaikan saran atau anjuran dari atasannya.

    Beranjak dari pemikiran tsb, saya berpendapat bahwa “anjuran Allah” sama sekali tidak boleh diabaikan begitu saja. Sebaliknya, saya malah melihat adanya nuansa “ujian” dibalik anjuran tsb. Pelaksanaan “anjuran” mempunyai korelasi yg sangat erat dengan tingkat kecerdasan spiritual seseorang. Hanya mereka yang cerdas dan memiliki kecintaan, keikhlasan dan ketakwaan thdp Allah swt yang tak akan menyangsikan manfaat dan nilai luhur anjuran Allah tersebut. Mereka adalah orang-orang menjalankan ibadah bukan semata-mata karena ketakutan dan ketidak berdayaannya selaku abdi (hamba) Allah ataupun karena perhitungan untung rugi. Mereka melaksanakan perintah Allah lebih disebabkan oleh kecintaan, ketaqwaan dan keinginannya untuk memperoleh ridla Allah SWT terhadap dirinya.

    Kembali pada pokok bahasan menyangkut jilbab, dengan mengacu pada bunyi ayat 31 surah an-Nuur dan al-Ahzab ayat 59 yang berisi perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk memaklumatkan kepada Istri-istri Nabi dan semua muslimah dewasa agar mereka semua menutup auratnya. Maka dari itu saya berkeyakinan bahwa menutup aurat adalah wajib bagi muslimah dewasa. Kriteria wajib disini justru adalah wajib dalam makna luas, bukan sekedar istilah hukum, baik dengan “jilbab” ataupun model pakaian lainnya, sehingga seluruh bagian tubuhnya tertutup kecuali wajah dan kedua telapak tangannya, sebagaimana dilakukan pula oleh para Biarawati.

    Wallaahualam.

    Wassalamu’alaykum wr.wb.

      M Shodiq Mustika responded:
      2 Maret 2009 pukul 13:19

      @ Irawan Danuningrat

      wa’alaykumussalaam war. wab.

      Dalil-dalil mengenai menutup aurat tidaklah qath’i (tegas). Jadi, di sini terbuka peluang ijtihad. Karena pintu ijtihad terbuka, terbuka jugalah kemungkinan perbedaan pendapat. Marilah kita “hargai perbedaan pendapat masalah aurat“.

      Aku tidak heran mendapati perbedaan hasil ijtihad di kalangan ulama walau sama bersandar pada firman Allah dan sunnah nabi-Nya. Lihat “Mengapa Ulama Berlainan Pendapat Walau Sama-Sama Berpijak pada Al-Qur’an”. Untuk pembahasan yang relatif lengkap mengenai dalil-dalil jilbab, silakan simak buku M Quraish Shihab, Jilbab.

      Fatwa “hukum jilbab itu sunnah” bukanlah berarti sekadar “membolehkan terbukanya rambut kepala” atau apalagi menyuruh pelepasan jilbab. Yang dimaksud adalah menganjurkan penggunaan jilbab. (Arti hukum sunnah: berpahala kalau diamalkan, tidak berdosa kalau tidak diamalkan.) Sungguhpun demikian, ada perbedaan antara “anjuran Tuhan” dan “anjuran Tuan (Bos)”. Anjuran Tuhan tidak mengakibatkan sanksi bila tidak dikerjakan, tetapi anjuran Bos bisa mengandung sanksi bila tidak dipatuhi.

      Ajakan yang terbaik bukanlah berdasarkan perasaan atau pikiran kita. Kalau Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak mewajibkan suatu amal, tidak selayaknya kita mewajibkan amal tersebut hanya karena kita menganggapnya baik. “… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. …” (al-A’raf: 54) Dan Allah sajalah yang Mahatahu.

    Irawan Danuningrat said:
    2 Maret 2009 pukul 15:38

    Assalamu’alaykum wr.wb.

    Memang perbedaan pendapat/hasil ijtihad, adalah sesuatu yg wajar dan hal tsb senantiasa saya hormati tentunya.

    Jauh dari maksud berpolemik mengenai perintah berjilbab, pemikiran saya diatas lebih didasarkan pada titah/firman Allah swt kepada Nabi Muhammad sebagaimana disampaikan Pak Shodiq y.i.: “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, putri-putrimu, dan perempuan-perempuan beriman, agar mereka mengenakan jilbab……..” dan Rasulullah pasti teruskan perintah Allah tersebut kepada Isteri-isteri beliau, puteri-puteri beliau, wanita muslimah saat itu apa adanya, dan saya yakin mereka semua mematuhinya.

    Dengan harapan dan niat meneladani sunnah Rasulullah tsb, saya sampaikan firman Allah tsb apa adanya kepada isteri dan menantu saya (saya tdk punya anak perempuan) berikut “bonus informasi” dari Allah berupan penjelasan ttg “manfaat”, “kegunaan”,
    “kebaikan” atau dampak positif dari berjilbab tsb.

    Mengapa saya katakan “bonus informasi” ? karena menurut hemat saya, sesungguhnya Allah tidak harus selalu memberi penjelasan atau alasan ttg mengapa diturunkan sesuatu perintah (a.l. perintah pengharaman memakan daging babi, perintah pemindahan Kiblat – Q:2[142-144]dll). Oleh karena itu, kembali menurut hemat saya, sekali Allah memerintahkan, mahluk-Nya WAJIB mentaati perintah tsb, ada atau tanpa penjelasan yg diberikan-Nya.

    Saya sangat menyadari bahwa pengetahuan manusia sangatlah terbatas dibanding Allah swt, sehingga saya tidak berani menyimpulkan bahwa “pertimbangan keamanan” yg tersurat dlm ayat selanjutnya sebagai “the only reason” diturunkannya surat al-Ahzab ayat 59 tsb, apalagi kenyataannya cara menutup aurat spt itu terbukti diberlakukan juga bagi kaum wanita pemeluk agama nasrani (setidaknya para biarawati).

    wallaahua’lam

    Wassalamu’alaykum wr.wb.

      M Shodiq Mustika responded:
      2 Maret 2009 pukul 15:51

      @ Irawan Danuningrat

      Memang perbedaan pendapat/hasil ijtihad, adalah sesuatu yg wajar dan hal tsb senantiasa saya hormati tentunya.

      Terima kasih atas pengertiannya.

    satya said:
    20 Maret 2009 pukul 03:46

    ass

    pa sodiq saya numpang gabung,
    kalau menurut saya perintah utuk berjilbab tu sudah sangat jelas wajib hukumnyua berdasarkan Al quran.
    web seperti ini jika di baca orang yg awam akan sangat berbahaya sekali karena mereka akan merasa menggunakan jilbab itu sunah sehinga sampai ajal menjemput mereka tidak pakai jilbab , sehingga anda ikut menanggung dosanya karena mereka tidak memakai jilbab karena baca tulisan anda ini. maaf kalau terlalau jujur, hanya sekedar mengingatkan saja sebagai saudara.
    dan saran saya lebih baik anda membuat web yg mengandung motipasi dan ilmu sehingga jika ada yg mengikuti anda ikut menuai pahalnya kelak.

    kalau saya lebih baik mengatakan pakai jilbab itu hukumnya wajib sehingga orang akan semakain banyakk yg memakai jilbab sehingga kejayaan isalam akan semakin dekat,

    wass

      M Shodiq Mustika responded:
      20 Maret 2009 pukul 04:40

      @ satya

      Ayat manakah yang secara qath’i mewajibkan jilbab? Apakah kau berkomentar tanpa membaca isi artikel di atas? Pada butir nomor 1 telah kusampaikan, “Kita perlu memperhatikan bahwa potongan ayat tersebut masih ada lanjutannya: “… supaya mereka lebih mudah dikenal [sebagai wanita baik-baik] dan tidak diganggu. Allah Maha Pengampun, Maha Pengasih.” Lanjutan itulah yang mengisyaratkan terbukanya peluang ijtihad dalam hal ini.” Apakah kau belum tahu bahwa hasil ijtihad itu bisa berlainan?

      Arti hukum sunnah: berpahala kalau diamalkan, tidak berdosa kalau tidak diamalkan. Apabila hasil ijtihad itu benar dalam pandangan Allah, maka pahalanya dua. Namun bila keliru dalam pandangan-Nya, maka pahalanya satu. Dengan kata lain, dosanya tidak ada. Lalu bagaimana kau bisa bilang bahwa aku akan ikut menanggung dosa tidak dipakainya jilbab oleh pembaca? Dosa yang mana?

      Benarkah yang terbaik adalah “mengatakan pakai jilbab itu hukumnya wajib” (karena berpikiran bahwa dengan demikian, “kejayaan Islam semakin dekat”)? Apakah kau belum membaca isi artikel di atas? Pada butir nomor 5 telah kusampaikan:

      Ajakan yang terbaik bukanlah berdasarkan perasaan atau pikiran kita. Kalau Al-Qur’an dan as-Sunnah tidak mewajibkan suatu amal, tidak selayaknya kita mewajibkan amal tersebut hanya karena kita menganggapnya baik. “… Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. …” (al-A’raf: 54)

    bright92girl said:
    10 April 2009 pukul 21:01

    Salaam…terima kasih ya artikelnya.Bagus sangat,bisa menjadi panduan dan peringatan bagi kami yang bergelar muslimat

    Darsan andi said:
    24 April 2009 pukul 16:07

    Pak sodiq
    arti sunnah yang lebih tepat bukanlah sesuatu yang dikerjakan mendapat pahala dan ditingalkan tidak mendapat dosa.
    tetapi yang lebih tepat adalah apa yang diperintahkan oleh syari’at tanpa ada keharusan.
    kalau melihat definisi yang kita kenal selama ini bahwa sunnah adalah sesuatu yang mendatangkan pahala dan meninggalakannya tidak apa2, maka yang demikian itu bukan definisi sunnah. akan tetapi, itu adalah konsekuensi melaksanakan perbuatan sunnah bukan arti sunnah itu sendiri. yang membedakan dengan wajib adalah kalau wajib itu harus dilaksanakan sedangkan sunnah tidak tidak harus.

      M Shodiq Mustika responded:
      24 April 2009 pukul 17:03

      @ Darsan andi
      Ada banyak jenis definisi/arti/makna. Arti yang mengacu pada konsekuensi tergolong diantaranya. Definisi biasanya berbeda bila sudut pandangnya berbeda.

    Darsan andi said:
    24 April 2009 pukul 16:28

    saya juga ingin mengomentari tentang masalah ijtihad yang sering bapak dengunkan dalam blog.
    saya sependapat dengan bapak bahwa pintu ijtihad masih terbuka lebar, tidak ada kata tertutup. akan tetapi, dalam masalah ijtihad ini telah ditulis oleh para ulama dalam ushul piqh. disana dibahas secara rinci tentang permasalahn ijtihad, siapa yang boleh berijtihad dalam masalah apa ijtihad. sehingga tidak setiap orang boleh mengatakan saya berijtihad sedangkan dia belum mencapai taraf saorang mujtahid. sehingga tidak benar bahwa setiap orang yang mengatakan saya berijtihad, pasti tidak akan berdosa kalau salah. atau dia beranggapan dapat dua pahala kalau benar. yang dimaksud dengan mendapat satu pahala kalau salah dan mendapat dua pahala kalau benar adalah saoarang mujtahid yang mempunyai perangkat untuk mengeluarkan suatu hukum berdasarkan alqur’an dan sunnah.
    adapun selain mujtahid maka tidak dibolehkan bagi dia untuk berijtihad, karena hak untuk berijtihad adalah haknya mujtahid bukan haknya orang awam yang tidak mempunyai ilmu dan tidak mempunyai perangkat untuk berijtihad.
    sekedar contoh, untuk urusan dunia saja, seperti pengobatan misalanya. maka yang berhak berijtihad dalam masalah ini adalah doketer/ tabib atau orang yang ahli dalam bidang pengobatan, bukan sembarang orang. apabila ada yang berani buka pengobatan kemudian melakukan operasi, maka orang ini telah melanggar hukum dan berhak mendapat hukuman yang keras. karena dia telah membuat bahaya orang lain dengan membuka praktek tersebut. ya, mungkin itu sekedar ilustrasi bahwa ijtihad ada koridornya baik itu urusan dunia maupun urusan agama.

      M Shodiq Mustika responded:
      24 April 2009 pukul 17:05

      @ Darsan andi
      Kami juga berpendapat begitu.

    Darsan andi said:
    24 April 2009 pukul 16:40

    barang siapa yang mengikuti pendapat2 yang aneh dan mengikuti ketergelinciran para ulama, maka dia akan binasa.
    katakanlah inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah atas dasar bashiroh ( ilmu yang sangat yakin bukan ragu2), aku dan orang yang mengikuti, dan mahasuci Allah tidaklah aku termasuk orang yang berbuat syirik.
    jadi jelas, bahwa dalam berdakwa kita harus yakin bahwa itu adalah benar atau yang rajih bukan untuk membuat bingung banyak orang. ketahuilah apabila kita lebih banyak memabuat bingung daripada membuat yakin, maka ketahuilah jangan2 apa yang kita tulis banyak salahnya, karena sesuatu yang salah itu akan menjadikan orang bingun. dan bagi saya dan juga bagi pak sodiq coba deh apakah tulisan2 pak sodiq komentar yang masuk banyak menambah bingung atau membuat bertambah yakin. dan masalah bingung apa ngak ini, bukan satu2nya tolak ukur karena bisa jadi apa yang kita tulis adalah benar tetapi karena permasalahan sangat rumit maka juga bisa membuat orang bingung, tapi hanya untuk awalnya saja. seperti masalah asma wassifat dan juga masalah taqdir, maka yang seperti ini kadang agak membuat bingung tetapi bukan karena materinya salah misalnya tetapi permasalahan yang dibahas adalah permasalahn yang rumit.
    adapun penilaian saya, untuk web bapak banyak membahas permsalahan sederhana yang biasa terjadi sehari-hari. terimah kasih semoga Allah membalas bapak dengan yang setimpal.

      M Shodiq Mustika responded:
      24 April 2009 pukul 17:17

      @ Darsan andi
      Komentar Darsan andi ini aneh. Namun, bukan keanehan itu yang membuat kami tidak bisa menerimanya. Sebab, kebenaran itu tidak bisa diukur dengan aneh-tidaknya itu dalam “kacamata” manusia. Kebenaran itu juga tidak bisa diukur dengan bingung tidaknya manusia yang memikirkannya. Contoh: Ada banyak orang nonmuslim yang bingung mengapa Nabi Muhammad berpoligami. Namun, itu bukan berarti bahwa poligaminya Nabi itu merupakan kekeliruan.
      Mengenai komentar yang beraneka macam di situs ini, lihat penjelasan kami di “Kontroversi di masyarakat tidak perlukah?

    Berjilbab = shalihah? « M Shodiq Mustika said:
    29 Mei 2009 pukul 11:29

    […] yang perlu lebih diprioritaskan daripada perkara-perkara lain yang lebih penting. (Lihat “Benarkah penggunaan jilbab harus ditekankan?“) Karena itu, aku bisa memahami mengapa partai-partai Islam justru mendukung pasangan […]

    Bima said:
    30 Mei 2009 pukul 16:40

    eh, pernyataan saya yang waktu itu dijadikan artikel yaa?
    hehehe…

    taq apa2, saya jadi melihat ilmu baru dengan penjelasan yang lebih dalam..
    oya pak, saya mau bertanya lagi…
    jadi, jika rambut itu bukan aurat wanita, apakah sholat itu boleh tidak dengan berkerudung?

    dan ada lagi, ada hadis dari asma ra yang bertemu nabi dengan pakaian yang tembus pandang, kemudian nabi memalingkan pandangannya dan mengatakan bahwa tidak boleh diperlihatkan kecuali ‘ini’ dan ‘ini’ (menunjuk pada wajah dan telapak tangan wanita) (HR. Abu Daud)
    saya sudah memeriksa hadis tersebut bahwa tidak sampai derajat shahih, namun, saya meneliti lagi dari buku halal-haram Dr. Yusuf Qardhawi, untuk tetap menjaga hubungan sosial antara sesama manusia, beliau-pun mengambil jalan sebagaimana yang tertera pada hadis di atas pak (wjah dan tangan)…
    saya membacanya di bab tabarruj…

    hummm, jadi bagaimana kesimpulan yang bisa bapak ambil dari sini…?

      M Shodiq Mustika responded:
      30 Mei 2009 pukul 19:33

      @ Bima
      1) Ada perbedaan aturan antara ibadah mahdhoh (seperti shalat) dengan ibadah ghayru mahdhoh. Jadi, bisa saja ada perbedaan antara aurat di waktu shalat dan di luar shalat.
      2) Amal-amal yang wajib itu ada banyak jenisnya. Dr. Yusuf Qardhawi berpandangan bahwa tingkat kewajiban-kewajiban tersebut berlainan. Ada amal wajib yang lebih perlu ditekankan daripada amal wajib lainnya. Untuk lebih jelasnya, silakan simak bab “Prioritas dalam berbagai bidang amal” dan bab “Prioritas dalam perkara yang diperintahkan” dalam http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Prioritas/

    KETIKA JILBAB BERPOLITIK « Muslim12's Blog said:
    11 Juni 2009 pukul 16:18

    […] Benarkah penggunaan jilbab harus ditekankan? […]

    umi said:
    21 Mei 2010 pukul 22:02

    saya kaget membaca tulisan bapak,betapa tidak?baru kali ini saya temukan ada yg mengatakan hukum jilbab itu sunah,Bagaimana ketika tulisan ini dibaca wanita-wanita yg memang awam sekali ilmu agamanya? betapa banyak orang menjadi bingung dan sesat?padahal seharusnya tugas kita saat ini adalah bgmn berdakwah semampu kita agar para muslimah memakai jilbab dengan sempurna.

      M Shodiq Mustika responded:
      22 Mei 2010 pukul 03:59

      Ana memaklumi kekagetan umi, sebagaimana ana pun memaklumi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

    rozi said:
    7 Februari 2011 pukul 17:34

    tolong jelaskan penggunaan jilbab itu harus seterusnya atau saat pergi saja???? sebelumnya trima kasih

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s