Pacaran Islami ala Quraish Shihab

Posted on Updated on

Sebelum sampai ke jenjang perkawinan, ada satu tahapan/kegiatan yang diatur oleh agama, yaitu khitbah (pinangan) atau “masa pacaran”.

Untuk itu dianjurkan kepada setiap calon suami untuk “melihat” calon istrinya (dan tentu demikian pula sebaliknya). Nabi saw. bersabda:

Lihatlah calon istrimu, karena ia (melihatnya) akan mengundang kelanggengan hubungan kalian berdua.

Ini bukan berarti bahwa “pacaran” dalam pengertian sebagian anak-anak muda sekarang dibolehkan agama. Tidak dan sekali lagi tidak! Kalau pun ada pacaran yang dibolehkan agama, maka pacaran yang dimaksud adalah dalam pengertian “teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin, untuk menjadi tunangan, dan kemudian istri”. Pacaran yang dibenarkan adalah yang “hanya” merupakan sikap batin, bukan yang dipahami sementara orang, khususnya remaja sekarang, yakni sikap batin yang disusul dengan tingkah laku, berdua-duaan, saling memegang, dan seterusnya.

Makhluk, termasuk manusia, remaja atau dewasa, dianugerahi oleh Tuhan rasa cinta kepada lawan seksnya (QS, Ali ‘Imran [3]: 14). Atas dasar itu, agama tidak menghalangi pacaran dalam pengertian di atas. Agama hanya mengarahkan dan membuat pagar-pagar agar tidak terjadi “kecelakaan”.

Dahulu ada sebagian ulama memahami sabda Nabi saw. yang membolehkan “melihat calon istri” sebagai “membolehkan melihat wajah dan telapak tangan.” Kini sementara ulama memahaminya lebih dari itu, yakni mengenalnya lebih dekat, dengan bercakap-cakap atau bertukar pikiran, selama ada pihak terpercaya yang menemani mereka, guna menghindar dari segala yang tidak diinginkan oleh norma agama dan budaya.” Ketika itu, jika terjalin hubungan cinta kasih antara keduanya–meskipun itu berupa cinta kasih yang muncul sebelum menikah–maka agama tidak menghalanginya. Bukankah tujuan mereka adalah saling mengenal guna melangsungkan dan melanggengkan perkawinan?

Dalam konteks perintah Nabi saw. untuk melihat calon istri yang dikutip di atas, terbaca bahwa beliau tidak menentukan “batas-batas tertentu” dalam “melihat”. Beliau hanya menentukan tujuan melihat dan hal ini menunjukkan keluwesan ajaran Islam dan keistimewaannya, sehingga memudahkan setiap orang pada setiap masa untuk menyesuaikan diri dengan adat istiadat, etika, dan kepentingan mereka, selama dalam batas-batas yang wajar. Begitu pandangan banyak ulama kontemporer.

Karena itu, pada masa pertunangan [atau “masa pacaran”], calon pasangan tidak dihalangi untuk duduk [berdua] di beranda rumah bersama salah seorang keluarga atau dari kejauhan orang tua mengamati mereka. [Pengamatan dari jauh] ini bila sejak semula orang tua telah yakin bahwa kedua calon pasangan itu, insya Allah, tidak akan mengorbankan kebahagiaan abadi dengan kesenangan sesaat.

Ketika agama membenarkan hal di atas, maka itu juga menunjukkan betapa tidak mudah menjalin hubungan yang serasi dan langgeng tanpa saling mengenal antara pihak-pihak yang berhubungan.

Jika calon suami dan istri sudah saling “melihat” dalam batas-batas yang dibenarkan agama, dan hati keduanya telah berkenan, maka saat itu dapatlah calon pasangan atau yang mewakilinya mengajukan khitbah/pinangan.

———

Tulisan di atas merupakan kutipan dari buku M. Quraish Shihab, Pengantin Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 57-59.

Artikel terkait:

20 thoughts on “Pacaran Islami ala Quraish Shihab

    maharani said:
    31 Desember 2008 pukul 09:54

    Alhamdulillah saya blm pernah pacaran,harapan saya jg mnmukan pacar yg lgsg cocok jd calon suami. Hubungan batin memang yg tpnting. Doakan saya ya mg dpt pasangan yg tepat. Rencana ALLAH slalu indah.

      M Shodiq Mustika responded:
      31 Desember 2008 pukul 15:57

      @maharani
      Aamiin.

      @Fahmi
      Terima kasih. Silakan nge-link.

    Fahmi said:
    31 Desember 2008 pukul 09:57

    mas…
    tulisannya bagus dan keren2…
    aku suka bacanya… boleh ya aku ikut ngelink2 dsini..😀

    aku baru bikin blog dan masih bingung apa yang musti di tulis…

    Cactus said:
    9 Februari 2009 pukul 20:40

    Semoga Allah selalu merahmati dan memberikan perlindungan kepada penulis dan seluruh umat Islam. Nice works and double interesting hehe… Salam kenal dari saya..

      M Shodiq Mustika responded:
      9 Februari 2009 pukul 20:48

      @ Cactus
      amien….amien…..
      yah semoga Allah memberikan perlindungan kepada umatnya
      salam kenal kembali🙂

    hidayanti said:
    1 Maret 2009 pukul 02:22

    aduh…bagus…seneng banget baca artikel artikel disini …mudah2an allah selalu mencurahkan rahmat nya untuk semesta alam🙂 tambah ilmu🙂

    MOH. ZAINUS SUBKHAN said:
    11 Maret 2009 pukul 01:22

    assalamu’alaikum,,, wilujeng dalu.. kula matur numpang gabung nggih…
    mengkin kula badu berkreasi tulisan ilmiah hasil studi di bangku kuliyah yang hingga saat itu kula nembe semester enam.

    MOH. ZAINUS SUBKHAN said:
    11 Maret 2009 pukul 01:23

    assalamu alaikum…….

    M Shodiq Mustika responded:
    14 Maret 2009 pukul 19:42

    @ hidayanti
    Aamiin. Terima kasih atas seringnya kunjunganmu ke sini. Semoga Allah membalas kebaikanmu ini dengan yang lebih baik.

    @ Moh. Zainus Subkhan
    w’alaykumussalaam… sugeng dalu ugi… nggih, nggih… monggo

    […] yang islami. Aku menerima keberadaan berbagai konsep pacaran islami yang sudah ada. Diantaranya ala Quraish Shihab, Ibnu Hazm, Ibnu Qayyim, Abu Syuqqah, dsb. Dalam berbagai konsep itu, bentuk nyata pacaran islami […]

    […] dalam teori. Prakteknya ada. Pelakunya juga tidak harus orang-orang “khosh” seperti ulama NU atau pun tokoh Muhammadiyah. Orang awam pun dapat menjalankannya. Ini dia contohnya, sebagaimana […]

    […] islami. Sesudah kita temui pacaran islami ala Dewan Asatidz PesantrenVirtual.com, pacaran islami ala M Quraish Shihab, pacaran islami ala tokoh-tokoh Muhammadiyah, sekarang kita saksikan adanya pacaran islami ala […]

    […] islami. Sesudah kita temui pacaran islami ala Dewan Asatidz PesantrenVirtual.com, pacaran islami ala M Quraish Shihab, pacaran islami ala tokoh-tokoh Muhammadiyah, sekarang kita saksikan adanya pacaran islami ala […]

    […] mengenai hal ini dapat ukhti simak di “Pacaran Islami ala Quraish Shihab“. Adapun dalilnya di “Shahihnya Hadits Yang Membolehkan […]

    […] mengenai hal ini dapat ukhti simak di “Pacaran Islami ala Quraish Shihab“. Adapun dalilnya di “Shahihnya Hadits Yang Membolehkan […]

    adi said:
    9 Desember 2009 pukul 11:38

    asslm,,, bagus banget halaman ini, saya selaku generasi muda jadi dapat pengetahuan baru

    […] mengenai hal ini dapat ukhti simak di “Pacaran Islami ala Quraish Shihab“. Adapun dalilnya di “Shahihnya Hadits Yang Membolehkan […]

    achy emz said:
    22 September 2011 pukul 10:56

    Asalamu’alaiakum,, hemmm aq mau nanya, misalkan ada seorng laki2 dan perempuan yang sling mngenal lwt sms dan telp, dan dari situ mereka memiliki perasaan yang berbeda dan mereka saling cocok satu sama laen tp mreka tdk pernah ktmua hnya tukar foto, apakah hal tersebut bsa di ktakan ta’aru atau tidak ya?
    terma kasih, wasalam Ashy

    muttaqi89 said:
    2 Januari 2012 pukul 12:53

    yg ilmiah dikitlaah..g usah membodohi umat…di kamus mana khitbah = pacaran…dari dulu iblis memang pandai memutar kata

    […] yang secukupnya. Caranya? Antara lain, lihat paragraf yang tercetak tebal pada artikel “Pacaran Islami ala Quraish Shihab” dan panduan dari “Fatwa Muhammadiyah tentang Pacaran […]

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s