Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid’ah

Posted on Updated on

Insya Alloh di akhir Januari mendatang saya akan mengkhitbah seorang wanita, namun saya masih agak bingung tentang tata caranya. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan dari saya: (1) bagaimanakah cara melakukan khitbah terhadap seorang akhwat? (2) apakah perlu ketika proses khitbah tersebut dilakukan, kita membawa barang-barang tertentu seperti yang lazim ada di masyarakat saat ini? (3) apakah diperbolehkan melakukan khitbah kepada wali dari akhwat tersebut dilakukan secara sendirian tanpa didampingi dari orangtua kita? (4) apakah ada lafadz tertentu dalam proses khitbah tersebut, bila ada bagaimana? (5) dan bila tidak ada lafadz tertentu, sebaiknya saya berbicara seperti apa kepada wali dari akhwat tersebut? (6) apakah ada batasan waktu tertentu dari masa khitbah ke masa wa’limahan?

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Alhamdulillaah… aku turut gembira atas rencana khitbahmu. Sebelum menyampaikan jawabanku, aku pun mau bertanya kepadamu:

  • Apakah kau dan sang akhwat sudah saling kenal?
  • Apakah si dia sudah tahu tentang rencana khitbahmu ini?
  • Apakah kau pernah berkomunikasi (dalam rangka menjalin silaturrahim) dengan orangtua/wali si dia?

Kalau semua jawabannya iya, maka proses khitbahmu insya’allah akan lebih lancar. Berikut ini jawabanku atas pertanyaan-pertanyaanmu.

1. bagaimanakah cara melakukan khitbah terhadap seorang akhwat?
Dibandingkan dengan agama besar lainnya, Islam merupakan agama yang sederhana. Cara nikahnya sederhana, apalagi khitbah. Tentu lebih sederhana lagi. Sekadar menyampaikan lamaran untuk menikah dengan si dia kepada yang bersangkutan pun sudah tergolong khitbah. Khitbah adalah permohonan kepada yang bersangkutan (yakni si dia atau walinya) untuk menikah dengan si dia. Khitbah sudah sah dan sempurna hanya dengan ungkapan permohonan itu saja.

2. apakah perlu ketika proses khitbah tersebut dilakukan, kita membawa barang-barang tertentu seperti yang lazim ada di masyarakat saat ini?
Memberikan hadiah dalam rangka memelihara silaturrahim (hubungan kasih sayang) merupakan sunnah. Namun menurutku, wallaahu a’lam, pemberian barang yang tertentu (yang dimaknai sebagai kesempurnaan khitbah), misalnya: cincin kawin atau cincin pertunangan, justru merupakan bid’ah. Sebaiknya kau cari tahu barang apa yang dia sukai, sehingga bila diberi pastilah dia akan menerimanya dengan senang hati. Andaikan yang dia sukai (atau dia kehendaki) itu cincin, boleh-boleh saja kau memberinya cincin, tetapi jangan menyatakannya sebagai cincin kawin atau pun cincin pertunangan. Nyatakanlah cincin itu sebagai “hadiah” saja. Titik.

3. apakah diperbolehkan melakukan khitbah kepada wali dari akhwat tersebut dilakukan secara sendirian tanpa didampingi dari orangtua kita?
Boleh-boleh saja kau datang melamar dia secara sendirian, tetapi lebih baik bersama-sama dengan orangtua dan beberapa famili lainnya. Sebab, musyawarah dan silaturrahim merupakan bagian dari ajaran Islam, bukan? Apalagi, kebersamaan itu cenderung memperlancar proses khitbah itu sendiri!

4. apakah ada lafadz tertentu dalam proses khitbah tersebut, bila ada bagaimana?
Sepengetahuanku, tidak ada lafal tertentu untuk khitbah. Malah penetapan lafal tertentu bisa tergolong bid’ah.

5. dan bila tidak ada lafadz tertentu, sebaiknya saya berbicara seperti apa kepada wali dari akhwat tersebut?
Yang penting, kata-kata permohonan menikah itu sebaiknya disampaikan secara jelas dan beradab. Hanya saja, pengertian “jelas dan beradab” itu bisa berlainan. Sesuatu yang jelas dan beradab bagi kita, belum tentu demikian pula bagi orang lain. Tentu saja, yang kita pegang dalam urusan ini adalah pengertian menurut orang yang kepadanya kita bermohon (selama tidak melanggar syariat). Kalau sekarang kita belum tahu, ya cari tahu, dong!

6. apakah ada batasan waktu tertentu dari masa khitbah ke masa wa’limahan?
Islam tidak menetapkan batas waktu tertentu antara khitbah dan walimah. (Lihat Pembatasan Masa Taaruf (Yang Bid’ah dan Yang Bukan Bid’ah).) Sesudah khitbah (permohonan menikah) disetujui, sebaiknya keluarga kedua pihak bermusyawarah mengenai kapan dan bagaimana walimah dilangsungkan.

Demikian jawabanku. Wallaahu a’lam.

11 thoughts on “Tatacara Khitbah (peminangan) yang bukan bid’ah

    iffah said:
    6 April 2009 pukul 16:13

    Subhanallah, pembahasan di atas bisa menjadi masukan yang baik bagi yang ingin menyegerakan ibadah tersebut. tapi saya ingin bertanya, bagaimana pendapat sdr jika ada seorang ikhwan yang mengkhitbah via sms, terlebih menggunakan kata-kata kalau dia mencintai si akhwat yang dy ajak walimah?? mohon jawabannya. Jazakallah

    Neng Uus said:
    18 April 2009 pukul 15:55

    subhanallah semoga ilmunya bermanfaat untuk semua ikhwan wa akhwat yang akan melangsungkan khitbah

    awan said:
    4 Mei 2009 pukul 12:54

    assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh….
    pak ustadz,da yang masih belum jelas dalam pemahaman saya ttg pernikahan. kalo da seorang ikhwan yagn ingin mengkhitbah saya, saya mau menikah dengannya tetapi bukan dalam waktu dekat ini karena saya belum siap dalam hal segalanya. saya memberikan jawaban tahun depan insyaAllah sudah siap. lalu bagaimana dengan khitbah-an dy??? bolehkah saya menerimanya tapi dengan aqad pernikahan setahun kemudian??? kami sudah saling mengenal dan masing2 sudah merasa nyaman. bagaimanakah solusi terbaiknya??? saya menunggu jawaban pak ustadz tuk dikirim ke email saya. Jazzakallah Ustadz. Wassalam.

    khodijah said:
    31 Juli 2009 pukul 11:30

    assalamu’alaikum, wr.wb
    saya mo tanya, kalo dalam khitbah seorang ikwan meminta kepada akhwatnya untuk menanggalkan jilbalnya walau hanya sebentar apakah itu boleh?adakah hadist yang menjelaskannya?syukron tas wajabannya

    indra said:
    21 Oktober 2009 pukul 20:53

    Assalamuálaikum wr. wb
    ustadz yg saya hormati, saya pernah membaca suatu buku yg menyatakan bahwa jika mengkitbah seseorang kita disunahkan mengucapkan hamdalah, shalawat, kemudian baru menyampaikan permohonan kita..mohon tanggapannya..syukron

    Asep said:
    30 April 2010 pukul 11:13

    Teimakasih bgt atas,artikelnya y singkat dan jelas ,bagi saya sangat berarti karena Insya Allah dalam waktu dekat saya akan melangsungkan proses khitbah dengan seorang wanita yang Insya Allah baik.

    fadilah amalia said:
    10 Juli 2010 pukul 06:34

    dlm fathul muin (2-dst),sunnah melihat sebelum khitbah,melihat agama dll supaya lbh mantap,(ta’aruf mungkin),dan tidak dalam perkiraan dirinya tidak akan diterima,dlam prosesnya apapun bisa terjadi..kedua belah pihak masih boleh memilih,selma akad nikah ijab kabul belum diucapkan,hal 8 juga dijelaskan,sunnah berkhutbah sebelum khitbah,yaitu puji kepada Allah,selawat,berwasiat bertaqwa,kemudian”saya datang kepada kalian krn senang dg wanita yg mulia ini” (atau senada,meminangred )aq),kemudian dijawab:saya bukan tidak suka padamu…,dan pihak wanita bisa memilih,(wallahu a’lam)

    muhamad ansori said:
    17 April 2011 pukul 16:08

    syukron ‘ala ilmihi, lo bisa ditambah yaaaa,,, jadi tambah pengetahuan saja perihal khitbahhhhh…….sukses selaluuu…

    Zee said:
    27 Februari 2013 pukul 19:47

    assalamualikum ustad,

    Saya ingin meminta nasihat untuk masalah saya. Sekitar 5,5 th lalu saya berkenalan dgn seorang pria melalui internet, Setelah berkenalan sekitar beberapa bulan laki2 itu menyatakan rasa sukanya pada saya, tetapi saya menolaknya karena dia berbeda SARA sehingga saya tau orang tua saya tidak akan menerimanya. Tetapi kami tetap berteman karena kami merasa sangat cocok dan memiliki banyak kesamaan. Tapi setelah selama 4 bulan dia berkali2 saya tolak, dia mengatakan tidak akan menghubungi saya lagi. Saya menerima hal itu dan tidak berhubungan dengannya sekitar 1 minggu. Ketika putus kontak itulah baru saya menyadari bahwa saya ternyata juga terlanjur menyukainya, akhirnya saya memutuskan untuk sholat istikharah sebelum memutuskan apakah saya harus memberitahu perasaan saya atau tidak, dan hasilnya saya justru merasa mantap.

    Dan kemudian saya mengatakan apa yg saya rasakan padanya (awalnya tanpa maksud berpacaran, hanya ingin jujur padanya karena dia juga sudah jujur ttg perasaannya pada saya), selama 4,5 th tahun kami berhubungan hanya melalui telp dan internet setelah itu baru dia beberapa kali datang kekota saya. Selama ini saya berkali-kali sholat istikharah karena saya mengalami keraguan ttg kelanjutan hub. ini karena adanya perbedaan agama tapi justru makin mantap padanya. Kami juga berkali2 berusaha saling meninggalkan, tapi entah bagaimana selalu berhubungan lagi. Disamping itu salah satu dari kami pasti sakit setiap kali kami berusaha berpisah (saya pernah pingsan, pendarahan, masuk RS, gara2 masalah ini).Karena itulah akhirnya saya lelah sendiri, dan berkata pada Allah ketika sholat istikharah yg kesekian kalinya “Kalau memang dia orang yg kau kirim untukku, tolong masukkan dia kedalam agamaMu, tapi kalau bukan tolong beri kekuatan agar kami bisa berpisah”. Subhanallah 3 bulan setelah itu dia minta dicarikan pesantren, dan tgl 11 April 2012 dia resmi jadi muallaf dan langsung masuk pesantren selama sekitar 8 bulan. Selain itu dia juga pindah kekota yg sama denganku.

    Hanya saja masalahnya,walaupun laki2 itu sudah berniat untuk datang kerumah secara baik2. tapi orang tuaku tidak mau menerimanya bahkan bilang akan mengusirnya kalau dia sampai berani kerumah. Mereka kuatir laki2 itu pindah agama hanya untuk menarikku ke agama lahir dia. Disisi lain kalau aku tetap mempertahankan hubungan ini, aku yang akan diusir dari rumah, Mama juga jadi sakit2an karena tidak rela jika aku berhubungan dengannya, dan ayah saya berusaha menjodohkan saya beberapa kali dengan laki2 yg menurut dia baik. Saya memahami niat ayah saya,..tapi saya tidak sanggup untuk menerima (dan memikirkan harus melayani) laki2 lain.

    Saya lelah ustad, saya lelah berusaha berpisah tapi entah bagaimana kami selalu bersama lagi, saya juga tidak ingin menikah tanpa restu orang tua, saya tidak ingin jadi anak durhaka, saya tidak ingin menyakiti orang tua yang menyayangi dan saya sayangi tapi saya juga tidak mau kalau sampai akhirnya kami berzina karena hubungan kami yg dihalang2i terus. Saya benar2 berusaha agar bisa menikah secara baik2 bahkan saya meminta tolong pada saudara2 ayah untuk membicarakan hal ini tapi mereka tidak mau. Sebagian menganggap saya bersalah karena “berani” menyukai laki2 beda agama walaupun akhirnya dia jadi muallaf, sebagian lagi benar2 tidak mau ikut campur karena takut merusak persaudaraan mereka dengan ayah saya.

    Apa yang harus saya lakukan?

Silakan sampaikan pemikiran Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s